Thursday, April 20, 2017

Kontemplasi

Aku bisa menyaksikan berbagai macam tabiat manusia dari sini. Ada banyak fenomena yang menarik untuk dibahas, kamu tahu? Akhir-akhir ini aku sering berkontemplasi sendirian, merenungi hakikat berbagai macam hal. Kehidupan manusia, seringnya terlihat seperti komedi. Meski aku tahu, jika diperjelas, akan nampak ia serupa tragedi. Ada banyak haru-biru yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Kehidupan penuh drama. Karena, bukankah apa yang sedang mereka jalani semata-mata memang hanya berlakon di atas panggung sandiwara?

Tapi ada hal yang cukup membuatku iba sekaligus berdecak kagum pada manusia. Betapa kekuatan manusia seringnya ditentukan juga oleh tragedi-tragedi yang mereka jumpai dalam kehidupan. Mereka akan mendapat ujian, kemudian lelah, terpuruk, menangis, berserah. Lantas saksikanlah bahwa mereka tidak akan pernah menjadi manusia yang sama lagi. Mereka menjelma menjadi lebih kuat. Kekuatannya mengganda, berkembang hingga sekian. Entah berapa kali lipat.

Sebagian dari mereka melihat orang lain hidup dalam kenyamanan, tanpa ujian yang berarti. Sebagian yang lain memandang hidupnya menyedihkan dan penuh kesia-siaan. Kadang aku terkekeh mendapati kenyataan semacam itu. Manusia memang unik. Bagaimana bisa mereka begitu percaya diri? Bagaimana bisa, mereka yang berakal itu, sedemikian sok tahu menyikapi kehidupan? Ah, coba saja mereka bisa melihat serangkaian jejaring kausalitas antar makhluk Tuhan. Mungkin saja sebenarnya homeostasis alam raya semesta ini nyata. Mungkin saja ungkapan tentang roda kehidupan yang berputar memang bukan kiasan belaka. Mungkin saja, tugas manusia memang sungguh-sungguh berada pada dimensi syukur dan sabar seutuhnya. Siapa tahu?

Mungkin bukan komedi, bukan pula tragedi. Yang jelas, dunia ini nyata fana dan tidak abadi.


Ditulis di Kota Hujan,
beberapa hari lalu pada April 2017.

No comments:

Post a Comment