Sunday, February 23, 2020

Karena Ibu Perempuan

"Ibu masih suka marah. Ya begitulah ibu. Tapi gak apa-apa, ibu kan perempuan, dan aku tahu perempuan itu bengkok. Jadi berbakti aja sebagai anak, pelan-pelan.."

***

Mataku tertahan di lembar responden yang satu itu. Enggan berpaling. Kuulangi lagi membacanya perlahan dari pertanyaan tertutup, mendalami kembali jawaban-jawaban si responden usia belasan tahun itu tentang pengasuhan yang dilakukan ibunya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku. MasyaaAllah, keren!

Jawaban dari anak laki-laki itu adalah salah satu yang paling kuingat hingga hari ini. Atau mungkin nyaris satu-satunya yang kuingat. Sebagai tugas akhir kuliah, aku meneliti tentang pengasuhan spiritual, metode sosialisasi orang tua, kualitas lingkungan sekolah, serta hubungan dan pengaruhnya terhadap kecerdasan spiritual remaja di Jakarta. Sebenarnya aku melanjutkan penelitian S1 dengan topik serupa, hanya sedikit berbeda di pemilihan variabel dan perbandingan sekolah.

Di jenjang S1, aku coba mencari tahu perbandingan antara empat sekolah di Tangerang Selatan dengan karakteristik berbeda, ada yang berasrama dan tidak berasrama. Adapun ketika merampungkan tugas akhir pascasarjana kemarin, aku memilih dua sekolah, SMA dan MAN yang sama-sama berlokasi di ibu kota.

Sebenarnya, data yang aku kumpulkan berupa pertanyaan tertutup. Tapi aku sengaja memberikan pertanyaan terbuka di bagian akhir kuesioner. Tidak untuk diolah sebab penelitianku kuantitatif, melainkan sebagai informasi tambahan dan pemenuhan rasa ingin tahuku sebagai peneliti. Hanya dua pertanyaan, menanyakan secara umum bagaimana pendapat responden tentang pengasuhan dan metode sosialisasi yang ayah dan ibunya masing-masing lakukan.

Lalu aku menemukan jawaban ini dari sekian banyak jawaban. Jawaban dari seorang anak laki-laki kelas sebelas SMA ketika kuminta berpendapat tentang pengasuhan yang ibunya lakukan.

"Ibu masih suka marah. Ya begitulah ibu. Tapi gak apa-apa. Ibu kan perempuan, dan aku tahu perempuan itu bengkok. Jadi berbakti aja sebagai anak, pelan-pelan.."

Aku tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban demikian. Saat itu, rasanya ingin sekali bertanya pada si adik responden, siapa yang mengajarinya, darimana ia mendapatkan konsep seperti itu. Tapi urung sebab keterbatasan waktu. Aku mencerna lagi jawaban-jawabannya pada kuesioner pengasuhan dan metode sosialisasi. Begitu diukur, persepsinya tentang pengasuhan dan metode sosialisasi yang sang ibu beri memang tidak bisa dikatakan baik, tapi juga tidak terlalu buruk.

Memang, dari dua ratusan responden tidak sedikit yang seolah mengeluhkan orang tuanya seperti ini atau seperti itu. Meski kabar baiknya, jauh lebih banyak lagi yang bersyukur atas perlakuan orang tua kepada mereka. Namun jawaban unik seperti yang tengah aku ceritakan disini sangat bisa dihitung jari. Terbatas sekali.

Aku tidak akan membahas tentang penjabaran salah satu hadits yang menyebutkan tentang "bengkok" nya perempuan. Itu tentu bukan kapasitasku. Silakan tanya atau cari tahu pada ahlinya. Tapi selama ini, pesan yang seringkali lalu-lalang kudapati lebih sering menyorot bengkoknya perempuan sebagai istri. Jarang sekali aku menemukan penjabaran tentang bengkoknya perempuan dengan sudut pandang perempuan itu sebagai ibu, sebagai kakak atau sebagai adik.

Jawaban respondenku sendiri lah yang berhasil menghadirkan pandangan baru ini. Oh iya, benar juga! bahkan untuk aku yang perempuan, ini memberi pemahaman lebih, bahwa diriku sendiri memang punya fitrah "bengkok" itu. Supaya sadar dan lebih mengenal diri.

Aku sama sekali tidak bertutur tentang bengkoknya perempuan yang seringkali disalahpahami membuat ia otomatis berada di bawah laki-laki secara kedudukan. Menurutku, kita tidak bisa mengatakan bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan atau sebaliknya (kecuali kalau diperinci, misalnya dalam membaca peta laki-laki umumnya lebih baik, tapi dalam mencari benda perempuan umumnya jauh lebih unggul. Atau fakta lain yang memang menyebutkan bahwa laki-laki lebih mampu berpikir secara logis dan global, sedang perempuan umumnya lebih detail dan mengandalkan perasaan). Toh pada akhirnya, masing-masing memiliki fitrah, peran, juga ranahnya sendiri. Allahu a'lam.

Yang ingin aku tekankan, lebih pada respondenku yang menjawab demikian. Sebagai anak dan sebagai laki-laki, kukira ia memiliki pemikiran yang cukup matang dibandingkan teman-teman seusianya saat itu. Ia berhasil melewati pagar persepsi bahwa dirinya adalah anak, menuju posisi yang lebih jelas, yaitu bahwa dirinya adalah seorang anak yang tengah menghamba pada Rabb-nya.

Terima kasih yaa, Dik!

Sumber Gambar

Catatan 1: Aku tidak ingat persis satu per satu tulisannya, tapi redaksi jawaban si adik responden kurang lebih demikian.

Catatan 2: Informasi tentang fitrah dari masing-masing kita baik untuk dijadikan alat bantu dalam memahami diri sendiri dan orang lain. Tapi tentu sangat tidak apik jika dijadikan sebagai alat pembenaran pribadi.


Ditulis di Bogor, pada 6 Februari 2020, 11.42 WIB

No comments:

Post a Comment