Friday, June 24, 2016

RETHINKING EDUCATION


Jadi sebenarnya tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang bolos tidak masuk praktikum mata kuliah Pendidikan Holistik karena saat itu harus pergi secara mendadak untuk mengikuti sebuah wawancara yang hampir saja dilupakan jadwalnya.

**
Muqaddimah

Saya diminta untuk membaca buku (kemudian membuat tulisan terkait buku tersebut). Buku Rethinking Education adalah karya seorang Philip Snow Gang, Ph.D. yang berlatar belakang teknik namun jatuh cinta pada dunia pendidikan setelah perjalanan panjang kehidupannya. Jujur saja, sampai menuliskan ini pun, saya belum membaca secara utuh buku tersebut, melainkan baru sampai halaman ke-48 dari 180, dan selebihnya hanya melakukan screening seadanya. Karena sayang, tugas jelas memiliki deadline dan saya harus segera menyelesaikannya.

Sebelum mulai membaca, melihat judul buku ini serta merta mengingatkan saya pada salah satu materi yang disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi dengan judul sama: Rethinking Education. Bagi yang tertarik, (dan memang sangat menarik), silakan diunduh disini

Kembali lagi pada buku karangan Gang. Mungkin tugas tambahan sebagai pengganti praktikum ini tidak mengharuskan agar saya membaca keseluruhan isi buku. Tapi saya akui buku ini melakukan pembukaannya dengan menarik yang mengundang saya untuk membacanya (meski belum selesai sekarang, 24 Juni 2016). Gang menceritakan perjalanan fikirannya sejak duduk di bangku sekolah, kuliah, hingga bagaiamana ia terinspirasi oleh konsep Montessori pada tahun 1968 ketika menyekolahkan Warren, anaknya yang saat itu berusia 3 tahun.

Yang membuat Gang menaruh perhatian pada Montessori adalah karena ia menawarkan konsep pemikiran akan kombinasi “siapa saya” dengan pandangan dunia kosmik; bagaimana sisi kemanusiaan berhubungan dengan alam semesta. Latar belakang teknik dan kecintaan pada ilmu pengetahuan membuat Gang berfikir bahwa hal tersebut sangat menarik serta mengantarkannya pada sebuah pemikiran baru yang berbeda dari apa yang selama ini ia pikirkan tentang pendidikan.

Pendidikan dan Fisika

Buku ini diawali dengan bab berjudul “Education and Physic” yang membuat saya kembali bernostalgia dengan beberapa istilah dan teori dalam ilmu fisika seperti kausalitas, entropi, sintropi, hukum termodinamika, hingga fisika kuantum. Sampai disini, saya sangat setuju bahwa fenomena fisika memang menarik untuk dikaji. Kita telah mengetahui bahwa fisika memuat hukum-hukum universal pada aktivitas setiap benda termasuk manusia.

Misalkan saja, yang paling sederhana, melakukan perubahan posisi benda agar tidak diam membutuhkan usaha lebih untuk melampaui ambang batasnya. Setelah itu, pergeseran benda akan jadi lebih mudah dilakukan. Sama seperti manusia yang untuk berubah, ia membutuhkan energilebih besar di awal. Ketika langkah pertama telah dibuat, langkah selanjutnya akan menjadi lebih ringan. Memulai seringkali memakan tenaga lebih, bukan?

Contoh lain adalah penemuan yang mengatakan bahwa bagian terkecil dalam sebuah benda hakikatnya memberi untuk membuat ikatan dan menguatkan dirinya. Ada hubungan saling memberi yang membentuk materi tersebut menjadi satu kesatuan. Sama seperti keadaan manusia, dimana pada hakikatnya, memberi adalah menerima. Semakin banyak memberi, semakin banyak pula kita menerima. Dari sini pula kemudian kita mengenal konsep “Semesta Mendukung,” “Law of Attraction,” dan lain sebagainya.

Dunia fisika mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya illmu pengetahuan dan teknologi hasil cipta rasa karsa manusia. Sama halnya dengan teknologi, dunia industri, ekonomi, bahkan politik yang juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Gang berpendapat, jika semua aspek itu mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan? Adakah ia juga perlu mengalami perubahan atau bahkan harus? Perkembangan macam apa yang selayaknya terjadi pada dunia pendidikan?

Maka jadi menarik ketika fisika kemudian dihubungkan langsung dengan pendidikan. Model pendidikan macam apa yang baik dilakukan jika kita kaitkan degan keilmuan fisika yang memuat hukum universal kehidupan manusia? Perubahan seperti apa yang dapat membawa pendidikan manusia menjadi lebih baik seiring waktu?

Masih berhubungan dengan fisika, Gang kemudian mengelompokkan fase kehidupan manusia berkaitan alam menjadi empat periode unik:

  The Age of Humanity in Nature
The Age of Humanity with Nature
The Age of Humanity over Nature, and
The Age of Humanity through Nature.

Ada beberapa pendapat ahli yang Gang kutip dalam bukunya dan saya pikir pendapat Capra di bawah ini menarik untuk dikutip juga disini.

In contrast to the mechanistic Cartesian view of the world,
the world view emerging from modern physics can be characterized by words like organic, holistic, and ecological....
The universe is no longer seen as a machine,
made up of a multitude of objects, but has to be pictured
as one indivisible, dynamic whole whose parts are essentially
interrelated and can be understood only as patterns
of a cosmic process (Capra, 1982)

Saya tidak akan menjabarkan satu persatu pejelasan Gang ada masing-masing dari empat periode tersebut. Melainkan saya akan mencoba mengambil satu benang merah, bahwa hubungan manusia dengan alam menurut Gang berkembang dari jarak pemisah yang jelas hingga akhirnya hari ini sampai pada penemuan akan kenyataan bahwa manusia sejatinya menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Lagi, ungkapan Capra boleh jadi mempermudah kita untuk mengerti jalan pikir Gang:

Cartesian division between mind and matter, between
the observer and the observed, can no longer be
maintained. We can never speak about nature without, at
the same time, speaking about ourselves (Capra, 1982)

*Bagi yang mungkin belum tahu, sederhananya, “Cartesian” adalah pandangan yang menganggap bahwa jiwa dan badan merupakan dua aspek yang berbeda dan tidak dalam satu kesatuan. Biasa dikenal dengan istilah Cartesian dualism.

Rethinking Education Versi Saya

Sampai disini, saya mulai mengerti kemana arah buku ini berbicara tentang pendidikan; adalah itu Pendidikan Holistik yang memandang pendidikan secara keseluruhan, tidak terkotak-kotak, tidak terfragmentasi, melainkan memandang manusia sebagau fully human yang dengan pendidikan diharapkan menjadi seorang longlife learner,  memiliki kesadaran akan eksistensi dirinya sebagai bagian dari sistem besar dan memaknai akan kehidupan yang pada akhirnya kembali menuju Tuhan.

Namun sayangnya, saya belum selesai membaca sehingga tidak pantas rasanya menuliskan lebih jauh tentang Rethinking Education versi Gang. Jadi izinkan saya menulis tentang rethinking education versi amatiran saya saja.

Ketika mendapat mata kuliah Pendidikan Holistik, saya berfikir bahwa mata kuliah inilah yang selama ini saya cari-cari dan Alhamdulillah saya menemukan dan dipertemukan dengannya. Saya memang bukan seseorang yang berorientasi akademik, tapi saya akui saya tertarik dengan pengetahuan yang disuguhkan disini. Terlebih ketika menemukan konsep-konsep yang dibangun tentang pendidikan dengan memandangnya secara holistik: secara menyeluruh. Membaca buku karangan Gang membuka mata saya bahwa ternyata, teori yang berasal dari Barat ini pun berasal dari para tokoh “spiritual” sehingga tidak heran, aspek “kembali kepada Tuhan” menjadi bagian dari penjabaran lebih lanjut tentang pendikan holistik.

Namun sayang, materi yang saya peroleh memang kebanyakan masih berkiblat pada dunia Barat meski lagi-lagi saya bersyukur, kekayaan khazanah para pendidik saya menjadikan ia terbuka dan bahkan referensi lokal yang saya dapat sama sekali tidak bertentangan dengan Islam rahmatan lil ‘alamin. Ia justru semakin memperkuat keyakinan saya, bahwa apa yang diajarkan dalam Islam adalah sebaik-baik metode pendidikan. Malah saya haqqul yakin, “pendidikan holistik” Barat ini masih belum sempurna (maaf saya menyebut “Barat” karena tidak menemukan keterangan yang lebih mudah untuk dimengerti). Belum-- karena ia masih pincang terutama dalam hal sumber ilmu pengetahuan dan pedoman hidup (baca: Al-Qur’an).

Jika kita menengok pada sejarah peradaban manusia dengan sumber Barat, kita akan mengenal istilah “Dark Age,” yang terjadi pada abad pertengahan, dimana bangsa Eropa dikuasai oleh negara dan berada di bawah kendali gereja. Dinamakan demikian, karena masa tersebut dianggap sebagai masa kegelapan, dimana peradaban tidak mengalami kemajuan. Kemudian beberapa abad setelahnya, kita mengenal revolusi industri yang sadar atau tidak membentuk pola pendidikan menjadi begitu mekanistik, headstart, dan cenderung berorientasi kognitif. Barulah pada masa-masa sekarang ini, perhatian akan pendidikan holistik tampil setelah dampak akibat pendidikan yang sebelumnya tidak seimbang itu dirasa tidak sesuai. Seolah-olah “Pendidikan Holistik” adalah sebuah metode dan sudut pandang baru, padahal boleh jadi ia telah ada sedari dulu.

Pendidikan Holistik

Apa yang disebut “Dark Age” oleh Eropa selama ini sejatinya merupakan “Golden Age” dalam sejarah peradaban manusia. Pada masa itulah berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan yang menjadi dasar dari berkembangnya dunia modern dan IPTEK saat ini. Jika kita mengenal Wright bersaudara sebagai pelopor pesawat terbang, maka ratusan tahun sebelumnya telah ada Abbas Ibnu Firnas. Pada masa itu pula ada Ibnu Al Haytam menemukan konsep dasar optik dan kamera yang saat ini banyak digunakan, serta ilmuwan-ilmuwan hebat lainnya yang sayang, seolah hilang dari sejarah.

Ah ya, ada film pendek berjudul 1001 Invention yang sangat layak untuk ditonton. Ia bercerita tentang tiga orang pelajar yang mencari informasi di perpustakaan tentang “Dark Age.” Silahkan klik disini untuk menonton.

Saya curiga. Jika penemuan-penemuan hebat tersebut telah ditemukan jauh sebelum dunia mensosialisasikannya, boleh jadi demikian pula dengan metode pendidikan –dengan konsep pendidikan holistik. Bahkan apa yang dinilai “modern” saat ini, rasa-rasanya masih kurang modern. Ada yang lebih keren dari teori multiple intelligent-nya Howard Gardner, atau metode Montessori-nya Montessori. Dan bisa jadi, yang lebih keren itu sebenarnya telah ada sejak lama dasarnya, hanya saja belum muncul ke permukaan lagi. Atau sudah muncul, tapi saya yang belum benar-benar menemukan. Mungkin ada yang sudah menemukan? Kabar-kabar, ya. Ayo kita sharing! Serius.

Lalu ternyata, tau-tau tulisannya jadi sepanjang ini padahal niatnya cukup buat 2 halaman saja. Terima kasih sudah membaca. Di awal, saya menyampaikan sedikit tentang fisika, tentang alam semesta. Bahwa manusia dan alam sejatinya merupakan satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan, memiliki harmoni-kausalitas, dan kita sebagai manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Saya setuju. Terlebih hal tersebut telah nyata disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hadid ayat 1).

تُسَبِّحُ لَه‘ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاَلْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ 4 وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَاكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّه‘ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al Isra ayat 77).

Longlife Learner

Buku Rethinking Education karya Gang belum selesai saya baca, dan masih menyisakan sekitar 3 dari 4 bagian lagi untuk saya tuntaskan. Jika dari pembaca ada yang berminat untuk ikut menyimak, boleh kirimi saya email untuk saya kirmi bentuk e-book nya, atau silakan berselancar di dunia maya.

Apa yang saya tuliskan hanya buah dari pemikiran beberapa waktu belakangan, dan masih sangat berkaitan dengan mimpi saya di awal Ramadhan lalu. (Silakan baca pada postingan sebelumnya berjudul Al-Qur’an dan Pendidikan). Dan saya fikir, Allah tengah memfasilitasi saya untuk membaca buku Rethinking Education-nya Gang untuk memperluas wawasan --meski berkedok sebagai tugas pengganti praktikum. Karena memang, kalau tidak dipaksa ya seringnya nggak baca Alhamdulillah. J

Saya optimis bahwa kesadaran manusia akan Al-Qur’an sebagai ‘buku’ ilmu pengetahuan semakin meluas. Hari ini kita memiliki dr. Zakir Naik yang mempermudah orang awam seperti saya menelaah IPTEK dari Al-Qur’an dengan cara stand by memegang mushaf sambil menonton video beliau menyebut daftar referensi pengetahuan dari surat Al-Qur’an lengkap dengan ayatnya. Kita juga punya Ustadz Abdullah Gymnastiar, yang diam-diam membuka mata saya betapa urusan tauhid sampai pada hal-hal terkecil dalam kehidupan seperti kuku atau kulit rambutan. Betapa setiap sel yang hidup berada di bawah kekuasaan Allah. Lalu ada Syaikh Fahad Al-Kandari, yang lagi-lagi membantu melihat betapa kita tidak sendirian; bahwa Al-Qur’an sungguh sebenar-benar mukjizat dan dipelajari banyak orang. In syaAllah.

Dalam bukunya halaman 7, Gang menuliskan ini:

“Shalom” comes from the root word “shalem” which means wholeness or completeness. It is used to greet and to say farewell to a friend. It means peace. Shalom is the beginning and the end for the peace that lies within. You cannot have peace without “wholeness.”

Yak, sedikit lagi!

Assalamu’alaikum. Salam. Ialah ajaran Rasulullah Muhammad SAW yang sangat mulia: mendoakan kedamaian dan keselamatan antar saudara seiman. Sedikit lagi, semua konsep ini memang mengarah kesana. Mengarah pada Islam yang kaffah. Dan saya yakin, ia tengah menuju kesana. Jadi ayo belajar, longlife learner!

 18 Ramadhan 1437 H



Kelas Tahfidz di Masjid Ulil Albab MAN Insan Cendekia Serpong

No comments:

Post a Comment