Showing posts with label ukhuwah. Show all posts
Showing posts with label ukhuwah. Show all posts

Saturday, June 25, 2016

Bertemu Orang Baik

"Mau kemana?" tanya sosok di balik helm itu.

"Ng.. mau pulang," jawabku setengah heran. Menerka; siapa?

"Mau bareng?"

"Eh ini siapa? Kak **** ya?" aku menebak.

"Bukan," dia geleng-geleng kepala.

"Terus siapa?" ujarku dalam keadaan setengah bingung bercampur lelah.

"Aku bukan siapa-siapa," ia kemudian membuka helm, "mau bantu aja," jawabnya lagi.

"Eh?" dahiku mengkerut.

"Jam segini udah nggak ada angkot ke arah sana. Bareng aja pulangnya. Rumahnya dimana?"

Aku masih ingat betul percakapan itu. Pertemuan dengan Kak Anisa dipinggir jalan, ketika aku dalam keadaan bingung karena handphone mati dan angkutan umum tidak kunjung datang. Padahal pukul tiga dini hari sudah harus berangkat lagi ke stasiun; berangkat ke Kebumen.

"Nama Kakak siapa?"

"Anisa,"

"Ini aku sampai sana aja, Kak. Beda arah. Kakak lurus, kan?"

"Nggak apa-apa. Aku anterin sampai rumah aja ya. Udah malam, khawatir,"

"Emangnya nggak apa-apa?"

"Iya, gak apa,"

"Kakak nanti masuk rumah dulu ya?"

"Eh nggak usah. Aku sampai depan aja. Mau pulang juga soalnya,"

"Sebentar aja, ketemu Mama. Nanti aku ditanya-tanya pulang sama siapa malem begini,"

"Oh... yaudah deh, sebentar ya."

"Okee," jawabku sumringah.

Kemudian kami bertukar nomor. Lantas beberapa kali saling mengirim pesan hingga telepon genggamku rusak dan nomor Kak Annisa hilang.

***

"Hei, namanya siapa?" seorang perempuan berjilbab biru menyapaku di tengah antrean makan.

"Eh.. Riris," jawabku sambil tersenyum simpul. Menerima uluran tangannya untuk dijabat, "Mbak nya?"

"Dian." ujarnya. Aku mencari kalau-kalau ia mengenakan nametag pengenal. Tapi ternyata tidak.

"Tamu juga, Mba?" tanyaku lagi.

"Member," jawabnya sambil tersenyum. Ramah sekali.

"Ooh... pakai ECCT kah?"

"Nah.. iya!" jawabnya antusias.

"MasyaaAllah. Nanti boleh ngobrol-ngobrol, Mbak? aku dari C-care. Lagi mau wawancarain pasien yang pakai ECCT.

"Waah, boleh boleh! nanti habis shalat kita ketemuan ya,"

Lalu kami berbincang-bincang. Seru. Panjang sekali. Mulai dari soal ECCT, kanker, kuliah, sampai pengasuhan anak. Kalau pada narasumber sebelumnya lebih banyak aku yang bertanya, bersama orang ini lebih terasa seperti tengah berbincang dengan sahabat lama. Kemudian aku memanggilnya "Ayuk Dian" (Ayuk sapaan "Kakak" untuk di Sumatra).

Ada banyak hal yang aku pelajari dari Ayuk. Termasuk bagaimana ia selalu menyapaku dengan doa super, "Apa kabarnya, shalihah?" :)

***

Kali ini di kereta.

"Udah azan ya, Mbak?" tanyaku pada perempuan di sebelah kanan.

"Iya, udah," ia tersneyum sambil mengangguk.

"Mau kurma?"

"Nggak usah Mbak," ia geleng kepala seraya tersenyum. Kami diam sibuk dengan hidangan berbuka masing-masing. "Mbak,"  ia lantas memanggilku.

"Ya?" aku menoleh.

"Aku boleh minta air minumnya?"

"Oh, boleh, boleh, ini silakan,"

"Iya, aku beli minum dapat yang udah basi. Lihat deh ini Mba," ia menyodorkan botol minuman jeruk kemasan yang ketika ditengok dalamnya sudah penuh dengan busa.

"Allah.. tanggal expired-nya gimana?"

Kami kemudian berbincang tentang minuman kemasan yang sudah basi itu. Menanyakan namanya.

"Namanya siapa?"

"Ainun. Kalau Teteh?"

"Riris," kami berjabat tangan,  "Ainun masih kuliah?" tanyaku lagi.

"Iya,"

"Sama. Dimana?"

"Aku di Unpak. Riris?"

"Di IPB Dramaga,"

"Waah jauh banget," komentarnya. Aku tertawa. Maksudnya mungkin macet banget kali ya, hhe. "Semester berapa?" tanyanya lagi,

"Aku semester enam,"

"Wah seangkatan kalau gitu," ujarnya sumringah.

Kemudian percakapan kami mengalir. Mulai dari urusan jurusan, magang, compre, ujian, sampai ITC. Setelah shalat magrib di kereta, tidak lama ia pamit untuk turun lebih dulu di stasiun Depok Baru. Oh iya, kami juga sudah tukeran nomor telepon.

Sampai di rumah, ada SMS masuk ke telepon genggamku.

Riris udah sampai rumah? :)

**

Pertemuan-pertemuan semacam itulah yang kadang-kadang membuat saya bingung jika ditanya; "Teman dimana?" pasalnya, bertemu dengan mereka tidak pada jenjang tertentu atau apa, "Iya, waktu itu ketemu di tengah jalan, terus jadi temen deh, hhe" begitu biasanya saya jawab.

Tiga di atas hanya bagian dari orang-orang yang saya kenal melalui perjalanan. Ada pula Ibu Ende, yang saya temui di bus Agra Mas dan dia bercerita panjang sekali tentang anaknya, menanyai tentang kuliah, lantas menyuruh saya main-main berkunjung ke rumahnya di Kota Bogor. Juga orang-orang baik yang saya jumpai yang saya yakini perjumpaan itu salah satunya ada oleh sebab doa orang tua yang mendoakan kebaikan atas anaknya dalam perjalanan meski 'hanya' berjarak Bogor-Jakarta atau Jakarta-Bogor.

Bagi yang masih keranjingan gadget dalam perjalanan, cobalah sekali-sekali simpan telepon genggam/telepon pintar/apapun itu namanya ke dalam tas. Lalu perhatikan sekeliling. Sapa samping kanan-kiri. Mungkin sudah saatnya kita kembali menjadi bangsa yang saling sapa di dunia nyata.


18 Ramadhan 1437 H



Wednesday, June 15, 2016

Untukmu yang Sedang Berhijrah

Belakangan, kamu merasa mulai bimbang? Aku tahu meski kamu tidak memberi tahu. Sstt… diam-diam hatimu itu mampir kesini lalu membisikkan apa yang tengah ia rasa.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Melajulah degan kesabaran dan keyakinan. Yang perlu kita lakukan bukan melupakan atau meninggalkan apa yang telah terjadi (lagipula itu terdengar sulit, bukan?). Kita cukup berdamai. Menerima. Ikhlas. Toh sekelam apapun masa yang telah terlewat itu, ia tetap telah terjadi. Atau jika pun ia tidak sebegitu kelam, pun ia juga telah terjadi. Tidak ada yang berbeda dari masa lalu setiap manusia: masa lalu telah tertinggal jauh di belakang.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Aku tahu, boleh jadi ada satu-dua kerinduanmu pada masa yang telah lalu. Adakah itu sebuah masalah? Kurasa tidak. Lagipula rindu adalah hal yang wajar bagi manusia; kecuali jika sudah berlebihan dan melampaui batas. Tapi bersyukurlah, karena hatimu masih memiliki sensor yang baik. Ia cukup pandai untuk menyadari mana yang baik dan yang buruk, meski kadang agak labil jika dihadang oleh satuan nafsu duniawi.

Untukmu yang sedang berhijrah.

Ada batas yang jelas antara berdamai dengan melupakan. Jika selama ini kamu masih mengandalkan “lupa” sebagai senjata, maka saatnya berdamai. Kalau ada yang megatakan bahwa kamu berubah, biar aku beritahu, bahwa sungguh kamu tiada berubah. Kamu hanya sedang berproses. Hei, berproses adalah sebuah keniscayaan. Orang yang beruntung adalah ia yang beproses menjadi lebih baik dari hari ke hari. Bukankah begitu?

Untukmu yang sedang berhijrah.

Maka terimalah apa yang telah kamu lalui selama ini dengan lapang. Pun terimalah komentar-komentar negatif dari dunia, termasuk dari dirimu sendiri. Iya, dari dirimu sendiri –yang terkadang ia jahil membisikkan kepadamu kalimat semacam ini; “Kenapa harus berubah? Kayak kemarin-kemarin, kan kamu juga bisa berbuat baik sama banyak orang. Bisa banyak teman juga.”

Untukmu yang sedang berhijrah.

Ada kabar baik yang patut kita syukuri. Bahwa segala sesuatu adalah punyanya Allah. Termasuk diri kita dengan segala turunannya, termasuk orang lain, alam semesta, hal-hal abstrak, sampai hal-hal yang konkret, semuanya adalah milik Allah dan di bawah kekuasaan-Nya. Lalu terhadap hati yang mungkin bimbang, terhadap masa lalu yang membayang, pun terhadap masa depan yang masih di awang, sudah saatnya ia diberserahkan pada yang Mahakuasa. Jika memang niat yang ada hanya untuk-Nya, mustahil Dia tidak memberikan jalan bagi kita.

Untukmu yang sedang berhijrah,

Melajulah dengan segenap yakin. Bukan yakin atas dirimu, melainkan yakin kepada Rabb-mu.

Sawarna, 2012


Kota Hujan, 10 Ramadhan 1437 H

Tuesday, January 19, 2016

Kawan,

Postingan kali ini adalah titipan seseorang yang pada suatu hari berkata, "Riz, boleh ikut nulis dan jadi kontributor di blogmu nggak?" Saya juga nggak tahu dia nulis surat ini buat siapa. Hhe :) semoga pesannya sampai.

**

Apa kabar, kawan? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Mungkin beberapa diantara kita masing sering bertemu secara tidak langsung sehari-hari, atau bahkan mungkin sengaja ingin bertemu. Semoga engkau masih mencintai Allah, yang membuat lancar jalanmu menjalani semester ini.

Kawan, saat ini kita telah sampai dipenghujung semester. Kita sama-sama tidak tahu, apa yang akan terjadi pada nilai kita, atau bahkan diri kita sendiri. Selama satu semester ini, engkau telah menghabiskan banyak waktu denganku, kuucapkan terimakasih karenanya. Selama satu semester ini, engkau telah banyak membantuku, atas izinnya, kuucapkan terimakasih karenanya. Selama satu semester ini, engkau telah banyak berperan dalam hidupku, mengubahku menjadi lebih dewasa, lebih baik. Kuucapkan terimakasih karenanya. Namun aku rasa semua itu tidak akan cukup dengan kata terimakasih. Maka izinkan aku untuk memberimu sesuatu yang tidak akan diberikan oleh orang yang tidak menyayangimu.

Kawan, tidak lama lagi kita akan pulang ke rumah masing-masing. Walau mungkin ada diantara engkau yang tidak dapat bertemu keluarga tercinta, entah atas dasar alasan apapun, kuucapkan selamat, karena mungkin semua itu tidak akan berlangsung lama. Manfaatkan waktumu dirumah, kawan. Jika perlu, matikan semua jaringan komunikasi, sehingga hanya keluargamu yang kau perhatikan saat itu. Kau tau apa yang mungkin akan dikatakan ibu atau ayahmu ketika kau tidak bisa pulang kemarin? Mungkin mereka akan bertanya, sibuk kah engkau nak? Dan jawabanmu adalah iya, aku sibuk bunda, aku sibuk ayah. Sabarlah menantiku pulang. Kawan, sejujurnya engkau baru saja membuat suatu penekanan pada diri orang tuamu bahwa anaknya adalah orang sibuk, yang mereka perlu sangat bangga padamu, karena kau mungkin tengah membela hak saudaramu di kampus. Aku bangga mendengarnya, namun orang tuamu mungkin tidak. Berpikirlah tentang hal ini.

Kawan, tidak lama lagi, kita akan mendapatkan hasil evaluasi kerja keras kita semester ini. Mungkin ada diantara kita yang sangat bangga karenanya, atau bahkan menjunjung tinggi Kartu Hasil Studi dihadapan keluarga. Tapi mungkin ada diantara kita yang berharap tidak ada satupun keluarga yang bertanya tentang hasilmu. Mungkin itu aku. Maka jika engkau mendapatkan hasil yang memuaskan, aku akan turut senang mendengarnya; walau mungkin dibalik handphoneku, ada tetesan air tak terduga. Kawan, jika itu engkau yang mendapatkan hasil terbaik, kuharap engkau tidak akan melupakanNya, yang telah menjadi superhero kita sejauh ini. Kita sudah cukup jauh dibawanya terbang tinggi, maka janganlah engkau melupakanNya, yang akan membuatnya melepaskanmu dari pelukan terhangatNya. Allah, iya itu Dia. Superhero kita.

Namun, bagi engkau yang tak diduga memiliki perasaan yang sama denganku, jangan pernah mengalihkan wajahmu dariNya; dari Dia yang selalu mencintai kita. Kau tau apa bukti cintaNya padamu? Salah satu adalah ujian yang tengah kita hadapi, yakni nilai yang kurang memuaskan bagi kita. Tapi jangan salah, ujian ini jauh lebih ringan daripada mendapat hasil sempurna. Mengapa? Karena teman-teman kita yang mendapatkannya, akan lebih mudah melupakanNya, akan lebih mudah menganggap Allah bukan superhero kita. Maka seperti apapun hasilmu nanti, jangan berikan pujian terbaik atas hasil sempurna yang diraihnya, cukup kau doakan agar ia tak melupakan superhero kita, sehingga kita bisa melangkah maju bersama, menggapai peringkat tertinggiNya.

Maafkan aku kawan, atas sekian banyak kesalahanku sejauh ini. Maafkan aku kawan, mungkin curahan hati ini terlalu tercurahkan. Maafkan aku kawan, mungkin aku bukan kawan yang baik untukmu. Karena hanya superhero kita yang akan menjadi teman terbaikmu. Terbaik.

Demikian kawan, kini saatnya aku melepas untuk terbang jauh mengarungi lautan cintaNya. Terimakasih telah menjadi pengingatku untuk selalu mengingatkanku akan superhero kita. Terimakasih.

Ku nanti engkau di lapangan rektorat, awal tahun 2019 nanti. Ku nanti senyum terlebarmu saat itu, beserta toga dan ijazah hasil perjalananmu bersama superhero kita. Ku nanti hari berbahagiamu. Ku nanti, meeting terbaik kita di surga milik superhero kita.

Ditulis oleh TBMS,
Januari 2016

Wednesday, December 23, 2015

Sederhana


Aku ingin membahagiakanmu dengan sederhana.
Sesederhana canda di sela-sela padatnya hari kita,
Sesederhana pengaminan atas panjat doa yang kita saling pinta

Aku ingin menjadi kawanmu dengan sederhana. Sederhana saja.
Sesederhana mendukungmu untuk terus maju, melangkah, dan tidak berhenti sampai disana
Sesederhana mendengarkanmu berbagi cerita, atau menanyakan kabarmu secara tiba-tiba

Aku ingin menjadi bagian dari episodemu dengan sederhana.
Sesederhana jumpa atau sapa kita yang tidak direncana
Sesederhana senyum, tangis, dan tawa yang entah maknanya apa

Entah siapa yang akan meninggalkan siapa,

Kalau nanti tidak kau temui aku di syurga,
kumohon kesediaanmu untuk memanggil namaku -kelak dihadapan-Nya..

Aku ingin membahagiakanmu dengan sederhana.
Tapi faktanya, sampai kapanpun aku takkan kuasa.

Bahagiamu jelas-jelas karenaNya.
Pun bahagiaku, ia juga milikNya.

Kita ini cuma hamba.



ditulis di Kota Hujan pada hari petang,
ketika rintik menyapa kantin organik

Wednesday, July 15, 2015

Tentang Hati

"Kedekatan hati itu tidak rumit, Nak. Kalau dua hati sama-sama terkoneksi dengan Allah, mereka akan senantiasa menemukan cara untuk saling menyapa meski tanpa kata. Mereka akan selalu menemukan cara untuk bertukar kabar meski tanpa jumpa. Kalau dua hati sama-sama terkoneksi dengan Allah, maka tidak perlu lah saling kenal sejak lama, janjian ketemuan, atau hal remeh-temeh semacam itu jadi syarat atas kedekatannya. Mereka akan jadi dekat oleh sebab iman dalam hatinya."

"Ummi sama Tante Zahra dulu begitu? dekat karena Allah?"

"Iya. Ummi sama Tante Zahra bahkan nggak pernah satu almamater. Dulu Ummi pertama kali ketemu Tante di halte bis. Tahu-tahu orangnya ramah sekali."

"Ummi sama Ustadzah Firda juga begitu?"

"Iya, Sayang. Ummi dekat dengan beliau sejak pertama kali sampai ke kota ini. Beliau tetangga pertama yang mengetuk pintu rumah sambil bawain kue buatannya."

"Terus mana bagian imannya, Mi?"

"Orang-orang yang dalam hatinya punya iman, akan dekat dengan sendirinya. Ada ikatan persaudaraan sebagai sesama muslim. Ukhuwah namanya." jawab perempuan yang sedari tadi disapa Ummi itu sambil mengaitkan kedua kelingking tangannya.

"Ummi?"

"Ya?"

"Ummi sama Abi juga begitu?" pertanyaan anaknya kali ini mengundang tawa kecil. 

"Iya Amira sayang. Nanti Amira akan mengerti. Sekarang yang penting kuatkan iman Amira. Iman itu dikuatkan dengan selalu ingat sama Allah. Mulai dari Amira bangun tidur, ingat bahwa Allah yang membangunkan. Amira mandi melihat air, bersyukur Allah beri kesempatan bertemu air. Begitu terus sampai Amira tidur lagi, ingat bahwa hari ini Allah sudah baik sekali mengizinkan Amira bermain, pergi sekolah, mengaji, bertemu teman-teman. In syaAllah dengan iman yang ada, kita akan bertemu orang-orang baik yang juga beriman sama Allah." jawab perempuan itu sambil tersenyum. Anaknya mengangguk-angguk (seakan) mengerti.

"Ummi sama Amira pasti juga begitu," gadis kecil itu mengaitkan kedua kelingking tangannya, kemudian melanjutkan, "Amira dekat dengan Ummi karena kita berdua beriman sama Allah." lantas memperlihatkan gigi-giginya yang berbaris rapi. Perempuan yang sedari tadi disapa Ummi kemudian menyeka kedua sudut matanya.


Tuesday, March 24, 2015

SYAHDAN

Tiap jiwa jana yang merekah saling bersinggungan
Serupa putaran jantera yang jadi saksi akan perjalanan
Jikalau memang pilinan debu mampu menyuarakan
Syahdan,
Biar saja partikel semesta yang menyampaikan

Pilinannya menyeruak pada relung-relung
Membentuk metamorfosa terselubung
Dibalik udara, ditelan samudra
Dijunjung para perengguk yang mengaku berwibawa

Semerbak
Semarak

Mereka ramai suarakan kebersamaan
Tentang ikatan cakrawala dunia para pejalan
Tentang solidaritas yang serupa mozaik cinta
Intisari kerja yang bukan sekadar euforia

Lantas debuku bersembunyi di dasar palung
Melantunkan harap pada balik tempurung
Tanpa secercah pun pergi melupakan cita
Tanpa selangkah pun diam mengabaikan rasa

Karena persaudaraan bukan perniagaan
Bukan pula muara yang layak dipertandingkan
Solidaritas meretas makna
Melampaui kumpulan deskripsi dan untai kata

Abadi
Hingga nanti

Bahwa tiap jiwa jana yang merekah saling bersinggungan
Serupa putaran jantera yang jadi saksi akan perjalanan
Jikalau memang satuan langit berjanji demikian
Syahdan,

Perjumpaan kita bukan sekadar kiasan, kan?

Ditulis dalam partisipasi Lomba Cipta Puisi Espent 2015

Monday, December 15, 2014

Menyapa Saudara

Suatu saat, kita akan bertemu, kan? Mendapat informasi tentang kalian melalui berbagai kesempatan, membuatku semakin rindu. Rindu berjumpa dengan saudara-saudara seperjuangan dari berbagai belahan bumi. Suatu saat, kita akan bertemu, kan? Aku rasa kita sama-sama terhibur ketika saling mengetahui keberadaan masing-masing. Mengetahui perjuangan masing-masing. Kita sama sekali tidak sendiri. Semangat itu tersebar dari segala penjuru. Dari berbagai macam ranah yang menghampar pada permukaan tanahNya. Terimakasih karena kehadiran kalian menyadarkanku, bahwa perjuangan sungguh-sungguh tidak boleh berhenti sampai disini.

Meski kini aku hanya menatap kalian melalui layar, meski kita belum saling mengenal. Mengetahui bahwa kita adalah saudara, rasanya sudah lebih dari cukup untuk saling merindu. Suatu saat, kita akan bertemu, kan? Jika pun tak di bumi cintaNya, semoga di syurga kelak pertemuan itu ada. Aamiin.

Aku percaya kita terhubung melalui suatu sistem MahaAgung.
Tidak ada jarak yang terlalu jauh bagi sebuah do'a, bukan?


Klik untuk melihat sumber gambar.

Saturday, April 12, 2014

Semoga Kau Baik-baik Saja

Aku sungguh merindukan perbincangan kita. Aku serius. Sangat-sangat merindukannya. Maka sesekali kuharap Kau cukup tega meluangkan waktumu, sejenak saja. Bukan perbincangan serius yang membutuhkan waktu berlarut-larut. Sederhana saja, perbincangan basa basi atau sekadar percakapan dalam diam. Kita memang kerap diam, padahal aku benar-benar ingin menanyakan kabarmu dalam satu waktu. Padahal aku benar-benar ingin tahu apa gerangan kesibukanmu, apa kabarnya kehidupanmu. Tapi saat ini aku sungguh ingin menunggu. Adakah Kau sebenarnya peduli? karena kurasa selama ini akulah yang kerap mulai menyapamu, memaksamu untuk masuk dalam perbincangan rancanganku.

Mungkin, ada baiknya aku diam. Lebih baik terpaksa tak menyapamu, dibanding membuatmu terpaksa menjawab sapaku. Mungkin, lebih baik aku diam. Cukup menanyakan kabarmu melalui partikel udara. Dan biar semesta yang menjawab tanya sederhanaku. Semoga Kau baik-baik saja.



Seperti yang ibuku selalu ajarkan, bahwa menyayangi bukanlah sebuah perniagaan.
Maka biarkan ia mengalir apa adanya, tak peduli satu, dua, tiga, atau pun empat arah.
Tuhan mencintai hamba yang mencintai saudaranya karena Dia.
Dan itu sungguh kabar menggembirakan bagi para pengiman-Nya.

Jadi, semoga Kau baik-baik saja. :)

Tuesday, February 4, 2014

Fotografie Ausstellung


Yesterday, my friends and i went to this event;

Photography? yeah! honestly, our purpose was to meet up. Wherever the place is, as long as a good place, as long as we meet up, it'll be precious. And Alhamdulillah, we found that event. At least we have a destination to go. :D
 
retno-riz-suha-maryam


We visited Monas first before we went to Gedung Galeri Indonesia which located near Monas. Sunday morning in Monas was crowded; so many people there. Although yesterday was not our first time to see Monas (yup we're all stayed in Jakarta), it was enjoyable. :) Suddenly i remember one simple sentence.

 It's not really important how many times you go to a place.


And here is some pictures, taken at Gedung Galeri Indonesia :) 
Gedung Galeri Indonesia

Somewhere in Gaza, Palestine.
Well-ordered building in Dubai.

Dubai
This one is cool! :)
Three men walk
This one is my favourite. Gaza, Palestine.
An unperfect dot.
Me-Jakarta; our capital


My flat point finger. Hhe
Station in Russia
Peek
Doll
Retno tried to hold the barbie; Indonesia
Suha and Maryam; corridor.
A big 'aquarium'
Rain <3
Port
Observe
House building artificial in Las Vegas' mall.
Another Rain :D



That's a part of our journey yesterday. Yet i don't tell you the descriptions of those pictures, you can ask Mr.Google, or maybe come to Gedung Galeri Indonesia at Medan Merdeka Timur street (It's three days left from January 4th 2014 :p). 

Thanks Amr (Suha's brother) who helped us to take our pictures. :D


Sunday, January 26, 2014

Surat Peringatan


Merapihkan kamar selalu saja menjadi ajang nostalgia bagi saya. Pasalnya, banyak benda-benda kenangan yang tersimpan di dalam kamar. Termasuk surat-surat 'berharga' semisal surat di atas. Kemarin, saya membaca surat tersebut untuk ke sekian kalinya, dan tersenyum, lantas tertawa. Haha. Saya jadi semakin mengerti bagaimana dahulu saya tersiksa rindu, begitu merindukan masa Tsanawiyah. Schoolsick syndrome, begitu saya menyebutnya. Bagaimana tidak, teman-teman saya so sweet sekali. :))

Surat di atas saya peroleh pada suatu sore. Tahu-tahu ada di dalam tas hitam ke abu-abuan milik saya. Tahun 2008, ketika saya tengah aktif menjadi Badan Pengurus Harian OSIS di Tsanawiyah. Sebenarnya saya lupa bagaimana cerita lengkapnya. Hanya saja, surat ini dilayangkan pada saya karena hari itu, ada dua orang kawan yang mengajak saya 'bermain' di kelas sementara saya harus turun ke lapangan; menjalankan salah satu tugas sebagai pengurus OSIS, mempersiapkan kesiapan petugas untuk pelaksanaan upacara. Harus turun, dan saya tidak punya pilihan lain. Meski sebenarnya peran saya saat itu tidak begitu berarti, tapi saya harus turun. 

Simsalabim, surat peringatan itu mendarat sore harinya. :D

Membacanya sekarang, sekitar lima tahun setelah surat itu ditulis, kertas itu masih terlihat bagus. Sobekan buku Sinar Dunia, tinta hitam, garis-garis coretan. Melihat gaya tulisannya, saya tertawa sendiri. Anak Tsanawiyah. Sederhana, polos, cerdas, menggugah, dan yang utama: jujur. Bahasanya jujur sekali. :) Kau benar, Kawan. Hari akan berlalu sangat cepat, dan tak terasa kita sudah sampai pada titik ini. Ketika surat-surat kita menjelma indah menjadi memori.

_______________
_________________________________
Kau mungkin takkan pernah menyadari, betapa seseorang begitu mengingatmu. Betapa seseorang mengingat setiap lontaran kata yang Kau lisankan, sesederhana apapun itu. Kau boleh jadi tak pernah tahu, boleh jadi tidak peduli. Namun sungguh, bagi seseorang, hal itu sama sekali bukan masalah. Ia tak peduli apakah Kau ingat atau tidak. 
Seseorang itu sudah cukup bahagia untuk mengingatmu;
bahagia untuk pernah mengenalmu. :)
______________________________________________


Ah ya, satu lagi yang membuat saya tergelitik. "Satu kata buat kamu..." sebagai pembuka surat itu, tapi nyatanya ada banyak kata disana. :P Haha, Kawan, bahkan Kau mampu menghiburku hingga detik ini. Terimakasih. :)

Tuesday, January 21, 2014

Jika Bukan Karena Cinta



Takkan sudi bumi dipijak

Takkan rela langit berarak

Jika bukan karena cinta


Berbaris rapi di pelataran

Jutaan titik melempar sapa

Menebar selamat

Meneguk wedang panas

Menyatukan suara

Berbaris di bawah angin

Bergaris

Mengikatkan simpul mati



Jika bukan karena cinta

Siapa peduli akan hamparan titik di muka bumi

Yang berdiri sendiri-sendiri

Berjalan tak saling peduli



Jika bukan karena cinta

Siapa peduli akan gerak sederhana yang tak lagi harmonik

Akan deru kendaraan yang kian berisik

Menghamburkan jutaan lirik



Siapa peduli?

Jika bukan karena cinta



Simpul ini sudah terlanjur mati

Buang segala toleransi lagi kompromi

Meski menyayat

Meski berat

Karena inilah cinta

Karena cinta bukan melulu soal kata

Bukan melulu soal rasa



Maka tanyakan pada udara

Partikel mana yang membuatnya bergerak

Maka tanyakan pada lautan

Angin mana yang mengantarkannya kepada pantai

Adakah jawabnya?



Duhai,  jika bukan karena cinta

Mana sudi aku menyebut dengan bangga

Inilah ukhuwah kita

Lingkaran yang terbentuk dari titik-titik cipta

Dimensi yang ada karena sang Maha

(Ditulis di Bogor, beberapa bulan yang lalu.)