Showing posts with label InsanCendekia. Show all posts
Showing posts with label InsanCendekia. Show all posts

Wednesday, October 9, 2019

Tulisan tentang Eyang


Hampir satu bulan Indonesia berduka atas berpulangnya sosok yang seolah tak pernah menua, yang pada dirinya laksana hidup semangat pemuda belas-dua puluh tahunan meski usia fisiknya terbilang sudah delapan puluhan.

Mengingat-ingat saat itu, barangkali adalah salah satu pekan tersendu sebab untuk pertama kalinya merasai kehilangan “public figure” masa kini yang bahkan belum pernah sekalipun bersua. Kemudian ketika membuka catatan, saya menemukan beberapa tulisan tentang beliau; Eyang Habibie.

***
September 13, 2019, 8:11 AM

"Kak," sebut saja Halya, salah satu murid yang kuajar petang itu, memohon izin memotong pembicaraanku di depan kelas.
"Ya?" aku mempersilakan. Suasana kelas masih agak ramai. Kami baru saja masuk lagi usai istirahat shalat.
"Pak Habibie meninggal," lanjutnya.

**

Kabar itu mau tidak mau cukup mendistraksi kelas kami. Masing-masing mulai membuka gawai, memeriksa informasi yang beredar. Terkecuali aku. Memang, kiranya baru saja kemarin kulihat banyak akun-akun di media sosial seolah berlomba mendoakan beliau (setidaknya itu yang tampak pada postingan-postingan mereka). Aku tahu bapak yang aku kagumi itu, yang pernah teramat ingin aku jumpai itu, tengah sakit dan dirawat beberapa waktu belakangan.

"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Beneran?" aku masih belum percaya. Tak kusempatkan membuka gawai. Lebih memilih bertanya pada kelas.

"Beneran apa hoaks?" sahut yang lain.

"Beneran." Jawab Halya mantap.

**

Kenangan-kenangan tentang sesosok inspiratif itu tak bisa dicegah untuk tidak berputar di kepala. Petang itu, kami bersama-sama melangitkan doa untuk Pak Habibie. Kemudian di tengah pikiran yang mulai berlarian kesana-kemari, aku mencoba kembali mengondusifkan kelas—mengondusifkan pikiranku sendiri lebih tepatnya. Tapi yang keluar ternyata malah kalimat seperti ini.

"Kakak jadi sedih,” aku menarik napas sambil berusaha tersenyum tipis, “Bukan apa-apa sih, kakak merasa ada hubungan emosional dengan Pak Habibie," ujarku, tanpa menskenariokan untuk mengeluarkan deret kata semacam itu. Hubungan emosional? hei, siapa kamu? Mereka mendengarkan. Mungkin agak menerka, hubungan emosional seperti apa yang aku maksud.

**

Aku tahu. Jika diperhitungkan, tentu aku bukan apa-apa. Jika mengagumi seseorang adalah sebuah persaingan, barangkali aku ada di barisan nyaris paling belakang di arena tanding. Jangankan menang, barangkali aku tak masuk bahkan jadi cadangan. Maksudku, aku mungkin tak terbaca, tak dikenal, belum pula mampu mengikuti jejak-jejak beliau yang luar biasa. Tapi entah bagaimana aku merasa ada hubungan emosional dengan Pak Habibie. Dan oleh sebab kebermanfaatan beliau yang menjangkau penjuru bumi, aku yakin bukan hanya aku yang sekehilangan ini.

Yah, barangkali salah satu alasan terkuatnya adalah karena Insan Cendekia. Sebab sekolah yang teramat bersejarah dalam hidupku itu tidak lain digagas oleh beliau. Tak jarang pula kami mendengar perkataan yang kurang lebih seperti ini, "Berjuanglah! sebab kalian adalah anak ideologisnya Pak Habibie".

**

Aku tahu. Ada begitu banyak anak bangsa yang mengaku sebagai anak atau cucu ideologis beliau. Memang demikian lah laki-laki yang tak pernah menua jiwanya itu membahasakan kami, anak-anak bangsanya. Beliau mewariskan apa yang disebut-sebut sebagai amal tiada putus: ilmu. Ketulusannya dalam menyampai ilmu, barangkali menjadi alasan terkuat mengapa demikian banyak orang yang merasa punya hubungan emosional dengan beliau.

Aku pernah pada fase begitu ingin menjumpai beliau. Ingin kuucap terima kasih sampai-sampai tak tahu bagaimana cara mengucapkannya. Kucari-cari alamatnya, bermodalkan internet di ruang lab komputer sekolah. Kutanya-tanya kabarnya, pada beberapa guru yang saat itu kuterka barangkali tahu atau barangkali bisa membantu.

Hingga pada suatu hari, aku mendapati diriku menjumpai sosoknya di lantai dua MAN Insan Cendekia Serpong; sekolah yang dicetuskan olehnya 23 tahun lalu, sekaligus sekolah tempatku banyak mempelajari hidup. Ia mengenakan baju safari, tengah istirahat sejenak di ruang bimbingan konsultasi Bu Rini. Ramah sekali. Hanya itu yang aku ingat, sebab yah, sayangnya, aku menjumpai sosoknya hanya dalam mimpi.


 September 13, 2019, 8:18 AM

Rasanya seperti kehilangan satu cita-cita. Rasanya seperti dipaksa memangkas satu harap. Rasanya ingin memrotes diri sendiri, "Mengapa kamu tak berjuang lebih keras hari kemarin?" sebab belum pernah sampai kata itu keluar, bahkan meski hanya lewat tulisan. Belum tercapai cita sederhana mengucapkan terima kasih pada beliau. Belum juga berhasil mempersembahkan apapun bahkan dalam bentuk paling sederhana sekalipun. Sampai pada akhirnya kubaca deret kalimat yang kabarnya merupakan perkataan beliau pada sebuah kesempatan:

“Kalau saya ditanya, Habibie siapa, insinyur, muslim, ataukah Indonesia. Saya jawab bahwa Habibie adalah muslim. Mengapa? Karena kalau saya mati, saya tidak lagi berwarganegara. Kalau saya sampai ke akhirat, yang ditanya bukan kedudukan apalagi kewarganegaraan. Karena itu, saya jawab: saya muslim. Itu bukan emosional, melainkan rasional.”

“Saya percaya pada hari akhir. Saya tidak akan ditanya soal paspor. Jadi, kalau saya jawab demikian, jangan bilang Habibie tidak nasionalis. No..”

Perkataan beliau itulah yang kemudian membuatku sadar bahwa.. hei!, tentu saja masih bisa kulantun doa, masih bisa kuucap terima kasih, melalui-Nya.

**

Terima kasih, Eyang. Maafkan kami yang belum sampai berterima kasih padamu. Bahkan di tengah kesedihan kami, untai nasihatmu juga yang menjadi jalan pembuka harap.

Barangkali mendoakan adalah sebaik-baik cara berterima kasih. Terima kasih, Eyang. Allah, mudahkanlah hisab beliau. Ampuni dosa-dosanya. Berilah ia tempat terbaik di sisi-Mu. Sungguh aku bersaksi insyaaAllah beliau adalah orang baik, dengan kebermanfaatan yang meluas lagi semerbak. Yang tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana berilmu, tapi juga, atas izin-Mu, menjadi jalan banyak orang—salah satunya aku—"menemukan" Engkau. Terima kasih Eyang Habibie. Terima kasih atas Insan Cendekia-mu; tanah berjuta kisah yang berikan banyak sekali pelajaran untuk kami.


15 September 2019

Hari ini ketika melewati salah satu jalan di Kota Bogor, ada yang sedikit berbeda. Jejeran tiang bendera pada kanan-kiri jalan yang biasanya kosong atau paling tidak berisikan bendera-bendera negara, hari itu terisi penuh dengan bendera tanah air Indonesia. Namun ada yang berbeda. Tak sampai pada ujung tiang bendera-bendera itu berkibar, melainkan hanya setengah tiang saja.
Oh ya, rupanya masih berkabung bangsa kita.


19 September 2019

Satu pekan sudah, Pak Habibie berpulang. Dalam masa-masa kemarin, aku begitu merasa kehilangan atas kepulangan beliau. Tidak berlebihan menurutku, jika dikata bahwa kepergian sosok yang menyebut dirinya sebagai Eyang itu menyisakan banyak kehilangan pada hati-hati sesiapa yang mengenalnya. Bukan hanya mereka yang pernah bertatap, tapi bahkan yang belum pernah bersua pun—aku salah satunya—juga merasakan kehilangan.


23 September 2019

Begitulah orang baik. Bahkan kepergiannya mampu mengantarkan banyak orang pada kebaikan-kebaikan. Aku percaya bahwa ketulusan berbicara lebih banyak dari kata-kata. Bahwa ketulusan bersuara lebih lantang dan lebih nyaring dibandingkan suara itu sendiri. InsyaAllah Eyang adalah orang yang tulus berbuat baik. Purna sudah kiprah Eyang di panggung sandiwara dunia ini.
Terima kasih, Eyang. Maafkan kami.

***

Sumber

Kabarnya, generasi terdahulu banyak menerima nasihat semacam ini, “Rajin-rajinlah belajar, supaya pintar seperti Pak Habibie!”. Agaknya kearifan dari beliau di masa tuanya juga bisa menjadi inspirasi dari nasihat hebat, “Jangan pernah berhenti belajar, supaya kalau tua nanti tidak mudah lupa dan tetap bisa berkarya, seperti Pak Habibie!”

Bogor, 9 Oktober 2019
Ketika hujan yang dirindu
tiba kembali sambil merayu.

Monday, November 6, 2017

The Secret Hero

The Secret Hero, begitu biasa kami menjuluki beliau. Bukan tanpa alasan, melainkan karena jika kamu meletakkan memo di atas meja piket pada Gedung G sekolah seperti ini  misalnya, “Assalamu’alaikum Pak.. Kamar 202 Z, pintu kamar mandi rusak. Terima kasih.” maka dapati pintu kamar mandi kamar 202 Z akan kembali normal sepulangnya dari sekolah. Beliau, salah satu guru terbaik kami, Pak Suhali. Ialah the secret hero itu.

Mungkin nyaris setiap anak memiliki kenangan khusus jika mengingat Pak Suhali. Bukan apa-apa, sebab beliau selalu menebar senyum. Pada sesiapa saja yang dijumpai, agaknya Pak Suhali selalu terlihat ceria dan kerap menghibur lawan bicaranya. Bagi saya pribadi, Pak Suhali adalah guru terbaik jika saja rutinitas sekolah tengah membuat bosan (kalau tidak mau dikatakan membuat kepala terasa berat. hhe). Pernah beberapa waktu saya mengecat pinggir jalan trotoar sekolah bersama Pak Suhali. Hiburan luar biasa. Meski bisa ditebak, hasil gores tangan saya jauh lebih berantakan daripada milik beliau.

“Nanti di rapot kamu nilainya nambah loh. Nilai ngecat!” begitu kerap Pak Suhali berujar. Bukan hanya sekali, tapi nyaris setiap bertemu saya, yang diungkit mesti persoalan cat dan rapot. Diam-diam saya sungguhan mengecek rapot. Hha. Kali saja benar ada nilai ngecat.

MAN Insan Cendekia merupakan sekolah berasrama yang menerapkan budaya salam antar civitasnya. Setiap berpapasan di jalan, di manapun, kami akan saling melempar salam. Termasuk kepada para guru, pak satpam, juga para karyawan, salah satunya Pak Suhali.

“Assalamu’alaikum, Pak,” ucap saya sambil membawa kotak eskrim kulit semangka hasil praktik untuk penulisan karya tulis ilmiah.

“Wa’alaikum salam!” jawab beliau bersemangat seperti biasa, “itu apa itu?” tanya Pak Suhali.

“Hehe.. ini es krim kulit semangka, Pak. Bapak mau coba?” saya menawari.

“Es krim kulit semangka?” beliau bertanya lagi. Kemudian, pada bagian ini, saya agak lupa. Namun seingat saya, Pak Suhali lantas mencicpi es krim kulit semangka. Ada beberapa yang tidak ditaruh di dalam kotak es krim, tapi dimasukkan ke dalam plastik. Sejauh yang saya ingat, beliau mencicipi dan mengatakan bahwa es krimnya enak. Sejak saat itu, setiap bertemu, sapaan beliau pada saya bukan lagi soal rapot dan cat. Yap, benar sekali. Melainkan soal es krim kulit semangka.

Saya lulus dari Aliyah pada tahun 2013. Alhamdulillah, pada bulan Januari tahun 2016, saya berkesempatan untuk kembali ke tanah berjuta kisah itu dengan judul agenda magang. Ya, jurusan kuliah saya mengharuskan mahasiswanya untuk menempuh magang, dan qadarullah saya magang di MAN Insan Cendekia.

Suatu ketika, ketika tengah magang, saya menjumpai Pak Suhali. Beliau sedang berjalan di dekat gazebo baru yang lokasinya tidak jauh dari tempat wudhu. Sungguh tidak banyak berubah. Beliau tetap bersemangat tersenyum, semangat menebar salam, dan semangat ketika berbicara.

“Assalamu’alaikum, Pak.”

“Eeeh kamu,” agaknya Pak Suhali mengingat wajah saya tapi tidak tahu siapa nama saya.

“Iya Pak, saya Riris angkatan 16. Yang bikin es krim kulit semangka Pak, hehe” mendengarnya beliau tertawa.

“Iya, iya! es krim kulit semangka ya,” sejenak bernostalgia.

Alhamdulillah. Selama belajar di Insan Cendekia, saya mendapat pemaknaan bahwa semua orang yang kita jumpai dalam hidup sejatinya merupakan guru. Begitu pula bagaimana saya memandang sosok Pak Suhali. Ada banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Bukan hanya karena kenang-kenangan ngecat pinggir trotoar, menyapu jalanan samping gedung CSA, atau tentang es krim kulit semangka. Lebih dari itu, dari beliau saya belajar bagaimana menularkan energi positif pada siapa saja. Level saya masih jauh di bawah beliau, dan saya belajar untuk itu.

Kemarin, Ahad sore tanggal 16 Safar 1439 H (5 November 2017), saya mendapat kabar akan kepulangan bapak penebar senyum itu. Beliau meninggal dunia di RSUD Pasar minggu karena sakit akibat adanya kerusakan jaringan saraf di bagian kanan, yang berakibat luar biasa pada kondisi fisiknya. Mendapatkan kabar tersebut dari salah seorang guru, membuat saya nyaris tidak percaya. Sedih. Mengapa begitu tiba-tiba? saya bahkan tidak tahu-menahu bahwa beliau sakit. Padahal beberapa waktu lalu saya baru saja kembali berkunjung ke Insan Cendekia.

Qadarullah, segala sesuatunya berlangsung begitu cepat. Bahkan berdasarkan informasi, satu hari sebelumnya, beliau masih membantu berbagai kegiatan di area sekolah. Maha Besar Allah pemilik skenario yang menggenggam jiwa hamba-hamba-Nya.

Sayang, belum sempat saya berterima kasih atas segala inspirasi yang diberikan oleh Pak Suhali. Beliau adalah orang yang baik. InsyaaAllah. Semoga amal ibadah Pak Suhali diterima di sisi Allah. Aamiin allahumma aamiiin. Saya menyaksikan sendiri bertapa banyak dari kami yang berbelasungkawa atas kepulangan beliau. Bukan kepergian, melainkan kepulangan. Sebab bukankah pada hakikatnya, meninggal dunia merupakan momentum pulang bagi hamba kepada Rabb-nya? Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun...


Lantas, diri, apa kabar hari ini?

Kapan terakhir kali kamu mempersiapkan diri?

Kapan terakhir kali kamu mengingat akan mati?


Jalan yang pernah saya cat bersama Pak Suhali. Hitam-putih.


Ditulis di Kota Hujan
ketika hujan

pada Senin, 17 Safar 1439 H




Thursday, January 28, 2016

Ada yang Tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Dulu saya tidak pernah berimajinasi akan punya kamar sendiri di gedung G MAN Insan Cendekia Serpong. Lalu Januari 2016, kamar yang biasanya jadi tempat penyimpanan laundry ini pun disulap untuk saya tempati selama kegiatan magang berlangsung.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Saya belum merasa lulus dari MAN Insan Cendekia. Seperti belum ada yang saya lakukan dengan berarti untuk madrasah ini. "Kamu udah mau lulus lagi aja Ky," ujar salah seorang guru, yang saya jawab dengan perkataan jujur, "Iya nih Bu, nggak terasa." Nggak terasa. Sungguhan. Karena saya merasa belum lulus dari tempat ini. Masih ada daftar hutang yang belum saya lunasi untuk Insan Cendekia. Maka jawaban itu bukan basa-basi, melainkan kenyataan yang nyata sebenar-benarnya.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

"Cerita dong, Kak. Pengalaman yang paling berkesan selama di IC?" tanya salah seorang adik ketika kami bincang-bincang usai shalat magrib. Saya diam sambil berfikir keras. Bukan karena tidak menemukan jawaban, tapi karena bingung memilih yang mana dari sekian alternatif pilihan yang ada. Insan Cendekia dengan tega menjadikan setiap momennya terasa berkesan. Jadilah saya menjawab selintas fikir seiring mata yang memandang pohon jambu di depan masjid, "Dulu kakak sama teman-teman suka metik jambu disitu. Temanku manjat malah. Pernah juga makanin asem dari pohon lapangan belakang." Hha, nggak filosofis banget-

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Esensi mata kuliah magang adalah belajar. Benar-benar belajar. Lagi, saya dibuat takjub. Tidak menyangka belajar disini sungguh-sungguh belajar. Hei, dengan duduk di dalam kantor wakamad Asrama saja, saya belajar tentang teorinya Al-Ghazali, teori Maslow, perbandingan keduanya, psikologi terapan, intervensi sosial, fikir kritis tentang dunia psikologi, generasi XYZ, sampai perkembangan pendidikan di Indonesia. Oke, obrolan ustadz-ustadzah saya membuat anak didiknya ini diam-diam sambil rekap data pun ikut belajar. :')

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

"Waah, ada ya Kak, jurusan itu?" salah satu adik mengomentari IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) yang tidak lain adalah mayor kuliah saya. Iya, Dik. Ada. Maka lihatlah dunia dengan luas. Kalian boleh saja tinggal di kampus MAN Insan Cendekia dalam kehidupan sehari-hari. Menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan ini, berkutat dengan rutinitas harian yang boleh jadi kadang membuat kalian bosan. Tapi fikir kalian sungguh harus mendunia-mengakhirat. Eh, ngomong apa saya-- tapi itulah kenyataannya. Insan Cendekia yang boarding school ini justru menjadi sarana pengglobalan fikir yang luar biasa bagi saya. Saya yakin, bagi mereka pun demikian.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Usai shalat magrib berjamaah, lantas semuanya doa bersama. Mendoakan kesuksesan serta keberkahan acara-acara OSIS, mendoakan kemudahan menuntut ilmu, mendoakan teman-teman yang akan mengikuti lomba, mendoakan para mujahid dari berbagai penjuru, mendoakan sanak kerabat yang berpulang. Saya ingat beberapa tahun yang lalu, kami melakukan hal yang sama di masjid Ulil Albab. Ada yang istimewa disini. Ada pembelajaran luar biasa, tentang penyertaan Allah dalam segala aspek kehidupan. Saya semakin sadar bahwa tempat ini sedikit-banyak mengajarkan saya akan konsep tauhid tersebut. Kontinyu, terus-menerus, hingga membentuk pola kebiasaan; habits.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Ada yang tertinggal di MAN Insan Cendekia. Bukan sepotong hati seperti yang Tere Liye bilang bahwa ia hilang. Ialah kenang-raut-semburat-udara-pesan-makna-doa-langit. Ialah atmosfer jihad menuntut ilmu, niat yang lurus, penjagaan diri yang kokoh. Ialah ketulusan ayah-bunda; semerbak kemewahan yang sungguh amat sederhana.

Ada. Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Bawa kembali keyakinan utuhmu,
bawa kembali kebulatan tekad serta azzam milikmu yang tidak pernah mati.

QUM!

Foto oleh Naufi Ulumun Nafi'ah

Monday, December 21, 2015

Bunga Matahari di Serambi Rumahku

Pada suatu hari, di suatu tempat

Kautinggalkan setangkai bunga matahari, di serambi rumahku
Bunga itu telah kausiapkan sejak lama,
bukan untuk diriku saja, tapi juga untuk yang lainnya
Tapi kau, dengan elok mengemas ia yang sederhana jadi begitu istimewa
Membuat siapa saja yang berjumpa bunga mataharimu, lantas merasa bahagia
Kemudian menjatuhkan cinta yang paling tulus sedunia-

Begitu juga dengan aku, begitu juga dengan serambi rumahku
Ia telah lama hanya bersuara, namun geraknya tiada
Hingga kau dan bunga mataharimu datang mengetuk pintu, lantas menyapa
Membuatku tertarik untuk mencoba -tidak peduli ini kali keberapa
Maka terimakasih untuk bunga matahari yang kau titipkan pada serambi ini
Meski tanpa suara, meski mungkin kau tidak menyadari

Pada suatu hari yang telah lalu, kau sering sekali bercerita
Tentang apapun
Tentang apa yang ada di dunia dan apa yang nyata dalam kehidupan
Tentang apa-apa yang indah dan tak indah -dari dirinya
Juga tentang aneka macam pelajaran dan semerbak himah,
yang menjadikan mataku terbuka dan pikirku tercerah

Kau
Kau bererita di balik pintumu.
Dengan caramu, dengan gayamu, dengan bahasamu

Kau bercerita dengan keterbukaanmu
Kapan saja aku singgah
Kapan saja kami mengetuk dan menyapa
Entah sebentar atau untuk waktu yang lama
Kau sabar, mendengarkan, dan sesekali tertawa
Kau menyampaikan
Kau mengajarkan
Kau meramaikan

Kau, dan bunga mataharimu
adalah guru.

Kautinggalkan setangkai bunga matahari, di serambi rumahku
Bunga itu telah kausiapkan sejak lama,
bukan untuk diriku saja, tapi juga untuk yang lainnya
Pada suatu hari nanti, entah kapan
Izinkan aku kembali menjumpaimu
Izinkan kami kembali datang menghampirimu
Kala itu biar giliran kami meninggalkan sebatang bunga,
di serambi rumahmu

Pintumu mungkin berpindah
Tapi aku tahu, ia akan selalu terbuka
Masih dengan sederhananya- masih dengan sahajanya

Aku tahu :')


Untuk seorang pendidik,
dari seorang terdidik yang berterimakasih.

Terinspirasi dari sini

Friday, May 1, 2015

Masa Lalu (Kita)

Setelah sekian lama mencari-cari video ini di youtube, justru menemukannya ketika tidak sedang mencarinya. Pertama kali saya menyaksikan video ini adalah ketika duduk di bangku kelas XI di MAN Insan Cendekia Serpong, mata pelajaran Biologi. Saat itu kami berada di ruang laboratorium. Banyak dari kami yang menangis. Terlebih mengingat euforia kami yang notabene anak rantauan. Sayang, saat itu saya tida membawa flash drive dan semacamnya untuk mengkopi data.


Kembali saya menyaksikan video ini, ketika berada di kelas mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Lagi, tidak sedikit dari kami yang meneteskan airmata mengingat ibunda masing-masing. Saya kembali mencari-cari di internet dengan berbagai kata kunci, namun tidak juga menemukannya.


Hingga beberapa hari lalu, tanpa ada unsur kesengajaan, saya menemukan video ini ketika sedang mencari video motivasi untuk mengisi karantina di MTsN 32 Jakarta. Namun sayang, tidak sempat ditayangkan karena keterbatasan waktu yang ada. Jadi izinkan saya berbagi disini. :)

Sebuah gambaran sederhana tentang masa lalu kita semua.



Monday, January 19, 2015

Cukup Yakinkah Kita?

"Aku gak pede ka, daftar FK. Tapi aku mau.. Aku yakin. Tapi kadang juga takut apa yakinku itu benar atau nggak.." ujar adik kelasku itu sambil bercucuran air mata. Kupandangi matanya lamat-lamat, kutepuk-tepuk bahunya.
"Kenapa takut? yakinmu karena Allah bukan?" ia tidak menjawab. "Kamu tahu cerita Kak Itta nggak?"
"Kak Itta? yang ke Mesir itu ya kak? yang dia sakit terus berenti kuliah habis itu lanjut ke Mesir."
"Yap. Kamu tahu, kalau dia juga mau masuk FK?"
"Memangnya iya?"
"Iya, dulu dia daftar FK." adik kelasku itu diam tidak berkomentar. Aku melanjutkan, "Tahu nggak, Kak Itta daftar FK di berapa universitas?" kemudian ia geleng-geleng kepala. Tanda tidak tahu.
"Itta daftar FK di tiga universitas di Indonesia. Enam kali ujian, dan kesemuanya ditolak. Bahkan satu universitas menolaknya dua kali." ucapku sambil tersenyum tipis. Ia membelalakkan matanya. Bukan cuma dia, tapi juga kawan di sebelahnya.
"Iya kak??" tanyanya dengan pipi yang masih basah.
"Iya. Dan Kak Itta tidak putus asa. Dia tahu ada rencana Allah dibalik itu semua. Dalam setiap perjuangan, yang terpenting adalah yakin. Yakin kalau Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya. Yang utama bagi seorang muslim adalah niat yang dilanjutkan dengan porses ikhtiar. Soal hasil, serahkan pada Allah." Kemudian ia mengangguk-angguk. Mulai menyeka air matanya.

Maka yang paling penting sebenarnya, bukan yakin akan meraih apa yang kita inginkan. Melainkan yang paling penting, ialah yakin bahwa Allah akan memberikan yang terbaik, ketika kita telah mengusahakan yang terbaik pula. Jika ini yang jadi pilihan, tentu tidak akan ada lagi was-was di hati. Tidak ada lagi salah orientasi. Bisa atau tidak? jawabnya adalah bisa; ketika kita bertawakkal pada Yang Maha Kuasa.

Salah satu hikmah dari percakapan bersama para inspirator muda di tanah juang Insan Cendekia. Selesai hampir tengah malam. Menyaksikan tiga orang adikku meneteskan airmata. Menyaksikan yang lain menghampiri mohon didoakan, lengkap dengan identitas dan daftar mimpi mereka. Aku tersenyum. Kemudian menertawai diri sendiri.

Maha Besar Allah yang selalu memberikan jawaban indah dalam setiap tanya dan keragu-raguan.
Selalu ada jalan untuk berbagi kebermanfaatan.

Tuesday, November 18, 2014

Ayah-Bunda Insan Cendekia

Kali ini biarkan saya menulis edisi #haltekehidupan, terdedikasi untuk ayah-bunda luar biasa di tanah berjuta kisah, Insan Cendekia. Malam ini saya baru saja menyaksikan cuplikan-cuplikan performa adik-adik di salah satu stasiun televisi; mengikuti sebuah ajang olimpiade. Ini memang kali pertama saya berhasil streaming setelah minggu-minggu sebelumnya gagal. Alhamdulillah. Seperti alumni kebanyakan, saya pun jadi ikut-ikutan melambung pada beberapa bulan lalu. Pada dua-tiga tahun lalu, ketika kaki-kaki saya masih intens menapaki tanahnya. Ketika langkah saya masih secara rutin terekam pada setiap pagi-sore-petang ranahnya. Ketika tatap saya masih kerap menyapa langitnya. Nostalgia. Dan salah satu cara terbaik mengekspresikan nostalgia adalah melalui tulisan.

Beberapa waktu belakangan saya tengah dalam masa jenuh. Merindukan sense of jihad, merindukan ustadz-ustadzah pembakar semangat, merindukan keajaiban kawan-kawan seperjuangan, merindukan civitas luar biasa yang saling menbar senyum-salam sapa. Dan akhir-akhir ini pula, rekaman dalam memori saya me-rewind masa putih abu-abu saya. Masa tiga tahun yang jika mereka bilang masa paling indah adalah masa SMA, maka saya fikir statement itu tidak terlalu keliru.

Satu tahun lebih setelah berlabel alumni, dan tanpa saya sadari sebelumnya, diam-diam saya merindukan suasana pagi Insan Cendekia. Merindukan sapaan hangat pak Suhali tiap pagi tentang es krim kulit semangka atau janji beliau yang hendak memberi saya nilai tambah di rapor lantaran saya ikut-ikutan mengecat tepi jalanan. Merindukan senyum Emak di kantin tiap saya mengucap salam untuk disendoki makanan. Saya juga merindukan Teh Euis, Teh Ratna. Saya masih ingat betul bagaimana untuk pertama kalinya saya pergi reguler dibonceng Teh Ratna, lalu kami makan es krim bersama.

Hei, tiba-tiba informasi yang terpanggil begitu banyak dan saya jadi bingung menuliskan darimana. Tahu-tahu setiap sudut tanah itu tergambar jelas di kepala.

Salah satu yang sungguh membekas dalam kepala saya adalah tentang guru-guru, tentang ustadz-ustadzah, tentang para pendidik yang kaya dan mengkayakan. Kaya semangat, kaya motivasi, kaya akan inspirasi. Saya ingat Bu Dini. Masa-masa di Pekan Ta’aruf Siswa, beliau mengatakan pada kami di Audio Visual Room, “Allah itu dekat, Nak.” Lalu kami diminta menepuk-nepuk posisi jantung. Melafadzkan asma-Nya. Air mata kami tumpah. Dan jujur saja, sampai saat ini saya sering melakukan hal itu. Ketika saya di ambang lupa, bahwa Allah itu sungguh dekat.

Ada perkataan dari seorang guru Biologi, Bu Etty namanya, yang sampai kini saya ingat dan saya bawa kemana-mana: “Kalian ada disini, bukannya kebetulan. Tangan Allah yang langsung menempatkan kalian disini. Bukan karena kalian pintar atau apa,” mungkin ini adalah bagian dari awal saya memiliki keyakinan penuh bahwa kausalitas itu nyata. Bahwa Allah selalu memiliki cara spesial untuk masing-masing hamba-Nya.

Tiba-tiba saya jadi ingat percakapan saya dengan Asma (anak perempuan syaikh). Percakapan yang tidak jelas arahnya, karena bahasa ibu kami berbeda. Tapi namanya anak kecil, ia akan menganggap saya mengerti sepenuhnya apa yang ia katakan. Sore itu saya tengah duduk di depan asrama guru, lalu bocah kecil itu datang dan tahu-tahu duduk di samping saya. Dia mengatakan beberapa hal –dengan bahasa arab, tentu saja- yang kira-kira begini:

“Lihat langitnya!” matanya berbinar, lantas menunjuk langit

“Ya?”

“Aku suka langitnya, cantiik sekali. Ya kan?”

Lalu saya speechless. Rasanya ingin bilang banyak hal, tapi miris memang, anak ini tidak mengerti bahasa Indonesia. Dan saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan isi kepala saya dengan Bahasa Arab.

"Iya, aku juga. Kenapa Asma suka langitnya?" Jawab saya sambil nyengir mengingat Bahasa Arab saya yang acak-acakan. Namun Asma terlihat tidak terlalu peduli dengan saya yang tidak banyak bicara. Kemudian dia meneruskan kata-katanya, banyak. Berkalimat-kalimat, dan sesungguhnya saya tidak mengerti. Tapi saya rasa dia membicarakan hal yang menyenangkan. Matanya berbinar. :)

Memandang langit di ranah ini memang selalu saja mengasyikkan. Apalagi jika subuh pagi bulan masih bertengger di singgasananya. Jarak bangunan yang berjauhan, jalanan lebar, menjadi fasilitas pendukung bagi siapa-siapa yang mau menikmati jamuan langit di Insan Cendekia.

Langit sore itu juga, yang menjadi salah satu penghibur kami. Di koridor depan ruang guru. Masa-masa remedial yang mungkin saat itu rasanya agak menyedihkan, memang. Tapi masa-masa itulah yang mengajarkan saya tentang makna berjuang. Tentang esensi kejujuran. Yang juga saya rindukan adalah ujian di Insan Cendekia. Didikan ustadz-ustadzah, agar kami memahami esensi pengawasan. Bahwa yang Maha Mengawasi adalah Allah. Maka tidak heran, jika masa ujian cukuplah para insan itu duduk manis, mengerjakan dengan baik. Hening. Ketika mendapati ujian yang sulit, diam-diam saling menerka dalam hati, “Ini cuma saya doang yang merasa susah, apa emang susah beneran?” dan barulah ramai itu pecah ketika waktu ujian usai. Barulah saling tanya-menanya perihal jawaban. Tanpa ada pengawas ujian. Toh meski kadang kita lupa kehadiran mereka, pengawas kanan-kiri selalu siap sedia mencatat setiap amal kebaikan dan pelanggaran yang dilakukan. Bukan begitu?

Kalau ditanya apa cita-cita saya, saya akan menjawab ingin menjadi seorang guru, seorang pendidik. Tidak bisa dipungkiri, lingkungan menjadi salah satu motivasi saya. Sejak kecil saya biasa berhadapan dengan para guru; sebut saja kedua orangtua saya (yang membicarakan keduanya bukan perihal mudah sebab teramat istimewa..). Inspirator-inspirator ulung yang sedikit-banyak mempengaruhi pola fikir saya pun adalah guru. Meski secara luas, semua orang adalah guru, alam raya adalah sekolahnya (Semua orang itu guru, alam raya sekolahku –Pontoh- tertulis di koridor lantai dua gedung pendidikan Insan Cendekia).  Sayang, rasanya menyebutkan satu per satu ustadz-ustadzah, guru-guru terbaik saya, tidak mudah diungkapkan dalam satu waktu. Karena begitu menyebutkan satu nama, maka bukan hanya nama yang akan saya kabarkan, melainkan bagaimana kesan saya, kisah saya, persepsi saya terhadap beliau. Dan itu membutuhkan halaman yang (sangat) panjang.

Adalah salah seorang ustadzah saya, Bu Evi namanya. Sebagai guru asuh, Bu Evi suatu ketika memanggil saya pada tahun pertama. Kami berbincang-bincang. Dan bagian ini selalu saya ingat. Bahkan tidak dapat dipungkiri, mengambil peranan besar dalam perjalanan hidup saya hingga kini. Pemahaman akan esensi kesuksesan. Bahwa menjadi bagian dari kesuksesan sesseorang meski presentasenya hanya nol koma sekian persen, adalah sebuah kebahagiaan dan kesuksesan tersendiri. Beliau mengajarkan saya tentang makna keihkhlasan dan pentingnya berbuat baik sekecil apapun. Bahkan untuk sekadar mendengarkan cerita orang lain. Karena kita tidak pernah tahu perbuatan apa yang akan menjadi tiket kita menuju syurga. In syaAllah.

Lagi, saya ingat perkataan Bunda Iffat, ketika kami studi banding ke Bandung dan mengunjungi ITB pada tahun kedua. Saat itu kami berkeliaran dengan bebas. Maklum, anak asrama yang kesehariannya berada di penjara yang membebaskan. Saat itu beliau membawa beberapa barang bawaan, saya sempat menawari bantuan. Lantas beliau berkata, “Gak usah, seneng-senenglah kalian. Ibu mah senang lihat kalian senang begini.” Beliau melanjutkan, “Ya namanya guru senang kan kalau liat murid-muridnya senang.” Mungkin redaksinya berbeda, tapi kurang lebih maknanya demikian.

Ustadz Away Baidhowy pernah membicarakan tentang halte. Halte-halte kehidupan, dan Insan Cendekia adalah salah satunya. Hebatnya, bapak-ibu guru kami, ustadz-ustadzah kami, tetap disana. Tetap melakukan pengabdian. Jika kami pernah mengaku bosan menjalani rutinitas yang ‘begitu-begitu’ saja, apakah beliau-beliau merasakan demikian, menghadapi para peserta didiknya? Lantas adakah yang lebih mulia dari pengabdian di jalan kebaikan yang telah menjadi rutinitas?

Ah, ingin sekali mengungkapkan banyak terimakasih. Kepada ayah-bunda yang tidak bisa ananda sebutkan satu persatu. Terimakasih karena telah mengajarkan kami tentang nilai-nilai kehidupan. Mengajarkan pada kami tentang kreativitas, tentang makna seyuman, tentang kehangatan. Terimakasih telah mengajarkan kami bahwa ketegasan dan kejujuran adalah salah satu ekspresi cinta.

Mohon doa agar ilmu yang telah terbagikan ini mampu menjadi pemberat amal, mampu bermanfaaat bagi sesama dan semesta. Semoga ayah-bunda, ustadz-ustadzah, diberikan kemudahan, selalu dalam dekap hangat Allah Subhanahu Ta'ala. Aamiin. Salam sejuta sayang dan rindu dari kami, anak didikmu. 

Ditulis di Kota Hujan, pada 27 Muharram 1436H





Friday, July 4, 2014

Untuk Adik Kecil

Untuk adik kecil,
yang baru saja merasakan atmosfer bumi
yang belum lama merasakan genggaman jemari.
Mungkin tidak hari ini,
Tapi akan ada masanya,
ketika dirimu mampu mengeja kata,
masa dimana Kau mampu menelaah makna.
Maka tunggulah sampai saat itu tiba,

**

Sekian tahun yang lalu, ketika tanah itu masih terlihat lapang, ketika kota kelahiranmu belum sepadat sekarang, aku melihatnya sebagai seorang perempuan muda yang bersemangat. Menggenggam banyak mimpi, memiliki antusiasme tersendiri. Garis mukanya menunjukkan betapa ia memiliki keyakinan akan pilihan hidupnya. Hari itu ia terlihat cantik dengan busana violet-nya. Menambah semarak keceriannya yang berpadu dengan sebuah ketegasan. Dan Kau perlu tahu, Adik Kecil, perempuan muda itu adalah ibundamu.

**

VIOLETTERISM
Tentang Tapak Jejak Menuju Muara

Perjalanan itu terasa begitu melelahkan. Bagaimana tidak, kisah yang tertulis ini bukan cuma berbilang satu-dua tahun. Jemarinya sudah menulis kisah selama bertahun-tahun. Sedari dulu. Sejak harapan masih tinggi melambung, hingga harapan berada pada titik terendah yang justeru mengantarkannya pada puncak kedekatan dengan sang Ilahi. Ia hidup dengan segala dedikasi dan penuh mimpi. Satu per satu ia gapai, namun rupanya Tuhan hendak memberikan sebuah ujian tanda cinta pada hamba-Nya. Ia menempuh sebuah perjalanan panjang yang tak pernah terfikir sebelumnya. Ya, sebuah perjalanan panjang, dalam penantian.

Bagi sebagian orang, menanti adalah pekerjaan membosankan. Melelahkan. Tapi tidak dengan wanita itu. Kalau ada buku kumpulan cinta terindah di dunia, maka kisah ibundamu sungguh layak ikut serta, Adik Kecil. Berbahagialah karena Kau lahir dari rahim seorang wanita luar biasa. Ia menempuh perjalanan panjang. Meyakinkan diri bahwa sungguh tiada ikhtiar yang luput dari pandangan Sang Pencipta. Dua puluh delapan kali menerka sosok yang ternyata bukan jawaban; percayalah, hanya keyakinan yang kuat yang mampu mengantarkannya hingga titik ini. Ketika Kau hadir, menambah semarak indah kehidupannya; menjadi jawaban atas kesabarannya. Ya, sebelum menikah dengan papamu, perjalanan bundamu sungguh bukan sembarang perjalanan. Dan menanti kehadiranmu adalah momen mendebarkan bagi dirinya, Adik Kecil.

Kau pernah mendengar kisah Fathimah? Bagaimana puteri Rasulullah ini menjaga hatinya sedemikian rupa. Bagaimana ia menjaga perasaan naluriah yang hadir dalam dadanya, hingga tiada seorang pun tahu. Bagaimana Fathimah menjadi mempelai Ali melalui titah langsung Sang Ilahi Rabbi. Menjaga hati bukanlah perihal mudah, Kau perlu tahu itu. Dan tanyakan kepada ibumu tentang bagaimana caranya. Tak serupa kisah Fathimah, ibumu memiliki kisahnya sendiri. Berkali-kali proses ta’aruf; perkenalan itu berakhir begitu saja. Harapan indah berujung ucapan akad tak kunjung tiba. Tapi ibumu tetap tegar, Dik. Ia paham betul bahwa sedih dan kecewa adalah rasa yang dimiliki setiap insan. Tapi apa lantas itu menjadi sebuah alasan baginya untuk berlarut-larut? Nyatanya ia tetap tegar. Tetap melangkah. Tetap melanjutkan perjalanan. Bukan karena siapa, bukan karena apa-apa. Kukabarkan sekali lagi, itu karena keyakinannya yang luar biasa pada Sang Pencipta.

Proses itu dimulai sejak sepuluh tahun silam. Ketika belum bundamu tapaki tanah tempat perjumpaannya dengan papamu. Setiap proses memiliki kisahnya tersendiri, memiliki hikmahnya tersendiri. Rentetan peristiwa yang diberikan oleh Sang Maha Mengatur, disadari ataupun tidak, membentuk ibundamu menjadi sosok yang lebih kuat. Menjadi pribadi yang diam-diam memberi hikmah; menginspirasi.

Pada proses perdana, rupanya Tuhan hendak mengabarkan kepada ibundamu bahwa sungguh; membangun rumah tangga adalah soal menuju cinta-Nya bersama. Maka yang pertama berakhir dengan alasan ketidak-samaan pemikiran; perbedaan cara dalam mencintai-Nya. Pun yang kedua, sebuah episode yang begitu singkat. Berganti tahun memang, namun hanya terbilang beberapa hari. Yang ketiga tidak serumit diskusi-komunikasi dengan yang pertama, pun tidak secepat durasi yang kedua. Ini tentang bagaimana mempertimbangkan sebuah keputusan besar. Kau bisa membayangkan, ketika Kau berada dalam dua pilihan. Yang satu adalah impian besarmu, sementara yang lain adalah harapan yang hadir untuk mewujudkan mimpi yang lain. Pada akhirnya, pilihan adalah pilihan. Dan upaya manusia adalah upaya semata. Sementara hasil? Itu sepenuhnya hak Tuhan. Nyatanya ibumu tak meraih keduanya. Tidak mimpi besar untuk terbang menyebrangi pulau, tak pula harapan itu. Tapi sungguh, yang Tuhan berikan lebih daripada sekadar keinginan hamba-Nya.

Kalau memang berjodoh, maka selalu ada jalannya. Itu adalah nasihat lama yang mashyur hingga saat ini. Maka kalau memang tak berjodoh pun selalu ada jalannya. Seperti upaya bundamu dalam proses berikutnya, tak hanya mencoba sekali. Menerka; mungkin inilah saatnya berlabuh. Tapi ketika memang bukan jalannya, selalu saja ada persimpangan yang muncul. Berbentur jarak, menabrak jadwal, berpacu dengan waktu. Bahkan ada bagian yang memunculkan memori masa lalu.

Wanita itu, ibundamu, merupakan sosok yang begitu menjunjung sebuah ikatan persaudaraan. Ia menghargai setiap relasi yang ada. Jadi bisa kukatakan bahwa proses ini adalah salah satu yang terberat untuknya; ketika ia harus menggadaikan relasi pertemanan yang telah dibangun sekian lama. Sepuluh tahun berkawan dan proses ta’aruf itu sempat memutus komunikasi untuk sekian lama. Menghadapi kenyataan bahwa satu per satu kawan melepas kesendiriannya, menghadirkan fikir tersendiri dalam benak ibundamu. Dik, ia beristikharah sebelum akhirnya memutuskan untuk menjalani proses ta’aruf dengan kawannya itu. Dengan sosok yang sungguh ia anggap sebagai teman baik. Dan berakhir. Lagi-lagi, bukan jalannya. Menyayat ketika bundamu mendapati tiada undangan ditujukan kepadanya saat kawannya sendiri tengah melangsungkan pernikahan. Tidak diundang, dan tanpa alasan. Tapi sungguh, Tuhan selalu punya rencana. Selalu ada alasan dibalik itu semua.

Bagi sebagian orang, menanti adalah kegiatan menjenuhkan. Menunggu. Tapi bagi bundamu, menanti adalah saatnya bebenah diri. Menanti adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Menanti adalah sejarah momentum romantis antara dirinya dengan Sang Kuasa. Menanti, bagi bundamu, terbayar lunas pada hari itu. Menanti, bagi bundamu, terbayar lunas dalam indahnya penantian akan hadirnya dirimu, Dik.

Muhammad Zahid Al-Zayyan. Sebuah do’a luar biasa yang disematkan kepadamu. Sarat makna. Muhammad, nama junjungan kita, nama Rasul penutup akhir zaman; ‘orang yang terpuji’. Sedang Zahid adalah cerminan Bunda-Papamu yang berharap akan dirimu, agar menjadikan dunia cukup di genggaman tangan dan tidak memperbudak hati. Al-Zayyan; indah, bercahaya, hiasan. Penuh harapan. Zayyan; Kau tahu selain merupakan kata dalam bahasa arab, ia miliki sebuah makna ‘terselubung’? aku takkan mengabarkan padamu soal itu. Bunda-papamu tentu lebih berhak. Hanya saja, Dik. Kau harus tahu kisah sederhana ini. Bagaimana sebuah perjalanan panjang menemukan muaranya. Tentang bagaimana sebuah muara menemukan hulunya.

**

Siang menjelang sore, aku melihat bundamu tengah duduk menatap laut dari pinggir pulau. Kutengok teman-temanku sejenak. Mereka sedang asyik berfoto ria. Mengabadikan momen berharga di tahun terakhir kami. Hari itu kami berkunjung ke kepulauan seribu; sebuah ajang refreshing bagi para penikmat ujian di penghujung tahun ajaran. Aku berjalan perlahan menghampiri bundamu. Menyapanya seperti biasa. Lantas duduk di sampingnya, ikut menikmati nostalgia bersama laut. Kamu akan merasakannya suatu saat, Dik. Sensasi ketika partikel angin laut menerpa wajahmu yang begitu mengasyikkan. Semoga saja manusia tidak terlalu tega untuk menghilangkan fenomena itu.

Aku tidak ingat betul bagaimana perbincanganku dengan bundamu bermula. Berbincang kesana-kemari, seperti biasa. Cerita tentang salah satu guru kami yang akan pindah dari kawah candra dimuka. Cerita tentang momen perpisahan guru-guru kami, yang bundamu bilang sungguh mengharukan. Bagaimana tidak, bertahun ukhuwah itu dibangun di atas keyakinan akan cita dan harapan untuk kebaikan masa depan. Dan tidak lama lagi mungkin akan berpisah raga oleh jarak. Adalah wajar adanya, ketika kesedihan bertengger di hati masing-masing insan. Aku pun tengah merasakan hal yang sama saat itu. Aku tahu, tak lama lagi akan meninggalkan tanah berjuta kisah itu. Aku tidak ingat betul, Dik. Tapi perbincangan kami tahu-tahu sampai pada bagian ketika bundamu berkisah tentang harapannya yang belum lagi menemukan muara. Kali ini tentang perbedaan kepentingan, pun terbatas pada wilayah. Jika bundamu berlabuh disana, ia diharuskan pergi jauh dari pulau jawa. Itu berarti harus meninggalkan sanak saudara. Terpisah jarak.

Aku mendengarkan dengan seksama. Meski sesekali suara bundamu berbaur dengan isak tawa dari belakang, dengan semilir angin yang berhembus pelan. Tidak banyak aku berkomentar. Hanya anggukan-anggukan. Atau gumaman seadanya. Agak suprised sebenarnya.  Karena tahu-tahu bundamu menceritaka hal demikian padaku. Bagian hebatnya, pada siang menjelang sore itu, aku tidak membaca ada garis-garis sedih atau apapun dari bundamu. Justru aura ketenangan, santai, dan apa adanya. Meski sesekali terlihat kaku memilih kata. Tapi harus kuakui, perbincangan siang-menjelang sore itu adalah yang menjadi favoritku selama aku mengenal bundamu. Terlepas dari isi percakapan kami, rasanya latar tempat sangat mendukung. Itu yang kukira menjadi alas an mengapa bundamu berbicara tanpa beban. Lepas. Tapi ternyata tidak, Dik. Sepertinya aku salah besar.

**

Dan tibalah pagi bersejarah itu. Pagi itu, aku bersama puluhan siswi lainnya berbaris seperti biasa. Membentuk banjar-banjar. Suasana pagi kerap menjadi saksi aneka macam ekspresi wajah kami. Menjadi wartawan sejati aktivitas awal hari kami. Ah ya, dulu aku menjadi salah satu yang senang sekali minta tolong pada bundamu untuk dibelikan sesuatu. Sepertii jeruk nipis, misalnya. Obat andalan ketika edisi suara habis tengah melandaku. Oke, Dik, kembali ke pagi bersejarah itu. Pagi itu, seperti biasa, bundamu bericara di depan kami. Awalnya kufikir hanya opening day yang memang biasa beliau lakukan. Entah pengumuman kecil, entah memberi motivasi. Tapi rupanya ada yang berbeda. Pagi itu, aku –dan puluhan siswi lainnya- dibuat kaget oleh deklarasi bundamu yang menyatakan akan menikah. Bundamu akan menikah. Siapa yang tidak berbahagia atas kabar luar biasa itu? Dan lebih tepatnya, siapa yang tidak dibuat kaget? Aku ingat sekali, banyak yang menangis terharu, termasuk aku. Selintas aku ingat perbincanganku dengan bundamu beberapa saat sebelumnya, di tepi pulau menghadap laut.

Dan yang tidak kusangka-sangka sebelumnya, adalah bagian ini. Ketika tangis haru itu seketika bermetamorfosa menjadi teriakan-teriakan kecil. Ada juga yang mencapai tingkat histeris. Adalah ketika salah satu di antara kami membacakan, siapa gerangan calon abi kami? Siapa yang akhirnya memenangkan harapan bundamu itu? Dan entah bagaimana, nama ini yang keluar, Dik.

Muhammad Zainuri

Tanpa ba-bi-bu, bundamu langsung dikelilingi belasan-mungkin puluhan siswi. Memeluk. Menangis terharu. Memaki lembut; bukan marah, melainkan semacam geregetan. Aku sempat terdiam. Kaget. Bersyukur. Jadi, obrolan di tepi laut itu apa maksudnya, Bu? Batinku dalam hati. Gemas. Tapi di atas itu semua, hari itu sungguh membahagiakan. Dan hebatnya, memang dasar bundamu itu. Ia bahkan sudah menyiapkan skenario, menyediakan kamera untuk kami. Kehedonan pagi itu terdokumentasikan dengan baik sekali.

Apa yang salah dengan Muhammad Zainuri? Tidak, bukan namanya yang kami permasalahkan. Lagipula kau juga pasti tahu, itu nama papamu, kan? Hhe J Dik, biar kuberitahu. Papamu adalah guru bahasa arab kami. Ya, bundamu juga guru bahasa arab kami. Mengetahui bundamu, orang yang kami sayangi, akan menuju bahtera yang telah lama ia rindukan –terlebih dengan orang yang juga kami kenal dan kami sayangi- sungguh merupakan kebahagiaan yang teramat istimewa.

Berita tentang bunda-papamu sukses menjadi trending topic pada hari itu. Mengalahkan topik-topik hebat lainnya. Tentang kegiatan OSIS, tentang penyambutan UN, tentang block test, tentang apapun, topic-topik itu pergi ke laut untuk sejenak. Tidak, bukan hanya ke laut, tapi tenggelam jauh sampai ke dasar. Kami menjadi orang norak sejak pagi, yang diam-diam menyembunyikan undangan pernikahan berwarna ungu di bawah meja. Lantas semakin norak ketika undangan bertuliskan bunda-papamu itu legal untuk disebar-luaskan. Lebih-lebih ketika berpapasan dengan papamu. Tiada henti mungkin, kami menggoda beliau dengan sebuah kata sederhana: ‘cie Bapak…’. Dan papamu hanya membalas dengan deret giginya. Tersenyum bahagia. Tapi kau cukup tahu, Dik, kenorakan kami adaah ekspresi nyata tentang harap dan cinta yang kami rasa.

**

Bundamu mondar-mandir. Agak bingung dengan berita yang baru saja ia dengar. Ternyata pemuda itu bukan temannya, bukan kerabatnya, bukan guru di wilayah Jakarta seperti yang ia bilang. Melainkan pemuda itu adalah dirinya sendiri. Benar lah kata Bu Dini –karib bundamu- beberapa waktu lalu. Rupanya rencana perjodohan itu adalah ‘modus’ belaka. (maaf pak Zain, hhe)

Di tengah padatnya rutinitas, bundamu mencoba untuk berfikir jernih. Menyerahkan segala sesuatunya kepada Sang Esa. Ajaib, alam terasa begitu merestui. Tidak seperti proses-proses sebelumnya, yang seringkali ibumu lah yang kerap bertindak aktif, mengikhtiarkan kepastian, kali ini semuanya terasa begitu mengalir. Ibarat proses replikasi DNA, tidak ada fragmen okazaki yang harus diberdayakan. Tidak ada aral melintang yang berarti di tengah jalan. Lancar. Bundamu, berada pada titik kepasrahan utuh. Tidak mengiyakan, tidak pula menolak. Bersandarkan keputusan orang tua seutuhnya. Toh ridha Allah ada pada ridha orangtua. Jika selama ini banyak proses yang tidak berlabuh karena tiada izin dari orangtua, maka biar kali ini bundamu menyerahkan seutuhnya. Hatinya sudah terlalu lelah untuk meminta. Sudah terlalu takut untuk menaruh harap. Meski tiada bisa dipungkiri, secercah harapan itu pasti ada.

Seumur-umur, wanita pecinta ungu itu, bundamu, tidak pernah membayangkan kejadian itu. Ketika yang menghampiri kedua orangtuanya adalah kerabat kerjanya sendiri. Yang biasa bertemu di ruang kantor, yang bahkan pada awalnya dianggap junior oleh bundamu karena tergolong guru baru di kawah candra dimuka itu. Sukses sudah wajah bundamu bertemankan bantal. Seutuhnya memasrahkan diri. Duduk. Tidak banyak berkata-kata. Membiarkan kakekmu berbincang dengan teman satu kantornya; dengan orang yang hendak melamarnya.

Allah selalu memiliki alasan untuk menghadirkan seseorang dalam hidup kita. Selalu. Rumusan itu pasti dan tidak pernah meleset sepersekian millimeter pun. Ini berlaku untuk semua orang, Dik. Jika memang tidak berjodoh, maka selalu saja ada alasan untuk tidak bertemu.  Dan tentu saja, selalu ada cara untuk dipertemukan, jika memang berjodoh. Langit hari itu menjadi saksi akan kemudahan yang dijanjikan Tuhan. Bersama kesulitan ada kemudahan. Lihatlah betapa sederhananya kalimat persetujuan itu keluar dari mulut kakekmu. Menyetujui anak bungsunya yang hendak dipinang oleh Muhammad Zainuri; dipinang oleh papamu. Dan perjalanan dua puluh delapan kali itu terbayar indah pada yang ke dua puluh sembilan. Apakah bundamu menyesal? coba tanyakan padanya. Karena kurasa, sama sekali tidak.

**

Kami perlu waktu cukup lama sampai akhirnya mendapat cerita itu langsung dari bundamu. Membayar rasa penasaran kami yang bertanya-tanya, kenapa begitu tiba-tiba? Dan ternyata prosesnya memang tidak lama. Cepat. Lagi, tidak hanya memberi kejutan pada kami, juga memberi kejutan pada guru-guru lain. Lucunya, papamu sukses mendapat ledekan dari guru lain perihal ibundamu yang tahu-tahu sudah dilamar. Tanpa ia tahu, bahwa si pelamar tak lain adalah papamu sendiri. Maka tidaklah hiperbola rasanya, kalau kukatakan berita-kisah-cerita itu menggemparkan. Meramaikan hari-hari berasrama. Di ruang kantor, di kamar, di koridor sekolah, di jalan-jalan lembaga pendidikan kami. Dan hebatnya, bundamu siap siaga mendokumentasikan kekagetan orang-orang atas hot news nya. Boleh lah sewaktu-waktu kau minta untuk diperlihatkan film dokumenter itu oleh bundamu. Semoga masih tersimpan rapi. (:

**

            Menjelang hari pengikraran akad suci, Ibundamu terlihat begitu berenergi, beraura positif. Semakin hari semakin bertambah kecantikannya. Kami berbondong-bondong menyewa bis besar, menuju Tasikmalaya demi menyaksikan kedua orangtuamu bersanding di pelaminan. Macet luar biasa, namun sungguh, sukses terbayar kelelahan yang ada ketika sampai di sana. Diam-diam kami menertawai diri sendiri. Mungkin ini rasanya jadi Bu Novi. Menelan pil pahit macet yang pada akhirnya berbuah indah menyaksikan kedua guru kami mengenakan seragam pengantin. Maka panjang perjalanan yang sungguh tak sebanding dengan lama kami berdiam di Tasik terbayar lunas. Ada getar tersendiri, bagi siapa pun yang mengetahui kisah panjang ibundamu, Adik Kecil yang baik. Begitu juga kami. Begitu juga aku.

**

Maka, Adik Kecil, berbahagialah. Karena Kau hadir melalui proses panjang yang mengandung hikmah. Aku tidak menuliskan detail urutan kejadian dengan jelas, biar bundamu yang melanjutkan kisahnya. Yang melengkapi skenarionya yang terpenggal-penggal. Tanyakan pada wanita violet itu, bagaimana debar yang ia rasa ketika hendak menanti hadirmu. Bagaimana kecemasan yang mampu ia balut dalam ketenangan bahkan ketika tengah berada di rumah sakit (Hei, bundamu ini sungguh ajaib. Bahkan masih sempat meminta doa via BBM, WA, FB, pada karib kerabat menjelang saat-saat sakral itu). Tanyakan padanya, bagaimana mengendalikan sugesti negatif yang tegah melanda diri. Orang biasa akan mudah terbawa pendapat yang mengatakan bahwa melahirkan di usia 30tahunan beresiko tinggi. Tapi bersyukurlah, wanita itu, bundamu, adalah sosok luar biasa.

Satu hal lagi
Kau perlu tahu, bahwa harapan kedua orangtuamu terhadap sosokmu adalah; seorang terpuji serta zuhud yang senantiasa menjadi perhiasan bagi mereka-bagi sesama. Amini doa mereka, Dik. Karena ridha Allah ada pada ridha orangtua. :)
Aamiin allahumma aamiin...

***

Ketika percakapan tepi laut itu berlangsung. Kepulauan seribu.


Muhammad Zahid Al-Zayyan; ini sosokmu. Masih ingat? :D

Pada suatu hari nanti,
Jasad kita tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini.
Kita tak akan pergi menghapus diri.

Pada suatu hari nanti,
Suara kita tiada akan terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini,
Peradaban akan tetap kita siasati

Pada suatu hari nanti,
Impian kita pun tiada dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Maka tidak akan ada letihnya kita mencari.

(Terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono; Pada Suatu Hari Nanti)

**


Teruntuk Bu Novi, semoga dengan ini hutang saya bisa terhitung lunas *aamiin* mungkin ibu tidak tahu, maka dari itu saya hendak mengabarkan. Ini adalah hasil coret-ganti berkali-kali demi melunasi janji. Selebihnya ada beberapa dokumen yang membeku begitu saja dimakan waktu. Menjadi sampah dalam buku-buku jurnal, dalam dokumen di laptop saya. Ini diawali pada sehari tepat setelah Adik Kecil Eza lahir, dan resmi dituntaskan pada hari ini, di bulan suci Ramadhan. Saya hampir melupakan janji saya untuk menulis tentang ibu, tapi kalimat ibu; "Kenapa pengen ke Riris? karena ibu jatuh cinta dengan kata2 dalam tulisan Riris." dalam percakapan kita sukses membuat saya tertegun. Meski jadinya begini adanya, maafkan jika diluar harapan. Karena jujur, menulis tentang seseorang yang real saya kenal, apalagi kisah hidupnya, susah sekali. Jadilah samar-samar tidak jelas seperti ini. Lagi, ini malah jadi surat buat De Eza. Hhe. Biar lah, ya, izinkan dia membaca suatu saat nanti, Bu.Jazakumullahu khairan katsiiran, Ibu Guru Kehidupan. :)

Violetterism; karena melihat violet mengingatkanku akan sosokmu

***
Bogor, 6 Ramadhan 1435 H