Thursday, January 31, 2019

Satu Jodoh Dua Istikharah


Kali ini saya coba kembali menceritakan bacaan yang belum lama saya santap. Sebenarnya sudah lama sekali saya tidak membaca novel, terlebih dengan genre seperti ini. Novel berbau percintaan yang membahas soal jodoh-jodohan. Belakangan saya lebih menaruh minat pada bacaan-bacaan non-fiksi seputar pendidikan dan anak-anak. Tapi novel ini punya sejarah tersendiri.


Judul: Satu Jodoh Dua Istikharah
Penulis: Ma’mun Affany
Penerbit: Affany
Cetakan Pertama: Oktober 2016
Jumlah Halaman: 339 halaman

Saat berkunjung ke Gresik pada Desember 2018 lalu, saya dan mama menetap di rumah salah satu kerabat yang sebenarnya tak lain adalah keluarga salah satu teman seangkatan saya selama di Insan Cendekia. Teman saya sendiri saat ini tengah menempuh pendidikan di Jepang. Alhamdulillah, Allah pertemukan saya dengan keluarga Om dan Tante di Gresik yang ramah sekali dan sangat bersahabat. (Hikmah sekolah di boarding school, kerabatnya ada dimana-mana :D).

Kedatangan saya dan mama ke Gresik tidak lain untuk menyelesaikan beberapa persoalan di Jawa Timur. Jadilah kami bolak-balik Gresik-Surabaya-Malang. Dan selama itu juga keluarga Om dan Tante banyak membantu kami.

Kembali lagi ke novel. Mahabesar Allah dengan sekanario-Nya. Om adalah seorang manajer di salah satu percetakan di Gresik. Om juga merupakan seorang penulis. Saya dibekali empat buah buku, tiga di antaranya adalah novel dan satu buku lagi merupakan buku karya tulisan Om sendiri. Novel pertama yang disodori pada saya adalah novel ini, karya Ma’mun Affany—salah seorang karib Om—berjudul “Satu Jodoh Dua Istikharah”. Saat itu saya belum terpikir untuk membacanya. Masih terngiang dalam kepala saya bagaimana menuntaskan bacaan buku statistik olah data untuk penyelesaian tesis yang dengan kerelaan hati saya tinggalkan sementara di Jakarta (walaupun sebenarnya laptop tetap dibawa—meski sama sekali tidak tersentuh pada akhirnya—). Tapi saya menerima pemberian Om dengan sangat senang hati. Terbayang koleksi buku di rumah bertambah empat buah. :D

Qodarullah, begitu urusan di Jawa Timur selesai dan saya tiba di Jakarta, saya mulai membuka-buka novel ini. Agaknya menarik juga. Font size-nya pun terbilang besar, mungkin membacanya tidak akan menyita waktu lama. Jadi sembari menulis tesis, sesekali saya buka si novel. Mengisi kejenuhan di sela waktu melihat layar laptop.

Sebenarnya, sinopsis di bagian belakang buku ini bisa dibilang cukup menggambarkan isinya. Isi cerita berputar pada 3 tokoh utama; Salman, Tania, Fatimah.


Salman adalah seorang direktur muda. Ia tampan, kaya, baik hati pula. Barangkali penggambaran Salman dipotret sedemikian semerbak, sampai pembaca dibawa pada kenyataan pahit bahwa ternyata Salman punya luka hingga sering main perempuan. Adapun Tania, perempuan yang terikat pada kontrak dengan mucikari, naas sebab ibunya sendiri yang menenggelamkan ia pada dunia gelap. Tania digambarkan unik, sebab pakaiannya dideskripsikan rapi tak sebagaimana perempuan malam pada umumnya. Ia juga dibekali dengan mukenah; perangkat sholat meski apa yang akan dilakukannya adalah perbuatan nista. Adapun Fatimah, gadis muda yang berprofesi sebagai dokter, digambarkan nyaris sempurna. Cantik, menawan, baik hati, namun jelas ia "keras kepala". Mati-matian membela Salman meski ia tahu akan sejuta cela pada laki-laki pujaannya itu.

Menurut hemat saya, inti dari cerita dalam novel ini adalah tentang penerimaan. Barangkali Fatimah menjadi satu-satunya tokoh utama yang paling “bersih”, setelah Salman yang di balik gemerlap prestasi dan kemewahan pencapaiannya ternyata menyimpan luka, atau Tania; perempuan berhati mutiara yang terjerembab dalam dunia gelap malam. Ma’mun Affany seolah hendak menyampaikan bahwa ada ruang dalam diri manusia yang hanya bisa ditaklukan dengan penerimaan atas titik lemahnya. Sebagaimana Salman yang akhirnya luluh atas segala penerimaan tanpa cela dari Fatimah, atau Tania yang rela menjadi abdi sepanjang hidup oleh sebab penerimaan utuh dari seorang Salman.

Saya tidak akan menceritakan ceritanya secara lengkap. Nanti jadi spoiler, hhe. 😊 Sebagai pembaca yang sebenarnya bukan sebenar-benar penikmat novel roman, saya bisa katakan bahwa novel ini worth to read. Terima kasih pada penulis, Ma’mun Affany, karena sudah menulis dengan apik :D bahasanya ringan, mengalir, mudah dipahami, dan tidak bertele-tele. Sukses menghadirkan penokohan yang terdeskripsi dengan jelas meski tanpa dijabarkan detail di dalam novel. Tapi dengannya, saya jadi mengenal dan bisa turut menjelaskan seperti apa sosok Salman, Tania, juga Fatimah, yang mungkin saja mereka ini ada versi riilnya di dunia nyata entah dengan nama siapa. Novel ini berhasil membuat saya memperluas jangkauan pandang atas dunia yang mungkin selama ini luput dari wawasan.

Terakhir, pembelajaran penting khususnya bagi perempuan barangkali hadir dari sosok Fatimah. Bukan atas sikap “buta” nya sebelum menikah, melainkan ketika ia berperan sebagai istri bagi suaminya. Melalui sosok Fatimah, penulis seolah hendak menyampaikan bahwa ada peran istimewa yang dimiliki perempuan sebagai istri, “Tugas utama perempuan adalah mengubah laki-laki menjadi lebih baik dalam agamanya, dan menjadikannya lebih semangat menjalani kehidupannya.”



Menarik. Sebab kaum perempuan kadang lupa bahwa mereka juga punya peranan jadi pendamping, bukan hanya sekadar untuk dibimbing. :)