Thursday, October 15, 2015

Gerimis




"Lebih baik hujan besar sekalian, daripada gerimis begini!" kamu menggerutu. Memandangi langit.

"Bukannya kamu sendiri yang bilang, ingin menikmati gerimis dengan sepoi pelan angin di tepi pantai?"

"Itu dulu. Lagipula ini bukan pantai," kamu memandangku galak.

"Dasar sensitif" aku menghela nafas panjang, "berhentilah menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan masa lalu." mendengarnya, kamu memandangku. Sejurus kemudian memalingkan muka.

"Aku tahu aku akan berhenti. Entah kapan."

"Kamu terlalu kaku. Biasa saja. Ikhlaskan, lapangkan, lepaskan. Toh tidak ada lagi yang bisa kita perbuat, kan? Lantas kenapa gerimis yang jadi korbannya?" nada bicaraku meninggi.

"Jangan sok tahu. Aku bukan kaku. Hanya saja aku tidak sekuat kamu. Heh, kamu belajar psikologi, kan?"

"Ya, lalu?"

"Harusnya kamu tahu. Banyak orang yang tertawa pada hal2 bodoh, sejatinya adalah orang yang memendam kesedihan mendalam. Banyak juga orang seperti aku, yang terkesan kaku dan sok kuat, padahal dalamnya rapuh tak karuan." mendengar perkataanmu, aku mengangguk-angguk.

"Kemari, sini aku peluk."

"Heh? Kita kan bukan anak kecil lagi." kamu lantas tertawa.

"Kita ini saudara," kataku seraya memelukmu, "Aku ini belajar psikologi. Aku tahu, kamu butuh dipeluk pada saat begini."

"Edan." kamu kembali memaki. Lalu mulai terisak.

"Berhenti menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan masa lalu. Kita hidup hari ini, bukan kemarin." Aku menepuk-nepuk punggungmu pelan.


***

Kamu tidak sekuat itu. Pun tidak serapuh itu. Aku tahu. Bukan karena aku belajar psikologi, tapi karena aku telah mengenalmu dalam hitungan tahun.

No comments:

Post a Comment