Showing posts with label college. Show all posts
Showing posts with label college. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

EVALUASI SOSIAL PADA BAYI DAN BALITA

Kali ini kami akan membahas artikel berjudul How Infants and Toddlers React to Antisocial Others yang dipublikasikan pada 2011 dan ditulis oleh Hamlin dkk. Dari judulnya, sedikit banyak dapat diperkirakan bahwa artikel ini bicara tentang bagaimana bayi dan anak balita memberi respon akan perilaku antisosial pada orang lain.

Hal yang bagi saya menarik dari penelitian ini adalah, bahwa Hamlin dkk. tidak hanya sekadar melakukan penelitian tentang bayi dan balita, melainkan melibatkan bayi dan balita. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi kaya akan informasi dan menjelma jadi enlightenment. Ia tidak hanya berbicara tentang teori dan bagaimana pandangan para ahli ataupun orang tua yang menjadi narasumber, melainkan langsung menyentuh tokoh utama sebagai subjek penelitian. Berikut tabel yang berisikan informasi mendasar mengenai artikel yang sedang dibahas.

Judul
How infants and toddlers react to antisocial others
Dipublikasikan pada
PNAS (Proceeding of The National Academy of Sciences of the United State of America). 108(50): 19931-19936
Tahun
2011
Penulis
J. Killey Hamlin (a); Karen Wynn (a); Paul Bloom (b); Neha Mahajan (b)
Lembaga/instansi
a= Department of Psychology, University of British Columbia
b= Department of Psychology, Yale University, New Haven
Abstrak
Although adults generally prefer helpful behaviors and those who perform them, there are situations (in particular, when the target of an action is disliked) in which overt antisocial acts are seen as appropriate, and those who perform them are viewed positively. The current studies explore the developmental origins of this capacity for selective social evaluation. We find that although 5-mo-old infants uniformly prefer individuals who act positively toward others regardless of the status of the target, 8-mo-old infants selectively prefer characters who act positively toward prosocial individuals and characters who act negatively toward antisocial individuals. Additionally, young toddlers direct positive behaviors toward prosocial others and negative behaviors toward antisocial others. These findings constitute evidence that the nuanced social judgments and actions readily observable in human adults have their foundations in early developing cognitive mechanisms.
Keywords: cooperation, infancy




Penelitian ini terdiri atas 5 eksperimen yang melibatkan bayi dan balita dengan berbagai usia. Pada masing-masing eksperimen, subjek diberikan perlakuan untuk kemudian dilihat reaksinya. Untuk lebih rinci, saya merangkum tujuan, subjek, metode, dan hasil dari masing-masing eksperimen pada tabel berikut.

Tujuan Penelitian
Untuk memastikan perkembangan alami dari kemampuan untuk mengevaluasi keadaan sosial pada bayi praverbal dan pada balita yang baru saja memasuki tahap verbal.
Subjek Penelitian
Eksperimen 1: Bayi usia 5 bulan dan 8 bulan
Eksperimen 2: Bayi usia 8 bulan
Eksperimen 3: Bayi usia 9 bulan
Eksperimen 4: Balita usia 19 bulan -23 bulan
Eksperimen 5: Balita usia 19.20 bulan – 22.29 bulan
Metode Penelitian
·         Eksperimen 1
Bayi dipertontonkan tayangan akan adanya tokoh (boneka tangan) yang mendapat pertolongan untuk membuka box dari “boneka prososial” dan “boneka antisosial”. Kemudian setelah mengobservasi interaksi tersebut, bayi diminta untuk mengevaluasi tokoh baru yang berlaku sebagai penolong (kemudian disebut Giver) dan berbahaya (kemudian disebut Taker) bagi tokoh yang sebelumnya berperan sebagai boneka prososial dan boneka antisosial.
·         Eksperimen 2
Serupa pada Eksperimen 1, namun target diganti bukan menjadi pelaku melainkan menjadi korban (berbeda pada Eksperiman 1 dimana target adalah boneka prososial dan boneka antisosial. Pada eksperimen 2, target adalah korban dari perilaku kekerasan/antisosial). Kemudian, target ditampilkan bermain bola yang diambil oleh Taker kemudian dikembalikan oleh Giver (Taker dan Giver merupakan tokoh yang sama dengan yang ditampilkan pada Eksperimen 1)
·         Eksperimen 3
Subjek diganti dengan balita berusia 19 bulan, dan diperlakukan sama seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2.
·         Eksperimen 4
Balita usia 9-23 bulan bermain permainan pemanasan dengan diminta untuk memberikan “treats” kepada beberapa boneka hewan dengan meletakkan balok kepada wadah masing-masing boneka hewan. Kemudian ditampilkan bahwa boneka hewan sangat senang mendapat “treats” tersebut.
Setelah itu balita dipertontonkan tayangan seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, kemudian diminta untuk memilih apakah akan memberi “treats” pada Giver atau Taker. Balita dihadapkan pada dua kondisi (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
·         Eksperimen 5
Sekelompok balita yang baru diajarkan untuk memberi treat pada hewan dan memilih dari dua karakter untuk memberi atau mengambil treat dari karakter tersebut. Balita dipertontonkan tayangan yang sama seperti pada Eksperimen 2 melibatkan tokoh yang ditolong dan diganggu. Kemudian diminta untuk memilih apakah memberi atau mengambil kepada/dari Helpee (ditolong) dan Hinderee (diganggu)
Hasil Penelitian
     §  Eksperimen 1
-          12 dari 16 bayi 5 bulan dan 12 dari 16 bayi 8 bulan memilih Giver ketika target merupakan boneka prososial. ketika target merupakan boneka antisosial, 14 dari 16 bayi 5 bulan memilih Giver sedangkan 13 dari 16 bayi 8 bulan memilih Taker.
-          Pada usia 8 bulan, bayi memilih tokoh yang berlaku positif pada pihak prososial dan memilih tokoh yang berlaku negatif pada pihak antisosial.
§  Eksperimen 2
-          13 dari 16 bayi memilih Giver dari Taker. Berbeda signifikan dengan pilihan bayi 8 bulan terkait tokoh antisosial pada Eksperimen 1.
§  Eksperimen 3
-          Pada target prososial= 12 dari 16 memilih Giver
-          Pada target antisosial= 14 dari 16 memilih Taker
-          Pada target sebagai korban= 13 dari 16 memilih Giver
§  Eksperimen 4
-        13 dari 16 balita memilih untuk memberi “treats”pada boneka prososial.
-  14 dari 16 balita memilih untuk mengambil “treats” dari boneka antisosial.
-   Pilihan balita sangat berbeda signifikan pada dua pilihan keadaan yang dihadapkan (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
§  Eksperimen 5
-          11 dari 16 balita memilih untuk memberi pada Hinderee
-          13 dari 16 balita memilih untuk mengambil dari Helpee
-          Balita pada kondisi Taking menghindari mengambil treat dari tokoh yang telah mengalami gangguan sosial dari pihak ketiga. Respon ini bertolak belakang dengan yang diprediksikan pada Eksperimen ketika target sebagai korban.
-  Menunjukkan bahwa balita yang lebih tua memiliki kemampuan memberi empati. Balita menghindari mengambil dari karakter yang telah diganggu karena mereka dapat merasakan simpatik padanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dapat melakukan evaluasi sosial secara sederhana dengan statement “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa balita dapat merasakan simpatik kepada pihak lain di luar dirinya. Menurut saya pribadi, agaknya Hamlin dkk. cukup berhasil menunjukkan bahwa setiap individu dewasa hari ini memiliki fondasi kognitif moral sejak dini. Dalam bahasa lain, kita dapat mengatakannya sebagai hati nurani, atau juga akrab dengan istilah fitrah; nilai-nilai yang tertanam sejak lahir secara manusiawi.

Saya jadi ingat akan teori perkembangan moral dari Bandura yang menyebutkan bahwa perkembangan moral anak merupakan hasil observasi dan imitasi— hingga dipertanyakan dimanakah peran aspek internal? juga teori Piaget dan Kohlberg yang memperoleh tanggapan kritis dari beberapa kalangan karena menyebutkan bahwa bayi tidak memiliki moral reasoning. Teori keduanya belum dapat menjelaskan tentang bagaimana pendidikan karakter pada usia dini dapat dilakukan, mengingat baik Piaget maupun Kohlberg mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun belum dapat memahami moral. Barulah Thomas Lickona muncul dengan teori yang lebih komprehensif nan kiranya dapat lebih menjelaskan dan menjawab teori-teori sebelumnya. Lickona menggabungkan berbagai teori sekaligus (termasuk padangan Piaget dan Kohlberg) sehingga melahirkan 6 tahap perkembangan moral pada manusia, sebagai berikut.
.
1. Fase bayi (0- 3 tahun) = fondasi moral
2. Fase 1 (+- 4 tahun) = berfikir egosentris
3. Fase 2 (4,5-8 tahun) = patuh tanpa syarat
4. Fase 3 (8,5-14 tahun) = memenuhi harapan lingkungan
5. Fase 4 (16-19 tahun) = ingin menjaga kelompok
6. Fase 5 (>20 tahun) = moralitas tidak berpihak

Fase bayi (0-3 tahun) merupakan fondasi awal bagi perkembangan moral. Pada fase ini, bayi membutuhkan bonding dan attachment dengan orang tua terutama ibunya. Orang tua perlu memberikan ekspresi cinta, rasa aman, stimulasi fisik dan mental, serta keseimbangan antara kasih sayang dan otoritas. Berkaitan dengan hasil penelitian Hamlin et al. (2011), anak-anak yang menunjukkan evaluasi sosial yang baik boleh jadi tumbuh dari keluarga yang telah memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan moral pada masa bayi tersebut. Perkembangan anak akan selalu melibatkan dua faktor secara garis besar; nature dan nurture (bawaan dan oleh faktor lingkungan).

Adalah hal yang menarik dalam penelitian Hamlin dkk, bahwa ternyata bayi yang mungkin sebagain besar masyarakat menilainya “belum mengerti apa-apa,” ternyata mampu mengevaluasi dan memilih sesuai dengan nilai-nilai nurani. Saya jadi ingat pertanyaan salah seorang ibu muda pada satu-dua tahun lalu, ketika saya asyik menggendong anaknya dan mengajak si anak berbincang-bincang tentang benda-benda di sekelilingnya. Ibu muda yang tidak lain adalah kawan saya itu lantas bertanya, “Emang dia udah ngerti ya, Ris, diajak ngobrol begitu?” saya dengan keilmuan yang sangat terbatas kemudian menjawab, “Yaa mungkin saja belum ngerti sekarang. Tapi insyaAllah terinternalisasi. Kalau pun nggak ngerti, minimal diajak ngobrol dan itu berdampak baik buat dia. Semoga ya, hhe..” belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata bayi jauh lebih cerdas dari apa yang saya duga sebelumnya.

Anak balita pun ternyata memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa simpati. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari Eksperimen 5 yang menyebutkan bahwa anak balita lebih memilih untuk memberi pada tokoh yang telah mengalami keburukan, dan lebih memilih untuk mengambil dari tokoh yang sebelumnya mendapat pertolongan. Apa artinya? kita dapat lebih mudah memahami dengan ilustrasi seperti ini: berikan bantuan pada seseorang yang lebih membutuhkan. Jangan mengambil/meminta sesuatu pada seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu tersebut. Menurut saya, ini adalah konsep sederhana dari saling memahami. Terlebih lagi, ia merupakan landasan dasar dari kepekaan sosial antar manusia.

Kesimpulan penelitian
- Bayi dapat melakukan evaluasi sosial, yaitu bahwa “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”.
-     Balita dapat merasakan simpatik.
- Orang dewasa telah memiliki fondasi sejak dini terkait mekanisme kognitif.






Apa yang dilakukan oleh Hamlin dkk. bukan merupakan penelitian pertama yang fokus pada perilaku sosial dari anak-anak. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa balita terlibat dalam perilaku sosial terhadap orang dewasa dan remaja, berlaku prososial terhadap koban tindak antisosial, dapat melakukan protes selama atau setelahnya, dan secara selektif memberikan penghargaan pada pihak prososial dibandingkan antisosial. Uraian lebih lengkap mengenai teks lengkap artikel hasil penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut: KLIK DISINI. Selain itu, penelitian di Yale Univeristy ini juga diliput oleh CNN TV yang dapat disaksikan melalui situs YouTube melalui tautan berikut: KLIK DISINI.

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada perbedaan pendapat antar tokoh mengenai satu pertanyaan sederhana: apakah bayi dilahirkan dalam keadaan “tabula rasa”? ataukah setiap bayi lahir degan keadaan memiliki “blue print”? bahasa lainnya ialah perdebatan antara konsep nature vs nurture. Juga perbedaan pandangan akan satu pihak yang memandang bayi terlahir “baik” sehingga harus dijaga, dan bayi terlahir “jahat” sehingga harus dididik dan memperoleh pembelajaran. Ialah pemikiran-pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai mcam hipotesa. Sebagain berujung teori, sebagian lain boleh jadi cukup berakhir pada tanda tanya dan asumsi.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Seiring dengan waktu, fakta-fakta ilmiah bermunculan yang boleh jadi menjawab berbagai pertanyaan pada masa sebelumnya. Contohnya adalah teori perkembangan moral yang hari ini semakin jelas beserta contoh praktis untuk orang tua tentang bagaimana cara mendidik moral anak. Hari ini kita dapat dengan mudah membaca buku parenting, mulai dari yang bentuknya “serius” menjadi referensi ilmiah, sampai yang menggunakan bahasa populer untuk dibaca oleh kalangan umum. Namun sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW, sekian tahun silam, melalui sabdanya telah memberikan petunjuk pada kita mengenai perkembangan anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Setiap manusia memiliki hati nurani. Kemudian bekal yang telah dimiliki itu lantas berinteraksi dengan lingkungan, yang dalam hal ini disebutkan ialah orang tua. Pengasuhan yang dilakukan orang tua turut berkontribusi pada seperti apakah kepribadian anak akan terbentuk, nan menjadi apa dan beragama apa si anak kelak. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan yang menyebut adanya faktor bawaan dan faktor lingkungan (herediter dan lingkungan), maka fitrah, menurut hemat saya, adalah faktor bawaan yang mutlak ada dan seragam pada setiap manusia; di luar faktor bawaan lain yang sifatnya ciri fisik atau kecerdasan nan tempramen— yang boleh jadi berbeda pada masing-masing individu.


***

Jadi kalau ada yang bertanya (lagi): ”Apakah agama adalah warisan?”
kira-kira, Anda akan menjawab apa? J

Mungkin tergantung dari pemaknaan kita tentang “agama” dan “warisan” itu sendiri. Yang pasti, setiap manusia terlahir dengan fitrah. Dan saya haqqul yaqin, itu adalah fakta absolut yang mutlak.



Ditulis di Batavia,
Pada 8 Ramadhan 1438 H

Thursday, December 17, 2015

Kenapa Mendongeng?

Pada postingan sebelum ini, saya berbagi tentang kuliah umum berupa pelatihan konseling oleh Ibu Neti Lesmanawati yang diselenggarakan oleh Departemen IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) Fakultas Ekologi Manusia IPB pada 21 November 2015 lalu.

Pada kuliah umum tersebut, selain ibu Neti ada pula Kak Ojan. Pemilik nama asli Ahmad Fauzan ini memberikan kami wawasan tentang dunia perdongengan. Beliau adalah seorang pendongeng nasional yang telah menyampaikan dongeng untuk anak-anak di berbagai daerah Indonesia. Mulai dari anak-anak Timika Papua, anak-anak Rohingnya yang mengungsi di Aceh, juga korban asap di Kepulauan Riau. Kak Ojan bersama para pendongeng lainnya menghibur dan mengedukasi anak-anak.

Sebelum memulai presentasinya, Kak Ojan mengajak kami menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang definisi mendongeng. Ketika ditanya "Siapa disini yang pernah mendongeng?" untuk pertama kalinya, dari sekitar 100 mahasiswa, hanya dua orang yang mengacungkan tangan. Namun setelah kami menyamakan persepsi bahwa mendongeng adalah bercerita, semuanya mengaku pernah. Siapa pula yang dalam hidupnya tidak pernah bercerita?


Lantas kenapa mendongeng?

Ada begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan mendongeng. Meningkatkan kelekatan antara pengasuh dengan anak, memperluas literasi-kosakata anak, juga hal yang baru saya dapatkan adalah bahwa mendongeng mencakup tiga tipe belajar anak (visual, auditori, dan kinestetik). Ini merupakan sarana luar biasa untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak –dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada anak. :)

Kabar gembiranya adalah, mendongeng bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dengan biaya yang murah. Kita hanya butuh mengalokasikan waktu untuk melakukan kegiatan mendongeng. Kak Ojan mengajarkan pada kami tentang hal-hal apa saja yang harus diperhatikan ketika mendongeng di depan anak-anak. Pastikan cerita dan gaya bahasa yang kita gunakan sesuai dengan mereka, Kemudian hal yang paling penting adalah tetapkan tujuan. Berdoalah sebelum memulai dongeng, dan niatkan, bahwa apa yang kita lakukan semata-mata adalah untuk mengedukasi anak-anak, menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Jadi kita tidak perlu dibuat was-was seperti "Ng.. nanti kira-kira mereka tertawa nggak ya??"

Oh iya, untuk berdoa, Kak Ojan menyebutkan doa nabi Musa yang mahsyur sekali, Begini bunyinya:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْ
Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

Jadi, alih-alih membiarkan anak-anak asyik di hadapan gadget, layar hp, komputer, atau televisi sendirian, lebih baik mengajaknya berdiskusi dan bercerita :D bantulah mereka menjadi generasi masa depan yang mencintai ilmu, kreatif, inovatif, mencintai sejarah, gemar membaca buku, kaya bahasa, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, cerdas emosional, berpengetahuan luas, dan -tentu saja- mencintai Rabb-nya. :) Kabarkanlah mengenai kisah-kisah hikmah yang mampu menjadi bahan bakar bagi gerak motor karakter mereka.

Friday, December 4, 2015

Hati, Ulul Azmi, dan Prestasi

“Kalian mungkin belum jadi ibu, belum jadi ayah. Tapi pesan saya, setiap kalian bertemu dengan anak-anak, maka jadilah orang tua bagi mereka,” ujar dosen kami, Ibu Alfiasari.

**

Langit Bogor mulai kembali. Hujan menjatuhi tanahnya lagi. Dari asrama menuju kampus aku biasa melewati jalan pintas setapak yang sudah jadi jadwal rutinnya basah oleh sebab sapaan hujan. Musim hujan tiba lagi. Euforia sepatu rusak, kaos kaki basah, dan ujung rok yang bercorak tanah kembali tidak asing. Kebahagiaan melihat bayang langit dari genang air, merasakan tiap tetes menyapa ujung-ujung jemari, dan keindahan menyaksikan rutinitas serta raut manusia pada hari hujan pun kembali lagi.

Hari itu mendung. Dari sisi kanan dan kiri ruangan kami bisa melihat dengan jelas ekspresi langit yang tidak lagi terang. Ibu Alfiasari di kelas Pengembangan Karakter menyampaikan beberapa pesan di penghujung kuliah. Kalian mungkin belum jadi ibu, belum jadi ayah. Tapi pesan saya, setiap kalian bertemu dengan anak-anak, maka jadilah orang tua bagi mereka. Lebih lanjut, beliau kemudian menyampaikan tentang Healthy Standard.

Secara sederhana, Healthy Standard adalah pemahaman yang mengutamakan proses –dalam hal apapun. Bukan semata-mata hasil, seperti yang (mungkin) dilakukan kebanyakan manusia saat ini. Hubungannya dengan kita sebagai orang tua adalah bahwa dalam mendidik anak, hendaknya menanamkan pemahaman tersebut kepada mereka. Tunggu. Hei, orang tua disini bukan cuma orang tua biologis. Tapi orang tua adalah siapapun yang merasa dirinya memiliki hak  untuk dididik dan bertanggung jawab untuk mendidik. Itu tandanya, kamu dan aku juga. Kita ini ‘orang tua’.

Baik, kembali ke Healthy Standard. Ibu Alfiasari mengatakan agar kami tidak meletakkan standar pada hal ‘remeh-temeh’ seperti ranking, juara kelas, atau nilai dalam bentuk angka. Tetapkanlah standar menggunakan hati nurani. Standar tertinggi adalah standar yang menekankan pada proses. Ketika anak memiliki kejujuran, baik, bekerja keras, mau antre, kreatif, juga pantang menyerah. Nonsense jika dia juara kelas tapi hasil menyontek, atau datang tepat waktu ke kelas tapi menyelak antrean toilet.

Selesai kuliah, aku serta-merta teringat akan Ulul Azmi. Aku fikir kamu juga tahu, kan. Ulul Azmi adalah gelar kenabian istimewa yang diberikan kepada para rasul yang memiliki kedudukan khusus karena ketabahan dan kesabaran yang luar biasa dalam menyebarkan ajaran tauhid. Mereka memperoleh keistimewaan diatas keistimewaan. Ialah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW, atau yang masa kecil kita biasa menyingkatnya jadi ‘NIMIM’. Hei, lantas apa hubungannya dengan Healthy Standard?

Ulul Azmi, mereka istimewa. Mereka berprestasi. Kisah-kisahnya memberikan pelajaran, motivasi, dan inspirasi. Dari kisah ulul azmi, aku fikir ada begitu banyak hikmah yang bisa diambil. Kesemuanya benar-benar memenangkan proses, memenangan perjalanan yang Allah beri. Sebut saja Nabi Nuh. Beliau berdakwah beratus-ratus tahun lamanya, dihiasi dengan kesabaran, keteguhan, keistiqomahan. Apakah beliau sukses? Kalau kita menggunakan kacamata sempit, mungkin jawabannya tidak. Bayangkan saja, sekian lamanya beliau berdakwah, tapi ‘hanya’ memiliki jamaah tidak lebih dari 100 orang. Beliau dikatakan gila oleh kaumnya sendiri, bahkan anak dan istri Nabi Nuh juga tidak memercayainya. Miris sekali. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim. Beliau adalah rasul pilihan, keyakinannya pada Allah luar biasa. Hei, tapi bahkan ayahnya sendiri yang memahat patung berhala untuk sesembahan kaum jahiliyah.

Lain Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim, lain pula Nabi Musa dan Nabi Isa. Nabi Musa suatu ketika pergi selama 40 hari untuk menerima wahyu dari Allah. Ditinggal sebentar saja, tahu-tahu kaumnya membangkang. Begitu pun Nabi Isa. Sudah beliau mengajarkan tentang tauhid, tentang keesaan Allah, lantas penyimpangan itu terlihat begitu besar. Justru dirinya lah yang dianggap Tuhan oleh kaumnya sendiri.

Namun di atas itu semua, mereka semua memenangkan proses. Berprestasi atas proses. Berbahagia atas kesabaran, atas keyakinan pada Tuhannya. Begitu pula dengan Rasulullah Muhammad SAW, penutup para nabi. Kisah hidup beliau yang begitu berliku memberikan kita pelajaran akan makna prestasi. Beliau pernah diusir dari kampung halamannya sendiri, pernah dilempari batu, pernah dilempari kotoran unta ketika sedang shalat. Bukan cuma sekali beliau hendak dibunuh. Sudah begitu, paman yang begitu disayanginya, yang melindungi dirinya untuk menyebarkan kebaikan Islam, hingga akhir hayat masih belum memeluk Islam. Apakah beliau gagal berdakwah? Tidak. Sama sekali tidak.  Kisah Nabi Muhammad ini memberikan kita pencerahan tersendiri; tidak ada pengorbanan yang Allah sia-siakan. Berbayar dengan penaklukan kota Makkah, Islam lantas mendunia.

Healthy Standard.

Jadi, sudah mulai menemukan benang merah?

**

Prestasi. Kadang-kadang kita harus benar-benar mempertanyakan definisi setiap kata dalam kamus di kepala kita. Apa standar keberhasilan dan prestasi kita? Adakah ia berupa kekayaan, penghormatan manusia, atau kedudukan? Kalau iya, maka tamparlah diri kita dengan kisah Firaun yang berakhir tenggelam di laut merah.

Maka biarlah kita memaknai prestasi lebih dalam dari sekadar urusan duniawi. Ingat saja kisah Nabi Yusuf. Dengan jalan hidup yang berliku, akhirnya beliau menjadi seorang raja. Sudah begitu, tampan pula. Tapi apa pernah, dua hal tersebut disebut-sebut menjadi prestasi? Tidak. Kisah beliau masyhur akan prestasi pengendalian hawa nafsu yang luar biasa hebat ketika menghadapi godaan Zulaikha. Beliau, Nabi Yusuf, memaknai prestasi sebagai sebuah proses. Bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika hati dekat dengan Allah. Maka tidak perlu mengutuk Tuhan ketika berada dalam penjara, atau pada masa kecilnya ketika ia dibuang ke dalam sumur. Kalau itu bisa menjadikan ia lebih berprestasi, kenapa tidak?

Maka sebagai orang tua, hendaklah mengajarkan standar-standar yang sehat dalam memaknai prestasi kepada anak-anak. Agar kelak, mereka tidak perlu dibuat risau dengan penilaian manusia, tidak perlu mati-matian mengejar dunia hingga lupa akhirat, tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Agar mereka menjadi manusia-manusia bijak yang mengerti bahwa apresiasi hadir ketika kita berusaha, bahwa prestasi nyata ketika kita semakin dekat dengan-Nya.

Pemahaman prestasi semacam ini akan menghadirkan kekuatan luar biasa. Takkan ada caci yang membuat dengki, pun tak ada puji yang menjadikan tinggi hati. Bayangkan betapa dahsyatnya anak-anak yang dididik dengan pemahaman ini. Korupsi, kriminalitas, narkoba, pergaulan bebas –itu semua takkan memiliki tombol komando dalam kepala mereka. Kebohongan, pencitraan, kebanggaan semu, tidak ada pentingya bagi mereka.

Namun sebelum mendidik anak-anak, kita perlu jadi terdidik. Maka kepada kita, selamat mendidik diri sendiri agar memahami makna prestasi dengan sebaik-baik pemahaman. Selamat memaknai prestasi dari kacamata Ulul Azmi. Semoga dipermudah oleh Yang Maha Memiliki Hati.

Dan selamat bersiap. Karena kita sama-sama tahu, bahwa setiap pemahaman akan selalu diuji.

Aku mendoakanmu. Semoga kamu juga begitu. :)

Ditulis di Bogor ketika hari hujan,
pada saat dimana langit menjumpai bumi.

Friday, October 16, 2015

Inner Beauty

“Ada pertanyaan?” Ibu Istiq –dosen mata kuliah Manajemen Sumber Daya Keluarga- berbinar seperti biasa. Kedua bola matanya seakan menyapu seisi ruang kelas. Seorang mahasiswi berjilbab hijau toska mengacungkan tangan; hendak bertanya.

“Bu,” ujarnya, “tadi kan Ibu bilang, ada perempuan yang cantik secara fisik tapi lama kelamaan bosan dipandang. Ada yang biasa-biasa saja, tapi semakin lama berinteraksi semakin menarik. Inner beauty-nya keluar. Nah, itu  bagaimana bu supaya inner beauty bisa muncul?” mendengar pertanyaan tersebut, seketika kelas ricuh. Pasalnya, pagi itu kami tengah membahas sumber daya yang tersedia di keluarga dan bagaimana mengelolanya. Pembahasan soal perempuan atau inner beauty tidak pernah kami sangka akan muncul di kelas ini. Jadi kayak seminar kewanitaan saja.

Bu Istiq mengatakan perlunya untuk berbuat baik kepada seseorang, bagaimana membuat orang lain merasa nyaman untuk berinteraksi dengan kita, merasa dihargai, dan seterusnya. Mahasiswi yang bertanya tadi kembali berkomentar, “tapi bu, banyak kan sekarang niatnya cuma untuk pencitraan saja.”

Ibu Istiqlaliyah tersenyum. Beliau lalu menyodorkan mikrofon pada beberapa mahasiswa SC (Supporting Course; sebuah program di IPB di mana mahasiswa jurusan tertentu dapat mengambil mata kuliah dari jurusan lain) yang hari itu duduk di kursi bagian depan. Beliau memberikan kesempatan bagi siapa-siapa saja yang hendak menjawab. Ada banyak jawaban menarik yang muncul. Mulai dari ‘kun anta’ jadilah dirimu sendiri, jadi apa adanya saja, sampai saran untuk rajin berolahraga juga disebutkan. Salah satunya juga mengatakan, “Ya jadi aja diri sendiri. Tapi niatnya bukan supaya dilihat orang lain. Kalau berbuat baik nanti juga akan keluar sendiri inner beauty-nya.” Kelas mulai dibuat mengangguk. Tiga dari tiga jawaban seluruhnya disampaikan oleh mahasiswa (yang artinya semuanya laki-laki). Diam-diam saya berpikir keras. Seperti ada satu bagian yang terlupa. Pertanyaan ini sangat sederhana, tapi jawabannya –saya pikir tidak mudah.

Selama ini, inner beauty lebih sering diidentikkan dengan perempuan. Padahal keindahan, menuru hemat saya, ia bersifat universal. Setiap manusia memiliki inner beauty-nya. Nurani. Fitrah. Kharisma. Aura positif. Dengan segala kekayaan definisi, saya yakin ada hal yang lebih mendalam dari sekadar menjadi diri sendiri atau bagaimana membuat orang lain merasa nyaman.

Saya jadi ingat dengan seseorang yang inner beauty-nya kuat sekali –siapa lagi kalau bukan Rasulullah. Beliau, bahkan mampu membuat orang-orang jatuh hati meski telah ratusan tahun sosoknya tidak lagi di dunia. Beliau, bahkan mampu membuat pembunuh menjadi pembela. Menjadikan musuh menjelma sahabat. Dengan izin Allah, melunakkan hati pemaki menjadi seorang pendoa. Mengingat beliau, membuat saya menganggukkan kepala. Rasanya seperti menemukan jawaban yang sedari tadi saya cari. Mungkin memang benar bahwa keidealan menjadikan analisis lebih mudah dilakukan. Jadi, jawabannya adalah keikhlasan hati. Inner beauty muncul dan menyeruak karena sesuatu bernama ketulusan. :)

Sayang saya tidak mendapat kesempatan untuk turut mengemukakan pendapat hari itu di kelas. Tapi tidak masalah, hasilnya tangan saya jadi bersemangat untuk menuliskan ini.

Inner beauty seseorang yang semerbak kita rasakan, mungkin bisa jadi orang tersebut justru sama sekali tidak menyadari. Bahkan boleh jadi tidak peduli. Dia melakukan perbuatannya dengan segenap hati. Dengan tulus. Itulah mengapa ibunda kita terlihat cantik meski lelah dan berpeluh, meski garis mukanya bertambah dan menua. Itulah mengapa, ayah kita selalu terlihat tampan. Meski kepalanya mulai ditumbuhi uban. Meski tangannya semakin hari semakin kasar sebab bekerja. Keduanya memiliki hal yang sama: ketulusan. Ketulusan lah yang diam-diam memaksa kita jatuh hati kepada mereka, dalam takzim seorang anak terhadap orang tuanya.”

Ah, iya. Cara yang paling mudah melihat inner beauty, sebenarnya bisa dengan melihat anak-anak. Meski kadang mungkin yang muncul dominan jutsru sifat egosentris mereka. Tapi lihatlah ketika mereka tertawa, bermain lepas, berlari, juga ketika mereka bertanya lugu. Lantas saksikanlah betapa ketulusan terpancar dari diri mereka. :D



Sekali lagi, maka menurut saya inner beauty yang terpancar, tidak lain adalah buah dari hati yang bersih, dari keimanan yang kokoh, dari cinta yang tak bersyarat.

Jadi mari kita belajar untuk tulus dan ikhlas. Bukan supaya inner beauty kita muncul, melainkan karena memang seharusnya kita demikian; melakukan segala sesuatu dengan tulus dan ikhlas. Semoga. :)

Monday, December 15, 2014

Konsep Diri

Hari ini adalah kuliah terakhir Psikologi Perkembangan Anak sebelum akhirnya kami harus menghadapi UAS. Bicara tentang diri sendiri, tentang self, tentang konsep diri. Sepanjang dosen menjelaskan, tidak sedikit dari kami yang mengangguk-angguk tanda setuju: merasa mendapati fenomena demikian dalam dirinya. Dan salah stau yang akrab dengan masa remaja saya adalah tentang konsep diri. Bu Mely, nama dosen kami, mengatakan bahwa manusia pada akhirnya memang tidak mampu memahami dirinya secara utuh dengan mandiri. Dalam artian, ada hal-hal bawah sadar yang pemahamannya seringkali butuh batuan dari pihak luar. Saya rasa hal tersebut ada benarnya. Saya mengalami hal semacam itu, ketika bahkan saya sendiri tidak memahami akan diri sendiri. Dan itu rasanya rumit sekali.

Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal tuhannya. Ialah kalimat penuh makna itu yang menjadi motivasi, bahwa saya harus mengenal diri saya. Titik. Mungkin ini terdengar aneh, tapi saya mengalami kebingungan tentang diri saya sendiri, terutama ketika duduk di bangku Tsanawiyah (setingkat SLTA/SMP). Saya tidak mengerti apakah saya ini tergolong anak yang seperti apa. Sampai saya menemukan sebuah titik puncak ketika saya memutuskan untuk mengakhiri kebingungan saya dengan mengambil kesimpulan: saya punya sifat gado-gado. :D Daripada dipusingkan dengan penggolongan-penggolongan, lebih baik menjadi diri sendiri saja dengan orientasi yang lebih baik.

Pelajaran hari ini membuat saya menarik kembali segala macam memori masa lalu, dan mencoba melakukan semacam analisis sederhana. Dikatakan bahwa usia SD adalah masa-masa penilaian terhadap diri sendiri dan segala sesuatu secara berlebihan dibanding masa lainnya. Saya jadi ingat betapa berlebihannya saya dan kakak, ketika kami berdua menangisi pohon ceri kami yang ditebang, seharian. (meski kalau ingat pun saya maklum. Itu pohon ceri panjatan favorit kami yang ada di belakang rumah). Juga bagaimana kami berada pada kesedihan mendalam ketika tidak punya dede bayi, ketika kelinci peliharaan kami mati dimakan kucing, dan saat pohon mangga pun menyusul untuk ditebang. Baiklah. Jika bahagianya anak kecil adalah sederhana, mungkin sedihnya pun demikian, ya. Sederhana juga. :)

Saya tarik maju pada masa depan. Pada akhirnya pandangan dan penilaian kita terhadap diri sendiri sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Keluarga? Tentu saja. Dari keluarga-lah nilai-nilai kehidupan itu ditanamkan. Dasar-dasar pemahaman diajarkan. Dari mama, saya belajar untuk menghargai, terlebih menyayangi mereka yang hadir dalam setiap episode kehidupan. Jadi kalau saya katakan bahwa saya sayang kalian, sungguh itu bukan gombal. Kemudian dari ayah, saya belajar tentang detail, kreativitas, dan bagaimana mengambil sikap pada setiap persoalan. Sayang, saya terkendala mewarisi kinerja detail beliau. Ayah saya super sekali dalam urusan rapi, tertata, juga terjadwal. Dan saya tengah belajar akan hal itu. Kemudian terangkum dari keduanya, adalah agar senantiasa menyertakan Allah dalam setiap kesempatan. Saya sungguh belajar akan hal itu dari ayah-mama berdua.

Kemudian adalah dari teman. Bukankah Rasulullah Muhammad SAW pun berpesan kepada kita akan pertemanan? Teman dalam artian luas. Saudara, sepupu, kawan di sekolah, bahkan mereka yang bertemu kita pada kesempatan-kesempatan lain. Semuanya. Hanya catatannya disini, ialah agar kita pandai-pandai mencari teman untuk diajak berbagi kisah, hikmah, lagi dimintai pendapat. Simpelnya, teman berbagi cerita. Disadari atau tidak, relasi kita akan berpengaruh besar tentang bagaimana cara kita melakukan penilaian. Terhadap lingkungan, terlebih kepada diri kita sendiri. Dan saya merasakan langsung efek teman ini. Bertemanlah, dan jadikan ia sebagai sarana simbosis mutualisme. Saling menguntungkan. Tentu bukan (saja) dalam hal ekonomi, melainkan terletak pada urusan kualitas diri. Lebih istimewa lagi, kedekatan pada Ilahi Rabbi.

Menurut saya, ini menarik sekali. Tentang persepsi, tentang konsep diri, tentang sejarah pola fikir manusia. Saya rasa setiap orang yang saya jumpai pada masa kini, telah melewati serangkaian kisah menakjubkan yang membentuknya menjadi pribadi seperti saat ini. Dengan mengetahui, kita jadi mengerti. Tidak menjuri apalagi menghakimi. Kadang saya berfikir, mungkin tidak ada yang bisa disalahkan atas sebuah pilihan manusia. Kita hanya membutuhkan proses. Masing-masing kita berproses menuju lebih baik. Dengan catatan, hanya jika hati kita menerima dan terbuka terhadap perbaikan itu sendiri.

Pada akhirnya, kadang kita harus dengan bijak menghapus segala macam definisi kaku lagi penggolongan-penggolongan tertentu. Sebuah psikologi kesempurnaan. Menjadi seorang extrovert yang introvert, introvert yang extrovert, melankolis yang koleris, plagmatis yang sanguinis, dan segala macam kolaborasi lainnya. Menjadi pendiam yang banyak bicara, pemikir yang banyak kerja. Menempatkan segala sesuatu sesuai pada bagiannya. Diam pada waktunya. Angkat bicara pada masanya. Marah pada kondisinya. Lemah-lembut pada bagiannya. Akhirnya, kita sungguh adalah kita, yang spesial adanya. Dengan masing-masing perspektif dan jalan cerita, Masing-masing ujian. Juga masing-masing nikmat dari Yang Kuasa. Ajaibnya, kita tidak pernah dibiarkan hidup sendiri-sendiri. Ada keterkaitan antara masing-masing kita. Bisa jadi, konsep diri kita pun demikian: saling berhubungan dan kemudian membentuk satu keutuhan kisah.

Kemudian tentang konsep diri, adalah tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri. Pada bagian ini saya teringat, bahwa sungguh, Allah beserta prasangka hamba-Nya. Teori afirmasi sebenarnya hanya nama lain dari teorinya seorang muslim: berprasangka baik pada Allah, bahwa Dia selalu memberikan kita yang terbaik. Termasuk dalam urusan memberi karunia kebermanfaatan dan kualitas diri kepada kita. Dan Allah akan membersamai kita dalam prasangka baik tersebut. In syaAllah. :)