Showing posts with label cerita sepenggal. Show all posts
Showing posts with label cerita sepenggal. Show all posts

Sunday, June 28, 2020

Apakah Memaafkan berarti Melupakan?

Suatu sore, dua orang saudara tengah berbincang di bawah rindang pohon kantin sekolah. Iya, ini cerita fiksi jadi tidak ada physical distancing. Sebut saja namanya Raza dan Azhar. Bukan, mereka berdua bukan pelajar melainkan seorang pelatih basket dan saudara kembarnya.

"Bang Az ngapain ke sini?" ujar Raza sambil menyodorkan segelas teh manis pada Azhar.

"Mama nyuruh ngecek kamu, abis gak pulang-pulang terus susah dihubungin," jawab Azhar, menyambut sodoran teh dari tangan adik kembarnya.

"Yaa Allah, bener-bener ya. Padahal anaknya udah segede ini," Raza geleng kepala, Azhar tertawa, "Malu sama murid-murid gua ini," lanjut Raza lagi.

"Haha, kayak nggak tau Mama aja. Kenapa gak bisa dihubungin, Za?"

"Gua belom sempet ngisi baterai, tuh mati," dikeluarkan olehnya gawai dari dalam tas, menunjukkan layarnya yang hitam tak menyala.

"Yaudah jangan lama-lama lah, kok tumben sampai sesore ini?"

"Tadi emang sengaja gua mundurin sih, Bang. Soalnya pas siang panas banget asli! walaupun latihan indoor, tapi ga kuat juga. Kasian anak-anak."

"Ooh, ini tapi udah mau selesai?"

"Iye, dikit lagi selesai, udah gak perlu diawasin lagi. Nanti jam setengah enam bubar mereka. Kenapa sih lu? tumben," Raza meneilsik kakak kembarnya. Tidak biasanya Azhar sedetail ini bertanya soal kegiatannya.

"Kangen lah, haha," goda Azhar sambil tertawa kecil.

"Halah bilang aja Bang, ada apaan? susah lu mau boong sama gua," Raza menepuk pelan pundak Azhar.

"Hmm," Azhar bergumam kecil, lantas melanjutkan, "Za, masih ingat sama Om Andre gak?"

"Hah, siapa?"

"Om Andre, yang dulu pernah ke rumah," Azhar bergumam pelan.

"Ooh, mantan calon bapak tiri kita yang ngedeketin Mama cuma gara-gara ngincer harta itu? ya inget lah Bang, gila aja, masa gua lupa," jawab Raza santai.

"Kamu ya Za, masih aja begini. Blak-blakan banget," Azhar menahan tawa.

"Haha ya tapi bener kan? kenapa emangnya?"

"Ternyata Om Andre yang itu, ayahnya Rasinta, Za."

"Hah? Rasinta calon lu Bang?"

"Iya," Azhar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Yaa Allah Baang, terus emangnya kenapa? kan elu mau nikahin anaknya bukan bapaknya. Lagian itu kejadian udah lama banget, udah belasan tahun. Emangnya belum tobat juga itu om-om?"

"Nggak, Za, bukan gitu. Malah kemarin pas ketemu, Om Andre masih inget banget sama Abang. Beliau bahkan minta maaf berkali-kali. Katanya habis kejadian waktu itu, Om Andre pelan-pelan berubah, belajar agama, sampai akhirnya dijodohin sama istrinya yang sekarang, ibunya Ras. Rasinta juga kaget ternyata Abang sama Om Andre udah kenal. Heran, padahal dulu kita masih kecil ya Za, tapi Abang kebayang-bayang terus mukanya Om Andre. Walaupun tau itu udah masa lalu dan Om Andre udah berubah, kayanya susah deh, Za..."

"Bang, lu belom maafin Om Andre?"

"Udah, Za. Abang udah maafin kok beneran. Malah sebenarnya udah berusaha banget ngelupain kejadian yang dulu-dulu. Tapi minggu lalu pas ketemu lagi, mendadak pusing. Tiba-tiba ingat gimana dulu Mama dimaki-maki seenaknya di depan kita," kali ini Azhar mengusap mukanya pelan.

"Ah elu, Bang. Itu namanya belum maafin. Kalo kata guru agama di sini nih, kata Pak Hasan, itu namanya elu belum ridho. Belum bener-bener maafin kejadian yang udah lewat, belum bener-bener ngelepas masa lalu. Capek lu nanti kalau terus-terusan begitu, apalagi kalau bener jadi bapak mertua," Raza berujar sambil bangkit dari duduk sembari merapikan bajunya yang agak berantakan.

"Tumben Za, ngomongnya bener," Azhar terkekeh demi mendengar petuah adiknya, berusaha menyembunyikan badai pikiran dalam kepala.

"Serius gua. Itu namanya lu belum maafin. Maafin lah, Bang. Udah yang lalu udah berlalu."

"Hm," Azhar hanya menjawab dengan gumaman kecil.

"Lu tapi udah cerita belom ke Mama?"

"Udah."

"Terus?"

"Mama malah ternyata udah tau dari lama. Soalnya istrinya Om Andre ini juga kenalan mama di komunitas. Tapi Mama sengaja ga bilang ke Abang pas Abang ngajuin nama Rasinta."

"Nah kan cakeep. Yaudah itu mah masalahnya tinggal di elu. Dah ah, orang mo nikah ujiannya banyak, Bang. Jangan lu tambah-tambahin sendiri," lagi, Raza menepuk pundak Azhar pelan, "Gua pamit dulu ya sama anak-anak. Lu pulang duluan aja gapapa. Ntar kalo mau ngobrol lagi lanjut dah di rumah."

"Ya," timpal Azhar singkat.

***

Petang itu, Azhar terjebak dalam renungannya sendiri. Teh manis dari Raza masih utuh, belum tersentuh sama sekali. Memang benar apa kata Raza. Memaafkan sungguh tidak selalu berarti melupakan. Memaafkan adalah ketika kita bisa teringat akan suatu hal, kejadian, atau seseorang, dengan kondisi hati yang baik-baik saja. Memaafkan adalah ketika kita bisa mengingatnya dengan segenap ketenangan sebab ia tak lagi menyisakan luka, melainkan sebuah pelajaran yang berharga.


Lagipula ini bukan hanya soal Om Andre, tapi ini juga soal Rasinta-nya, kan?




Ditulis di Tangerang,
pada 28 Juni 2020 pukul 19.10 WIB

Saturday, June 10, 2017

Bukan Tanpa Rencana

Kita adalah manusia yang dipertemukan oleh kekurangan. Oleh keterbatasan. Oleh ketidakmampuan. Kita tidak saling menaruh hati dan simpati karena sesuatu bernama kemegahan; kemewahan; keserba-kerenan. Kita diskenariokan berbincang mengenai kekurangan-kekurangan kita. Mereka dapat dengan mudah berkomentar tentang siapa diri kita tanpa benar-benar tahu keadaan yang sebenarnya. Mereka dapat dengan mudah beramah-tamah dengan kita, sebab mereka tidak tahu menahu akan rapuh diri yang sedemikian rupa. Dari sekian banyak mereka, kita berjumpa. Tidak oleh kegemerlapan deret penghargaan manusia. Tidak oleh kekaguman sekian mata. Tidak oleh semerbak atribut yang dapat buat kita berbangga. Kita biasa-biasa saja. Tapi kita dibuat saling menyapa, oleh sebab kekosongan-kekosongan yang ada. Kita tidak sedang saling mendamba rupa, apatah lagi harta dan tahta. Kita tidak sedang saling mengejar untuk sesuatu yang dikata orang dapat digadang bangga; meski kita tahu antara kita bisa saja melakukannya. Bisa. Sebab apa yang tidak bisa, jika hari ini dunia begitu mendukung akan pembentukan citra? Tapi kita tidak berangkat dari sana. Kita tidak memberangkatkan cinta dengan alasan yang begitu sederhana diucap kata. Kita sedang bicara tentang kekosongan-kekosongan yang rindu diisi. Kita sedang mencari jawaban atas rupa-rupa tanya yang selama ini muncul di diri.

Dan dari sekian banyak manusia di dunia,

aku tahu.

Bukan tanpa rencana Tuhan mempertemukan kita.


Bersama Kakao, pada 2012 di Sawarna


**PS: Terkhusus untuk kalian yang membaca ini kemudian terfokus pada hubungan cinta-cintaan laki-laki dan perempuan, agaknya boleh lah mengilhami lagi tentang makna hubungan antar manusia beserta semestanya. Boleh lah memahami lagi bahwa cinta sedemikian luas dan universal. :)


Thursday, April 20, 2017

Ramadhan

"UMMIIII... sudah ada iklan sirup Mi, di TV!" Amira berlari kencang menghampiri ibunya yang tengah asyik menyiram tanaman di halaman belakang. Perempuan yang biasa disapa 'ummi' itu tertawa kecil, seperti biasa.

"Terusnya kenapa memang kalau ada iklan sirup?" yang bertanya pura-pura tidak mengerti maksud anaknya.

"Ummi gimana sih, itu artinya... dikit lagi bulan puasa, Mii.." Amira tersenyum sumringah. Kedua tangannya diayunkan lebar ke udara membentuk lingkaran.

"Hihi, emangnya siapa yang bilang kalau ada iklan sirup tandanya dikit lagi bulan puasa, Sayang?" Ummi berjalan ke teras mendekati Amira.

"Eh ng.... katanya Nasya tadi di sekolah! hehe..." gadis kecil bermata bulat itu nyengir. Ummi geleng-geleng kepala sambil tertawa.

**

"Ummi, kenapa sih bulan Ramadhan cuma 30 hari?"

"Karena Allah menetapkannya begitu, Sayang"

"Terus hikmahnya apa?"

"Hikmahnya banyaak sekali. Salah satunya supaya jadi spesial, ada sesuatu yang ditunggu-tunggu. Seperti Amira yang suka menunggu-nunggu cerita Abi tentang sirah Nabi setiap hari Jum'at," jawab Ummi sambil tersenyum.

"Oooh iya ya, Mi. Supaya nggak bosan ya?" tanya Amira polos.

"Hmm... bisa jadi. Karena Allah tahu, manusia itu, senang diberi hal-hal spesial. Kadang-kadang kalau setiap hari ada, akhirnya lupa disyukuri."

"Maksudnya gimana, Mi?"

"Coba sini... dengerin Ummi," wanita itu lantas menyejajarkan tingginya dengan Amira, kemudian melanjutkan, "Amira sudah bersyukur hari ini?"

"Sudaah, Mii," jawab Amira bangga. Matanya berbinar.

"Apa saja Sayang, yang sudah disyukuri? Ummi boleh tahu?"

"Bersyukur karena.... tadi Amira dipuji Ibu guru. Katanya tulisan Amira bagus. Terus tadi Nasya bagi cokelat untuk Amira. Terus tadi pagi Abi juga kasih Amira... ups!" Amira refleks menutup mulutnya.

"Ayoo Abi kasih apa?"

"Yah ketahuan Ummi deh," Amira menepuk dahinya,

"Hihi, nggak apa kalau nggak mau kasih tau Ummi. Terus apa lagi yang Amira syukuri?"

"Nanti ya Ummi, Amira tanya Abi dulu boleh nggak kasih tau Ummi," mendengar pernyataan polos anaknya, perempuan itu tertawa, "Hmm... yang Amira syukuri... apa lagi ya, Mi..."

"Amira bernafas hari ini?"

"Loh iya dong, Ummi..."

"Amira melihat?"

"Iya."

"Amira bisa makan hari ini, Sayang? bisa bertemu air?"

"Iya, Ummiii.... Amira tahu!"  perempuan kecil itu mengajungkan jari telunjuknya ke udara.

"Tahu apa?"

"Amira lupa bersyukur karena sudah bernafas, melihat, bisa makan dan bertemu air. Kita suka lupa bersyukur sama yang ditemui setiap hari. Ummi mau bilang itu, kan?"

"Hihi, anak Ummi sekarang sudah makin pintar ya, Alhamdulillah," perempuan itu mengecup pipi anaknya, seraya melanjutkan, "jadi, salah satu hikmah kenapa Ramadhannya 30 hari saja, adalah supaya manusia sadar dan memanfaatkan waktu-waktu indah itu dengan sebaik-baiknya." mendengar penjelasan ibunya, Amira mengangguk-anggukkan kepala. 

"Satu lagi loh, Mi. Amira juga bersyukur punya Ummi. Ummi juga jangan lupa bersyukur punya Amira, Walaupun setiap hari ketemu, jangan sampai lupa ya, Mi. Hehe..."

***


Tulisan ini sudah menjadi draft selama berbulan-bulan.
Alhamdulillah, ternyata sekarang sudah sungguhan dekat Ramadhannya. :)
#welcomingramadhan

Wednesday, June 8, 2016

Generasi Es Krim

"Silahkan manfaatkan kertas putih yang sudah saya bagikan untuk menuangkan pikiran kalian tentang anak muda masa kini," Laki-laki berkacamata itu memberikan arahan. Mendengarnya, kami mulai asyik dengan pikiran masing-masing. Termasuk aku. 

Selang beberapa menit, kelas mulai kembali ramai. Tandanya sebagian besar anak sudah menyelesaikan tugas tersebut. Aku sendiri membuat semacam mind mapping sederhana. Kupikir, tema semacam ini bukanlah hal baru. Memang degradasi moral kentara sekali terjadi pada anak-anak muda. Meski aku sendiri juga anak muda, sih.

"Sudah selesai semua?" tanya guru kami di depan kelas.

"Pak," Sebuah suara memecah keheningan.

"Ya, ada apa?"

"Boleh izin sebentar?"

"Mau kemana?"

"Menyelesaikan tugas ini. Sebentar saja," mendengar permintaan salah satu muridnya, beliau lalu megangguk pelan sambil tersenyum. Yang meminta izin lantas keluar ruang kelas. Kami kemudian melanjutkan pembahasan hari itu. Satu per satu maju ke depan kelas da menjelaskan konsep pikiran masing-masing. Tidak terkecuali aku. Kujabarkan satu persatu permasalahan yang tengah dihadapi oleh kaum muda.

Di tengah-tengah kelas berlangsung, anak yang tadi izin ke luar kelas mengucap salam dan masuk kembali. Guru kami, mempersilakan ia masuk. Sesekali kulirik kertas di tangannya. Agak penasaran apa yang ditorehkannya di sana.

"Ya, silakan tinggal kamu yang belum maju," Pak guru tersenyum ramah

"Oh, Baik," ia berdiri tepat di tengah-tengah kelas. Tangan kirinya memegang kertas yang entah bagaimana masih bersih. Kosong. Sementara tangan kanannya mengenggam sebuah es krim cone vanilla yang biasa di jual oleh Om Kone di seberang sekolah.

Kami menunggu.

"Generasi muda saat ini," ujarnya sambil menjulurkan es krim dalam genggaman tangan, "seperti es krim," lanjutnya. Kami hening. Aku pun memerhatikan anak baru itu lamat-lamat.

"Kenapa es krim?" salah satu dari kami bertanya. Mendengarnya, sosok dengan es krim di tangan itu kemudian meletakkan kertas putih miliknya di atas meja disusul dengan tubrukan es krim cone di atasnya. Es krim itu meleleh, merambat pada serat kertas secaa perlahan.

"Es krim. Terlihat indah, menyenangkan, warna-warni di dalam lemari es pelindungnya. Namun sayang, mudah sekali meleleh. Lemah sekali menghadapi dunia ketika keluar dari lemari pelindung. Anak muda sekarang, umpama generasi es krim.."  ia berkata pelan. Tidak memandang kami, melainkan matanya tertuju fokus pada kertas di hadapannya yang kini semakin basah oleh lelehan es krim.

Aku tidak bida berkata-kata. Analogi yang cerdas sekali. Entah, rasanya campur aduk. Sejurus kemudian benakku terganggu oleh sesuatu: Adakah aku bagian dari generasi es krim itu? generasi yang terlihat indah namun lemah pada nyatanya?



Sumber


Batavia, 3 Ramadhan 1437 H

Tinggal

"Oleh manusia, aku tidak peduli apakah mereka menilaiku baik atau buruk. Yang terpenting adalah aku menyampaikan kebenaran, dan bagaimana pandangan Rabb-ku atas apa yang aku lakukan."

**

"Maaf," pemuda itu berkata pelan. Agak menunduk.

"Tapi kenapa harus mengundurkan diri? posisimu disini ketua Kak, bukan main-main." Karang angkat bicara. Aku hanya diam. Tidak tahu harus mengatakan apa.

"Tidak pernah ada posisi manapun dalam tim yang main-main," kali ini ia mengangkat wajah. Ada badai yang tersamarkan oleh sunggingan senyum miliknya.

"Ya, aku tahu," Karang mengangguk, "tapi ini tidak bijaksana sekali. Apa alasanmu, Kak?"

"Urusan keluarga jadi faktor terbesarnya. Semoga Kau mengerti. Aku minta maaf." ia berbalik badan, mulai membereskan peralatannya.

"Kak!," Karang kembali berusara. Intonasinya meninggi, "Kakak fikir kami tidak punya keluarga?! kami juga sama sepertimu, Kak. Kami punya orang tua, punya kakak dan adik yang butuh diperhatikan! mana idealisme dan semangat yang dulu Kakak suarakan itu, hah?!"

"Karang!!" kali ini aku bersuara. Memberi instruksi pada Karang agar tidak banyak bicara.

"Apa alasanmu tetap berada disini, Karang?" pemuda yang sejak tadi dipanggil "Kakak" menoleh, Menatap Karang lekat-lekat.

"Kebaikan. Kebermanfaatan. Mimpi. Setidaknya aku tidak ingin masa mudaku sia-sia," ujar Karang dengan tatapan tajam, "itu yang Kakak katakan dulu, bukan? Kau tidak jadi keren lagi di mataku, Kak!" lanjutnya. Masih memandang lurus.

"Benar. Terima kasih untuk mengingatnya dengan baik. Aku pun memutuskan pergi dengan alasan yang sama. Tentang aku yang tidak jadi keren lagi, aku tidak peduli. Maafkan aku," ia pergi meninggalkan kami. Punggunya semakin jauh tak teraih. Karang jatuh terduduk. Aku tahu, ia pasti sangat kecewa.

**

"Master, kamu tahu apa yang lebih pahit daripada ditinggalkan?" aku tertawa mendengar pertanyaannya. Anak ini selalu saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit.

"Kapan kamu berhenti jadi terlalu serius, Kakak?" kataku sambil mengangkat alis.

"Haha," ia tertawa, "jangan panggil aku Kakak. Kamu lebih tua daripada aku, Master," ujarnya sambil membetulkan posisi kacamata.

"Tapi kamu terlihat lebih tua karena banyak fikiran," aku terkekeh.

"Ya, ya, mungkin ada benarnya. Jadi, kamu tahu apa yang lebih pahit daripada ditinggalkan?"

"Tidak. Apa? kehidupanmu?" jawabku asal. Ia tertawa.

"Meninggalkan. Meninggalkan rasanya jauh lebih pahit daripada ditinggalkan," aku menoleh demi mendengar ucapannya barusan.

Kau, mungkin sekali-kali Kau butuh untuk lebih egois sedikit. Dunia ini tidak berputar dengan dirimu sebagai sebab dari segala masalah, Ketua.

**


Karang, maaf aku meninggalkanmu dan yang lainnya. Tapi ini adalah pilihan sulit. Kalau suatu saat kamu mengalami hal yang sama denganku, ketika kamu berada di dua pilihan rumit untuk meninggalkan, maka tetapkanlah dengan hati nurani. Putuskanlah dengan fikiran yang jernih. Tetaplah berharap kepada Rabb-mu, semoga Ia ridha.

Karang, maaf karena aku mengajakmu -kemudian pergi begitu saja. Karena dalam tim, aku bisa digantikan oleh siapapun yang boleh jadi jauh leih baik. Tapi di rumah, ibuku hanya memiliki aku. Beliau tidak memiliki yang lain. Aku satu-satunya. Semoga kau mengerti.

Dari berjuta sarana kebermanfaatan, kita bisa memilih untuk jadi bermanfaat dimana saja. Untuk detik ini, aku memilih disini. Karena jika ranah lain kutinggalkan, aku yakin seizin Allah ia akan miliki ganti. Sementara ranah ini, bagaimana ia dapat terdelegasi?

Sekali lagi, kuharap kau mengerti.

dari seseorang yang tidak keren,
Kakak.



Batavia, 3 Ramadhan 1437 H

Wednesday, April 20, 2016

PASIR TERBANG


Aku fikir, pasir terbang itu hanya ada di film-film saja. Tapi ternyata, ia sungguhan ada. Aku mengabarkanmu, namun entah mengapa kamu tidak percaya. Jadi biar aku tuliskan saja disini. Setidaknya telah kusimpan ia dalam memori dunia -meski dalam benakmu ia tiada.

April 2016 : KABUR

Dedaunan saling melambai. Diterobos cahaya pada sela-sela rerumputan. Dibuat tersipu oleh udara. Aku melangkahkan kaki gontai, setengah sadar. Kubuka pelan pintu kaca yang entah mengapa terasa lebih berat. Kuperiksa loker paling ujung. Masih bagus, hanya sedikit berdebu. Agaknya cukup lama aku meninggalkan tempat ini. Gumamku dalam hati.

"Kemana saja?" seseorang di ujung lorong berjalan mendekat.

"Kemana? aku tidak kemana-mana," jawabku sambil tertawa ringan. Jelas-jelas membuat canda yang dipaksakan."

"Kamu sukses bikin satu sekolah geger, tahu nggak. Kenapa ngabur begitu saja?" ujarnya.

"Kamu fikir aku kabur?" kataku dari jarak lima meter.

"Apalagi namanya kalau bukan kabur? nggak nyangka aja sih, kamu selemah itu," kali ini nada bicaranya merendahkan.

"Aku bukan kabur, tapi diusir." aku kembali terkekeh. Menyiptakan gema oleh dinding-dinding ruangan.

"Iya, diusir oleh dirimu sendiri!" ujarnya galak.

"Keluarga besar kita dalam masalah, Ken. Aku bukan kamu yang begitu penurut tapi membiarkan diri terkungkung dengan sistem berantakan ini,” kali ini gantian aku yang mendekatinya.

"BUK" wajahku dilempari satu plastik air dingin.

“Jangan gegabah. Lihat siapa yang membiarkan dirinya masuk ke lubang serigala dengan sengaja, Dasar!” Lalu aku ditinggalkan.

April 2016: TULISANMU

Belakangan, aku punya hobi baru: memeriksa kolom pojok kanan buletin sekolah setiap minggu; menanti tulisanmu. Entah sejak kapan ini menjadi kebiasan rutin yang sejujurnya, diam-diam aku maki dalam hati. Meski tulisan itu bebas dibaca siapapun, namun melakukan pemantauan berkala seperti ini kadang membuatku merasa jadi tukang intip. Aku jadi merasa kehilangan diriku dalam satu waktu. Dan malangnya, itu terjadi rutin setiap minggu.

“Bapak ketua OSIS, sejak kapan senang baca buletin sekolah?” lagi, aku kedapatan mematung di samping tangga; membaca tulisanmu.

“Hei, bukannya dari dulu, Master?” aku tertawa renyah. Mengawasi setiap inci kegiatan siswa di sekolah ini memang bagian dari tugasku, kan? Aku menelan ludah.

“Haha, iya. Tapi belakangan jadi lebih rajin,” bahuku ditepuk pelan. Aku membetulkan posisi kacamata yang tidak berlensa.

“Tulisan pojok kanan ini selalu menarik,” kusodorkan tulisanmu pada Master.

“Ketua OSIS kita sedang jatuh cinta rupanya. Anak baru itu diam-diam menyolok sekali,” Master menggodaku. Aku tertawa.

“Bisa jadi,” jawabku sekenanya. Ia ikut tertawa.

Tapi aku tahu persis, ini bukan jatuh cinta. Bukan, tapi lebih dari itu. Aku seperti menemukan seseorang yang telah lama hilang. Semua petunjuk-petunjuk ini mengarah padamu. Jalan fikiranmu, gaya tulisanmu, pilihan kosakatamu. Aku hanya hendak memastikan semua itu. Jika memang itu dirimu, apa yang akan kamu lakukan di tempat ini, Anak Baru? Apapun itu, disini, akulah ketua OSIS-nya. Kamu harus tahu.

April 2016: PENYAPU JALAN

Kakek pernah bercerita padaku tentang gadis penyapu jalan. Setiap pagi, ia menyapu persimpangan jalan mulai dari ujung rumahku sampai pertigaan terdekat yang jaraknya sekitar sepuluh meter. Sekilas tidak ada yang istimewa. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, ternyata gadis itu tidak dapat melihat. Ya, dia menyapu jalan sejak dini hari, selagi suasana masih lengang. Hanya ada satu-dua orang tua yang keluar untuk berbelanja di pasar, atau tukang sapu lain yang juga bekerja pagi-pagi sekali.

Suatu ketika aku memberanikan diri menghampirinya. Malang, ternyata selain buta, ia juga tidak dapat berbicara. Aku garuk-garuk kepala. Bagaimana mungkin Tuhan tega membiarkan hidupnya sebegitu sengsara? Alasan apa pula yang membuatnya melakukan hal itu setiap hari; menyapu jalanan? Apakah ia digaji? Kalaupun iya, seberapa besar? Apa kabar sekolahnya? Ia hanya meresponku dengan tersenyum tanpa bicara satu patah kata pun. Aku tidak punya pilihan selain tersenyum balik.

Beberapa pagi aku menjumpainya. Selalu saja seperti itu. Ia akan tersenyum, kemudian menyapu tanpa memperdulikan aku. Malang sekali nasibnya, fikirku. Setiap kali aku hendak menggantikan dirinya menyapu, ia tersenyum lebar, lalu menggeleng. Aku mengangguk. Aku tahu, ia pasti tidak mau merepotkan orang lain. “Kamu.” Kataku padanya, “aku akan menjadi orang besar. Supaya nanti, tidak ada lagi orang-orang yang harus mendapat nasib sama sepertimu!” aku bertolak pinggang. Kemudian pergi dengan semangat menggebu. Aku harus melakukan sesuatu untuknya; untuk negeri ini.

Pagi berikutnya, aku datang lebih awal. Pagi-pagi sekali. Langit masih gelap. Lalu dari kejauhan kudapati ia datang menggunakan sepeda dibonceng seorang perempuan –kurasa ibunya. Mendengar suaraku, ia menunjukkan wajah heran. Aku lantas memberitahu bahwa aku membawa sapu lidi yang sudah aku siapkan dari rumah. Aku hendak membantu, kataku. Tanpa kuduga, ia mengerutkan alisnya. Melarangku untuk menggunakan sapu yang telah siap aku fungsikan.

“Apa kamu fikir aku menderita?” ia merogoh sapu dari kantung besar di sepedanya. “Silakan kamu bermimpi besar akan bangsa ini. Itu bukan hal buruk. Tapi lebih baik kau pulang dan temui ibumu,” ia memakiku sambil memainkan telunjuknya.

“K..k.. kamu..” aku terbata demi mendengar ia bicara.

“Kemarin, aku mendengar ibumu kesulitan menyapu halaman belakang karena harus menyuci pakaian, menyuci piring, mengepel, sekaligus menidurkan adikmu. Jangan tinggi-tinggi bermimpi membenahi negeri ini jika wajahmu bahkan jauh dari punggung tangan ibumu!” suaranya menyapu udara, “Tidak perlu repot-repot mengambil alih pekerjaanku!” katanya lagi.

MeNdengar seruannya, aku terperanjat. Dia… dia bisa bicara. Tidak, dia bahkan menumpahiku dengan hujanan nasihat. Tenggorokanku kering seketika.

April 2016: CANTIK

“Tapi aku tidak cantik, Mi,” aku mengerutkan alis.

“Kata siapa?” wanita paruh baya itu mengusap kepalaku pelan sambil tersenyum teduh.

“Aku tahu, Ummi. Anakmu ini sudah besar, dan sudah melihat dunia dengan luas. Dia sudah bisa menilai mana cantik dan mana yang nggak cantik,” aku menghela nafas panjang. Mematut di depan cermin.

“Pandanganmu seluas dunia, Nak?” Ummi duduk di hadapanku. Membiarkan aku menikmati wajah teduhnya. Tenang.

“Ya, aku tahu idealisme itu, Mi. Cantik dilihat dari hatinya. Ummi selalu bilang begitu, kan? Tapi apa masih ada manusia di dunia ini, yang punya idealisme seperti itu?” aku melempar muka. Bukan angkuh, hanya tidak sanggup menatap wajah Ummi lebih lama.

“Jika dunia begitu membutakanmu, maka gunakanlah pandangan langit, Anak Ummi Sayang…” perempuan paruh baya itu mengecup keningku, “Maafkan jika Ummi tidak banyak berdoa pada Allah agar dikaruniai anak perempuan yang cantik fisiknya. Tapi Ummi selalu minta sejak dulu, supaya anak-anak Ummi menjadi ahli syurga yang cantik hatinya,” lanjutnya.

“Ummi, tapi dunia ini sudah sebegitu jahat dengan hanya menilai seseorang dari fisik,” aku kembali menjawab.

“Kalau begitu, paling tidak jangan biarkan kita menjadi bagian dari mereka. Siapa yang dicintai Allah, maka Allah akan menjadi pendengarannya lagi menjadi pengelihatannya. Naikkan standar cantik itu, Nak…”

Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu Ummi benar. Hati kecilku meyakininya. Miskin sekali standar cantik dalam benakku. Aku tahu. Namun di sisi lain aku juga tahu, bahwa ternyata, penjajahan fikir itu begitu dahsyat menyerang benak setiap manusia. Termasuk aku. Haruskah aku buang semua definisi dari kamus, iklan, dan internet itu?

“Tentu saja, Sayang…” Ummi memelukku seakan tahu, “orang-orang yang menggunakan mata hatinya untuk melihat, selalu saja beruntung menjalani kehidupan,” katanya lagi.

Aku tahu, Mi. Tapi…

April 2016: "JESSICA"

Namanya Jessica. Bukan, dia bukan bule kesasar atau semacamnya. Ia adalah orang pribumi tulen. Malangnya, baru saja Jessica pulang dari luar negeri tempat ia bekerja sebagai TKI dengan wajah tak berbentuk (jika tidak mau dikatakan hancur) akibat siksaan majikannya. Sekilas namanya memang terdengar asing, tapi itulah buah dari paradigma orang tuanya yang menilai bahwa nama kebarat-baratan adalah sesuatu yang keren.

Pagi ini, Jessica sudah hadir dengan rapi di tanah air. Bersyukur jenazahnya bisa diurus dengan cepat -meski heran, mengapa kasus semacam ini harus terjadi berulang kali? Bermodalkan iming-iming kekayaan dalam waktu singkat, dua tahun lalu Jessica bersama dua orang temannya nekat pergi ke negeri seberang dengan kemampuan pas-pasan. Jangankan bela diri sebagai bekal pertahanan, bahasa untuk bekerja saja ia hanya modal kamus satu milyar harga dua ribuan.

Tanah air gempar. Kabar Jessica yang wajahnya disiram air keras, punggungnya disetrika, dan tubuhnya yang digerayangi sang majikan menyebar dengan cepat. Menimbulkan kengerian yang lambat laun seakan merupakan hal lumrah: ah, itu mah sudah biasa. Dengan suasana haru biru di salah satu stasun televisi, kedua orang tua Jessica dimanfaatkan. Ya, dimanfaatkan untuk mendulang rating stasiun televisi. Menjual isak tangis dan rasa iba tak berkesudahan, dibeli seadanya. Sekelebat. Dan malang, masih juga terulang kejadian serupa.

Pagi itu, studio dengan sofa empuk, layar-layar bergambar, serta ratusan penonton; bahkan jutaan jumlahnya di seluruh negeri.

“Jadi apa harapan Ibu dan Bapak akan meninggalnya puteri tercinta di tanah seberang?” sang pembawa acara menatap simpati.

“Ndak ada, Bu. Ndak ada harapan apa-apa. Namanya juga jelata. Ya wajar saja begini nasib kami,” jawab ayahanda dengan mata berkaca-kaca. Lalu suara latar diputar, tatapan nanar dan sayu ditampilkan di layar kaca. Membiarkan penontonnya larut dalam kesedihan sementara. Ya, sementara saja. Kemudian tidak ada apa-apa. Kehidupan berjalan seperti biasa. Dua tahun kemudian, kembali terulang peristiwa yang sama.

April 2016: PASIR TERBANG

Aku punya indera keenam. Kamu juga. Setiap manusia punya. Salah satu yang jadi keunggulanku adalah membaca kepala orang lain. Membaca masa lalunya, membaca latar belakangnya, membaca jalan pikirannya. Sayang, kadang aku malas menggunakan kemampuan itu. Ia selalu sukses membuatku memaklumi setiap orang. Kadang-kadang aku hanya bosan, sesekali ingin dimengerti alih-alih selalu bekerja untuk menjadi pihak yang mengerti. Jangan dicontoh. Ini egois.

Akhir-akhir ini pikiranku rasanya ingin tumpah. Tapi sayang, seringnya tidak menemukan wadah. Bukan tidak ada, sih. Hanya saja aku seringkali lupa dan tidak sabaran. Memotret banyak kejadian dalam satu waktu, memahami banyak karakter dalam satu hela, dan menerjemahkan kode semesta yang melimpah ruah ternyata cukup menguras tenaga. Tapi ternyata aku salah. Itu bukannya melelahkan, namun aku yang terlalu malas menggunakan sumberdaya. Menyedihkan.

Aku fikir, pasir terbang itu hanya ada di film-film saja. Tapi ternyata, ia sungguhan ada. Aku mengabarkanmu, namun entah mengapa kamu tidak percaya. Jadi biar aku tuliskan saja disini, ya. Setidaknya telah kusimpan ia dalam memori dunia -meski dalam benakmu ia sungguh tiada.

Kamu tahu, dalam satu detik saja, ada begitu banyak fenomena menakjubkan dalam tiap kisah dan episode kehidupan manusia. Percaya?

(Ditulis di Kota Hujan, pada 19 April 2016 --setelah sekian lama tidak menulis panjang)

Saturday, March 19, 2016

Tanya, Kenapa?


"Ummi, kenapa kita tidak boleh makan dan minum pakai tangan kiri?" Amira menyergap ibunya dari belakang.

"Karena yang Rasulullah contohkan, adalah dengan menggunakan tangan kanan, Sayang,"

"Loh kok Ummi jawabnya gitu. Kalau itu sih Amira juga tahu, Mi. Kenapa kita harus shalat, kenapa kita harus berzakat, ya karena Rasulullah mengajarkannya seperti itu," komentar Amira kecewa.

"Anak Ummi semakin cerdas ya shalihah. Lalu Amira maunya jawaban yang seperti apa?"

"Yang keren-keren, Ummii.. seperti.. kenapa kita nggak boleh makan daging babi? karena hewan itu banyak penyakitnya dan ga baik untuk kesehatan," Amira bertolak pinggang. Lalu tubuhnya diangkat oleh sang ibu.

"Dengarkan Ummi ya.. begini. Alasan kenapa kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu, itu karena Allah saja. Karena sunnah Rasulullah," perempuan itu mencium pipi anaknya, "Kalau soal alasan yang Amira bilang keren, itu sih semata hikmah dari syariatnya Allah," mendengar uraian ibunya, Amira geleng kepala tanda tidak mengerti.

"Gimana sih Mi maksudnya?" dahinya mengkerut.

"Hihi, pokoknya, Ummi mau Amira menjalani hidup berlandaskan ibadah sama Allah. Bukan dengan logika semata,"

"Logika itu apa, Mi?" mendengar pertanyaan polos Amira, yang ditanyai tersenyum seraya memeluk buah hatinya.

"Kita tunggu Abi pulang ya. Nanti tanya Abi sama-sama Ummi," Perempuan itu tertawa kecil lantas mencium pipi Amira.

"Yaaah Ummiii...."

__________________

Betapa banyak dari kita yang hari ini lupa, lantas asyik mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu tanpa sadar menghadirkan penyimpangan-penyimpangan yang bertuhankan logika.

Padahal alasan paling jelas mengapa kita shalat, mengapa kita zakat, mengapa kita puasa, atau mengapa2 yang lain, bukan karena untuk menjaga kesehatan, bukan karena untuk menjaga kestabilan ekonomi. Bukan, melainkan karena Allah mensyariatkan demikian.

Kalau IPTEK yang jadi kiblatnya secara mutlak, tidak heran besok lusa bisa saja shalat diganti yoga atau meditasi. Naudzubillahi min dzaalik.

Bedakan antara alasan dengan hikmah ya Bung, Non.

Allahu a'lam.

Saturday, March 12, 2016

Bahagia

"Ajari aku cara bahagia," Kaia mematung di sebelahku. Tatapannya kosong. Remaja itu telah lama kehilangan harapannya. Aku tahu, rasanya pasti pahit sekali.

"Cara bahagia adalah dengan mengizinkan dirimu bahagia," Aku mengusap pelan pundaknya. Kami tengah berdiri di lantai paling atas rumah sakit. Aku dengan jas dokterku, dia dengan pakaian pasiennya. Tapi kalau boleh jujur, saat seperti ini aku lebih merasa bahwa akulah pasien yang sesungguhnya.

"Bu Dokter, Anda kan pintar. Coba beri aku solusi yang lebih konkret. Itu terlalu abstrak," mendengar rajukannya, aku mencoba tersenyum. Lantas mengajaknya masuk ke dalam ruangan.

"Ayo masuk, udaranya semakin dingin. Hari ini cukup main di luarnya." mendengarku, ia mengangguk.

"Ajari aku cara bahagia," kembali Kaia mengulang permintaannya. 

"Baik baik. Jadi mau sekonkret apa? ah ya maaf sebelumnya, izinkan aku menguncir rambutmu. Berantakan sekali," ujarku sambil meraih sisir di laci meja. 

"Silakan, Bu Dokter. Aku mau cara bahagia yang paling sederhana. Jangan susah-susah. Aku sudah muak." intonasi bicaranya setengah meninggi. Ketus. Aku mulai menyisiri rambutnya. Anak keturunan China ini begitu keras kepala. Sukses membuatku ingat pada seseorang. 

"Aku pernah punya pasien. Mirip denganmu," 

"Lalu?" 

"Lalu dia mengajarkan padaku tentang cara bahagia yang paling konkret," Kaia tidak bergerak. Ia masih mematung. Aku menguncir rambutnya perlahan. 

"Bagaimana?" kali ini ia agak antusias. 

"Tarik nafasmu dalam-dalam sambil memejamkan mata. Rasakan bahwa kamu hidup," aku menghela nafas panjang, "lalu tersenyumlah dengan tulus, paling tidak selama sepuluh detik" ujarku lagi. 

"Hm.. terdengar mudah. Kapan aku bisa melakukannya?" 

"Kapanpun kamu mau. Lakukan setiap hari, terus-menerus," Aku duduk di kursi samping dipannya. 

"Bu Dokter, sejak kemarin aku ingin bilang sesuatu padamu," untuk pertama kalinya hari ini, gadis itu menoleh ke arahku. 

"Dengan senang hati," jawabku sambil menatap matanya lembut. 

"Anda mirip ibuku. Tapi Anda jauh lebih baik dan beradab daripadanya. Aku tahu Anda orang baik Ibu Dokter, tidak seperti ibuku. Ia membunuh anak perempuannya pelan-pelan. Ia bahkan tidak pantas lagi disebut ibu." Kaia menatapku lurus. Dapat kurasakan tatap matanya yang kosong. Dapat kurasakan hatiku yang turut perih. Kupeluk ia tanpa berkata-kata. Aku tahu, rasanya pasti pahit sekali. 

** 

"Dari mana, Bu Dokter?" Raihana, partner kerjaku di rumah sakit, menepuk pundakku. 

"Tadi menemani pasien di kamar paling ujung," kataku sambil tertawa kecil, "Apa ada yang mencariku?" 

"Tidak, aku yang mencarimu. Kaia lagi? sejak kapan senang sekali mengunjungi pasien?" mendengar pertanyaannya, aku menertawai diriku sendiri. 

"Kamu tahu? anak itu mirip sekali dengan almarhumah anakku. Kalau dulu aku gagal menjadi dokter untuk anakku, paling tidak semoga Tuhan menjadikan itu pelajaran agar aku tidak gagal menangani anak yang satu ini," ujarku seraya menyimpul senyum. 

"Kamu baik-baik saja?" Raihana menatapku prihatin. Mungkin agak menyesali pertanyaannya barusan. 

"Han, kadang-kadang, kita harus memaksakan diri. Harus berusaha bahagia dengan cara konkret yang paling sederhana -sepahit apapun keadaannya. Aku baik-baik saja," jawabku, kemudian kembali melempar senyum.

Ya, aku baik-baik saja. :)