Sunday, March 30, 2014

Kata-Kata Laut



KATA-KATA LAUT
“Karena Selalu ada Cara dalam Setiap Kata”
rizky150312

Deburan ombak, menghantam. Menghujam karang.
Desiran pasir, suara angin yang terbang.
Parangtritis.
#
Yogyakarta, Mei 2000.

            “Reina sayang, apa mimpimu, Nak?”
            “Ketemu Mas Rean.”

Yogyakarta, September 2003.

            “Reina, kamu tahu apa itu mimpi?“
            “Ke negeri sakura, ketemu sama Mas Rean.”

Yogyakarta, Januari 2004.

            “Reina, kenapa kemarin kamu bolos sekolah?!”
            “Ngatur rencana buat mimpi Bu.”
            “Mimpi?”
            “Ya. Ke Jepang biar ketemu Mas Rean...”

Yogyakarta, Februari 2007.

            “Para patriot! Perjuangan kalian di sekolah ini tinggal sesentil jari. Sedikiiit lagi, kalian akan menempati rumah dinas baru. Rumah universitas tempat kalian kelak akan meraup ilmu. Bentangkan sayap selebar-lebarnya! Percaya dan yakin! Gusti Allah akan selalu bersama kalian. Bekerja keras, percaya, dan tekun. Raih universitas impian kalian, raih mimpi kalian!” Suaranya menyapu seisi ruang kelas. Bapak berkacamata itu lantas tersenyum. Senyum yang seakan tak pernah tanggal dari bibirnya. “Jadi, apa mimpimu?” Pak Sugeng melangkahkan kaki menuju papan tulis hitam. Tangannya menggenggam sebatang kapur yang tingginya tinggal 3 cm. Beliau lalu berbalik arah menghadap murid-murid.

            “Herman?”

            “Masuk UGM, Pak. Jadi psikolog.”

            “Sinta?”

            “Guru. Seorang guru yang berbudi luhur,” jawab Sinta mantap.

            “Bagus, kalau kamu, Arkaf?”

            “Presiden, Pak!” 

“Huuu!!” seketika kelas ricuh mendengar jawaban singkat Arkaf.

            “Haha, bagus Arkaf! Kau punya semangat yang tinggi. Lalu kamu, Reina?” kini tangan Pak Sugeng menunjuk  ke arahku. Matanya menagih jawaban atas pertanyaan yang sama seperti yang ia ajukkan kepada teman-temanku. Aku diam dalam ramai. Menjawab di dalam hati. Membicarakan mimpi sama saja dengan mengulang kenangan-kenangan masa lalu. Entah apa itu sesuatu yang disebut mimpi. Satu kata yang mampu memutar perasaan, menghasilkan beribu kata, mengoyak hidupku, menumpahkan secangkir kopi panas di musim hujan. Mengingatkanku pada keluarga.

            “Reina, apa mimpimu?” Pak Sugeng mengulang pertanyaannya. Seisi kelas hening menunggu lontaran kata yang akan aku ucapkan.

            “Mas Rean” jawabku seraya tersenyum simpul.

            “Mas Rean?” seisi kelas memandangku, seakan tak yakin atas jawaban yang aku berikan.

Ya, mimpiku adalah Mas Rean. Tidak kurang, tidak lebih.
#
“Permisi Mbak, mau sewa tikarnya?” seorang ibu tua mendekatiku. Aku lantas membuka kacamata hitam yang sejak tadi kukenakan. Berusaha memandang wajahnya lebih jelas. Segurat senyum terlukis meski dapat kulihat matanya menyuarakan lelah. Ia membawa beberapa tikar warna-warni dengan alas kaki sandal jepit karet yang sudah tipis. Satu hal yang membuatku kagum. Wanita tua itu mengenakan jilbab. Jilbab biru yang senada dengan panorama laut fajar ini.

“Mbak? Mau sewa tikarnya?” kudengar ia mengulangi tawarannya.
“Oh,” kupakai kembali kacamata hitamku. “Tidak bu. Terimakasih” jawabku lantas tersenyum tipis.
Nggeh,makasih ya, Mbak” wanita itu pergi. Perlahan menjauh, hilang bersama deburan ombak.
#
Yogyakarta, Oktober 1999.

“Reinaa...!” Mas Rean berlari ke arahku. Matanya mengisyaratkan sesuatu. Entah bahagia, entah terharu, entah apa itu namanya.

“Apa, Mas?” aku menatapnya sejenak dari kejauhan lantas kembali asyik duduk dengan buku gambar dihadapanku. Mas Rean terus menghampiriku. Terdengar embusan nafasnya yang terengah-engah. Menyadari aku yang tak begitu peduli padanya –atau lebih tepatnya pura-pura tidak peduli-, ia menarik paksa buku gambar yang sedang kupegang.

Iih Mas Rean apaan sih, kenapa teriak-teriak? Kangen sama Reina yaa?” Aku berdiri, tersenyum jahil pada sosok dihadapanku.

“Bukan Rein, bukan. Mas dapet kabar dari Ustad Alim! Katanya Mas dapet beasiswa buat belajar di negeri sakura!” Mas Rean tersenyum diantara embusan nafasnya yang masih belum beraturan.

“Negeri sakura? Apa itu, Mas?” Aku yang tak mengerti hanya mengernyitkan dahi.

“Jepang, Dek! Yang dulu pernah ngejajah kita,” Mas Rean mengembalikan buku gambar milikku. Nyengir.

“Itu dimana, Mas? Di samping rumahnya Yayan ya? Yang deket sama tukang gudeg?” Mataku berbinar. Mengingat aku yang sering bermain dengan si Yayan, sepupu jauh kami. Betapa enaknya kalau Mas Rean belajar di samping rumah Yayan. Kalau mau pulang bermain aku takkan sendirian lagi, bisa bareng sama Mas Rean pulang sekolah.

“Bukan! Ini lebih hebat lagi, Rein! negeri sakura itu sebuah negara. Sama kayak Indonesia.

“Eh? Berarti bukan di Indonesia?” aku menekuk alis.

“Bukan lah dek... Jepang itu jauuuuh,” matanya memandang ke atas. Kuikuti pandangannya, tapi tak ada apapun disana. Justru aku menemukan secercah cahaya ketika memandang Mas Rean.Ia terlihat sungguh bercahaya. Cahaya yang tidak kasat mata tapi entah bagaimana aku bisa melihatnya.

“Mas Rean mau pergi jauh?” tanyaku pelan.

“Mas mau menggapai mimpi, dek.

“Mimpinya jauh ya, Mas?” yang ditanya hanya mengangguk. Sejurus kemudian seutas senyum muncul di wajahnya. “Mau pergi ke Jepang?” sosok bermata teduh dihadapanku itu kembali mengangguk sementara mataku mulai berkaca-kaca.

Beberapa hari yang lalu aku memang mendengar cerita dari Mbak Gita, salah satu pengawas kami di panti. Cerita tentang Mas Rean yang katanya sedang mengejar sesuatu. Sesuatu yang ia sebut-sebut sebagai ‘mimpi’.

Mimpi?

Tiba-tiba Mas Rean mendekapku erat.

“Mas akan kembali. Janji,bisiknya di telinga kananku. Seketika air mataku tumpah, membasahi bahu satu-satunya saudara sedarahku itu.

#

            Seperti arti dari Parangtritis, air yang mengalir dari batu.

Aku memerhatikan sekelompok anak yang sedang berlarian di tepi pantai. Mengejar kepiting, melawan ombak kecil. Mereka memungut beberapa batu karang di sisi pantai. Membasuhnya dengan air laut lantas mengangkatnya tinggi-tinggi. Membiarkan sang mentari pagi memantulkan cahayanya. Seketika dapat kulihat seberkas kilauan dari batu karang itu.Semakin terlihat berkilau karena senyum para pemegangnya yang memamerkan gigi.

Lalu setetes air jatuh. Setetes air yang mengalir dari batu....

Parangtritis.

#

Yogyakarta, Desember 1999.

“Mas, jadi ini yang namanya Malioboro?” aku menggenggam tangan Mas Rean yang tubuhnya sekitar 15 cm lebih tinggi dari tubuhku. Mas Rean adalah satu-satunya keluarga sedarah yang aku miliki.Kami kehilangan orangtua sejak usiaku 5 tahun dan Mas Rean 13 tahun. Bapak dan Ibu mengalami kecelakaan hebat 5 tahun yang lalu, ketika mereka hendak pulang ke rumah usai bekerja. Meski awalnya keluarga Yayan mau mengajak kami tinggal di rumah mereka, pada akhirnya kami tinggal di panti asuhan. Sebuah panti asuhan sederhana yang terletak di pinggiran kota Yogyakarta.

“Iya, Rein. Malioboro itu kayak jantungnya Yogya. Malahan turis-turis itu bilang, mereka belum ke Yogya kalau belum ke Malioboro,” jelasnya sambil menunjuk sekumpulan orang berambut pirang. Mas Rean menarik tanganku, memaksaku agar terus melangkah kedepan. Aku tak berkata-kata sambil terus memerhatikan sekeliling. Matahari sore, suara gaduh dan ricuh, berdesakan. Sesekali terdengar jerit klakson mobil dan suara ketukan sepatu kuda. Tempat ini benar-benar menakjubkan.

“Rein, Malioboro itu dari bahasa Sansekerta. Artinya ‘karangan bunga’. Bagus kan?” Mas Rean menunduk, menatap mataku sambil tersenyum riang. Aku hanya mengangguk sambil terus melangkah maju. Kueratkan genggaman tanganku pada tangan Mas Rean.

#

Dulu aku tak tahu kalau tempat itu adalah bagian besar dari kita. Tempat almarhum Bapak mengayuh becak, tempat almarhumah Ibu menjajakan dagangan. Ah Mas, bahkan dahulu aku juga tak tahu bahwa alasan tempat itu disebut Karangan Bunga adalah karena sejarahnya yang selalu penuh dengan karangan bunga tiap kali keraton Yogya mengadakan perayaan. Aku terlalu ‘buta’ sementara kau seakan tahu segalanya.Tapi, tahukah kau kalau sekarang aku sedang menuliskan namamu di atas pasir pantai?

Mas Rean

#

Parangtritis, Yogyakarta
Desember 1999.

            Mas Rean berlari menantang ombak, sementara aku tetap berdiri di tepi.

            “REINAA..!” ia berteriak dari kejauhan. Suaranya menghasilkan gaung sehingga langit ikut  menyuarakan namaku. “JANGAN SEDIH! KITA PASTI KETEMU LAGI” mataku berair mendengar suara Mas Rean. Aku berlari, menghampiri Mas Rean yang sedang bertolak pinggang di tengah deburan ombak pantai Parangtritis.

            “Mas Rean yang jangan sedih! Reina nggak apa-apa kok,” aku berbohong. Kusembunyikan air mataku yang mulai menetes. Kubasuh wajahku dengan air laut. Asin.

            “Ah kamu ini, Dek” Mas Rean memercikkan air ke arahku sambil tertawa kecil. “Jangan bohong.. pokoknya Dek Reina jangan cengeng. Toh kita sama-sama berjuang. Nanti kalau memang takdirnya, kita pasti ketemu lagi. Mas janji, ia berkata sambil membelai kepalaku. Sepertinya upaya dustaku sia-sia di mata Mas Rean.

            “Hahaha...” aku tertawa. “Mas Rean jangan sedih. Walaupun di negeri sakura nggak ada Reina, tapi Reina selalu ada di Mas Rean” aku menunjuk dirinya. Mencoba tersenyum di tengah pertahanan untuk membendung air mata. Ia kembali tertawa. Kembali memercikkan air. Kubalas kejahilannya hingga terjadi perang air yang segera berganti menjadi perang pasir. Tubuh dan pakaian kami seketika bermandikan pasir. Tapi aku tak peduli. Saat-saat ini terlalu indah untuk diakhiri. Aku bahkan lupa kalau besok Mas Rean sudah harus pergi. Pergi mengejar mimpinya, pergi meninggalkanku.

            “Allahu Akbar, Allahu Akbar...

            “Reina! Ayo pulang, sudah maghrib!”

#

Mas Rean

            Kupandangi tulisan itu sebelum akhirnya terhapus perlahan terkikis ombak. Matahari mulai menaiki singgasananya, menerpakan cahanya kepadaku. Sekumpulan burung terbang di langit lepas. Membentangkan sayap mereka, membentuk suatu formasi indah. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Kurogoh saku jaket yang sedang aku kenakan. Secarik kertas lusuh yang terlipat rapi menjadi segi empat. Kertas itu kuterima sejak dua minggu yang lalu. Sejak itu pula aku tak berani membuka lipatannya. Aku terlalu takut pada fakta apa yang akan kudapati. Kutatap kertas itu lamat-lamat. Dua minggu ini aku telah berusaha menyesuaikan keadaan setelah aku terpukul atas mimpiku yang tak kan bisa lagi terwujud di dunia.

#

Tokyo, Agustus 2011.
Untuk adekku tersayang di Yogya,
Reina.

Assalamualaikum dek, gimana kabarmu di Yogya? Mas kangen..
Rein.. Mas, Mbak Umi sama si kecil Trias Alhamdulillah baik disini. Di Jepang, beberapa bulan yang lalu, lagi musimnya pohon sakura berbunga.  Di taman deket rumah Mas banyak pohon sakura. Disini, nikmatin indahnya pohon sakura itu disebut ‘hanami’ Dek. Mas pengen banget kamu bisa liat cantiknya bunga sakura. Insya Allah ya Reina sayang… 

Gimana Yogya? Masih panas?

Mas inget suratmu bulan Mei lalu. Kamu ngeluh tentang kota kelahiran kita yang makin lama makin panas. Jujur, Mas geli pas baca suratmu. Kan udah Mas bilang, kenakan jilbabmu Rein.. biar adem. Sekaligus ngademin hati. Tapi Mas ga maksa kamu. Lagipula, Allah selalu punya cara.... tapi jangan bosen ya kamu, Mas ingetin mulu tentang ini. Mungkin emang butuh waktu sampai kamu betul-betul ngerti kenapa jilbab itu wajib. Dan Mas nggak sabar nunggu waktu itu tiba.Oh iya, Mas punya kabar gembira. Desember ini Mas bakal pulang ke Indonesia, pulang ke Yogya! Sekitar satu bulan, habis itu Mas balik lagi ke Jepang. Tapi Insya Allah, kalau semua urusan disini udah selesai, tahun depan Mas bakal paten pulang ke Indonesia. Nanti kamu nggak bakal kesepian lagi. Ada Mas, Mbak Umi sama Trias yang bakal nemenin kamu.

 Rein, Mas bangga denger kabar kamu yang dapet kuliah jalur beasiswa. Maafin Mas ya, nggak bisa nemenin kamu di waktu-waktu awal kuliah. Tapi Mas pengen liat kamu pake toga nanti, waktu wisuda. 12 tahun Mas gak ketemu kamu. Mas kangen Dek. Kangen makan gudeg bareng kamu disamping rumahnya Yayan. Kangen lari-larian di pantai bareng kamu. Pasti sekarang kamu udah bukan bocah ingusan lagi ya.. udah ga cengeng. Makin cantik, (apalagi kalau jilbabnya dipake). Hehe....

Oh iya, gimana kabar panti kita? anaknya Mbak Gita sudah melahirkan belum, Rein? Mas dikasih tau Yayan, katanya kamu sekarang suka bantu-bantu Mbak Gita dirumahnya, ya? Makasih ya Rein, kamu selalu bikin Mas bangga. Mbak Umi bilang, katanya mau bikinin kamu sushi nanti kalau pulang ke Yogya. Atau ada titipan sebelum Mas pulang? 

Dek, tunggu Mas-mu ini pulang. Nanti kita jalan-jalan lagi ke Candi Prambanan, ke Keraton Yogya. Ke Malioboro dan Parangtritis yang kabarnya makin ramai sekarang. Mas gak sabar mau liat kampung halaman. Doain Mas ya dek....

Semoga kamu selalu dalam lindungan Gusti Allah. Amiin
Wassalamualaikum
Salam sejuta kangen,
Mas Rean.

#

            “Permisi kak,” lamunanku buyar oleh suara seorang gadis kecil berkepang dua yang menarik ujung jaketku. Tangannya menggenggam sebuah sekop pasir berwarna merah muda. Kuurungkan niatku, memasukkan kembali ‘kertas itu’ ke dalam saku jaket.

            “Iya? Ada apa,Adik Kecil?” aku membungkukkan badan, berusaha menyetarakan tinggiku dengannya.

            “Kakak nginjek... gunung pasir,” ia menunjuk kakiku yang tepat berada di atas gundukan pasir.

            “Astaghfirullahal Adziim.. maaf, maaf... kakak nggak sengaja,” aku melompat ke belakang secara otomatis. Memohon maaf atas kecerobohanku.

            “Iya nggak apa-apa kok. Aku bisa, bikin gunung pasir lagi,” ujar gadis kecil itu sambil mengangkat sekop pasir merah mudanya. “Kakak mau bantu?” tanyanya seraya menjulurkan sekop yang ada di tangannya.

            “Bantu bikin gunung pasir?” tanyaku balik. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum lebar. Aku balas tersenyum seraya meraih sekop dari tangannya. 

#

Yogyakarta, Desember 2011.

            Hari ini Mbak Gita dan pengawas yang lain pergi bersama anak-anak panti.Mereka menghadiri undangan dari salah satu yayasan sosial di Yogyakarta. Sementara aku tidak ikut dan memilih menjaga panti. Selain karena ada tugas yang harus kuselesaikan, Mbak Gita juga memintaku untuk menerima seorang tamu yang kabarnya hari ini mau datang.

            Aku sedang duduk di teras panti ketika wanita itu datang. Wanita asing yang tidak asing dalam pandangan mataku. Ia berjalan mendekat sambil menggendong seorang anak perempuan dan menenteng beberapa barang bawaan. Matanya teduh meski kulihat ada badai disana. 

            “Assalamualaikum,” ucapnya pelan meski terdengar sedikit bergetar.

            “Waalaikum salam. Cari Mbak Gita ya, Mbak?” kujawab salamnya sambil nyengir. Berusaha menghapuskan badai di matanya yang samar-samar muncul dalam imajinasiku.

           “R-e-i-n-a kan?” wanita itu justru memberikan pertanyaan yang membuat dadaku bergemuruh. Dari mana tahu namaku? Aku memutar segala kemungkinan yang ada. Mendaftar pilihan ganda dalam sekejap dan memilih beberapa diantaranya.

“Iya, aku Reina, Mbak” jawabku sambil mengernyitkan dahi. Wanita itu diam. Ia tak menjawab, tak mengatakan apa-apa sementara gadis kecil yang digendongnya sedang tertidur berbantalkan lengan kiri wanita itu. Tiba-tiba ia memelukku.

            “Ini Mbak Umi, sayang.... Reina cantik, apa kabar?” wanita itu membisikkan serentet kalimat yang menumpahkan air mataku. Aku membalas pelukannya tanpa berkata-kata. 

#

            “YEE... gunung pasirnya udah jadiii...!” gadis kepang dua di hadapanku melompat-lompat girang. “Makasih ya kak...” matanya berbinar memandang gunung pasir yang baru saja kami buat bersama.

            “Kembali kasih...” aku membelai rambutnya. Dia lantas mengalihkan pandangan kepadaku.

            “Kakak... jongkok sini deh,” 

            “Eh? Iya, kenapa sama gunung pasirnya?” tanyaku seraya mematuhi perintahnya. Gadis itu kini berada tepat di hadapanku. Aku dapat melihat matanya yang bulat seperti kacang almond. Ia tak berkata apa pun lantas menarik pelan kacamata hitam yang sejak tadi aku kenakan.

            “Kakak lebih cantik kalau begini,nggak usah pakai kacamata hitam” gadis itu kembali menunjukkan senyum lebarnya. 

            “Te.. terimakasih” jawabku salah tingkah. Rambut kepang duanya melambai tertiup semilir angin. Ia mengembalikan kacamata hitam milikku. Kuambil seraya mengembalikan sekop merah muda miliknya.

            “Iya, kakak cantik. Nanti kalau sudah besar, Aku mau kayak kakak yang baik hati dan pakai kerudung. Tapi kerudungku nanti warnanya nggak coklat kayak kakak. Aku maunya pakai kerudung yang warna pink.”Aku tersenyum mendengar perkataannya. Kagum atas niatan mulianya sejak usia sedini itu,‘baik hati dan pakai kerudung’.

“Itu mimpi kamu?” tanyaku sambil kembali berdiri.

       “Iya!” jawabnya mantap lantas ia pergi berlari menghampiri kedua orang tuanya yang memanggil dari kejauhan.

            “Sayaaang! Ayo kesini...! Papa nemu kepiting!”

#

Yogyakarta, Desember 2011.

Kubalas pelukan Mbak Umi sementara air mataku semakin deras menumpahkan rasa haru. Dugaanku benar, wanita berjilbab hijau muda yang sedang memelukku ini adalah kakakku. Anak yang sedang digendongnya adalah keponakanku, Trias. Aku bertemu dengan kakak dan keponakan yang belum pernah kutemui sebelumnya. 

            Tunggu... hei, lalu kemana sosok itu?

         Aku melepaskan pelukan Mbak Umi. “Mbak, Mas Rean mana?” mataku mencari-cari ke sekeliling. Berharap menangkap sosok yang begitu aku rindukan.

           “Iya nanti juga sampai. Sabar ya Reina...” Mbak Umi hanya tersenyum tipis. Aku dpat melihat garis-garis mukanya yang menandakan betapa ia lelah atas perjalanan jauh.

            “Oh iya, Astaghfirullah.. ayo Mbak, masuk dulu…” aku memersilahkan Mbak Umi masuk ke dalam panti. Membantunya membawa barang bawaan berupa sebuah ransel hitam dan sebuah tas jinjing berwarna putih. Sementara Trias kecil masih tertidur dalam gendongan ibunya.

#

            Diam-diam pipiku memerah mengenang perkataan gadis kecil barusan. ‘Iya, kakak cantik. Nanti kalau sudah besar, Aku mau kayak kakak yang baik hati dan pakai kerudung’. 

Aku ingat surat yang terakhir kau kirimkan padaku, Mas. Peringatan terakhir darimu sebelum kau pulang. Kalau kau tak rajin mengingatkan adikmu ini, aku tidak pernah tahu dengan cara apa Allah memberikan hidayah-Nya agar aku berhijab, mengenakan jilbab. ‘Tapi Allah selalu punya cara’, kalimat itu juga yang sering kau ulang-ulang dalam suratmu. 

Mas, menurutku kau adalah cara Allah untuk menunjukkan kebesaran-Nya, padaku….

#

“Mas Rean sudah pulang Rein,” Mbak Umi mengulangi kalimatnya untuk yang ketiga kali.Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap pendengaranku sedang terganggu.

“Pulang? Iya,  pulang ke Yogya kan Mbak??” perasaanku kacau balau. Aku tahu Mbak Umi sudah mengulang kalimat itu beberapa kali. Sudah menjelaskan maksud kata ‘pulang’ itu berkali-kali. Tapi fakta ini terlalu keras menamparku. Terlalu keras untuk kucerna dengan baik ditengah pengharapan besar atas mimpi yang sejak dulu kunanti.

“Jujur, Dek. istri mana yang tidak sedih ditinggal pulang suaminya? Terimalah ini dengan lapang dada. Allah selalu punya cara…” Mbak Umi memelukku. Ia menghiburku ditengah ujian berat yang sedang menimpanya. Mungkin kepedihan yang ia rasakan sama seperti saat aku menahan tangis melepas kepergian Mas Rean ke negeri sakura. Sama, atau mungkin lebih berat.

“Ya, Mbak... tapi Mas Rean sudah janji...” aku tak mampu berujar banyak ditengah badai yang kini bukan hanya ada di mata Mbak Umi, tapi juga ikut melandaku. Mengombang-ambingkan perahu yang telah kubangun selama 12 tahun, menenggelamkan mimpiku dalam seketika. 

Mas! Bukannya Mas sudah janji mau kembali?! Padahal Reina yakin Mas Rean nggak akan mengingkari perkataan Mas sendiri. Tapi kemana Mas sekarang?! Pergi tanpa pamit!

“Reina sayang…” dapat kudengar isakan tangis Mbak Umi yang amat memilukan. Diikuti dengan suara Trias yang tiba-tiba terbangun. “Ikhlas ya… ucapkan dulu Innalillahi wa Inna Ilaihi Raajiuun” Mbak Reina membisikkan kata-kata itu lembut di telingaku. Mendamaikan hati kecilku dalam kurun waktu sepersekian detik.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Raajiuun

#

            Ya, Mas Rean telah berpulang kepada-Nya tepat sehari setelah kepulangan ke tanah Yogya. Ia dan tujuh orang temannya ditelan palung Parangtritis bersama gulungan ombak. Tidak ada yang tahu bahwa musibah besar itu akan terjadi di tengah kebahagiaan ketika mereka sedang melepas rindu setelah sekian lama tak bersua. Tidak ada yang tahu mengapa papan pengumuman tentang bahaya berenang di pantai pada hari itu seakan tak terbaca. Aku pun tak tahu mengapa Mas Rean tidak lebih dulu memberitahuku tentang kepulangannya ke tanah air. Mengapa pada hari itu ia lebih memilih mengadakan reuni bersama teman-teman masa Aliyahnya. Aku tak pernah tahu mengapa Parangtritis tega menarik paksa Mas-ku pada hari itu, Desember 2011.

       Aku memandang jauh ke arah pantai. Membayangkan sosok Mas Rean yang meneriakkan namaku sambil bertolak pinggang. 

Mas....
Kau adalah satu dari sekian banyak cara Allah menunjukkan kebesaran-Nya,
Salah satu dari sekian banyak nikmat Allah yang telah Dia limpahkan kepadaku.
Kau terbang ke negeri sakura untuk mengejar mimpi,
Tanpa kau sadari bahwa dirimu telah menjadi mimpi tersendiri untukku.
Kau menjadi anganku di setiap senja,
Ketika matahari Parangtritis mulai bersembunyi malu-malu.
Kini kau pergi begitu saja,
Menindas mimpi yang 12 tahun ini telah membelenggu....

Aku mengeluarkan kembali kertas pemberian Mbak Umi dari saku jaket dan membuka lipatannya perlahan. Dua sisi, tiga sisi, empat, enam.. dan sempurna. Kini aku dapat melihatnya dengan jelas. Tulisan tangan yang rapi dan sangat aku kenal....

Mimpiku,
impianku.
Aku yakin Kau berkenan untuk mengabulkannya, Rabb.
1.         Menjadi hamba-Mu yang shaleh, berbakti pada orang tua.
2.         Menjadi seorang abi yang baik untuk anak-anakku, menjadi suami yang baik untuk istriku, menjadi kakak yang baik untuk adikku tersayang, Reina.
3.         Pulang ke tanah air, mengabdi pada bangsa dan negaraku, Indonesia.
Cukup itu Ya Allah. Kau Maha Tahu betapa aku memimpikannya....
Satu hal lagi. Izinkan aku melihat adikku, Reina, mengenakan jilbab. Menjadi hamba-Mu yang shalihah. Aamiin.

“Astaghfirullahal Adziim...” secarik kertas itu telah sukses menjatuhkan butiran-butiran air dari kedua mataku.

Kini kau pergi begitu saja,
Menindas mimpi yang 12 tahun ini telah membelenggu….
Tapi Mas, aku percaya,
Bahwa Allah selalu punya cara…

Lihatlah, kini mimpimu terwujud.
Aku mengenakan jilbab, Mas….

 ________________________________________
 Terimakasih untuk Bu Eka, ibu guru Bahasa Indonesia yang telah mengajari saya banyak hal dan memberi cambukan keren saat pertama kali dimintai pendapat tentang tulisan saya. Terdiri dari  dua halaman, berjudul 'Pemuda itu Bernama Ram', beliau hanya membacanya dalam hitungan kurang dari dua menit, dan berkata: "biasa aja." :D Tapi justru itu yang membuat saya betah main ke kamar beliau, berbincang, nonton bareng, sambil menimba ilmu, tentunya. Ada motivasi dalam diri, bahwa saya (harus) membuat beliau berkata "bagus", secepatnya. :)