Wednesday, October 9, 2019

Tulisan tentang Eyang


Hampir satu bulan Indonesia berduka atas berpulangnya sosok yang seolah tak pernah menua, yang pada dirinya laksana hidup semangat pemuda belas-dua puluh tahunan meski usia fisiknya terbilang sudah delapan puluhan.

Mengingat-ingat saat itu, barangkali adalah salah satu pekan tersendu sebab untuk pertama kalinya merasai kehilangan “public figure” masa kini yang bahkan belum pernah sekalipun bersua. Kemudian ketika membuka catatan, saya menemukan beberapa tulisan tentang beliau; Eyang Habibie.

***
September 13, 2019, 8:11 AM

"Kak," sebut saja Halya, salah satu murid yang kuajar petang itu, memohon izin memotong pembicaraanku di depan kelas.
"Ya?" aku mempersilakan. Suasana kelas masih agak ramai. Kami baru saja masuk lagi usai istirahat shalat.
"Pak Habibie meninggal," lanjutnya.

**

Kabar itu mau tidak mau cukup mendistraksi kelas kami. Masing-masing mulai membuka gawai, memeriksa informasi yang beredar. Terkecuali aku. Memang, kiranya baru saja kemarin kulihat banyak akun-akun di media sosial seolah berlomba mendoakan beliau (setidaknya itu yang tampak pada postingan-postingan mereka). Aku tahu bapak yang aku kagumi itu, yang pernah teramat ingin aku jumpai itu, tengah sakit dan dirawat beberapa waktu belakangan.

"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Beneran?" aku masih belum percaya. Tak kusempatkan membuka gawai. Lebih memilih bertanya pada kelas.

"Beneran apa hoaks?" sahut yang lain.

"Beneran." Jawab Halya mantap.

**

Kenangan-kenangan tentang sesosok inspiratif itu tak bisa dicegah untuk tidak berputar di kepala. Petang itu, kami bersama-sama melangitkan doa untuk Pak Habibie. Kemudian di tengah pikiran yang mulai berlarian kesana-kemari, aku mencoba kembali mengondusifkan kelas—mengondusifkan pikiranku sendiri lebih tepatnya. Tapi yang keluar ternyata malah kalimat seperti ini.

"Kakak jadi sedih,” aku menarik napas sambil berusaha tersenyum tipis, “Bukan apa-apa sih, kakak merasa ada hubungan emosional dengan Pak Habibie," ujarku, tanpa menskenariokan untuk mengeluarkan deret kata semacam itu. Hubungan emosional? hei, siapa kamu? Mereka mendengarkan. Mungkin agak menerka, hubungan emosional seperti apa yang aku maksud.

**

Aku tahu. Jika diperhitungkan, tentu aku bukan apa-apa. Jika mengagumi seseorang adalah sebuah persaingan, barangkali aku ada di barisan nyaris paling belakang di arena tanding. Jangankan menang, barangkali aku tak masuk bahkan jadi cadangan. Maksudku, aku mungkin tak terbaca, tak dikenal, belum pula mampu mengikuti jejak-jejak beliau yang luar biasa. Tapi entah bagaimana aku merasa ada hubungan emosional dengan Pak Habibie. Dan oleh sebab kebermanfaatan beliau yang menjangkau penjuru bumi, aku yakin bukan hanya aku yang sekehilangan ini.

Yah, barangkali salah satu alasan terkuatnya adalah karena Insan Cendekia. Sebab sekolah yang teramat bersejarah dalam hidupku itu tidak lain digagas oleh beliau. Tak jarang pula kami mendengar perkataan yang kurang lebih seperti ini, "Berjuanglah! sebab kalian adalah anak ideologisnya Pak Habibie".

**

Aku tahu. Ada begitu banyak anak bangsa yang mengaku sebagai anak atau cucu ideologis beliau. Memang demikian lah laki-laki yang tak pernah menua jiwanya itu membahasakan kami, anak-anak bangsanya. Beliau mewariskan apa yang disebut-sebut sebagai amal tiada putus: ilmu. Ketulusannya dalam menyampai ilmu, barangkali menjadi alasan terkuat mengapa demikian banyak orang yang merasa punya hubungan emosional dengan beliau.

Aku pernah pada fase begitu ingin menjumpai beliau. Ingin kuucap terima kasih sampai-sampai tak tahu bagaimana cara mengucapkannya. Kucari-cari alamatnya, bermodalkan internet di ruang lab komputer sekolah. Kutanya-tanya kabarnya, pada beberapa guru yang saat itu kuterka barangkali tahu atau barangkali bisa membantu.

Hingga pada suatu hari, aku mendapati diriku menjumpai sosoknya di lantai dua MAN Insan Cendekia Serpong; sekolah yang dicetuskan olehnya 23 tahun lalu, sekaligus sekolah tempatku banyak mempelajari hidup. Ia mengenakan baju safari, tengah istirahat sejenak di ruang bimbingan konsultasi Bu Rini. Ramah sekali. Hanya itu yang aku ingat, sebab yah, sayangnya, aku menjumpai sosoknya hanya dalam mimpi.


 September 13, 2019, 8:18 AM

Rasanya seperti kehilangan satu cita-cita. Rasanya seperti dipaksa memangkas satu harap. Rasanya ingin memrotes diri sendiri, "Mengapa kamu tak berjuang lebih keras hari kemarin?" sebab belum pernah sampai kata itu keluar, bahkan meski hanya lewat tulisan. Belum tercapai cita sederhana mengucapkan terima kasih pada beliau. Belum juga berhasil mempersembahkan apapun bahkan dalam bentuk paling sederhana sekalipun. Sampai pada akhirnya kubaca deret kalimat yang kabarnya merupakan perkataan beliau pada sebuah kesempatan:

“Kalau saya ditanya, Habibie siapa, insinyur, muslim, ataukah Indonesia. Saya jawab bahwa Habibie adalah muslim. Mengapa? Karena kalau saya mati, saya tidak lagi berwarganegara. Kalau saya sampai ke akhirat, yang ditanya bukan kedudukan apalagi kewarganegaraan. Karena itu, saya jawab: saya muslim. Itu bukan emosional, melainkan rasional.”

“Saya percaya pada hari akhir. Saya tidak akan ditanya soal paspor. Jadi, kalau saya jawab demikian, jangan bilang Habibie tidak nasionalis. No..”

Perkataan beliau itulah yang kemudian membuatku sadar bahwa.. hei!, tentu saja masih bisa kulantun doa, masih bisa kuucap terima kasih, melalui-Nya.

**

Terima kasih, Eyang. Maafkan kami yang belum sampai berterima kasih padamu. Bahkan di tengah kesedihan kami, untai nasihatmu juga yang menjadi jalan pembuka harap.

Barangkali mendoakan adalah sebaik-baik cara berterima kasih. Terima kasih, Eyang. Allah, mudahkanlah hisab beliau. Ampuni dosa-dosanya. Berilah ia tempat terbaik di sisi-Mu. Sungguh aku bersaksi insyaaAllah beliau adalah orang baik, dengan kebermanfaatan yang meluas lagi semerbak. Yang tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana berilmu, tapi juga, atas izin-Mu, menjadi jalan banyak orang—salah satunya aku—"menemukan" Engkau. Terima kasih Eyang Habibie. Terima kasih atas Insan Cendekia-mu; tanah berjuta kisah yang berikan banyak sekali pelajaran untuk kami.


15 September 2019

Hari ini ketika melewati salah satu jalan di Kota Bogor, ada yang sedikit berbeda. Jejeran tiang bendera pada kanan-kiri jalan yang biasanya kosong atau paling tidak berisikan bendera-bendera negara, hari itu terisi penuh dengan bendera tanah air Indonesia. Namun ada yang berbeda. Tak sampai pada ujung tiang bendera-bendera itu berkibar, melainkan hanya setengah tiang saja.
Oh ya, rupanya masih berkabung bangsa kita.


19 September 2019

Satu pekan sudah, Pak Habibie berpulang. Dalam masa-masa kemarin, aku begitu merasa kehilangan atas kepulangan beliau. Tidak berlebihan menurutku, jika dikata bahwa kepergian sosok yang menyebut dirinya sebagai Eyang itu menyisakan banyak kehilangan pada hati-hati sesiapa yang mengenalnya. Bukan hanya mereka yang pernah bertatap, tapi bahkan yang belum pernah bersua pun—aku salah satunya—juga merasakan kehilangan.


23 September 2019

Begitulah orang baik. Bahkan kepergiannya mampu mengantarkan banyak orang pada kebaikan-kebaikan. Aku percaya bahwa ketulusan berbicara lebih banyak dari kata-kata. Bahwa ketulusan bersuara lebih lantang dan lebih nyaring dibandingkan suara itu sendiri. InsyaAllah Eyang adalah orang yang tulus berbuat baik. Purna sudah kiprah Eyang di panggung sandiwara dunia ini.
Terima kasih, Eyang. Maafkan kami.

***

Sumber

Kabarnya, generasi terdahulu banyak menerima nasihat semacam ini, “Rajin-rajinlah belajar, supaya pintar seperti Pak Habibie!”. Agaknya kearifan dari beliau di masa tuanya juga bisa menjadi inspirasi dari nasihat hebat, “Jangan pernah berhenti belajar, supaya kalau tua nanti tidak mudah lupa dan tetap bisa berkarya, seperti Pak Habibie!”

Bogor, 9 Oktober 2019
Ketika hujan yang dirindu
tiba kembali sambil merayu.

Tuesday, July 30, 2019

Dari Lembah Cita-Cita



Judul: Dari Lembah Cita-Cita
Penulis: Prof. Dr. Hamka
Penerbit: Gema Insani
Jumlah Halaman: 102 halaman

***

Beberapa bulan lalu, saya baru saja kembali mengecek ulang isi rak buku. Kemudian saya menemukan sebuah novel lama pemberian ayah berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Buya Hamka. Membuka kembali novel itu setelah sekian tahun berlalu meninggalkan kesan baru bagi saya. Ada banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya mengenai sosok Buya Hamka. Agaknya menulis sebuah roman boleh dikata nyaris tabu bagi seseorang yang masyhur dikenal sebagai ulama kondang.

Dari sanalah saya mulai membaca lebih jauh tentang seorang Buya Hamka. Hingga pada suatu kesempatan, saya menemukan buku ini pada salah satu etalase toko buku. Ukurannya tidak begitu besar, halamannya pun tidak tebal. Tapi soal gizi, saya berani katakan bahwa buku ini benar-benar bergizi. Ada beberapa hal yang saya catat baik-baik usai menuntaskan buku ini.

Sampul Depan

Sampul Belakang


Buya membuka "Dari Lembah Cita-Cita" dengan bab yang menurut saya menyenangkan dan menarik untuk ditelusuri. Tak bisa dipungkiri, bab pertama ini sukses membuat saya jatuh hati tanpa perlu waktu yang lebih lama. “Dua Orang Pemuda Bertanya”. Buya mengisahkan bahwa ada dua orang pemuda yang mendatanginya,  meminta Buya untuk nengupas soal sumbangsih seperti apa yang dapat dilakukan oleh pemuda seperti mereka dalam rangka membangun bangsa dan tanah air.

Dalam tulisannya, Buya menuturkan betapa dua orang pemuda itu membuat ia mengingat berbagai kisah pemuda-pemuda yang telah tercatat dalam sejarah. Mulai dari para pemuda sekolah militer di Turki yang berjuang menumpas kepemimpinan Mustafa Kemal (seorang sultan yang menerapkan kehidupan sekuler pada rakyatnya), pemuda Ghandi yang meninggalkan segala kenyamanan hidup demi membela bangsa India-nya yang kerap dianggap hina oleh bangsa lain, pemuda Sun Yat Sen, anak petani yang tergerak hatinya memperjuangkan kemerdekaan bangsa, sampai pemuda Indonesia; Hatta yang pada usia 25 tahun telah mendirikan Perhimpunan Indonesia dan pada 26 tahun telah memimpin Kongres Liga melawan imperialisme, juga Soekarno yang pada usia 28 tahun telah membaca pleidoinya demi membela Indonesia ketika perkara di Landraad, Bandung.

Buya tak berhenti sampai di sana. Tersebut pula para pemuda di masa Rasulullah (salallahu 'alaihi wasallam). Adalah itu Ali bin Abi Thalib yang masih berusia 12 tahun, Bilal bin Rabbah, Ammar bin Yasir, juga Abu Dzar Al Ghifari.

“Ia adalah Ali. Mulai beriman pada usia 12 tahun. Saat di dalam suatu majelis, Nabi ﷺ bertanya kepada orang-orang tua Quraisy, siapa yang menolongnya menyerukan seruan Allah. Tidak seorang pun menjawab, hanya Ali yang masih anak-anak itu yang menyatakan bersedia untuk hidup bersama-sama dan mati bersama-sama.”

“Ia adalah Bilal, hamba sahaya yang masih muda, dibujur di panas matahari yang amat terik di padang pasir karena mengikuti ajaran Nabi ﷺ, tetapi ia masih tetap mengucapkan “Allah سبحانه وتعالى satu”"

“Ia adalah Ammar bin Yasir, yang dipukul dan didera; ia adalah Abu Dzar Al Ghifari, yang dikeroyok oleh pemuda-pemuda Quraisy, semuanya karena telah mengikuti pendirian Nabi ﷺ.”

Tapi jurus pamungkas yang membuat saya jatuh hati bukan terletak pada uraian sejarah pemuda-pemuda tersebut di atas. Sebab mungkin ini bukan kali pertama saya mendapat gagasan bahwa pemuda memiliki semacam energi besar yang dapat memberi sumbangsih hebat dalam sebuah peradaban. Kalimat pamungkas itu justru hadir setelah penuturan Buya tentang sirah pemuda-pemuda.

“Saya lebih senang benar kepada mereka berdua yang datang, saya lebih senang berhadapan dengan mereka, sebagaimana senangnya Socrates dengan murid-muridnya, daripada jika saya berhadapan, bertabligh di surau yang bening sepi membicarakan surge dan neraka. Kepada orang tua, saya ajarkan bahwa kita pasti mati.

“Namun, pemuda berkata, ‘Sebelum mati bukankah hidup? Mengapa kita mesti mengingati mati saja, padahal kita yakin bahwa sekarang kita hidup? Bukankah sebelum melalui pintu mati, kita mesti menjalani hidup?”

Daftar Isi "Dari Lembah Cita-Cita"
         
Demikian lah Buya membuka buku ini, dengan kearifan yang membangkitkan rasa ingin tahu untuk menuntaskannya sampai habis. “…Pertanyaanmu, dua-duanya akan saya jawab sekadar tenagaku, hai Pemuda! Moga-moga Allah akan memberikan kemuliaan dan kejayaan kepada tanah air kita berkat paduan semangatmu semua. Dengarkanlah!”

***

Sesuai judulnya, “Dari Lembah Cita-Cita” mengantarkan saya pada pemahaman tentang bercita-cita.

“Supaya pemuda beroleh kemenangan di dalam mencapai segala cita-citanya, hendaklah ia mempunyai dada yang lebar, pahaman yang luas, dan memandang dunia jangan dari segi buruknya saja (pesimis-tasyaum), hendaklah dipandangnya juga dari segi baiknya (optimis-tafaul),” begitu tulis Buya pada salah satu pembukaan bab dalam buku ini.

Ada banyaak sekali hikmah, pelajaran yang dapat dipetik. Saya merekomendasikan buku ini terkhusus untuk pemuda-pemudi muslim yang barangkali tengah menghadapi kerancuan dalam bercita-cita, dalam menentukan porsi keduniaan nan akhirat, yang tengah dihadapkan pada kebingungan arah, boleh juga dikatakan untuk mereka yang sedang mengalami quarter life crisis. Ahlan!

Terima kasih kepada Buya, semoga apa yang Buya tulis menjadi amal jariyah. Aamiin...


Ditulis pada 20 Dzulqo'dah 1440 H
di pinggiran Kota Jakarta,

Rizky Sahla Tasqiya

Tuesday, May 14, 2019

Karena Pak Guru Baru


Saya masih ingat. Malam itu, ketika Ayah sudah mulai terlelap, Mama keluar dari kamarnya dan menghampiri saya yang masih asyik terjaga. Belakangan ada banyak hal yang memang sering kami perbincangkan bersama. Malam itu pula, tanpa diminta, beliau mulai bercerita.

“Ade, di sekolah mama ada guru baru…” begitu Mama membuka kisahnya.

**

Mama adalah seorang guru. Berjodoh dengan ayah yang juga seorang guru. Keduanya telah menjalani profesi sebagai guru lebih dari separuh hidup. Ayah baru saja purna tugas satu setengah bulan yang lalu. Adapun Mama, baru dua tahun ditempatkan di sekolah yang baru, tak jauh dari rumah tempat kami tinggal.

Malam itu, berceritalah Mama kepada saya mengenai seorang guru baru. Ia datang ke sekolah dengan pakaian rapi, dengan tutur kata yang santun. Masih terbilang muda, usianya barangkali menginjak 30-an. Awalnya, laki-laki itu dikira sales oleh Mama dan para rekan kerja. Bukan tanpa alasan, sebab memang tak jarang ada sales mampir untuk jualan ke sekolah.

“Kepala sekolahnya lagi gak ada tapi Pak,” ujar salah seorang rekan kerja Mama sesama guru. Tak ada yang berani menerima sales, sebab biasanya berkaitan dengan jualan buku atau hal-hal seputar alat bantu untuk kegiatan belajar-mengajar. Wewenang semacam itu, di sekolah tempat Mama mengajar, ada pada kepala sekolah.

“Oh begitu, Bu… ini, sebetulnya saya ingin lapor diri,” yang dikira sales lantas menyampaikan niatnya. Ternyata dirinya bukan seorang sales, melainkan seorang guru yang baru saja mendapat tugas untuk mengajar di sekolah tersebut. Alhasil, identitas dan laporannya diterima, dengan catatan ia akan kembali keesokan hari untuk menemui kepala sekolah.

Cerita berawal disini. Diam-diam Mama memerhatikan guru baru itu dengan seksama.  Agaknya, sosok itu teramat tidak asing. Mama merasa begitu mengenali wajah si guru baru. Jangan-jangan…

“Maaf, Pak. Kalau boleh tau asalnya darimana?” tanya Mama demi memastikan praduganya. Sampai pada pertanyaan-pertanyaa lain seperti kelahiran tahun berapa dan punya anak berapa. Mama kemudian berinisiatif meminjam data diri si guru baru demi bisa melihat nama lengkap laki-laki berumur 30-an itu. Betapa tidak terkesima, nama yang tertera betul-betul tidak asing di telinga Mama.

“Bapak kayaknya murid saya deh. Dulu TK-nya dimana?” tanya Mama.

“Eh?” yang disapa dengan panggilan “bapak” sedikit kaget.

**

Benar sekali. Guru baru itu ternyata adalah murid Mama di TK, puluhan tahun yang lalu. Sampai pada bagian ini, saya dapat menyaksikan mata Mama yang mulai berkaca-kaca ketika menceritakan kisah itu pada saya.

“De, Mama terharu banget. Ternyata Mama sudah tua, ya. Anak murid Mama sudah sebesar itu, udah jadi teman kerja Mama,” begitu ujar beliau. Aku mengangguk-angguk. Benar juga. Bahkan semua anak-anak Mama mulai dari Abang, Kakak, aku, hingga si bungsu, semuanya bersekolah di TK dengan mama sebagai guru dan kepala sekolahnya. Perjalanan Mama menekuni profesi yang memang adalah cita-citanya sejak kecil itu ternyata sudah terbilang puluhan tahun. Sudah melintasi berbagai generasi.

**

 “Gimana Ma, anak muridnya Mama udah mulai ngajar di sekolah?” tanyaku pada seminggu berselang usai Mama bercerita soal anak muridnya yang kini jadi guru baru di sekolah.

“Iya udah, sehari setelah lapor, dia langsung ngajar. Jum’at lalu dia telepon ibunya, ngasih tahu suara Mama. Ibunya masih ingat De, sama Mama,” jawab Mama. Aku tersenyum saja.

“Waktu minggu lalu ade ke IC, Ma, seneng banget ketika guru-guru masih ingat nama ade. Itu belum puluhan tahun. Segitu aja ade udah terharu. Mesti rasanya haru banget kalau udah puluhan tahun terus namanya masih diingat sama gurunya.”

“Iya, di sekolah, guru-guru yang senior bilang begini, ‘yah gabisa dibully dah ini guru baru. Ada emaknya sih!’” kata Mama sambil tertawa, kemudian melanjutkan, “Dia juga haru banget, De. Katanya ‘Yaa Allah ibu… Malah ibu duluan yang ingat sama saya’.”

**

Begitulah.

Saya jadi ingat momen dimana saya menangis sambil berbaring di atas kasur pasien, beberapa bulan lalu, ketika dibesuk oleh salah seorang guru kesayangan saya ketika masih duduk di bangku madrasah. Beliau ada wali kelas saya di bangku kelas 4B. Saya mungkin lebih banyak melupakan berbagai materi pelajaran di kelas yang beliau ajarkan. Tapi pelajaran hidup, semangat, dan motivasi darinya masih teringat jelas di kepala. Bahkan saya masih ingat kisah perjalanan beliau menentukan sekolah, kisah istikharah dan bertemu dengan pasangan hidup, hingga sesi pengambilan rapot yang beliau katakan di hadapan Ayah bahwa saya punya potensi. Mungkin beliau tak pernah tahu betapa cerita-cerita itu bercokol di kepala saya selama bertahun-tahun. Juga, betapa motivasi darinya menjadi salah satu catatan penting yang saya pegang hingga hari ini.

Maka ketika melihat kehadirannya ketika saya tengah sakit dan dirawat di rumah sakit, saya sungguh-sungguh menangis. Haru.

Saya juga ingat beberapa waktu lalu, ketika takziyah, menemui salah seorang guru semasa di aliyah yang baru saja kehilangan anak tercintanya. Alhamdulillah, Allah berikan saya kesempatan menjadi salah satu yang tiba paling awal menemui beliau, masih di kamar pasien. Sedikit terkejut beliau melihat kehadiran saya. Kemudian tanpa dikomando, beliau memeluk saya dan tumpahlah tangisnya. Saya dapat merasakan betul keikhlasan dan keridhoan seorang ibu. Tangisnya bukan tangis menyesal, apalagi marah tak ridho atas takdir. Tangisnya adalah tangis yang pecah karena cinta dan kasih sayang. Bahkan senyum merekah dengan indahnya, yang saya yakin hadir dari kesadaran utuh bahwa anaknya telah pulang pada pemilik sesungguhnya.

Beliau mungkin tidak ingat, betapa banyak pembelajaran hidup yang saya catat baik-baik dari sosoknya. Bahkan di bangku kuliah, beberapa kali saya masih mengirimi beliau pesan demi meminta doa untuk ujian yang akan saya hadapi. Saya masih ingat betul nasihat-nasihat beliau, juga keramah-tamahan beliau yang tak pernah menolak bahkan jika malam-malam saya mengetuk pintu rumahnya.

Bagi saya, setiap guru punya tempat spesial yang membuat saya sebagai seorang murid acapkali berkaca jika mengingat mereka, atau jadi salah tingkah jika kembali bersua. Semoga kebaikan senantiasa melingkupi ayah-bunda ibu guru sekalian dimanapun berada..


**

Dari cerita Mama, saya belajar tentang waktu kehidupan. Betapa cepatnya waktu di dunia. Mungkin karena memang sifat sementara dan kefanaannya. Juga, betapa mudahnya waktu tertinggal di belakang. Hingga satu detik saja yang terlewat takkan pernah bisa sampai kapanpun diulang perjalanannya.

Saya juga belajar tentang menjadi orang baik. Bahwa ternyata, kebaikan itu indah sekali. Mengutip nasihat guru asuh saya semasa di Aliyah, beliau berpesan bahwa berbuat baiklah sekecil apapun perbuatan baik itu. Sebab kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan menjadi tiket kita menuju syurga. Setelah mendengar cerita Mama dan berkontemplasi, saya jadi berpikir betapa indahnya kebaikan-kebaikan. Sebagaimana guru-guru saya yang berbuat baik, meski terkesan “sederhana”, dan mungkin saja beliau-beliau tidak ingat lagi perbuatan baik itu. Tapi dalam benak saya, kesederhanaan itu sungguh-sungguh membekas dan jadi kenangan manis tersendiri. Kebaikan-kebaikan yang terbungkus dalam nasihat, motivasi, dan sapa ringan ‘apa kabar’ di sela-sela hari. Bahkan kebaikan-kebaikan di balik teguran ketika saya berbuat keliru, percikan air wudhu, juga pukulan kecil disertai canda yang menghibur. Saya membungkus semuanya, menyimpannya baik-baik, dan menjadikannya bahan bakar pada jalan-jalan hidup yang saya tempuh kemudian hari. Hebatnya, boleh jadi beliau-beliau tidak menyadari sama sekali. Dan saya hanya salah satu dari sekian banyak murid yang mereka “punya”. Bayangkan betapa indahnya jika semua murid merasakan apa yang saya rasa. Betapa kebermanfaatan guru-guru kami mengalir sedemikian derasnya.

**

Tulisan ini saya mulai dua hari yang lalu, dan sempat mengendap begitu saja. Saya kembali teringat untuk menyelesaikan karena hari ini melihat foto Mama bersama dengan murid TK-nya itu. Iya, murid TK Mama yang kini jadi partner kerja di sekolah. Baarakallah, Mama. Semoga apa yang Mama jalani hingga hari ini bernilai ibadah. Mungkin karena paduan antara jiwa keibuan dan keguruan, Mama punya semacam energi jadikan teman-teman saya pun seolah jadi “muridnya” juga. Mama bisa lancar mengabsen nama teman-teman saya, dari madrasah, tsanawiyah, aliyah, hingga kuliah. Menanyakan bagaimana kabar satu per satu dari mereka. Baarakallah, Ma.

Juga kepada Ayah, Baarakallah. Terima kasih sudah menafkahi kami dengan rezeki yang selalu Ayah usahakan semaksimal mungkin kehalalannya. Terima kasih karena sampai hari ini, Ayah sudah menjadi guru. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah tentunya. Sudah memberikan teladan akan apa itu kesabaran dan ketulusan. Kami tahu purna tugas Ayah hanya secara formal, tapi tugas sesungguhnya barangkali takkan pernah usai di dunia. Semoga kami senantiasa menjadi murid yang siap dididik. Baarakallah, Ayah.

Kemudian kepada Pak Guru Baru, karena melalui washilah Bapak yang ternyata adalah murid TK dari ibunda saya, saya jadi banyak belajar. Hatur nuhun.. Mama saya berkata pada saya, beliau banyak berharap bahwa kehadiran Bapak akan membawa kebaikan-kebaikan. Aamiin.

**
Rasulullah ﷺ adalah sebaik-baik guru.
(sumber gambar klik disini)
Terima kasih telah membaca. Sudah lama saya tidak menulis seperti ini. Dan setelah sekian lama, kali ini, rasanya menyenangkan sekali. Alhamdulillah. 😊


Selasa, 9 Ramadhan 1440 H

Sunday, February 10, 2019

Totto Chan's Children

Judul: Anak-anak Totto Chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa: Ribkah Sukito
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kedelapan: Januari 2016
Jumlah Halaman: 328 halaman
Buku ini sukses membuat saya menangis. Tetsuko Kuroyanagi—Totto Chan—apik sekali memilih penggal kejadian untuk dibagi-bagikan pengalamannya kepada orang banyak. Buku fenomenal karyanya yang berjudul "Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela" merupakan buku yang kemudian mengantarkan saya untuk menikmati buku ini; "Totto Chan’s Children". Berbeda dengan "Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela" yang merupakan sebuah novel terinspirasi kisah nyata Nyonya Kuroyanagi semasa kanak-kanak, "Totto Chan’s Children" merupakan catatan perjalanan Ny. Kuroyanagi selama berkunjung ke beberapa negara pada tugas kemanusiannya bersama UNICEF.

Peta Kunjungan Duta Kemanusiaan UNICEF
Banyak sekali cerita fakta mengenai anak-anak di dunia yang membuat hati meringis. Mulai dari kelaparan, ketidaktersediaan air bersih yang memaksa mereka minum air kotor hingga sebabkan diare bahkan kematian, kejutan ranjau darat di dalam mainan dan makanan, anak-anak yang terlibat pelacuran untuk bisa makan, sampai luka psikologis yang menyayat mental mereka. Bagi saya pribadi, buku ini begitu sukses membuat saya sadar betapa recehnya ujian kesusahan yang mungkin pernah terbesit dalam kepala untuk mengeluhkannya. Saya rasa Ny. Kuroyanagi, pemilik nama kecil Totto Chan itu, barangkali sangat menyayangi anak-anak.

Anak perempuan di Vietnam (1988)
Sekolah dasar di Vietnam (1988)
Rumah di Irak yang penuh kotoran (1991)
Melalui buku ini, Ny. Kuroyanagi menceritakan betapa kesehatan mahal sekali harganya. Di Baghdad, Irak, pada tahun 1991 tidak ada listrik, tidak ada air bersih, bahkan tidak ada saluran pembuangan hingga kotoran masuk ke rumah-rumah penduduk. Rumah sakit Qadissiya Central Hospital di kota itu, tidak memiliki apa-apa. Tidak ada susu, tidak ada obat, dan tidak ada obat bius untuk operasi. Perkataan salah seorang dokter disana terdengar begitu menyedihkan, "Tidak ada yang membuat dokter lebih frustasi daripada mendiagnosis penyakit dan tak bisa mengobatinya. Dokter mungkin ingin mengoperasi, tapi ia tak bisa melakukannya karena tak ada listrik. Bisakah Anda mengerti, betapa sulitnya bagi saya untuk tetap diam dan hanya memandang saat seorang anak meninggal?"

Bayi perempuan usia 2 bulan di Irak
Anak kurang gizi di Etiopia (1992)
Bayi yang tidak mendapat inkubator di Haiti (1995)
Salah satu cerita yang paling berkesan usai saya membaca ini adalah bagian ketika Ny. Kuroyanagi mengunjungi Rwanda pada tahun 1994—satu tahun sebelum saya lahir. Bagaimana perasaan kita ketika menjumpai dua ribu mayat tanpa kepala bertumpukan? Dibiarkan begitu saja sebab tak ada anggota keluarga yang tersisa untuk menguburkan. Saya sampai bergidik ketika membaca cerita tentang seorang anak laki-laki di Rwanda yang suatu saat ditanya oleh tim UNICEF, “Apakah benar orang tuamu dibunuh?” dan ia hanya menjawab, “Aku tidak tahu”.

Awalnya dikira bocah laki-laki itu masih terlalu kecil untuk mengingat kejadian. Namun tak lama, ia berlari menghampiri tim UNICEF yang sebelumnya bertanya. “Sebenarnya aku tahu,” ujarnya, “Well, begini. Penerjemah yang tadi bersamamu adalah orang yang membunuh orang tuaku.” Maksudnya, jika ia memberitahu bahwa orang tuanya dibunuh, ia akan menjadi korban selanjutnya. Di Rwanda pula, kebon kopi mengeluarkan aroma busuk. Bukan karena kopi yang membusuk, melainkan karena bau ratusan mayat yang dikuburkan disana. Bahkan hotel pun bau busuk. Orang-orang dipaksa masuk berdesakan ke kamar hotel seperti ikan sardine lalu dibantai. Pilu sekali. 

Ada terlalu banyak cerita menarik yang saya bahkan bingung untuk memilih penggalan mana yang hendak dituliskan disini. Ketika membaca tentang ranjau dan bom yang bertebaran dimana-mana di wilayah Bosnia-Herzegovina, pada kunjungan Ny. Kuroyanagi tahun 1996, saya tak habis pikir hal macam apa yang ada dalam pikiran para pelaku. Ranjau darat diletakkan di tanah dalam bentuk es cone, dan akan meledak ketika anak-anak mulai memakannya. Bom sengaja dibentuk seeperti cokelat, dan akan meledak ketika kertas perak pembungkusnya dibuka. Bom bahkan juga disembunyikan di dalam boneka. Dalam buku ini, Ny. Kuroyanagi menuliskan, “Betapa mengerikannya orang-orang yang sengaja mempelajari psikologi anak hanya untuk membunuh anak-anak!”

Anak laki-laki di Sarajevo (1996)
Ny. Kuroyanagi dan anak-anak Bosnia (1996)
Tidak banyak yang saya ceritakan disini. Sebagian gambar di atas barangkali cukup mengabarkan isi bukunya. Begitu semerbak pelajaran yang saya dapatkan dari ragam cerita yang dituturkan Ny. Kuroyanagi mengenai perjalanannya. Anak-anak seringkali memberikan pelajaran penting bagi orang-orang yang dikatakan sudah dewasa.

Terakhir, berbahagialah mereka yang berbagi cerita bermanfaat melalui tulisannya. Bagi siapapun, saya pikir buku ini sangat recommended. Serius! :)


Monday, February 4, 2019

Ranggas


Air mengalir dari hulu ke hilir
Hujan turun basahi tanah tempat kami lahir
Kemudian pergi—bak ditelan bumi

Tinggallah kami terpaku tak mengerti
Coba cari segala arti dari yang terjadi
Pada ambang hidup antara komedi dan tragedi

Tapi Tuan,

Kata siapa ranggas daun pada ranting kami?
Kiranya sudi Tuan telisik kabar berita lagi

Sebab kami masih berdiri disini.

Sumber




Thursday, January 31, 2019

Satu Jodoh Dua Istikharah


Kali ini saya coba kembali menceritakan bacaan yang belum lama saya santap. Sebenarnya sudah lama sekali saya tidak membaca novel, terlebih dengan genre seperti ini. Novel berbau percintaan yang membahas soal jodoh-jodohan. Belakangan saya lebih menaruh minat pada bacaan-bacaan non-fiksi seputar pendidikan dan anak-anak. Tapi novel ini punya sejarah tersendiri.


Judul: Satu Jodoh Dua Istikharah
Penulis: Ma’mun Affany
Penerbit: Affany
Cetakan Pertama: Oktober 2016
Jumlah Halaman: 339 halaman

Saat berkunjung ke Gresik pada Desember 2018 lalu, saya dan mama menetap di rumah salah satu kerabat yang sebenarnya tak lain adalah keluarga salah satu teman seangkatan saya selama di Insan Cendekia. Teman saya sendiri saat ini tengah menempuh pendidikan di Jepang. Alhamdulillah, Allah pertemukan saya dengan keluarga Om dan Tante di Gresik yang ramah sekali dan sangat bersahabat. (Hikmah sekolah di boarding school, kerabatnya ada dimana-mana :D).

Kedatangan saya dan mama ke Gresik tidak lain untuk menyelesaikan beberapa persoalan di Jawa Timur. Jadilah kami bolak-balik Gresik-Surabaya-Malang. Dan selama itu juga keluarga Om dan Tante banyak membantu kami.

Kembali lagi ke novel. Mahabesar Allah dengan sekanario-Nya. Om adalah seorang manajer di salah satu percetakan di Gresik. Om juga merupakan seorang penulis. Saya dibekali empat buah buku, tiga di antaranya adalah novel dan satu buku lagi merupakan buku karya tulisan Om sendiri. Novel pertama yang disodori pada saya adalah novel ini, karya Ma’mun Affany—salah seorang karib Om—berjudul “Satu Jodoh Dua Istikharah”. Saat itu saya belum terpikir untuk membacanya. Masih terngiang dalam kepala saya bagaimana menuntaskan bacaan buku statistik olah data untuk penyelesaian tesis yang dengan kerelaan hati saya tinggalkan sementara di Jakarta (walaupun sebenarnya laptop tetap dibawa—meski sama sekali tidak tersentuh pada akhirnya—). Tapi saya menerima pemberian Om dengan sangat senang hati. Terbayang koleksi buku di rumah bertambah empat buah. :D

Qodarullah, begitu urusan di Jawa Timur selesai dan saya tiba di Jakarta, saya mulai membuka-buka novel ini. Agaknya menarik juga. Font size-nya pun terbilang besar, mungkin membacanya tidak akan menyita waktu lama. Jadi sembari menulis tesis, sesekali saya buka si novel. Mengisi kejenuhan di sela waktu melihat layar laptop.

Sebenarnya, sinopsis di bagian belakang buku ini bisa dibilang cukup menggambarkan isinya. Isi cerita berputar pada 3 tokoh utama; Salman, Tania, Fatimah.


Salman adalah seorang direktur muda. Ia tampan, kaya, baik hati pula. Barangkali penggambaran Salman dipotret sedemikian semerbak, sampai pembaca dibawa pada kenyataan pahit bahwa ternyata Salman punya luka hingga sering main perempuan. Adapun Tania, perempuan yang terikat pada kontrak dengan mucikari, naas sebab ibunya sendiri yang menenggelamkan ia pada dunia gelap. Tania digambarkan unik, sebab pakaiannya dideskripsikan rapi tak sebagaimana perempuan malam pada umumnya. Ia juga dibekali dengan mukenah; perangkat sholat meski apa yang akan dilakukannya adalah perbuatan nista. Adapun Fatimah, gadis muda yang berprofesi sebagai dokter, digambarkan nyaris sempurna. Cantik, menawan, baik hati, namun jelas ia "keras kepala". Mati-matian membela Salman meski ia tahu akan sejuta cela pada laki-laki pujaannya itu.

Menurut hemat saya, inti dari cerita dalam novel ini adalah tentang penerimaan. Barangkali Fatimah menjadi satu-satunya tokoh utama yang paling “bersih”, setelah Salman yang di balik gemerlap prestasi dan kemewahan pencapaiannya ternyata menyimpan luka, atau Tania; perempuan berhati mutiara yang terjerembab dalam dunia gelap malam. Ma’mun Affany seolah hendak menyampaikan bahwa ada ruang dalam diri manusia yang hanya bisa ditaklukan dengan penerimaan atas titik lemahnya. Sebagaimana Salman yang akhirnya luluh atas segala penerimaan tanpa cela dari Fatimah, atau Tania yang rela menjadi abdi sepanjang hidup oleh sebab penerimaan utuh dari seorang Salman.

Saya tidak akan menceritakan ceritanya secara lengkap. Nanti jadi spoiler, hhe. 😊 Sebagai pembaca yang sebenarnya bukan sebenar-benar penikmat novel roman, saya bisa katakan bahwa novel ini worth to read. Terima kasih pada penulis, Ma’mun Affany, karena sudah menulis dengan apik :D bahasanya ringan, mengalir, mudah dipahami, dan tidak bertele-tele. Sukses menghadirkan penokohan yang terdeskripsi dengan jelas meski tanpa dijabarkan detail di dalam novel. Tapi dengannya, saya jadi mengenal dan bisa turut menjelaskan seperti apa sosok Salman, Tania, juga Fatimah, yang mungkin saja mereka ini ada versi riilnya di dunia nyata entah dengan nama siapa. Novel ini berhasil membuat saya memperluas jangkauan pandang atas dunia yang mungkin selama ini luput dari wawasan.

Terakhir, pembelajaran penting khususnya bagi perempuan barangkali hadir dari sosok Fatimah. Bukan atas sikap “buta” nya sebelum menikah, melainkan ketika ia berperan sebagai istri bagi suaminya. Melalui sosok Fatimah, penulis seolah hendak menyampaikan bahwa ada peran istimewa yang dimiliki perempuan sebagai istri, “Tugas utama perempuan adalah mengubah laki-laki menjadi lebih baik dalam agamanya, dan menjadikannya lebih semangat menjalani kehidupannya.”



Menarik. Sebab kaum perempuan kadang lupa bahwa mereka juga punya peranan jadi pendamping, bukan hanya sekadar untuk dibimbing. :)