Tuesday, July 30, 2019

Dari Lembah Cita-Cita



Judul: Dari Lembah Cita-Cita
Penulis: Prof. Dr. Hamka
Penerbit: Gema Insani
Jumlah Halaman: 102 halaman

***

Beberapa bulan lalu, saya baru saja kembali mengecek ulang isi rak buku. Kemudian saya menemukan sebuah novel lama pemberian ayah berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Buya Hamka. Membuka kembali novel itu setelah sekian tahun berlalu meninggalkan kesan baru bagi saya. Ada banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya mengenai sosok Buya Hamka. Agaknya menulis sebuah roman boleh dikata nyaris tabu bagi seseorang yang masyhur dikenal sebagai ulama kondang.

Dari sanalah saya mulai membaca lebih jauh tentang seorang Buya Hamka. Hingga pada suatu kesempatan, saya menemukan buku ini pada salah satu etalase toko buku. Ukurannya tidak begitu besar, halamannya pun tidak tebal. Tapi soal gizi, saya berani katakan bahwa buku ini benar-benar bergizi. Ada beberapa hal yang saya catat baik-baik usai menuntaskan buku ini.

Sampul Depan

Sampul Belakang


Buya membuka "Dari Lembah Cita-Cita" dengan bab yang menurut saya menyenangkan dan menarik untuk ditelusuri. Tak bisa dipungkiri, bab pertama ini sukses membuat saya jatuh hati tanpa perlu waktu yang lebih lama. “Dua Orang Pemuda Bertanya”. Buya mengisahkan bahwa ada dua orang pemuda yang mendatanginya,  meminta Buya untuk nengupas soal sumbangsih seperti apa yang dapat dilakukan oleh pemuda seperti mereka dalam rangka membangun bangsa dan tanah air.

Dalam tulisannya, Buya menuturkan betapa dua orang pemuda itu membuat ia mengingat berbagai kisah pemuda-pemuda yang telah tercatat dalam sejarah. Mulai dari para pemuda sekolah militer di Turki yang berjuang menumpas kepemimpinan Mustafa Kemal (seorang sultan yang menerapkan kehidupan sekuler pada rakyatnya), pemuda Ghandi yang meninggalkan segala kenyamanan hidup demi membela bangsa India-nya yang kerap dianggap hina oleh bangsa lain, pemuda Sun Yat Sen, anak petani yang tergerak hatinya memperjuangkan kemerdekaan bangsa, sampai pemuda Indonesia; Hatta yang pada usia 25 tahun telah mendirikan Perhimpunan Indonesia dan pada 26 tahun telah memimpin Kongres Liga melawan imperialisme, juga Soekarno yang pada usia 28 tahun telah membaca pleidoinya demi membela Indonesia ketika perkara di Landraad, Bandung.

Buya tak berhenti sampai di sana. Tersebut pula para pemuda di masa Rasulullah (salallahu 'alaihi wasallam). Adalah itu Ali bin Abi Thalib yang masih berusia 12 tahun, Bilal bin Rabbah, Ammar bin Yasir, juga Abu Dzar Al Ghifari.

“Ia adalah Ali. Mulai beriman pada usia 12 tahun. Saat di dalam suatu majelis, Nabi ﷺ bertanya kepada orang-orang tua Quraisy, siapa yang menolongnya menyerukan seruan Allah. Tidak seorang pun menjawab, hanya Ali yang masih anak-anak itu yang menyatakan bersedia untuk hidup bersama-sama dan mati bersama-sama.”

“Ia adalah Bilal, hamba sahaya yang masih muda, dibujur di panas matahari yang amat terik di padang pasir karena mengikuti ajaran Nabi ﷺ, tetapi ia masih tetap mengucapkan “Allah سبحانه وتعالى satu”"

“Ia adalah Ammar bin Yasir, yang dipukul dan didera; ia adalah Abu Dzar Al Ghifari, yang dikeroyok oleh pemuda-pemuda Quraisy, semuanya karena telah mengikuti pendirian Nabi ﷺ.”

Tapi jurus pamungkas yang membuat saya jatuh hati bukan terletak pada uraian sejarah pemuda-pemuda tersebut di atas. Sebab mungkin ini bukan kali pertama saya mendapat gagasan bahwa pemuda memiliki semacam energi besar yang dapat memberi sumbangsih hebat dalam sebuah peradaban. Kalimat pamungkas itu justru hadir setelah penuturan Buya tentang sirah pemuda-pemuda.

“Saya lebih senang benar kepada mereka berdua yang datang, saya lebih senang berhadapan dengan mereka, sebagaimana senangnya Socrates dengan murid-muridnya, daripada jika saya berhadapan, bertabligh di surau yang bening sepi membicarakan surge dan neraka. Kepada orang tua, saya ajarkan bahwa kita pasti mati.

“Namun, pemuda berkata, ‘Sebelum mati bukankah hidup? Mengapa kita mesti mengingati mati saja, padahal kita yakin bahwa sekarang kita hidup? Bukankah sebelum melalui pintu mati, kita mesti menjalani hidup?”

Daftar Isi "Dari Lembah Cita-Cita"
         
Demikian lah Buya membuka buku ini, dengan kearifan yang membangkitkan rasa ingin tahu untuk menuntaskannya sampai habis. “…Pertanyaanmu, dua-duanya akan saya jawab sekadar tenagaku, hai Pemuda! Moga-moga Allah akan memberikan kemuliaan dan kejayaan kepada tanah air kita berkat paduan semangatmu semua. Dengarkanlah!”

***

Sesuai judulnya, “Dari Lembah Cita-Cita” mengantarkan saya pada pemahaman tentang bercita-cita.

“Supaya pemuda beroleh kemenangan di dalam mencapai segala cita-citanya, hendaklah ia mempunyai dada yang lebar, pahaman yang luas, dan memandang dunia jangan dari segi buruknya saja (pesimis-tasyaum), hendaklah dipandangnya juga dari segi baiknya (optimis-tafaul),” begitu tulis Buya pada salah satu pembukaan bab dalam buku ini.

Ada banyaak sekali hikmah, pelajaran yang dapat dipetik. Saya merekomendasikan buku ini terkhusus untuk pemuda-pemudi muslim yang barangkali tengah menghadapi kerancuan dalam bercita-cita, dalam menentukan porsi keduniaan nan akhirat, yang tengah dihadapkan pada kebingungan arah, boleh juga dikatakan untuk mereka yang sedang mengalami quarter life crisis. Ahlan!

Terima kasih kepada Buya, semoga apa yang Buya tulis menjadi amal jariyah. Aamiin...


Ditulis pada 20 Dzulqo'dah 1440 H
di pinggiran Kota Jakarta,

Rizky Sahla Tasqiya