Showing posts with label wordspic. Show all posts
Showing posts with label wordspic. Show all posts

Thursday, May 12, 2016

Anak-anak Surga

...
...
yang berlarian,
yang tidak takut,
yang miliki keyakinan utuh,
Anak-anak Surga

Bias cahaya diterpa udara,
semerbak canda dan suka duka,
juga segenggam tekad hiasi jiwa-
selimuti raga.

Curang.

Bolehkah pinjami aku kekuatanmu?
Atau sudikah engkau berbagi denganku?

Anak-anak Surga-

padamu,
aku cemburu.

Tuesday, November 3, 2015

Manusia Bodoh



Sebodoh-bodohnya manusia adalah ia yang tidak menyadari bahwa dirinya dicintai. Seperti kamu. Kok bisa sih, kamu tidak sadar-sadar juga? Aneh sekali. Padahal energi cinta yang dikirimkan kepadamu sudah begitu besar. Padahal, pengekspresian cinta itu sudah begitu konkret. Jelas lagi nyata. Lalu kamu masih juga asyik sendiri. Jangankan menoleh, sadar saja -sepertinya kamu masih jauh dari kata itu.

Maaf kalau aku bilang, bahwa kamu tengah mengalami kondisi terbodoh sebagai manusia. Ya, kamu bodoh. Dalam artian sesungguhnya. Bagaimana bisa kamu masih bertanya-tanya, menyangsikan, bahkan tidak yakin? Padahal, ketulusan itu telah lama mengirimimu kekuatan dahsyat. Padahal cinta itu sudah terang sekali terlihat. Orang-orang di sekitarmu saja tahu. Bagaimana bisa kamu justru tidak mengetahuinya?

Atau mungkin kamu pura-pura tidak tahu. Jangan-jangan malah tidak mau tahu? Miris sekali.

Ya tidak apa-apa, sih. Toh yang mencintaimu sama sekali tidak keberatan. Beruntung, kamu dicintai secara tulus. Jadi kebaikan itu tetap tercurah padamu meski kamu sungguh acuh tak acuh. Hanya saja, biar aku kabarkan ya, sebenarnya kamu yang sedang kerugian. Rugi sekali menyia-nyiakan curahan cinta yang tumpah kepadamu. Apalagi yang setulus dan seindah itu. Sebelum kamu menangis-nangis dan menyesal nantinya, lebih baik segera menoleh. Segeralah sadar.

Ada yang menunggumu. Yang tidak pernah pergi meski sering kamu acuhkan. Yang akan selalu menerimamu apa adanya dengan lapang, dan tidak mengharapkan balasan apa-apa. Yang tidak peduli latar belakangmu apa, statusmu, penampilanmu, jabatanmu, profesimu, namamu bahkan. Tidak peduli. Lalu kamu masih juga mengejar yang lain? Aduh, kamu sungguh-sungguh bodoh kuadrat. Sekali lagi aku ingatkan ya, lekaslah sadar. Jangan mau jadi manusia bodoh seutuhnya.

Karena kamu beruntung sekali, dicintai secara tulus dan seindah itu- oleh Rabb-mu.

Sunday, September 20, 2015

Temu

"Dari sekian banyak manusia yang hidup di bumi, kita lantas bertemu. Tidakkah itu ajaib?" katamu.

"Bukankah itu justru biasa-biasa saja? adalah hal yang sangat masuk akal, jika bumi yang disesaki manusia ini membuat dua diantaranya bertemu," kataku.

Mendengarnya, kamu tertawa.

"Kamu," ujarmu padaku, "kapan berhenti menggunakan logika secara berlebihan?"

"Aku serius. Ajaib itu milik kisah Adam dan Hawa. Bumi tanpa manusia -lalu mereka bertemu. Adapun kita, kalau aku tidak menjumpaimu ataupun sebaliknya, masing-masing kita akan tetap berpapasan dengan manusia lain." mendengarku, kamu geleng-geleng kepala.

"Bukan. Mereka bukan bertemu."

"Tapi?"

"Tapi dipertemukan. Dan kita juga begitu," kali ini senyum simpul menghiasi wajahmu.


Ah, sebenarnya aku tahu isi kepalamu -kadang-kadang. Dari sekian banyak manusia yang ada di bumi, kenapa Tuhan menjadikan kisah kita saling bersinggungan? kenapa kamu dipertemukan denganku, dan juga sebaliknya? Kenapa kamu atau aku tidak bertemu -dalam artian yang lebih sakral- dengan orang lain saja? kenapa akhirnya adalah kita? bukankah Tuhan memiliki skenario? Tidakkah itu ajaib?

Begitu, kan? kamu sejak dulu selalu mampu membuatku kagum. Kalau nanti putri kecil kita lahir, ajarkanlah padanya tentang itu. Bagaimana menjadi perempuan yang pandai mengatur kata-katanya, pandai menjaga lisannya, pandai menggunakan perasaannya, pandai membaca pembelajaran dari Tuhannya. Tenang saja, aku takkan membiarkanmu sendiri. Tentu aku turut serta dalam mendidik ia yang kita cinta. Hanya saja aku tahu, belai tanganmu tentu tak sebanding dengan sentuh kasar milikku.

Ah, sebenarnya aku tahu isi kepalamu -kadang-kadang. Tapi entah bagaimana lisanku memang tidak selihai lisanmu dalam mengungkapkan.

**

Foto diambil dari puncak Sikunir, Dieng, pada Agustus 2015. Tulisan ini terinspirasi dari kisah Bapak di Banjarnegara. Kisah yang kaya akan hikmah dan pelajaran hidup yang menghidupkan. Kami berjumpa dengan beliau tanpa ada unsur kesengajaan pribadi (namun boleh kau katakan ialah kesengajaan Tuhan -skenario Allah Azza wa Jalla- mempertemukan kami dengannya). Mungkin sewaktu-waktu, kisah pelajaran yang dibagikan oleh Bapak akan kami tulis di ruang berbeda. :)

Wednesday, August 26, 2015

Siang Kita

Siang kita tidak pernah terik. Selalu begini. Hangat ditemani embusan udara menerpa wajah. Kamu ingat?

"Ini tempat kita biasa bermain, bukan?"

"Ya, lapangan roket!"

"Kamu pernah diseruduk kerbau disini. Aku ingat betul, haha."

"Setelah itu giliran kamu."

"Ya, habis menertawaimu aku jatuh tersandung batu."

"Lalu kita menangis bersama."

"Disusul tawa bodoh setelahnya." jawabku sambil terkekeh.

"Terimakasih, ya."

"Untuk?"

"Untuk menjadi sahabat, saudara, bahkan keluarga bagiku" jawabmu sambil tersenyum tipis.

"Tidak perlu terimakasih. Manusia memang diciptakan untuk itu." Aku merangkul pundakmu. Membiarkan memori masa kecil kita terbawa lagi.

"Ya, kamu benar." kau tertawa kecil. Tidak berubah sejak bertahun-tahun aku mengenalmu.

Siang kita tidak pernah terik. Selalu begini. Hangat ditemani embusan udara menerpa wajah.

Kamu ingat? :)


Foto diambil di lapangan desa #glempang #banjarnegara #indonesia#igtf #2015 #tree

Kepastian



"Katanya, perempuan itu makhluk kepastian." ujarku seraya menyeruput teh panas pagi ini.

"Kata siapa?" sosok disampingku menoleh.

"Ya, paling tidak itu yang suka aku dengar. Memangnya salah?"

"Tidak juga. Tapi kau lupa, mereka juga makhluk yang sulit untuk percaya."

"Maksud Ayah?"

"Bukankah kamu tahu sendiri, adik perempuanmu selalu sibuk bertanya berkali-kali, kan? Bukan mengoreksi kebenaran, tapi ia butuh diyakinkan."

"Ayah bicara soal pakaian? dia memang begitu kalau membeli baju."

"Hha, bukan itu maksudku. Tapi kalaupun demikian, hal remeh semacam itu saja perempuan butuh diyakinkan. Apalagi persoalan semacam ini."

"Termasuk orang itu?"

"Ya, bisa jadi."

"Apa aku kurang membuatnya yakin?"

"Menurutmu?"

"Entahlah. Kurasa perempuan juga makhluk yang membutuhkan waktu lebih untuk percaya." Mendengar ucapanku, Ayah mengangguk-angguk sambil tersenyum.

"Kau benar. Seperti ibumu itu, yang meski anaknya sudah sebesar kau, dia masih juga menganggapmu anak kecil." Lelaki setengah abad itu terkekeh.

"Mungkin itu juga yang membuat ibu melihatmu sebagai pemuda hingga hari ini, Yah." ujarku sambil memandangi beliau takzim.

#dieng #java #indonesia

Saturday, January 10, 2015

Hujan Merah Jambu

“Mau kemana?” tanyanya pelan.
“Pergi. Melihat lebih banyak.” Jawabku seadanya sambil menyungging senyum. Ia menyipitkan mata, menelisik isi tas ransel milikku.
“Haha kamu ini jalan-jalan terus. Gak takut jatuh miskin? Kita kan mahasiswa. Hidup di negeri orang pula.” Ujarnya sambil tertawa kecil, kemudian mendekap kepalaku dengan selimut tebal miliknya.
“Hehe, kan sudah kubilang. Aku jalan-jalan justru supaya jadi kaya.” Mendengar perkataanku, ia manggut-manggut sambil tersenyum. Aku bisa melihat senyum tulusnya itu dari balik selimut yang masih menutupi kepalaku. Kawanku yang satu itu memang menyenangkan.
“Oke oke. Kalau begitu kita mungkin punya cara kaya yang berbeda.” Ia angkat tangan. Aku menyahuti dengan tawa. Melepaskan balutan selimut di kepalaku.
“Oh jadi itu yang bikin kamu nggak pernah mau ikut jalan-jalan? Punya cara sendiri buat jadi kaya?” Ucapku dengan nada menuduh sambil kembali konsentrasi membenahi tas ransel.
“Tentu saja. Tapi kamu gak perlu tahu, kan?” ujarnya datar.
“Dasar pelit. Seperti biasa.” Aku mencibir lembut. Sahabatku itu hanya tersenyum menanggapi, kemudian ia keluar dari kamar.
“Hati-hati. Bawa ini.” Tak lama ia kembali datang, menyodoriku sebuah kotak kecil.
“Apa ini?” aku mengambil kotak jecil dari tangannya, kemudian kupandangi kotak itu lamat-lamat.
“Kompas. Biar kalau solat kamu gak asal-asalan lagi menghadapnya.” Perempuan yang lebih tinggi dariku beberapa senti itu berkata sambil menunjuk salah satu foto yang kupasang di dinding kamar. Foto perjalanan yang menjadi saksi kebiasaan buruk pasrahku: menentukan arah kiblat seenaknya, menggunakan insting.
“Haha, terimakasih banyaaak.” Aku menjabat kuat tangannya. Lagi, dia kembali membuatku takjub atas kejutan-kejutan kecil semacam ini.
“Itu aku sewakan. Jangan lupa bayar kalau nanti pulang.” Mendengar ucapannya, aku geleng-geleng kepala sambil tertawa. Aku tahu dia tidak sepelit itu.

**

Bagiku, hidup adalah perjalanan. Perjalanan yang sudah selayaknya diisi dengan proses pengkayaan diri. Pengkayaan hati. Pengkayaan nurani. Mudahnya, hidup adalah sebuah proses pembelajaran yang mengkayakan. Sebelumnya, fikiranku sederhana saja. Untuk mendapati lebih banyak, aku harus melihat sudut-sudut bumi ini –meski ia tak memiliki sudut sekalipun. Hingga akhirnya aku belajar dari sahabatku sendiri. Bahwa ternyata, perjalanan tidak serumit kita menabung untuk menjelajahi dunia. Pun tidak sesederhana mengarungi samudera dan mampir ke benua-benua dengan ber-backpacking ria. Perjalanan bukan tentang fisik semata. Kadang, yang terlihat diam pun sejatinya tengah melakukan sebuah perjalanan panjang. Setiap yang hidup melihat. Dan mereka yang melakukan perjalanan, akan melihat lebih banyak.



Lalu di bawah hujan merah jambu, 
Aku lantas menemukan perjalananmu.

Wednesday, December 17, 2014

Potret Pantai

Malam, semesta. Apa kabarnya kalian? Bintang-gemintang, rembulan, cahaya malam? Seharian ini kuhabiskan waktu menikmati debur ombak di pantai. Selagi kalian beserta bumi pijakanku saling mencari, hingga langit mempertemukan kita malam ini. Pagi tadi, seorang kawan mengambil gambarku. Di tepi pantai. Yang hadir hanyalah siluet, bayangan hitam tergambar dalam kamera. Temanku tertawa kecil mendapati jepretannya terlihat jauh lebih baik, begitu katanya. Dia bilang, foto itu melankolis sekali. Hha, dasar. Bahkan aku tidak betul-betul yakin apakah ia sungguhan mengerti arti dari melankolis itu sendiri. Tapi aku jadi tergelitik mendapati perkataannya. “Hei, bikin kata-kata buat foto ini dong. Ini melankolis bangeet.” Kali itu aku tertawa. Aku jadi berfikir, mengapa banyak yang mengidentikkan pantai, hujan, rembulan, cahaya bintang, malam, atau segala macam hal yang sebenarnya menjadi favoritku itu sebagai sesuatu yang entah apakah sedih, mellow, atau bahkan yang paling tidak kusukai, galau; sebuah kosakata yang jadi beken di kalangan anak muda pada beberapa waktu belakangan. Apa kalian tahu? Padahal, aku sungguh-sungguh menikmati tiap berjumpa dengan kalian, hei bintang, rembulan, ombak, malam, hujan. Melihat rembulan membuatku takjub menyebut asma-Nya. Selalu ada hal indah yang patut kita syukuri. Adapun hujan, seringkali didekat-dekatkan dengan kebimbangan, atau rintiknya yang dikatakan mengaburkan air mata. Padahal, tiap hujan turun, kutengadahkan wajah kepada langit sambil tersenyum lebar. Berbisik pelan, terimakasih Tuhan, atas kado rahmat hujannya hari ini. Kemudian tentang pantai. Memandang laut dari tepinya selalu saja membuatku terperanjat. Betapa beruntungnya aku, menjadi satu dari sekian banyak manusia yang bersapa dengan alam. Seperti debur ombak pagi tadi. Kenapa juga mereka bilang itu suatu hal yang melambai-melankolis-atau semacamnya? Padahal memandang ombak selalu saja menyenangkan –dan menenangkan. Memang, tidak banyak yang tahu bahwa aku pun tersenyum saat itu. Memamerkan gigi ketika mendapati sapaan pasir pantai yang memberi salam pada satuan partikel hidup para jemari.

Biar kutebak.
Kalaupun tidak kuberitahu, kalian pun menganggap ini semacam foto 'kebimbangan', bukan? :)


Tapi baiklah, kurasa aku punya caption yang cocok untuk potret yang satu ini.

"Kau boleh merasa jadi seorang penikmat alam sendirian. Memberi senyum pada satuan pasir tepi pantai sendirian. Tapi pada waktu yang sama, pada pijakan bumi dan dibawah naungan langit yang sama, ada seorang, dua orang, -atau bahkan lebih- yang juga menyuarakan senyum serupa. Jadi dengarkan aku. Kau tidak pernah benar-benar sendirian."


(Foto diperoleh dari seorang kawan, pada 1436 H)

Tuesday, November 18, 2014

Ayah-Bunda Insan Cendekia

Kali ini biarkan saya menulis edisi #haltekehidupan, terdedikasi untuk ayah-bunda luar biasa di tanah berjuta kisah, Insan Cendekia. Malam ini saya baru saja menyaksikan cuplikan-cuplikan performa adik-adik di salah satu stasiun televisi; mengikuti sebuah ajang olimpiade. Ini memang kali pertama saya berhasil streaming setelah minggu-minggu sebelumnya gagal. Alhamdulillah. Seperti alumni kebanyakan, saya pun jadi ikut-ikutan melambung pada beberapa bulan lalu. Pada dua-tiga tahun lalu, ketika kaki-kaki saya masih intens menapaki tanahnya. Ketika langkah saya masih secara rutin terekam pada setiap pagi-sore-petang ranahnya. Ketika tatap saya masih kerap menyapa langitnya. Nostalgia. Dan salah satu cara terbaik mengekspresikan nostalgia adalah melalui tulisan.

Beberapa waktu belakangan saya tengah dalam masa jenuh. Merindukan sense of jihad, merindukan ustadz-ustadzah pembakar semangat, merindukan keajaiban kawan-kawan seperjuangan, merindukan civitas luar biasa yang saling menbar senyum-salam sapa. Dan akhir-akhir ini pula, rekaman dalam memori saya me-rewind masa putih abu-abu saya. Masa tiga tahun yang jika mereka bilang masa paling indah adalah masa SMA, maka saya fikir statement itu tidak terlalu keliru.

Satu tahun lebih setelah berlabel alumni, dan tanpa saya sadari sebelumnya, diam-diam saya merindukan suasana pagi Insan Cendekia. Merindukan sapaan hangat pak Suhali tiap pagi tentang es krim kulit semangka atau janji beliau yang hendak memberi saya nilai tambah di rapor lantaran saya ikut-ikutan mengecat tepi jalanan. Merindukan senyum Emak di kantin tiap saya mengucap salam untuk disendoki makanan. Saya juga merindukan Teh Euis, Teh Ratna. Saya masih ingat betul bagaimana untuk pertama kalinya saya pergi reguler dibonceng Teh Ratna, lalu kami makan es krim bersama.

Hei, tiba-tiba informasi yang terpanggil begitu banyak dan saya jadi bingung menuliskan darimana. Tahu-tahu setiap sudut tanah itu tergambar jelas di kepala.

Salah satu yang sungguh membekas dalam kepala saya adalah tentang guru-guru, tentang ustadz-ustadzah, tentang para pendidik yang kaya dan mengkayakan. Kaya semangat, kaya motivasi, kaya akan inspirasi. Saya ingat Bu Dini. Masa-masa di Pekan Ta’aruf Siswa, beliau mengatakan pada kami di Audio Visual Room, “Allah itu dekat, Nak.” Lalu kami diminta menepuk-nepuk posisi jantung. Melafadzkan asma-Nya. Air mata kami tumpah. Dan jujur saja, sampai saat ini saya sering melakukan hal itu. Ketika saya di ambang lupa, bahwa Allah itu sungguh dekat.

Ada perkataan dari seorang guru Biologi, Bu Etty namanya, yang sampai kini saya ingat dan saya bawa kemana-mana: “Kalian ada disini, bukannya kebetulan. Tangan Allah yang langsung menempatkan kalian disini. Bukan karena kalian pintar atau apa,” mungkin ini adalah bagian dari awal saya memiliki keyakinan penuh bahwa kausalitas itu nyata. Bahwa Allah selalu memiliki cara spesial untuk masing-masing hamba-Nya.

Tiba-tiba saya jadi ingat percakapan saya dengan Asma (anak perempuan syaikh). Percakapan yang tidak jelas arahnya, karena bahasa ibu kami berbeda. Tapi namanya anak kecil, ia akan menganggap saya mengerti sepenuhnya apa yang ia katakan. Sore itu saya tengah duduk di depan asrama guru, lalu bocah kecil itu datang dan tahu-tahu duduk di samping saya. Dia mengatakan beberapa hal –dengan bahasa arab, tentu saja- yang kira-kira begini:

“Lihat langitnya!” matanya berbinar, lantas menunjuk langit

“Ya?”

“Aku suka langitnya, cantiik sekali. Ya kan?”

Lalu saya speechless. Rasanya ingin bilang banyak hal, tapi miris memang, anak ini tidak mengerti bahasa Indonesia. Dan saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan isi kepala saya dengan Bahasa Arab.

"Iya, aku juga. Kenapa Asma suka langitnya?" Jawab saya sambil nyengir mengingat Bahasa Arab saya yang acak-acakan. Namun Asma terlihat tidak terlalu peduli dengan saya yang tidak banyak bicara. Kemudian dia meneruskan kata-katanya, banyak. Berkalimat-kalimat, dan sesungguhnya saya tidak mengerti. Tapi saya rasa dia membicarakan hal yang menyenangkan. Matanya berbinar. :)

Memandang langit di ranah ini memang selalu saja mengasyikkan. Apalagi jika subuh pagi bulan masih bertengger di singgasananya. Jarak bangunan yang berjauhan, jalanan lebar, menjadi fasilitas pendukung bagi siapa-siapa yang mau menikmati jamuan langit di Insan Cendekia.

Langit sore itu juga, yang menjadi salah satu penghibur kami. Di koridor depan ruang guru. Masa-masa remedial yang mungkin saat itu rasanya agak menyedihkan, memang. Tapi masa-masa itulah yang mengajarkan saya tentang makna berjuang. Tentang esensi kejujuran. Yang juga saya rindukan adalah ujian di Insan Cendekia. Didikan ustadz-ustadzah, agar kami memahami esensi pengawasan. Bahwa yang Maha Mengawasi adalah Allah. Maka tidak heran, jika masa ujian cukuplah para insan itu duduk manis, mengerjakan dengan baik. Hening. Ketika mendapati ujian yang sulit, diam-diam saling menerka dalam hati, “Ini cuma saya doang yang merasa susah, apa emang susah beneran?” dan barulah ramai itu pecah ketika waktu ujian usai. Barulah saling tanya-menanya perihal jawaban. Tanpa ada pengawas ujian. Toh meski kadang kita lupa kehadiran mereka, pengawas kanan-kiri selalu siap sedia mencatat setiap amal kebaikan dan pelanggaran yang dilakukan. Bukan begitu?

Kalau ditanya apa cita-cita saya, saya akan menjawab ingin menjadi seorang guru, seorang pendidik. Tidak bisa dipungkiri, lingkungan menjadi salah satu motivasi saya. Sejak kecil saya biasa berhadapan dengan para guru; sebut saja kedua orangtua saya (yang membicarakan keduanya bukan perihal mudah sebab teramat istimewa..). Inspirator-inspirator ulung yang sedikit-banyak mempengaruhi pola fikir saya pun adalah guru. Meski secara luas, semua orang adalah guru, alam raya adalah sekolahnya (Semua orang itu guru, alam raya sekolahku –Pontoh- tertulis di koridor lantai dua gedung pendidikan Insan Cendekia).  Sayang, rasanya menyebutkan satu per satu ustadz-ustadzah, guru-guru terbaik saya, tidak mudah diungkapkan dalam satu waktu. Karena begitu menyebutkan satu nama, maka bukan hanya nama yang akan saya kabarkan, melainkan bagaimana kesan saya, kisah saya, persepsi saya terhadap beliau. Dan itu membutuhkan halaman yang (sangat) panjang.

Adalah salah seorang ustadzah saya, Bu Evi namanya. Sebagai guru asuh, Bu Evi suatu ketika memanggil saya pada tahun pertama. Kami berbincang-bincang. Dan bagian ini selalu saya ingat. Bahkan tidak dapat dipungkiri, mengambil peranan besar dalam perjalanan hidup saya hingga kini. Pemahaman akan esensi kesuksesan. Bahwa menjadi bagian dari kesuksesan sesseorang meski presentasenya hanya nol koma sekian persen, adalah sebuah kebahagiaan dan kesuksesan tersendiri. Beliau mengajarkan saya tentang makna keihkhlasan dan pentingnya berbuat baik sekecil apapun. Bahkan untuk sekadar mendengarkan cerita orang lain. Karena kita tidak pernah tahu perbuatan apa yang akan menjadi tiket kita menuju syurga. In syaAllah.

Lagi, saya ingat perkataan Bunda Iffat, ketika kami studi banding ke Bandung dan mengunjungi ITB pada tahun kedua. Saat itu kami berkeliaran dengan bebas. Maklum, anak asrama yang kesehariannya berada di penjara yang membebaskan. Saat itu beliau membawa beberapa barang bawaan, saya sempat menawari bantuan. Lantas beliau berkata, “Gak usah, seneng-senenglah kalian. Ibu mah senang lihat kalian senang begini.” Beliau melanjutkan, “Ya namanya guru senang kan kalau liat murid-muridnya senang.” Mungkin redaksinya berbeda, tapi kurang lebih maknanya demikian.

Ustadz Away Baidhowy pernah membicarakan tentang halte. Halte-halte kehidupan, dan Insan Cendekia adalah salah satunya. Hebatnya, bapak-ibu guru kami, ustadz-ustadzah kami, tetap disana. Tetap melakukan pengabdian. Jika kami pernah mengaku bosan menjalani rutinitas yang ‘begitu-begitu’ saja, apakah beliau-beliau merasakan demikian, menghadapi para peserta didiknya? Lantas adakah yang lebih mulia dari pengabdian di jalan kebaikan yang telah menjadi rutinitas?

Ah, ingin sekali mengungkapkan banyak terimakasih. Kepada ayah-bunda yang tidak bisa ananda sebutkan satu persatu. Terimakasih karena telah mengajarkan kami tentang nilai-nilai kehidupan. Mengajarkan pada kami tentang kreativitas, tentang makna seyuman, tentang kehangatan. Terimakasih telah mengajarkan kami bahwa ketegasan dan kejujuran adalah salah satu ekspresi cinta.

Mohon doa agar ilmu yang telah terbagikan ini mampu menjadi pemberat amal, mampu bermanfaaat bagi sesama dan semesta. Semoga ayah-bunda, ustadz-ustadzah, diberikan kemudahan, selalu dalam dekap hangat Allah Subhanahu Ta'ala. Aamiin. Salam sejuta sayang dan rindu dari kami, anak didikmu. 

Ditulis di Kota Hujan, pada 27 Muharram 1436H





Friday, November 14, 2014

Eksistensi

Kamu pernah, berfikir tentang esistensi manusia? dalam beberapa hal, ketika aku memposisikan diriku sebagai seorang tokoh dalam kehidupan, aku melihat bahwa hidup ini hanya antara aku dengan Tuhan. Orang-orang di sekelilingku hanya fatamorgana. Semesta alam hanya semacam hologram; aksesori, untuk menguji pertahanan. Dalam level yang lebih abstrak, aku memandang diriku sebagai seorang pemeran utama yang tengah berdialog dengan Tuhan. Hanya berdua. Dialog-dialog yang terwujud dengan hadirnya insan-insan di kehidupanku. Dialog-dialog yang mekar karena ada sebuah sistem yang sedemikian teratur; hasil cipta Tuhan. Sementara aku jadi tokoh tunggal yang diuji. Yang tengah berada di arena tanding. Semua jadi seperti ilusi. Inikah yang disebut-sebut bahwa dunia hanya fatamorgana belaka? entah. Namun pada kesempatan yang lain, aku merasa bahwa Tuhan menciptakanku bukan untuk menjadi tokoh utama. Aku adalah tokoh penggembira, yang hadir dalam kehidupan masing-masing orang. Menjadi figuran. Jalan kisahku adalah kisah orang lain. Cita-citaku adalah agar cita orang lain terwujud. Sebenarnya agak rumit untuk menjelaskan ini. Sungguh.

Sebuah prolog coret-coretan di binder kuliah,
Bogor, 4 Maret 2014 pukul 19.09 WIB



Friday, October 24, 2014

#thinkagain

Adalah seorang pemuda yang suatu ketika bertanya pada Tuhan. 

Tuhan,  dimanakah kau tempatkan aku pada ranah perjuangan? Sementara kawan-kawanku perlahan telah menemukan jalan juangnya masing-masing. Lantas bagaimana dengan urusan aku? Apa sungguh aku Engkau ciptakan untuk ‘sekadar’ menjadi penggembira pada kisah-kisah hidup orang lain?

Bahkan urusan sederhana seperti ini saja aku tidak becus, Tuhan. Bagaimana aku mendapat kesempatan meraih cita, jikalau kesempatan untuk aku berjuang saja Engkau ‘tiadakan’?

Hening sejenak.

Kemudian pemuda itu tersentak.

Ini adalah keadaan terhimpit. Keadaan dimana peluang dirasa sangat sedikit bahkan hanpir tidak mungkin. Bukankah justru keadaan seperti inilah saat yang tepat untuk berjuang? Inilah kesempatan emas itu. Memperjuangkan peluang sekecil apapun. Bukankah Tuhan sedang mengajaknya berbincang? Memberinya kesempatan untuk berjuang; untuk berlelah-lelah.

Dan benar saja, peluang kecil itu lunas terbayarkan menjadi satu. Bertubi-tubi, dalam durasi tidak lebih dari sekali putaran rotasi bumi.

Sungguh, terdapat petunjuk bagi orang-orang yang berfikir.

#thinkagain

Pada penghujung tahun 1435 H,




Saturday, August 2, 2014

HalteKehidupan #32

Jadi, ini adalah edisi HalteKehidupan. Saya awali dengan 32, karena beberapa minggu lalu, seorang kawan dari Insan Cendekia berkunjung ke 32, kemudian kami berfoto di sekolah masa tsanawiyah saya ini. Sejujurnya, itu adalah momen pertama saya berfoto dengan logo 32 di tengah-tepi lapangan kami. :)

**

"Hidup adalah pilihan.
Jadilah manusia yang berkarakter dalam setiap pilihannya."

-Pak Nurul Huda-

**

MTsN 32 yang awalnya merupakan MTsN 13 gedung II, adalah tempat saya mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Sekolah ini adalah tempat pertama saya berorganisasi secara utuh, meski jujur, masih jauh dari organisasi yang terorganisirasi. :) Tapi jelas memberikan saya pemahaman bahwa hidup ternyata tidak semulus jalan tol :D. Ada begitu banyak karakter yang dijumpai, dan itu benar-benar belum seberapa. Setidaknya melalui organisasi formal, saya mulai terdidik untuk mengurusi diri sendiri sebelum mengurusi orang lain. Sebagai sosok yang sangat menikmati peran behind the scene, saya dituntut untuk sedikit  demi sedikit muncul ke permukaan, berhadapan dengan banyak orang. Masih ingat sekali, pertama kali saya berorasi (kalau itu layak disebut orasi, karena faktanya hanya omongan ringan di bawah atap mushola kami) hanya ada satu orang kakak kelas yang secara terang-terangan mengapresiasi. Beliau bertepuk tangan kecil di tengah-tengah hadirin. Kak, mungkin sewaktu-waktu kau akan mendapatiku mengetuk pintu rumahmu lantas mengucapkan terimakasih. :D

Tempat ini juga menjadi saksi 'kebandelan' saya. Mulai dari keluar kelas dengan alasan mengadakan rapat (poin cemerlangnya adalah, ketua OSIS kami adalah teman sebangku saya selama tiga tahun, dan saya adalah wakilnya, :D) saya dan Titin (nama si ketua OSIS) berhadap-hadapan, saling pandang di tengah kejenuhan belajar Matematika, kemudian "rapat yuk, gimana kalo kita rapat aja, ngurusin blablabla..." dan tidak lama, kami mengudara melalui pengeras suara sekolah; minta pengurus OSIS segera ke mushola buat rapat. Saya juga senang manjat pohon ceri di halaman belakang sekolah. Sampai pernah diteriakin sama mantan tukang cimol (sekarang jualan jus) supaya turun "cewek kok manjat pohon Riiis! turun!", Juga yang sangat favorit, hujan-hujanan dalam setiap kesempatan yang memungkinkan (bahkan saya tidak segan-segan membawa pakaian ganti dengan niat main hujan-hujanan di sekolah. Kalau dirumah kan nanti ketahuan. Begitu fikir saya. Hhe). Waktu kelas delapan, saya jadi pelopor main kartu UNO bareng kawan sekelas sampai kami dihukum bersihin WC satu sekolah sama pak kepsek (Bapak Nurul Huda, semoga selalu dalam lindungan Allah :) ), telat setiap hari Sabtu untuk ikut Pedalaman Materi yang diisi kakak alumni, sampai urusan tugas karya tulis Bahasa Indonesia yang bahkan sampai sekarang tidak diselesaikan meski katanya itu syarat kelulusan. (Ini jelas bukan contoh yang baik, Bukan untuk ditiru. Jangan coba-coba ditiru.)

Tapi di atas itu semua, disini saya belajar untuk memahami orang lain, belajar untuk meningkatkan kepekaan saya yang (mungkin) terbilang keterlaluan. Selain itu, saya juga belajar tentang bagaimana sosok seorang ibu yang selalu merindukan anaknya pulang. Bahwa ternyata, wujud kasih sayang manusia tidak sederhana, meski kebersamaan yang membangunnya begitu-teramat-sangat sederhana. Allah juga memberikan saya kemudahan untuk belajar mengatur pola fikir, bagaimana harus berfikir positif, dan fakta bahwa isi kepala sangat berpengaruh pada fisik secara nyata. Sick mind --> sick body sebaliknya, fikiran yang sehat akan menyehatkan fisik. Disini juga, saya belajar untuk menaruh cita dan mimpi -bersama teman-teman-. Menjadikan hal-hal kecil sebagai objek observasi. Meributkan persoalan sehari-hari untuk dijadikan bahan perbincangan yang dikemas jadi beraroma ilmiah. (Saya masih ingat perbincangan dengan kawan-kawan mulai dari solenoida dan gulungan kawat sampai urusan cicak mati karena selotip). Juga, hal yang sangat penting. Saya belajar tentang makna kejujuran, ketekunan, dan ketulusan. Mungkin sewaktu-waktu, akan saya ceritakan mengapa, bagaimana demikian. :D


Official Web Page MTsN 32 Jakarta bisa dilihat disini. :)

Tuesday, April 15, 2014

Kuat-Lemah

       Kuat-lemah. Adjektiva memang teramat relatif maknanya, bahkan cenderung subjektif karena tergantung dari sudut pandang apa, sudut pandang siapa yang digunakan dalam menilai adjektiva tersebut. Jika teori relativitas mampu menunjukkan bahwa besaran-besaran fisika seperti panjang, massa, kecepatan, adalah relatif, maka 'kuat' dan 'lemah' yang merupakan adjektiva barang tentu tidak diragukan lagi kerelatifannya.

         Bicara kuat-lemah tidak melulu membahas soal fisik, atau hal-hal yang kasat mata. Kuat-lemah, lebih jauh lagi memberikan gambaran tentang kearifan dalam kehidupan. Rasulullah Muhammad SAW pun dalam hadis mengungkapkan, bahwa yang terkuat bukanlah yang unggul dalam persoalan fisik, melainkan siapa yang mampu menahan amarahnya. Maka sekali lagi, kuat-lemah memiliki substansi yang lebih dari sekadar kedudukan, posisi, apalagi tampilan fisik yang berotot.

      Setiap orang tentu memiliki sudut pandangnya tersendiri, dan tentu, memiliki porsi kuat-lemahnya masing-masing. Bagi seorang ayah, bisa jadi kuat adalah ketika ia mampu menafkahi keluarganya, ketika ia bekerja tanpa sekata keluhan. Pun bagi seorang ibu, kuat adalah ketika ia berhasil mendidik anak-anaknya dengan kesabaran, memberikan contoh-contoh yang arif dalam berkehidupan. Namun bagi seorang ayah yang tak memiliki pekerjaan, kuat adalah ketika ia terus berusaha mengais rezeki yang halal, ketika ia mampu menunjukkan pada anak-anaknya bahwa hidup adalah perjuangan. Atau bagi seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya, maka kuat diwujudkan dengan keikhlasan, rasa rela akan takdir yang menyapa buah hatinya. Porsi kuat-lemah memang tak memiliki harga mati. Karena kuat-lemah sangat dipengaruhi kondisi dan situasi yang tengah dihadapi.

          Kita harus terus melaju positif, seperti apapun adjektiva yang tersemat. Entah muaranya dari orang lain, entah dari diri sendiri. Adjektiva bersifat relatif dan takkan pernah kita temui titik temu yang ideal jika mengikuti kata manusia yang cenderung subjektif. Karena pengharapan yang jelas pasti hanya kepada Rabb Izzati, pemilik segala hati. Kita harus terus melajukan atmosfer positif. Kuat-lemah memiliki definisinya tersendiri. Maka yang terpenting bagi seorang muslim adalah memilih untuk kuat di jalan-Nya, mengharapkan penilaian semata dari-Nya. 

          Banyak pujangga yang menganalogikan kuat ibarat batu karang. Terus-menerus diterpa ombak, namun tetap kokoh berdiri tegak. Sementara jika memperluas pandangan, seyogyanya kita dapat mengatakan bahwa batu karang sungguh teramat lemah. Mengapa ia tak sanggup bangkit, menghindar dari terpaan air laut? Atau bolehlah kita mengatakan betapa gulungan ombak itu begitu kuat. Menghantam karang terus-menerus, tiada bosan, kokoh bertahan. Persepsi yang berbeda menghasilkan interpretasi yang tak sama. Itulah alasan mengapa pendapat kita seringkali tiada bersua. Maka tak ada yang keliru dari sebuah keadaan. Karena pada akhirnya semua kembali kepada kita. Hendak melihat dari sudut pandang apa, hendak mencerna dari sudut pandang yang mana.


Monday, March 17, 2014

Hanya Salah Dua


Kawan, masih hangat dalam ingatanku, tentang hari-hari gerimis kita. Ketika fikiran kita begitu sederhana; percaya bahwa hujan mampu mereset ulang isi kepala yang belakangan kusut tak terkira. Masih jelas dalam memoriku, perbincangan kita yang memecah dunia. Pagi-siang-sore-malam itu, ketika hujan turun rintik-rintik, ketika gerimis membasahi, ketika bumi kita dibasuh derasnya air langit, saat waktu tahu-tahu seakan terhenti. Menyisakan potongan-potongan memori untuk masa depan, menghapus kerumitan isi kepala kita seketika, --sejenak setelah kita memanjatkan puji pada Sang Kuasa, setelah kita menyisipkan doa dalam hati masing-masing. Kita tersenyum memandangi tetes kepingan awan. Sampai saat ini pun, aku masih percaya akan keajaiban itu.

Dan kita hanya salah dua dari miliaran manusia yang merasakan hal sama,

pada momen-momen tersebut. :)

Tuesday, February 4, 2014

Fotografie Ausstellung


Yesterday, my friends and i went to this event;

Photography? yeah! honestly, our purpose was to meet up. Wherever the place is, as long as a good place, as long as we meet up, it'll be precious. And Alhamdulillah, we found that event. At least we have a destination to go. :D
 
retno-riz-suha-maryam


We visited Monas first before we went to Gedung Galeri Indonesia which located near Monas. Sunday morning in Monas was crowded; so many people there. Although yesterday was not our first time to see Monas (yup we're all stayed in Jakarta), it was enjoyable. :) Suddenly i remember one simple sentence.

 It's not really important how many times you go to a place.


And here is some pictures, taken at Gedung Galeri Indonesia :) 
Gedung Galeri Indonesia

Somewhere in Gaza, Palestine.
Well-ordered building in Dubai.

Dubai
This one is cool! :)
Three men walk
This one is my favourite. Gaza, Palestine.
An unperfect dot.
Me-Jakarta; our capital


My flat point finger. Hhe
Station in Russia
Peek
Doll
Retno tried to hold the barbie; Indonesia
Suha and Maryam; corridor.
A big 'aquarium'
Rain <3
Port
Observe
House building artificial in Las Vegas' mall.
Another Rain :D



That's a part of our journey yesterday. Yet i don't tell you the descriptions of those pictures, you can ask Mr.Google, or maybe come to Gedung Galeri Indonesia at Medan Merdeka Timur street (It's three days left from January 4th 2014 :p). 

Thanks Amr (Suha's brother) who helped us to take our pictures. :D