Wednesday, February 7, 2018

Menyukai Hujan dengan Bijak

Perjalanan Jakarta-Bogor kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Meski dengan senyap kantuk sisa perbincangan tadi malam dengan seorang teman, namun cuaca yang sedang agak ‘genit’ bulan ini rupanya jadi warna tersendiri. Cerah, kemudian hujan. Cerah lagi, kemudian hujan lagi. Aku baru saja kemarin mendapat kabar ada longsor di daerah Puncak. Grup keluarga besar kami sempat dibuat ramai oleh sebab salah satu sepupuku yang tengah PKL di Cipanas. Juga baru kemarin, berita soal banjir di Katulampa. Tentang aliran sungai di Bogor yang siaga 1 dan dikabarkan agar warga Jakarta bersiaga akan kemungkinan banjir kiriman. Lalu pagi tadi Pasar Parung digenangi air mengalir. Pertama kali aku kembali ke Bogor dengan disambut hujan yang sedemikian deras.

Aku adalah penyuka hujan. Barangkali orang-orang terdekatku tahu akan hal itu. Tapi beberapa waktu belakangan, entah kenapa, mendengar hujan seringkali membuatku takut. Yah, mungkin aku hanya sedikit paranoid akibat gempa yang pernah menyapa tiga hari berturut-turut. Lalu suara hujan menjelma jadi agak berbeda dari biasanya. Selain karena bunyi seng di dekat rumah yang membuat aksen badai tiap hujan turun, rupanya ada ketakutan yang muncul dari dalam diriku sendiri. Bagaimana kalau suatu waktu aku diuji dengan apa yang aku sukai?

Kamu suka hujan. Meminta supaya turun hujan. Tapi sampai kapan kamu membabi buta? bahwa pada kenyataannya, tidak pada semua kondisi manusia mengidam-idamkan hujan.

Aku seperti takut pada keputusanku sendiri untuk menyukai hujan. Aku takut menyukainya dengan tidak bijak.  Meski alasan-alasanku bicara bahwa kesukaan padanya berangkat atas kabar gembira bahwa waktunya adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Juga alasan bahwa suara rintik dan bau petrichornya yang memenangkan. Tapi barangkali aku harus sering-sering mengoreksi ulang. Kesukaanku pada hujan, apakah alasannya masih berada pada tempat yang tepat? ataukah jangan-jangan sudah melenceng sedemikian rupa tanpa aku sadar? Sebab bukankah seseorang akan senantiasa diuji dengan sesuatu yang ia cintai?

Mungkin aku memang harus belajar untuk menyukai hujan secara bijak; menyukai sesuatu sesuai dengan porsinya. Agaknya aku setuju pada mereka yang mengatakan bahwa pembeda antara kanak-kanak dengan orang dewasa adalah tentang kebijaksanaan menyikapi segala sesuatu. Dan, boleh jadi termasuk urusan sepele seperti ini.

Belajar mencintai dengan bijak. Bukan cinta yang buta, tapi cinta yang cerdas penuh rasa dan logika. Cinta yang membawa maslahat. Cinta yang jernih, tidak ditutup bumbu-bumbu noda. Lalu hari ini, aku menemukan kembali rasa tenang memandang hujan, setelah sekian lama terlampau lupa dan ketakutan.

Alhamdulillah.

Sumber

06/02/2018
Pada perjalanan menuju Bogor untuk bimbingan tugas akhir.

Tuesday, December 12, 2017

Perangkap

Untukmu yang terperangkap oleh diri sendiri.

Mungkin sudah saatnya bagimu untuk menghentikan kepura-puraan. Berhenti menikmati kebodohan yang menipu. Berhenti memberikan toleransi melampaui batas pada diri sendiri. Manusia akan selalu mendamba penerimaan. Dan pada aspek sosial antar manusia, yang paling penting adalah penerimaan dari diri sendiri.

Hidup kita bukan hanya terdiri atas satu sisi. Apakah selama ini kamu cukup nyaman berjalan seperti itu? seolah-olah hidup adalah tentang dirimu sendiri. Berhentilah terkungkung dalam pemikiran sendiri yang takkan pernah ada habisnya. Bukankah kamu juga dicipta untuk bersosialisasi? lihat berbagai mcam pandangan dari sudut pandang yang beragam.

Jika tidak mampu menjalankan seutuhnya, jangan ditinggalkan seutuhnya. Berhentilah merasa buntu dengan berbagai macam keadaan. Cukup sampai disini saja. Lakukan sesuatu yang bermanfaat. Lakukan hal-hal positf yang bisa memberi keuntungan bagi dirimu dan bagi orang-orang di sekitarmu. Sederhanakan segala sesuatu. Mulailah kembali menjalani hari-hari sambil tersenyum. Bangkitlah! sebab sampai kapan kamu mau menunggu? bukankah ini sudah terlalu lama? tidakkah kamu lelah? bagaimana jika tahu-tahu waktumu habis di dunia? tidakkah kamu akan menyesal nantinya?

Bukankah petunjuk itu telah sangat jelas? mintalah petunjuk kepada Rabb-mu. Bagaimana mungkin kamu masih sibuk mengutuk keadaan tanpa pernah meminta petunjuk dari-Nya dengan sungguh-sungguh? Bagaimana mungkin kamu meminta jalan keluar tanpa pernah mengoptimalkan ikhtiar dengan sebenar-benar pengoptimalan? Bagaimana mungkin kamu meminta sabar namun tidak pernah bersabar atas tatih jalan yang harus kamu senandungkan? bagaimana mungkin?

Sudahi sampai disini. Lakukan hal-hal yang baik untuk jiwamu. Lakukan kebaikan-kebaikan yang bisa mengnspirasi. Sekecil apapun itu. Kembalilah untuk menjadi manusia...

Sebab bukan tanpa alasan kamu diciptakan di dunia.


Kota Hujan,
7-12-2017




Monday, November 6, 2017

The Secret Hero

The Secret Hero, begitu biasa kami menjuluki beliau. Bukan tanpa alasan, melainkan karena jika kamu meletakkan memo di atas meja piket pada Gedung G sekolah seperti ini  misalnya, “Assalamu’alaikum Pak.. Kamar 202 Z, pintu kamar mandi rusak. Terima kasih.” maka dapati pintu kamar mandi kamar 202 Z akan kembali normal sepulangnya dari sekolah. Beliau, salah satu guru terbaik kami, Pak Suhali. Ialah the secret hero itu.

Mungkin nyaris setiap anak memiliki kenangan khusus jika mengingat Pak Suhali. Bukan apa-apa, sebab beliau selalu menebar senyum. Pada sesiapa saja yang dijumpai, agaknya Pak Suhali selalu terlihat ceria dan kerap menghibur lawan bicaranya. Bagi saya pribadi, Pak Suhali adalah guru terbaik jika saja rutinitas sekolah tengah membuat bosan (kalau tidak mau dikatakan membuat kepala terasa berat. hhe). Pernah beberapa waktu saya mengecat pinggir jalan trotoar sekolah bersama Pak Suhali. Hiburan luar biasa. Meski bisa ditebak, hasil gores tangan saya jauh lebih berantakan daripada milik beliau.

“Nanti di rapot kamu nilainya nambah loh. Nilai ngecat!” begitu kerap Pak Suhali berujar. Bukan hanya sekali, tapi nyaris setiap bertemu saya, yang diungkit mesti persoalan cat dan rapot. Diam-diam saya sungguhan mengecek rapot. Hha. Kali saja benar ada nilai ngecat.

MAN Insan Cendekia merupakan sekolah berasrama yang menerapkan budaya salam antar civitasnya. Setiap berpapasan di jalan, di manapun, kami akan saling melempar salam. Termasuk kepada para guru, pak satpam, juga para karyawan, salah satunya Pak Suhali.

“Assalamu’alaikum, Pak,” ucap saya sambil membawa kotak eskrim kulit semangka hasil praktik untuk penulisan karya tulis ilmiah.

“Wa’alaikum salam!” jawab beliau bersemangat seperti biasa, “itu apa itu?” tanya Pak Suhali.

“Hehe.. ini es krim kulit semangka, Pak. Bapak mau coba?” saya menawari.

“Es krim kulit semangka?” beliau bertanya lagi. Kemudian, pada bagian ini, saya agak lupa. Namun seingat saya, Pak Suhali lantas mencicpi es krim kulit semangka. Ada beberapa yang tidak ditaruh di dalam kotak es krim, tapi dimasukkan ke dalam plastik. Sejauh yang saya ingat, beliau mencicipi dan mengatakan bahwa es krimnya enak. Sejak saat itu, setiap bertemu, sapaan beliau pada saya bukan lagi soal rapot dan cat. Yap, benar sekali. Melainkan soal es krim kulit semangka.

Saya lulus dari Aliyah pada tahun 2013. Alhamdulillah, pada bulan Januari tahun 2016, saya berkesempatan untuk kembali ke tanah berjuta kisah itu dengan judul agenda magang. Ya, jurusan kuliah saya mengharuskan mahasiswanya untuk menempuh magang, dan qadarullah saya magang di MAN Insan Cendekia.

Suatu ketika, ketika tengah magang, saya menjumpai Pak Suhali. Beliau sedang berjalan di dekat gazebo baru yang lokasinya tidak jauh dari tempat wudhu. Sungguh tidak banyak berubah. Beliau tetap bersemangat tersenyum, semangat menebar salam, dan semangat ketika berbicara.

“Assalamu’alaikum, Pak.”

“Eeeh kamu,” agaknya Pak Suhali mengingat wajah saya tapi tidak tahu siapa nama saya.

“Iya Pak, saya Riris angkatan 16. Yang bikin es krim kulit semangka Pak, hehe” mendengarnya beliau tertawa.

“Iya, iya! es krim kulit semangka ya,” sejenak bernostalgia.

Alhamdulillah. Selama belajar di Insan Cendekia, saya mendapat pemaknaan bahwa semua orang yang kita jumpai dalam hidup sejatinya merupakan guru. Begitu pula bagaimana saya memandang sosok Pak Suhali. Ada banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Bukan hanya karena kenang-kenangan ngecat pinggir trotoar, menyapu jalanan samping gedung CSA, atau tentang es krim kulit semangka. Lebih dari itu, dari beliau saya belajar bagaimana menularkan energi positif pada siapa saja. Level saya masih jauh di bawah beliau, dan saya belajar untuk itu.

Kemarin, Ahad sore tanggal 16 Safar 1439 H (5 November 2017), saya mendapat kabar akan kepulangan bapak penebar senyum itu. Beliau meninggal dunia di RSUD Pasar minggu karena sakit akibat adanya kerusakan jaringan saraf di bagian kanan, yang berakibat luar biasa pada kondisi fisiknya. Mendapatkan kabar tersebut dari salah seorang guru, membuat saya nyaris tidak percaya. Sedih. Mengapa begitu tiba-tiba? saya bahkan tidak tahu-menahu bahwa beliau sakit. Padahal beberapa waktu lalu saya baru saja kembali berkunjung ke Insan Cendekia.

Qadarullah, segala sesuatunya berlangsung begitu cepat. Bahkan berdasarkan informasi, satu hari sebelumnya, beliau masih membantu berbagai kegiatan di area sekolah. Maha Besar Allah pemilik skenario yang menggenggam jiwa hamba-hamba-Nya.

Sayang, belum sempat saya berterima kasih atas segala inspirasi yang diberikan oleh Pak Suhali. Beliau adalah orang yang baik. InsyaaAllah. Semoga amal ibadah Pak Suhali diterima di sisi Allah. Aamiin allahumma aamiiin. Saya menyaksikan sendiri bertapa banyak dari kami yang berbelasungkawa atas kepulangan beliau. Bukan kepergian, melainkan kepulangan. Sebab bukankah pada hakikatnya, meninggal dunia merupakan momentum pulang bagi hamba kepada Rabb-nya? Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun...


Lantas, diri, apa kabar hari ini?

Kapan terakhir kali kamu mempersiapkan diri?

Kapan terakhir kali kamu mengingat akan mati?


Jalan yang pernah saya cat bersama Pak Suhali. Hitam-putih.


Ditulis di Kota Hujan
ketika hujan

pada Senin, 17 Safar 1439 H




Wednesday, November 1, 2017

Air Mail #10

Kata-kata selalu memiliki ruang. Ia bisa bicara. Ia bisa merasa. Ia bisa menerka. Aster yang baik, terima kasih telah mengajarkan padaku akan satu pemaknaan itu.

AIR MAIL

Jangan pernah memutuskan untuk pergi dengan alasan bahwa diri kita bukan siapa-siapa dan tidak berarti. Paling tidak, jika memang harus pergi, pergilah dengan alasan yang lebih bijak.

Bukan, itu bukan perkataanku, Aster. Itu adalah nasihat dari Nyonya Val. Kalau kamu ingat, sebenarnya Tuan Erdas juga pernah mengatakan hal yang sama. Hanya saja. usia kita—usiamu lebih tepatnya—dahulu mungkin masih terlalu dini untuk memahami seutuhnya apa makna dibalik nasihat hebat itu. Entah apakah kau masih ingat atau tidak.

***

“Rwazweeen!!!” kau meneriakiku dengan mulut penuh roti. Tangan kananmu berkacak pinggang. Aku tertawa.

“Makan yang benar! habiskan dulu!” aku balas teriakanmu dari jarak lima meter. Kau terkekeh. Nyaris tersedak.

“Ibwukhu... kahau diphanggil ibwukhu!!” mendengar kalimat itu, aku bangun dari duduk. Memberi isyarat tanya; apakah kamu sungguh serius? kau lantas mengangguk. Aku bersegera menuju rumahmu yang berpagarkan kayu.

Bagiku saat itu, tidak ada yang lebih menyenangkan dari dipanggil oleh seorang ibu.

***

Lambat laun aku belajar bahwa seringkali manusia terjebak dalam akal pikirannya sendiri. Padahal akalnya juga lah yang menyetujui bahwa ada begitu banyak soalan hidup yang berada di luar nalar-logika. Entah sejak kapan, aku jadi semakin banyak berpikir. Mungkin sejak mengenalmu. Atau sejak ditinggalkan olehmu. Bisa jadi, kan?

Kadang-kadang, aku tidak bisa membaca jalan pikiranmu. Aku juga tidak mengerti bagaimana menerjemahkan bahasamu. Bukan karena logat bahasa lokalmu yang entah mengapa terdengar aneh, melainkan karena mungkin aku hanya miskin rasa pada beberapa aspek yang telah kau alami. Seperti rasamu tentang ibu, misalnya.

Kau mengatakan bahwa ibumu adalah manusia yang dapat menyengatmu dengan listrik hanya dengan sentuhan jemarinya. Aku paham itu bukan makna denotasi, tapi saat itu aku sama sekali tidak mengerti maksudmu. “Razen, percayalah, ibuku punya kekuatan super. Dia bisa menyetrum ujung kepalamu dengan jemarinya. Ibu benar-benar bukan manusia biasa!” saat itu aku hanya tersenyum kecut mendengar perkataanmu. Kau memang aneh.

***

Kau terlalu sering bercerita tentang orang tuamu, Aster. Seolah-olah kau tidak tahu bahwa aku merindukan sosok orang tua. Dahulu mungkin aku lebih sering cemburu. Namun belakangan, aku menyadari, bahwa darimana lagi jika bukan dari cerita-ceritamu, aku dapat sedikit banyak memahami tentang hubungan seorang anak dengan orang tuanya? aku ingat saat itu, ketika kau mengabarkan bahwa ibumu memanggil, lantas menanyakan satu pertanyaan yang paling sulit untuk dijawab pada potongan episode masa kecilku.

“Razen,” ujar ibumu sambil membelai kepalaku, “maukah kamu tinggal disini bersama kami?”

Aku terkesiap. Pertanyaan itu diam-diam mengganggu puluh hari milikku berikutnya di panti.

***

Aster, hari ini aku semakin mengerti maksudmu. Jemari seorang ibu yang tulus sungguh-sungguh dapat menyengat. Benar katamu. Seperti listrik.


Ditulis ketika hujan menyapa bumi lagi,
pada Muharram 1439 H.


Razen

Saturday, June 10, 2017

Bukan Tanpa Rencana

Kita adalah manusia yang dipertemukan oleh kekurangan. Oleh keterbatasan. Oleh ketidakmampuan. Kita tidak saling menaruh hati dan simpati karena sesuatu bernama kemegahan; kemewahan; keserba-kerenan. Kita diskenariokan berbincang mengenai kekurangan-kekurangan kita. Mereka dapat dengan mudah berkomentar tentang siapa diri kita tanpa benar-benar tahu keadaan yang sebenarnya. Mereka dapat dengan mudah beramah-tamah dengan kita, sebab mereka tidak tahu menahu akan rapuh diri yang sedemikian rupa. Dari sekian banyak mereka, kita berjumpa. Tidak oleh kegemerlapan deret penghargaan manusia. Tidak oleh kekaguman sekian mata. Tidak oleh semerbak atribut yang dapat buat kita berbangga. Kita biasa-biasa saja. Tapi kita dibuat saling menyapa, oleh sebab kekosongan-kekosongan yang ada. Kita tidak sedang saling mendamba rupa, apatah lagi harta dan tahta. Kita tidak sedang saling mengejar untuk sesuatu yang dikata orang dapat digadang bangga; meski kita tahu antara kita bisa saja melakukannya. Bisa. Sebab apa yang tidak bisa, jika hari ini dunia begitu mendukung akan pembentukan citra? Tapi kita tidak berangkat dari sana. Kita tidak memberangkatkan cinta dengan alasan yang begitu sederhana diucap kata. Kita sedang bicara tentang kekosongan-kekosongan yang rindu diisi. Kita sedang mencari jawaban atas rupa-rupa tanya yang selama ini muncul di diri.

Dan dari sekian banyak manusia di dunia,

aku tahu.

Bukan tanpa rencana Tuhan mempertemukan kita.


Bersama Kakao, pada 2012 di Sawarna


**PS: Terkhusus untuk kalian yang membaca ini kemudian terfokus pada hubungan cinta-cintaan laki-laki dan perempuan, agaknya boleh lah mengilhami lagi tentang makna hubungan antar manusia beserta semestanya. Boleh lah memahami lagi bahwa cinta sedemikian luas dan universal. :)


Saturday, June 3, 2017

EVALUASI SOSIAL PADA BAYI DAN BALITA

Kali ini kami akan membahas artikel berjudul How Infants and Toddlers React to Antisocial Others yang dipublikasikan pada 2011 dan ditulis oleh Hamlin dkk. Dari judulnya, sedikit banyak dapat diperkirakan bahwa artikel ini bicara tentang bagaimana bayi dan anak balita memberi respon akan perilaku antisosial pada orang lain.

Hal yang bagi saya menarik dari penelitian ini adalah, bahwa Hamlin dkk. tidak hanya sekadar melakukan penelitian tentang bayi dan balita, melainkan melibatkan bayi dan balita. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi kaya akan informasi dan menjelma jadi enlightenment. Ia tidak hanya berbicara tentang teori dan bagaimana pandangan para ahli ataupun orang tua yang menjadi narasumber, melainkan langsung menyentuh tokoh utama sebagai subjek penelitian. Berikut tabel yang berisikan informasi mendasar mengenai artikel yang sedang dibahas.

Judul
How infants and toddlers react to antisocial others
Dipublikasikan pada
PNAS (Proceeding of The National Academy of Sciences of the United State of America). 108(50): 19931-19936
Tahun
2011
Penulis
J. Killey Hamlin (a); Karen Wynn (a); Paul Bloom (b); Neha Mahajan (b)
Lembaga/instansi
a= Department of Psychology, University of British Columbia
b= Department of Psychology, Yale University, New Haven
Abstrak
Although adults generally prefer helpful behaviors and those who perform them, there are situations (in particular, when the target of an action is disliked) in which overt antisocial acts are seen as appropriate, and those who perform them are viewed positively. The current studies explore the developmental origins of this capacity for selective social evaluation. We find that although 5-mo-old infants uniformly prefer individuals who act positively toward others regardless of the status of the target, 8-mo-old infants selectively prefer characters who act positively toward prosocial individuals and characters who act negatively toward antisocial individuals. Additionally, young toddlers direct positive behaviors toward prosocial others and negative behaviors toward antisocial others. These findings constitute evidence that the nuanced social judgments and actions readily observable in human adults have their foundations in early developing cognitive mechanisms.
Keywords: cooperation, infancy




Penelitian ini terdiri atas 5 eksperimen yang melibatkan bayi dan balita dengan berbagai usia. Pada masing-masing eksperimen, subjek diberikan perlakuan untuk kemudian dilihat reaksinya. Untuk lebih rinci, saya merangkum tujuan, subjek, metode, dan hasil dari masing-masing eksperimen pada tabel berikut.

Tujuan Penelitian
Untuk memastikan perkembangan alami dari kemampuan untuk mengevaluasi keadaan sosial pada bayi praverbal dan pada balita yang baru saja memasuki tahap verbal.
Subjek Penelitian
Eksperimen 1: Bayi usia 5 bulan dan 8 bulan
Eksperimen 2: Bayi usia 8 bulan
Eksperimen 3: Bayi usia 9 bulan
Eksperimen 4: Balita usia 19 bulan -23 bulan
Eksperimen 5: Balita usia 19.20 bulan – 22.29 bulan
Metode Penelitian
·         Eksperimen 1
Bayi dipertontonkan tayangan akan adanya tokoh (boneka tangan) yang mendapat pertolongan untuk membuka box dari “boneka prososial” dan “boneka antisosial”. Kemudian setelah mengobservasi interaksi tersebut, bayi diminta untuk mengevaluasi tokoh baru yang berlaku sebagai penolong (kemudian disebut Giver) dan berbahaya (kemudian disebut Taker) bagi tokoh yang sebelumnya berperan sebagai boneka prososial dan boneka antisosial.
·         Eksperimen 2
Serupa pada Eksperimen 1, namun target diganti bukan menjadi pelaku melainkan menjadi korban (berbeda pada Eksperiman 1 dimana target adalah boneka prososial dan boneka antisosial. Pada eksperimen 2, target adalah korban dari perilaku kekerasan/antisosial). Kemudian, target ditampilkan bermain bola yang diambil oleh Taker kemudian dikembalikan oleh Giver (Taker dan Giver merupakan tokoh yang sama dengan yang ditampilkan pada Eksperimen 1)
·         Eksperimen 3
Subjek diganti dengan balita berusia 19 bulan, dan diperlakukan sama seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2.
·         Eksperimen 4
Balita usia 9-23 bulan bermain permainan pemanasan dengan diminta untuk memberikan “treats” kepada beberapa boneka hewan dengan meletakkan balok kepada wadah masing-masing boneka hewan. Kemudian ditampilkan bahwa boneka hewan sangat senang mendapat “treats” tersebut.
Setelah itu balita dipertontonkan tayangan seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, kemudian diminta untuk memilih apakah akan memberi “treats” pada Giver atau Taker. Balita dihadapkan pada dua kondisi (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
·         Eksperimen 5
Sekelompok balita yang baru diajarkan untuk memberi treat pada hewan dan memilih dari dua karakter untuk memberi atau mengambil treat dari karakter tersebut. Balita dipertontonkan tayangan yang sama seperti pada Eksperimen 2 melibatkan tokoh yang ditolong dan diganggu. Kemudian diminta untuk memilih apakah memberi atau mengambil kepada/dari Helpee (ditolong) dan Hinderee (diganggu)
Hasil Penelitian
     §  Eksperimen 1
-          12 dari 16 bayi 5 bulan dan 12 dari 16 bayi 8 bulan memilih Giver ketika target merupakan boneka prososial. ketika target merupakan boneka antisosial, 14 dari 16 bayi 5 bulan memilih Giver sedangkan 13 dari 16 bayi 8 bulan memilih Taker.
-          Pada usia 8 bulan, bayi memilih tokoh yang berlaku positif pada pihak prososial dan memilih tokoh yang berlaku negatif pada pihak antisosial.
§  Eksperimen 2
-          13 dari 16 bayi memilih Giver dari Taker. Berbeda signifikan dengan pilihan bayi 8 bulan terkait tokoh antisosial pada Eksperimen 1.
§  Eksperimen 3
-          Pada target prososial= 12 dari 16 memilih Giver
-          Pada target antisosial= 14 dari 16 memilih Taker
-          Pada target sebagai korban= 13 dari 16 memilih Giver
§  Eksperimen 4
-        13 dari 16 balita memilih untuk memberi “treats”pada boneka prososial.
-  14 dari 16 balita memilih untuk mengambil “treats” dari boneka antisosial.
-   Pilihan balita sangat berbeda signifikan pada dua pilihan keadaan yang dihadapkan (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
§  Eksperimen 5
-          11 dari 16 balita memilih untuk memberi pada Hinderee
-          13 dari 16 balita memilih untuk mengambil dari Helpee
-          Balita pada kondisi Taking menghindari mengambil treat dari tokoh yang telah mengalami gangguan sosial dari pihak ketiga. Respon ini bertolak belakang dengan yang diprediksikan pada Eksperimen ketika target sebagai korban.
-  Menunjukkan bahwa balita yang lebih tua memiliki kemampuan memberi empati. Balita menghindari mengambil dari karakter yang telah diganggu karena mereka dapat merasakan simpatik padanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dapat melakukan evaluasi sosial secara sederhana dengan statement “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa balita dapat merasakan simpatik kepada pihak lain di luar dirinya. Menurut saya pribadi, agaknya Hamlin dkk. cukup berhasil menunjukkan bahwa setiap individu dewasa hari ini memiliki fondasi kognitif moral sejak dini. Dalam bahasa lain, kita dapat mengatakannya sebagai hati nurani, atau juga akrab dengan istilah fitrah; nilai-nilai yang tertanam sejak lahir secara manusiawi.

Saya jadi ingat akan teori perkembangan moral dari Bandura yang menyebutkan bahwa perkembangan moral anak merupakan hasil observasi dan imitasi— hingga dipertanyakan dimanakah peran aspek internal? juga teori Piaget dan Kohlberg yang memperoleh tanggapan kritis dari beberapa kalangan karena menyebutkan bahwa bayi tidak memiliki moral reasoning. Teori keduanya belum dapat menjelaskan tentang bagaimana pendidikan karakter pada usia dini dapat dilakukan, mengingat baik Piaget maupun Kohlberg mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun belum dapat memahami moral. Barulah Thomas Lickona muncul dengan teori yang lebih komprehensif nan kiranya dapat lebih menjelaskan dan menjawab teori-teori sebelumnya. Lickona menggabungkan berbagai teori sekaligus (termasuk padangan Piaget dan Kohlberg) sehingga melahirkan 6 tahap perkembangan moral pada manusia, sebagai berikut.
.
1. Fase bayi (0- 3 tahun) = fondasi moral
2. Fase 1 (+- 4 tahun) = berfikir egosentris
3. Fase 2 (4,5-8 tahun) = patuh tanpa syarat
4. Fase 3 (8,5-14 tahun) = memenuhi harapan lingkungan
5. Fase 4 (16-19 tahun) = ingin menjaga kelompok
6. Fase 5 (>20 tahun) = moralitas tidak berpihak

Fase bayi (0-3 tahun) merupakan fondasi awal bagi perkembangan moral. Pada fase ini, bayi membutuhkan bonding dan attachment dengan orang tua terutama ibunya. Orang tua perlu memberikan ekspresi cinta, rasa aman, stimulasi fisik dan mental, serta keseimbangan antara kasih sayang dan otoritas. Berkaitan dengan hasil penelitian Hamlin et al. (2011), anak-anak yang menunjukkan evaluasi sosial yang baik boleh jadi tumbuh dari keluarga yang telah memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan moral pada masa bayi tersebut. Perkembangan anak akan selalu melibatkan dua faktor secara garis besar; nature dan nurture (bawaan dan oleh faktor lingkungan).

Adalah hal yang menarik dalam penelitian Hamlin dkk, bahwa ternyata bayi yang mungkin sebagain besar masyarakat menilainya “belum mengerti apa-apa,” ternyata mampu mengevaluasi dan memilih sesuai dengan nilai-nilai nurani. Saya jadi ingat pertanyaan salah seorang ibu muda pada satu-dua tahun lalu, ketika saya asyik menggendong anaknya dan mengajak si anak berbincang-bincang tentang benda-benda di sekelilingnya. Ibu muda yang tidak lain adalah kawan saya itu lantas bertanya, “Emang dia udah ngerti ya, Ris, diajak ngobrol begitu?” saya dengan keilmuan yang sangat terbatas kemudian menjawab, “Yaa mungkin saja belum ngerti sekarang. Tapi insyaAllah terinternalisasi. Kalau pun nggak ngerti, minimal diajak ngobrol dan itu berdampak baik buat dia. Semoga ya, hhe..” belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata bayi jauh lebih cerdas dari apa yang saya duga sebelumnya.

Anak balita pun ternyata memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa simpati. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari Eksperimen 5 yang menyebutkan bahwa anak balita lebih memilih untuk memberi pada tokoh yang telah mengalami keburukan, dan lebih memilih untuk mengambil dari tokoh yang sebelumnya mendapat pertolongan. Apa artinya? kita dapat lebih mudah memahami dengan ilustrasi seperti ini: berikan bantuan pada seseorang yang lebih membutuhkan. Jangan mengambil/meminta sesuatu pada seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu tersebut. Menurut saya, ini adalah konsep sederhana dari saling memahami. Terlebih lagi, ia merupakan landasan dasar dari kepekaan sosial antar manusia.

Kesimpulan penelitian
- Bayi dapat melakukan evaluasi sosial, yaitu bahwa “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”.
-     Balita dapat merasakan simpatik.
- Orang dewasa telah memiliki fondasi sejak dini terkait mekanisme kognitif.






Apa yang dilakukan oleh Hamlin dkk. bukan merupakan penelitian pertama yang fokus pada perilaku sosial dari anak-anak. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa balita terlibat dalam perilaku sosial terhadap orang dewasa dan remaja, berlaku prososial terhadap koban tindak antisosial, dapat melakukan protes selama atau setelahnya, dan secara selektif memberikan penghargaan pada pihak prososial dibandingkan antisosial. Uraian lebih lengkap mengenai teks lengkap artikel hasil penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut: KLIK DISINI. Selain itu, penelitian di Yale Univeristy ini juga diliput oleh CNN TV yang dapat disaksikan melalui situs YouTube melalui tautan berikut: KLIK DISINI.

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada perbedaan pendapat antar tokoh mengenai satu pertanyaan sederhana: apakah bayi dilahirkan dalam keadaan “tabula rasa”? ataukah setiap bayi lahir degan keadaan memiliki “blue print”? bahasa lainnya ialah perdebatan antara konsep nature vs nurture. Juga perbedaan pandangan akan satu pihak yang memandang bayi terlahir “baik” sehingga harus dijaga, dan bayi terlahir “jahat” sehingga harus dididik dan memperoleh pembelajaran. Ialah pemikiran-pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai mcam hipotesa. Sebagain berujung teori, sebagian lain boleh jadi cukup berakhir pada tanda tanya dan asumsi.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Seiring dengan waktu, fakta-fakta ilmiah bermunculan yang boleh jadi menjawab berbagai pertanyaan pada masa sebelumnya. Contohnya adalah teori perkembangan moral yang hari ini semakin jelas beserta contoh praktis untuk orang tua tentang bagaimana cara mendidik moral anak. Hari ini kita dapat dengan mudah membaca buku parenting, mulai dari yang bentuknya “serius” menjadi referensi ilmiah, sampai yang menggunakan bahasa populer untuk dibaca oleh kalangan umum. Namun sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW, sekian tahun silam, melalui sabdanya telah memberikan petunjuk pada kita mengenai perkembangan anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Setiap manusia memiliki hati nurani. Kemudian bekal yang telah dimiliki itu lantas berinteraksi dengan lingkungan, yang dalam hal ini disebutkan ialah orang tua. Pengasuhan yang dilakukan orang tua turut berkontribusi pada seperti apakah kepribadian anak akan terbentuk, nan menjadi apa dan beragama apa si anak kelak. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan yang menyebut adanya faktor bawaan dan faktor lingkungan (herediter dan lingkungan), maka fitrah, menurut hemat saya, adalah faktor bawaan yang mutlak ada dan seragam pada setiap manusia; di luar faktor bawaan lain yang sifatnya ciri fisik atau kecerdasan nan tempramen— yang boleh jadi berbeda pada masing-masing individu.


***

Jadi kalau ada yang bertanya (lagi): ”Apakah agama adalah warisan?”
kira-kira, Anda akan menjawab apa? J

Mungkin tergantung dari pemaknaan kita tentang “agama” dan “warisan” itu sendiri. Yang pasti, setiap manusia terlahir dengan fitrah. Dan saya haqqul yaqin, itu adalah fakta absolut yang mutlak.



Ditulis di Batavia,
Pada 8 Ramadhan 1438 H

Saturday, May 13, 2017

Kehidupan Kita; Para Rerumput yang Mengiba Hujan

Aku rasa, iya, aku rasa (kali ini aku menggunakan kosakata ‘rasa’ tanpa mengubahnya jadi ‘fikir’; tidak seperti biasanya) setiap manusia; setiap kita, akan menghadapi masa dimana dirinya merindukan momentum perubahan. Meski sebenarnya, perubahan itu ada setiap hari walaupun mungkin tanpa kita sadari. Aku seringkali menggunakannya sebagai semacam harapan baru setiap hari yang kadang membuatku bertanya ‘ini sebenarnya sehat nggak, sih? Ini bukan pelarian karena nggak mau nyesel, kan ya?’ lalu belum lama, aku membaca sebuah buku berjusul 10 Prinsip Pengasuhan Spiritual. Dan salah satu dari 10 prinsip itu berbunyi; menjadikan setiap harinya sebagai awal baru.

Kali ini aku ingin menulis saja, setelah sekian lama. Rasanya cukup penat juga. Mungkin laman ini memang sudah mulai dipenuhi jaring laba-laba jika ia eksis di dunia. Setiap menulis, aku berupaya agar apa yang aku tulis bisa memberi manfaat untuk orang lain. Hingga pada satu titik, aku kehilangan esensi dari menulis itu sendiri. Lama-kelamaan jari jadi terobsesi menulis untuk orang lain. Padahal, menurutku, sejatinya menulis adalah kepentingan diri sendiri. Ia hanya keegoisan yang dibungkus dengan kata ‘berbagi’ padahal sejatinya adalah refleksi diri. Sama seperti para pengilmu yang mengajarkan pemahamannya pada orang lain, padahal sesejati-sejatinya, ia tengah melipatgandakan keilmuannya sendiri.

Jadi biar kali ini kita saling jujur. Oh, mungkin aku lebih tepatnya. Aku sedang ingin menulis saja. Meskipun random, kuharap tetap ada hikmah di dalamnya, meski mungkin sedemikian tercecer.

Manusia secara alamiah akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebab hati pada nyatanya akan resah jika menemui hal yang buruk. Semoga hati kita masih cukup sensitif untuk dapat merasakannya, ya. Maka jika ada di antara kita yang mungkin terjerembab dalam dosa, bersyukurlah detik ini. Setidaknya kita tahu bahwa itu adalah ‘dosa’. Bukan, ini bukan pemakluman atau ajakan untuk memaklumi perbuatan dosa. Maksudnya adalah, lebih kepada membuka mata kita bahwa selalu ada kesempatan untuk tidak berputus asa pada rahmat Allah. Jangan pernah sekali-kali berfikir bahwa Allah menakdirkan kita menjadi seorang pendosa. Jangan pernah. Serius. Itu tipu daya syaithan. Syaithan nggak serta-merta sukses ketika berhasil menjerumuskan kita dalam maksiat. keberhasilan telak kaum mereka adalah ketika membuat kita merasa bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa kita. Kalau terlanjur, lekas istighfar!

Kembali lagi ke menjadikan setiap harinya sebagai awal baru. Awal baru. Sesuai judul, aku akan mengumpamakannya serupa ‘hujan’. Anggaplah kita ini sekumpulan rumput yang merindukan hujan. Boleh jadi, kita adalah makhluk yang biasa-biasa saja, menjalani hari biasa-biasa saja, merasa bosan, dan mencari-cari semangat apa yang mampu menjadi pendorong untuk melanjutkan hidup dengan menyenangkan. Mungkin kita pernah menjadi bagian dari kelompok yang menjalani setiap detiknya dengan semerbak energi. Dengan optimisme. Dengan harapan. Mungkin juga kita mengalami keterpurukan, atau kekaburan tuju untuk apa kita hidup. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Kita bisa ada di posisi mana saja.

Ketika merasa jenuh, ketika mulai merasa bahwa diri terjerembab di lumpur yang membuat kita merasa begitu lelah dan tubuh kita nyaris kotor semua, kita, sebagai manusia, membutuhkan momentum. Iya, momentum untuk berubah. Teori dasar ini nyaris semua orang tahu, Tapi sayangnya, tidak semua memahami bahwa momentum bukan ditunggu. Sama seperti mereka yang ketika ditanya lantas menjawab “hidayahnya belum datang” dan seterusnya. Momentum bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan dicipta. Mungkin dari kita ada yang pernah mendengar kutipan berbahasa inggris berbunyi “Don’t wait a perfect moment, take a moment and make it perfect!” ya, kita punya andil dalam menghadirkan momentum.

Apa cara paling mudah menghadirkan momentum?

Aku teringat tentang salah satu #1minutebooster dari kajian Shift-nya Ustadz Hanan Attaki. Beliau menyebutkan bahwa setiap kita hendak menginginkan sesuatu, minta ampun lah pada Allah. Ustadz Abdullah Gymnastiar juga pernah menyebutkan dalam tausiyahnya, bahwa masalah selalu punya jalan keluar. Ibarat naik mobil kacanya kotor, bukan tidak ada jalan, melainkan kita yang kesulitan melihatnya. Maka hal yang pertama harus dilakukan adalah bersihkan! bagaimana? istighfar.

Jadi apa cara paling mudah menghadirkan momentum? istighfar. Awali saja dengan meminta ampun. Sebagaimana tebak-tebakan Roger pada suatu hari di suatu kelas kampus IPB; “Apa hajat terbesar manusia?” yang jawabannya “Diampuni dosa-dosanya oleh Allah”; atau awalan dari doa orang-orang salih yang meminta ampun atas dosa, atas dzalim, atas penghambaan yang compang-camping. Istighfar saja dulu.

Kita adalah para rerumput yang mengiba hujan. Sayangnya, kadang kita lupa saling mengingatkan bagaimana cara memohon pada Yang Kuasa agar hujan sudi kiranya menyapa.