Tuesday, June 3, 2014

Karakter (Sebuah Kunci Peradaban)



Pendidikan di Indonesia masih menjadi kendala. Tidak hanya menyangkut persoalan klasik seputar biaya, namun merambah pada aspek-aspek lainnya. Bicara pendidikan tidak sesederhana membicarakan lembaga formal dimana kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Bicara pendidikan, berarti bicara tentang faktor mendasar sebuah peradaban dan karakter manusianya.
Dewasa ini, pendidikan dirasa mengalami penyempitan, bahkan pergeseran makna. Ironisnya, tidak jarang kontribusi pergseran makna tersebut justru hadir dari pihak yang disebut-sebut berpendidikan, bahkan dari instansi yang mengatas-namakan pendidikan. Pemberian kunci jawaban dari pihak sekolah secara legal kepada siswanya dalam UN (ujian nasional) merupakan salah satu contoh nyata kontribusi pergeseran makna tersebut. Dengan alasan demi kelulusan peserta didik, atau demi prestasi sekolah, hal semacam ini jadi terkesan lumrah dilakukan. Padahal, sekolah-lah yang seharusnya menjadi tempat dimana pendidikan tentang kejujuran berlangsung. Bukan sebaliknya.
Pendidikan yang sejatinya berorientasi pada proses serta menyelaraskan antara kuantitas dengan kualitas, kini cenderung menjadi fokus pada hasil semata. Di bangku sekolah, kecurangan dalam ujian seperti yang telah disebut di atas menjadi contohnya. Di bangku pemerintahan pun demikian. Tidak sedikit, -banyak malah- calon legislatif yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan kursi di pemerintahan. Maka tak heran jika output yang di hasilkan adalah para siswa yang stress menghadapi UN, atau para calon legislatif gagal yang tahu-tahu memenuhi rumah sakit jiwa usai pemilihan umum. Hal tersebut tidak lain karena orientasi yang diproriataskan adalah pada hasil, dan bukan pada proses. 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan merupakan faktor penting yang memengaruhi peradaban manusia. Dengan kata lain, pendidikan berkontribusi besar dalam kesejahteraan suatu bangsa. Menurut studi Transparency International tahun 2013, Indonesia berada di peringkat ke 114 dari 117 negara dalam peringkat negara-negara tidak korup. Itu artinya, Indonesia masih berada dalam jejeran teratas kategori negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Korupsi itu sendiri telah menjadi tersangka utama peyebab kesejahteraan bangsa bumi pertiwi yang terhambat meski sumber daya terkenal kaya. Hal tersebut sedikit-banyak menunjukkan kapasitas pendidikan kita yang masih terbilang rendah.
Dalam proses pendidikan, peran guru sangat penting. Hakikatnya, guru bukan sekadar penyampai materi bahan ajar, melainkan juga menjadi model bagi para siswanya. Mengamati fenomena persoalan pendidikan di Indonesia, maka hal mendasar yang perlu diperhatikan adalah pendidikan karakter, dan guru berperan besar dalam mencetak karakter-karakter emas Indonesia. Ketika seorang guru memberikan teladan baik, maka akan terbentuk jejaring, mata rantai karakter yang positif. Dan sebaliknya, cerminan guru yang tidak berkarakter baik akan memberi contoh dan pada akhirnya memberikan dampak negatif bagi perkembangan karakter siswa.
Sayangnya, saat ini kondisi guru banyak yang memprihatinkan. Bahkan, sudah tidak asing lagi pemberitaan media yang mengabarkan kasus kekerasan terhadap anak dengan gurunya sendiri bertindak sebagai pelaku. Kasus terbaru muncul di Medan beberapa waktu lalu.  Pada April 2014, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol. Agus Rianto, Polresta Medan menangani kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang guru terhadap murid perempuannya yang masih berusia tujuh tahun. Bagi pelaku, mungkin sederhana saja melakukan tindak kejahatan tersebut dengan memanfaatkan posisinya sebagai guru. Padahal sorang guru sejatinya digugu dan ditiru.
Untuk mengatasi persoalan karakter ini, maka perlu adanya seleksi bagi para guru. Ada fenomena memprihatinkan yang hadir di tengah-tengah masyarakat kita, yakni pola fikir masyarakat yang menganggap profesi guru merupakan profesi kelas bawah dan tidak berkelas. Bukan hanya itu, banyak dari anggota masyarakat yang menggampangkan persoalan menjadi guru. Sehingga hasilnya, benyak dari guru yang tidak benar-benar berniat untuk menjadi pendidik, dan contoh di atas bisa jadi adalah salah satunya. Indonesia semakin rindu akan guru-guru sejati yang disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Guru yang professional dituntut untuk memahami kebutuhan peserta didiknya dari berbagai aspek mulai dari fisik, moral, sosial, juga kulturalnya. Selain itu, untuk pengembangan karakter peserta didik, tentu diperlukan sinergi antara pendidikan formal di sekolah dengan pendidikan informal di rumah. Dengan kata lain, kualitas model yang ditiru oleh peserta didik memegang peranan sangat penting dalam pengembangan karakter. Model tersebut yakni guru, dan lebih dalam lagi, adalah orang tua.    
Upaya pengembangan pendidikan karakter ini diharapkan akan memberikan kontribusi positif untuk kegiatan pembelajaran. Karakter yang merupakan pilar dasar proses pendidikan akan membawa dampak baik yang berkesinambungan. Hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) dalam naungan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) yang diumumkan pada Desember 2013 lalu mengatakan bahwa tingkat intelegensia siswa Indonesia menduduki peringkat ke 64 dari 65 negara. Dengan adanya pendidikan berbasis karakter, diharapkan hasil survei tersebut mengalami perkembangan positif –dengan orientasi utama pada proses, tentunya-. 
Pendidikan di Indonesia masih menjadi kendala. Tidak hanya menyangkut persoalan klasik seputar biaya, namun merambah pada aspek-aspek lainnya. Bicara pendidikan tidak sesederhana membicarakan lembaga formal dimana kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Bicara pendidikan, berarti bicara tentang faktor mendasar sebuah peradaban dan karakter manusianya. Indonesia masih memiliki harapan dalam proses pendidikannya. Peringkat pertama siswa terbahagia hasil survei International Student Assessment (PISA) yang disandang oleh Indonesia cukup memberikan kabar baik pada dunia. Bukan tanda bodoh karena bahagia di atas derita, melainkan karena Indonesia masih memiliki harap dan cita. Semoga.

(Ditulis dalam rangka seleksi Mapresma TPB IPB 2014)

No comments:

Post a Comment