Showing posts with label children. Show all posts
Showing posts with label children. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

EVALUASI SOSIAL PADA BAYI DAN BALITA

Kali ini kami akan membahas artikel berjudul How Infants and Toddlers React to Antisocial Others yang dipublikasikan pada 2011 dan ditulis oleh Hamlin dkk. Dari judulnya, sedikit banyak dapat diperkirakan bahwa artikel ini bicara tentang bagaimana bayi dan anak balita memberi respon akan perilaku antisosial pada orang lain.

Hal yang bagi saya menarik dari penelitian ini adalah, bahwa Hamlin dkk. tidak hanya sekadar melakukan penelitian tentang bayi dan balita, melainkan melibatkan bayi dan balita. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi kaya akan informasi dan menjelma jadi enlightenment. Ia tidak hanya berbicara tentang teori dan bagaimana pandangan para ahli ataupun orang tua yang menjadi narasumber, melainkan langsung menyentuh tokoh utama sebagai subjek penelitian. Berikut tabel yang berisikan informasi mendasar mengenai artikel yang sedang dibahas.

Judul
How infants and toddlers react to antisocial others
Dipublikasikan pada
PNAS (Proceeding of The National Academy of Sciences of the United State of America). 108(50): 19931-19936
Tahun
2011
Penulis
J. Killey Hamlin (a); Karen Wynn (a); Paul Bloom (b); Neha Mahajan (b)
Lembaga/instansi
a= Department of Psychology, University of British Columbia
b= Department of Psychology, Yale University, New Haven
Abstrak
Although adults generally prefer helpful behaviors and those who perform them, there are situations (in particular, when the target of an action is disliked) in which overt antisocial acts are seen as appropriate, and those who perform them are viewed positively. The current studies explore the developmental origins of this capacity for selective social evaluation. We find that although 5-mo-old infants uniformly prefer individuals who act positively toward others regardless of the status of the target, 8-mo-old infants selectively prefer characters who act positively toward prosocial individuals and characters who act negatively toward antisocial individuals. Additionally, young toddlers direct positive behaviors toward prosocial others and negative behaviors toward antisocial others. These findings constitute evidence that the nuanced social judgments and actions readily observable in human adults have their foundations in early developing cognitive mechanisms.
Keywords: cooperation, infancy




Penelitian ini terdiri atas 5 eksperimen yang melibatkan bayi dan balita dengan berbagai usia. Pada masing-masing eksperimen, subjek diberikan perlakuan untuk kemudian dilihat reaksinya. Untuk lebih rinci, saya merangkum tujuan, subjek, metode, dan hasil dari masing-masing eksperimen pada tabel berikut.

Tujuan Penelitian
Untuk memastikan perkembangan alami dari kemampuan untuk mengevaluasi keadaan sosial pada bayi praverbal dan pada balita yang baru saja memasuki tahap verbal.
Subjek Penelitian
Eksperimen 1: Bayi usia 5 bulan dan 8 bulan
Eksperimen 2: Bayi usia 8 bulan
Eksperimen 3: Bayi usia 9 bulan
Eksperimen 4: Balita usia 19 bulan -23 bulan
Eksperimen 5: Balita usia 19.20 bulan – 22.29 bulan
Metode Penelitian
·         Eksperimen 1
Bayi dipertontonkan tayangan akan adanya tokoh (boneka tangan) yang mendapat pertolongan untuk membuka box dari “boneka prososial” dan “boneka antisosial”. Kemudian setelah mengobservasi interaksi tersebut, bayi diminta untuk mengevaluasi tokoh baru yang berlaku sebagai penolong (kemudian disebut Giver) dan berbahaya (kemudian disebut Taker) bagi tokoh yang sebelumnya berperan sebagai boneka prososial dan boneka antisosial.
·         Eksperimen 2
Serupa pada Eksperimen 1, namun target diganti bukan menjadi pelaku melainkan menjadi korban (berbeda pada Eksperiman 1 dimana target adalah boneka prososial dan boneka antisosial. Pada eksperimen 2, target adalah korban dari perilaku kekerasan/antisosial). Kemudian, target ditampilkan bermain bola yang diambil oleh Taker kemudian dikembalikan oleh Giver (Taker dan Giver merupakan tokoh yang sama dengan yang ditampilkan pada Eksperimen 1)
·         Eksperimen 3
Subjek diganti dengan balita berusia 19 bulan, dan diperlakukan sama seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2.
·         Eksperimen 4
Balita usia 9-23 bulan bermain permainan pemanasan dengan diminta untuk memberikan “treats” kepada beberapa boneka hewan dengan meletakkan balok kepada wadah masing-masing boneka hewan. Kemudian ditampilkan bahwa boneka hewan sangat senang mendapat “treats” tersebut.
Setelah itu balita dipertontonkan tayangan seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, kemudian diminta untuk memilih apakah akan memberi “treats” pada Giver atau Taker. Balita dihadapkan pada dua kondisi (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
·         Eksperimen 5
Sekelompok balita yang baru diajarkan untuk memberi treat pada hewan dan memilih dari dua karakter untuk memberi atau mengambil treat dari karakter tersebut. Balita dipertontonkan tayangan yang sama seperti pada Eksperimen 2 melibatkan tokoh yang ditolong dan diganggu. Kemudian diminta untuk memilih apakah memberi atau mengambil kepada/dari Helpee (ditolong) dan Hinderee (diganggu)
Hasil Penelitian
     §  Eksperimen 1
-          12 dari 16 bayi 5 bulan dan 12 dari 16 bayi 8 bulan memilih Giver ketika target merupakan boneka prososial. ketika target merupakan boneka antisosial, 14 dari 16 bayi 5 bulan memilih Giver sedangkan 13 dari 16 bayi 8 bulan memilih Taker.
-          Pada usia 8 bulan, bayi memilih tokoh yang berlaku positif pada pihak prososial dan memilih tokoh yang berlaku negatif pada pihak antisosial.
§  Eksperimen 2
-          13 dari 16 bayi memilih Giver dari Taker. Berbeda signifikan dengan pilihan bayi 8 bulan terkait tokoh antisosial pada Eksperimen 1.
§  Eksperimen 3
-          Pada target prososial= 12 dari 16 memilih Giver
-          Pada target antisosial= 14 dari 16 memilih Taker
-          Pada target sebagai korban= 13 dari 16 memilih Giver
§  Eksperimen 4
-        13 dari 16 balita memilih untuk memberi “treats”pada boneka prososial.
-  14 dari 16 balita memilih untuk mengambil “treats” dari boneka antisosial.
-   Pilihan balita sangat berbeda signifikan pada dua pilihan keadaan yang dihadapkan (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
§  Eksperimen 5
-          11 dari 16 balita memilih untuk memberi pada Hinderee
-          13 dari 16 balita memilih untuk mengambil dari Helpee
-          Balita pada kondisi Taking menghindari mengambil treat dari tokoh yang telah mengalami gangguan sosial dari pihak ketiga. Respon ini bertolak belakang dengan yang diprediksikan pada Eksperimen ketika target sebagai korban.
-  Menunjukkan bahwa balita yang lebih tua memiliki kemampuan memberi empati. Balita menghindari mengambil dari karakter yang telah diganggu karena mereka dapat merasakan simpatik padanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dapat melakukan evaluasi sosial secara sederhana dengan statement “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa balita dapat merasakan simpatik kepada pihak lain di luar dirinya. Menurut saya pribadi, agaknya Hamlin dkk. cukup berhasil menunjukkan bahwa setiap individu dewasa hari ini memiliki fondasi kognitif moral sejak dini. Dalam bahasa lain, kita dapat mengatakannya sebagai hati nurani, atau juga akrab dengan istilah fitrah; nilai-nilai yang tertanam sejak lahir secara manusiawi.

Saya jadi ingat akan teori perkembangan moral dari Bandura yang menyebutkan bahwa perkembangan moral anak merupakan hasil observasi dan imitasi— hingga dipertanyakan dimanakah peran aspek internal? juga teori Piaget dan Kohlberg yang memperoleh tanggapan kritis dari beberapa kalangan karena menyebutkan bahwa bayi tidak memiliki moral reasoning. Teori keduanya belum dapat menjelaskan tentang bagaimana pendidikan karakter pada usia dini dapat dilakukan, mengingat baik Piaget maupun Kohlberg mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun belum dapat memahami moral. Barulah Thomas Lickona muncul dengan teori yang lebih komprehensif nan kiranya dapat lebih menjelaskan dan menjawab teori-teori sebelumnya. Lickona menggabungkan berbagai teori sekaligus (termasuk padangan Piaget dan Kohlberg) sehingga melahirkan 6 tahap perkembangan moral pada manusia, sebagai berikut.
.
1. Fase bayi (0- 3 tahun) = fondasi moral
2. Fase 1 (+- 4 tahun) = berfikir egosentris
3. Fase 2 (4,5-8 tahun) = patuh tanpa syarat
4. Fase 3 (8,5-14 tahun) = memenuhi harapan lingkungan
5. Fase 4 (16-19 tahun) = ingin menjaga kelompok
6. Fase 5 (>20 tahun) = moralitas tidak berpihak

Fase bayi (0-3 tahun) merupakan fondasi awal bagi perkembangan moral. Pada fase ini, bayi membutuhkan bonding dan attachment dengan orang tua terutama ibunya. Orang tua perlu memberikan ekspresi cinta, rasa aman, stimulasi fisik dan mental, serta keseimbangan antara kasih sayang dan otoritas. Berkaitan dengan hasil penelitian Hamlin et al. (2011), anak-anak yang menunjukkan evaluasi sosial yang baik boleh jadi tumbuh dari keluarga yang telah memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan moral pada masa bayi tersebut. Perkembangan anak akan selalu melibatkan dua faktor secara garis besar; nature dan nurture (bawaan dan oleh faktor lingkungan).

Adalah hal yang menarik dalam penelitian Hamlin dkk, bahwa ternyata bayi yang mungkin sebagain besar masyarakat menilainya “belum mengerti apa-apa,” ternyata mampu mengevaluasi dan memilih sesuai dengan nilai-nilai nurani. Saya jadi ingat pertanyaan salah seorang ibu muda pada satu-dua tahun lalu, ketika saya asyik menggendong anaknya dan mengajak si anak berbincang-bincang tentang benda-benda di sekelilingnya. Ibu muda yang tidak lain adalah kawan saya itu lantas bertanya, “Emang dia udah ngerti ya, Ris, diajak ngobrol begitu?” saya dengan keilmuan yang sangat terbatas kemudian menjawab, “Yaa mungkin saja belum ngerti sekarang. Tapi insyaAllah terinternalisasi. Kalau pun nggak ngerti, minimal diajak ngobrol dan itu berdampak baik buat dia. Semoga ya, hhe..” belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata bayi jauh lebih cerdas dari apa yang saya duga sebelumnya.

Anak balita pun ternyata memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa simpati. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari Eksperimen 5 yang menyebutkan bahwa anak balita lebih memilih untuk memberi pada tokoh yang telah mengalami keburukan, dan lebih memilih untuk mengambil dari tokoh yang sebelumnya mendapat pertolongan. Apa artinya? kita dapat lebih mudah memahami dengan ilustrasi seperti ini: berikan bantuan pada seseorang yang lebih membutuhkan. Jangan mengambil/meminta sesuatu pada seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu tersebut. Menurut saya, ini adalah konsep sederhana dari saling memahami. Terlebih lagi, ia merupakan landasan dasar dari kepekaan sosial antar manusia.

Kesimpulan penelitian
- Bayi dapat melakukan evaluasi sosial, yaitu bahwa “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”.
-     Balita dapat merasakan simpatik.
- Orang dewasa telah memiliki fondasi sejak dini terkait mekanisme kognitif.






Apa yang dilakukan oleh Hamlin dkk. bukan merupakan penelitian pertama yang fokus pada perilaku sosial dari anak-anak. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa balita terlibat dalam perilaku sosial terhadap orang dewasa dan remaja, berlaku prososial terhadap koban tindak antisosial, dapat melakukan protes selama atau setelahnya, dan secara selektif memberikan penghargaan pada pihak prososial dibandingkan antisosial. Uraian lebih lengkap mengenai teks lengkap artikel hasil penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut: KLIK DISINI. Selain itu, penelitian di Yale Univeristy ini juga diliput oleh CNN TV yang dapat disaksikan melalui situs YouTube melalui tautan berikut: KLIK DISINI.

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada perbedaan pendapat antar tokoh mengenai satu pertanyaan sederhana: apakah bayi dilahirkan dalam keadaan “tabula rasa”? ataukah setiap bayi lahir degan keadaan memiliki “blue print”? bahasa lainnya ialah perdebatan antara konsep nature vs nurture. Juga perbedaan pandangan akan satu pihak yang memandang bayi terlahir “baik” sehingga harus dijaga, dan bayi terlahir “jahat” sehingga harus dididik dan memperoleh pembelajaran. Ialah pemikiran-pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai mcam hipotesa. Sebagain berujung teori, sebagian lain boleh jadi cukup berakhir pada tanda tanya dan asumsi.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Seiring dengan waktu, fakta-fakta ilmiah bermunculan yang boleh jadi menjawab berbagai pertanyaan pada masa sebelumnya. Contohnya adalah teori perkembangan moral yang hari ini semakin jelas beserta contoh praktis untuk orang tua tentang bagaimana cara mendidik moral anak. Hari ini kita dapat dengan mudah membaca buku parenting, mulai dari yang bentuknya “serius” menjadi referensi ilmiah, sampai yang menggunakan bahasa populer untuk dibaca oleh kalangan umum. Namun sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW, sekian tahun silam, melalui sabdanya telah memberikan petunjuk pada kita mengenai perkembangan anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Setiap manusia memiliki hati nurani. Kemudian bekal yang telah dimiliki itu lantas berinteraksi dengan lingkungan, yang dalam hal ini disebutkan ialah orang tua. Pengasuhan yang dilakukan orang tua turut berkontribusi pada seperti apakah kepribadian anak akan terbentuk, nan menjadi apa dan beragama apa si anak kelak. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan yang menyebut adanya faktor bawaan dan faktor lingkungan (herediter dan lingkungan), maka fitrah, menurut hemat saya, adalah faktor bawaan yang mutlak ada dan seragam pada setiap manusia; di luar faktor bawaan lain yang sifatnya ciri fisik atau kecerdasan nan tempramen— yang boleh jadi berbeda pada masing-masing individu.


***

Jadi kalau ada yang bertanya (lagi): ”Apakah agama adalah warisan?”
kira-kira, Anda akan menjawab apa? J

Mungkin tergantung dari pemaknaan kita tentang “agama” dan “warisan” itu sendiri. Yang pasti, setiap manusia terlahir dengan fitrah. Dan saya haqqul yaqin, itu adalah fakta absolut yang mutlak.



Ditulis di Batavia,
Pada 8 Ramadhan 1438 H

Tuesday, February 14, 2017

Anak-anak Cibunian

Kamu tahu? sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Hingga salah satu dari mereka memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” mendengarnya, kemudian aku salah tingkah.

ANAK-ANAK CIBUNIAN
Oleh: Rizky Sahla Tasqiya
           
Jika Indonesia adalah syurganya dunia, aku berani bilang bahwa Desa Cibunian adalah syurganya Pamijahan. Dengan luas yang mencapai 1.258 hektar, Cibunian sukses menjadi desa terluas di Kecamatan Pamijahan. Letaknya yang berada di kaki gunung salak menjadikan desa yang kental dengan budaya Sunda ini berudara sejuk, asri, dan tentu saja; captureable! Indah. Percayalah, bagi orang asal Jakarta sepertiku, menyaksikan gunung ketika membuka jendela kamar setiap harinya ibarat mendapat siraman air dingin di tengah terik panasnya matahari. Menyenangkan sekali.
Aku bersama lima orang teman lainnya tinggal di Desa Cibunian selama dua bulan untuk menjalankan program KKN-T (Kuliah Kerja Nyata - Tematik) yang diwajibkan oleh Institut Pertanian Bogor, perguruan tinggi tempat kami menimba ilmu. Bersyukur, kami ditempatkan di tempat yang begitu memanjakan mata. Tapi hal yang paling aku syukuri dari tempat ini adalah keceriaan desa yang ramah dan ramai oleh anak-anak. Mereka memanggil, menarik ujung baju, mengajak bermain, mengaji, minta diajarkan mengerjakan PR, bahkan mereka juga menciptakan berbagai macam kejutan. Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Sederhana memang, tapi siapa juga yang berani melarang seseorang untuk bercita-cita?
Namanya Putri. Salah satu dari sekian anak yang membuat hari-hariku di Pamijahan jadi begitu menyenangkan. Putri agak berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Ia sering kudapati tidak berkelompok. Seperti ketika kami latihan drama untuk pementasan di kantor desa misalnya, ia tidak tertarik untuk diajak bergabung. Hanya menonton sambil tersenyum malu-malu tiap kuajak ia untuk ikut memainkan peran. Atau ketika kami bermain di sungai, saling melepas canda. Putri justru asyik sendiri. Sama sekali berbeda dengan beberapa anak lain yang ricuh saling berebut memegang tanganku, lantas menarikku menuju tengah derasnya arus.
Satu ketika, kudapati pelipis Putri berdarah. Kutanya mengapa, ia hanya menggelengkan kepala. Tanpa ekspresi. Aku dibuat heran, bagaimana ia begitu tenang sementara darah nyata megalir di pelipisnya? Rasa-rasanya aku yang lebih heboh mencari obat merah dan plester luka. Hei, ternyata bukan hanya itu yang membuatku jadi bertanya-tanya. Setiap Putri ikut serta dalam permainan kami, tak jarang, yang lain justru berkomentar negatif. Komentar polos khas anak-anak seperti “Ih Kak… itu ada si Putri” atau “Yah Kaak, itu Putrinya,” membuat aku mulai berfikir: memangnya kenapa kalau ada Putri?
Main di sungai adalah aktivitas yang paling ditunggu oleh anak-anak Cibunian. Aku sih senang-senang saja. Bahkan cenderung kegirangan. Orang yang hobi hujan-hujanan sepertiku diajak main ke sungai— oleh anak-anak pula. Nikmat mana lagi yang pantas didustakan? Cita sederhanaku terkabul secara kontan. Tapi yang aku khawatirkan adalah perihal izin dari orang tua mereka. Aku tahu, kadang mereka belum meminta izin utuk main ke sungai. Hingga pada suatu sore, kekhawatiranku menjadi kenyataan.
Sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Menyapu pasir yang terhampar di sepanjang perjalanan pulang. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Aku asyik menanggapi ocehan mereka satu per satu, hingga ada yang memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Putri. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” demi mendengarnya, aku jadi salah tingkah. Lantas menjawab sambil tertawa kecil menutupi kegugupanku, “Hha iyaa, Kak Riris juga sayaang sama Putri,” lanjutku. Ia menyimpul senyum lagi. Aku balas tersenyum. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
Rumah tempatku tinggal bersebelahan dengan rumah Putri. Dengan pakaian yang basah dan kotor sehabis bermain di sungai, aku mencoba membuka kran di halaman samping rumah yang posisinya tepat berada di samping rumah anak delapan tahun itu. Lantas aku mulai membersihkan sandal dan ujung-ujung pakaian yang dihiasi pasir. Hingga sayup-sayup kudengar makian seorang perempuan muda kepada seseorang di rumah sebelah.
Kalau Kamu ada di posisiku, mungkin Kamu akan mengerti betapa menyedihkannya keadaan itu. Pertama, Kamu mendengar makian dari seseorang kepada anak kecil tepat di sebelahmu namun kalian berbataskan dinding dan Kamu tidak punya kuasa apa-apa. Kedua, Kamu bahkan tidak dapat mengerti arti kata per kata yang Kamu dengar, mengingat kemampuan berbahasa Sunda-mu yang payah sekali. Ketiga, Kamu adalah pihak yang ikut terlibat menjadi sebab dari diomelinya anak yang baru saja menyatakan rasa sayangnya padamu. Semoga tidak hiperbola, tapi Kamu tahu? saat itu aku sedih sekali. Perasaan bahagia usai main ke sungai bersama anak-anak seperti habis tidak bersisa. Habis hingga ampas-ampasnya.
Putri dimarahi sang ibu karena ia main ke sungai sampai sore hari tanpa izin terlebih dahulu. Meski aku tidak mengerti bahasa Sunda seutuhnya, tapi aku tahu persis deret kalimat itu adalah sumpah serapah. Kudapati beberapa kata kasar terlontar dibarengi dengan suara guyuran air. Aku sama sekali tidak menyangsikan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Sama sekali tidak. Hanya, ekspresi sayang semacam itu terlalu menyedihkan. Lebih menyedihkan ketika menyadari bahwa aku tidak tahu apa yang dapat kuperbuat.
Kejadian itu sampai pada telinga Ibu, pemilik rumah tempat aku tinggal. Kuceritakan juga pada Ibu perihal kesedihanku. Beliau lantas menghiburku dan mengatakan bahwa aku tidak perlu sedih berlebihan karena kejadian itu. Pasalnya, hal tersebut bukan kali pertama terjadi.
“Nggak usah sedih, Teh Riris…” ujar Ibu yang masih tergolong saudara dekat dengan keluarga Putri, “itu mah sudah sering Ibu bilangin dari dulu supaya jangan terlalu keras mendidik anak. Tapi ya masih begitu juga,” lanjutnya. Menurut Ibu, beberapa kali sudah orang tua Putri diingatkan, namun tidak ada perubahan berarti. Putri dan adiknya yang masih kecil tidak jarang dimarahi karena hal yang sebenarnya sangat lumrah dilakukan oleh anak-anak seusia mereka.
Meski menyedihkan, kejadian itu memberi jawaban atas beberapa pertanyaanku perihal keadaan Putri. Jika mengetahui keadaan keluarganya sedemikian rupa, aku tidak heran mengapa ia tumbuh menjadi anak yang tak mudah bergabung dengan anak-anak lainnya, tidak menangis ketika pelipisnya berdarah akibat goresan bambu, atau kerap melakukan hal-hal aneh demi menarik perhatian seperti berdiri di tengah-tengah khalayak ketika acara berlangsung, misalnya. Iya, anak itu –Putri- haus akan perhatian. Dan ia tidak terbiasa ‘dimanja’ atas hal sesederhana luka dan sedikit darah pada pelipisnya.
Bagian paling berat dari kegiatan KKN-T adalah –apalagi jika bukan- perpisahan. Acara perpisahan kami lakukan dengan sederhana di kantor desa, pada malam terakhir sebelum kami harus kembali kepada rutinitas harian kampus. Penampilan drama anak-anak yang telah lama dipersiapkan jauh melampaui ekspektasi kami. Iya, jauh lebih bagus! mereka bahkan tetap bersemangat meski malam itu mati lampu disertai hujan deras yang menjadikan kantor desa tidak seramai rencana awal. Meski hanya ada beberapa orang tua yang hadir memenuhi undangan, acara perpisahan tetap jadi sangat berkesan. Mati lampu justru menjadikan kami semaki dekat. Kami makan bersama ditemani cahaya lilin; ditemani suara rintik-rintik hujan dari luar.
Bukan anak-anak Cibunian jika tidak pandai memberikan kakak-kakaknya kejutan. Kami mendapat persembahan yang manis sekali; penampilan pembacaan puisi serta menyanyikan lagu perpisahan yang dilakukan mereka bersama-sama secara acapella. Diam-diam aku mencari sosok Putri. Dia tidak ada di barisan anak-anak yang tampil di depan. Ah ya, anak itu selalu punya caranya sendiri. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia menghampiriku tepat sebelum aku dan teman-teman pamit pulang mengakhiri kegiatan KKN-T.
Aku memberikan secari kertas origami berbentuk hati yang sudah kupersiapkan untuk masing-masing anak termasuk Putri. Menerima pemberianku, ia terperangah.
“Buat Putri?” tanyanya.
“Iya, Buat Putri. Makasih ya sudah jadi teman Kak Riris,” balasku tersenyum sambil setengah jongkok. Menyejajarkan tinggi kami.
“Kak Riris…” Putri kemudian memanggilku, lantas mendekatkan mulutnya pada telinga kananku seraya mengatakan sesuatu, “terima kasih ya,” katanya lagi. Aku tertawa sambil megusap-usap kepalanya.
“Iyaa, sama-sama. Semangat ya Putri belajarnya!” ia mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.

Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Dan bersama anak-anak Cibunian, kurasa mereka lebih dari sekadar anak-anak; mereka adalah sahabat. Pada akhirnya aku tidak sekadar mewujudkan cita-cita, melainkan memperoleh banyak sekali pelajaran dari mereka. Tentang apa itu keberanian dan kejujuran, juga tentang apa itu ketulusan— seperti pelajaran yang kudapat dari seorang anak perempuan usia delapan tahun bernama Putri...

Sungai yang tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal

Tulisan ini dibuat beberapa bulan lalu pada penghujung 2016, 
sebagai kenang-kenangan KKN-T Fema IPB.
(nama 'Putri' hanya samaran)

Thursday, June 9, 2016

Al-Qur'an dan Pendidikan

Beberapa waktu belakangan, pendidikan menjadi topik utama dalam rutinitas pikiran saya. Lalu qadarullah, tadi malam saya bermimpi yang saya curigai ia adalah konspirasi dari diskusi serta buku-buku dan materi yang saya baca.

“Jadi, pelajaran apa? IPA?” ujar perempuan berjilbab biru itu sambil memandang saya. Saya menggeleng tegas.

“Bukan, Kak,” jawab saya seraya melanjutkan, “pelajaran tentang tauhid. Keimanan,” mendengarnya, ia mengangguk. Menyetujui. Sementara kakak laki-laki saya duduk sambil menyimak diskusi yang bertepatan dengan giliran saya bicara.

“Gimana?” tanyanya lagi.

“Anak kecil itu masih bersih. Dia bisa menerima kebenaran dengan fitrah. Makanya penting disini untuk dibekali dengan tauhid; keimanan. Kenapa tauhid? Karena aspek itulah yang jadi motor utama dia kelak untuk jadi baik pada aspek-aspek lain seperti sosial, emosi, kognitif, dan lainnya,”

“Ya, ya” ia kembali mengangguk, “tunggu sebentar. Ini, biar kutulis konsepnya di kertas,” kemudian perempuan itu menyiapkan selembar kertas kosong dan alat tulis. Selagi saya bicara, ia terus lihai menggerakkan tangannya. Menerjemahkan perkataan saya menjadi mind mapping di atas kertas.

“Al Qur’an, Kak. Selama ini Al-Qur’an masih jadi buku kedua. Dalam waktu enam tahun usia SD, umur sekolah yang paling lama, disini lah dasar-dasar itu penting diajarkan. Kita terapkan Al-Qur’an sebagai satu-satunya buku paket utama. Biar lama, tapi sedikit-sedikit dan bertahap. Ini pedoman hidup. Bagaimana bisa anak-anak tidak dikenalkan pada pedoman hidupnya sejak dini?” yang saya ajak bicara tidak banyak berkata. Ia hanya bergumam kecil; tanda menyetujui.

Lalu entah dapat ilham darimana, saya terus saja berujar. Ada dorongan kuat dari dalam untuk menumpahkan fikiran yang lama terpendam. Ada semacam perasaan “saya boleh tidak mendapat kesempatan optimal dalam mengenal Al-Qur’an sejak dulu. Tapi generasi besok jelas harus punya kesempatan itu.”

Selesai saya bicara banyak, kertas itu telah apik merangkum konsep besar kami. Saya bahkan masih ingat beberapa garis dan tulisan yang tertera di sana –yang dibuat oleh seorang perempuan yang saya ingat wajahnya namun tiada saya tahu siapa ia.

**

Sebenarnya, penggal percakapan yang saya ingat dari mimpi tadi malam lebih detil dari apa yang saya tuliskan di atas. Namun sayang, saya tidak tahu bagaimana cara menuliskan redaksinya.

Beberapa waktu lalu, kepala saya berfikir tentang gagasan pendidikan. Selama ini, pelajaran agama kebanyakan masih menjadi subjek pelengkap dan seolah nomor dua. Padahal, semakin kesini saya semakin menyadari bahwa justru agama ini lah yang paling penting dan utama untuk kehidupan seseorang. Saya masih jauh sekali dari tahap ini, namun saya berfikir, ketika seseorang memahami agama, maka sejatinya ia akan menuntut ilmu yang lain dengan sungguh-sungguh. Karena, hei, bahkan kedudukan ilmu sangat dimuliakan dalam agama, bukan?

"Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dilakukannya." (Rasulullah SAW)

Namun waktu itu saya sama sekali belum berfikir akan buku paket. Saya justru secara amatiran membandingkan perihal kurikulum dan sistem pembelajaran di beberapa model sekolah mulai dari SD, MI, pesantren, hingga IT. Meski belum mendalam, tapi saya mulai menemukan titik perbedaan dan celah yang membuat saya berfikir akan gagasan di atas. Alih-alih melirik Al-Qur’an, saya justru mencari tahu kira-kira bagaimana caranya pengajaran itu terintegrasi dengan agama yang jadi pusat utama -dengan tetap membawa ilmu-ilmu teknis dalam kehidupan? Buku paket macam apa yang harus dibuat? Kurikulum seperti apa?

Hingga tadi malam saya bermimpi seperti yang telah saya ceritakan. Lagi, saya 'ditampar'. Bahkan ternyata ‘buku paket’ itu telah berada begitu dekat dengan kita. Namun sayang, ia tidak benar-benar difungsikan sebagaimana mestinya oleh kebanyakan orang. Ia tersimpan rapi di laci dan lemari, dibaca tanpa dimaknai, dihormati tanpa diresapi. Meskipun demikian, saya bersyukur negeri ini masih menyimpan ‘budaya’ mengaji. Alhamdulillah. Bahkan anak-anak di sekitar asrama tempat saya tinggal tidak sedikit yang minta diajari mengaji (membaca Al-Qur’an). Ia adalah suatu kebahagiaan yang patut disyukuri. Namun, saya lantas bertanya kepada diri sendiri: mengapa tidak kita bangun rasa ingin tahu mereka? Tidakkah mereka penasaran dengan isi dan makna bacaan yang mereka baca itu?

“Kak, emangnya gimana sih cerita pemuda yang hidup di gua? Ceritain, Kak,” tiba-tiba saya ingat degan pertanyaan adik saya yang masih duduk di bagku kelas 5 SD. Saat itu saya menjawab setahu saya, berdasarkan apa yang telah saya pahami selama ini. Lalu dengan bijak, ayah saya menimpali,

“Coba buka Al-Qur’an surat Al-Kahfi. Baca aja, disana ada ceritanya,” ujar ayah. Tanpa saya duga, adik saya begitu bersemangat. Kemudian ia tekun membaca terjemah Al-Qur’an surat Al-Kahfi, disusul komentar dan beberapa pertanyaan sebagai buah dari rasa takjub dan rasa ingin tahunya.

“Al-Qur’an is not a book of science, it’s a book of sign.” Begitu dr. Zakir Naik pernah berujar di salah satu ceramahnya ketika menjawab pertanyaan seorang atheis.

SIGN! Petunjuk. Tanda. Pedoman. Al-Qur’an, kalamullah itu, ia akan tetap membawa kebaikan meskipun kita membaca tanpa mengerti maksudnya. Dengan Al-Qur’an, kita melembutkan hati dan menentramkan jiwa atas izin-Nya. Ialah itu bagian dari mukjizat Al-Qur’an. Adapun kemudian, bersyukur jika kita mengerti Bahasa Arab, karena memaknainya akan jadi lebih mudah. Bersyukur bagi kita yang mendapat kesempatan dan kemauan untuk belajar Bahasa Arab, karena nikmat itu sungguh luar biasa. Pemahaman akan pedoman hidup-- tidakkah itu menggiurkan? Tidak berlebihan pernyataan bahwa memaknai Al-Qur’an berarti memaknai kehidupan.

Adapun bagi kita yang belum mengerti Bahasa Arab, bersyukurlah. Karena detik ini terjemah Al-Qur’an telah tersedia. Meski tidak seideal jika kita memahami Bahasa Arab, namun jelas ia bisa dibaca dan memudahkan kita sebagai gerbang untuk memaknai kalamullah. In syaAllah.

Jika Ustadz Away Baidhowy sebagai guru Akidah Akhlak menginspirasi peserta didiknya untuk menjadi penulis mushaf Al-Qur’an, rasa-rasanya saya ingin mengajak mereka bersama-sama untuk mengkhatamkan Al-Qur’an beserta terjemahnya.

PS: Sampai detik ini pun saya belum selesai. Mohon doanya.


Sumber: google.com (keyword Al-Qur'an)

Batavia, 4 Ramadhan 1437 H


Sunday, April 3, 2016

Kelekatan Ibu-Anak (Kunci Membangun Bangsa)





Sejak membaca pendahuluan buku ini, saya seperti tengah diajak berbincang oleh Ibu Ratna Megawangi. Semoga tidak hiperbola, tapi saya merasakan bahwa Ibu Ratna menulis buku ini sungguh-sungguh dengan hati. Mengalir sekali. Ada ilmu yang hendak beliau bagikan kepada banyak orang terutama para orang tua (dan calon orang tua, tentunya) tentang kunci macam apa yang harusnya digunakan dalam hal membangun bangsa.

Pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF) ini mengungkapkan keyakinannya bahwa banyak orang tua sepakat dengan pernyataan “anak-anak dan remaja Indonesia banyak yang bermasalah,” namun tidak tahu mulai dari mana harus memperbaikinya. Katanya lagi, perdebatan panjang sangat mungkin terjadi, dan mungkin melibatkan berbagai pemikiran rumit dan kompleks mulai dari ideologi politik, sistem ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya.

Ketika duduk di bangku 12 Aliyah dan dalam masa-masa pencarian jurusan, ada sebuah pemikiran dalam kepala saya, “Saya tahu negeri ini banyak masalah. Dan berdasarkan hasil pengamatan saya, akar dari semua permasalahan terletak pada akhlak manusianya. Lantas saya harus melanjutkan studi dimana, untuk mendukung kontribusi dalam hal pendidikan akhlak?” Dahulu saya berfikir untuk masuk ke fakultas keguruan. Hingga qadarullah, Allah mempertemukan saya dengan IKK (IlmuKeluarga dan Konsumen) yang saya sama sekali tidak menyangka jurusan semacam ini sungguhan eksis di Indonesia. (Cerita saya bertemu IKK bisa dibaca disini).

Satu persatu pertanyaan yang dulu banyak saya ajukan mulai menemukan jawaban. Meski tidak dipungkiri, melahirkan semakin banyak pertanyaan lainnya –saya semakin tahu betapa miskinnya saya akan ilmu. Salah satu pertanyaan itu dijawab oleh Ibu Ratna melalui buku berjudul Kelekatan Ibu-Anak ini. Beliau membuka mata saya dengan menawarkan konsep common sense (pengetahuan umum logis, ‘semua orang juga tahu’) paling mendasar dalam kehidupan seorang anak manusia. Adalah itu kebutuhan akan cinta dan kasih sayang --yang dimulai dari kelekatan cinta antara ibu dan anak (attachment). Hal yang dianggap klise memang, namun sebagaimana Ibu Ratna yakin bahwa pembacanya akan setuju bahwa masalah kelekatan cinta adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang manusia, saya terhadap Anda pun demikian.

Dibuka dengan Bab Pendahuluan, buku ini terdiri dari sembilan bab disertai dengan beberapa lampiran. Hal yang saya sukai dari tulisan Ibu Ratna adalah bagaimana beliau memaparkan paradigmanya dengan jelas dan mudah dipahami. Penjelasan tentang kelekatan mulai dari mekanisme pembentuk, dampaknya terhadap perilaku ketika dewasa, aspek kimiawi dan hubungannya dengan perkembangan otak anak, tips membentuk kelekatan, hingga implikasi kebijakan dan program diulas menggunakan bahasa populer yang mengalir sekali.

Harlow melakukan penelitian untuk melihat dampak pemisahan ibu-bayi, namun dilakukan pada anak monyet. Bersama Zimmernan, Harlow memisahkan anak monyet tidak lama setelah dilahirkan, dan meletakkannya di sebuah kandang yang berisi 2 jenis surrogate mother (induk pengganti); yang pertama terbuat dari kawat yang dipasang sebuah tempat untuk menaruh botol susu sebagai makanan bayi monyet, dan yang kedua adalah induk yang terbuat dari kain berbulu tanpa diberikan botol susu.


Ternyata, bayi-bayi monyet tersebut berada sekitar 17 sampai 18 jam sehari bersama dengan induk dari kain berbulu, dan kurang dari 1 jam dengan induk kawat. Mereka hanya mendekati induk kawat ketika hendak minum susu saja, selebihnya kembali pada induk berbulu. Hasil penelitian ini mematahkan pendapat bahwa kelekatan bayi dengan ibunya karena alasan ingin mendapatkan makanan saja. Hal yan utama adalah kontak fisik dan kenyamanan.

Selanjutnya, dipaparkan bahwa kelekatan yang terbentuk sebagai hasil dari kontak fisik yang hangat dan transfer emosi yang penuh cinta akan sangat berperan pada pembentukan empati, nurani, dan perilaku pro-sosial. Saya beberapa kali menjumpai orang yang cenderung tidak mendukung prinsip ini, dengan alasan bahwa anak harus dididik dengan tegas dan disiplin untuk membentuknya jadi manusia yang berkarakter tangguh dan kuat. Padahal, keduanya sungguh bukan hal yang berlawanan, melainkan harus dijalankan secara seimbang, selaras, dan tepat sasaran serta caranya. Bukankah tegas dan disiplin adalah bagian dari ekspresi cinta? :)

Saya ingat perkataan salah satu khaulafaurrasyidin, Ali bin Abi Thalib. Beliau mengatakan bahwa dalam mendidik anak, dalam 7 tahun pertama perlakukan anak seperti Raja, 7 tahun kedua, perlakukan anak seperti tawanan perang, selanjutnya perlakukan anak sebagai sahabat.



Gambar di atas memperlihatkan perbedaan antara anak-anak yang diasuh secara normal dan penuh kasih sayang dengan anak-anak yang sejak bayi diasuh oleh panti asuhan di Rumania. Aktifitas otak yang paling aktif dan paling tidak aktif secara berurutan adalah warna merah-kuning-hijau-biru-hitam. Terlihat bahwa anak-anak yang sejak bayi diasuh orang tuanya memiliki warna merah dan kuning yang lebih dominan dibanding dengan anak-anak yang diasuh panti asuhan.

Meski tidak berlaku secara mutlak untuk semua kasus (mengingat ada juga anak yang lebih baik diasuh orang lain selain ibunya, jika sang ibu mengalami kelainan tertentu misalkan), setidaknya data tersebut sangat mendukung kita untuk mengatakan betapa pentingnya peran ibu dalam tumbuh-kembang anak, terutama sejak tahun-tahun pertama dimana anak sangat butuh diperlakukan sebagai 'raja'; ditumpahi kasih sayang seutuhnya. Termasuk juga peran seorang ayah, tentu saja. :)

Ada hubungan antara riwayat kelekatan orang tua ketika kecil dengan kualitas pengasuhannya. Mereka yang lekat dengan ibunya ketika kecil memiliki kecenderungan untuk melakukan pengasuhan dengan baik pula. Selain itu, kelekatan masa kecil bahkan memengaruhi kebahagiaan pernikahan, kesuksesan dalam karier, serta perkembangan spiritualitas. Dengan apik, buku ini menyediakan hasil dari studi literatur dan memaparkan penelitian terkait. Ibu Ratna juga memberikan beberapa tips praktis yang dapat dilakukan untuk membangun kelekatan, seperti rawat gabung, perawatan kanguru, sentuhan dan pijatan halus, tidur bersama, komunikasi verbal dan non-verbal, bercerita dan membaca buku, disiplin positif, dan bagaimana cara mengoreksi kegagalan kelekatan.

Salah satu kisah menarik yang beliau paparkan adalah cerita tentang orangtua (yakni ibu dari Ibu Ratna) yang pernah mengalami trauma masa kecil; mendekap adik satu-satunya yang tertembak lehernya dan meninggal dalam keadaan berlumuran darah. Sebuah trauma luar biasa, namun sungguh bisa diatasi dengan melepaskan, mengikhlaskan, berdamai, dan berbagi dengan orang lain. Akhirnya ibu dari Ibu Ratna pun berhasil membesarkan anak-anak dan meninggal usai shalat tahajud dalam keadaan tersenyum. MasyaaAllah! :')


Ah iya, buku ini saya pinjam dari Ibu Alfiasari, dosen pembimbing saya di IKK. Sebelumnya, buku ini pernah dibedah di mata kuliah Pengasuhan Anak. (Bisa dibeli di Departemen IKK IPB bagi yang berminat :)) Saya ingat betul bagaimana Ibu Ediana, dosen tamu dari IHF saat itu, memaparkan bahwa konsep pengasuhan anak modern yang didapat hari ini sungguh relevan dengan apa yang telah Rasulullah ajarkan. Hadits ini salah satunya:


Suatu hari Rasul didatangi oleh seorang Ibu (Sa’idah binti Jazi) yang membawa serta anaknya yang baru berumur satu setengah tahun. Kemudian anak tersebut diminta oleh Rasulullah. Anak tersebut mengompol/kencing. Karena mungkin segan anaknya telah mengotori Rasul maka ibu tersebut dengan agak kasar menarik anaknya dari pangkuan Rasul. Seketika itu Rasul menasihati Ibu tersebut, “Dengan satu gayung bajuku yang najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan, tetapi luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa kamu obati dengan bergayung-gayung air.”

Ya, luka di hati anak itu takkan bisa terobati meski dengan bergayung-gayung air. Ketika anak direnggut sedemikian rupa, ia akan mengalami stres. Emosi negatif menstimulasi produksi hormon stres yang akan menyebabkan sinaps-sinaps (pengubung sel-sel syaraf di otak) terhambat pertumbuhannya dan akan terpangkas (pruning). Termasuk juga terjadi pada bagian hippocampus yang menyimpan memori/ingatan, sehingga perkembangan kecerdasan anak dapat terhambat.

Secara keseluruhan, saya sangat berharap bahwa siapapun Anda, terutama bagi para orang tua, calon orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, juga pemangku kebijakan, agar bisa membaca buku ini (semoga) -sebagaimana Ibu Ratna berharap agar konsep common sense yang ia tawarkan dapat diketahui, didukung, dan dilaksanakan untuk rencana pembangunan jangka panjang bangsa (rencana pembangunan peradaban!) :) karena sungguh, apa yang saya ulas disini hanya sepersekian bagian dari keseluruhan isi buku. Semoga dapat menjadi pengantar dan memberi manfaat.