Wednesday, December 17, 2014

Potret Pantai

Malam, semesta. Apa kabarnya kalian? Bintang-gemintang, rembulan, cahaya malam? Seharian ini kuhabiskan waktu menikmati debur ombak di pantai. Selagi kalian beserta bumi pijakanku saling mencari, hingga langit mempertemukan kita malam ini. Pagi tadi, seorang kawan mengambil gambarku. Di tepi pantai. Yang hadir hanyalah siluet, bayangan hitam tergambar dalam kamera. Temanku tertawa kecil mendapati jepretannya terlihat jauh lebih baik, begitu katanya. Dia bilang, foto itu melankolis sekali. Hha, dasar. Bahkan aku tidak betul-betul yakin apakah ia sungguhan mengerti arti dari melankolis itu sendiri. Tapi aku jadi tergelitik mendapati perkataannya. “Hei, bikin kata-kata buat foto ini dong. Ini melankolis bangeet.” Kali itu aku tertawa. Aku jadi berfikir, mengapa banyak yang mengidentikkan pantai, hujan, rembulan, cahaya bintang, malam, atau segala macam hal yang sebenarnya menjadi favoritku itu sebagai sesuatu yang entah apakah sedih, mellow, atau bahkan yang paling tidak kusukai, galau; sebuah kosakata yang jadi beken di kalangan anak muda pada beberapa waktu belakangan. Apa kalian tahu? Padahal, aku sungguh-sungguh menikmati tiap berjumpa dengan kalian, hei bintang, rembulan, ombak, malam, hujan. Melihat rembulan membuatku takjub menyebut asma-Nya. Selalu ada hal indah yang patut kita syukuri. Adapun hujan, seringkali didekat-dekatkan dengan kebimbangan, atau rintiknya yang dikatakan mengaburkan air mata. Padahal, tiap hujan turun, kutengadahkan wajah kepada langit sambil tersenyum lebar. Berbisik pelan, terimakasih Tuhan, atas kado rahmat hujannya hari ini. Kemudian tentang pantai. Memandang laut dari tepinya selalu saja membuatku terperanjat. Betapa beruntungnya aku, menjadi satu dari sekian banyak manusia yang bersapa dengan alam. Seperti debur ombak pagi tadi. Kenapa juga mereka bilang itu suatu hal yang melambai-melankolis-atau semacamnya? Padahal memandang ombak selalu saja menyenangkan –dan menenangkan. Memang, tidak banyak yang tahu bahwa aku pun tersenyum saat itu. Memamerkan gigi ketika mendapati sapaan pasir pantai yang memberi salam pada satuan partikel hidup para jemari.

Biar kutebak.
Kalaupun tidak kuberitahu, kalian pun menganggap ini semacam foto 'kebimbangan', bukan? :)


Tapi baiklah, kurasa aku punya caption yang cocok untuk potret yang satu ini.

"Kau boleh merasa jadi seorang penikmat alam sendirian. Memberi senyum pada satuan pasir tepi pantai sendirian. Tapi pada waktu yang sama, pada pijakan bumi dan dibawah naungan langit yang sama, ada seorang, dua orang, -atau bahkan lebih- yang juga menyuarakan senyum serupa. Jadi dengarkan aku. Kau tidak pernah benar-benar sendirian."


(Foto diperoleh dari seorang kawan, pada 1436 H)

No comments:

Post a Comment