Monday, June 6, 2016

Inisiatif

Tadi malam, saya pergi tidur meninggalkan laptop di kamar sebelah dengan posisi masih menyala serta tersambung ke jaringan internet. Lalu surprise! paginya ketika bangun untuk sahur, tampilan Sudzu (baca: nama laptop) saya berubah.



Hi!

We've updated your PC.

All your files are exactly where you left them.

Baiklah, sistem operasi si laptop ter-update sendiri. Sempat kecewa karena "Hei, berani-beraninya main update begitu saja!" yah, tapi kemudian saya hanya tertawa kecil. Tahu-tahu merasa diledek oleh entah siapa.

Memang beberapa waktu belakangan, notifikasi untuk memperbaharui sistem operasi selalu saja muncul tiap saya menggunakan laptop. Berkali-kali juga saya menutup pemberitahuan itu dan tidak peduli. Selain karena alasan sudah nyaman dengan yang saya gunakan, saya juga khawatir jika diperbaharui akan memperlambat kinerja Sudzu yang memang usianya tidak lagi terbilang muda.

Kalau mau dibuat percakapan, mungkin jadinya seperti ini.

Saya: Sudzu, kenapa mau-maunya di-update begitu saja, hei?!
Sudzu: Loh kenapa emangnya Ris? mereka bilang ini keren dan ini yang paling baru.
Saya: Terus seenak-enaknya bikin keputusan tanpa Riris, gitu?
Sudzu: Sudzu nggak mutusin apa-apa, tapi ini kejadian gitu aja. Suer!
Saya: Lain kali, jangan pasrah, Zu. Nggak semua yang mereka anggap keren itu beneran keren untuk kita. Nggak semua yang mereka anggap kita butuh, benar-benar kita butuhkan.
Sudzu: Iya Ris.. maafin...
Saya: Yaudah nggak apa-apa. Maafin juga tadi malem gak dimatiin kamunya. Nanti kita balikin lagi aja ya,

Sumber: (tidak ditemukan) - dari facebook.com

Saya jadi ingat dengan materi kuliah KKN-T beberapa waktu lalu tentang pemberdayaan. "Kita ini kan kadang-kadang sok tahu, lantas mengadakan program tanpa benar-benar melakukan survei di lapangan. Sebenarnya, apa yang masyarakat butuhkan?" --juga ingat dengan perkataan salah seorang pemateri di acara puncak Hardiknas 29 Mei 2016 lalu, "Penting untuk tahu kebutuhan di masyarakat. Jangan bikin komunitas yang tidak benar-benar dibutuhkan dan diada-adakan" (mungkin redaksinya berbeda, tapi kurang lebih demikian). Dosen pembimbing skripsi saya juga pernah bilang begini di salah satu mata kuliah: "Kadang-kadang kan begitu, kita merasa sudah tahu dan pernah merasakan apa yang dia curhatkan pada kita. Jadi rasanya pingin buru-buru merespon. Padahal boleh jadi kasusnya berbeda, Makanya harus mendengarkan."

Inisiatif. Entah, tapi pembaharuan sistem operasi di Sudzu yang serta-merta terjadi begitu saja membuat saya introspeksi tentang inisiatif. Saya tidak membutuhkan pembaharuan tersebut, dan sejujurnya malah tidak ingin sama sekali. Jadi sebagaimana hal baik lainnya, inisiatif pun butuh arahan dan kejelasan. Ada inisiatif untuk melakukan hal baik, sebaliknya ada inisiatif untuk melakukan hal buruk. Dan ternyata, inisiatif dalam hal kebaikan pun tidak cukup hanya sampai pada niat, melainkan harus kita maknai pula cara dan metodenya yang baik. Ketika kita hendak memberi misalnya, tidak ada salahnya mencari tahu bahkan mungkin bertanya kepada pihak yang akan diberi: apa yang ia butuhkan?

Intinya, jangan sampai kita jadi seorang inisiator yang sok tahu. Jangan sampai niat untuk memberikan bantuan dan kebermanfaatan justru memberikan dampak sebaliknya; mengusik dan mengganggu. Daripada mengirim kebaikan, jangan-jangan malah hal sia atau negatif yang kemudian kita transfer.


Batavia, 1 Ramadhan 1437 H

No comments:

Post a Comment