Saturday, June 10, 2017

Bukan Tanpa Rencana

Kita adalah manusia yang dipertemukan oleh kekurangan. Oleh keterbatasan. Oleh ketidakmampuan. Kita tidak saling menaruh hati dan simpati karena sesuatu bernama kemegahan; kemewahan; keserba-kerenan. Kita diskenariokan berbincang mengenai kekurangan-kekurangan kita. Mereka dapat dengan mudah berkomentar tentang siapa diri kita tanpa benar-benar tahu keadaan yang sebenarnya. Mereka dapat dengan mudah beramah-tamah dengan kita, sebab mereka tidak tahu menahu akan rapuh diri yang sedemikian rupa. Dari sekian banyak mereka, kita berjumpa. Tidak oleh kegemerlapan deret penghargaan manusia. Tidak oleh kekaguman sekian mata. Tidak oleh semerbak atribut yang dapat buat kita berbangga. Kita biasa-biasa saja. Tapi kita dibuat saling menyapa, oleh sebab kekosongan-kekosongan yang ada. Kita tidak sedang saling mendamba rupa, apatah lagi harta dan tahta. Kita tidak sedang saling mengejar untuk sesuatu yang dikata orang dapat digadang bangga; meski kita tahu antara kita bisa saja melakukannya. Bisa. Sebab apa yang tidak bisa, jika hari ini dunia begitu mendukung akan pembentukan citra? Tapi kita tidak berangkat dari sana. Kita tidak memberangkatkan cinta dengan alasan yang begitu sederhana diucap kata. Kita sedang bicara tentang kekosongan-kekosongan yang rindu diisi. Kita sedang mencari jawaban atas rupa-rupa tanya yang selama ini muncul di diri.

Dan dari sekian banyak manusia di dunia,

aku tahu.

Bukan tanpa rencana Tuhan mempertemukan kita.


Bersama Kakao, pada 2012 di Sawarna


**PS: Terkhusus untuk kalian yang membaca ini kemudian terfokus pada hubungan cinta-cintaan laki-laki dan perempuan, agaknya boleh lah mengilhami lagi tentang makna hubungan antar manusia beserta semestanya. Boleh lah memahami lagi bahwa cinta sedemikian luas dan universal. :)


Saturday, June 3, 2017

EVALUASI SOSIAL PADA BAYI DAN BALITA

Kali ini kami akan membahas artikel berjudul How Infants and Toddlers React to Antisocial Others yang dipublikasikan pada 2011 dan ditulis oleh Hamlin dkk. Dari judulnya, sedikit banyak dapat diperkirakan bahwa artikel ini bicara tentang bagaimana bayi dan anak balita memberi respon akan perilaku antisosial pada orang lain.

Hal yang bagi saya menarik dari penelitian ini adalah, bahwa Hamlin dkk. tidak hanya sekadar melakukan penelitian tentang bayi dan balita, melainkan melibatkan bayi dan balita. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi kaya akan informasi dan menjelma jadi enlightenment. Ia tidak hanya berbicara tentang teori dan bagaimana pandangan para ahli ataupun orang tua yang menjadi narasumber, melainkan langsung menyentuh tokoh utama sebagai subjek penelitian. Berikut tabel yang berisikan informasi mendasar mengenai artikel yang sedang dibahas.

Judul
How infants and toddlers react to antisocial others
Dipublikasikan pada
PNAS (Proceeding of The National Academy of Sciences of the United State of America). 108(50): 19931-19936
Tahun
2011
Penulis
J. Killey Hamlin (a); Karen Wynn (a); Paul Bloom (b); Neha Mahajan (b)
Lembaga/instansi
a= Department of Psychology, University of British Columbia
b= Department of Psychology, Yale University, New Haven
Abstrak
Although adults generally prefer helpful behaviors and those who perform them, there are situations (in particular, when the target of an action is disliked) in which overt antisocial acts are seen as appropriate, and those who perform them are viewed positively. The current studies explore the developmental origins of this capacity for selective social evaluation. We find that although 5-mo-old infants uniformly prefer individuals who act positively toward others regardless of the status of the target, 8-mo-old infants selectively prefer characters who act positively toward prosocial individuals and characters who act negatively toward antisocial individuals. Additionally, young toddlers direct positive behaviors toward prosocial others and negative behaviors toward antisocial others. These findings constitute evidence that the nuanced social judgments and actions readily observable in human adults have their foundations in early developing cognitive mechanisms.
Keywords: cooperation, infancy




Penelitian ini terdiri atas 5 eksperimen yang melibatkan bayi dan balita dengan berbagai usia. Pada masing-masing eksperimen, subjek diberikan perlakuan untuk kemudian dilihat reaksinya. Untuk lebih rinci, saya merangkum tujuan, subjek, metode, dan hasil dari masing-masing eksperimen pada tabel berikut.

Tujuan Penelitian
Untuk memastikan perkembangan alami dari kemampuan untuk mengevaluasi keadaan sosial pada bayi praverbal dan pada balita yang baru saja memasuki tahap verbal.
Subjek Penelitian
Eksperimen 1: Bayi usia 5 bulan dan 8 bulan
Eksperimen 2: Bayi usia 8 bulan
Eksperimen 3: Bayi usia 9 bulan
Eksperimen 4: Balita usia 19 bulan -23 bulan
Eksperimen 5: Balita usia 19.20 bulan – 22.29 bulan
Metode Penelitian
·         Eksperimen 1
Bayi dipertontonkan tayangan akan adanya tokoh (boneka tangan) yang mendapat pertolongan untuk membuka box dari “boneka prososial” dan “boneka antisosial”. Kemudian setelah mengobservasi interaksi tersebut, bayi diminta untuk mengevaluasi tokoh baru yang berlaku sebagai penolong (kemudian disebut Giver) dan berbahaya (kemudian disebut Taker) bagi tokoh yang sebelumnya berperan sebagai boneka prososial dan boneka antisosial.
·         Eksperimen 2
Serupa pada Eksperimen 1, namun target diganti bukan menjadi pelaku melainkan menjadi korban (berbeda pada Eksperiman 1 dimana target adalah boneka prososial dan boneka antisosial. Pada eksperimen 2, target adalah korban dari perilaku kekerasan/antisosial). Kemudian, target ditampilkan bermain bola yang diambil oleh Taker kemudian dikembalikan oleh Giver (Taker dan Giver merupakan tokoh yang sama dengan yang ditampilkan pada Eksperimen 1)
·         Eksperimen 3
Subjek diganti dengan balita berusia 19 bulan, dan diperlakukan sama seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2.
·         Eksperimen 4
Balita usia 9-23 bulan bermain permainan pemanasan dengan diminta untuk memberikan “treats” kepada beberapa boneka hewan dengan meletakkan balok kepada wadah masing-masing boneka hewan. Kemudian ditampilkan bahwa boneka hewan sangat senang mendapat “treats” tersebut.
Setelah itu balita dipertontonkan tayangan seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, kemudian diminta untuk memilih apakah akan memberi “treats” pada Giver atau Taker. Balita dihadapkan pada dua kondisi (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
·         Eksperimen 5
Sekelompok balita yang baru diajarkan untuk memberi treat pada hewan dan memilih dari dua karakter untuk memberi atau mengambil treat dari karakter tersebut. Balita dipertontonkan tayangan yang sama seperti pada Eksperimen 2 melibatkan tokoh yang ditolong dan diganggu. Kemudian diminta untuk memilih apakah memberi atau mengambil kepada/dari Helpee (ditolong) dan Hinderee (diganggu)
Hasil Penelitian
     §  Eksperimen 1
-          12 dari 16 bayi 5 bulan dan 12 dari 16 bayi 8 bulan memilih Giver ketika target merupakan boneka prososial. ketika target merupakan boneka antisosial, 14 dari 16 bayi 5 bulan memilih Giver sedangkan 13 dari 16 bayi 8 bulan memilih Taker.
-          Pada usia 8 bulan, bayi memilih tokoh yang berlaku positif pada pihak prososial dan memilih tokoh yang berlaku negatif pada pihak antisosial.
§  Eksperimen 2
-          13 dari 16 bayi memilih Giver dari Taker. Berbeda signifikan dengan pilihan bayi 8 bulan terkait tokoh antisosial pada Eksperimen 1.
§  Eksperimen 3
-          Pada target prososial= 12 dari 16 memilih Giver
-          Pada target antisosial= 14 dari 16 memilih Taker
-          Pada target sebagai korban= 13 dari 16 memilih Giver
§  Eksperimen 4
-        13 dari 16 balita memilih untuk memberi “treats”pada boneka prososial.
-  14 dari 16 balita memilih untuk mengambil “treats” dari boneka antisosial.
-   Pilihan balita sangat berbeda signifikan pada dua pilihan keadaan yang dihadapkan (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
§  Eksperimen 5
-          11 dari 16 balita memilih untuk memberi pada Hinderee
-          13 dari 16 balita memilih untuk mengambil dari Helpee
-          Balita pada kondisi Taking menghindari mengambil treat dari tokoh yang telah mengalami gangguan sosial dari pihak ketiga. Respon ini bertolak belakang dengan yang diprediksikan pada Eksperimen ketika target sebagai korban.
-  Menunjukkan bahwa balita yang lebih tua memiliki kemampuan memberi empati. Balita menghindari mengambil dari karakter yang telah diganggu karena mereka dapat merasakan simpatik padanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dapat melakukan evaluasi sosial secara sederhana dengan statement “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa balita dapat merasakan simpatik kepada pihak lain di luar dirinya. Menurut saya pribadi, agaknya Hamlin dkk. cukup berhasil menunjukkan bahwa setiap individu dewasa hari ini memiliki fondasi kognitif moral sejak dini. Dalam bahasa lain, kita dapat mengatakannya sebagai hati nurani, atau juga akrab dengan istilah fitrah; nilai-nilai yang tertanam sejak lahir secara manusiawi.

Saya jadi ingat akan teori perkembangan moral dari Bandura yang menyebutkan bahwa perkembangan moral anak merupakan hasil observasi dan imitasi— hingga dipertanyakan dimanakah peran aspek internal? juga teori Piaget dan Kohlberg yang memperoleh tanggapan kritis dari beberapa kalangan karena menyebutkan bahwa bayi tidak memiliki moral reasoning. Teori keduanya belum dapat menjelaskan tentang bagaimana pendidikan karakter pada usia dini dapat dilakukan, mengingat baik Piaget maupun Kohlberg mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun belum dapat memahami moral. Barulah Thomas Lickona muncul dengan teori yang lebih komprehensif nan kiranya dapat lebih menjelaskan dan menjawab teori-teori sebelumnya. Lickona menggabungkan berbagai teori sekaligus (termasuk padangan Piaget dan Kohlberg) sehingga melahirkan 6 tahap perkembangan moral pada manusia, sebagai berikut.
.
1. Fase bayi (0- 3 tahun) = fondasi moral
2. Fase 1 (+- 4 tahun) = berfikir egosentris
3. Fase 2 (4,5-8 tahun) = patuh tanpa syarat
4. Fase 3 (8,5-14 tahun) = memenuhi harapan lingkungan
5. Fase 4 (16-19 tahun) = ingin menjaga kelompok
6. Fase 5 (>20 tahun) = moralitas tidak berpihak

Fase bayi (0-3 tahun) merupakan fondasi awal bagi perkembangan moral. Pada fase ini, bayi membutuhkan bonding dan attachment dengan orang tua terutama ibunya. Orang tua perlu memberikan ekspresi cinta, rasa aman, stimulasi fisik dan mental, serta keseimbangan antara kasih sayang dan otoritas. Berkaitan dengan hasil penelitian Hamlin et al. (2011), anak-anak yang menunjukkan evaluasi sosial yang baik boleh jadi tumbuh dari keluarga yang telah memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan moral pada masa bayi tersebut. Perkembangan anak akan selalu melibatkan dua faktor secara garis besar; nature dan nurture (bawaan dan oleh faktor lingkungan).

Adalah hal yang menarik dalam penelitian Hamlin dkk, bahwa ternyata bayi yang mungkin sebagain besar masyarakat menilainya “belum mengerti apa-apa,” ternyata mampu mengevaluasi dan memilih sesuai dengan nilai-nilai nurani. Saya jadi ingat pertanyaan salah seorang ibu muda pada satu-dua tahun lalu, ketika saya asyik menggendong anaknya dan mengajak si anak berbincang-bincang tentang benda-benda di sekelilingnya. Ibu muda yang tidak lain adalah kawan saya itu lantas bertanya, “Emang dia udah ngerti ya, Ris, diajak ngobrol begitu?” saya dengan keilmuan yang sangat terbatas kemudian menjawab, “Yaa mungkin saja belum ngerti sekarang. Tapi insyaAllah terinternalisasi. Kalau pun nggak ngerti, minimal diajak ngobrol dan itu berdampak baik buat dia. Semoga ya, hhe..” belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata bayi jauh lebih cerdas dari apa yang saya duga sebelumnya.

Anak balita pun ternyata memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa simpati. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari Eksperimen 5 yang menyebutkan bahwa anak balita lebih memilih untuk memberi pada tokoh yang telah mengalami keburukan, dan lebih memilih untuk mengambil dari tokoh yang sebelumnya mendapat pertolongan. Apa artinya? kita dapat lebih mudah memahami dengan ilustrasi seperti ini: berikan bantuan pada seseorang yang lebih membutuhkan. Jangan mengambil/meminta sesuatu pada seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu tersebut. Menurut saya, ini adalah konsep sederhana dari saling memahami. Terlebih lagi, ia merupakan landasan dasar dari kepekaan sosial antar manusia.

Kesimpulan penelitian
- Bayi dapat melakukan evaluasi sosial, yaitu bahwa “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”.
-     Balita dapat merasakan simpatik.
- Orang dewasa telah memiliki fondasi sejak dini terkait mekanisme kognitif.






Apa yang dilakukan oleh Hamlin dkk. bukan merupakan penelitian pertama yang fokus pada perilaku sosial dari anak-anak. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa balita terlibat dalam perilaku sosial terhadap orang dewasa dan remaja, berlaku prososial terhadap koban tindak antisosial, dapat melakukan protes selama atau setelahnya, dan secara selektif memberikan penghargaan pada pihak prososial dibandingkan antisosial. Uraian lebih lengkap mengenai teks lengkap artikel hasil penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut: KLIK DISINI. Selain itu, penelitian di Yale Univeristy ini juga diliput oleh CNN TV yang dapat disaksikan melalui situs YouTube melalui tautan berikut: KLIK DISINI.

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada perbedaan pendapat antar tokoh mengenai satu pertanyaan sederhana: apakah bayi dilahirkan dalam keadaan “tabula rasa”? ataukah setiap bayi lahir degan keadaan memiliki “blue print”? bahasa lainnya ialah perdebatan antara konsep nature vs nurture. Juga perbedaan pandangan akan satu pihak yang memandang bayi terlahir “baik” sehingga harus dijaga, dan bayi terlahir “jahat” sehingga harus dididik dan memperoleh pembelajaran. Ialah pemikiran-pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai mcam hipotesa. Sebagain berujung teori, sebagian lain boleh jadi cukup berakhir pada tanda tanya dan asumsi.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Seiring dengan waktu, fakta-fakta ilmiah bermunculan yang boleh jadi menjawab berbagai pertanyaan pada masa sebelumnya. Contohnya adalah teori perkembangan moral yang hari ini semakin jelas beserta contoh praktis untuk orang tua tentang bagaimana cara mendidik moral anak. Hari ini kita dapat dengan mudah membaca buku parenting, mulai dari yang bentuknya “serius” menjadi referensi ilmiah, sampai yang menggunakan bahasa populer untuk dibaca oleh kalangan umum. Namun sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW, sekian tahun silam, melalui sabdanya telah memberikan petunjuk pada kita mengenai perkembangan anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Setiap manusia memiliki hati nurani. Kemudian bekal yang telah dimiliki itu lantas berinteraksi dengan lingkungan, yang dalam hal ini disebutkan ialah orang tua. Pengasuhan yang dilakukan orang tua turut berkontribusi pada seperti apakah kepribadian anak akan terbentuk, nan menjadi apa dan beragama apa si anak kelak. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan yang menyebut adanya faktor bawaan dan faktor lingkungan (herediter dan lingkungan), maka fitrah, menurut hemat saya, adalah faktor bawaan yang mutlak ada dan seragam pada setiap manusia; di luar faktor bawaan lain yang sifatnya ciri fisik atau kecerdasan nan tempramen— yang boleh jadi berbeda pada masing-masing individu.


***

Jadi kalau ada yang bertanya (lagi): ”Apakah agama adalah warisan?”
kira-kira, Anda akan menjawab apa? J

Mungkin tergantung dari pemaknaan kita tentang “agama” dan “warisan” itu sendiri. Yang pasti, setiap manusia terlahir dengan fitrah. Dan saya haqqul yaqin, itu adalah fakta absolut yang mutlak.



Ditulis di Batavia,
Pada 8 Ramadhan 1438 H

Saturday, May 13, 2017

Kehidupan Kita; Para Rerumput yang Mengiba Hujan

Aku rasa, iya, aku rasa (kali ini aku menggunakan kosakata ‘rasa’ tanpa mengubahnya jadi ‘fikir’; tidak seperti biasanya) setiap manusia; setiap kita, akan menghadapi masa dimana dirinya merindukan momentum perubahan. Meski sebenarnya, perubahan itu ada setiap hari walaupun mungkin tanpa kita sadari. Aku seringkali menggunakannya sebagai semacam harapan baru setiap hari yang kadang membuatku bertanya ‘ini sebenarnya sehat nggak, sih? Ini bukan pelarian karena nggak mau nyesel, kan ya?’ lalu belum lama, aku membaca sebuah buku berjusul 10 Prinsip Pengasuhan Spiritual. Dan salah satu dari 10 prinsip itu berbunyi; menjadikan setiap harinya sebagai awal baru.

Kali ini aku ingin menulis saja, setelah sekian lama. Rasanya cukup penat juga. Mungkin laman ini memang sudah mulai dipenuhi jaring laba-laba jika ia eksis di dunia. Setiap menulis, aku berupaya agar apa yang aku tulis bisa memberi manfaat untuk orang lain. Hingga pada satu titik, aku kehilangan esensi dari menulis itu sendiri. Lama-kelamaan jari jadi terobsesi menulis untuk orang lain. Padahal, menurutku, sejatinya menulis adalah kepentingan diri sendiri. Ia hanya keegoisan yang dibungkus dengan kata ‘berbagi’ padahal sejatinya adalah refleksi diri. Sama seperti para pengilmu yang mengajarkan pemahamannya pada orang lain, padahal sesejati-sejatinya, ia tengah melipatgandakan keilmuannya sendiri.

Jadi biar kali ini kita saling jujur. Oh, mungkin aku lebih tepatnya. Aku sedang ingin menulis saja. Meskipun random, kuharap tetap ada hikmah di dalamnya, meski mungkin sedemikian tercecer.

Manusia secara alamiah akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebab hati pada nyatanya akan resah jika menemui hal yang buruk. Semoga hati kita masih cukup sensitif untuk dapat merasakannya, ya. Maka jika ada di antara kita yang mungkin terjerembab dalam dosa, bersyukurlah detik ini. Setidaknya kita tahu bahwa itu adalah ‘dosa’. Bukan, ini bukan pemakluman atau ajakan untuk memaklumi perbuatan dosa. Maksudnya adalah, lebih kepada membuka mata kita bahwa selalu ada kesempatan untuk tidak berputus asa pada rahmat Allah. Jangan pernah sekali-kali berfikir bahwa Allah menakdirkan kita menjadi seorang pendosa. Jangan pernah. Serius. Itu tipu daya syaithan. Syaithan nggak serta-merta sukses ketika berhasil menjerumuskan kita dalam maksiat. keberhasilan telak kaum mereka adalah ketika membuat kita merasa bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa kita. Kalau terlanjur, lekas istighfar!

Kembali lagi ke menjadikan setiap harinya sebagai awal baru. Awal baru. Sesuai judul, aku akan mengumpamakannya serupa ‘hujan’. Anggaplah kita ini sekumpulan rumput yang merindukan hujan. Boleh jadi, kita adalah makhluk yang biasa-biasa saja, menjalani hari biasa-biasa saja, merasa bosan, dan mencari-cari semangat apa yang mampu menjadi pendorong untuk melanjutkan hidup dengan menyenangkan. Mungkin kita pernah menjadi bagian dari kelompok yang menjalani setiap detiknya dengan semerbak energi. Dengan optimisme. Dengan harapan. Mungkin juga kita mengalami keterpurukan, atau kekaburan tuju untuk apa kita hidup. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Kita bisa ada di posisi mana saja.

Ketika merasa jenuh, ketika mulai merasa bahwa diri terjerembab di lumpur yang membuat kita merasa begitu lelah dan tubuh kita nyaris kotor semua, kita, sebagai manusia, membutuhkan momentum. Iya, momentum untuk berubah. Teori dasar ini nyaris semua orang tahu, Tapi sayangnya, tidak semua memahami bahwa momentum bukan ditunggu. Sama seperti mereka yang ketika ditanya lantas menjawab “hidayahnya belum datang” dan seterusnya. Momentum bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan dicipta. Mungkin dari kita ada yang pernah mendengar kutipan berbahasa inggris berbunyi “Don’t wait a perfect moment, take a moment and make it perfect!” ya, kita punya andil dalam menghadirkan momentum.

Apa cara paling mudah menghadirkan momentum?

Aku teringat tentang salah satu #1minutebooster dari kajian Shift-nya Ustadz Hanan Attaki. Beliau menyebutkan bahwa setiap kita hendak menginginkan sesuatu, minta ampun lah pada Allah. Ustadz Abdullah Gymnastiar juga pernah menyebutkan dalam tausiyahnya, bahwa masalah selalu punya jalan keluar. Ibarat naik mobil kacanya kotor, bukan tidak ada jalan, melainkan kita yang kesulitan melihatnya. Maka hal yang pertama harus dilakukan adalah bersihkan! bagaimana? istighfar.

Jadi apa cara paling mudah menghadirkan momentum? istighfar. Awali saja dengan meminta ampun. Sebagaimana tebak-tebakan Roger pada suatu hari di suatu kelas kampus IPB; “Apa hajat terbesar manusia?” yang jawabannya “Diampuni dosa-dosanya oleh Allah”; atau awalan dari doa orang-orang salih yang meminta ampun atas dosa, atas dzalim, atas penghambaan yang compang-camping. Istighfar saja dulu.

Kita adalah para rerumput yang mengiba hujan. Sayangnya, kadang kita lupa saling mengingatkan bagaimana cara memohon pada Yang Kuasa agar hujan sudi kiranya menyapa.

Monday, April 24, 2017

Bangkit

Manusia adalah makhluk paling sempurna, katanya. Sebagai khalifah, kita dipercaya. Namun kenyataan itu tentu tiada dapat dijadikan dalih agar berhak bersikap jumawa. Bagaimanapun, titah Tuhan mengabarkan sebuah niscaya akan manusia yang tempatnya salah nan lupa. Berbekalkan akal, manusia dapat jadi lebih baik dari malaikat, dan dapat lebih buruk dari hewan manapun di dunia.

Namun kita tidak diajarkan untuk menunggu, melainkan menerjang. Kita tidak diajarkan untuk pasif, melainkan bergerak aktif. Kita tidak dididik untuk menjadi seorang penyerah, melainkan seorang pejuang. Sebab manusia— sejak awalnya, kita adalah pemenang. Maka kita, yang dititah sebagai khalifah, sekaligus dikata bersifat salah nan lupa, berada di ranah tengah. Pada ranah itulah tugas kita untuk merayakan kesungguhan.

Karena setiap cinta membutuhkan ketegasan; apalagi dalam mencintai Ar-Rahman.


Jayakarta, April 2017
H-30 Ramadhan 1438 H


Sunday, April 23, 2017

Dear, you

Dear, you.

Mengeja kembali syair-syair yang pernah kita lalui. Seberapa jauh kita telah melangkah hingga hari ini? adakah dibanding satu tahun lalu, lima— sepuluh tahun lalu, keimanan kita bertambah? Atau justru ia terjun payung— menurun?  Apa kabar idealisme kita? Apa kabar mimpi-mimpi yang pernah kita canangkan bersama? Apa kabar semangat dan keberpasrahan kita?

Aku tidak lupa. Kita pernah menggores tinta bersama di atas catatan yang dahulu, kita duga akan menyejarah. Setidaknya untuk diri kita sendiri. Hari ini, beberapa tercoret. Sebagian besar yang lain masih menunggu giliran. Tapi agaknya, ada nafas yang berbeda. Ada ritme yang tidak lagi sama. Ada keharusan akan intorspeksi keistiqomahan dan kesadaran diri. Sense of jihad itu, dia ada dimana sekarang?

Aku tahu betul, kamu bukan tipe orang yang mudah mengizinkan dirimu untuk mengeluh. Karena kamu percaya, kehidupan, dilihat dari sudut pandang manapun, memang bukan tempatnya untuk dikeluhkan; kecuali pada Dia saja. Sebab, katamu, “toh hidup ini kan memang sudah dibilang dari awal, ia ujian. Permainan pula. Jadi mengeluh, apalagi sama manusia, buat apa?” Mungkin kamu tidak tahu, tapi diam-diam aku meniru. Dan memang, kamu selalu mengajakku untuk seperti itu.

Tapi, belakangan, aku mendapati diriku merindukanmu yang demikian. Entah kamu menyadari atau tidak, tapi kurasa masing-masing kita ada yang berbeda. Kebaikan-kebaikan kita agaknya mengendor. Semoga aku salah. Tapi kurasa, ada baiknya kita saling mengingatkan. Mungkin, kita memang tengah lupa. Bukankah salah satu manfaat bersahabat adalah dengan saling mengulang kembali syair kebaikan yang nyaris hilang di kepala?

Semoga bukan karena kita bosan untuk berfikir baik; merasakan hal-hal baik; melakukan perbuatan baik. Tidak ada yang terlambat, bukan? Mari kita mulai lagi dengan satu langkah sederhana: istighfar. Ikhtiar untuk meninggalkan segala laku maksiat yang melahirkan dosa.

It's never too late to be what you might have been, Dear.


Jayakarta, April 2017

Thursday, April 20, 2017

Ramadhan

"UMMIIII... sudah ada iklan sirup Mi, di TV!" Amira berlari kencang menghampiri ibunya yang tengah asyik menyiram tanaman di halaman belakang. Perempuan yang biasa disapa 'ummi' itu tertawa kecil, seperti biasa.

"Terusnya kenapa memang kalau ada iklan sirup?" yang bertanya pura-pura tidak mengerti maksud anaknya.

"Ummi gimana sih, itu artinya... dikit lagi bulan puasa, Mii.." Amira tersenyum sumringah. Kedua tangannya diayunkan lebar ke udara membentuk lingkaran.

"Hihi, emangnya siapa yang bilang kalau ada iklan sirup tandanya dikit lagi bulan puasa, Sayang?" Ummi berjalan ke teras mendekati Amira.

"Eh ng.... katanya Nasya tadi di sekolah! hehe..." gadis kecil bermata bulat itu nyengir. Ummi geleng-geleng kepala sambil tertawa.

**

"Ummi, kenapa sih bulan Ramadhan cuma 30 hari?"

"Karena Allah menetapkannya begitu, Sayang"

"Terus hikmahnya apa?"

"Hikmahnya banyaak sekali. Salah satunya supaya jadi spesial, ada sesuatu yang ditunggu-tunggu. Seperti Amira yang suka menunggu-nunggu cerita Abi tentang sirah Nabi setiap hari Jum'at," jawab Ummi sambil tersenyum.

"Oooh iya ya, Mi. Supaya nggak bosan ya?" tanya Amira polos.

"Hmm... bisa jadi. Karena Allah tahu, manusia itu, senang diberi hal-hal spesial. Kadang-kadang kalau setiap hari ada, akhirnya lupa disyukuri."

"Maksudnya gimana, Mi?"

"Coba sini... dengerin Ummi," wanita itu lantas menyejajarkan tingginya dengan Amira, kemudian melanjutkan, "Amira sudah bersyukur hari ini?"

"Sudaah, Mii," jawab Amira bangga. Matanya berbinar.

"Apa saja Sayang, yang sudah disyukuri? Ummi boleh tahu?"

"Bersyukur karena.... tadi Amira dipuji Ibu guru. Katanya tulisan Amira bagus. Terus tadi Nasya bagi cokelat untuk Amira. Terus tadi pagi Abi juga kasih Amira... ups!" Amira refleks menutup mulutnya.

"Ayoo Abi kasih apa?"

"Yah ketahuan Ummi deh," Amira menepuk dahinya,

"Hihi, nggak apa kalau nggak mau kasih tau Ummi. Terus apa lagi yang Amira syukuri?"

"Nanti ya Ummi, Amira tanya Abi dulu boleh nggak kasih tau Ummi," mendengar pernyataan polos anaknya, perempuan itu tertawa, "Hmm... yang Amira syukuri... apa lagi ya, Mi..."

"Amira bernafas hari ini?"

"Loh iya dong, Ummi..."

"Amira melihat?"

"Iya."

"Amira bisa makan hari ini, Sayang? bisa bertemu air?"

"Iya, Ummiii.... Amira tahu!"  perempuan kecil itu mengajungkan jari telunjuknya ke udara.

"Tahu apa?"

"Amira lupa bersyukur karena sudah bernafas, melihat, bisa makan dan bertemu air. Kita suka lupa bersyukur sama yang ditemui setiap hari. Ummi mau bilang itu, kan?"

"Hihi, anak Ummi sekarang sudah makin pintar ya, Alhamdulillah," perempuan itu mengecup pipi anaknya, seraya melanjutkan, "jadi, salah satu hikmah kenapa Ramadhannya 30 hari saja, adalah supaya manusia sadar dan memanfaatkan waktu-waktu indah itu dengan sebaik-baiknya." mendengar penjelasan ibunya, Amira mengangguk-anggukkan kepala. 

"Satu lagi loh, Mi. Amira juga bersyukur punya Ummi. Ummi juga jangan lupa bersyukur punya Amira, Walaupun setiap hari ketemu, jangan sampai lupa ya, Mi. Hehe..."

***


Tulisan ini sudah menjadi draft selama berbulan-bulan.
Alhamdulillah, ternyata sekarang sudah sungguhan dekat Ramadhannya. :)
#welcomingramadhan

Cerita Romantis (1)

كهيعص

"Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad." – (QS.19:1)

Mari bicara tentang cinta. Tentang kisah romantis. Tentang cerita manis. Tentang apa yang dapat membuat hati terketuk pintunya. Tentang syahdu dan merdunya skenario semesta.

Cukuplah histori penuh hikmah tentang Zakaria ‘alaihi salam, akan pinta tulusnya agar memiliki keturunan. Ianya terpotret abadi dalam Al-Quran surat Maryam, nan disebut-sebut sebagai rahmat Tuhan. 

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

"(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabb-kamu kepada hamba-Nya Zakaria," – (QS.19:2)

Ia, Zakaria, memperoleh rahmat oleh keyakinan utuh yang tercermin dalam lembut doa pada Yang Maha. Ia mengiba. Memohon dengan tulus. Harapnya tumpah hanya kepada Allah. Maka Zakaria— nabi Allah itu, telah nyata mengajarkan pada kita tentang adab berdoa.

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

"yaitu, tatkala ia berdo'a kepada Rabb-nya, dengan suara yang lembut." – (QS.19:3)

Dengan suara yang lembut. Dengan rayuan mesra, dengan semerbak kekhusyuan; paduan indah antara khauf dan raja. Maka ayat selanjutnya; ayat keempat dari surat Maryam ini, ialah romantisme luar biasa; adalah sedalam-dalamnya gambar keagungan cinta.

Ia adalah kisah manis ekslusif antara seorang hamba dengan Rabb-nya...

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

"Ia berkata: 'Ya Rabb-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalalu telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Rabb-ku." – (QS.19:4)

Pada titik terlemah. Pada daya yang dirasa habis. Pada pengakuan diri akan ketidakmampuan. Namun pada titik harap paling tinggi. Tidakkah itu luar biasa? Tidakkah ia membutuhkan kelapangan hati nan kejernihan fikir? Pencinta macam apakah seorang Zakaria? Yang bahkan, ia menyatakan seterang-terang, bahwa dirinya tidak pernah kecewa. Sekali lagi, tidak pernah kecewa.

Ya, ia tidak pernah kecewa atas harap  pada Rabb-nya.

Maka, jika ada pinta atas nikmat yang selayaknya paling kita damba, ialah itu nikmat berharap; nikmat untuk tidak pernah kecewa pada-Nya. Sebab, bukankah telah jadi rahasia dunia bahwa tanpa harap, akan mati manusia?



Jayakarta, April 2017