Wednesday, June 29, 2016

Tasbih

Aku duduk di bangku gedung rektorat. Di hadapanku, berjarak sekitar 10 meter, berdiri tegak sebuah pohon rindang. Hijau. Sejuk. Tenang. Membayang-bayangi satu kesatuan rumput di bawahnya.

Pembacaku yang baik,

Kamu pernah, merasakan keinginan untuk kembali tidak tahu apa-apa? Kadang, melihat pohon menjadikan aku berfikir akan betapa bodohnya aku. Aku memilih untuk jadi manusia, dan menyanggupi titah Tuhan tuk' jadi khalifah. Rasa-rasanya, akan jadi lebih mudah jika aku hidup menjadi pohon saja, bukan? ia bertasbih sepanjang waktu.

Ah, aku cemburu.

Kota Hujan, 18 Mei 2016

***

Tulisan di atas dibuat pada pertengahan bulan Mei 2016. Lalu pada tengah menuju akhir Juni; satu setengah bulan kemudian, saya membaca dua ayat ini:

Allah SWT berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hadid ayat 1).

تُسَبِّحُ لَه‘ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاَلْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ 4 وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَاكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّه‘ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Surat Al Isra ayat 77).

Bukan, bukan cuma pohon. Melainkan manusia juga senantiasa bertasbih kepada-Nya; melainkan diri juga senantiasa bertasbih kepada-Nya. Sekian banyak sel dalam tubuh, semuanya bertasbih. Lalu apakah akal dan hati ini cukup tega untuk menyalahi fitrah tersebut?

Batavia, 23 Ramadhan 1437 H


Kebun Raya Bogor, 28 Desember 2010 (Foto oleh Gerak Parabolang)

Saturday, June 25, 2016

Satu

Satu per satu pasir terbang. Menghilang.
Semakin banyak ditiup semakin hambur ia tiada pulang.

Satu per satu manusia pergi. Tiada kembali.
Semakin dicari, semakin asing ia terhadap diri.

Satu per satu terbukti tak abadi,
satu per satu terbukti tak sejati.

Hanya ada satu yang janjinya pasti.


Kota Hujan, 19 Ramadhan 1437 H


Bertemu Orang Baik

"Mau kemana?" tanya sosok di balik helm itu.

"Ng.. mau pulang," jawabku setengah heran. Menerka; siapa?

"Mau bareng?"

"Eh ini siapa? Kak **** ya?" aku menebak.

"Bukan," dia geleng-geleng kepala.

"Terus siapa?" ujarku dalam keadaan setengah bingung bercampur lelah.

"Aku bukan siapa-siapa," ia kemudian membuka helm, "mau bantu aja," jawabnya lagi.

"Eh?" dahiku mengkerut.

"Jam segini udah nggak ada angkot ke arah sana. Bareng aja pulangnya. Rumahnya dimana?"

Aku masih ingat betul percakapan itu. Pertemuan dengan Kak Anisa dipinggir jalan, ketika aku dalam keadaan bingung karena handphone mati dan angkutan umum tidak kunjung datang. Padahal pukul tiga dini hari sudah harus berangkat lagi ke stasiun; berangkat ke Kebumen.

"Nama Kakak siapa?"

"Anisa,"

"Ini aku sampai sana aja, Kak. Beda arah. Kakak lurus, kan?"

"Nggak apa-apa. Aku anterin sampai rumah aja ya. Udah malam, khawatir,"

"Emangnya nggak apa-apa?"

"Iya, gak apa,"

"Kakak nanti masuk rumah dulu ya?"

"Eh nggak usah. Aku sampai depan aja. Mau pulang juga soalnya,"

"Sebentar aja, ketemu Mama. Nanti aku ditanya-tanya pulang sama siapa malem begini,"

"Oh... yaudah deh, sebentar ya."

"Okee," jawabku sumringah.

Kemudian kami bertukar nomor. Lantas beberapa kali saling mengirim pesan hingga telepon genggamku rusak dan nomor Kak Annisa hilang.

***

"Hei, namanya siapa?" seorang perempuan berjilbab biru menyapaku di tengah antrean makan.

"Eh.. Riris," jawabku sambil tersenyum simpul. Menerima uluran tangannya untuk dijabat, "Mbak nya?"

"Dian." ujarnya. Aku mencari kalau-kalau ia mengenakan nametag pengenal. Tapi ternyata tidak.

"Tamu juga, Mba?" tanyaku lagi.

"Member," jawabnya sambil tersenyum. Ramah sekali.

"Ooh... pakai ECCT kah?"

"Nah.. iya!" jawabnya antusias.

"MasyaaAllah. Nanti boleh ngobrol-ngobrol, Mbak? aku dari C-care. Lagi mau wawancarain pasien yang pakai ECCT.

"Waah, boleh boleh! nanti habis shalat kita ketemuan ya,"

Lalu kami berbincang-bincang. Seru. Panjang sekali. Mulai dari soal ECCT, kanker, kuliah, sampai pengasuhan anak. Kalau pada narasumber sebelumnya lebih banyak aku yang bertanya, bersama orang ini lebih terasa seperti tengah berbincang dengan sahabat lama. Kemudian aku memanggilnya "Ayuk Dian" (Ayuk sapaan "Kakak" untuk di Sumatra).

Ada banyak hal yang aku pelajari dari Ayuk. Termasuk bagaimana ia selalu menyapaku dengan doa super, "Apa kabarnya, shalihah?" :)

***

Kali ini di kereta.

"Udah azan ya, Mbak?" tanyaku pada perempuan di sebelah kanan.

"Iya, udah," ia tersneyum sambil mengangguk.

"Mau kurma?"

"Nggak usah Mbak," ia geleng kepala seraya tersenyum. Kami diam sibuk dengan hidangan berbuka masing-masing. "Mbak,"  ia lantas memanggilku.

"Ya?" aku menoleh.

"Aku boleh minta air minumnya?"

"Oh, boleh, boleh, ini silakan,"

"Iya, aku beli minum dapat yang udah basi. Lihat deh ini Mba," ia menyodorkan botol minuman jeruk kemasan yang ketika ditengok dalamnya sudah penuh dengan busa.

"Allah.. tanggal expired-nya gimana?"

Kami kemudian berbincang tentang minuman kemasan yang sudah basi itu. Menanyakan namanya.

"Namanya siapa?"

"Ainun. Kalau Teteh?"

"Riris," kami berjabat tangan,  "Ainun masih kuliah?" tanyaku lagi.

"Iya,"

"Sama. Dimana?"

"Aku di Unpak. Riris?"

"Di IPB Dramaga,"

"Waah jauh banget," komentarnya. Aku tertawa. Maksudnya mungkin macet banget kali ya, hhe. "Semester berapa?" tanyanya lagi,

"Aku semester enam,"

"Wah seangkatan kalau gitu," ujarnya sumringah.

Kemudian percakapan kami mengalir. Mulai dari urusan jurusan, magang, compre, ujian, sampai ITC. Setelah shalat magrib di kereta, tidak lama ia pamit untuk turun lebih dulu di stasiun Depok Baru. Oh iya, kami juga sudah tukeran nomor telepon.

Sampai di rumah, ada SMS masuk ke telepon genggamku.

Riris udah sampai rumah? :)

**

Pertemuan-pertemuan semacam itulah yang kadang-kadang membuat saya bingung jika ditanya; "Teman dimana?" pasalnya, bertemu dengan mereka tidak pada jenjang tertentu atau apa, "Iya, waktu itu ketemu di tengah jalan, terus jadi temen deh, hhe" begitu biasanya saya jawab.

Tiga di atas hanya bagian dari orang-orang yang saya kenal melalui perjalanan. Ada pula Ibu Ende, yang saya temui di bus Agra Mas dan dia bercerita panjang sekali tentang anaknya, menanyai tentang kuliah, lantas menyuruh saya main-main berkunjung ke rumahnya di Kota Bogor. Juga orang-orang baik yang saya jumpai yang saya yakini perjumpaan itu salah satunya ada oleh sebab doa orang tua yang mendoakan kebaikan atas anaknya dalam perjalanan meski 'hanya' berjarak Bogor-Jakarta atau Jakarta-Bogor.

Bagi yang masih keranjingan gadget dalam perjalanan, cobalah sekali-sekali simpan telepon genggam/telepon pintar/apapun itu namanya ke dalam tas. Lalu perhatikan sekeliling. Sapa samping kanan-kiri. Mungkin sudah saatnya kita kembali menjadi bangsa yang saling sapa di dunia nyata.


18 Ramadhan 1437 H



Friday, June 24, 2016

RETHINKING EDUCATION


Jadi sebenarnya tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang bolos tidak masuk praktikum mata kuliah Pendidikan Holistik karena saat itu harus pergi secara mendadak untuk mengikuti sebuah wawancara yang hampir saja dilupakan jadwalnya.

**
Muqaddimah

Saya diminta untuk membaca buku (kemudian membuat tulisan terkait buku tersebut). Buku Rethinking Education adalah karya seorang Philip Snow Gang, Ph.D. yang berlatar belakang teknik namun jatuh cinta pada dunia pendidikan setelah perjalanan panjang kehidupannya. Jujur saja, sampai menuliskan ini pun, saya belum membaca secara utuh buku tersebut, melainkan baru sampai halaman ke-48 dari 180, dan selebihnya hanya melakukan screening seadanya. Karena sayang, tugas jelas memiliki deadline dan saya harus segera menyelesaikannya.

Sebelum mulai membaca, melihat judul buku ini serta merta mengingatkan saya pada salah satu materi yang disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi dengan judul sama: Rethinking Education. Bagi yang tertarik, (dan memang sangat menarik), silakan diunduh disini

Kembali lagi pada buku karangan Gang. Mungkin tugas tambahan sebagai pengganti praktikum ini tidak mengharuskan agar saya membaca keseluruhan isi buku. Tapi saya akui buku ini melakukan pembukaannya dengan menarik yang mengundang saya untuk membacanya (meski belum selesai sekarang, 24 Juni 2016). Gang menceritakan perjalanan fikirannya sejak duduk di bangku sekolah, kuliah, hingga bagaiamana ia terinspirasi oleh konsep Montessori pada tahun 1968 ketika menyekolahkan Warren, anaknya yang saat itu berusia 3 tahun.

Yang membuat Gang menaruh perhatian pada Montessori adalah karena ia menawarkan konsep pemikiran akan kombinasi “siapa saya” dengan pandangan dunia kosmik; bagaimana sisi kemanusiaan berhubungan dengan alam semesta. Latar belakang teknik dan kecintaan pada ilmu pengetahuan membuat Gang berfikir bahwa hal tersebut sangat menarik serta mengantarkannya pada sebuah pemikiran baru yang berbeda dari apa yang selama ini ia pikirkan tentang pendidikan.

Pendidikan dan Fisika

Buku ini diawali dengan bab berjudul “Education and Physic” yang membuat saya kembali bernostalgia dengan beberapa istilah dan teori dalam ilmu fisika seperti kausalitas, entropi, sintropi, hukum termodinamika, hingga fisika kuantum. Sampai disini, saya sangat setuju bahwa fenomena fisika memang menarik untuk dikaji. Kita telah mengetahui bahwa fisika memuat hukum-hukum universal pada aktivitas setiap benda termasuk manusia.

Misalkan saja, yang paling sederhana, melakukan perubahan posisi benda agar tidak diam membutuhkan usaha lebih untuk melampaui ambang batasnya. Setelah itu, pergeseran benda akan jadi lebih mudah dilakukan. Sama seperti manusia yang untuk berubah, ia membutuhkan energilebih besar di awal. Ketika langkah pertama telah dibuat, langkah selanjutnya akan menjadi lebih ringan. Memulai seringkali memakan tenaga lebih, bukan?

Contoh lain adalah penemuan yang mengatakan bahwa bagian terkecil dalam sebuah benda hakikatnya memberi untuk membuat ikatan dan menguatkan dirinya. Ada hubungan saling memberi yang membentuk materi tersebut menjadi satu kesatuan. Sama seperti keadaan manusia, dimana pada hakikatnya, memberi adalah menerima. Semakin banyak memberi, semakin banyak pula kita menerima. Dari sini pula kemudian kita mengenal konsep “Semesta Mendukung,” “Law of Attraction,” dan lain sebagainya.

Dunia fisika mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya illmu pengetahuan dan teknologi hasil cipta rasa karsa manusia. Sama halnya dengan teknologi, dunia industri, ekonomi, bahkan politik yang juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Gang berpendapat, jika semua aspek itu mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan? Adakah ia juga perlu mengalami perubahan atau bahkan harus? Perkembangan macam apa yang selayaknya terjadi pada dunia pendidikan?

Maka jadi menarik ketika fisika kemudian dihubungkan langsung dengan pendidikan. Model pendidikan macam apa yang baik dilakukan jika kita kaitkan degan keilmuan fisika yang memuat hukum universal kehidupan manusia? Perubahan seperti apa yang dapat membawa pendidikan manusia menjadi lebih baik seiring waktu?

Masih berhubungan dengan fisika, Gang kemudian mengelompokkan fase kehidupan manusia berkaitan alam menjadi empat periode unik:

  The Age of Humanity in Nature
The Age of Humanity with Nature
The Age of Humanity over Nature, and
The Age of Humanity through Nature.

Ada beberapa pendapat ahli yang Gang kutip dalam bukunya dan saya pikir pendapat Capra di bawah ini menarik untuk dikutip juga disini.

In contrast to the mechanistic Cartesian view of the world,
the world view emerging from modern physics can be characterized by words like organic, holistic, and ecological....
The universe is no longer seen as a machine,
made up of a multitude of objects, but has to be pictured
as one indivisible, dynamic whole whose parts are essentially
interrelated and can be understood only as patterns
of a cosmic process (Capra, 1982)

Saya tidak akan menjabarkan satu persatu pejelasan Gang ada masing-masing dari empat periode tersebut. Melainkan saya akan mencoba mengambil satu benang merah, bahwa hubungan manusia dengan alam menurut Gang berkembang dari jarak pemisah yang jelas hingga akhirnya hari ini sampai pada penemuan akan kenyataan bahwa manusia sejatinya menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Lagi, ungkapan Capra boleh jadi mempermudah kita untuk mengerti jalan pikir Gang:

Cartesian division between mind and matter, between
the observer and the observed, can no longer be
maintained. We can never speak about nature without, at
the same time, speaking about ourselves (Capra, 1982)

*Bagi yang mungkin belum tahu, sederhananya, “Cartesian” adalah pandangan yang menganggap bahwa jiwa dan badan merupakan dua aspek yang berbeda dan tidak dalam satu kesatuan. Biasa dikenal dengan istilah Cartesian dualism.

Rethinking Education Versi Saya

Sampai disini, saya mulai mengerti kemana arah buku ini berbicara tentang pendidikan; adalah itu Pendidikan Holistik yang memandang pendidikan secara keseluruhan, tidak terkotak-kotak, tidak terfragmentasi, melainkan memandang manusia sebagau fully human yang dengan pendidikan diharapkan menjadi seorang longlife learner,  memiliki kesadaran akan eksistensi dirinya sebagai bagian dari sistem besar dan memaknai akan kehidupan yang pada akhirnya kembali menuju Tuhan.

Namun sayangnya, saya belum selesai membaca sehingga tidak pantas rasanya menuliskan lebih jauh tentang Rethinking Education versi Gang. Jadi izinkan saya menulis tentang rethinking education versi amatiran saya saja.

Ketika mendapat mata kuliah Pendidikan Holistik, saya berfikir bahwa mata kuliah inilah yang selama ini saya cari-cari dan Alhamdulillah saya menemukan dan dipertemukan dengannya. Saya memang bukan seseorang yang berorientasi akademik, tapi saya akui saya tertarik dengan pengetahuan yang disuguhkan disini. Terlebih ketika menemukan konsep-konsep yang dibangun tentang pendidikan dengan memandangnya secara holistik: secara menyeluruh. Membaca buku karangan Gang membuka mata saya bahwa ternyata, teori yang berasal dari Barat ini pun berasal dari para tokoh “spiritual” sehingga tidak heran, aspek “kembali kepada Tuhan” menjadi bagian dari penjabaran lebih lanjut tentang pendikan holistik.

Namun sayang, materi yang saya peroleh memang kebanyakan masih berkiblat pada dunia Barat meski lagi-lagi saya bersyukur, kekayaan khazanah para pendidik saya menjadikan ia terbuka dan bahkan referensi lokal yang saya dapat sama sekali tidak bertentangan dengan Islam rahmatan lil ‘alamin. Ia justru semakin memperkuat keyakinan saya, bahwa apa yang diajarkan dalam Islam adalah sebaik-baik metode pendidikan. Malah saya haqqul yakin, “pendidikan holistik” Barat ini masih belum sempurna (maaf saya menyebut “Barat” karena tidak menemukan keterangan yang lebih mudah untuk dimengerti). Belum-- karena ia masih pincang terutama dalam hal sumber ilmu pengetahuan dan pedoman hidup (baca: Al-Qur’an).

Jika kita menengok pada sejarah peradaban manusia dengan sumber Barat, kita akan mengenal istilah “Dark Age,” yang terjadi pada abad pertengahan, dimana bangsa Eropa dikuasai oleh negara dan berada di bawah kendali gereja. Dinamakan demikian, karena masa tersebut dianggap sebagai masa kegelapan, dimana peradaban tidak mengalami kemajuan. Kemudian beberapa abad setelahnya, kita mengenal revolusi industri yang sadar atau tidak membentuk pola pendidikan menjadi begitu mekanistik, headstart, dan cenderung berorientasi kognitif. Barulah pada masa-masa sekarang ini, perhatian akan pendidikan holistik tampil setelah dampak akibat pendidikan yang sebelumnya tidak seimbang itu dirasa tidak sesuai. Seolah-olah “Pendidikan Holistik” adalah sebuah metode dan sudut pandang baru, padahal boleh jadi ia telah ada sedari dulu.

Pendidikan Holistik

Apa yang disebut “Dark Age” oleh Eropa selama ini sejatinya merupakan “Golden Age” dalam sejarah peradaban manusia. Pada masa itulah berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan yang menjadi dasar dari berkembangnya dunia modern dan IPTEK saat ini. Jika kita mengenal Wright bersaudara sebagai pelopor pesawat terbang, maka ratusan tahun sebelumnya telah ada Abbas Ibnu Firnas. Pada masa itu pula ada Ibnu Al Haytam menemukan konsep dasar optik dan kamera yang saat ini banyak digunakan, serta ilmuwan-ilmuwan hebat lainnya yang sayang, seolah hilang dari sejarah.

Ah ya, ada film pendek berjudul 1001 Invention yang sangat layak untuk ditonton. Ia bercerita tentang tiga orang pelajar yang mencari informasi di perpustakaan tentang “Dark Age.” Silahkan klik disini untuk menonton.

Saya curiga. Jika penemuan-penemuan hebat tersebut telah ditemukan jauh sebelum dunia mensosialisasikannya, boleh jadi demikian pula dengan metode pendidikan –dengan konsep pendidikan holistik. Bahkan apa yang dinilai “modern” saat ini, rasa-rasanya masih kurang modern. Ada yang lebih keren dari teori multiple intelligent-nya Howard Gardner, atau metode Montessori-nya Montessori. Dan bisa jadi, yang lebih keren itu sebenarnya telah ada sejak lama dasarnya, hanya saja belum muncul ke permukaan lagi. Atau sudah muncul, tapi saya yang belum benar-benar menemukan. Mungkin ada yang sudah menemukan? Kabar-kabar, ya. Ayo kita sharing! Serius.

Lalu ternyata, tau-tau tulisannya jadi sepanjang ini padahal niatnya cukup buat 2 halaman saja. Terima kasih sudah membaca. Di awal, saya menyampaikan sedikit tentang fisika, tentang alam semesta. Bahwa manusia dan alam sejatinya merupakan satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan, memiliki harmoni-kausalitas, dan kita sebagai manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Saya setuju. Terlebih hal tersebut telah nyata disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hadid ayat 1).

تُسَبِّحُ لَه‘ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاَلْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ 4 وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَاكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّه‘ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al Isra ayat 77).

Longlife Learner

Buku Rethinking Education karya Gang belum selesai saya baca, dan masih menyisakan sekitar 3 dari 4 bagian lagi untuk saya tuntaskan. Jika dari pembaca ada yang berminat untuk ikut menyimak, boleh kirimi saya email untuk saya kirmi bentuk e-book nya, atau silakan berselancar di dunia maya.

Apa yang saya tuliskan hanya buah dari pemikiran beberapa waktu belakangan, dan masih sangat berkaitan dengan mimpi saya di awal Ramadhan lalu. (Silakan baca pada postingan sebelumnya berjudul Al-Qur’an dan Pendidikan). Dan saya fikir, Allah tengah memfasilitasi saya untuk membaca buku Rethinking Education-nya Gang untuk memperluas wawasan --meski berkedok sebagai tugas pengganti praktikum. Karena memang, kalau tidak dipaksa ya seringnya nggak baca Alhamdulillah. J

Saya optimis bahwa kesadaran manusia akan Al-Qur’an sebagai ‘buku’ ilmu pengetahuan semakin meluas. Hari ini kita memiliki dr. Zakir Naik yang mempermudah orang awam seperti saya menelaah IPTEK dari Al-Qur’an dengan cara stand by memegang mushaf sambil menonton video beliau menyebut daftar referensi pengetahuan dari surat Al-Qur’an lengkap dengan ayatnya. Kita juga punya Ustadz Abdullah Gymnastiar, yang diam-diam membuka mata saya betapa urusan tauhid sampai pada hal-hal terkecil dalam kehidupan seperti kuku atau kulit rambutan. Betapa setiap sel yang hidup berada di bawah kekuasaan Allah. Lalu ada Syaikh Fahad Al-Kandari, yang lagi-lagi membantu melihat betapa kita tidak sendirian; bahwa Al-Qur’an sungguh sebenar-benar mukjizat dan dipelajari banyak orang. In syaAllah.

Dalam bukunya halaman 7, Gang menuliskan ini:

“Shalom” comes from the root word “shalem” which means wholeness or completeness. It is used to greet and to say farewell to a friend. It means peace. Shalom is the beginning and the end for the peace that lies within. You cannot have peace without “wholeness.”

Yak, sedikit lagi!

Assalamu’alaikum. Salam. Ialah ajaran Rasulullah Muhammad SAW yang sangat mulia: mendoakan kedamaian dan keselamatan antar saudara seiman. Sedikit lagi, semua konsep ini memang mengarah kesana. Mengarah pada Islam yang kaffah. Dan saya yakin, ia tengah menuju kesana. Jadi ayo belajar, longlife learner!

 18 Ramadhan 1437 H



Kelas Tahfidz di Masjid Ulil Albab MAN Insan Cendekia Serpong

Wednesday, June 15, 2016

Untukmu yang Sedang Berhijrah

Belakangan, kamu merasa mulai bimbang? Aku tahu meski kamu tidak memberi tahu. Sstt… diam-diam hatimu itu mampir kesini lalu membisikkan apa yang tengah ia rasa.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Melajulah degan kesabaran dan keyakinan. Yang perlu kita lakukan bukan melupakan atau meninggalkan apa yang telah terjadi (lagipula itu terdengar sulit, bukan?). Kita cukup berdamai. Menerima. Ikhlas. Toh sekelam apapun masa yang telah terlewat itu, ia tetap telah terjadi. Atau jika pun ia tidak sebegitu kelam, pun ia juga telah terjadi. Tidak ada yang berbeda dari masa lalu setiap manusia: masa lalu telah tertinggal jauh di belakang.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Aku tahu, boleh jadi ada satu-dua kerinduanmu pada masa yang telah lalu. Adakah itu sebuah masalah? Kurasa tidak. Lagipula rindu adalah hal yang wajar bagi manusia; kecuali jika sudah berlebihan dan melampaui batas. Tapi bersyukurlah, karena hatimu masih memiliki sensor yang baik. Ia cukup pandai untuk menyadari mana yang baik dan yang buruk, meski kadang agak labil jika dihadang oleh satuan nafsu duniawi.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Ada batas yang jelas antara berdamai dengan melupakan. Jika selama ini kamu masih mengandalkan “lupa” sebagai senjata, maka saatnya berdamai. Kalau ada yang megatakan bahwa kamu berubah, biar aku beritahu, bahwa sungguh kamu tiada berubah. Kamu hanya sedang berproses. Hei, berproses adalah sebuah keniscayaan. Orang yang beruntung adalah ia yang beproses menjadi lebih baik dari hari ke hari. Bukankah begitu?

Untukmu yang sedang berhijrah.

Maka terimalah apa yang telah kamu lalui selama ini dengan lapang. Pun terimalah komentar-komentar negatif dari dunia, termasuk dari dirimu sendiri. Iya, dari dirimu sendiri –yang terkadang ia jahil membisikkan kepadamu kalimat semacam ini; “Kenapa harus berubah? Kayak kemarin-kemarin, kan kamu juga bisa berbuat baik sama banyak orang. Bisa banyak teman juga.”

Untukmu yang sedang berhijrah.

Ada kabar baik yang patut kita syukuri. Bahwa segala sesuatu adalah punyanya Allah. Termasuk diri kita dengan segala turunannya, termasuk orang lain, alam semesta, hal-hal abstrak, sampai hal-hal yang konkret, semuanya adalah milik Allah dan di bawah kekuasaan-Nya. Lalu terhadap hati yang mungkin bimbang, terhadap masa lalu yang membayang, pun terhadap masa depan yang masih di awang, sudah saatnya ia diberserahkan pada yang Mahakuasa. Jika memang niat yang ada hanya untuk-Nya, mustahil Dia tidak memberikan jalan bagi kita.

Untukmu yang sedang berhijrah,

Melajulah dengan segenap yakin. Bukan yakin atas dirimu, melainkan yakin kepada Rabb-mu.

Sawarna, 2012


Kota Hujan, 10 Ramadhan 1437 H

Thursday, June 9, 2016

Al-Qur'an dan Pendidikan

Beberapa waktu belakangan, pendidikan menjadi topik utama dalam rutinitas pikiran saya. Lalu qadarullah, tadi malam saya bermimpi yang saya curigai ia adalah konspirasi dari diskusi serta buku-buku dan materi yang saya baca.

“Jadi, pelajaran apa? IPA?” ujar perempuan berjilbab biru itu sambil memandang saya. Saya menggeleng tegas.

“Bukan, Kak,” jawab saya seraya melanjutkan, “pelajaran tentang tauhid. Keimanan,” mendengarnya, ia mengangguk. Menyetujui. Sementara kakak laki-laki saya duduk sambil menyimak diskusi yang bertepatan dengan giliran saya bicara.

“Gimana?” tanyanya lagi.

“Anak kecil itu masih bersih. Dia bisa menerima kebenaran dengan fitrah. Makanya penting disini untuk dibekali dengan tauhid; keimanan. Kenapa tauhid? Karena aspek itulah yang jadi motor utama dia kelak untuk jadi baik pada aspek-aspek lain seperti sosial, emosi, kognitif, dan lainnya,”

“Ya, ya” ia kembali mengangguk, “tunggu sebentar. Ini, biar kutulis konsepnya di kertas,” kemudian perempuan itu menyiapkan selembar kertas kosong dan alat tulis. Selagi saya bicara, ia terus lihai menggerakkan tangannya. Menerjemahkan perkataan saya menjadi mind mapping di atas kertas.

“Al Qur’an, Kak. Selama ini Al-Qur’an masih jadi buku kedua. Dalam waktu enam tahun usia SD, umur sekolah yang paling lama, disini lah dasar-dasar itu penting diajarkan. Kita terapkan Al-Qur’an sebagai satu-satunya buku paket utama. Biar lama, tapi sedikit-sedikit dan bertahap. Ini pedoman hidup. Bagaimana bisa anak-anak tidak dikenalkan pada pedoman hidupnya sejak dini?” yang saya ajak bicara tidak banyak berkata. Ia hanya bergumam kecil; tanda menyetujui.

Lalu entah dapat ilham darimana, saya terus saja berujar. Ada dorongan kuat dari dalam untuk menumpahkan fikiran yang lama terpendam. Ada semacam perasaan “saya boleh tidak mendapat kesempatan optimal dalam mengenal Al-Qur’an sejak dulu. Tapi generasi besok jelas harus punya kesempatan itu.”

Selesai saya bicara banyak, kertas itu telah apik merangkum konsep besar kami. Saya bahkan masih ingat beberapa garis dan tulisan yang tertera di sana –yang dibuat oleh seorang perempuan yang saya ingat wajahnya namun tiada saya tahu siapa ia.

**

Sebenarnya, penggal percakapan yang saya ingat dari mimpi tadi malam lebih detil dari apa yang saya tuliskan di atas. Namun sayang, saya tidak tahu bagaimana cara menuliskan redaksinya.

Beberapa waktu lalu, kepala saya berfikir tentang gagasan pendidikan. Selama ini, pelajaran agama kebanyakan masih menjadi subjek pelengkap dan seolah nomor dua. Padahal, semakin kesini saya semakin menyadari bahwa justru agama ini lah yang paling penting dan utama untuk kehidupan seseorang. Saya masih jauh sekali dari tahap ini, namun saya berfikir, ketika seseorang memahami agama, maka sejatinya ia akan menuntut ilmu yang lain dengan sungguh-sungguh. Karena, hei, bahkan kedudukan ilmu sangat dimuliakan dalam agama, bukan?

"Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dilakukannya." (Rasulullah SAW)

Namun waktu itu saya sama sekali belum berfikir akan buku paket. Saya justru secara amatiran membandingkan perihal kurikulum dan sistem pembelajaran di beberapa model sekolah mulai dari SD, MI, pesantren, hingga IT. Meski belum mendalam, tapi saya mulai menemukan titik perbedaan dan celah yang membuat saya berfikir akan gagasan di atas. Alih-alih melirik Al-Qur’an, saya justru mencari tahu kira-kira bagaimana caranya pengajaran itu terintegrasi dengan agama yang jadi pusat utama -dengan tetap membawa ilmu-ilmu teknis dalam kehidupan? Buku paket macam apa yang harus dibuat? Kurikulum seperti apa?

Hingga tadi malam saya bermimpi seperti yang telah saya ceritakan. Lagi, saya 'ditampar'. Bahkan ternyata ‘buku paket’ itu telah berada begitu dekat dengan kita. Namun sayang, ia tidak benar-benar difungsikan sebagaimana mestinya oleh kebanyakan orang. Ia tersimpan rapi di laci dan lemari, dibaca tanpa dimaknai, dihormati tanpa diresapi. Meskipun demikian, saya bersyukur negeri ini masih menyimpan ‘budaya’ mengaji. Alhamdulillah. Bahkan anak-anak di sekitar asrama tempat saya tinggal tidak sedikit yang minta diajari mengaji (membaca Al-Qur’an). Ia adalah suatu kebahagiaan yang patut disyukuri. Namun, saya lantas bertanya kepada diri sendiri: mengapa tidak kita bangun rasa ingin tahu mereka? Tidakkah mereka penasaran dengan isi dan makna bacaan yang mereka baca itu?

“Kak, emangnya gimana sih cerita pemuda yang hidup di gua? Ceritain, Kak,” tiba-tiba saya ingat degan pertanyaan adik saya yang masih duduk di bagku kelas 5 SD. Saat itu saya menjawab setahu saya, berdasarkan apa yang telah saya pahami selama ini. Lalu dengan bijak, ayah saya menimpali,

“Coba buka Al-Qur’an surat Al-Kahfi. Baca aja, disana ada ceritanya,” ujar ayah. Tanpa saya duga, adik saya begitu bersemangat. Kemudian ia tekun membaca terjemah Al-Qur’an surat Al-Kahfi, disusul komentar dan beberapa pertanyaan sebagai buah dari rasa takjub dan rasa ingin tahunya.

“Al-Qur’an is not a book of science, it’s a book of sign.” Begitu dr. Zakir Naik pernah berujar di salah satu ceramahnya ketika menjawab pertanyaan seorang atheis.

SIGN! Petunjuk. Tanda. Pedoman. Al-Qur’an, kalamullah itu, ia akan tetap membawa kebaikan meskipun kita membaca tanpa mengerti maksudnya. Dengan Al-Qur’an, kita melembutkan hati dan menentramkan jiwa atas izin-Nya. Ialah itu bagian dari mukjizat Al-Qur’an. Adapun kemudian, bersyukur jika kita mengerti Bahasa Arab, karena memaknainya akan jadi lebih mudah. Bersyukur bagi kita yang mendapat kesempatan dan kemauan untuk belajar Bahasa Arab, karena nikmat itu sungguh luar biasa. Pemahaman akan pedoman hidup-- tidakkah itu menggiurkan? Tidak berlebihan pernyataan bahwa memaknai Al-Qur’an berarti memaknai kehidupan.

Adapun bagi kita yang belum mengerti Bahasa Arab, bersyukurlah. Karena detik ini terjemah Al-Qur’an telah tersedia. Meski tidak seideal jika kita memahami Bahasa Arab, namun jelas ia bisa dibaca dan memudahkan kita sebagai gerbang untuk memaknai kalamullah. In syaAllah.

Jika Ustadz Away Baidhowy sebagai guru Akidah Akhlak menginspirasi peserta didiknya untuk menjadi penulis mushaf Al-Qur’an, rasa-rasanya saya ingin mengajak mereka bersama-sama untuk mengkhatamkan Al-Qur’an beserta terjemahnya.

PS: Sampai detik ini pun saya belum selesai. Mohon doanya.


Sumber: google.com (keyword Al-Qur'an)

Batavia, 4 Ramadhan 1437 H


Wednesday, June 8, 2016

Generasi Es Krim

"Silahkan manfaatkan kertas putih yang sudah saya bagikan untuk menuangkan pikiran kalian tentang anak muda masa kini," Laki-laki berkacamata itu memberikan arahan. Mendengarnya, kami mulai asyik dengan pikiran masing-masing. Termasuk aku. 

Selang beberapa menit, kelas mulai kembali ramai. Tandanya sebagian besar anak sudah menyelesaikan tugas tersebut. Aku sendiri membuat semacam mind mapping sederhana. Kupikir, tema semacam ini bukanlah hal baru. Memang degradasi moral kentara sekali terjadi pada anak-anak muda. Meski aku sendiri juga anak muda, sih.

"Sudah selesai semua?" tanya guru kami di depan kelas.

"Pak," Sebuah suara memecah keheningan.

"Ya, ada apa?"

"Boleh izin sebentar?"

"Mau kemana?"

"Menyelesaikan tugas ini. Sebentar saja," mendengar permintaan salah satu muridnya, beliau lalu megangguk pelan sambil tersenyum. Yang meminta izin lantas keluar ruang kelas. Kami kemudian melanjutkan pembahasan hari itu. Satu per satu maju ke depan kelas da menjelaskan konsep pikiran masing-masing. Tidak terkecuali aku. Kujabarkan satu persatu permasalahan yang tengah dihadapi oleh kaum muda.

Di tengah-tengah kelas berlangsung, anak yang tadi izin ke luar kelas mengucap salam dan masuk kembali. Guru kami, mempersilakan ia masuk. Sesekali kulirik kertas di tangannya. Agak penasaran apa yang ditorehkannya di sana.

"Ya, silakan tinggal kamu yang belum maju," Pak guru tersenyum ramah

"Oh, Baik," ia berdiri tepat di tengah-tengah kelas. Tangan kirinya memegang kertas yang entah bagaimana masih bersih. Kosong. Sementara tangan kanannya mengenggam sebuah es krim cone vanilla yang biasa di jual oleh Om Kone di seberang sekolah.

Kami menunggu.

"Generasi muda saat ini," ujarnya sambil menjulurkan es krim dalam genggaman tangan, "seperti es krim," lanjutnya. Kami hening. Aku pun memerhatikan anak baru itu lamat-lamat.

"Kenapa es krim?" salah satu dari kami bertanya. Mendengarnya, sosok dengan es krim di tangan itu kemudian meletakkan kertas putih miliknya di atas meja disusul dengan tubrukan es krim cone di atasnya. Es krim itu meleleh, merambat pada serat kertas secaa perlahan.

"Es krim. Terlihat indah, menyenangkan, warna-warni di dalam lemari es pelindungnya. Namun sayang, mudah sekali meleleh. Lemah sekali menghadapi dunia ketika keluar dari lemari pelindung. Anak muda sekarang, umpama generasi es krim.."  ia berkata pelan. Tidak memandang kami, melainkan matanya tertuju fokus pada kertas di hadapannya yang kini semakin basah oleh lelehan es krim.

Aku tidak bida berkata-kata. Analogi yang cerdas sekali. Entah, rasanya campur aduk. Sejurus kemudian benakku terganggu oleh sesuatu: Adakah aku bagian dari generasi es krim itu? generasi yang terlihat indah namun lemah pada nyatanya?



Sumber


Batavia, 3 Ramadhan 1437 H

Harga Sebuah Detik

Harga sebuah detik.

Kita tidak akan pernah bisa membeli waktu. Tidak akan. Kalau orang Barat mengatakan "waktu adalah uang," maka tepatlah yang bilang bahwa "waktu adalah pedang". Beruntunglah bagi kita yang dididik bahwa hidup ini bukan soal materi finansial semata. Waktu adalah pedang. Pedang karena keberfungsiannya tergantung pada tangan yang mengendalikan. Ketika dibiarkan, maka ia sia tak menghasilkan apa-apa. Ketika digunakan dengan baik, maka ia berbuah baik menghasilkan irisan rapi dan makanan lezat. Ketika dimanfaatkan dalam keburukan, ia bahkan mampu merenggut nyawa manusia. Waktu.

Harga sebuah detik.

Ada bagian dari kita yang merasa selalu diburu waktu. Sebagian yang lain merasa diledek oleh waktu. Ada yang memaki atas sempitnya waktu. Tak jarang pula yang tak elak bosan atas waktu yang tak kunjung usai. Harga waktu jadi begitu relatif tergantung pada manusia yang memaknai.

Harga sebuah detik.

Di dunia ini, ada yang bosan hidup dan ingin cepat mati. Ada pula yang takut mati dan keranjingan janji dunia hidup selamanya. Ada lagi yang bosan hidup, namun tak ingin mati. Manusia memang selalu unik dengan segala tabiatnya. Bumi berputar, kisah hidup manusia menyejarah dan kadang terulang lagi. Berputar pada siklus yang sama. 

Harga sebuah detik.

Pada akhirnya tidaklah penting kita dikenang oleh dunia, karena siapa juga yang peduli pada dunia jika kita telah sampai akhirnya pada akhirat? kebenaran itu pun seoalah tiada yang benar-benar tahu meski banyak insan yang sok tahu. Bagaimana kita mampu menafsirkan secara utuh perihal rahasia hidup yang telah menjadi suratan takdir?

Harga sebuah detik.

Ada pula yang tidak pernah bosan mengucap taubat. Duhai, manusia-manusia itulah yang sejatinya patut dicemburui tingkat tinggi. Bukankah rasa sabar dan syukur adalah dua kendaraan yang paling kita idam-idamkan sebagai kaum pengiman? Bahkan pada titik ia merasa tak miliki salah pun, ia bertaubat. Karena sesungguhnya perasaan semacam itu adalah bagian dari kesalahan yang besar, begitu batinnya.

Harga sebuah detik.

Mana ada yang tahu bahwa ternyata satu-dua detik saja begitu berharga, sampai meeka menyaksikan balap lari, sampai ia memaknai sakaratul maut hingga meninggalkan diri? Mana ada yang paham betapa mengerikannya satuan waktu, sampai ia menyadari bahwa sama sekali tidak ada jaminan akan hadirnya sebuah happy ending? bagaimana kalau detik ini waktu akan berakhir, bagaimana jika ia berhenti pada keadaan terburuk? tidakkah itu mengerikan? adakah kita cukup percaya diri meraih khusnul ataukah su'ul?

Harga sebuah detik.

Mau menunggu sampai kapan untuk bersegera? sejak kapan bangkit dari dunia dan jatuh kepada-Nya membutuhkan syarat selain berserah? jika ada alasan, mungkin hanya "malas" lah yang menjadi satu-satunya. Jika jiwa tak menemukan lentera, jadilah lentera itu sendiri. Bukan pribadi yang kuat dan mampu, melainkan karena ada Allah yang menjadikan ia kuat dan mampu.

Harga sebuah detik.

Kita boleh putus asa terhadap diri kita. Namun terhadap-Nya, jelaslah putus asa itu berada dalam larangan yang teramat nyata. Senyata kacang kedelai hitam dalam beningnya gelas kaca.

Harga sebuah detik.

Jika waktu bisa ditukar, maka sebaik-baik alat tukarnya bukanlah uang. Melainkan istighfar.



Batavia, 3 Ramadhan 1437 H