Showing posts with label collegetask. Show all posts
Showing posts with label collegetask. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

EVALUASI SOSIAL PADA BAYI DAN BALITA

Kali ini kami akan membahas artikel berjudul How Infants and Toddlers React to Antisocial Others yang dipublikasikan pada 2011 dan ditulis oleh Hamlin dkk. Dari judulnya, sedikit banyak dapat diperkirakan bahwa artikel ini bicara tentang bagaimana bayi dan anak balita memberi respon akan perilaku antisosial pada orang lain.

Hal yang bagi saya menarik dari penelitian ini adalah, bahwa Hamlin dkk. tidak hanya sekadar melakukan penelitian tentang bayi dan balita, melainkan melibatkan bayi dan balita. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi kaya akan informasi dan menjelma jadi enlightenment. Ia tidak hanya berbicara tentang teori dan bagaimana pandangan para ahli ataupun orang tua yang menjadi narasumber, melainkan langsung menyentuh tokoh utama sebagai subjek penelitian. Berikut tabel yang berisikan informasi mendasar mengenai artikel yang sedang dibahas.

Judul
How infants and toddlers react to antisocial others
Dipublikasikan pada
PNAS (Proceeding of The National Academy of Sciences of the United State of America). 108(50): 19931-19936
Tahun
2011
Penulis
J. Killey Hamlin (a); Karen Wynn (a); Paul Bloom (b); Neha Mahajan (b)
Lembaga/instansi
a= Department of Psychology, University of British Columbia
b= Department of Psychology, Yale University, New Haven
Abstrak
Although adults generally prefer helpful behaviors and those who perform them, there are situations (in particular, when the target of an action is disliked) in which overt antisocial acts are seen as appropriate, and those who perform them are viewed positively. The current studies explore the developmental origins of this capacity for selective social evaluation. We find that although 5-mo-old infants uniformly prefer individuals who act positively toward others regardless of the status of the target, 8-mo-old infants selectively prefer characters who act positively toward prosocial individuals and characters who act negatively toward antisocial individuals. Additionally, young toddlers direct positive behaviors toward prosocial others and negative behaviors toward antisocial others. These findings constitute evidence that the nuanced social judgments and actions readily observable in human adults have their foundations in early developing cognitive mechanisms.
Keywords: cooperation, infancy




Penelitian ini terdiri atas 5 eksperimen yang melibatkan bayi dan balita dengan berbagai usia. Pada masing-masing eksperimen, subjek diberikan perlakuan untuk kemudian dilihat reaksinya. Untuk lebih rinci, saya merangkum tujuan, subjek, metode, dan hasil dari masing-masing eksperimen pada tabel berikut.

Tujuan Penelitian
Untuk memastikan perkembangan alami dari kemampuan untuk mengevaluasi keadaan sosial pada bayi praverbal dan pada balita yang baru saja memasuki tahap verbal.
Subjek Penelitian
Eksperimen 1: Bayi usia 5 bulan dan 8 bulan
Eksperimen 2: Bayi usia 8 bulan
Eksperimen 3: Bayi usia 9 bulan
Eksperimen 4: Balita usia 19 bulan -23 bulan
Eksperimen 5: Balita usia 19.20 bulan – 22.29 bulan
Metode Penelitian
·         Eksperimen 1
Bayi dipertontonkan tayangan akan adanya tokoh (boneka tangan) yang mendapat pertolongan untuk membuka box dari “boneka prososial” dan “boneka antisosial”. Kemudian setelah mengobservasi interaksi tersebut, bayi diminta untuk mengevaluasi tokoh baru yang berlaku sebagai penolong (kemudian disebut Giver) dan berbahaya (kemudian disebut Taker) bagi tokoh yang sebelumnya berperan sebagai boneka prososial dan boneka antisosial.
·         Eksperimen 2
Serupa pada Eksperimen 1, namun target diganti bukan menjadi pelaku melainkan menjadi korban (berbeda pada Eksperiman 1 dimana target adalah boneka prososial dan boneka antisosial. Pada eksperimen 2, target adalah korban dari perilaku kekerasan/antisosial). Kemudian, target ditampilkan bermain bola yang diambil oleh Taker kemudian dikembalikan oleh Giver (Taker dan Giver merupakan tokoh yang sama dengan yang ditampilkan pada Eksperimen 1)
·         Eksperimen 3
Subjek diganti dengan balita berusia 19 bulan, dan diperlakukan sama seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2.
·         Eksperimen 4
Balita usia 9-23 bulan bermain permainan pemanasan dengan diminta untuk memberikan “treats” kepada beberapa boneka hewan dengan meletakkan balok kepada wadah masing-masing boneka hewan. Kemudian ditampilkan bahwa boneka hewan sangat senang mendapat “treats” tersebut.
Setelah itu balita dipertontonkan tayangan seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, kemudian diminta untuk memilih apakah akan memberi “treats” pada Giver atau Taker. Balita dihadapkan pada dua kondisi (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
·         Eksperimen 5
Sekelompok balita yang baru diajarkan untuk memberi treat pada hewan dan memilih dari dua karakter untuk memberi atau mengambil treat dari karakter tersebut. Balita dipertontonkan tayangan yang sama seperti pada Eksperimen 2 melibatkan tokoh yang ditolong dan diganggu. Kemudian diminta untuk memilih apakah memberi atau mengambil kepada/dari Helpee (ditolong) dan Hinderee (diganggu)
Hasil Penelitian
     §  Eksperimen 1
-          12 dari 16 bayi 5 bulan dan 12 dari 16 bayi 8 bulan memilih Giver ketika target merupakan boneka prososial. ketika target merupakan boneka antisosial, 14 dari 16 bayi 5 bulan memilih Giver sedangkan 13 dari 16 bayi 8 bulan memilih Taker.
-          Pada usia 8 bulan, bayi memilih tokoh yang berlaku positif pada pihak prososial dan memilih tokoh yang berlaku negatif pada pihak antisosial.
§  Eksperimen 2
-          13 dari 16 bayi memilih Giver dari Taker. Berbeda signifikan dengan pilihan bayi 8 bulan terkait tokoh antisosial pada Eksperimen 1.
§  Eksperimen 3
-          Pada target prososial= 12 dari 16 memilih Giver
-          Pada target antisosial= 14 dari 16 memilih Taker
-          Pada target sebagai korban= 13 dari 16 memilih Giver
§  Eksperimen 4
-        13 dari 16 balita memilih untuk memberi “treats”pada boneka prososial.
-  14 dari 16 balita memilih untuk mengambil “treats” dari boneka antisosial.
-   Pilihan balita sangat berbeda signifikan pada dua pilihan keadaan yang dihadapkan (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
§  Eksperimen 5
-          11 dari 16 balita memilih untuk memberi pada Hinderee
-          13 dari 16 balita memilih untuk mengambil dari Helpee
-          Balita pada kondisi Taking menghindari mengambil treat dari tokoh yang telah mengalami gangguan sosial dari pihak ketiga. Respon ini bertolak belakang dengan yang diprediksikan pada Eksperimen ketika target sebagai korban.
-  Menunjukkan bahwa balita yang lebih tua memiliki kemampuan memberi empati. Balita menghindari mengambil dari karakter yang telah diganggu karena mereka dapat merasakan simpatik padanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dapat melakukan evaluasi sosial secara sederhana dengan statement “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa balita dapat merasakan simpatik kepada pihak lain di luar dirinya. Menurut saya pribadi, agaknya Hamlin dkk. cukup berhasil menunjukkan bahwa setiap individu dewasa hari ini memiliki fondasi kognitif moral sejak dini. Dalam bahasa lain, kita dapat mengatakannya sebagai hati nurani, atau juga akrab dengan istilah fitrah; nilai-nilai yang tertanam sejak lahir secara manusiawi.

Saya jadi ingat akan teori perkembangan moral dari Bandura yang menyebutkan bahwa perkembangan moral anak merupakan hasil observasi dan imitasi— hingga dipertanyakan dimanakah peran aspek internal? juga teori Piaget dan Kohlberg yang memperoleh tanggapan kritis dari beberapa kalangan karena menyebutkan bahwa bayi tidak memiliki moral reasoning. Teori keduanya belum dapat menjelaskan tentang bagaimana pendidikan karakter pada usia dini dapat dilakukan, mengingat baik Piaget maupun Kohlberg mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun belum dapat memahami moral. Barulah Thomas Lickona muncul dengan teori yang lebih komprehensif nan kiranya dapat lebih menjelaskan dan menjawab teori-teori sebelumnya. Lickona menggabungkan berbagai teori sekaligus (termasuk padangan Piaget dan Kohlberg) sehingga melahirkan 6 tahap perkembangan moral pada manusia, sebagai berikut.
.
1. Fase bayi (0- 3 tahun) = fondasi moral
2. Fase 1 (+- 4 tahun) = berfikir egosentris
3. Fase 2 (4,5-8 tahun) = patuh tanpa syarat
4. Fase 3 (8,5-14 tahun) = memenuhi harapan lingkungan
5. Fase 4 (16-19 tahun) = ingin menjaga kelompok
6. Fase 5 (>20 tahun) = moralitas tidak berpihak

Fase bayi (0-3 tahun) merupakan fondasi awal bagi perkembangan moral. Pada fase ini, bayi membutuhkan bonding dan attachment dengan orang tua terutama ibunya. Orang tua perlu memberikan ekspresi cinta, rasa aman, stimulasi fisik dan mental, serta keseimbangan antara kasih sayang dan otoritas. Berkaitan dengan hasil penelitian Hamlin et al. (2011), anak-anak yang menunjukkan evaluasi sosial yang baik boleh jadi tumbuh dari keluarga yang telah memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan moral pada masa bayi tersebut. Perkembangan anak akan selalu melibatkan dua faktor secara garis besar; nature dan nurture (bawaan dan oleh faktor lingkungan).

Adalah hal yang menarik dalam penelitian Hamlin dkk, bahwa ternyata bayi yang mungkin sebagain besar masyarakat menilainya “belum mengerti apa-apa,” ternyata mampu mengevaluasi dan memilih sesuai dengan nilai-nilai nurani. Saya jadi ingat pertanyaan salah seorang ibu muda pada satu-dua tahun lalu, ketika saya asyik menggendong anaknya dan mengajak si anak berbincang-bincang tentang benda-benda di sekelilingnya. Ibu muda yang tidak lain adalah kawan saya itu lantas bertanya, “Emang dia udah ngerti ya, Ris, diajak ngobrol begitu?” saya dengan keilmuan yang sangat terbatas kemudian menjawab, “Yaa mungkin saja belum ngerti sekarang. Tapi insyaAllah terinternalisasi. Kalau pun nggak ngerti, minimal diajak ngobrol dan itu berdampak baik buat dia. Semoga ya, hhe..” belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata bayi jauh lebih cerdas dari apa yang saya duga sebelumnya.

Anak balita pun ternyata memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa simpati. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari Eksperimen 5 yang menyebutkan bahwa anak balita lebih memilih untuk memberi pada tokoh yang telah mengalami keburukan, dan lebih memilih untuk mengambil dari tokoh yang sebelumnya mendapat pertolongan. Apa artinya? kita dapat lebih mudah memahami dengan ilustrasi seperti ini: berikan bantuan pada seseorang yang lebih membutuhkan. Jangan mengambil/meminta sesuatu pada seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu tersebut. Menurut saya, ini adalah konsep sederhana dari saling memahami. Terlebih lagi, ia merupakan landasan dasar dari kepekaan sosial antar manusia.

Kesimpulan penelitian
- Bayi dapat melakukan evaluasi sosial, yaitu bahwa “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”.
-     Balita dapat merasakan simpatik.
- Orang dewasa telah memiliki fondasi sejak dini terkait mekanisme kognitif.






Apa yang dilakukan oleh Hamlin dkk. bukan merupakan penelitian pertama yang fokus pada perilaku sosial dari anak-anak. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa balita terlibat dalam perilaku sosial terhadap orang dewasa dan remaja, berlaku prososial terhadap koban tindak antisosial, dapat melakukan protes selama atau setelahnya, dan secara selektif memberikan penghargaan pada pihak prososial dibandingkan antisosial. Uraian lebih lengkap mengenai teks lengkap artikel hasil penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut: KLIK DISINI. Selain itu, penelitian di Yale Univeristy ini juga diliput oleh CNN TV yang dapat disaksikan melalui situs YouTube melalui tautan berikut: KLIK DISINI.

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada perbedaan pendapat antar tokoh mengenai satu pertanyaan sederhana: apakah bayi dilahirkan dalam keadaan “tabula rasa”? ataukah setiap bayi lahir degan keadaan memiliki “blue print”? bahasa lainnya ialah perdebatan antara konsep nature vs nurture. Juga perbedaan pandangan akan satu pihak yang memandang bayi terlahir “baik” sehingga harus dijaga, dan bayi terlahir “jahat” sehingga harus dididik dan memperoleh pembelajaran. Ialah pemikiran-pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai mcam hipotesa. Sebagain berujung teori, sebagian lain boleh jadi cukup berakhir pada tanda tanya dan asumsi.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Seiring dengan waktu, fakta-fakta ilmiah bermunculan yang boleh jadi menjawab berbagai pertanyaan pada masa sebelumnya. Contohnya adalah teori perkembangan moral yang hari ini semakin jelas beserta contoh praktis untuk orang tua tentang bagaimana cara mendidik moral anak. Hari ini kita dapat dengan mudah membaca buku parenting, mulai dari yang bentuknya “serius” menjadi referensi ilmiah, sampai yang menggunakan bahasa populer untuk dibaca oleh kalangan umum. Namun sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW, sekian tahun silam, melalui sabdanya telah memberikan petunjuk pada kita mengenai perkembangan anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Setiap manusia memiliki hati nurani. Kemudian bekal yang telah dimiliki itu lantas berinteraksi dengan lingkungan, yang dalam hal ini disebutkan ialah orang tua. Pengasuhan yang dilakukan orang tua turut berkontribusi pada seperti apakah kepribadian anak akan terbentuk, nan menjadi apa dan beragama apa si anak kelak. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan yang menyebut adanya faktor bawaan dan faktor lingkungan (herediter dan lingkungan), maka fitrah, menurut hemat saya, adalah faktor bawaan yang mutlak ada dan seragam pada setiap manusia; di luar faktor bawaan lain yang sifatnya ciri fisik atau kecerdasan nan tempramen— yang boleh jadi berbeda pada masing-masing individu.


***

Jadi kalau ada yang bertanya (lagi): ”Apakah agama adalah warisan?”
kira-kira, Anda akan menjawab apa? J

Mungkin tergantung dari pemaknaan kita tentang “agama” dan “warisan” itu sendiri. Yang pasti, setiap manusia terlahir dengan fitrah. Dan saya haqqul yaqin, itu adalah fakta absolut yang mutlak.



Ditulis di Batavia,
Pada 8 Ramadhan 1438 H

Friday, June 24, 2016

RETHINKING EDUCATION


Jadi sebenarnya tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang bolos tidak masuk praktikum mata kuliah Pendidikan Holistik karena saat itu harus pergi secara mendadak untuk mengikuti sebuah wawancara yang hampir saja dilupakan jadwalnya.

**
Muqaddimah

Saya diminta untuk membaca buku (kemudian membuat tulisan terkait buku tersebut). Buku Rethinking Education adalah karya seorang Philip Snow Gang, Ph.D. yang berlatar belakang teknik namun jatuh cinta pada dunia pendidikan setelah perjalanan panjang kehidupannya. Jujur saja, sampai menuliskan ini pun, saya belum membaca secara utuh buku tersebut, melainkan baru sampai halaman ke-48 dari 180, dan selebihnya hanya melakukan screening seadanya. Karena sayang, tugas jelas memiliki deadline dan saya harus segera menyelesaikannya.

Sebelum mulai membaca, melihat judul buku ini serta merta mengingatkan saya pada salah satu materi yang disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi dengan judul sama: Rethinking Education. Bagi yang tertarik, (dan memang sangat menarik), silakan diunduh disini

Kembali lagi pada buku karangan Gang. Mungkin tugas tambahan sebagai pengganti praktikum ini tidak mengharuskan agar saya membaca keseluruhan isi buku. Tapi saya akui buku ini melakukan pembukaannya dengan menarik yang mengundang saya untuk membacanya (meski belum selesai sekarang, 24 Juni 2016). Gang menceritakan perjalanan fikirannya sejak duduk di bangku sekolah, kuliah, hingga bagaiamana ia terinspirasi oleh konsep Montessori pada tahun 1968 ketika menyekolahkan Warren, anaknya yang saat itu berusia 3 tahun.

Yang membuat Gang menaruh perhatian pada Montessori adalah karena ia menawarkan konsep pemikiran akan kombinasi “siapa saya” dengan pandangan dunia kosmik; bagaimana sisi kemanusiaan berhubungan dengan alam semesta. Latar belakang teknik dan kecintaan pada ilmu pengetahuan membuat Gang berfikir bahwa hal tersebut sangat menarik serta mengantarkannya pada sebuah pemikiran baru yang berbeda dari apa yang selama ini ia pikirkan tentang pendidikan.

Pendidikan dan Fisika

Buku ini diawali dengan bab berjudul “Education and Physic” yang membuat saya kembali bernostalgia dengan beberapa istilah dan teori dalam ilmu fisika seperti kausalitas, entropi, sintropi, hukum termodinamika, hingga fisika kuantum. Sampai disini, saya sangat setuju bahwa fenomena fisika memang menarik untuk dikaji. Kita telah mengetahui bahwa fisika memuat hukum-hukum universal pada aktivitas setiap benda termasuk manusia.

Misalkan saja, yang paling sederhana, melakukan perubahan posisi benda agar tidak diam membutuhkan usaha lebih untuk melampaui ambang batasnya. Setelah itu, pergeseran benda akan jadi lebih mudah dilakukan. Sama seperti manusia yang untuk berubah, ia membutuhkan energilebih besar di awal. Ketika langkah pertama telah dibuat, langkah selanjutnya akan menjadi lebih ringan. Memulai seringkali memakan tenaga lebih, bukan?

Contoh lain adalah penemuan yang mengatakan bahwa bagian terkecil dalam sebuah benda hakikatnya memberi untuk membuat ikatan dan menguatkan dirinya. Ada hubungan saling memberi yang membentuk materi tersebut menjadi satu kesatuan. Sama seperti keadaan manusia, dimana pada hakikatnya, memberi adalah menerima. Semakin banyak memberi, semakin banyak pula kita menerima. Dari sini pula kemudian kita mengenal konsep “Semesta Mendukung,” “Law of Attraction,” dan lain sebagainya.

Dunia fisika mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya illmu pengetahuan dan teknologi hasil cipta rasa karsa manusia. Sama halnya dengan teknologi, dunia industri, ekonomi, bahkan politik yang juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Gang berpendapat, jika semua aspek itu mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan? Adakah ia juga perlu mengalami perubahan atau bahkan harus? Perkembangan macam apa yang selayaknya terjadi pada dunia pendidikan?

Maka jadi menarik ketika fisika kemudian dihubungkan langsung dengan pendidikan. Model pendidikan macam apa yang baik dilakukan jika kita kaitkan degan keilmuan fisika yang memuat hukum universal kehidupan manusia? Perubahan seperti apa yang dapat membawa pendidikan manusia menjadi lebih baik seiring waktu?

Masih berhubungan dengan fisika, Gang kemudian mengelompokkan fase kehidupan manusia berkaitan alam menjadi empat periode unik:

  The Age of Humanity in Nature
The Age of Humanity with Nature
The Age of Humanity over Nature, and
The Age of Humanity through Nature.

Ada beberapa pendapat ahli yang Gang kutip dalam bukunya dan saya pikir pendapat Capra di bawah ini menarik untuk dikutip juga disini.

In contrast to the mechanistic Cartesian view of the world,
the world view emerging from modern physics can be characterized by words like organic, holistic, and ecological....
The universe is no longer seen as a machine,
made up of a multitude of objects, but has to be pictured
as one indivisible, dynamic whole whose parts are essentially
interrelated and can be understood only as patterns
of a cosmic process (Capra, 1982)

Saya tidak akan menjabarkan satu persatu pejelasan Gang ada masing-masing dari empat periode tersebut. Melainkan saya akan mencoba mengambil satu benang merah, bahwa hubungan manusia dengan alam menurut Gang berkembang dari jarak pemisah yang jelas hingga akhirnya hari ini sampai pada penemuan akan kenyataan bahwa manusia sejatinya menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Lagi, ungkapan Capra boleh jadi mempermudah kita untuk mengerti jalan pikir Gang:

Cartesian division between mind and matter, between
the observer and the observed, can no longer be
maintained. We can never speak about nature without, at
the same time, speaking about ourselves (Capra, 1982)

*Bagi yang mungkin belum tahu, sederhananya, “Cartesian” adalah pandangan yang menganggap bahwa jiwa dan badan merupakan dua aspek yang berbeda dan tidak dalam satu kesatuan. Biasa dikenal dengan istilah Cartesian dualism.

Rethinking Education Versi Saya

Sampai disini, saya mulai mengerti kemana arah buku ini berbicara tentang pendidikan; adalah itu Pendidikan Holistik yang memandang pendidikan secara keseluruhan, tidak terkotak-kotak, tidak terfragmentasi, melainkan memandang manusia sebagau fully human yang dengan pendidikan diharapkan menjadi seorang longlife learner,  memiliki kesadaran akan eksistensi dirinya sebagai bagian dari sistem besar dan memaknai akan kehidupan yang pada akhirnya kembali menuju Tuhan.

Namun sayangnya, saya belum selesai membaca sehingga tidak pantas rasanya menuliskan lebih jauh tentang Rethinking Education versi Gang. Jadi izinkan saya menulis tentang rethinking education versi amatiran saya saja.

Ketika mendapat mata kuliah Pendidikan Holistik, saya berfikir bahwa mata kuliah inilah yang selama ini saya cari-cari dan Alhamdulillah saya menemukan dan dipertemukan dengannya. Saya memang bukan seseorang yang berorientasi akademik, tapi saya akui saya tertarik dengan pengetahuan yang disuguhkan disini. Terlebih ketika menemukan konsep-konsep yang dibangun tentang pendidikan dengan memandangnya secara holistik: secara menyeluruh. Membaca buku karangan Gang membuka mata saya bahwa ternyata, teori yang berasal dari Barat ini pun berasal dari para tokoh “spiritual” sehingga tidak heran, aspek “kembali kepada Tuhan” menjadi bagian dari penjabaran lebih lanjut tentang pendikan holistik.

Namun sayang, materi yang saya peroleh memang kebanyakan masih berkiblat pada dunia Barat meski lagi-lagi saya bersyukur, kekayaan khazanah para pendidik saya menjadikan ia terbuka dan bahkan referensi lokal yang saya dapat sama sekali tidak bertentangan dengan Islam rahmatan lil ‘alamin. Ia justru semakin memperkuat keyakinan saya, bahwa apa yang diajarkan dalam Islam adalah sebaik-baik metode pendidikan. Malah saya haqqul yakin, “pendidikan holistik” Barat ini masih belum sempurna (maaf saya menyebut “Barat” karena tidak menemukan keterangan yang lebih mudah untuk dimengerti). Belum-- karena ia masih pincang terutama dalam hal sumber ilmu pengetahuan dan pedoman hidup (baca: Al-Qur’an).

Jika kita menengok pada sejarah peradaban manusia dengan sumber Barat, kita akan mengenal istilah “Dark Age,” yang terjadi pada abad pertengahan, dimana bangsa Eropa dikuasai oleh negara dan berada di bawah kendali gereja. Dinamakan demikian, karena masa tersebut dianggap sebagai masa kegelapan, dimana peradaban tidak mengalami kemajuan. Kemudian beberapa abad setelahnya, kita mengenal revolusi industri yang sadar atau tidak membentuk pola pendidikan menjadi begitu mekanistik, headstart, dan cenderung berorientasi kognitif. Barulah pada masa-masa sekarang ini, perhatian akan pendidikan holistik tampil setelah dampak akibat pendidikan yang sebelumnya tidak seimbang itu dirasa tidak sesuai. Seolah-olah “Pendidikan Holistik” adalah sebuah metode dan sudut pandang baru, padahal boleh jadi ia telah ada sedari dulu.

Pendidikan Holistik

Apa yang disebut “Dark Age” oleh Eropa selama ini sejatinya merupakan “Golden Age” dalam sejarah peradaban manusia. Pada masa itulah berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan yang menjadi dasar dari berkembangnya dunia modern dan IPTEK saat ini. Jika kita mengenal Wright bersaudara sebagai pelopor pesawat terbang, maka ratusan tahun sebelumnya telah ada Abbas Ibnu Firnas. Pada masa itu pula ada Ibnu Al Haytam menemukan konsep dasar optik dan kamera yang saat ini banyak digunakan, serta ilmuwan-ilmuwan hebat lainnya yang sayang, seolah hilang dari sejarah.

Ah ya, ada film pendek berjudul 1001 Invention yang sangat layak untuk ditonton. Ia bercerita tentang tiga orang pelajar yang mencari informasi di perpustakaan tentang “Dark Age.” Silahkan klik disini untuk menonton.

Saya curiga. Jika penemuan-penemuan hebat tersebut telah ditemukan jauh sebelum dunia mensosialisasikannya, boleh jadi demikian pula dengan metode pendidikan –dengan konsep pendidikan holistik. Bahkan apa yang dinilai “modern” saat ini, rasa-rasanya masih kurang modern. Ada yang lebih keren dari teori multiple intelligent-nya Howard Gardner, atau metode Montessori-nya Montessori. Dan bisa jadi, yang lebih keren itu sebenarnya telah ada sejak lama dasarnya, hanya saja belum muncul ke permukaan lagi. Atau sudah muncul, tapi saya yang belum benar-benar menemukan. Mungkin ada yang sudah menemukan? Kabar-kabar, ya. Ayo kita sharing! Serius.

Lalu ternyata, tau-tau tulisannya jadi sepanjang ini padahal niatnya cukup buat 2 halaman saja. Terima kasih sudah membaca. Di awal, saya menyampaikan sedikit tentang fisika, tentang alam semesta. Bahwa manusia dan alam sejatinya merupakan satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan, memiliki harmoni-kausalitas, dan kita sebagai manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Saya setuju. Terlebih hal tersebut telah nyata disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hadid ayat 1).

تُسَبِّحُ لَه‘ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاَلْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ 4 وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَاكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّه‘ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al Isra ayat 77).

Longlife Learner

Buku Rethinking Education karya Gang belum selesai saya baca, dan masih menyisakan sekitar 3 dari 4 bagian lagi untuk saya tuntaskan. Jika dari pembaca ada yang berminat untuk ikut menyimak, boleh kirimi saya email untuk saya kirmi bentuk e-book nya, atau silakan berselancar di dunia maya.

Apa yang saya tuliskan hanya buah dari pemikiran beberapa waktu belakangan, dan masih sangat berkaitan dengan mimpi saya di awal Ramadhan lalu. (Silakan baca pada postingan sebelumnya berjudul Al-Qur’an dan Pendidikan). Dan saya fikir, Allah tengah memfasilitasi saya untuk membaca buku Rethinking Education-nya Gang untuk memperluas wawasan --meski berkedok sebagai tugas pengganti praktikum. Karena memang, kalau tidak dipaksa ya seringnya nggak baca Alhamdulillah. J

Saya optimis bahwa kesadaran manusia akan Al-Qur’an sebagai ‘buku’ ilmu pengetahuan semakin meluas. Hari ini kita memiliki dr. Zakir Naik yang mempermudah orang awam seperti saya menelaah IPTEK dari Al-Qur’an dengan cara stand by memegang mushaf sambil menonton video beliau menyebut daftar referensi pengetahuan dari surat Al-Qur’an lengkap dengan ayatnya. Kita juga punya Ustadz Abdullah Gymnastiar, yang diam-diam membuka mata saya betapa urusan tauhid sampai pada hal-hal terkecil dalam kehidupan seperti kuku atau kulit rambutan. Betapa setiap sel yang hidup berada di bawah kekuasaan Allah. Lalu ada Syaikh Fahad Al-Kandari, yang lagi-lagi membantu melihat betapa kita tidak sendirian; bahwa Al-Qur’an sungguh sebenar-benar mukjizat dan dipelajari banyak orang. In syaAllah.

Dalam bukunya halaman 7, Gang menuliskan ini:

“Shalom” comes from the root word “shalem” which means wholeness or completeness. It is used to greet and to say farewell to a friend. It means peace. Shalom is the beginning and the end for the peace that lies within. You cannot have peace without “wholeness.”

Yak, sedikit lagi!

Assalamu’alaikum. Salam. Ialah ajaran Rasulullah Muhammad SAW yang sangat mulia: mendoakan kedamaian dan keselamatan antar saudara seiman. Sedikit lagi, semua konsep ini memang mengarah kesana. Mengarah pada Islam yang kaffah. Dan saya yakin, ia tengah menuju kesana. Jadi ayo belajar, longlife learner!

 18 Ramadhan 1437 H



Kelas Tahfidz di Masjid Ulil Albab MAN Insan Cendekia Serpong

Friday, December 25, 2015

Halal Awareness for Children

Halal has become the lifestyle in the world. For Muslim consumers, halal product means that the products has met the requirements laid down by the Islamic shariah law. As the Muslim populations increasing throughout the world, the awareness on consuming Halal also goes in the same parallel trend. Halal is not only covering food consumption, but also for non-food products such as cosmetics, toiletries, pharmaceuticals, leather products, perfume and fragrances, brushes and so on. The services such as banking, entertainment, tourism, and logistic are also related to Halal requirements (Rahim, 2013).

It is important for muslim to know about halal and why it matters their life. Especially about food, Allah SWT said in Quran surah Al-Baqarah: 172 "O you who believed, eat from the good things which We have provided for you and be grateful to Allah if it is [indeed] Him that you worship." and Al-Baqarah: 173 "He has only forbidden to you dead animals, blood, the flesh of wine, and that which has been dedicated to other than Allah. But whoever is forced [by necessary] neither desiring [it] nor transgressing ]its limit]. there is no sin upon him. Indeed, Allah is forgiving and merciful."  Both show that Halal education is needed especially for muslim as consumers.

The best period to educate is in children era.  Children period of human is the most appropriate time for somebody to get education includes halal awareness. It should be given by parents for children as it is a crucial thing for us as muslim. This following five points will show you how to build halal awareness among children:

1. Show them. Show them that you’re aware before you tell them what awareness is. Children are good imitators. Many people failed because they used to tell their children without even show them how. Start with simple things such as read ingredients and make sure about halal logo in your food packaging, or make conversation about halal with your spouse -for the example. Let your children see.

2. Let and teach. Sometimes, it is important for children to make a decision by their self. Bring your children in shopping time, and ask them to help you choose a product. Whether they choose the ‘halal’ one, appreciate it. “Alhamdulillah, thank you for choosing me the halal one, Honey.” But when they choose the non halal one, or product with no halal logo, that’s a right time to tell them. Say something good and correct it, “Alhamdulillah, thank you for helping me, Dear. But this one has no halal logo. How if we choose another?” -and don't forget to smile.

3. Make dua. Dua is our weapon as muslim. Start every single thing with dua. We know that we can’t ensure the halalness for every product. For the example, we eat fried chicken in a restaurant, We don't know; is it halal? is it slaughtered properly based on syariah? Then, dua completes our effort. Dua is an indicator that we’ve tried our best and we act tawakkal as Allah commands us in the Quran. Involved your children in dua activity, build the sense of tauhid in all of their activity. Later, this simple thing will significantly affect their future. InshaaAllah.

4. Right and Obligation. Help your children to learn moral reasoning about halal. Children usually questioning everything. Why we can't eat those things? why we have to aware about halal? why. why, why. Specifically, they usually ask ‘why’ for every single thing. Do not ever feel too lazy to answer their question. Remember that you're helping them to build awareness. Use creative ways to tell about right and obligation as a muslim, and show the beauty of Islam :) One more thing, remember to use concrete explanation. Make it easy for them to understand.

5. Story. Story telling is a great choice to educate children and raising their halal awareness. It elaborates audio, visual, and also kinesthetic. You can make your own story, or search it on the internet. In addition, it is also important for you to tell them about sirah nabawiyah and another islamic story especially that linked into halal.

         

Well done, happy raising awareness! :)

Rahim NF, Shafii Z, Shahwan S. 2013. Awareness and perception of muslim consumers on non-food halal product. Journal of Social and Development Sciences 4:478-487.

  Rizky Sahla Tasqiya, student of Family and Consumer Sciences
Halal Product Management | Syariah Economy | Bogor Agricultural University

Sunday, September 7, 2014

Kalau ada yang baik, kenapa harus yang buruk?

Masih hangat dalam benak saya, tentang pemilihan presiden 9 Juli 2014 lalu yang menggoreskan warna tersendiri dalam sejarah per-politikan Indonesia. Saya tidak habis fikir, bagaimana kelak buku pelajaran sejarah akan jadi begitu menakjubkannya di masa depan. Seiring berjalannya waktu, tentu manusia akan semakin banyak mengukir sejarah. Bukan begitu? tapi kali ini saya tidak hendak membahas tentang pemilu atau persoalan pemerintahan yang bahkan Ummi saya sudah komentar melulu tentang ini. "Capek deh nonton berita. Negara kok jadi main-mainan," begitu ujar Ummi sambil mengganti channel TV siang tadi.

Ummi bilang, pemberitaan sudah tidak tertata rapi. Kriminalias diberitakan lengkap  dengan tutorial pembunuhan, atau tata cara penyelundupan barang terlarang. Kekerasan pada anak digembar-gemborkan media. Diusut terus-terusan. Padahal kalau kita berfikir jernih, ada banyak hal yang harus masyarakat ketahui. Bukankah lebih baik meletakkan proporsi yang berimbang, sesuai, dan mengedukasi? 

Di penghujung tahun 2014, atmosfer AFTA (Asean Free Trade Area) semakin terasa. Apalagi di kalangan mahasiswa atau pekerja, yang diprediksi akan lebih terkena dampaknya. Saya jadi menerka, bagaimana jika transaksi antar negara kelak dapat dilakukan dengan begitu mudahnya di kawasan Asean? Bagaimana jika wilayah-wilayah perbatasan Indonesia semakin bebas pergi ke negara sebelah? atau bahkan tenaga kerja asing kelak menguasai wilayah mereka. Lalu bagaimana dengan perilaku konsumtif remaja sekarang? yang bukannya mencari manfaat, tapi justru membeli produk berdasarkan brand semata. Bagaimana jika produk dalam negeri kalah bersaing bahkan di tanahnya sendiri?

Sejak duduk di bangku kuliah, saya semakin menyadari betapa Indonesia sebenarnya sangat potensial. Tidak hanya itu, semakin kesini, perhatian akan negeri di kalangan kaum muda semakin terlihat. (Atau mungkin karena memang usia saya yang sekarang termasuk 'kaum muda' jadi lebih dekat dengan isu-isu seperti ini?) Dalam hal produksi barang maupun jasa, tidak sedikit inovasi pemuda indonesia yang mampu berkecimpung hingga ranah internasional. Sebut saja AgrisocioIndonesia Medika, hingga PT Kelola Mina Laut yang diakui negara asing, namun sayang masih banyak yang belum mengetahuinya di negara sendiri. Kebanyakan hanya dikenal oleh kalangan menengah ke atas atau akademisi.

Menurut saya, disinilah peran media seharusnya. Jika media-media khususnya televisi kerap memberitakan hal-hal yang negatif, tidak heran jika yang hadir dalam benak masyarakat bukanlah kecintaan pada negeri, melainkan kejenuhan hati. Maka tidak aneh jika produk dalam negeri masih kalah bersaing meski di tanah sendiri. Padahal menurut saya, banyak dari produk dalam negeri yang mengungguli produk asing, Hanya saja keterbatasan pengetahuan masyarakat akan produk tersebut yang menjadi kendala. Jangan katakan antara berita kriminal -misalnya- tidak berkaitan dengan penjualan produk. loh, ya :) sadar atau tidak, setiap informasi yang masuk akan tercerna dalam kepala kita.

Jadi ada baiknya jika media-media kita juga memberitakan tentang hal-hal positif. Tentang PIMNas yang diadakan dalam jangka tahunan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), tentang pelajar-pelajar Indonesia yang meraih prestasi baik dalam maupun luar negeri seperti medali perunggu IGeo tahun ini yang diraih seorang siswi tanah air, tentang upaya kaum muda yang bertujuan mulia demi kemaslahatan ibu pertiwi; Sahabat Pulau misalnya. Banyak pula produk inovasi-kreatif karya anak bangsa yang tidak sedikit lahir dari program PIMNas tersebut.

Kepercayaan bukanlah produk yang instant. Tidak serta-merta bisa hadir dalam waktu tiga puluh menit penyuluhan, apalagi sekian detik nasihat numpang lewat. Jika hubungan antara dua insan saja membutuhkan kepercayaan, terlebih dalam suatu negara yang mengikat berjuta-juta manusia. Jika kabar-kabar positif lebih tinggi lagi frekuensinya, saya yakin kepercayaan masyarakat akan lebih terpupuk. Tapi bukan berarti pencitraan loh, ya. :)

Seribu sayang, kata orang, seiring bertambahnya nominal usia, semakin menua kita, idealisme akan semakin langka. Mungkin itu sebab, media kini hanya jadi sarana komersial demi meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan esensi-filosofi kehadiran media itu sendiri. Tapi tidak apa, itu kan hanya katanya. Jika memang media televisi sana belum mampu kita jamah, biar jari-jari ini yang bicara, Biar tekun kita yang menjadi responnya. Biar kita tularkan semangat positif seluas-luasnya. Semoga.

Selamat menyambut AFTA. Selamat menjadi produsen-konsumen yang cerdas! :)

Penugasan Mata Kuliah Perilaku Konsumen, 1436 H
Rizky Sahla Tasqiya