Wednesday, June 15, 2016

Untukmu yang Sedang Berhijrah

Belakangan, kamu merasa mulai bimbang? Aku tahu meski kamu tidak memberi tahu. Sstt… diam-diam hatimu itu mampir kesini lalu membisikkan apa yang tengah ia rasa.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Melajulah degan kesabaran dan keyakinan. Yang perlu kita lakukan bukan melupakan atau meninggalkan apa yang telah terjadi (lagipula itu terdengar sulit, bukan?). Kita cukup berdamai. Menerima. Ikhlas. Toh sekelam apapun masa yang telah terlewat itu, ia tetap telah terjadi. Atau jika pun ia tidak sebegitu kelam, pun ia juga telah terjadi. Tidak ada yang berbeda dari masa lalu setiap manusia: masa lalu telah tertinggal jauh di belakang.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Aku tahu, boleh jadi ada satu-dua kerinduanmu pada masa yang telah lalu. Adakah itu sebuah masalah? Kurasa tidak. Lagipula rindu adalah hal yang wajar bagi manusia; kecuali jika sudah berlebihan dan melampaui batas. Tapi bersyukurlah, karena hatimu masih memiliki sensor yang baik. Ia cukup pandai untuk menyadari mana yang baik dan yang buruk, meski kadang agak labil jika dihadang oleh satuan nafsu duniawi.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Ada batas yang jelas antara berdamai dengan melupakan. Jika selama ini kamu masih mengandalkan “lupa” sebagai senjata, maka saatnya berdamai. Kalau ada yang megatakan bahwa kamu berubah, biar aku beritahu, bahwa sungguh kamu tiada berubah. Kamu hanya sedang berproses. Hei, berproses adalah sebuah keniscayaan. Orang yang beruntung adalah ia yang beproses menjadi lebih baik dari hari ke hari. Bukankah begitu?

Untukmu yang sedang berhijrah.

Maka terimalah apa yang telah kamu lalui selama ini dengan lapang. Pun terimalah komentar-komentar negatif dari dunia, termasuk dari dirimu sendiri. Iya, dari dirimu sendiri –yang terkadang ia jahil membisikkan kepadamu kalimat semacam ini; “Kenapa harus berubah? Kayak kemarin-kemarin, kan kamu juga bisa berbuat baik sama banyak orang. Bisa banyak teman juga.”

Untukmu yang sedang berhijrah.

Ada kabar baik yang patut kita syukuri. Bahwa segala sesuatu adalah punyanya Allah. Termasuk diri kita dengan segala turunannya, termasuk orang lain, alam semesta, hal-hal abstrak, sampai hal-hal yang konkret, semuanya adalah milik Allah dan di bawah kekuasaan-Nya. Lalu terhadap hati yang mungkin bimbang, terhadap masa lalu yang membayang, pun terhadap masa depan yang masih di awang, sudah saatnya ia diberserahkan pada yang Mahakuasa. Jika memang niat yang ada hanya untuk-Nya, mustahil Dia tidak memberikan jalan bagi kita.

Untukmu yang sedang berhijrah,

Melajulah dengan segenap yakin. Bukan yakin atas dirimu, melainkan yakin kepada Rabb-mu.

Sawarna, 2012


Kota Hujan, 10 Ramadhan 1437 H

2 comments: