Showing posts with label saya. Show all posts
Showing posts with label saya. Show all posts

Sunday, February 21, 2021

Tiga Tahun Terakhir: Berkenalan dengan Diri Sendiri

Harusnya ini saya tulis tahun 2020 lalu. Tapi tidak apa-apa lah ditulis di tahun 2021. Lebih baik tetap melaju daripada berhenti melangkah karena terlalu mendamba sempurna lah, ya~

Ini adalah bagian ketiga sekaligus bagian terakhir tentang cerita ta'aruf dengan diri sendiri. Ya, tahun-tahun belakangan saya belajar tentang diri saya sendiri. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar aneh, tapi saya yakin bagi sebagian besar yang lain, hal ini bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan urgensinya.

Setiap kita perlu mengenali diri sendiri.


Sumber Gambar


Beberapa tahun lalu, seseorang pernah bertanya pada saya tentang apa hal yang tidak saya sukai dan apa yang bisa membuat saya marah. Pertanyaan sederhana yang membuat saya saat itu berpikir keras. Ya, saya tidak tahu. Saya bahkan harus meminta pendapat orang lain untuk menjawab pertanyaan sulit itu. Sebagian menjawab asal, mengatakan saya tidak bisa marah. Sebagian yang lain menjawab sedikit serius, menyebutkan hal-hal kecil yang menurutnya membuat saya terganggu. Tapi saya merasa belum menemukan jawaban yang jelas saat itu.

Apa yang membuat saya marah? Kapan saya merasa sedih dan kecewa?

Bukan, bukannya saya tidak pernah merasakan emosi seperti marah, sedih, atau kecewa. Setiap manusia tentu pernah, bukan? Tapi saat itu, saya terlampau cuek dan abai pada emosi saya sendiri. Saya tidak benar-benar menandai kapan saya merasa senang, hal apa yang membuat saya kecewa, kala menghadapi apa saya merasa kesulitan atau marah. Saya bukan malaikat. Tentu saja saya merasakan emosi seperti manusia lainnya.

Pada akhirnya, pertanyaan orang itu tidak benar-benar terjawab secara verbal. Tapi agaknya sudah terjawab seiring waktu saya belajar. Ya, saya belajar mengenali diri saya sendiri.

Dan saya tidak pernah menyangka, bahwa perjalanan mengenal diri sendiri akan seajaib ini. Ternyata sebelumnya saya terlampau sibuk berusaha mengenali orang lain sampai lupa mengenali diri sendiri. Sering merasa takjub betapa karakteristik manusia ada begitu banyak ragamnya, tapi saya terlalu asyik hingga lupa mengamati dan memahami diri sendiri.

Dalam perjalanan panjang itu, saya menemukan diri saya mengalami berbagai macam emosi. Ternyata ada beberapa hal yang sangat mudah membuat saya kecewa. Saya mungkin bukan seseorang dengan ambisi tinggi terhadap dunia karier dan akademik, sehingga kegagalan pada hal itu tak terlalu memukul diri. Tapi saya lemah pada kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan orang yang saya sayangi. Kesalahpahaman benar-benar mampu membuat saya tergugu, campur aduk antara perasaan sedih, kecewa, dan patah hati. Juga ketika saya tidak mampu menyampaikan maksud saya secara benar dan sesuai, terlebih jika tak ada kesempatan untuk bicara. Situasi yang sangat tidak menyenangkan. Fakta ini saya dapati ketika beberapa kali menghadapi kondisi dan situasi demikian di tiga tahun terakhir. Semakin diperkuat ketika saya mencoba mengingat-ingat kembali kejadian di masa lalu kala saya baru mulai menginjak belasan tahun.

Saya juga mendapati bahwa ternyata ada hal-hal kecil yang dapat dengan mudah memengaruhi diri. Salah satunya, yaitu betapa sensitifnya saya terhadap suara keras serta bentakan. Mendengarnya membuat jantung saya bedegup lebih cepat dari kondisi normal. Kejadian ini saya sadari ketika saya tinggal di sebuah perumahan, lalu suatu ketika ada tetangga baru menempati rumah kosong persis di seberang rumah yang saya tempati. Qodarullah, setiap hari terdengar orang berteriak, menangis, sampai meraung-raung. Sesekali terdengar sahut-menyahut entah dua atau tiga orang. Awalnya saya khawatir, takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada tetangga baru. Hingga akhirnya saya tahu bahwa itu bukan KDRT atau permasalahan rumah tangga seperti yang mungkin banyak kami duga. Anak remaja perempuan mereka rupanya memiliki permasalah kondisi mental, yang menyebabkan ia kerap tantrum bahkan seringkali hendak kabur menggedor-gedor pintu. Dari kejadian itu, saya jadi tahu bahwa suara bantingan pintu, lemparan benda, suara raungan, sungguh bisa sedemikian mengganggu.

Pada akhirnya, ada begitu banyak hal yang saya pelajari bahkan hingga hari ini. Kapan saya merasa senang dan berbunga-bunga, hal apa yang membuat saya bersemangat, termasuk kapan saya menjelma jadi manusia yang begitu menyebalkan. Kita tidak bisa menampik bahwa diri kita memiliki sisi positif dan negatif, serta memiliki masa ketika self-worth sedang tinggi dan juga rendah. Yup, saya juga belajar tentang hal apa yang bisa lingkungan saya lakukan untuk membuat saya merasa lebih baik, ketika self-worth saya sedang rendah.

Dalam sebuah workshop terapi psikologi, saya belajar tentang betapa pentingnya mengetahui hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik ketika kondisi diri sedang buruk. Catat baik-baik, sehingga itu bisa menjadi database terkhusus bagi orang-orang terdekat dan inner circle kita. Sebab setiap orang memiliki keunikan tersendiri, meski secara garis besar sebenarnya sama saja (nah lho, bingung nggak? hhe). Yah, intinya setiap kita boleh jadi memiliki kenyamanan dan bahasa cinta yang berbeda. Seperti selera makan bubur yang juga berbeda, serta perdebatan tak berujung tentang manakah yang lebih nikmat antara mie goreng atau mie kuah.

Sumber Gambar

Mengapa mengenal diri sendiri penting? Sebab kata pepatah lama, tak kenal maka tak sayang. Bagaimana kita bisa menyayangi diri sendiri, manakala kita tak mengenalinya dengan baik? Mengenal diri sendiri juga membantu kita untuk meregulasi diri dan mengondisikan hati. Akan ada begitu banyak hal yang dapat lebih mudah kita kontrol ketika kita mengenal diri sendiri. Bukan hanya hubungan kita dengan orang terdekat, tapi juga dengan teman satu lembaga, kolega kerja, hingga orang tak dikenal yang kita berpapasan dengannya di tengah jalan. Lebih jauh lagi, mengenal diri sendiri menjadi sangat penting sebab ia dapat membantu kita dalam menjalankan tugas sebagai hamba selagi hidup di dunia, beribadah demi menjaga hubungan baik kita dengan Pemilik Semesta. Bukankah salah satu ibadah tersulit adalah ibadah yang berkaitan dengan hati?

Menurut versi hemat dan amatiran saya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk lebih mengenal diri sendiri. Beberapa di antaranya, yaitu dengan menanyakan sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini pada diri sendiri:

1. Kapan kita merasakan emosi negatif seperti sedih, kecewa, atau marah?

2. Hal apa yang paling mengganggu ketenteraman dan kedamaian hati kita?

3. Orang seperti apa yang membuat kita merasa tidak nyaman? 

4. Bagaimana pengalaman masa kecil kita, dan perjalanan hidup macam apa yang kita lalui hingga hari ini?

5. Apa yang kita harapkan ketika berinteraksi dengan orang lain?

Agaknya lima pertanyaan itu sudah cukup memberi informasi awal untuk mengenal diri sendiri. Hei, mengapa lebih banyak pertanyaan tentang hal-hal negatif? Sebab biasanya, alih-alih hal positif, segala sesuatu yang membuat hati sulit lebih mudah diidentifikasi. Sebagaimana manusia yang suka lupa bersyukur ketika sedang berbunga, tapi rentan memaki ketika merasa terhimpit keadaan. Semoga kita dijauhkan dari tindakan demikian.

Terakhir, mengenal diri sendiri akan memudahkan kita untuk mengenal dan memahami orang lain. Takkan ada rugi dari upaya untuk mengenal diri sendiri, sebab setiap kita adalah tokoh utama dalam drama kehidupan yang kita lalui ini.


Sumber Gambar

Ditulis di Bandung,
pada 9 Rajab 1442 H
21 Februari 2021

Monday, November 18, 2019

Buku dan Ketepatan Waktu


Ahad lalu ketika melihat-lihat isi rak buku, mata saya tertuju pada sebuah buku karya Dr. Ibrahim Elfiky. Melihat buku itu, bukannya membuat saya teringat akan isinya, melainkan pada hal lain. Salah satu penyesalan saya atas waktu, sebab terlalu mengundur-undur mengirimkan buku tersebut pada salah seorang kawan yang kini telah berpulang.

Kami sekelas pada tingkat satu perkuliahan, tahun 2013. Dia jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, sementara saya jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Beberapa kali kami terlibat dalam satu kelompok mata kuliah. Pernah juga satu kelompok asistensi Pendidikan Agama Islam. Interaksi lainnya ya di kelas perkuliahan saja, kalau tidak salah dia rajin duduk di barisan depan. Yah, sebenarnya kami tidak dekat-dekat amat. Bahkan seingat saya kami pernah terlibat konflik, alhamdulillah hanya sedikit. Begitu masuk tingkat dua, kami tidak sekelas lagi. Tidak ada interaksi yang berarti. Agaknya hanya terkoneksi oleh media sosial saja, seadanya.

Pada akhir tahun 2016, ia tiba-tiba mengirimkan saya pesan singkat (SMS). Saya sudah lupa isinya, dan mungkin tidak saya balas. Sampai ia menghubungi saya via direct message Instagram. Sebut saja namanya Eka.

“Ada apa Ka? Waktu itu Eka SMS Riris juga bukan?”

“Gak ada apa-apa Riz, kepingin curhat aja, minta saran... iya SMS.”

Begitu pembuka obrolan kami di DM instagram.

Obrolan kami kemudan berlanjut di WA. Eka adalah mahasiswi yang tekun, rajin, dan—tentu saja—tepat waktu. Ia ikut dalam program akselerasi supaya bisa menuntaskan perkuliahan strata 1 hanya dalam waktu 3,5 tahun. Hari itu Eka menyampaikan kegelisahannya pada saya, sebab sudah satu tahun belakangan ia bolak-balik rumah sakit, dan dikatakan oleh dokter dirinya mengidap lupus. Padahal, ia sudah harus memulai penelitiannya supaya sesuai dengan target yang diberikan. Berita itu sedikit-banyak membuat mental Eka jatuh. Apalagi pencarian aktifnya di internet berujung pada ketakutan luar biasa. Ia cemas.

Payahnya, saya sungguh tidak bisa membantu banyak. Saya benar-benar tidak fokus membantu Eka, bahkan untuk sekadar jadi pendengar yang baik. Beberapa kali respons saya terbilang lama, dan tidak aktif menanyakan kabar beserta hal-hal lain yang boleh jadi sedang Eka butuhkan; support. Saya juga tidak mengerti mengapa Eka tidak menceritakan ini pada teman-teman satu jurusannya, pada teman-teman terdekat bahkan kawan sekosannya. Saat itu Eka meminta saya untuk tidak menceritakan pada siapa-siapa. Hal itu juga yang membuat saya tidak bisa mengabarkan pada beberapa kawan yang terbilang cukup dekat dengan kami berdua ketika dulu sekelas di tahun pertama. Yang bisa saya lakukan adalah memberi saran, supaya setidaknya ada teman sekelas yang tahu mengenai kondisinya. Saya katakana bahwa ia tidak boleh terlalu capek.

Tahun 2017 adalah salah satu masa terberat saya, jujur saja. Ada banyak persoalan yang harus saya hadapi sembari mengerjakan tugas akhir di perkuliahan S-1 yang sudah dikejar-kejar deadline sebab saya pun mengikuti program fasttrack. Ditambah ada hal lain yang juga menguras pikiran, dan kelelahan fisik keliling Tangerang Selatan serta bolak-balik Jakarta-Bogor. Kehidupan saya rasanya habis di jalan saat itu. Sungguh saya tidak aktif berkomunikasi dengan Eka. Dia yang justru lebih banyak menghubungi saya untuk bercerita, yang sayangnya, tidak saya tanggapi secara optimal.

Hebatnya, di tengah ujian yang luar biasa, ia berhasil lulus tepat waktu dan wisuda dua bulan lebih cepat dari saya, dan agaknya sudah terlihat baik-baik saja. Bahkan saya yang saat itu tengah asyik tenggelam dalam problematika pribadi sungguh tak ingat, apakah saya mengucapkan selamat padanya atau tidak. Betapa payahnya.

Suatu ketika kami kembali terlibat perbincangan.

“Riz, Eka butuh baca buku-buku motivasi deh supaya semangat. Riris ada nggak?” kurang lebih, begitu ucapnya (saya sudah lupa sebab chat history kami raib bersamaan dengan rusaknya HP saya Januari 2018 lalu).

“Adaa, Ka. Motivasi kayak apa?”

“Iya buku motivasi apa aja tentang kehidupan.”

Usai membaca permintaannya, saya serta-merta mengecek rak buku di kamar, barangkali ada buku yang cocok untuk dibaca Eka. Saya kemudian menemukan buku karya Dr. Ibrahim Elfiky berjudul “Excellent Life”. Saya foto buku tersebut, lantas mengirimkannya pada Eka.

“Ini bagus deh, Ka. Bacaannya ringan tapi memotivasi.”



Kemudian diam-diam saya bertekad hendak mengirimkan buku itu. Namun mengingat tampilannya yang sudah tak ciamik, ingin rasanya membelikan Eka satu buku yang masih baru.

Qadarullah menjelang akhir tahun 2017, Eka turut menjadi pembaca buku saya yang berjudul TEMU. Ia menghubungi saya, memesan satu buku, dan mengirimkan alamat tempat ia tinggal saat itu di Kawasan Tangerang. Bisa dibilang tidak begitu jauh dari tempat saya tinggal.

**

Saya mendapatkan alamat Eka tanpa memintanya. Tentu saja karena ia turut membeli buku TEMU melalui form online yang tersebar. Saya mendapatkan alamatnya secara cuma-cuma. Harusnya bukan hal yang sulit bagi saya untuk sekadar mengirimkan sebuah buku yang sudah saya punya. Bermodalkan membungkus buku tersebut, menuliskan alamat, dan cukup berjalan beberapa langkah ke ekspedisi terdekat dari rumah. Ya, harusnya sesederhana itu.

Tapi keinginan saya yang terlalu muluk—mencari buku baru yang lebih baik tampilannya—menjadikan hal yang tadinya sederhana jadi lebih rumit. Saya kerap menunda-nunda, hingga akhirnya lupa dan justru tidak terlaksana.



Pada tahun 2018, beberapa kali kami masih terlibat perbincangan. Karena saya merasa sangat minim dalam membantu Eka, saya mencoba mencari info pada beberapa kerabat yang mungkin saja dapat memberi saran terkait lupus dan bagaimana bisa meng-encourage mereka. Saya bahkan sampai melemparkan pertanyaan ke grup angkatan Aliyah, mengingat tidak sedikit kawan saya yang kuliah di jurusan kedokteran. Saya juga menanyakan pada sahabat saya yang salah satu keluarganya juga merupakan seorang odapus (pasien lupus).

Alhamdulillah saya memperoleh pencerahan. Lantas mengabarkan pada Eka beberapa kontak yang mungkin bisa membantunya, menghubungkan Eka dengan sahabat saya, serta mengenalkan Eka pada salah satu ketua komunitas peduli lupus. Kata seseorang, yang terpenting untuk odapus adalah bahwa mereka memiliki teman untuk saling berbagi, bahwa dirinya sungguh-sungguh tidak sendirian.

**

Beberapa bulan kemudian, tanpa ada kabar apa-apa, tanpa ada intro yang saya terima, tahu-tahu saya mendapat berita dari salah seorang kawan sejurusan, bahwa Eka telah tiada pada 22 Oktober 2018. Ketika mendapat informasi tersebut, segera saya memastikan kebenarannya melalui beberapa kawan. Betapa payahnya saya, sebab ternyata meninggalnya Eka tidak serta-merta. Ia telah dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama—dan saya tidak tahu apa-apa.

Saya sempat menyesali diri sendiri hingga enggan mencari tahu lebih lanjut. Merasa menyesal sebab tidak pernah saya bertukar kabar dengannya usai saya berikan beberapa kontak. Saya kembali asyik tenggelam dalam rutinitas diri yang kembali disibukkan menyelesaikan tugas akhir (lagi, kali ini S-2). Saya melewatkan banyak hal, pada masa-masa itu. Dan salah satu yang paling menyedihkan bagi saya adalah tentang Eka. Betapa tidak, bahkan dari awal hingga akhir, saya tidak pernah menyempatkan diri bertatap langsung dengannya. Sejak awal tahun 2016 ia menceritakan tentang dirinya pada saya, sampai tiba saatnya ia berpulang pada 2018 lalu, kami tidak pernah bertatap muka sekali pun. Padahal jarak kami sungguh tidak sejauh itu. Kami masih di kota yang sama, atau paling tidak saya hanya perlu nyebrang ke kota sebelah.

Maaf, Ka. Buku itu pada akhirnya benar-benar tidak terkirim.



**

Sudah lama sekali ingin menceritakan ini, entah pada siapa. Bagi saya, pengalaman ini sungguh memberi saya pelajaran bahwa kadang kita tak perlu menunggu segala sesuatunya untuk tepat nan sempurna. Dalam banyak hal, ketepatan waktu perlu dicipta meski dalam kondisi tidak optimal seutuhnya. Tidak apa-apa. Kalau kita hanya punya satu kaki, bukankah lebih baik terus melangkah meski pincang, daripada tidak melangkah sama sekali?

Saya yakin seutuhnya, bahwa Allah tidak pernah salah alamat dalam mengirimkan seseorang untuk hadir dalam kehidupan setiap manusia. Tak terkecuali hadirnya Eka dalam kehidupan saya. Allah-lah yang menggerakkan Eka untuk menghubungi saya, meski antara saya dengannya tidak ada hubungan yang benar-benar dekat, hanya sebatas teman sekelas biasa yang beberapa kali berada di satu kelompok belajar yang sama. Allah-lah yang mengarahkan Eka untuk menyampaikan keinginnanya membaca buku tentang motivasi kehidupan pada saya, Allah juga yang menggerakkan Eka membeli buku TEMU, meski pada akhirnya kami tak juga mencipta temu. Pasti ada pelajaran yang hendak Allah sampaikan pada saya untuk dipetik hikmahnya dan menjadi bekal untuk pelajaran selanjutnya.

Ketepatan waktu itu dicipta, bukan ditunggu. Beberapa kali saya mengatakan ini pada orang lain—terlebih pada diri sendiri.

Terima kasih, Eka. Maafin Riris.

**

Ditulis di Kota Hujan Bogor,
Diselesaikan pada Hari Jum’at, 15 November 2019

Tuesday, February 14, 2017

Anak-anak Cibunian

Kamu tahu? sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Hingga salah satu dari mereka memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” mendengarnya, kemudian aku salah tingkah.

ANAK-ANAK CIBUNIAN
Oleh: Rizky Sahla Tasqiya
           
Jika Indonesia adalah syurganya dunia, aku berani bilang bahwa Desa Cibunian adalah syurganya Pamijahan. Dengan luas yang mencapai 1.258 hektar, Cibunian sukses menjadi desa terluas di Kecamatan Pamijahan. Letaknya yang berada di kaki gunung salak menjadikan desa yang kental dengan budaya Sunda ini berudara sejuk, asri, dan tentu saja; captureable! Indah. Percayalah, bagi orang asal Jakarta sepertiku, menyaksikan gunung ketika membuka jendela kamar setiap harinya ibarat mendapat siraman air dingin di tengah terik panasnya matahari. Menyenangkan sekali.
Aku bersama lima orang teman lainnya tinggal di Desa Cibunian selama dua bulan untuk menjalankan program KKN-T (Kuliah Kerja Nyata - Tematik) yang diwajibkan oleh Institut Pertanian Bogor, perguruan tinggi tempat kami menimba ilmu. Bersyukur, kami ditempatkan di tempat yang begitu memanjakan mata. Tapi hal yang paling aku syukuri dari tempat ini adalah keceriaan desa yang ramah dan ramai oleh anak-anak. Mereka memanggil, menarik ujung baju, mengajak bermain, mengaji, minta diajarkan mengerjakan PR, bahkan mereka juga menciptakan berbagai macam kejutan. Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Sederhana memang, tapi siapa juga yang berani melarang seseorang untuk bercita-cita?
Namanya Putri. Salah satu dari sekian anak yang membuat hari-hariku di Pamijahan jadi begitu menyenangkan. Putri agak berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Ia sering kudapati tidak berkelompok. Seperti ketika kami latihan drama untuk pementasan di kantor desa misalnya, ia tidak tertarik untuk diajak bergabung. Hanya menonton sambil tersenyum malu-malu tiap kuajak ia untuk ikut memainkan peran. Atau ketika kami bermain di sungai, saling melepas canda. Putri justru asyik sendiri. Sama sekali berbeda dengan beberapa anak lain yang ricuh saling berebut memegang tanganku, lantas menarikku menuju tengah derasnya arus.
Satu ketika, kudapati pelipis Putri berdarah. Kutanya mengapa, ia hanya menggelengkan kepala. Tanpa ekspresi. Aku dibuat heran, bagaimana ia begitu tenang sementara darah nyata megalir di pelipisnya? Rasa-rasanya aku yang lebih heboh mencari obat merah dan plester luka. Hei, ternyata bukan hanya itu yang membuatku jadi bertanya-tanya. Setiap Putri ikut serta dalam permainan kami, tak jarang, yang lain justru berkomentar negatif. Komentar polos khas anak-anak seperti “Ih Kak… itu ada si Putri” atau “Yah Kaak, itu Putrinya,” membuat aku mulai berfikir: memangnya kenapa kalau ada Putri?
Main di sungai adalah aktivitas yang paling ditunggu oleh anak-anak Cibunian. Aku sih senang-senang saja. Bahkan cenderung kegirangan. Orang yang hobi hujan-hujanan sepertiku diajak main ke sungai— oleh anak-anak pula. Nikmat mana lagi yang pantas didustakan? Cita sederhanaku terkabul secara kontan. Tapi yang aku khawatirkan adalah perihal izin dari orang tua mereka. Aku tahu, kadang mereka belum meminta izin utuk main ke sungai. Hingga pada suatu sore, kekhawatiranku menjadi kenyataan.
Sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Menyapu pasir yang terhampar di sepanjang perjalanan pulang. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Aku asyik menanggapi ocehan mereka satu per satu, hingga ada yang memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Putri. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” demi mendengarnya, aku jadi salah tingkah. Lantas menjawab sambil tertawa kecil menutupi kegugupanku, “Hha iyaa, Kak Riris juga sayaang sama Putri,” lanjutku. Ia menyimpul senyum lagi. Aku balas tersenyum. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
Rumah tempatku tinggal bersebelahan dengan rumah Putri. Dengan pakaian yang basah dan kotor sehabis bermain di sungai, aku mencoba membuka kran di halaman samping rumah yang posisinya tepat berada di samping rumah anak delapan tahun itu. Lantas aku mulai membersihkan sandal dan ujung-ujung pakaian yang dihiasi pasir. Hingga sayup-sayup kudengar makian seorang perempuan muda kepada seseorang di rumah sebelah.
Kalau Kamu ada di posisiku, mungkin Kamu akan mengerti betapa menyedihkannya keadaan itu. Pertama, Kamu mendengar makian dari seseorang kepada anak kecil tepat di sebelahmu namun kalian berbataskan dinding dan Kamu tidak punya kuasa apa-apa. Kedua, Kamu bahkan tidak dapat mengerti arti kata per kata yang Kamu dengar, mengingat kemampuan berbahasa Sunda-mu yang payah sekali. Ketiga, Kamu adalah pihak yang ikut terlibat menjadi sebab dari diomelinya anak yang baru saja menyatakan rasa sayangnya padamu. Semoga tidak hiperbola, tapi Kamu tahu? saat itu aku sedih sekali. Perasaan bahagia usai main ke sungai bersama anak-anak seperti habis tidak bersisa. Habis hingga ampas-ampasnya.
Putri dimarahi sang ibu karena ia main ke sungai sampai sore hari tanpa izin terlebih dahulu. Meski aku tidak mengerti bahasa Sunda seutuhnya, tapi aku tahu persis deret kalimat itu adalah sumpah serapah. Kudapati beberapa kata kasar terlontar dibarengi dengan suara guyuran air. Aku sama sekali tidak menyangsikan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Sama sekali tidak. Hanya, ekspresi sayang semacam itu terlalu menyedihkan. Lebih menyedihkan ketika menyadari bahwa aku tidak tahu apa yang dapat kuperbuat.
Kejadian itu sampai pada telinga Ibu, pemilik rumah tempat aku tinggal. Kuceritakan juga pada Ibu perihal kesedihanku. Beliau lantas menghiburku dan mengatakan bahwa aku tidak perlu sedih berlebihan karena kejadian itu. Pasalnya, hal tersebut bukan kali pertama terjadi.
“Nggak usah sedih, Teh Riris…” ujar Ibu yang masih tergolong saudara dekat dengan keluarga Putri, “itu mah sudah sering Ibu bilangin dari dulu supaya jangan terlalu keras mendidik anak. Tapi ya masih begitu juga,” lanjutnya. Menurut Ibu, beberapa kali sudah orang tua Putri diingatkan, namun tidak ada perubahan berarti. Putri dan adiknya yang masih kecil tidak jarang dimarahi karena hal yang sebenarnya sangat lumrah dilakukan oleh anak-anak seusia mereka.
Meski menyedihkan, kejadian itu memberi jawaban atas beberapa pertanyaanku perihal keadaan Putri. Jika mengetahui keadaan keluarganya sedemikian rupa, aku tidak heran mengapa ia tumbuh menjadi anak yang tak mudah bergabung dengan anak-anak lainnya, tidak menangis ketika pelipisnya berdarah akibat goresan bambu, atau kerap melakukan hal-hal aneh demi menarik perhatian seperti berdiri di tengah-tengah khalayak ketika acara berlangsung, misalnya. Iya, anak itu –Putri- haus akan perhatian. Dan ia tidak terbiasa ‘dimanja’ atas hal sesederhana luka dan sedikit darah pada pelipisnya.
Bagian paling berat dari kegiatan KKN-T adalah –apalagi jika bukan- perpisahan. Acara perpisahan kami lakukan dengan sederhana di kantor desa, pada malam terakhir sebelum kami harus kembali kepada rutinitas harian kampus. Penampilan drama anak-anak yang telah lama dipersiapkan jauh melampaui ekspektasi kami. Iya, jauh lebih bagus! mereka bahkan tetap bersemangat meski malam itu mati lampu disertai hujan deras yang menjadikan kantor desa tidak seramai rencana awal. Meski hanya ada beberapa orang tua yang hadir memenuhi undangan, acara perpisahan tetap jadi sangat berkesan. Mati lampu justru menjadikan kami semaki dekat. Kami makan bersama ditemani cahaya lilin; ditemani suara rintik-rintik hujan dari luar.
Bukan anak-anak Cibunian jika tidak pandai memberikan kakak-kakaknya kejutan. Kami mendapat persembahan yang manis sekali; penampilan pembacaan puisi serta menyanyikan lagu perpisahan yang dilakukan mereka bersama-sama secara acapella. Diam-diam aku mencari sosok Putri. Dia tidak ada di barisan anak-anak yang tampil di depan. Ah ya, anak itu selalu punya caranya sendiri. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia menghampiriku tepat sebelum aku dan teman-teman pamit pulang mengakhiri kegiatan KKN-T.
Aku memberikan secari kertas origami berbentuk hati yang sudah kupersiapkan untuk masing-masing anak termasuk Putri. Menerima pemberianku, ia terperangah.
“Buat Putri?” tanyanya.
“Iya, Buat Putri. Makasih ya sudah jadi teman Kak Riris,” balasku tersenyum sambil setengah jongkok. Menyejajarkan tinggi kami.
“Kak Riris…” Putri kemudian memanggilku, lantas mendekatkan mulutnya pada telinga kananku seraya mengatakan sesuatu, “terima kasih ya,” katanya lagi. Aku tertawa sambil megusap-usap kepalanya.
“Iyaa, sama-sama. Semangat ya Putri belajarnya!” ia mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.

Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Dan bersama anak-anak Cibunian, kurasa mereka lebih dari sekadar anak-anak; mereka adalah sahabat. Pada akhirnya aku tidak sekadar mewujudkan cita-cita, melainkan memperoleh banyak sekali pelajaran dari mereka. Tentang apa itu keberanian dan kejujuran, juga tentang apa itu ketulusan— seperti pelajaran yang kudapat dari seorang anak perempuan usia delapan tahun bernama Putri...

Sungai yang tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal

Tulisan ini dibuat beberapa bulan lalu pada penghujung 2016, 
sebagai kenang-kenangan KKN-T Fema IPB.
(nama 'Putri' hanya samaran)

Monday, June 6, 2016

Inisiatif

Tadi malam, saya pergi tidur meninggalkan laptop di kamar sebelah dengan posisi masih menyala serta tersambung ke jaringan internet. Lalu surprise! paginya ketika bangun untuk sahur, tampilan Sudzu (baca: nama laptop) saya berubah.



Hi!

We've updated your PC.

All your files are exactly where you left them.

Baiklah, sistem operasi si laptop ter-update sendiri. Sempat kecewa karena "Hei, berani-beraninya main update begitu saja!" yah, tapi kemudian saya hanya tertawa kecil. Tahu-tahu merasa diledek oleh entah siapa.

Memang beberapa waktu belakangan, notifikasi untuk memperbaharui sistem operasi selalu saja muncul tiap saya menggunakan laptop. Berkali-kali juga saya menutup pemberitahuan itu dan tidak peduli. Selain karena alasan sudah nyaman dengan yang saya gunakan, saya juga khawatir jika diperbaharui akan memperlambat kinerja Sudzu yang memang usianya tidak lagi terbilang muda.

Kalau mau dibuat percakapan, mungkin jadinya seperti ini.

Saya: Sudzu, kenapa mau-maunya di-update begitu saja, hei?!
Sudzu: Loh kenapa emangnya Ris? mereka bilang ini keren dan ini yang paling baru.
Saya: Terus seenak-enaknya bikin keputusan tanpa Riris, gitu?
Sudzu: Sudzu nggak mutusin apa-apa, tapi ini kejadian gitu aja. Suer!
Saya: Lain kali, jangan pasrah, Zu. Nggak semua yang mereka anggap keren itu beneran keren untuk kita. Nggak semua yang mereka anggap kita butuh, benar-benar kita butuhkan.
Sudzu: Iya Ris.. maafin...
Saya: Yaudah nggak apa-apa. Maafin juga tadi malem gak dimatiin kamunya. Nanti kita balikin lagi aja ya,

Sumber: (tidak ditemukan) - dari facebook.com

Saya jadi ingat dengan materi kuliah KKN-T beberapa waktu lalu tentang pemberdayaan. "Kita ini kan kadang-kadang sok tahu, lantas mengadakan program tanpa benar-benar melakukan survei di lapangan. Sebenarnya, apa yang masyarakat butuhkan?" --juga ingat dengan perkataan salah seorang pemateri di acara puncak Hardiknas 29 Mei 2016 lalu, "Penting untuk tahu kebutuhan di masyarakat. Jangan bikin komunitas yang tidak benar-benar dibutuhkan dan diada-adakan" (mungkin redaksinya berbeda, tapi kurang lebih demikian). Dosen pembimbing skripsi saya juga pernah bilang begini di salah satu mata kuliah: "Kadang-kadang kan begitu, kita merasa sudah tahu dan pernah merasakan apa yang dia curhatkan pada kita. Jadi rasanya pingin buru-buru merespon. Padahal boleh jadi kasusnya berbeda, Makanya harus mendengarkan."

Inisiatif. Entah, tapi pembaharuan sistem operasi di Sudzu yang serta-merta terjadi begitu saja membuat saya introspeksi tentang inisiatif. Saya tidak membutuhkan pembaharuan tersebut, dan sejujurnya malah tidak ingin sama sekali. Jadi sebagaimana hal baik lainnya, inisiatif pun butuh arahan dan kejelasan. Ada inisiatif untuk melakukan hal baik, sebaliknya ada inisiatif untuk melakukan hal buruk. Dan ternyata, inisiatif dalam hal kebaikan pun tidak cukup hanya sampai pada niat, melainkan harus kita maknai pula cara dan metodenya yang baik. Ketika kita hendak memberi misalnya, tidak ada salahnya mencari tahu bahkan mungkin bertanya kepada pihak yang akan diberi: apa yang ia butuhkan?

Intinya, jangan sampai kita jadi seorang inisiator yang sok tahu. Jangan sampai niat untuk memberikan bantuan dan kebermanfaatan justru memberikan dampak sebaliknya; mengusik dan mengganggu. Daripada mengirim kebaikan, jangan-jangan malah hal sia atau negatif yang kemudian kita transfer.


Batavia, 1 Ramadhan 1437 H

Sunday, May 22, 2016

Luigi, Valerie, dan Tulisan yang Belum Selesai

Tokoh:

Valerie (kuat) latin
Luigi (pejuang) Italia
Bibi Kaia (bumi) yunani



Jauh setelah sang Vesuvius memuntahkan isi perutnya.

Jauh dari peristiwa tahun 79 Masehi ketika Pompeii lenyap tak bersisa…




LUIGI

“Dasar! Apa maksud semua ini hah?! Aku tak pernah habis fikir bagaimana bisa mereka percaya atas surat yang tak jelas asal muasalnya?” Luigi menggerutu. Ia tak terima dirinya diperlakukan seperti boneka. Bagaimana kah hatinya bisa menerima manakala orang tak dikenal hadir dalam hidupnya, mengaku sebagai pamannya, dan memerintahkan ia untuk pergi merantau jauh ke pelosok desa? Seorang Luigi tak akan mudah menerima semuanya begitu saja. Karena Luigi bukan sembarang pemuda. Sejarah hidup yang kejam cukup membuatnya memiliki watak sedemikian rupa. Keras dan dingin.


VALERIE



Valerie tertunduk. Bukannya ia tak sudi memandang jasad ayahnya yang dikremasi. Gadis itu hanya berusaha menyembunyikan tangisnya. Cukup lama ia memendam air mata. Namun sungguh, kini ia tak kuasa. 

“Bersabarlah sayang...“ Bibi Kaia membelai kepalanya lembut. Gadis itu segera menghapus tangisnya dan menegakkan pandangan. Tersenyum kepada Bibi Kaia.

“Terimakasih, Bibi.. Val bahagia masih memiliki Bibi,” Valerie memeluk bibi satu-satunya itu sambil tetap tersenyum. Menyembunyikan tumpahan air mata yang terbendung di pelupuknya.

__________________________________________________________


Penggal tulisan di atas saya tulis ketika duduk di bangku kelas X beberapa tahun silam. Waktu itu saya benar-benar jatuh cinta pada sejarah. Jika pergi keperpustakaan, saya akan memilih berjalan lurus hingga sampai di pojok ruangan tempat dimana buku-buku lama tersimpan, dan kumpulan ensiklopedi berjejer rapi.

Saya tidak ingat persis, hendak ke arah mana penggal cerita yang saya tulis itu. Yang saya ingat, saat itu membuatnya butuh untuk mencuri-curi waktu. Mulai dari mencari referensi nama, studi pustaka tentang Kota Pompeii yang lenyap, dan ngantri giliran pakai komputer yang jumlahnya hanya ada satu buah di asrama. Dan tada! Hasilnya adalah dua paragraf saja. :) kemudian berhenti ketika saya tahu fakta baru bahwa lenyapnya Kota Pompeii terindikasi karena adanya azab dari Allah pada wilayah tersebut. Kabarnya, penduduk Pompeii mengikuti jejak kaum Nabi Luth; berperilaku ala lesbian dan gay. Waktu itu saya berfikir, rasanya tidak rela kalau keluarga Luigi, Valerie, dan Bibi Kaia jadi bagian dari LGBT~ jadilah terhenti.

Di bangku Aliyah, saya tengah dalam kesenangan menulis cerita yang memuat sejarah meski sedikit. Mulai dari "Pemuda itu Bernama Ram" yang bercerita tentang anak sekolahan Jakarta dengan segenap kebenciannya pada masa lalu, namun belum selesai; "Lensa Abu-abu" tentang fotografer amatiran bernama Angga, Thomas yang mualaf, Niken si Venus fotografi, sampai Pak Suja beserta Ratri, anaknya yang santun. Cerita itu berlatar tempat Pelabuhan Sunda Kelapa, namun sayang, juga belum selesai sejak 2012; Dulu saya menulis di buku tulis dan buku itu raib. Sementara yang disalin ke laptop baru setengahnya saja.

Setidaknya ada dua cerita yang selesai; "Kata-kata Laut" yang saya selipkan sedikit (sekali) sejarah tentang Malioboro; juga "GARUDA" tentang bagaimana Indonesia punya lambang negara.

Sore ini saya baru saja memeriksa dokumen-di dalam laptop dan Alhamdulillah, menemukan ada begitu banyak cerita (yang sayangnya belum memiliki ujung). Sebagian rampung, sebagian besar yang lain menggantung. Ada yang berhenti karena tengah dalam pencarian: manfaat dan nilai kebaikan apa yang hendak disampaikan. Sementara yang lain berhenti karena penulisnya moody-an.


Tulisan yang baik adalah yang diselesaikan.


Sebagaimana sebaik-baik niat baik adalah yang diamalkan, tulisan yang baik pun ialah yang diselesaikan. Diselesaikan melalui berbagai pintu mulai dari niat; apa yang mau disampaikan. Selain itu juga memikirkan efek sampingnya; jikalau ia dibaca oleh orang lain, manfaat kah, atau mudharat kah? meski akhirnya itu bergantung pada yang membaca, namun setidaknya stir dan rem masih dalam genggaman kita yang menulis. Setelah itu, baru benar-benar diselesaikan secara konkret. Bukan hanya wacana-- seperti yang kemarin-kemarin mungkin kerap saya lakukan.

Semoga hari ini dan besok tidak lagi.
Dan semoga memberi manfaat baik untuk diri dan orang yang membaca,

Omong-omong, inti dari postingan ini sebenarnya adalah mohon doa.
Semoga kita tidak jadi generasi wacana, terlebih untuk menebar kebermanfaatan pada semesta.

Allahumma aamiin...

Tuesday, May 10, 2016

Ditanya, Bagaimana Kabarnya?

Hari ini saya bersama teman-teman baru saja turun lapang untuk mata kuliah Konseling Keluarga. Kami mengunjungi salah satu sekolah boarding school ber-beasiswa full di Kota Bogor. Masing-masing dari kami mewawancarai satu orang responden yang telah ditentukan. Responden saya adalah seorang anak kelas 2 SMP. Alih-alih memberikan konsultasi, saya justru belajar banyak melalui percakapan dengan anak 13 tahun itu. Ketika ditanya tentang bagaimana ia berusaha menyelesaikan masalah, ia menjawab dengan tenang, “Ke Allah, Kak. Saya nggak pernah curhat ke teman. Kalau masalahnya sudah berat banget, ke Allah aja. Curhat sama manusa itu nggak nyelesain masalah soalnya, Kak.” Sampai disini saja saya sudah dibuat takjub. Hei Dik, seusiamu dulu, sepertinya Aku bahkan belum berfikir sejauh itu.

Dalam tugas mata kuliah kami, idealnya saya dapat menggali permasalahan yang tengah ia hadapi dan membantu memberikan alternatif solusi. Namun meski responden saya mengaku dalam keadaan sangat bingung atas masalah yang diaku berat selama dua tahun belakangan, ia bersikuat tidak menceritakan ke siapapun. Saya mengiyakan. Diam-diam mengerti, karena toh meski saya banyak cerita seperti ini, tetap saja ada hal-hal mendasar yang tidak bisa diceritakan pada siapapun kecuali kepada-Nya. Lalu tidak cukup sampai disitu, saya kembali dibuat introspeksi diri mendengar kalimat-kalimatnya kemudian.

“Ya paling mendoakan, Kak. Biasanya kalau tahajjud. Saya paling bisanya mendoakan,” ujarnya ketika saya tanya, apakah ia menggunakan ‘strategi’ silaturrahim ketika tengah menghadapi masalah. Lagi, jawabannya kembali kepada Allah. Ia mengaku terbiasa menyendiri di masjid dan membaca Al-Qur’an jika sedang sedih. Lalu hal yang membuat saya seperti ditampar udara dalam seketika, ketika ia berkata seperti ini:

“Saya suka mikir sih, Kak. Daripada baca novel yang tebal-tebal, halamannya bahkan sampai ratusan dan berjilid-jilid jumlahnya….” Ujarnya sambil mengilustrasikan tebal novel yang biasa dibaca teman-temannya, “mendingan baca Al-Qur’an. Ngapain juga baca novel kalau baca Al-Qur’an aja belum khatam.”

Ini… daripada disebut turun lapang dan berperan sebagai konsultan amatiran, saya justru lebih merasa tengah di-training oleh Allah. Adik itu boleh jadi hanya washilah Allah dalam menyampaikan rentet hikmah semesta pada saya. Semoga tidak berlebihan, tapi saya merasa sungguh-sungguh tengah diperhatikan oleh-Nya. Tengah dipeluk. Tengah dibisiki mesra oleh langit; Riris yang mengaku cinta Allah dan Rasul-Nya, interaksimu dengan Al-Qur’an apa kabar? Doa-doa untuk keluarga dan saudaramu apa kabar? Prasangka baik  pada Rabb-mu- masihkah ia pada tempatnya?

Ternyata Allah memang selalu penuh kejutan. Menanyakan kabar hamba-Nya saja semanis ini; jalannya tidak disangka-sangka-

Kota Hujan, Sya'ban 1437 H

KILAS BALIK #1

Hal yang paling menyenangkan dari long weekend bulan Mei 2016 adalah; menyadari bahwa Ramadhan 1437 H semakin dekat (yay! :)) Alhamdulillah. Semoga kita sampai berjumpa dengan si cinta yang hadirnya sekali dalam setahun ini. Allahumma aamiin.

Rasanya lama sekali saya tidak menulis di laman ini dengan sepenuh hati. Belakangan ada banyak hal yang tahu-tahu kepikiran. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ditulis. Tapi sayang, manajemen waktu rupanya masih menjadi alasan klise yang tak bosan diungkit-ungkit. Saya sungguh mohon doa untuk yang satu ini, ya, agar tidak pernah bosan untuk jadi manusia yang berusaha. Boleh jadi yang diijabah adalah doa yang sedang membaca ini -siapapun itu disana.

Izinkan saya -sekali-sekali- menulis agak panjang tentang apa yang saya alami. Banyak pembelajaran beberapa bulan belakangan, yang menulisnya selama ini jadi wacana saja. Dari sekian banyak, kali ini cukup saya ambil beberapa saja dulu, dan bentuknya masih cuplikan-cuplikan --daripada berujung wacana lagi, kan :) semoga Allah perkenankan untuk saya tulis beserta hikmah-hikmahnya yang lebih mendalam di lain waktu.

Ramadhan 1436 H

"Barangsiapa yang beribadah karena Ramadhan,
sesungguhnya Ramadhan hanya datang setahun sekali.
Tapi barangsiapa yang beribadah karena Allah,
sesungguhnya Allah kekal lagi Maha Mengetahui."

Ramadhan 1436 H adalah Ramadhan pertama kami bersama keponakan pertama saya dari kakak tertua, namanya Qifa. Selang 10 tahun setelah kami terakhir kali merasakan riweuh-nya lebaran sama bayi (10 tahun lalu, adik bungsu saya yang jadi bayinya. :D). Mempersiapkan macam-macam mulai dari popok, botol susu, ASI (sekaligus alat pompanya), satu set keperluan pasca mandi (baby lotion, sabun, sampo, bedak, hair lotion, dll), kaus kaki, sapu tangan, dan lain-lainnya. Semarak sekali, Lalu ketika keluarga besar berkumpul, bahagia sekali lihat bayi-bayi berseliweran :')

Ramadhan 1436 H adalah bulan pembenahan spiritual. Tidak tanggung-tanggung, saya juga mendapat ujian yang tidak dapat dipungkiri memberi pengalaman luar biasa berupa introspeksi dan upaya pengkokohan iman. Maha Besar Allah yang paling tahu isi serta kapasitas hamba-Nya. Saya banyak belajar tentang konsep diri, ilmu tauhiid, juga manajemen qalbu, terutama dari mendengar pengalaman hidup Ustadz Abdullah Gymnastiar yang berawal dari kiriman link video melalui salah seorang sahabat.


Ekspresi cinta Allah adalah ekspresi cinta terbaik. Saya yang selama ini seringkali dihantui pertanyaan "Harus berbuat seperti apa, karakter yang mana yang Allah suka?" menemukan jawabannya. Bahwa manusia, sampai kapan pun takkan pernah bisa memahami keilmuan yang sempurna. Kesempurnaan ilmu itu hanya milik Allah. Jika logika kita bicara bahwa api itu menghanguskan dan massa jenis manusia lebih berat daripada massa jenis air, bagaimanakan ia menjelaskan apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa?


Seorang muslim boleh jadi akan selalu berada pada ranah khauf dan raja; antara takut dan harap pada Rabb-nya. Bukankah di sanalah terletak indahnya iman?


IPB Goes to Field (IGTF) Banjarnegara 2015

"Setiap manusia memiliki sejarah.
Bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk 
dimaknai hikmahnya secara nyata"

Berselang satu minggu, setelah Idul Fitri 1436 H, saya bersama puluhan mahasiswa IPB lainnya dikirim ke beberapa daerah di Indonesia untuk melaksanakan program IGTF. Lokasi yang menjadi pilihan saya saat itu adalah Banjarnegara, berbekal informasi selewat dari teman bahwa tempat ini sejuk dan dingin. Dan ternyata benar. Saya tidak salah pilih lokasi :)



Selama tiga minggu, kami menjalani kegiatan dengan program utama pengembangan desain untuk wisata pertanian buah durian. Hal yang meyenangkan dari kegiatan IGTF adalah, saya seperti masuk ke dalam kehidupan yang lain. Melupakan rutinitas harian yang menjenuhkan di kota besar, tidak ada macet, pemandangan hijau dimana-mana, sejuk, bertemu anak-anak SD, berjalan kemanapun saling sapa. Seru. Seperti punya dunia lain selama tiga minggu. 

Bapak homestay kami bernama Pak Karmo. Kami banyak belajar tentang pelajaran hidup dari beliau. Pengalaman pahitnya selama kecil mulai dari ditipu, jadi gelandagan, makan air bak di perkantoran Jakarta, diusir satpol PP, diangkat anak oleh seorang keturunan Arab, dan seterusnya, menjadikan sosok yang satu ini begitu memanusiakan manusia. Bahkan ada dari kami yang nyeletuk, "Bapak kalau kisah hidupnya jadiin film kayaknya seru, Pak!" dengan nada seius usai mendengar bahwa beliau bahkan punya satu koper berisi catatan perjalanan hidupnya.

Pak Karmo sangat memerhatikan masing-masing dari kami. Bahkan ketika suatu waktu saya berpuasa, tahu-tahu sudah tersedia teh manis hangat dan dua bungkus roti pia yang beliau siapkan. Anak perempuan beliau satu-satunya yang bernama 'Aina seru sekali diajak bermain. Anaknya berani. Bahkan Pak Karmo cerita pada kami, bahwa beliau pernah dipanggil ke sekolah karena 'Aina berkelahi dengan anak laki-laki. :')


Ada banyak hal yang terjadi di Banjarnegara. Saya bertemu teman-teman baru yang entah bagaimana kami begitu cepat menjadi dekat. Bahkan ada salah satu teman yang satu kelas pas tingkat pertama dan nggak pernah berbinang, tapi justru ngobrol banyak pas IGTF bareng. :D kalau ingat, jadi kangen sekali. IGTF juga sukses membantu saya mengatur hati dan fikiran. Bagaimana tidak, rasa energi tumpah untuk asyik bercegkrama dengan anak-anak SD yang sibuk berlarian sana-sini dan ikut lomba 17 Agustus-an. Belum lagi naik mobil bak tengah malam dengan suhu dingin luar biasa beserta taburan gemintang di angkasa menuju Dieng Plateau. Ada rencana baru dalam kepala saya. Suatu waktu entah kapan, saya harus kembali lagi.



Haji 1436 H

"Rindu adalah bahasa cinta yang paling jujur."

Alhamdulillah, Mama dan Ayah dijemput Allah untuk mengunjungi rumah-Nya di Kota suci Makkah pada 1436 H. Sebuah penggenapan rukun Islam yang terakhir; haji. Saya yang selama ini lebih sering pergi dari rumah meninggalkan keduanya oleh sebab menuntut ilmu, ganti ditinggalkan selama kurang lebih 60 hari lamanya ke tempat nun jauh disana. Ada rasa tersendiri. Campuran antara bahagia, haru, dan sesekali cemas.



Di tengah-tengah masa keduanya menunaikan ibadah haji, saya mendapat kejadian yang membuat saya bersyukur sekali. Adakah yang lebih menakjubkan dari doa pintu syurga saya di dunia- yang dipanjatkan dari tanah suci di hadapan Ka'bah? Allahu Akbar! saat itu saya tengah dalam kondisi hati yang sangat tidak nyaman. Serta merta saya mengirim pesan kepada Mama dan Ayah, mohon doa agar putrinya diberi sabar dan istiqomah, serta dijaga hatinya. Tidak perlu waktu berjam-jam. Hati saya lapang begitu saja. Saya membayangkan betapa cepatnya sinyal disana. Betapa dekatnya doa dengan ijabah.

Waktu keduanya pulang, rasanya deg-degan. Rindu sekali. Begitu Mama dan Ayah memasuki pintu rumah tengah malam, rasanya tenang. Haru. Rindu yang sebegitu dalam terbayar dengan sangat sederhana; mencium takzim tangan keduanya, dan mendapat pelukan hangat. Tanpa kata-kata. Lunas. Bahkan mendapat bonus berupa pengalaman dan cerita selama keduanya berada di tanah seberang.

Lalu ada harap yang semakin membuncah; semoga Engkau mengajakku juga mengunjungi rumah-Mu. Segera setelah semuanya Engkau anggap siap. Allahumma aamiin...


C-care Edwar Technology

"Kebanyakan dokter 'mengobati' badan seakan ia terpisah dari jiwa.
Sebaliknya, kebanyakan psikolog 'mengobati' jiwa seakan ia terpisah dari badan.
Padahal sejatinya, badan dan jiwa merupakan satu kesatuan utuh."


Jika orang-orang mengenal Dr. Warsito dari pemberitaan di media, saya justru mengenal beliau ketika secara 'tidak sengaja' turut bergabung menjadi ghostwriter untuk laman website C-care Edwar Tehnology. Meski hanya satu kali turun lapang langsung bertemu dengan para pasien kanker pengguna ECCT untuk saya wawancarai, pengalaman tersebut sungguh luar biasa bagi saya. Saya lebih merasa tengah dapat kesempatan seminar kesehatan gratis dibayar alih-alih kerja serabutan. :D

Materi yang disuguhkan sangat menarik. Saya jadi tahu bagaimana sisi psikologis seseorang sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuhnya. Bahkan saya tidak pernah sekadar menebak, bahwa satu penyakit kanker tertentu teridentifikasi dengan jenis trauma yang spesifik. Misalnya saja kanker testis dan ovarium, kabarnya kuat dipengaruhi oleh perasaan kehilangan yang mendalam. Juga kanker lainnya seperti kanker payudara yang bahkan kanan/kiri memiliki jenis masalah psikologis berbeda. Materi tersebut saya dapat dari Bapak Riza dari Terapi Hati. Mungkin akan saya tulis selengkapnya lain waktu. Atau silakan berselancar dan mencari tahu bagi yang tertarik.

Di acara ini pula, saya pertama kali mengenal ECCT dan ECTV, pertama kali berjumpa dengan Dr. Warsito (dan beliau ramah sekali!) juga bertemu dengan orang-orang inspiratif. Saya bahkan tidak menyangka sapaan manis di tengah-tengah antrean makan siang itu berasal dari seorang perempuan muda yang tengah mengidap kanker tiroid. Hingga saat ini saya kerap bertukar kabar dengan Ayuk -begitu saya memanggilnya (Ayuk = sapaan untuk 'kakak perempuan' di Sumatra). Selain Ayuk, ada juga Adik Rafi (fotonya ada di atas), Ibu Nita dan Ibu Indira (para tetinggi Komunitas Peduli Kanker Lavender), Ibu Ani, Ibu Ayi, Ibu Metty, dan lainnya. Semuanya memberikan saya banyak pelajaran. Belum lagi melihat adik-adik berseragam kuning yang saling berbaris rapi (dan ternyata mereka semua pengidap kanker). Berbincang dengan kesemuanya memaksa saya menyaksikan ketegaran seorang ibu, antusiasme seorang anak muda, ketulusan seorang anak, dan menyuguhkan saya pembelajaran tentang makna ikhtiar dan syukur yang sebenar-benarnya. :')


Namun sayang, tidak lama dari acara di Jungle Land ini, seperti yang mungkin pembaca tahu, C-care Edwar Technology ditutup dan saya tidak dapat melanjutkan kontribusi untuk menulis di website Pejuang Kanker.


Januari di Insan Cendekia Serpong

"Tempat ini seringkali tidak terdefinisi."



Dua minggu tidak cukup. Ya, waktu dua minggu adalah masa penjajakan magang saja bagi saya. Baru saja mulai dekat dengan adik-adik, tak ayal saya harus kembali ke Kota Hujan melanjutkan studi. Entah bagaimana saya selalu merasa berhutang pada tanah ini. Bukan hanya pada instansi, negeri, pendidik, orang tua, namun juga pada diri sendiri. 

Tapi saya tidak akan membahas tentang itu kali ini. Terlalu bersifat batin dan main perasaan :D intinya selama magang, saya mendapat banyak pengalaman. Banyak belajar lagi, banyak berbincag-bincang dengan para pendidik luar biasa. Diam-diam saya menyesal mengapa dulu tidak tahu yang namanya kitab ta'lim muta'alim, dan seabrek keilmuan yang sebenarnya ustadz-ustadzah saya sangat memungkinkan untuk dimintai pengajaran ilmu serta barakahnya. Hal mengesankan lain adalah pengalaman saya untuk pertama kalinya menangani siswi yang kemasukan jin. Bagi saya yang baru pertama kali berhadapan langsung, pengalaman ini tidak hanya bersejarah, namun juga membuka wawasan tentang pengobatan ruqyah dan segala turunannya.

Ada satu mimpi sederhana saya yang diijabah Allah dengan indahnya; kesempatan berbagi langsung dengan adik-adik di MAN Insan Cendekia. Meski saya tahu betapa sedikitnya hal yang dapat saya bagikan, namun mengetahui keberadaan saya memberi manfaat meski sedikit, itu sudah terlalu indah untuk tidak disyukuri. 


Seleksi Mahasiswa Berprestasi

"Semua orang punya hak yang sama untuk berusaha.

Jadilah manusia berprestasi, bukan sekadar mahasiswa 'berprestasi'!"

Saya tidak pernah mendaftarkan diri, tapi tahu-tahu jadi begini. Katanya, ajang kompetisi "Mahasiswa Berprestasi" terbilang bergengsi. Saya mengiyakan, dan mengapresiasi usaha pemerintah kita untuk menumbuhkan daya juang pada anak-anak mudanya, :) Saya tidak sampai mana-mana, ini hanya sampai tingkat fakultas (itu pun ada tiga orang dari departemen saya). Intinya, saya tidak lolos seleksi sejak tahap pertama, Hhe :D


Tapi saya menempatkan pengalaman ini menjadi salah satu yang terpenting dalam sejarah kemahasiswaan saya. Bukan apa-apa, saya jadi lebih memahami bahwa saya rupanya memang tidak begitu tertarik dengan juara, peringkat, nilai, dan hal-hal semacamnya. Kali ini saya megiyakan hasil tes Stifin yang hasilnya menyebutkan bahwa saya lebih bahagia mencetak para raja daripada menjadi raja itu sendiri.


Meski terdengar baik-baik saja, namun sebenarnya kadang saya juga drop dan takut. Bahkan dalam beberapa kesempatan jadi bertanya-tanya, "Apa Engkau sungguh menciptakan hamba cukup untuk menjadi penggembira saja?" --oke, itu kalau saya sedang jatuh sekali. Kadang-kadang takut terlalu asyik main di belakang. Sewaktu duduk di bangku Aliyah, saya bahkan lebih senang menemani kawan belajar untuk persiapannya olimpiade dibanding mengurusi pengembangan potensi saya sendiri. Saya tidak akan cemburu padanya jika akhirnya ia memenangkan olimpiade (bahkan boleh jadi akan sangat senang dan bersyukur). Tapi jujur, saya pastikan saya akan cemburu pada usahanya. Pada ikhtiarnya yang menghabiskan petang di sekolah untuk menuntut ilmu. (Dan saya asyik duduk (menganggur) di sebelahnya, seolah tekun menemaninya belajar).

Tapi saya menemukan jawaban. Bahwa justru keadaan-keadaan seperti itu adalah bukti bahwa Allah menyayangi saya dan ingin agar potensi saya pun berkembang. :) Allah tahu saya akan jadi mahasiswi dengan bidang keilmuan sosial. Allah tahu saya ingin menjadi pendidik. Maka dengannya, Allah mengajarkan beraneka ragam cara manusia mengusahakan citanya dan berperilaku dalam keseharian mereka.

Kaitannya dengan seleksi mahasiswa berprestasi ini adalah, setidaknya saya menemukan kenyataan bahwa ternyata jika agak dipaksa, saya bisa menyelesaikan tulisan berbau ilmiah dan agak serius (setelah selama ini paling anti nulis hal semacam itu) dalam waktu satu minggu meski berbenturan dengan target tilawah 5 juz/hari untuk masuk kelas tahfidz di RQ, dan laporan magang yang belum juga selesai. Meski terseok-seok, alhamdulillah atas bantuan teman-teman dan dosen pembimbing, KTI saya mencapai nilai tertinggi (sebenarnya itu tidak penting, tapi boleh dijadikan salah satu bahan evaluasi). Saya hanya menemukan fakta bahwa ternyata, Allah juga menghendaki saya untuk merayakan usaha dan berikhtiar optimal. Alhamdulillah! :))


Kids Corner "Sakinah Bersamamu"

"Amalkan. Bukankah Imam Syafi'i pernah berkata-
bahwa ilmu selalu menarik untuk diamalkan?"

Tidak, saya tidak hendak membicarakan tentang seminar pernikahan atau semacamnya. Kali ini adalah tentang anak-anak. :D



Alhamdulillah pada bulan Maret lalu, saya kembali mendapat kesempatan menimba ilmu melalui praktik langsung :D menjadi panitia sebuah seminar berjudul "Sakinah Bersamamu" yang diisi oleh Pak Cah beserta istri. Bagian saya dan 7 kakak lainnya adalah menjaga dan bermain besama adik-adik kecil selagi abi-umi mereka mengikuti seminar. Percayalah, berurusan dengan puluhan bocah selama delapan jam ternyata bukan hanya mengasyikkan, tapi juga mengkayakan! teori di bangku kuliah yang dipelajari selama berhari-hari itu ternyata masih kerdil sekali ketika harus dipraktikkan di lapangan secara nyata.

Meski cukup melelahkan, tapi sungguh terbayar dengan pengalaman berharga. Tingkah mereka unik-unik. Mulai dari mengajari boneka berjalan di atas aspal, mewarnai gambar berlembar-lembar dengan krayon merah semua, sibuk mencari Abi, sibuk mencari Umi, sibuk ngeliatin ikan dan tidak mau beranjak, main ayunan sampai tidur, tidak mau turun dari gendongan, membongkar rumah-rumahan dengan alasan copot sendiri pintunya :''D, main perosotan nggak berhenti-berhenti, juga ada yang tantrum bukan main.

Berbagai macam strategi digunakan agar mereka tetap tenang dan tidak ribut mengganggu kegiatan seminar. Batang otak saya bahkan seperti mendadak bekerja dengan tahu-tahu menyampaikan dongeng yang entah ceritanya dapat inspirasi darimana. Begitu juga dengan kakak-kakak yang lain. Mungkin kawan saya, Arlinda, juga tidak pernah menyangka bahwa dirinya dapat berperan baik menjadi singa yang sedang menangis. :D

Bagi yang belum pernah, sesekali cobalah menghabiskan waktu bersama anak-anak. Belajar bahagia tanpa syarat dari mereka.


***
:)

Penggalan-penggalan di atas agaknya terpisah satu sama lain. Tapi dari sana, saya mendapat satu kesatuan pembelajaran yang utuh. Semoga yang membaca dengan pengalamannya pun demikian.

Ini hanya saran. Jika suatu waktu kita mengalami kemandekan, cobalah bersyukur. Ekspresi syukur ada banyak sekali. Ingat-ingat lagi kenikmatan apa saja yang pernah kita alami. Kalau pun kita merasa itu sedikit (meskipun nurani sebenarnya yakin aslinya banyak sekali sampai tidak terhitung), tidak apa. Bersyukur saja, dan bagikan!

Sungguh tidak hanya kebahagiaan yang membawa kita pada syukur, melainkan rasa syukur itulah yang sejatinya membawa kita pada kebahagiaan. :)