Sunday, September 1, 2013

Halte Berikutnya

Kurang lebih dua minggu sejak pertama kali saya menjadi penghuni tetap tanah ini. Tak berbeda dengan teman-teman kebanyakan, meski kembali tinggal di asrama, adaptasi jelas mutlak adanya. Tanah yang dipijak berbeda, jelas peraturan, sistem, pergaulan, lingkungan-pun juga berubah. Semua ini butuh adaptasi. Butuh format ulang, formula baru, jurus andalan yang baru. Dinamis. Sekarang, saya jadi benar-benar memahami makna dari kalimat yang dilontarkan salah seorang guru saya di madrasah Aliyah dahulu; “Insan Cendekia itu dunia imajinatif, fantasi. Semua orang baik. Di luar gak seperti ini.” Kurang lebih begitu. Yup, saya juga jadi lebih paham kalimat “hidup itu ga seindah di IC, De. Aman, nyaman, tentram, gak seindah itu”. Belum lagi mendengar cerita kawan-kawan seperjuangan yang sama-sama hinggap di tanah juangnya yang baru. Benar. Dunia ini logis. Dan kita harus pandai-pandai menyeleksi mana kelogisan yang hendak kita ambil. Harus meningkatkan daya kritis. Tapi soal hidup ini indah, saya yakin 100% benar adanya. Kan sudah diatur sama Dia. :D

Nyatanya, pernah menapaki kaki di Insan Cendekia sebagai seorang siswi adalah nikmatNya yang luar biasa. Saya dipaksa untuk tahu diri, dipaksa untuk tahu malu pada diri sendiri, pada negeri sendiri. Label anak beasiswa yang saya dan teman-teman rasakan menjadi ‘beban’ dalam artian luas. Kami benar-benar punya hutang pada negeri ini. Baru beberapa hari yang lalu masa perkenalan kampus saya telah selesai. Tak lama lagi akan dilaksanakan peresmian sebagai mahasiswa baru. Insya Allah. Tak akan saya bahas disini, soal masa perkenalan kampus yang tahu-tahu jadi agak hambar karena diri sendiri yang malah terngiang-ngiang bagaimana dulu digembleng selama satu minggu dalam Pekan Ta’aruf Siswa ketika hendak memasuki madrasah aliyah boarding school itu. Yang saya sadari, benar sekali pepatah yang berbunyi “yang kedua dan seterusnya akan terasa lebih mudah dibanding yang pertama”.

Tentang halte baru saya ini; Institut Pertanian Bogor. J Alhamdulillah, setelah proses panjang, melalui fase-fase bingung dan segala turunannya, pada akhirnya tiba juga saya disini. Kota Bogor yang terkenal menyandang gelar kota hujan lantaran curah hujannya yang terbilang cukup tinggi. Jurusan? IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen). Sebuah jurusan yang jangankan Anda, saya pun baru mendengarnya kurang lebih satu tahun lalu. Agak berliku. Psikologi, pendidikan, biologi, teknologi pangan, sampai akhirnya menemukan yang namanya IKK ini justru disaat saya sedang mencari tahu tentang jurusan biologi. Sempat hampir mantap mengambil jurusan teknologi pangan dengan beasiswa S1 di salah satu perguruan tinggi swasta daerah Kuningan, ternyata pada akhirnya yang saya ambil ya IKK ini. Apapun, saya yakin rencanaNya tidak pernah salah dan selalu indah. Insya Allah. :D tentu bukannya tanpa pertimbangan dan tanpa tujuan. Saya punya alasan kenapa memilih disini, institut ini, dengan jurusan yang telah saya sebutkan di atas.

Mengetahui bahwa kita tidak sendirian di tanah baru adalah hiburan tersendiri. Ada beberapa yang sudah saya kenal disini. Teman MAN, MTS, MIN, juga ada kenalan-kenalan baru yang terhubung secara ajaib; networking. Saya jadi ingat syair Imam Syafi’I yang dahulu sempat menjadi sajak penyemangat saya di masa-masa awal ketika harus melakukan perantauan kecil saat Aliyah.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih
Jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa
Jika di dalam hutan

-Imam Syafi’i-

Pertama kali mengetahui sajak ini dari acara bedah buku yang diadakan perpustakaan sekolah saya. Mengundang Ahmad Fuadi, membahas novel dari triloginya yang pertama; Negeri 5 Menara. Saat itu, sajak ini seperti punya daya tarik tersendiri bagi saya. Menyemangati sekali. Saya tulis dimana-mana. Saya baca berulang-ulang. Saya promosikan ke teman-teman. Lewat tulisan, lisan, telepon, apapun. Tahu-tahu jadi hapal. Hhe. Dan di halte baru saya ini, saya punya ‘jargon’ andalan. Ingat kata-kata seorang teman melalui pesan singkat di suatu siang. Hari kedua saya tinggal di tempat baru ini. Begini;

“Selamat kembali berjuang..
Ayo kita niatkan mencari ridhoNya J
Inget ini:
Man kharaja fii thalabil 'ilmi fahuwa fii sabiilillaahi hattaa yarji'a"

Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia ada di jalan Allah hingga pulang. Ini janji yang keren abis. 8) jadi alarm supaya harus selalu ingat, niat awal melangkahkan kaki ke halte baru ini. Memang, jarak rumah dengan tempat rantauan saya ini terbilang dekat. Katakanlah Jakarta-Bogor. Jauh dibandingkan teman-teman saya yang lain. Jawa Timur, Aceh, hingga Papua. Tapi ini dia janjiNya yang keren. Ga ada syarat jarak disana. Semua orang dapet kesempatan yang sama. Adil. Sama rata. J

Perbedaan lagi yang sangat perlu dikondisikan. Di asrama masa Aliyah, tidak ada yang namanya barang-barang elektronik seperti HP atau laptop berkeliaran di asrama. Peraturannya yang mengharuskan seperti itu. Berbeda, sekarang dibolehkan. Yang namanya mahasiswa tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan siswa, kan? Nah, dimana-mana, yang namanya kebijakan pasti punya dampak positif dan negatif. Asyiknya dulu adalah, antar kawan satu asrama jadi banyak sharingnya. Mau ngapain lagi, teman ngobrol ya yang ada di depan mata. Gak ada dunia maya-mayaan itu. Banyak sharing, lebih dekat. Susahnya, kalau mau ada acara kumpul atau rapat, komunikasinya jadi lebih kompleks. Hhe. Lagi, hidup terasa lebih sehat tanpa benda-benda elektronik. Serius. Sekarang, bias ditebak. Ketika benda-benda itu bebas berkeliaran, semuanya jadi terasa lebih individualis. Asyik sama dunia maya masing-masing. Asik nonton film, asik chatting. Nilai plusnya, tugas lebih mudah, bisa dipakai untuk sarana produktif kayak nulis ginian, (meski tahu-tahu saya sadari, frekuensi menulis saya di buku jurnal berkurang drastis. Kebanyakan nulis di media digital jadinya). Satu hal. Harus pandai-pandai self control. Dan ini justru bagian yang paling sulit. Kalau dulu rajin bolak-balik manggil orang untuk kumpul misal, sekarang tinggal ketik pesan, send, selesai. Rasa malas benar-benar diuji. Serius. Dari sini saya sadar, tantangan yang benerannya bukan saat saya berada di Aliyah dulu. Justru ketika sudah menjadi alumni, dan menapaki halte baru. Sejauh mana pengalaman yang sudah saya dapat mampu saya terapkan di kehidupan yang katanya keras ini. Lagi! Tentang shalat lima waktu. Benar kata kakak-kakak yang sudah mendahului jadi alumni. Yang namanya shalat lima waktu, tepat waktu, di masjid, itu akan sangat dirindukan. Dan saya mulai merasakannya. Iya, benar sekali. Kalau dahulu ke masjid merupakan rutinitas, ya sekarang tidak lagi. Memang, perempuan kan lebih utama shalat di rumah. Soal tepat waktu pun, dahulu kegiatan sudah diatur sedemikian rupa. Waktu sudah tersistem. Sekarang, memang sih belum mulai kuliah. Tapi rasanya, benar sekali. Harus pandai mengatur waktu sendiri. Harus mandiri.

Anak kecil. Sejak dulu saya senang ngeliatin anak kecil. :D mereka mampu terlihat sangat yakin, dan bisa sangat percaya akan suatu hal. Anak kecil punya kekuatan luar biasa yang bagi saya sungguh inspiratif. Ini yang menjadi landasan saya bisa berkata dengan PDnya suatu siang di gedung serba guna sekolah Aliyah saya, bahwa yang namanya cicak terbang itu ada. Ini juga yang jadi landasan saya, berkoar-koar kalau saya benar-benar punya indera ke6. Dan tidak masalah. Saya merasakan dampak luar biasa. Anak kecil benar-benar inspiratif. Dan saya bersyukur pernah menyandang gelar itu; menjadi seorang anak kecil. Kenapa tiba-tiba ngomongin anak kecil? Hha. Soalnya, ini yang sempat saya khawatirkan; kehilangan semangat anak kecil itu. Kata orang, seiring bertambah usia, pikiran manusia akan semakin realistis dalam artian tidak out of box seperti anak kecil. Terbatas. Tapi dilihat-lihat, itu bukan rumus mutlak. Makanya, biar saya ikat disini dengan menuliskannya. Biar ingat, biar tetap yakin. Biar tetap childlike. Biar bisa berbagi. :D

Haha, loncat-loncat. Saya tidak memiliki point jelas, daftar apa-apa yang hendak saya tuliskan. Memang bukan tipe orang yang terstruktur. Biarkan saja lah, anak kecil juga tidak terstruktur kan. :P #eh. Jadi begini saja. Apapun, semoga halte baru ini menjadi tanah perjuangan saya dan kawan-kawan berikutnya. Aamiin Allahumma Aamiin. Insya Allah. :D

Bogor, August 31st 2013 5.27 pm.

Bersama 6 orang kawan seperjuangan dari tanah Serpong yang hijrah ke Bogor.
"Kami pernah menapaki tanah ini. Pergi, kembali, kelak untuk negeri."
Galang - Itse - Arif - Riz - Rowi - Zahra - Qomar





  

3 comments:

  1. Yey, bagus ris, ga make bandara aja ris biar lebih cepet... hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. pake pesawat tapi berentinya di halte. biar gereget. 8)

      Delete
  2. berlelah-lelah lah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang :)
    lompat2 tapi inspiratif riz :3

    ReplyDelete