Saturday, November 9, 2019

Avenoir




Catatan itu saya buat tepat setelah saya menuntaskan buku "Avenoir", sebuah kumpulan cerita karya kakak tingkat saya semasa duduk di bangku Aliyah; Kak Urfa Qurrota ‘Ainy.



Judul: Avenoir
Penulis: Urfa Qurrota ‘Ainy
Penerbit: CV. Halaman Indonesia
Editor: Sabaruddin Firdaus
Ilustrasi Sampul: Dani Nugraha
Jumlah Halaman: 191+viii halaman


Usai membaca Avenoir, ada semacam perasaan lega yang ikut menyeruak. Bukan, bukan karena akhir cerita bahagia atau semacamnya. Lagipula Avenoir berisikan kumpulan cerita dengan judul berbeda, meski satu sama lain saling berkaitan. Agak sulit sebenarnya menggambarkan dengan kata-kata. Perasaan lega yang saya rasakan boleh dikatakan semacam healing. Seperti ikut berdamai dengan diri sendiri seiring dengan berdamainya Ayu dan Hanafi; salah dua tokoh di Avenoir.

Hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah cerita fiksinya yang terasa sangat nyata—dan jujur saja, di luar ekspektasi. Awal-awal membaca pengantar tentang Avenoir dari Kak Urfa di media sosial, saya kira buku ini berisikan semacam fiksi yang benar-benar fiksi (katakanlah, imajinatif). Bahkan membaca pembukanya, tokoh "Da" yang merupakan pendengar cerita menjelma menjadi seekor kucing atau semacamnya di kepala saya. (Entah, saya juga tidak tahu mengapa bisa berpikir demikian, hhe).

Ya, di luar ekspektasi. Avenoir ternyata adalah fiksi yang sangat riil. Da ternyata adalah seorang manusia—perempuan—biasa, yang pekerjaannya mendengarkan cerita para pencerita. Judul pada setiap bab utama dalam buku ini diambil dari nama tokoh yang bermain peran. Selain itu, Avenoir juga diperkaya dengan sajak-sajak penuh makna (yang kalau mau benar-benar memahaminya mungkin tak cukup dibaca satu kali). Ssst… ada bonus foto-fotonya juga :D



Saya tidak hiperbola ketika menulis catatan bahwa Avenoir bisa membuat merinding, menangis, juga senyum-senyum sendiri. Saya merinding membaca kisah Rangga. Benar-benar sindiran keras yang dibalut dalam kisah manis setengah sendu. Saya menangis membaca kisah Nyonya Wulan dan Kinara-nya. Entah, mungkin karena Avenoir ditulis oleh seorang ibu, rasanya pesan dalam bab ini terasa sangat menyentuh. Saya dibuat senyum-senyum sendiri pada bab terakhir—tentu saja. Bukan karena romantisme nya, tapi karena Kak Urfa apik sekali menuliskan ending yang manis. Seolah memberi rambu bahwa usai membaca buku ini ada kenyataan yang harus dijalani. Cerita sungguhannya seakan baru saja dimulai.


"It’s okay not to be okay."

Yang saya sukai lagi dari buku ini, tentu saja bahwa ada pesan penting yang penulisnya hendak sampaikan. Ini bukan kisah indah tanpa masalah, atau kisah penuh masalah yang berakhir bahagia. Sama sekali bukan. Bagi saya, buku ini mengajarkan sebuah proses penerimaan, sebuah perjalanan menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan. Bahwa setiap orang boleh jadi punya persoalannya masing-masing, dan sangat mungkin diuji dengan hal yang (harusnya) paling ia kuasai.


Barangkali karena tema dalam buku ini sangat dekat dengan bidang yang memang sedang saya tekuni, saya jadi sangat mudah jatuh hati. Entah bagaimana, saya menerka mungkin saja di luar sana ada Ayu, ada Hanafi, ada Utami, juga ada Havi-Havi yang lain.

Terakhir, buku ini menggelitik jiwa, dan sangat sayang jika dibaca dengan teknik skimming. Sebab seringkali hikmahnya hadir usai satu-dua kalimat yang sangat mungkin terlewat jika dibaca dengan buru-buru.

Salam hormat saya sampaikan kepada para guru, pendidik, konselor, psikolog, dan siapapun yang menjadi pendengar cerita. Sungguh, kalian istimewa! ^_^


Jakarta, 9 November 2019
12 Rabi’ul Awal 1441 H

No comments:

Post a Comment