Showing posts with label pemikiran. Show all posts
Showing posts with label pemikiran. Show all posts

Sunday, July 4, 2021

Untukmu yang Nyaris Putus Asa

Katanya, seseorang yang mencintai akan sangat sulit berputus asa pada orang yang dicintainya. Duh, maksudnya bagaimana?

Begini. Ketika seseorang telah memberikan cintanya, maka satu-dua keburukan orang yang dicintainya takkan membuatnya sedemikian mudah berputus asa. Akan ada seribu satu alasan yang menjadikannya layak untuk dimaklumi. Pikiran seperti "Oh, mungkin aku harus bersabar sedikit lagi. Aku yakin dia bisa menjadi lebih baik setelah ini," barangkali tak asing mampir dalam benaknya.

Ya, dia punya begitu banyak alasan untuk tidak berputus asa pada orang yang dicintainya. Ia memberikan peluang nyaris tak hingga untuk memenangkan harapan yang ada dalam hatinya. Koreksi ya, kalau aku keliru. Sebab ini tebak-tebakanku saja. 

Tapi uraian setelah ini bukan tebak-tebakan. Sungguh.

Aku dengar, kabarnya akhir-akhir ini kamu tengah nyaris putus asa. Benarkah? Jika tidak, semoga Allah mudahkan hatimu untuk selalu menaruh harap yang utuh, penuh keyakinan kepada-Nya saja. Aamiin. Namun jika iya, semoga "nyaris" itu tak berubah jadi "sudah".

"Dosaku banyak banget. Aku malu minta lagi sama Allah."

"Kalau orang seburuk aku, apa iya akan dapat ampunannya Allah?"

"Aku capek. Minta dari dulu juga nggak pernah dikabulkan."

"Aku sudah banyak buat salah. Kayanya aku memang bukan prioritas Allah."

"Terlalu banyak orang soleh di dunia ini. Aku cuma remah-remah rengginang untuk minta ini-itu sama Allah."

Apa pikiran-pikiran seperti itu pernah terlintas dalam benakmu? Jika iya, apakah di saat yang bersamaan hati kecilmu masih meyakini bahwa Allah Maha Mendengar, Allah Maha Melihat, Allah Maha Pengampun, dan Allah Maha Mengabulkan Do'a?

Bersyukurlah. Tidak semua orang diberi nikmat menyadari akan keberadaan Allah. Tidak semua orang diberi nikmat menyadari bahwa dirinya tak punya daya apa-apa di hadapan Allah.

Jika memang kamu nyaris putus asa, agaknya ada satu hal yang perlu kamu ingat. Cintanya Allah bukan seperti cintanya manusia. Cinta Allah pada hamba-Nya sungguh tak sebanding dengan cinta manapun yang ada di dunia. Bahkan cinta seorang ibu pada anaknya pun, tak seberapa besar jika dibandingkan dengan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Jika manusia saja sebegitu teguh memperjuangkan dan tak putus asa atas orang yang dicintainya, bisakah kamu bayangkan betapa luar biasa cintanya Allah?

Dosa-dosamu mungkin menggunung. Tak terhitung. Tak terbendung.

Kesalahanmu, prasangka burukmu, ketidakyakinanmu, semuanya membuatmu sedemikian ragu. Tapi tidakkah kamu ingat, dengan siapa kamu tengah bicara cinta?

Ini bukan manusia. Inilah penciptanya manusia. Cinta-Nya tak sedangkal itu. Cinta-Nya tak bergantung pada apapun. Kamu mungkin pendosa, tapi rahmat Allah lebih besar bahkan dari semua dosamu itu. Kamu mungkin nyaris putus asa, tapi pertolongan-Nya nyata dan bukan isapan jempol belaka. Ingatlah kepada siapa kamu tengah bicara soal cinta. Bukankah seorang pendosa pun memiliki peluang besar untuk meraih cinta-Nya? Sungguh Allah mencintai tangisan seorang pendosa yang bertaubat.

"Bagaimana jika bahkan taubat ku pun berantakan?" benakmu bicara lagi.

Jikalau taubatmu bahkan berantakan, maka bertaubatlah lagi dan lagi. Bertaubatlah atas taubat yang berantakan itu. Datanglah pada Allah dengan semua kelemahan dan ketidakberdayaan diri. Meskipun berkali-kali kamu harus kembali, sungguh Allah Maha Mengetahui. Ia melihat setiap inci usaha hamba-Nya. Ia tahu betapa hati kecilmu ingin dicintai-Nya. Syaithan yang membangkang-Nya dengan terang-terangan pun dikabulkan pintanya oleh Allah. Mengapa kamu ragu, merasa do'amu tak didengar-Nya?

Ada yang bilang, cinta bukan kata benda melainkan kata kerja. Yah, aku sedang tidak ingin membahas itu. Yang ingin aku sampaikan adalah, bahwa cinta pun membutuhkan pembuktian. Barangkali keadaan dan ujian yang kamu hadapi semata-mata adalah ajang pembuktian. Bukan, bukan pembuktian untuk-Nya, melainkan untuk dirimu sendiri. Apakah segenap pengakuanmu di hari kemarin bahwa kamu mencintai Dia dan Rasul-Nya, sungguh-sungguh kamu perjuangkan?

Jadi, jika kamu tengah nyaris putus asa, ketahuilah bahwa kamu tidak sedang berurusan dengan manusia. Sungguh, cinta-Nya tidak sedangkal itu. Tuhanmu itu tidak pergi dan tidak pula meninggalkanmu. Pun, semoga cintamu tak sedemikian kering hingga kehilangan prasangka baik kepada-Nya, ya. Mari kita aamiin-kan sama-sama.



Ditulis di Bandung,

28 Juni 2021

Saturday, October 17, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Memberi Respons dan Menentukan Prioritas

Baiklah, ini adalah cerita santai kedua yang tertunda lama sekali. Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini di jurnal pribadi sejak tanggal 25 Juli 2020 lalu, hanya saja memang baru dipublikasikan di sini. Jadi yuk kita cerita-cerita lagi! :)

Saya nyaris selalu ingat penggalan tausiyah dari salah seorang guru di mimbar masjid sekolah. Tausiyah singkat itu bercerita tentang manusia dan problematikanya. Ya, setiap manusia boleh jadi punya masalah. Tapi masalah itu berbeda-beda sesuai dengan kapasitas dari si manusia. Guru saya saat itu menyebutkan nama Pak Habibie. Sekelas Pak Habibie pun pasti punya masalah, tapi masalah beliau agaknya bukan lagi seputar tersinggung oleh omongan orang, bukan lagi urusan salah paham dengan teman sekelas. Kalaupun iya itu masalah, tapi bukan masalah yang menjadi prioritasnya. Ada masalah yang jauh lebih "penting" untuk dipikirkan dan dicari solusi. Yup, katakanlah lebih urgent.

Sampai di sini terbaca kah arah cerita santai kita?

Tanpa sadar, boleh jadi selama ini kita telah banyak buang-buang waktu untuk sesuatu yang kita anggap masalah padahal nyatanya tidak. Kebiasaan kita yang mengutuk kondisi macet, kebiasaan kita yang mengeluh atas hari yang tiba-tiba hujan hingga jalanan menjadi becek, juga kebiasaan kita menanggapi komentar negatif dari orang lain yang sifatnya nyinyir. Itu adalah beberapa contoh dari betapa buang-buang waktunya diri kita.

Apa yang saya pelajari di tiga tahun terakhir, salah satunya adalah tentang ini. Tentang memberi respons dan menentukan prioritas. Bagaimana merespons perilaku orang lain yang tidak sesuai harapan kita? Bagaimana merespons perkataan orang lain yang terdengar menyakitkan? Bagaimana merespons ketidaksukaan orang lain pada diri kita?

Hmm... pertanyaannya, apakah kita memang harus merespons? sepenting apa omongan orang lain untuk kehidupan kita? Mengapa kita kadang dibuat terlalu sibuk pada hal-hal yang mengusik diri, hingga lupa pada hal-hal yang sebenarnya telah memberi kenyamanan di hati?  

Guru saya yang lain, berkali-kali menasihati. Jika kita dihina atau direndahkan, itu bukan berarti kita hina atau benar-benar rendah. Perkataan orang lain sama sekali tidak mendefinisikan diri kita yang sebenarnya. Kitalah yang lebih tahu kualitas diri kita. Tapi, pada kesempatan yang lain, beliau juga berkali-kali menyentil diri. Jika kita dicibir buruk, tidak perlu marah sebab keburukan kita yang asli boleh jadi lebih banyak, hanya saja ia tidak mengetahuinya. Bukankah Allah Mahabaik sebab Dia menutupi aib-aib kita?

Hal yang ingin saya sampaikan di sini, adalah tentang memberi respons dan menentukan prioritas. Waktu kita sedemikian terbatas. Harusnya, kita bisa dengan apik memilih mana hal yang perlu kita respons, persoalan apa yang harus kita seriusi, hal-hal apa saja yang menjadi prioritas kita. Alih-alih mengurusi perasaan, pikiran, atau tindakan orang lain yang berada di luar kontrol kita, akan lebih baik jika kita mengurusi diri sendiri. Ialah itu tentang cara kita menanggapi segala sesuatu yang terjadi.

Mungkin kita tidak asing mendengar atau membaca petuah bahwa ujian seseorang sesuai dengan level dan kapasitas dirinya. Barangkali sudah saatnya kita naik level, bukan? Tidak lagi meletakkan pikiran dan perasaan orang lain sebagai masalah, tapi lebih memprioritaskan pikiran dan perasaan kita sendiri.

Lalu apakah kita harus menutup telinga kita? tentu saja tidak. Bukankah salah satu tanda kebaikan hati manusia terletak pada kelapangannya menerima nasihat? Bukankah salah satu tanda kearifan hidup adalah mengambil hikmah dari apa-apa yang terjadi di sekitar kita? Artinya, kita perlu mendengarkan. Kita juga perlu introspeksi serta memperbaiki diri. Namun tentu, sekali lagi, tentukan prioritas. Bergeraklah secara proporsional.


Daripada mengutuk kemacetan, kita bisa memilih untuk mengisi waktu dengan membaca. Daripada menghabiskan waktu untuk mencari tahu mengapa seseorang membenci, kita bisa memilih untuk memperbaiki diri. Daripada mengungkit-ungkit sumber masalah, kita bisa mulai mencari dan menentukan solusi.

Tapi itu semua tidak menjadikan kita buta, bisu, atau tuli. Kita tetap bisa memberi kritik yang membangun terkait kemacetan. Kita tetap bisa belajar tentang berbagai macam watak manusia. Kita juga tetap bisa melakukan evaluasi supaya kesalahan hari kemarin tidak terulang di kemudian hari.

Tetaplah berprasangka baik, tetaplah merasa yang baik-baik, tetaplah menjadi orang baik. Mohon pertolongan pada yang Mahabaik. InsyaAllah, tidak ada itikad baik yang sia-sia di sisi-Nya.


Diselesaikan di Tangerang,

pada 17 Oktober 2020

Wednesday, September 16, 2020

Memaafkan Lebih dari Titik Nol

Jika kita disakiti atau dikecewakan oleh seseorang, apakah kita bisa sungguh-sungguh bersikap netral kepadanya? Secara manusiawi, tentu tak mudah. Kita terlalu sulit untuk tidak peduli atas segala sesuatu yang mengusik diri. Bersikap netral berarti ada di tengah-tengah, dan kita tahu bahwa menjaga keseimbangan tidak lebih mudah daripada condong ke salah satunya.

Sadar atau tidak, kita punya kecenderungan untuk lebih condong pada perasaan negatif terhadap orang yang telah menyakiti. Sebagian diri kita boleh jadi sebenarnya sadar, hanya mungkin terlalu enggan untuk mengakui. Lalu dengan manisnya, kita berkata pada diri sendiri dan orang lain, “Aku sudah maafin dia, kok. Sudah gak apa-apa, biasa aja.”

Hei, yakinkah kita, bahwa ketika mengatakan kalimat semacam itu, kita benar-benar telah memaafkannya?

Yah, sebenarnya (berusaha) mengambil posisi di tengah-tengah seperti itu tidak ada salahnya, sih. Tapi bersikap netral sama sekali tidak mudah bagi manusia yang secara fitrah memiliki rasa. Lalu apa akibatnya jika dipaksa? Bisa dipastikan, pada akhirnya kita akan merasa lelah. Apalagi kalau kita berusaha mati-matian untuk membohongi diri sendiri, mencekoki nurani dengan dusta yang halus sekali.

Pernah main jungkat-jungkit? Saya pernah, dulu ketika masih kecil. Saya biasa bermain jungkat-jungkit berdua dengan sepupu. Kami main di halaman belakang masjid, atau di TK tempat Mama mengajar. Saya ingat betapa sulitnya jika kami berdua sama-sama ingin berada di atas udara. Tentu tidak mudah, kalau tak mau dikatakan sama sekali tidak bisa. Pernah sesekali saya coba berdiri sendirian di tengah-tengah titik tumpu, mengandalkan kedua kaki kanan dan kiri sebagai kontrol. Rasanya penasaran ingin coba untuk menyeimbangkan mainan legendaris itu. Memang ternyata bisa, sih. Tapi lama-lama capek juga.

“Tapi lama-lama capek juga.” Nah, inilah analoginya ketika kita memaksakan diri berada di tengah-tengah pada titik nol. Mungkin kita bisa melakukannya beberapa saat, namun pada akhirnya kita akan merasa lelah. Sebab secara nurani, boleh jadi sebenarnya kita memang tidak bisa netral. Akan ada kecenderungan ke salah satu sisi, entah positif atau negatif. Meski entah seberapa besar persentasenya. Hei, lalu apa kaitannya dengan memaafkan?

Yah, ternyata memaafkan melampaui kondisi hati yang netral. Ia tidak berada di titik nol. Mari sedikit mengingat-ingat cerita tentang sosok yang merupakan kecintaan kita semua, Rasulullah ﷺ. Beliau adalah kekasih Allah, dan hidupnya di dunia telah dijamin berujung syurga. Tapi apakah itu berarti Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah dizalimi? Apakah itu berarti beliau tidak pernah merasa sedih dan dibuat kecewa? Ternyata jawabannya tidak.

Kesedihan beliau tergambar jelas saat terjadinya peristiwa di Thaif.

Saat itu tahun ke-10 kenabian. Rasulullah ﷺ pergi dari Makkah menuju Thaif dengan berjalan kaki, ditemani oleh anak angkatnya, Zaid bin Haritsah. beliau hendak menyampaikan keindahan ajaran Islam di daerah yang terkenal subur tersebut. Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Penduduk Thaif tidak memercayai sama sekali. Bahkan selama tinggal di sana sepuluh hari, Rasulullah ﷺ tak memperoleh penerimaan yang baik. Beliau diusir dan ditumpahi caci-maki.

Hei, siapa yang sampai hati berbuat seperti itu pada manusia paling mulia? Orang macam apa yang tega melakukannya? Ingatkah kita, ternyata mereka melakukannya beramai-ramai. Benar, bukan hanya satu atau dua orang. Penduduk Thaif beserta budak-budak mereka berkumpul, dan mengusir Nabi ﷺ bersama-sama, sambil melempari beliau dengan batu. Bahkan kedua sandal laki-laki mulia itu pun sampai tampak bersimbah darah.

Coba sejenak bayangkan. Betapa menyakitkannya ketika kita menyayangi seseorang, menginginkan kebaikan untuknya, namun upaya yang kita lakukan justru ditolak dengan cara yang sangat kasar? Bahkan bukannya menerima, ia justru menuduh kita berbohong dan hendak melakukan hal buruk padanya. Tidakkah itu cukup menjadi alasan bagi kita untuk mengubah cinta dan harap yang semula ada, menjadi pupus dan menghadirkan rasa benci saja?

Nah, sekarang coba kembali ingat kisah Nabi Muhammad ﷺ. Kita semua tahu betapa Rasulullah ﷺ sangat mencintai umatnya. Beliau begitu ingin supaya keindahan ajaran Islam meluas ke penjuru bumi, termasuk sampai pada penduduk Thaif. Tapi apa yang beliau terima? Tak lebih dari umpatan dan cacian. Lantas apakah itu menjadikan Rasulullah ﷺ menaruh dendam dan benci? Apakah Rasulullah ﷺ mengamini tawaran malaikat penjaga gunung yang dikirim Allah untuk menyanggupi jika beliau ingin supaya penduduk Thaif dihukum? Apakah Rasulullah ﷺ menghendaki azab diturunkan kepada mereka? Ternyata tidak.

Beliau tidak melakukannya. Duh, sampai di sini saja saya dibuat haru akan indahnya akhlak beliau. Padahal beliau adalah kekasih Allah. Toh mengaminkan tawaran malaikat penjaga gunung untuk meratakan penduduk Thaif dengan gunung al-Akhasyabain juga bukan merupakan dosa bagi beliau. Tapi Nabi Muhammad ﷺ sama sekali tidak melakukannya. Jangankan dendam atau benci, mengacuhkannya saja beliau tidak. Laki-laki mulia itu memaafkan penduduk Thaif, memaafkan dengan melampaui titik nol. Mari kita simak jawaban beliau pada malaikat penjaga gunung.

“Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah semata, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.”

See? Jawaban macam apakah yang keluar dari Nabiyullah kita tercinta? Sesuatu yang boleh jadi terdengar asing di telinga kita hari ini. Beliau justru mendoakan penduduk Thaif, supaya anak keturunan mereka menjadi penyembah Allah yang taat. Bayangkan ketika kita dikecewakan, dikhianati, dizalimi, tapi kita memilih untuk tidak membenci, tidak pula mengacuhkannya seolah-olah tak pernah hadir. Sebaliknya, kita memilih untuk mendoakannya dengan penuh kasih, “Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya, jadikan keturunannya kelak menjadi hamba yang taat seutuhnya kepada Engkau.” Ya, itulah memaafkan yang dicontohkan oleh Rasul ﷺ. Tidak hanya sampai “let it go,” tapi sampai pada level “wish them all the best”.

Maka, jika hari ini masih ada dari kita yang terbesit dalam kepala, “Gak apa-apa, aku sudah maafin dia. Nanti juga dia akan dapat balasannya, kok.” atau “Tuh kan dia jadi begitu, habisnya dulu ngezalimin orang sih.” Dear, semoga kita lekas sadar dan terselamatkan. Sadar bahwa kita adalah bagian dari umat Nabi Muhammad ﷺ, yang sudah selayaknya meneladani beliau. Kita bisa memilih untuk mendoakan kebaikan-kebaikan sebagaimana Rasul ﷺ telah mencontohkan. Kemudian, semoga kita selamat dari ujian memaafkan. Tidakkah cinta selalu membutuhkan pembuktian? Ketika kita mengaku cinta pada Dia, bukankah sudah selayaknya kita memberi bukti dengan meniru perangai kekasih-Nya supaya kita juga ikut dicinta?

Yuk, memaafkan lebih dari titik nol. Bukan apa-apa, sebab ia jauh lebih menenteramkan hati dan menghadirkan bahagia. Sebab itulah yang dicontohkan oleh suri tauladan kita tercinta.



Catatan

Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan adalah ketika kita ingat, dan kita baik-baik saja ketika mengingatnya, bahkan kita bisa mengambil hikmah darinya. Rasulullah ﷺ pernah ditanya oleh Ibunda Aisyah, “Apakah engkau pernah menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada perang Uhud?” kemudian beliau pun menjawab, bahwa peristiwa di Thaif dan perlakuan penduduknya adalah yang paling berat yang pernah beliau alami. Begitulah, Nabi Muhammad ﷺ tidak lupa, tapi beliau tulus memaafkan.

“Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan memberi kemudahan dan jalan keluar…” begitu ucap beliau kepada Zaid, ketika keduanya hendak pulang dari Thaif menuju Makkah.

Keimanan yang paling indah, adalah yang dimiliki oleh dirinya, laki-laki paling keren yang pernah ada—Nabi Muhammad ﷺ.

 

Ditulis di Tangerang,

Pada 16 September 2020

2.12 am

Saturday, June 13, 2020

Hati yang Dirindukan

Pernah ada cerita tentang seorang anak perempuan, ia baru saja mendapat sederet nasihat mengandung hikmah dari orang tua yang mengasuhnya. Dengan percaya diri, anak perempuan itu berjalan tegap seolah takkan lagi menemui kesulitan atas segala problematika hidup. Pada sebait nasihat yang disampaikan di petang sehari sebelumnya, ia sungguh merasa cukup.

"Lakukan yang terbaik, bersyukur, dan sabar," begitu bunyi nasihatnya. Hari-hari berlalu dengan sangat mudah. Ia tak gentar dihantam berbagai ujian, seolah tiada hal berarti yang bisa membuatnya goyah. Keyakinannya pada nasihat itu, ibarat bahan bakar yang terus menjadikan mesin dalam dirinya menyala. Ia tak tumbang meski keadaan begitu sulit lagi menghimpit. "Lakukan yang terbaik, bersyukur dan sabar," pesan itu terus bergema dalam kepalanya.

Hingga pada suatu hari, perempuan kecil itu mendapati bahwa ternyata keyakinan pun kadang berubah-ubah. Persoalan hidup seiring waktu semakin bertambah, dan ada begitu banyak hal baru yang tidak ia ketahui sebelumnya. Kalimat saktinya goyah. Bukan karena tak lagi relevan, namun ia hanya mendapati bahwa dirinya tak lagi cukup dikuatkan.

"Aku kira aku sudah punya semua rumusnya, tapi ternyata ada terlalu banyak hal yang belum kutahu," gumamnya dalam hati. Relungnya sempat berantakan, namun setelah melalui proses panjang, ia kembali mengingat resep terbaik itu. Lakukan yang terbaik, bersyukur, dan sabar.

Anak perempuan itu mengilhami, bahwa pengetahuan saja sungguh tak cukup. Ternyata ia memang harus terus melangitkan doa. Sebab pada segala hal yang ia telah lalui dengan baik, sungguh bukan karena ia mampu. Semua itu, semata karena ia dimampukan nan dikuatkan. Semata hanya karena kebaikan Tuhannya lah, ia disanggupkan.

Barangkali memang begitulah proses bertumbuh mengajarkan kita. Ya, bukan hanya si anak perempuan itu, tapi kita semua. Ujian-ujian yang kita hadapi, meski membuat kita terseok dan barangkali sempat berantakan, pada akhirnya akan mampu menjadikan kita sosok yang berbeda. Menjadi lebih tangguh, lebih kuat, lebih baik dari diri kita sebelumnya. Namun semua itu hanya jika kita benar-benar menjalankan nasihat lama tersebut, yakni melakukan yang terbaik dan diiringi dengan syukur serta sabar.

Hingga nanti, pada saat terbaiknya, yang kita lihat ketika menoleh ke belakang bukan lagi hal lain melainkan sebuah perjalanan berharga. Ialah itu perjalanan yang membuat syukur kita bertambah-tambah sebab pernah melalui dan mengambil ibrah darinya.

"Lakukan yang terbaik, bersyukur, dan sabar," nasihat itu masih menjadi pegangan si anak perempuan tadi, setelah perjalanan panjang yang ia lalui. Kali ini dengan pemahaman yang berbeda, yakni pemahaman yang lebih menyeluruh, mendalam, dan barangkali akan terus berubah lagi seiring waktu. Sebab dalam perjalanan hidupnya, ia tak tahu kejutan macam apalagi yang telah menunggu.


Sumber Gambar

Ditulis pertama kali di Tangerang,
pada 16 Mei 2020.

Thursday, March 5, 2020

Jas Hujan dan Daya Tahan

Bogor nyaris hujan setiap sore. Apalagi di musim hujan begini. Begitu juga kemarin sore, ketika aku dalam perjalanan ke rumah Kakak. Jarak yang perlu ku tempuh memakan waktu sekitar 45 menit.

Sepanjang perjalanan, aku mendapati banyak orang yang menggunakan macam-macam jas hujan. Mulai dari jas hujan yang terbuat dari plastik tipis transparan dan biasa kutemui di pinggir jalan atau minimarket seharga sepuluh ribuan, hingga jas hujan dengan bahan yang lebih tebal, dengan berbagai warna dan model yang kini semakin beragam.

Beberapa waktu sebelumnya, aku mendapati percakapan seperti ini.

"Bapak ada jas hujan?"

"Ada, Neng. Tapi jas hujan yang biasa."

Mengingatnya sore itu, membuatku berpikir. Seperti apa sih jas hujan yang biasa dan jas hujan yang tak biasa? Lalu perjalanan sore itu memberiku jawaban. Awalnya, aku berpikiran, "Yah, pada akhirnya fungsi jas hujan sama-sama melindungi pemakainya dari guyuran air hujan, kan? kalau sedang hujan begini, sepertinya sama saja mau pakai jas hujan yang manapun."

Tapi pemikiran itu seketika beralih, begitu mendapati beberapa pengendara sepeda motor menggunakan berbagai jas hujan. Ada seorang bapak dengan jas hujan ponco tipis berwarna hijau, ada pula pengendara lain dengan jas hujan berwarna oranye menyala yang terlihat lebih tebal.

Aku serta-merta merasa temukan jawabannya.

Daya tahan. Benar jika hanya dalam satu waktu aku melakukan penilaian, katakanlah aku menilai beragam jas hujan sore itu pada saat itu juga, mungkin aku akan memberi penilaian yang sama antara jas hujan tipis dan "biasa" dengan jas hujan berbahan plastik tebal yang bisa ditebak harganya pun akan lebih mahal. Toh keduanya sama-sama menjalankan fungsi dengan baik; melindungi penggunanya dari deras air hujan. Tapi semuanya akan jadi berbeda jika aku melakukan penilaian atas daya tahannya, dalam kurun waktu tertentu. Iya, kan?

Boleh jadi, keberfungsian dua jas hujan itu akan sangat berbeda. Misalkan saja jas hujan berbahan plastik tipis, penggunaannya mungkin tak akan lebih lama dari jas hujan dengan bahan parasut yang lebih tebal. Mungkin jas hujan tipis itu hanya kuat dipakai beberapa kali pemakaian, sebab ia mudah tergores dan sobek. Tak heran, biasanya jas hujan jenis ini diperuntukkan bagi keadaan darurat dan dijual dengan harga murah. Adapun jas hujan yang lebih baik kualitasnya (dan biasanya juga lebih mahal) mungkin dapat digunakan lebih lama dan berkali kali, juga tak mudah sobek. Daya tahan lah yang membedakan keduanya.

Setengah perjalanan menuju rumah Kakak, aku kembali berpikir demi memperhatikan rintik hujan yang membasahi jalanan, membasahi banyak kendaraan, juga menerpa wajah-wajah manusia yang tengah beranjak pada satu tujuan, termasuk aku.

Seperti jas hujan, mungkin di dunia ini memang ada orang-orang dengan daya tahan yang berbeda. Kita tentu akan menjumpai banyak orang baik. Banyaak sekali. Mungkin kita bisa memohon bantuan pada beberapa orang berbeda, dan mereka akan dengan sukarela membantu kita. Mungkin kita akan melakukan kesalahan pada beberapa orang lainnya, dan kesemuanya akan dengan tulus memaafkan kita. Tapi segalanya bisa jadi berbeda jika kita melakukan pengulangan terus-menerus pada orang yang sama. Seperti jas hujan yang memiliki daya tahan, manusia pun barangkali demikian.

Pada permohonan dan permintaan maaf atas kesalahan kita yang pertama, mungkin ia akan dengan tulus menerima dan memaafkan. Begitu juga pada permohonan dan kesalahan kita yang kedua dan yang ketiga. Namun pada yang keempat dan yang seterusnya? barangkali ia mulai tak peduli dan tak acuh. Mungkin benaknya seolah berkata pada kita, "Sudahlah, terserah kamu saja."

Jadi cobalah perhatikan, adakah seseorang yang padanya kita berkali-kali meminta bantuan, berkali-kali melakukan kesalahan dan meminta maaf, tapi ia begitu sabar, begitu luas penerimaannya?

Adakah seseorang yang padanya hujan air mata kita berkali-kali tumpah, tapi jas hujan miliknya sedemikian hangat mendekap, tak bosan dan tak goyah?

Jika ada, bersyukurlah.
Jika merasa tak ada, mungkin kita lupa bahwa selama ini kita punya Dia. :)

_______________________________________________

Kemudian aku menemukan postingan dan tulisan berbahasa Inggris ini di akun instagram @thepractisingmuslimah tadi pagi, dan sepertinya relevan sekali.
"No one wants to hear about your problems, grievances and heartbreaks after the first few times. They think you are being too repetitive, that you are stuck on the same page, they get bored of listening to you, they will probably even blame you because you cannot stop overthinking.

But guess who never gets tired of listening to your problems even after having heard them thousands of times or more while also knowing exactly what you are going to say word for word?

No one except your Lord.

Your salah is your personal time with your Creator, five times, every single day. It is the only place where you place your problems and find all kinds of solutions. Do not let it be a mindless routine or worse, don't miss it.

Talk about your problems to Him instead of people. Vent to Him. Get it all out in front of Him. There is no place else where you can be so vulnerable and still feel safe except with Him. Allah never gets tired of listening to you, the question is are you willing to talk to Him?

Start looking at your salah as a blessing instead of burden, it makes all the difference."


Ditulis pada 20 Februari 2020, 12.30 WIB

Sunday, February 23, 2020

Di Sebuah Ruang yang Selama Ini Kita Sembunyikan

Manusia adalah makhluk dengan rupa-rupa emosi yang beragam sekali. Kita bisa menjabarkan perasaan senang menjadi rasa bangga, optimis, tertarik. Kita bisa merincikan perasaan sedih menjadi kesepian, rentan, depresi, menyesal. Kita juga dengan ajaibnya, memiliki macam-macam rasa marah mulai dari cemburu, terhina, hingga frustasi.

Saking beragamnya, sampai kadang-kadang kita dibuat bingung atas apa yang sebenarnya tengah kita rasakan, emosi seperti apa yang sebenarnya sedang meliputi diri kita. Maka istilah harap-harap cemas dan mau tapi malu barangkali tak heran jadi ada. Begitu juga dengan ekspresi menangis sambil tertawa, atau tertawa sambil menangis. Kerumitan yang hadir sebab emosi dalam diri manusia.

Tapi yang pasti, manusia secara fitrah memiliki banyak sekali keinginan. Ekspektasi yang tidak hanya ada terhadap orang lain, tapi juga terhadap dirinya sendiri. Bahkan kepada macam-macam hal yang terjadi padanya sehari-hari.

Di sebuah ruang yang selama ini kita sembunyikan, ternyata ada berbagai emosi yang terkumpul. Sayang ia ibarat singa tidur. Jika terusik, aumannya mampu meretakkan sudut-sudut ruang. Amukannya bahkan bisa meluluh lantakkan berlapis benteng yang sudah susah payah kita bangun. Ironis, sebab selama ini kita menyembunyikannya bukan untuk tak terlihat orang lain, melainkan supaya tak terlihat oleh diri sendiri. Singa tidur yang malang sekali. Oh bukan, mungkin kitalah yang sebenarnya patut dikasihani.

Tapi begitulah namanya manusia. Kadang terlalu betah berlama-lama menyembunyikan campur aduk emosi yang entah ia sadari atau tidak, lantas mengganggu kesehariannya. Ini tentu bukan tentang rahasia. Sebab, hei, siapa pun berhak punya rahasia, kan? Jadi tak masalah. Tapi ini tentang manusia yang untuk membohongi dirinya sendiri, ia sedemikian tega. Ia tertatih menciptakan fakta-fakta baru, memanipulasi emosi, menyembunyikan singa tidur yang entah jumlahnya ada berapa.

Lalu tanpa disadari, singa-singa tidur itu menjelma menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Menyerang pertahanan dirinya dari dalam. Mengerikan sekali.

Sumber Gambar
Maka kepada kita, manusia, lepaskanlah. Apa-apa yang belum termaafkan, maafkanlah. Apa-apa yang membuat sesak, rasakanlah. Sungguh tak apa. Hingga perlahan kesesakan itu menjelma jadi bukan apa-apa, sebab kita telah menerima tanpa perlu bersandiwara. Penerimaan dari diri sendiri amat berharga, dan kita lebih dari layak untuk mendapatkannya.

Kita adalah manusia, makhluk dengan rupa-rupa emosi yang beragam sekali. Jadi tak perlu khawatir. Kita memang tak sempurna, tapi kita punya As-Shamad, Penguasa yang Mahasempurna dan Segala Sesuatu Bergantung Kepada-Nya. :)


Ditulis di Bogor,
Pada 7 Februari 2020, 12.08 WIB

Friday, July 6, 2018

Luka


Barangkali kamu benar.
Seringnya, bukan usia yang mendewasakan manusia,
melainkan luka.

**

Setiap insan punya caranya sendiri dalam merayakan luka. Ada yang menangis sambil bersembunyi di balik bantal, mengunci pintu kamar, menangis seharian, curhat di media sosial. Ada juga yang menghindar bertemu manusia, memilih sendiri, menjejaki perjalanan luka yang dialami. Pun, ada yang mencoba untuk tetap berkarya, mengukir kata, melakukan perjalanan, menutup luka dengan tawa dan cengkrama. Segala macam perayaan yang menutup kenyataan perih atas luka.

Mungkin pada masa awal luka itu tiba, pilihan tanpa logika lah yang jadi sasarannya. Seiring waktu ia mengilhami dan menenggelamkan rasa dalam introspeksi, ia kemudian menangis dalam sujud panjangnya. Ia mencoba berdamai melalui senyumnya. Ia bercerita pada Tuhannya—sekali-dua kali pada orang2 terdekatnya.

Ia berdiri, mencoba bangkit. Meski luka itu masih menganga. Bukannya tak sadar, hanya ia tengah berupaya berpacu dengan waktu. Ia tak ingin ditinggalkan waktu. Hingga ia berdiri. Iya, berdiri di atas luka-luka yang masih menganga; mencoba mengobati perih yang ia rasa. Sampai ia menyadari, bahwa ternyata kesembuhannya hanyalah pura-pura belaka.

Bahwa ternyata ia sakit, dan ia butuh bantuan pihak lain untuk melipur luka di diri. Berbagai macam cara yang tiap insan—tiap manusia—coba jajaki. Ada yang mencari-cari bacaan berisi, ada yang mengalamatkan diri pada nasihat para bijak tuk menyentuh hati. Sebagian lain berupaya minta bantuan orang lain untuk mengobati, atau juga mencoba cicipi lingkungan baru untuk ditinggali.

Sumber

Begitulah luka. Bahwa penyembuhannya bukan perkara mudah nan instan. Membutuhkan waktu. Membutuhkan proses. Bahkan ketika sudah ia temui segala macam rupa nasihat penyentuh hati, telah ia jajaki jalan-jalan penuh hikmah, telah ia tumpahi hampar sajadah dengan tangis air mata, pun telah ia temui seseorang yang ia harap dapat bantu melipur lara, nyatanya luka itu tetap ada. Nyatanya luka itu (entah seberapa besar) masih menganga. Segala pikir dan rasa yang ada pada raganya menyerah sembari marah. Ia kecewa. Ia melempar tanya. Ia sangsi. Ia nyaris marah dan putus asa. Ia berada di ujung pengharapan pada semesta. Air matanya kering jika tak mau dikatakan habis. Sensitivitasnya sebagai manusia hampir-hampir luntur dimakan luka.

Sampai pada suatu episode, ia lelah oleh rasa lelah. Luka yang sakit nan perih menyayat lambat laun tak lagi ia indahkan. Hingga pada akhirnya ia kembali menyerah. Kali ini dengan penyerahan yang lebih jujur, lebih tulus, lebih membumi. Kali ini dengan penyerahan tanpa kamuflase, tidak main-main, apalagi sambil membercandai. Sebuah penyerahan yang hanya dirinya dan Sang Esa yang mengetahui. Kemudian begitu sadar, pada momen itulah ia temukan kesembuhan atas luka yang sesungguhnya; sebuah kesembuhan atas lara yang selama ini ia nanti-nanti.


**

Bahwa ternyata, penyembuh luka yang ia cari-cari tidak lain harus diawali dari dirinya sendiri. Kebersyukuran, keikhlasan, keberserahan. Bahwa ternyata, pelipur lara yang ia nanti ternyata tak perlu jauh-jauh dicari. Ianya bukan sebuah pencapaian, melainkan perjalanan. Bahwa segala proses yang ia lalui untuk meraih obat penyembuh luka, tidak lain adalah obat itu sendiri. Lambat laun ia menyadari bahwa luka yang menganga perlahan menutup dengan sendirinya. Tak lagi menganga, sebab ia sembuh. Sembuh seiring perjalanan waktu gigih usahanya tuk menyembuhkan.  

Setengah takjub, ia dapati dirinya baik-baik saja berdiri dan berjalan di atas luka. Setidaknya ia bertahan hingga titik ini. Setengah luka itu tersembuhkan. Perlahan-lahan. Tak ada jawab atas tanya yang selama ini ia gadang-gadang, tak ada akhir yang selama ini tak sabar rasanya ingin ia undang. Tapi nyatanya ia baik-baik saja. Lagi, setidaknya ia bertahan hingga titik ini. Ia merasa jauh lebih baik. Kemudian berusaha menerima segala apa yang terjadi. Manisnya, pahitnya, perihnya, termasuk semerbak sakit yang dicipta luka pada dirinya.

Ia menerima bahwa ia terluka, lalu bahagia.


**

Setiap insan punya caranya sendiri dalam merayakan luka. Jika ia dapat melewati dengan harap pada Yang Kuasa dalam upaya penyembuhannya, sekecil apapun harapan itu ada, saksikanlah bahwa sang luka akan menjelma senjata ampuh yang mendewasakan dirinya. Saksikanlah seiring waktu dirinya berubah. Iya, berubah menjadi lebih kuat, lebih tangguh, nan jadi lebih bahagia. Saksikanlah tatap bola matanya yang menjelma lebih tajam, pandangannya yang lebih jeli, pancar tulusnya yang lebih mendamaikan.

Ia menerima, bahagia, lalu mendewasa. Dan pada saat itulah, Tuhan menghadiahi pencarian atas tualang yang selama ini ia lakukan. Ketika ia tak lagi membunuh waktu dengan sederet teka-teki, ketika ia tak lagi mencerca dengan segunung pencarian. Pada momentum itulah barangkali Tuhan menjawab tiap tanya yang mengangkasa; ketika ia telah selesai bercengkrama dan bertukar pikir sendiri dengan dirinya. Luka itu lantas sembuh seutuhnya; mengukir keindahan cerita atas lalu-lalang hikmah dan hampar makna yang telah dijumpa.

Begitulah. Barangkali kamu benar, Master. Seringnya, bukan usia yang mendewasakan manusia, melainkan luka.

***

Syawal 1439 H

Ditulis dalam perjalanan Bogor-Jakarta,
usai berdiskusi dengan salah seorang sahabat
tentang luka-luka yang menganga :)

Sunday, May 27, 2018

Tulisanmu, Harimaumu


Kemarin, salah seorang sahabat mengirimkan pesan kepada saya.

“Aku lagi baca blog Riris. Kangen Riris.”

Saya menyadari bahwa lama sekali agaknya laman ini tidak diisi. Padahal, kalau boleh jujur, bahan mentah yang siap dimasak jadi tulisan ada begitu banyak, terlebih dalam satu-dua tahun belakangan. Tapi mungkin memang tekad saya yang melemah, atau mungkin saja memang saya butuh waktu lebih untuk mengoreksi ulang segala sesuatu. Belakangan, ada banyak kejutan yang membuat saya memperkecil saringan dalam menulis. Takut kalau-kalau lebih banyak unfaedah-nya daripada yang berfaedah.

Semakin kesini, saya semakin percaya bahwa tulisan memiliki power yang kuat. Melalui tulisan, kita bisa belajar mengenali orang lain. Tulisan sedikit-banyak menggambarkan pola pikir, latar belakang, hingga keadaan emosional seseorang. Belum lagi jika tulisan itu dalam bentuk tulisan tangan. Bahkan ada ilmu tersendiri yang mempelajari analisis tulisan tangan seseorang; grafologi. Melalui tulisan juga, kita bisa terpengaruh. Sebagaimana apa-apa yang kita baca akan masuk ke dalam pikiran kita dan mempengaruhi cara berpikir kita. Jadi tidak salah-salah amat kalau orang bilang, kenali seseorang melalui buku-buku yang dibacanya. Tidak salah juga kalau ada yang bilang, kenali seseorang melalui tulisannya.

Uniknya, kadang tulisan seseorang yang kita jumpai seolah tidak menggambarkan keadaan dirinya di dunia nyata. Jangan buru-buru menjuri bahwa apa yang dilakukannya adalah pencitraan. Jangan pula tergesa menilai bahwa dirinya di kehidupan nyata yang kita temui sehari-hari ternyata merupakan kamuflase dari perwujudan aslinya yang tergambar melalui tulisannya. Kepribadian manusia sungguh tidak sedangkal itu. Boleh jadi kesemuanya itulah satu kesatuan dirinya. Ramuan antara idealisme, kenyataan, harapan, ketakutan, pengalaman, dan seperangkat turunan lain yang membentuk kepribadiannya. Jadi jika memang kita dituntut untuk menilai seseorang, nilailah secara utuh dari berbagai macam aspek, bukan hanya dari satu sisi saja. Agaknya itu akan jauh lebih adil.

Menulis punya power yang kuat. Apalagi di era sosial media seperti saat ini. Tidak perlu jauh-jauh bicarakan soal deret manusia yang terjerat kasus ‘hanya’ bermodalkan tulisannya di dunia maya. Bagi saya sendiri, menulis menjadi jalan untuk bertemu banyak orang. Padahal ya masih sakieu ayana tulisan saya mah. Tapi begitu saja, rasanya seperti menemukan teman-teman yang kenalnya bukan dari kesamaan lembaga sekolah, lingkaran pertemanan, melainkan dari kesamaan ide dan gagasan. Menyenangkan, bukan? ketika kita mengenal seseorang berawal dari ide-ide dan pemikirannya. Yah, salah satu contohnya saja pertemuan saya dengan Dede, partner saya dalam menulis buku TEMU (oh ya, saya belum pernah cerita tentang TEMU disini. Mungkin kapan-kapan. Atau yang mau tahu bisa langsung mampir ke akun instagram @selariktemu).

Buku TEMU
Saya jadi ingat, ketika masih duduk di bangku kelas 10 Aliyah, waktu itu kelas kami mengadakan perjalanan ke Monumen Nasional bersama Wali Kelas. Di atas menara Monas, kami membuat lingkaran, lalu masing-masing menjiplak tangan di atas kertas untuk kemudian di gambar. Pak Away, wali kelas kami, lantas meminta untuk kami menuliskan cita-cita kami di atas kertas itu. Saya masih ingat jelas salah satu kalimat yang saya tuliskan; “i wanna change the world; with my own way!” Bukan tanpa alasan saya menuliskannya, dan kalimat itu jelas bukan hal yang utopis.

I wanna change the world with my own way. Saya yakin, setiap orang memiliki potensi untuk berkiprah dan memberikan kebermanfaatan bagi orang lain dalam kehidupannya. Sebab telah dikatakan juga, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bagi saya, mengubah dunia adalah dari diri sendiri, kemudian orang-orang sekitar. Tidak perlu menunggu nanti untuk “change the world”. Sebab saya telah merasakannya sendiri. Bahwa hidup saya berubah oleh kasih sayang, oleh kebaikan, oleh motivasi, oleh senyum, yang saya dapatkan dari orang lain. Sebab saya tahu rasanya hidup saya berubah yang tadinya tengah terpuruk, berubah karena ada seseorang yang mau mendengarkan, memberi nasihat, membimbing, dan mendoakan kebaikan-kebaikan untuk saya. Saya juga merasakannya sendiri, bagaimana tulisan dapat menjadi agen perubahan dalam hidup saya. Manakala saya membaca tulisan orang lain tanpa mengenal sosok penulisnya, namun pesan-pesan kearifan hidup dapat saya maknai dan memberikan hikmah. Sebab saya juga mendapati sendiri, bagaimana ulama-ulama terdahulu mengubah dunia melalui pena nya. Mereka hidup dalam karya-karya. Hei, betapa indah jika karya itu menjadi jembatan menuju syurga, kan? tidak hanya mengubah dunia, tapi juga “mengubah” akhirat!

Mengingat kiprah para ulama yang menulis, semakin kesini saya semakin sadar, kefakiran ilmu dan kurangnya adab lah yang menjadikan tulisan tak ubahnya seperti pepesan kosong. Iya kosong, nggak ada isinya L atau yang lebih mengerikan lagi, jikalau tulisan-tulisan itu justru menjadi bumerang dan ternyata membuat pembacanya ibarat menenggak racun; buang-buang waktu, memahami hidup dari sudut pandang keliru, atau yang paling mengerikan, membuat si pembaca jauh dengan Rabb yang Mahatau.

Agaknya kalimat “i wanna change the world with my own way” harus sedikit direvisi, barangkali menjadi “i wanna change the world (to be better) with my own way” atau “i wanna create the better world with my own way”  atau “i wanna make the world better with my own way” atau terserah lah apa yang bagus. :’D da intinya begitu.

Ada banyak kebaikan-kebaikan kecil yang bisa kita lakukan. Saya ingat pesan salah satu guru terbaik saya, Ibunda Evi, beliau berpesan pada saya; “jangan pernah lelah berbuat kebaikan sekecil apapun, Rizky. Sebab kita tidak pernah tahu amal kebaikan yang mana yang akan mengantarkan kita ke syurga!” jazaakillahu khaiir Bu Evi :’)

Intinya tulisan ini ingin mengatakan bahwa bukan hanya mulutmu yang harimaumu, tapi juga tulisanmu harimaumu. Perhatikan apa-apa yang kita ungkap, baik melalui lisan maupun tulisan, sekecil apapun itu. Sebab, terlebih di era seperti saat ini, kita tidak pernah tahu ada berapa banyak orang yang mendengar ucapan kita, yang membaca tulisan kita. Kita tidak pernah tahu, dampak sebesar apa yang kita perbuat dengan harimau kita itu. Watch (y)our words. Tulisan memiliki power yang kuat (power yang kuat teh maksudnya gimana sih? ya begitu lah. Kekuatan yang kuat. Kuat kuadrat (?)). Mungkin bisa melengkapi nasihat Ibunda Evi; hati-hati melakukan keburukan sekecil apapun, karena kita tidak tahu amal keburukan yang mana yang akan mengantarkan kita ke neraka! :''(

Saya juga mau minta maaf jikalau ada tulisan-tulisan saya yang tidak berkenan. Saya sangat menerima masukan. Jika memang ada yang keliru, tolong sampaikan saja dan nasihati saya. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk menerima nasihat, aamiin... Terakhir, terimakasih ya, sahabat yang laporan habis baca blog. Saya nyaris lupa masih punya blog. Barangkali harus ada postingan-postingan yang diterka ulang dan difilter, khawatir unfaedah. Hatur nuhun J

Selepas hujan di Jakarta,
11 Ramadhan 1439 H

Wednesday, February 7, 2018

Menyukai Hujan dengan Bijak

Perjalanan Jakarta-Bogor kali ini terasa lebih panjang dari biasanya. Meski dengan senyap kantuk sisa perbincangan tadi malam dengan seorang teman, namun cuaca yang sedang agak ‘genit’ bulan ini rupanya jadi warna tersendiri. Cerah, kemudian hujan. Cerah lagi, kemudian hujan lagi. Aku baru saja kemarin mendapat kabar ada longsor di daerah Puncak. Grup keluarga besar kami sempat dibuat ramai oleh sebab salah satu sepupuku yang tengah PKL di Cipanas. Juga baru kemarin, berita soal banjir di Katulampa. Tentang aliran sungai di Bogor yang siaga 1 dan dikabarkan agar warga Jakarta bersiaga akan kemungkinan banjir kiriman. Lalu pagi tadi Pasar Parung digenangi air mengalir. Pertama kali aku kembali ke Bogor dengan disambut hujan yang sedemikian deras.

Aku adalah penyuka hujan. Barangkali orang-orang terdekatku tahu akan hal itu. Tapi beberapa waktu belakangan, entah kenapa, mendengar hujan seringkali membuatku takut. Yah, mungkin aku hanya sedikit paranoid akibat gempa yang pernah menyapa tiga hari berturut-turut. Lalu suara hujan menjelma jadi agak berbeda dari biasanya. Selain karena bunyi seng di dekat rumah yang membuat aksen badai tiap hujan turun, rupanya ada ketakutan yang muncul dari dalam diriku sendiri. Bagaimana kalau suatu waktu aku diuji dengan apa yang aku sukai?

Kamu suka hujan. Meminta supaya turun hujan. Tapi sampai kapan kamu membabi buta? bahwa pada kenyataannya, tidak pada semua kondisi manusia mengidam-idamkan hujan.

Aku seperti takut pada keputusanku sendiri untuk menyukai hujan. Aku takut menyukainya dengan tidak bijak.  Meski alasan-alasanku bicara bahwa kesukaan padanya berangkat atas kabar gembira bahwa waktunya adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Juga alasan bahwa suara rintik dan bau petrichornya yang memenangkan. Tapi barangkali aku harus sering-sering mengoreksi ulang. Kesukaanku pada hujan, apakah alasannya masih berada pada tempat yang tepat? ataukah jangan-jangan sudah melenceng sedemikian rupa tanpa aku sadar? Sebab bukankah seseorang akan senantiasa diuji dengan sesuatu yang ia cintai?

Mungkin aku memang harus belajar untuk menyukai hujan secara bijak; menyukai sesuatu sesuai dengan porsinya. Agaknya aku setuju pada mereka yang mengatakan bahwa pembeda antara kanak-kanak dengan orang dewasa adalah tentang kebijaksanaan menyikapi segala sesuatu. Dan, boleh jadi termasuk urusan sepele seperti ini.

Belajar mencintai dengan bijak. Bukan cinta yang buta, tapi cinta yang cerdas penuh rasa dan logika. Cinta yang membawa maslahat. Cinta yang jernih, tidak ditutup bumbu-bumbu noda. Lalu hari ini, aku menemukan kembali rasa tenang memandang hujan, setelah sekian lama terlampau lupa dan ketakutan.

Alhamdulillah.

Sumber

06/02/2018
Pada perjalanan menuju Bogor untuk bimbingan tugas akhir.

Tuesday, December 12, 2017

Perangkap

Untukmu yang terperangkap oleh diri sendiri.

Mungkin sudah saatnya bagimu untuk menghentikan kepura-puraan. Berhenti menikmati kebodohan yang menipu. Berhenti memberikan toleransi melampaui batas pada diri sendiri. Manusia akan selalu mendamba penerimaan. Dan pada aspek sosial antar manusia, yang paling penting adalah penerimaan dari diri sendiri.

Hidup kita bukan hanya terdiri atas satu sisi. Apakah selama ini kamu cukup nyaman berjalan seperti itu? seolah-olah hidup adalah tentang dirimu sendiri. Berhentilah terkungkung dalam pemikiran sendiri yang takkan pernah ada habisnya. Bukankah kamu juga dicipta untuk bersosialisasi? lihat berbagai mcam pandangan dari sudut pandang yang beragam.

Jika tidak mampu menjalankan seutuhnya, jangan ditinggalkan seutuhnya. Berhentilah merasa buntu dengan berbagai macam keadaan. Cukup sampai disini saja. Lakukan sesuatu yang bermanfaat. Lakukan hal-hal positf yang bisa memberi keuntungan bagi dirimu dan bagi orang-orang di sekitarmu. Sederhanakan segala sesuatu. Mulailah kembali menjalani hari-hari sambil tersenyum. Bangkitlah! sebab sampai kapan kamu mau menunggu? bukankah ini sudah terlalu lama? tidakkah kamu lelah? bagaimana jika tahu-tahu waktumu habis di dunia? tidakkah kamu akan menyesal nantinya?

Bukankah petunjuk itu telah sangat jelas? mintalah petunjuk kepada Rabb-mu. Bagaimana mungkin kamu masih sibuk mengutuk keadaan tanpa pernah meminta petunjuk dari-Nya dengan sungguh-sungguh? Bagaimana mungkin kamu meminta jalan keluar tanpa pernah mengoptimalkan ikhtiar dengan sebenar-benar pengoptimalan? Bagaimana mungkin kamu meminta sabar namun tidak pernah bersabar atas tatih jalan yang harus kamu senandungkan? bagaimana mungkin?

Sudahi sampai disini. Lakukan hal-hal yang baik untuk jiwamu. Lakukan kebaikan-kebaikan yang bisa mengnspirasi. Sekecil apapun itu. Kembalilah untuk menjadi manusia...

Sebab bukan tanpa alasan kamu diciptakan di dunia.


Kota Hujan,
7-12-2017




Saturday, June 10, 2017

Bukan Tanpa Rencana

Kita adalah manusia yang dipertemukan oleh kekurangan. Oleh keterbatasan. Oleh ketidakmampuan. Kita tidak saling menaruh hati dan simpati karena sesuatu bernama kemegahan; kemewahan; keserba-kerenan. Kita diskenariokan berbincang mengenai kekurangan-kekurangan kita. Mereka dapat dengan mudah berkomentar tentang siapa diri kita tanpa benar-benar tahu keadaan yang sebenarnya. Mereka dapat dengan mudah beramah-tamah dengan kita, sebab mereka tidak tahu menahu akan rapuh diri yang sedemikian rupa. Dari sekian banyak mereka, kita berjumpa. Tidak oleh kegemerlapan deret penghargaan manusia. Tidak oleh kekaguman sekian mata. Tidak oleh semerbak atribut yang dapat buat kita berbangga. Kita biasa-biasa saja. Tapi kita dibuat saling menyapa, oleh sebab kekosongan-kekosongan yang ada. Kita tidak sedang saling mendamba rupa, apatah lagi harta dan tahta. Kita tidak sedang saling mengejar untuk sesuatu yang dikata orang dapat digadang bangga; meski kita tahu antara kita bisa saja melakukannya. Bisa. Sebab apa yang tidak bisa, jika hari ini dunia begitu mendukung akan pembentukan citra? Tapi kita tidak berangkat dari sana. Kita tidak memberangkatkan cinta dengan alasan yang begitu sederhana diucap kata. Kita sedang bicara tentang kekosongan-kekosongan yang rindu diisi. Kita sedang mencari jawaban atas rupa-rupa tanya yang selama ini muncul di diri.

Dan dari sekian banyak manusia di dunia,

aku tahu.

Bukan tanpa rencana Tuhan mempertemukan kita.


Bersama Kakao, pada 2012 di Sawarna


**PS: Terkhusus untuk kalian yang membaca ini kemudian terfokus pada hubungan cinta-cintaan laki-laki dan perempuan, agaknya boleh lah mengilhami lagi tentang makna hubungan antar manusia beserta semestanya. Boleh lah memahami lagi bahwa cinta sedemikian luas dan universal. :)