Showing posts with label hujan. Show all posts
Showing posts with label hujan. Show all posts

Thursday, March 5, 2020

Jas Hujan dan Daya Tahan

Bogor nyaris hujan setiap sore. Apalagi di musim hujan begini. Begitu juga kemarin sore, ketika aku dalam perjalanan ke rumah Kakak. Jarak yang perlu ku tempuh memakan waktu sekitar 45 menit.

Sepanjang perjalanan, aku mendapati banyak orang yang menggunakan macam-macam jas hujan. Mulai dari jas hujan yang terbuat dari plastik tipis transparan dan biasa kutemui di pinggir jalan atau minimarket seharga sepuluh ribuan, hingga jas hujan dengan bahan yang lebih tebal, dengan berbagai warna dan model yang kini semakin beragam.

Beberapa waktu sebelumnya, aku mendapati percakapan seperti ini.

"Bapak ada jas hujan?"

"Ada, Neng. Tapi jas hujan yang biasa."

Mengingatnya sore itu, membuatku berpikir. Seperti apa sih jas hujan yang biasa dan jas hujan yang tak biasa? Lalu perjalanan sore itu memberiku jawaban. Awalnya, aku berpikiran, "Yah, pada akhirnya fungsi jas hujan sama-sama melindungi pemakainya dari guyuran air hujan, kan? kalau sedang hujan begini, sepertinya sama saja mau pakai jas hujan yang manapun."

Tapi pemikiran itu seketika beralih, begitu mendapati beberapa pengendara sepeda motor menggunakan berbagai jas hujan. Ada seorang bapak dengan jas hujan ponco tipis berwarna hijau, ada pula pengendara lain dengan jas hujan berwarna oranye menyala yang terlihat lebih tebal.

Aku serta-merta merasa temukan jawabannya.

Daya tahan. Benar jika hanya dalam satu waktu aku melakukan penilaian, katakanlah aku menilai beragam jas hujan sore itu pada saat itu juga, mungkin aku akan memberi penilaian yang sama antara jas hujan tipis dan "biasa" dengan jas hujan berbahan plastik tebal yang bisa ditebak harganya pun akan lebih mahal. Toh keduanya sama-sama menjalankan fungsi dengan baik; melindungi penggunanya dari deras air hujan. Tapi semuanya akan jadi berbeda jika aku melakukan penilaian atas daya tahannya, dalam kurun waktu tertentu. Iya, kan?

Boleh jadi, keberfungsian dua jas hujan itu akan sangat berbeda. Misalkan saja jas hujan berbahan plastik tipis, penggunaannya mungkin tak akan lebih lama dari jas hujan dengan bahan parasut yang lebih tebal. Mungkin jas hujan tipis itu hanya kuat dipakai beberapa kali pemakaian, sebab ia mudah tergores dan sobek. Tak heran, biasanya jas hujan jenis ini diperuntukkan bagi keadaan darurat dan dijual dengan harga murah. Adapun jas hujan yang lebih baik kualitasnya (dan biasanya juga lebih mahal) mungkin dapat digunakan lebih lama dan berkali kali, juga tak mudah sobek. Daya tahan lah yang membedakan keduanya.

Setengah perjalanan menuju rumah Kakak, aku kembali berpikir demi memperhatikan rintik hujan yang membasahi jalanan, membasahi banyak kendaraan, juga menerpa wajah-wajah manusia yang tengah beranjak pada satu tujuan, termasuk aku.

Seperti jas hujan, mungkin di dunia ini memang ada orang-orang dengan daya tahan yang berbeda. Kita tentu akan menjumpai banyak orang baik. Banyaak sekali. Mungkin kita bisa memohon bantuan pada beberapa orang berbeda, dan mereka akan dengan sukarela membantu kita. Mungkin kita akan melakukan kesalahan pada beberapa orang lainnya, dan kesemuanya akan dengan tulus memaafkan kita. Tapi segalanya bisa jadi berbeda jika kita melakukan pengulangan terus-menerus pada orang yang sama. Seperti jas hujan yang memiliki daya tahan, manusia pun barangkali demikian.

Pada permohonan dan permintaan maaf atas kesalahan kita yang pertama, mungkin ia akan dengan tulus menerima dan memaafkan. Begitu juga pada permohonan dan kesalahan kita yang kedua dan yang ketiga. Namun pada yang keempat dan yang seterusnya? barangkali ia mulai tak peduli dan tak acuh. Mungkin benaknya seolah berkata pada kita, "Sudahlah, terserah kamu saja."

Jadi cobalah perhatikan, adakah seseorang yang padanya kita berkali-kali meminta bantuan, berkali-kali melakukan kesalahan dan meminta maaf, tapi ia begitu sabar, begitu luas penerimaannya?

Adakah seseorang yang padanya hujan air mata kita berkali-kali tumpah, tapi jas hujan miliknya sedemikian hangat mendekap, tak bosan dan tak goyah?

Jika ada, bersyukurlah.
Jika merasa tak ada, mungkin kita lupa bahwa selama ini kita punya Dia. :)

_______________________________________________

Kemudian aku menemukan postingan dan tulisan berbahasa Inggris ini di akun instagram @thepractisingmuslimah tadi pagi, dan sepertinya relevan sekali.
"No one wants to hear about your problems, grievances and heartbreaks after the first few times. They think you are being too repetitive, that you are stuck on the same page, they get bored of listening to you, they will probably even blame you because you cannot stop overthinking.

But guess who never gets tired of listening to your problems even after having heard them thousands of times or more while also knowing exactly what you are going to say word for word?

No one except your Lord.

Your salah is your personal time with your Creator, five times, every single day. It is the only place where you place your problems and find all kinds of solutions. Do not let it be a mindless routine or worse, don't miss it.

Talk about your problems to Him instead of people. Vent to Him. Get it all out in front of Him. There is no place else where you can be so vulnerable and still feel safe except with Him. Allah never gets tired of listening to you, the question is are you willing to talk to Him?

Start looking at your salah as a blessing instead of burden, it makes all the difference."


Ditulis pada 20 Februari 2020, 12.30 WIB

Wednesday, February 7, 2018

Menyukai Hujan dengan Bijak

Perjalanan Jakarta-Bogor kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Meski dengan senyap kantuk sisa perbincangan tadi malam dengan seorang teman, namun cuaca yang sedang agak ‘genit’ bulan ini rupanya jadi warna tersendiri. Cerah, kemudian hujan. Cerah lagi, kemudian hujan lagi. Aku baru saja kemarin mendapat kabar ada longsor di daerah Puncak. Grup keluarga besar kami sempat dibuat ramai oleh sebab salah satu sepupuku yang tengah PKL di Cipanas. Juga baru kemarin, berita soal banjir di Katulampa. Tentang aliran sungai di Bogor yang siaga 1 dan dikabarkan agar warga Jakarta bersiaga akan kemungkinan banjir kiriman. Lalu pagi tadi Pasar Parung digenangi air mengalir. Pertama kali aku kembali ke Bogor dengan disambut hujan yang sedemikian deras.

Aku adalah penyuka hujan. Barangkali orang-orang terdekatku tahu akan hal itu. Tapi beberapa waktu belakangan, entah kenapa, mendengar hujan seringkali membuatku takut. Yah, mungkin aku hanya sedikit paranoid akibat gempa yang pernah menyapa tiga hari berturut-turut. Lalu suara hujan menjelma jadi agak berbeda dari biasanya. Selain karena bunyi seng di dekat rumah yang membuat aksen badai tiap hujan turun, rupanya ada ketakutan yang muncul dari dalam diriku sendiri. Bagaimana kalau suatu waktu aku diuji dengan apa yang aku sukai?

Kamu suka hujan. Meminta supaya turun hujan. Tapi sampai kapan kamu membabi buta? bahwa pada kenyataannya, tidak pada semua kondisi manusia mengidam-idamkan hujan.

Aku seperti takut pada keputusanku sendiri untuk menyukai hujan. Aku takut menyukainya dengan tidak bijak.  Meski alasan-alasanku bicara bahwa kesukaan padanya berangkat atas kabar gembira bahwa waktunya adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Juga alasan bahwa suara rintik dan bau petrichornya yang memenangkan. Tapi barangkali aku harus sering-sering mengoreksi ulang. Kesukaanku pada hujan, apakah alasannya masih berada pada tempat yang tepat? ataukah jangan-jangan sudah melenceng sedemikian rupa tanpa aku sadar? Sebab bukankah seseorang akan senantiasa diuji dengan sesuatu yang ia cintai?

Mungkin aku memang harus belajar untuk menyukai hujan secara bijak; menyukai sesuatu sesuai dengan porsinya. Agaknya aku setuju pada mereka yang mengatakan bahwa pembeda antara kanak-kanak dengan orang dewasa adalah tentang kebijaksanaan menyikapi segala sesuatu. Dan, boleh jadi termasuk urusan sepele seperti ini.

Belajar mencintai dengan bijak. Bukan cinta yang buta, tapi cinta yang cerdas penuh rasa dan logika. Cinta yang membawa maslahat. Cinta yang jernih, tidak ditutup bumbu-bumbu noda. Lalu hari ini, aku menemukan kembali rasa tenang memandang hujan, setelah sekian lama terlampau lupa dan ketakutan.

Alhamdulillah.

Sumber

06/02/2018
Pada perjalanan menuju Bogor untuk bimbingan tugas akhir.

Sunday, November 1, 2015

Membersihkan Hati

Hati begitu sensitif. Penjagaannya membutuhkan usaha ekstra. Pekerjaan hati, ia adalah pekerjaan universal. Ingat hadits Rasulullah tentang niat? bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya. Bukankah itu pekerjaan hati?

Dan hati, ia mudah sekali berbolak-balik. Maka kita diajarkan untuk memohon pada Allah, agar hati kita ditetapkan pada agama-Nya. Bahkan ulama terdahulu pun mengatakan, tiada yang lebih membuatnya sibuk kecuali menjaga niat; menjaga hati.


Ustadz Abdullah Gymnasiar dalam salah satu ceramahnya menyampaikan perihal bagaimana membersihkan hati. Adalah sebagai beriikut:

1. Menghujam kesadaran dan tekad, bahwa prioritas hidup adalah ketegakan tauhid di hati. Jangan lakukan apapun yang membuat hati busuk, lakukan apapun yang membuat hati bersih. Semua ada prioritasnya. Penggunaan waktu hanya akan efektif dengan adanya prioritas. Tanpa itu, lewat.

2. Mati-matian luangkan waktu lebih banyak untuk tafakkur membongkar dosa-dosa. Tanya pada orang-orang terdekat yang tahu persis kelakuan kita. Datang kepada guru, para ulama yang bersih hatinya yang tahu kelakukan kita. Persis seperti kita datang ke laboratorium untuk general check up. Luangkan waktu, tenaga, fikiran, biaya. Periksa! Kalau sudah ketemu berbagai penyakit, luangkan waktu, taubat! Harus tahu, mau, dan habis-habisan. Seperti orang yang terkena penyakit kanker, mau di kemoterapi, opname, infus, operasi, apapun. Sesakit apapun, karena mau sembuh. Itulah taubat. Jadi taubat bukan hanya astaghfirullahaladziim, tapi ialah proses kegigihan mencari tahu kekurangan dan benar-benar mohon ampunan.

3. Jauhi maksiat. Kalau sudah mulai mau bersih hati, kita harus mau disiplin. Mata, tidak halal, palingkan. Berteman dengan seseorang yang mengganggu iman, jaga jarak. Makanan tidak halal, shaum. Harus punya kedisiplinan kuat untuk tidak menodai diri kita. Lihat tv, acara tidak baik, matikan. Liat internet, ngerusak, tutup. Harus ada kedisiplinan. Menghisap rokok, membuang waktu, menghabiskan uang, harta, padamkan. Hijrah! semakin baik kekuatan kita menjauhi kemaksiatan dan kesia-siaan, makin cemerlang hati ini.

4. Tingkatkan taat. Shalat tepat waktu, usahakan jamaah di masjid. Shalat shubuh berjamaah itu dinilai shalat sepanjang malam. Malam, tahajud! Dan tidak perlu diumumkan ke siapapun perubahan itu. Baca qur’an, dzikir diperbanyak, sedekahkan apa saja amal saleh. Lihat nanti rasanya. Tiba-tiba makin terbuka hati. Rezeki, makin mudah akan kita rasakan. Kalaupun bukan yang kita harapkan berupa materi, tapi ketenangan, kenyamanan, kelapangan.

5. Yang terakhir adalah, tebarkan manfaat. Dimanapun kita ada, lakukan sesuatu. Apapun. Walaupun hanya menyingirkan duri dari jalan. Lakukan amal saleh dan tanpa pamrih. Setiap kebaikan yang kita lakukan, pasti akan ada balasan dari Allah tanpa harus kita tunggu, tanpa harus kita ingatkan. Lakukan saja. Kalau murni kita lakukan untuk dekat dengan Allah, ingat janji Allah. Dan barang siapa sungguh-sungguh, Allah akan lebih sungguh-sungguh menunjukkan jalannya.

"Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati".

-Rasulullah Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam)-

Asy-Syifa

Thursday, October 15, 2015

Gerimis




"Lebih baik hujan besar sekalian, daripada gerimis begini!" kamu menggerutu. Memandangi langit.

"Bukannya kamu sendiri yang bilang, ingin menikmati gerimis dengan sepoi pelan angin di tepi pantai?"

"Itu dulu. Lagipula ini bukan pantai," kamu memandangku galak.

"Dasar sensitif" aku menghela nafas panjang, "berhentilah menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan masa lalu." mendengarnya, kamu memandangku. Sejurus kemudian memalingkan muka.

"Aku tahu aku akan berhenti. Entah kapan."

"Kamu terlalu kaku. Biasa saja. Ikhlaskan, lapangkan, lepaskan. Toh tidak ada lagi yang bisa kita perbuat, kan? Lantas kenapa gerimis yang jadi korbannya?" nada bicaraku meninggi.

"Jangan sok tahu. Aku bukan kaku. Hanya saja aku tidak sekuat kamu. Heh, kamu belajar psikologi, kan?"

"Ya, lalu?"

"Harusnya kamu tahu. Banyak orang yang tertawa pada hal2 bodoh, sejatinya adalah orang yang memendam kesedihan mendalam. Banyak juga orang seperti aku, yang terkesan kaku dan sok kuat, padahal dalamnya rapuh tak karuan." mendengar perkataanmu, aku mengangguk-angguk.

"Kemari, sini aku peluk."

"Heh? Kita kan bukan anak kecil lagi." kamu lantas tertawa.

"Kita ini saudara," kataku seraya memelukmu, "Aku ini belajar psikologi. Aku tahu, kamu butuh dipeluk pada saat begini."

"Edan." kamu kembali memaki. Lalu mulai terisak.

"Berhenti menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan masa lalu. Kita hidup hari ini, bukan kemarin." Aku menepuk-nepuk punggungmu pelan.


***

Kamu tidak sekuat itu. Pun tidak serapuh itu. Aku tahu. Bukan karena aku belajar psikologi, tapi karena aku telah mengenalmu dalam hitungan tahun.

Saturday, January 10, 2015

Hujan Merah Jambu

“Mau kemana?” tanyanya pelan.
“Pergi. Melihat lebih banyak.” Jawabku seadanya sambil menyungging senyum. Ia menyipitkan mata, menelisik isi tas ransel milikku.
“Haha kamu ini jalan-jalan terus. Gak takut jatuh miskin? Kita kan mahasiswa. Hidup di negeri orang pula.” Ujarnya sambil tertawa kecil, kemudian mendekap kepalaku dengan selimut tebal miliknya.
“Hehe, kan sudah kubilang. Aku jalan-jalan justru supaya jadi kaya.” Mendengar perkataanku, ia manggut-manggut sambil tersenyum. Aku bisa melihat senyum tulusnya itu dari balik selimut yang masih menutupi kepalaku. Kawanku yang satu itu memang menyenangkan.
“Oke oke. Kalau begitu kita mungkin punya cara kaya yang berbeda.” Ia angkat tangan. Aku menyahuti dengan tawa. Melepaskan balutan selimut di kepalaku.
“Oh jadi itu yang bikin kamu nggak pernah mau ikut jalan-jalan? Punya cara sendiri buat jadi kaya?” Ucapku dengan nada menuduh sambil kembali konsentrasi membenahi tas ransel.
“Tentu saja. Tapi kamu gak perlu tahu, kan?” ujarnya datar.
“Dasar pelit. Seperti biasa.” Aku mencibir lembut. Sahabatku itu hanya tersenyum menanggapi, kemudian ia keluar dari kamar.
“Hati-hati. Bawa ini.” Tak lama ia kembali datang, menyodoriku sebuah kotak kecil.
“Apa ini?” aku mengambil kotak jecil dari tangannya, kemudian kupandangi kotak itu lamat-lamat.
“Kompas. Biar kalau solat kamu gak asal-asalan lagi menghadapnya.” Perempuan yang lebih tinggi dariku beberapa senti itu berkata sambil menunjuk salah satu foto yang kupasang di dinding kamar. Foto perjalanan yang menjadi saksi kebiasaan buruk pasrahku: menentukan arah kiblat seenaknya, menggunakan insting.
“Haha, terimakasih banyaaak.” Aku menjabat kuat tangannya. Lagi, dia kembali membuatku takjub atas kejutan-kejutan kecil semacam ini.
“Itu aku sewakan. Jangan lupa bayar kalau nanti pulang.” Mendengar ucapannya, aku geleng-geleng kepala sambil tertawa. Aku tahu dia tidak sepelit itu.

**

Bagiku, hidup adalah perjalanan. Perjalanan yang sudah selayaknya diisi dengan proses pengkayaan diri. Pengkayaan hati. Pengkayaan nurani. Mudahnya, hidup adalah sebuah proses pembelajaran yang mengkayakan. Sebelumnya, fikiranku sederhana saja. Untuk mendapati lebih banyak, aku harus melihat sudut-sudut bumi ini –meski ia tak memiliki sudut sekalipun. Hingga akhirnya aku belajar dari sahabatku sendiri. Bahwa ternyata, perjalanan tidak serumit kita menabung untuk menjelajahi dunia. Pun tidak sesederhana mengarungi samudera dan mampir ke benua-benua dengan ber-backpacking ria. Perjalanan bukan tentang fisik semata. Kadang, yang terlihat diam pun sejatinya tengah melakukan sebuah perjalanan panjang. Setiap yang hidup melihat. Dan mereka yang melakukan perjalanan, akan melihat lebih banyak.



Lalu di bawah hujan merah jambu, 
Aku lantas menemukan perjalananmu.

Saturday, January 3, 2015

Hujan

Salah satu bagian meyenangkan dari minggu UAS adalah, kita memiliki banyak waktu luang. Kamu setuju? Yah, menurutku begitu. Setidaknya waktu luang berada di luar kelas kuliah. Kita bisa lebih berlama-lama menikmati udara luar di kota yang katanya sudah mulai dipertanyakan eksistensi titel hujannya. Tapi beruntung, karena minggu UAS terjadwal antara akhir dan awal tahun. Saatnya musim penghujan ambil peran. Setidaknya, saat-saat seperti ini membuatku lupa bahwa kota hujan kita punya panas terik jika siang menjelang, (dan disusul rintik air sore menjelang petang) pada hari-hari biasa. Membuat tangan-tangan kreatif membuat poster semacam ini.


Setidaknya itu lebih baik daripada julukan kota sejuta angkot. Lagi, menuruku begitu.

Kenapa Bogor kita dibilang kota hujan? Seperti yang bisa kamu tebak, karena curah hujannya tinggi. Bahkan konon katanya, sekian tahun silam, ketika dosen-dosen kita sekarang masih duduk di bangku mahasiswa, suhu Bogor sebelas-duabelas suhunya dengan musim dingin di Eropa. Entah apakah statement itu hiperbola, setidaknya itu memberi gambaran betapa langit kita sudah berubah banyak sekali. Langit kita? iya. Langitku langitmu juga, kan?

Seperti yang kamu (mungkin) tahu, aku suka sekali dengan hujan. Tapi tentu bukan itu yang menjadi alasan kenapa aku memilih untuk melanjutkan studi di Bogor. Lagipula, jujur saja, aku baru ngeh kalau kota ini dikenal sebagai kota hujan justru ketika sudah jadi bagian darinya -sebagai penduduknya. Jadi bagiku, ini semacam bonus. Juga, membuatku sungguhan merasa tidak nyasar pergi ke tempat ini. 

Bukan apa-apa, aku jadi ingat ketika suatu waktu kamu menanyakan hal itu kepadaku: kenapa suka sekali dengan hujan? waktu itu aku hanya tersenyum memamerkan gigi. Itu termasuk dalam daftar pertanyaan yang sulit untuk dijelaskan jawabannya. Aku juga tidak mengerti, Kurasa bukan cuma aku yang kesulitan menemukan alasan jelas pada setiap rasa abstrak semacam itu. 

Yang kutahu, hujan itu menakjubkan. Jadi maafkan aku untuk tidak menemukan jawaban yang ekplisit dan bisa dijelaskan.


Eh kenapa kamu tanya tentang itu? atau jangan-jangan kamu juga suka hujan? Aku jadi curiga. 

Hujan adalah rahmat Allah. Rahmat yang dekat sekali keberadaannya dengan kita. Bahkan kita bisa dengan mudah merasakan partikel-partikelnya menyapa jemari. Menyapa telapak tangan. Menyapa pelipis kita. Kamu pernah mencoba? sesekali tengadahkan wajah ketika hujan. Lalu, rasakan ia menyapamu lembut lewat rintiknya. Entah, mungkin bagi sebagian orang, ini berlebihan. Tapi setiap hujan, aku merasa tengah diberi hadiah indah dari-Nya. Semacam hiburan, begitulah.


Dan aku tahu, Aku tidak sendiri. Banyak yang juga merasakan hal semacam itu. Mungkin juga kamu salah satunya. Bahkan baru saja kemarin, ada salah seorang kawan kita yang mengatakannya padaku, tentang hujan yang baginya hiburan itu. Yah, bagaimana tidak. Bahkan waktu turunnya pun dikabarkan sebagai waktu mustajab untuk memanjatkan harap. Do'a ketika hujan itu, istimewa sekali, bukan?


Hei, aku jadi ingat masa-masa ujian kita. Masa-masa UAS yang bertepatan dengan musim penghujan ini. Setidaknya di kota Bogor, demikian adanya. Lalu tentang resolusi-resolusi kita yang boleh jadi masih tertunda, dan telah bertambah pula daftarnya. Ayo kita panjatkan do'a. --Aku baru saja melakukannya. Barusan ada jeda beberapa menit untuk itu. Takut terlupa. Bagaimana kalau kamu juga? memanjatkan do'a sekarang. Ya, sekarang. Beri jeda paling tidak beberapa menit saja dulu, sebelum kembali melanjutkan membaca. Panjatkan tanganmu di udara. Tarik nafas dalam pelan. Kamu boleh sertakan namaku -jika kamu berkenan. Baiklah, silahkan memulai do'amu.

Kenapa buru-buru? kita tidak pernah rugi untuk memanjatkan do'a, bukan? ayo resapi lagi. Bersama-sama. Hentikan sejenak di bagian ini.

Sudah? 
Tadi aku merasakan atmosfer luar biasa. Kuharap kamu juga demikian. 

Baiklah, kembali tentang hujan. Sebagian orang mengaku suka hujan karena aromanya yang khas. Kamu tahu, kalau aroma menyenangkan itu biasa disebut sebagai petrichor



Mungkin saja kamu belum tahu. Aku pun baru tahu tentang ini sekitar satu atau dua tahun lalu. Waktu itu adikku menunjukkan buku pengetahuan umum bergambar tentang macam-macam fenomena hujan. Dan bahasan tentang petrichor ini jadi salah satu di antaranya. Petrichor, sebutan bagi aroma khas di kala hujan. Biasanya semakin kita sadari kehadirannya, manakala hujan turun di tanah yang kering. Khas sekali. Terutama di waktu-waktu awal turun hujan. Atau, kadang ia meninggalkan jejak usai hujan selesai membasahi tanah.

Hujan-hujanan. Kamu pernah? aku sering. Salah satu hal paling menyenangkan adalah ketika kita mendapatkan kesempatan untuk hujan-hujanan bersama dengan orang yang spesial dalam hidup kita. Pernah? beruntung, aku pernah mengalaminya. Bersama ibuku, pernah. Ketika kami hendak pergi membeli sayuran di warung yang sebenarnya tidak begitu jauh dari rumah. Lalu hujan turun deras. Kami tidak berteduh. Serta-merta melanjutkan perjalanan. Bersama ayahku, juga pernah. Sering malah. Setiap pagi ketika musim penghujan, saat beliau mengantarku berangkat sekolah. Atau ketika beliau menjemputku pulang dan kami (ke)hujan-hujanan bersama. Meski ditutup jas hujan, diam-diam aku tidak mengenakannya. Membiarkan kerudung sekolahku basah diguyur air hujan. Bersama abang, kakak, adik, dan teman-temanku pun, aku bersyukur pernah mengalami, dan (bahkan) melakukannya hingga saat ini, Kamu bagaimana?


Tapi, kadang, menikmati hujan 'sendirian' (kuberi tanda petik, karena sejatinya kita tidak pernah sendirian) juga tidak kalah asyik. Kita bisa menikmati hujan dari balik jendela kamar kita, bisa dengan bermain langsung di bawahnya (dan ini cara yang sungguh menyenangkan), atau bisa juga sambil makan es krim di tepi jalan. Atau wedang jahe. Atau cokelat panas. 

Dan cara yang paling indah, adalah menikmati hujan dalam munajat cinta kita sembari sujud. Percayalah, ini keren sekali. Aku pernah melakukannya bersama beberapa kawan, di tengah tinggi pepohonan. Di alam terbuka. Ketika hujan dengan lembut membasuh bumi kita.


Aku rasa kamu perlu mencobanya sewaktu-waktu. Atau mungkin kamu sudah pernah, bahkan sering melakukannya?

Kalau begitu, kapan-kapan kalau kamu berkenan, kabarkan padaku tentang kisahmu. Aku akan sangat senang mendengarnya. 

Oh iya, satu lagi. Kamu tahu, kalau Rasulullah, sosok yang kita teramat kagumi itu, juga menikmati akan rintik-rintik hujan? beliau membiarkan hujan menyapa bagian tubuhnya ketika awal-awal rintik itu turun ke bumi.

قَالَ أَنَسٌ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قال


Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “hujan turun membasahi kami (para Sahabat) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, maka Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam membuka bajunya, sehingga hujan mengguyur beliau, maka kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah untuk apa engkau berbuat seperti ini?’ Beliau menjawab,

لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah ta’āla ciptakan.” (HR. Muslim no. 898).


Jadi kalau kamu menemui dia yang masih suka mengeluhkan perihal hujan, kabarkanlah berita membahagiakan ini, Bukankah bersyukur bersama-sama itu indah sekali? ah, aku tahu, kamu pasti setuju denganku, kan?

Yah, salah satu bagian menyenangkan dari minggu UAS adalah ini. Aku bisa berbincang dengan kamu, tentang hujan. Terimakasih sudah meluangkan waktu. Sukses ujianmu. Sukses kehidupanmu. Semoga penuh berkah. Titip salam untuk hujan milikmu -dari kota hujan kita. Semoga kita tidak lupa untuk saling mendoakan. 

Sunday, November 30, 2014

Kemarau. Kering. Gersang.

Kemarau. Kering. Gersang. Dedaunan terbang terhempas angin. Berlarian. Sesekali menyapa pelipismu. Sesekali menubruk kepalamu. Sesekali berputaran di sekitar kakimu.

Kemarau. Kering. Gersang. Gerak udara tega menamparmu. Memakimu lembut. Menghantarkan partikel debu mengunjungi tubuhmu. Pakaianmu. Matamu.

Kemarau. Kering. Gersang. Segersang hatimu. Sekering jiwamu. Kemarau melandamu. Tidak apa-apa, setiap orang pernah atau kelak akan pernah mengalaminya. Kehausan.

Kemarau. Kering. Gersang. Kau kehausan. Sayang, sekadar iklan minuman penyejuk takkan mampu membantumu. Imajinasi takkan pernah mampu menghapus kemaraumu. Sampai kapanpun iklan hanyalah iklan. Sejenak, kemudian pergi meninggalkan haus yang sama.

Kemarau. Kering. Gersang. Kau iba pada diri sendiri. Merasa kasihan. Mungkin tak lama lagi kau akan mati, begitu fikirmu. Kau merindukan air. Merindukan kerongkonganmu dihibur kesejukannya. Mendambakan hujan yang mengguyur habis tumpukan debu permukaan tubuhmu.

Kemarau. Kering. Gersang. Dedaunan terbang terhempas angin. Berlarian. Kau bertanya, kapankah hujan turun? Tidakkah ia lelah di atas sana? Atau paling tidak, tidakkah ia bosan melihatmu sibuk kesana-kemari. Mondar-mandir mencari mata air. Kehausan.

Kemarau. Kering. Gersang. Kau iba pada hatimu. Bahkan airmata pun enggan hadir meski setetes. Menangis tanpa suara. Tanpa air mata. Dirimu bahkan terlihat menyedihkan sekali. Kering hingga pada akarnya. Hingga pada bagian terdalamnya.

Kemarau. Kering. Gersang. Kau rasakan haus itu semakin menyiksa. Betapa kemarau melahap habis dan membuatmu jadi kering kerontang.  Tapi kumohon dengarkan aku. Amati tiap partikel debu yang menyapamu. Nikmati tiap kegersangan yang melandamu. Hayati setiap kering yang kau alami.

Kemarau. Kering. Gersang. Tidak apa-apa, kau bukan satu-satunya di dunia. Maka camkan perkataanku. Kau harus tahu. Hujan selalu datang tepat waktu. Tuhan takkan pernah alpa menjagamu. Hujan akan datang sesuai titah Tuhanmu.


Gambar diambil dari google.com


Monday, March 17, 2014

Hanya Salah Dua


Kawan, masih hangat dalam ingatanku, tentang hari-hari gerimis kita. Ketika fikiran kita begitu sederhana; percaya bahwa hujan mampu mereset ulang isi kepala yang belakangan kusut tak terkira. Masih jelas dalam memoriku, perbincangan kita yang memecah dunia. Pagi-siang-sore-malam itu, ketika hujan turun rintik-rintik, ketika gerimis membasahi, ketika bumi kita dibasuh derasnya air langit, saat waktu tahu-tahu seakan terhenti. Menyisakan potongan-potongan memori untuk masa depan, menghapus kerumitan isi kepala kita seketika, --sejenak setelah kita memanjatkan puji pada Sang Kuasa, setelah kita menyisipkan doa dalam hati masing-masing. Kita tersenyum memandangi tetes kepingan awan. Sampai saat ini pun, aku masih percaya akan keajaiban itu.

Dan kita hanya salah dua dari miliaran manusia yang merasakan hal sama,

pada momen-momen tersebut. :)