Tuesday, December 23, 2014

Tanpa Diajarkan, Ternyata Ruru Hafal Surat Asy-Syams

Dua hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah kakak perempuan saya yang tengah mengandung empat bulan. Bukan untuk bertemu si empunya rumah, melainkan menemani adik sepupu saya yang datang berkunjung ke Bogor. Kakak saya dan suaminya justru sedang tidak ada di rumah. Mereka pergi ke Sukabumi karena ada suatu urusan.

Berhubung kakak saya ini tengah mengandung, maka tidak heran kalau rumahnya diisi dengan segala atribut pengetahuan tentang kandungan dan masa kehamilan. Mulai dari tabel ideal berat badan ibu hamil, sampai buku pengetahuan seputar kandungan. Tapi yang membuat saya tertarik adalah sebuah majalah yang tergeletak di atas meja. Majalah Tarbawi dengan judul tertulis pada sampulnya "Lima Perempuan itu Perdengarkan Al Qur'an untuk Anak Mereka Sejak dalam Kandungan" keluaran Februari 2010. Hampir lima tahun yang lalu. Meski edisi lama, saya tahu kenapa majalah tersebut bisa ada di rumah kakak saya. Tentu saja karena berhuungan dengan kandungan.

Tanpa pikir panjang, saya mulai membuka lembar demi lembar dan membacanya dengan seksama. Ada kisah tentang ibu yang kekuatannya lebih kuat dari seribu laki-laki, kisah keluarga pecinta Al Qur'an,hingga cerita Farih Abdurrahman: anak ajaib yang kesulitan berbicara namun lancar menghapal ayat Al Qur'an. MasyaAllah. Hingga saya sampai pada sebuah artikel bertajuk begini: "Dewi Kusmayanti, Dokter, Ibu 4 Orang Anak. Tanpa Diajarkan, Ternyata Nurul Hafal Surat Asy-Syams"

Sebenarnya saya mulai tidak konsentrasi membaca karena artikel tersebut berada pada pertengahan majalah. Tapi sampai pada halaman kedua, mata saya dipaksa melihat lebih jeli memastikan informasi yang saya dapat. Pasalnya, disana tertulis nama yang benar-benar tidak asing bagi saya. Nama anak kamar saya semasa duduk di masa Aliyah: Nurul Iffat Wirusanti. Saya biasa memanggilnya Ruru. Sontak saya membalik halaman lagi dan memerhatikan foto dengan sesama. Benar. Itu wajah kawan saya, mungkin sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Ditambah informasi profesi ibunya yang dokter, dan nama adik Ruru yang juga disbeutkan disini: Muhammad Luthfi Rusdinur. Juga yang paling saya ingat dari cerita Ruru, bahwa ibunya tidak membolehkan ada TV di rumahnya.

Begini cuplikan artikel tersebut.

Interaksi Dewi dengan Al Qur'an terus berlanjut hingga dirinya menikah dan memiliki anak. Upayanya mengenalkan Al Qur'an kepada anaknya pun muncul. Saat itu Dewi menemani anaknya bermain dengan membiarkannya asyik mengutak-atik mainannya. Memang, Dewi sendiri sengaja tidak membeli TV sebagai hiburan keluarga, karena menurutnya sangat sediikit manfaat yang bisa diambil dari acara-acara TV. Sehingga dia sangat mengusahakan agar anaknya selalu bermain dengan ibunya. Ketika anaknya asyik bermain, Dewi mengulang-ulang hapalan juz 30 nya. Terus menerus dia ulang-ulang di hadapan anaknya yang  asyik bermain. Bahkan setelah membacakan buku cerita menjelang tidur, Dewi pun juga mengulang hapalannya. Begitu terus setiap hari.

Sampai suatu hari, Dewi datang untuk mengikuti pengajian ibu-ibu. Karena tidak ada yang menjaga di rumah, Dewi membawa anak pertamanya yang bernama Nurul Iffat Wirusanti ini ke pengajian tersebut. Saat penceramah sedang mempersiapkan materi ceramah, tiba-tiba Nurul melantukan surat Asy-Syams. Seluruh jamaah begitu terkejut, sekaligus kagum, "Saya baru tahu, meskipun dia asyik dengan mainannya, ternyata dia juga mendengarkan," ujar perempuan berusia 42 tahun ini. Dalam usia dua tahun, anak pertamanya sudah bisa menghapal separuh juz 30. Hingga kini, paling tidak sudah 3 juz yang dihapal Nurul. Agar anak pertamanya ini bisa lebih rajin dan semangat menghapal, Dewi sekeluarga bergabung pada sebuah lembaga bimbingan Al Qur'an di Condet, Jakarta Timur. "Sejak tiga tahun terakhir, saya dan keluarga berangkat ke sana setiap hari Sabtu," tambahnya.

**
Tanpa Diajarkan, Ternyata Nurul Hafal Surat Asy-Syams

Tarbawi Edisi 222 Rabiul Awal 1431 H.

Sehari setelahnya, saya mendapat telepon dari Solo: kawan kamar saya yang lain, namanya Ucit. Sudah lama tidak berkomunikasi membuat kami saling bertukar kabar. Kemudian saya menceritakan temuan saya ini kepada Ucit. "Ya ampun Ririis, ternyata banyak yang kita gak tauu," begitu ucapnya. Saya jadi ingat kawab kamar kami yang lain; Ocha. Ocha juga pernah bercerita tentang Abi-Umminya yang masuk majalah dalam tajuk keluarga sakinah (atau apa ya, saya agak lupa, :D). MasyaAllah, ada saja caranya Allah untuk me-recall ingatan hamba-Nya. Semoga kita termasuk dalam generasi cinta Al Qur'an yaa. Aamiin Allahumma Aamiin. :')

Ruruuu titip salam buat ibunya. Bilang makasih sudah menginspirasi. :D 

2 comments:

  1. dulu pas aku SDngafalin An Naba, adekku yang TK hafal tanpa liat Quran Riis :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. MasyaAllah. Anak kecil itu emang ajaib sangat ya kak Fitrii :')

      Delete