Showing posts with label instagram. Show all posts
Showing posts with label instagram. Show all posts

Wednesday, April 20, 2016

Yang Baik yang Dijatuh-cintai


Manusia mudah jatuh cinta pada seseorang yang berbuat baik pada dirinya. Bukankah itu sudah jadi rahasia umum?

Seberapa pun disangkal, tapi itulah kenyataannya. Kita selalu memiliki rasa bahagia ketika dipedulikan, ketika diperhatikan, ketika diistimewakan.

Anehnya, tidak sedikit manusia yang tidak menyadari kebaikan paling hakiki. Rasanya kok jatuh cinta kepada-Nya seakan butuh usaha lebih. Abstrak, begitu kata sebagian orang.

Padahal ekspresi cinta-Nya sudah jelas lagi nyata. Kasih sayang apa adanya, tanpa pencitraan, tulus, melimpah, semerbak, memberdayakan, dan tentu saja: romantis. "Dan rahasiakanlah perkataanmu atau nyatakanlah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati" (Al Mulk: 13)

Dia bahkan mempersilakan kita curhat sepuasnya. Boleh dalam diam, boleh dilisankan. Suka-suka kita. Sementara Dia selalu tahu. Selalu mengerti.

Bukanlah mata yang buta, melainkan hati. Maka pengelihatan yang sejati terletak di hati. Cukup jeli kah hati kita menangkap sinyal kebaikan dari-Nya? Adakah kesadaran dari kita, betapa Dia sungguh-sungguh cinta?

***

Sementara kadang diri kita sangsi. Adakah hati menyimpan cinta untuk-Nya?

Lalu ketika rindu melanda, baru terasa. Oh, mungkin ini namanya memang cinta.

Kemudian akal kembali bertanya, "Sungguh? jangan-jangan cuma rindu dan cinta jika ada maunya saja, jika sedang terdesak dunia!"

"Jika hambaKu bertanya tentang Aku, maka katakanlah bahwa sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa siapa yang berdoa kepadaKu"

Maka saatnya kita berdoa, "Ya Allah, jatuhkanlah cinta kami kepadaMu saja. Jadikan hati kami menjadi hati yang selalu merinduMu."

Jaminan


Jadi ajak aku berlari. Paksa aku mempercepat langkah. Jangan sampai kamu cukup tega membiarkan aku santai berlama-lama di satu titik, sementara kita adalah musafir sejati.

"Kita tidak pernah mendapat jaminan apa-apa," ujarmu pada suatu hari, "selain kepastian bahwa Dia Maha Menepati Janji."

#istiqlal #mosque #run #children

Saturday, March 19, 2016

Tanya, Kenapa?


"Ummi, kenapa kita tidak boleh makan dan minum pakai tangan kiri?" Amira menyergap ibunya dari belakang.

"Karena yang Rasulullah contohkan, adalah dengan menggunakan tangan kanan, Sayang,"

"Loh kok Ummi jawabnya gitu. Kalau itu sih Amira juga tahu, Mi. Kenapa kita harus shalat, kenapa kita harus berzakat, ya karena Rasulullah mengajarkannya seperti itu," komentar Amira kecewa.

"Anak Ummi semakin cerdas ya shalihah. Lalu Amira maunya jawaban yang seperti apa?"

"Yang keren-keren, Ummii.. seperti.. kenapa kita nggak boleh makan daging babi? karena hewan itu banyak penyakitnya dan ga baik untuk kesehatan," Amira bertolak pinggang. Lalu tubuhnya diangkat oleh sang ibu.

"Dengarkan Ummi ya.. begini. Alasan kenapa kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu, itu karena Allah saja. Karena sunnah Rasulullah," perempuan itu mencium pipi anaknya, "Kalau soal alasan yang Amira bilang keren, itu sih semata hikmah dari syariatnya Allah," mendengar uraian ibunya, Amira geleng kepala tanda tidak mengerti.

"Gimana sih Mi maksudnya?" dahinya mengkerut.

"Hihi, pokoknya, Ummi mau Amira menjalani hidup berlandaskan ibadah sama Allah. Bukan dengan logika semata,"

"Logika itu apa, Mi?" mendengar pertanyaan polos Amira, yang ditanyai tersenyum seraya memeluk buah hatinya.

"Kita tunggu Abi pulang ya. Nanti tanya Abi sama-sama Ummi," Perempuan itu tertawa kecil lantas mencium pipi Amira.

"Yaaah Ummiii...."

__________________

Betapa banyak dari kita yang hari ini lupa, lantas asyik mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu tanpa sadar menghadirkan penyimpangan-penyimpangan yang bertuhankan logika.

Padahal alasan paling jelas mengapa kita shalat, mengapa kita zakat, mengapa kita puasa, atau mengapa2 yang lain, bukan karena untuk menjaga kesehatan, bukan karena untuk menjaga kestabilan ekonomi. Bukan, melainkan karena Allah mensyariatkan demikian.

Kalau IPTEK yang jadi kiblatnya secara mutlak, tidak heran besok lusa bisa saja shalat diganti yoga atau meditasi. Naudzubillahi min dzaalik.

Bedakan antara alasan dengan hikmah ya Bung, Non.

Allahu a'lam.

Tuesday, February 16, 2016

Namaku Multazam


Namaku Multazam. Entah inspirasi darimana Amak dan Abah menamaiku demikian. Tapi kata orang-orang, namaku itu keren. Sebab adalah nama salah satu tempat dimana doa-doa kepada Tuhan diijabah. Dimana? aku juga tidak tahu. Lagipula aku tidak terlalu peduli.

Namaku Multazam. Hari ini aku berdiri di jembatan jalan ibu kota. Bukan, aku bukan tengah mencari kerja seperti orang-orang perantauan lainnya. Lagipula aku bisa dapat kerja apa? paling-paling hanya jadi tukang serabutan, atau pemulung jalanan. Wong sarjana saja susah, apalagi cuma bekal ijazah SMA.

Namaku Multazam. Aku manusia biasa, bahkan cenderung tidak berguna. Aku juga tidak mengerti apa sisi baik dari diriku. Mungkin nyaris tidak ada. Di kampung hidup susah, di kota makin tak berdaya. Heran, kenapa ya kira-kira Tuhan tega menjadikanku ada?

Namaku Multazam. Hari ini aku berdiri di jembatan ibu kota. Bukan mencari pekerjaan, aku hendak mengakhiri peradaban. Ya, tepat sekali. Bunuh diri. Kupastikan semuanya aman. Mulai dari kartu identitas sampai seperangkat barang bekas. Tidak ada yang aku bawa. Biar saja nanti jasadku tidak ada yang mengenal. Paling-paling hanya masuk berita TV sebentar. Atau bahkan cuma numpang lewat di koran ibu kota.

Hei, tapi... Tapi namaku Multazam.

Katanya identik dengan tempat berdoa yang diijabah Tuhan.
Masa iya seorang Multazam tidak percaya doa dan hendak mengakhiri kehidupan?

Ya, tapi..
Tapi namaku Multazam.

Namaku Multazam.

Namaku Multazam.

Namaku Multazam.

Dan detik ini aku berkecamuk tak karuan.


** Multazam adalah bagian dinding Kabah antara hajar aswad dan pintu Kabah.


Thursday, February 11, 2016

Mbah Mukhtar: LGBT

Edisi Mbah Mukhtar: LGBT


"Mbah, kalau yang LGBT, kriteria jodohnya gimana?" aku garuk-garuk kepala. Isu tentang LGBT kian santer, sementara belum lama Mbah ku ini bilang kalau cari jodoh harus yang cantik dan sadar bahwa dirinya cantik. Dan untuk demikian, aku pun harus jadi tampan dan sadar bahwa diriku tampan. Lah kalau sukanya sesama jenis, jodohnya piye?

"Le, Le, ya sama aja toh kriterianya. LGBT itu kan penyakit. Kalo jodoh mah urusan gusti Allah. Tuhanmu itu ndak pernah toh jodohin laki-laki sama laki-laki?" Mbah Mukhtar mengerutkan alisnya.

"Perempuan sama perempuan juga nggak pernah, Mbah, hehe..." kali ini aku yang terkekeh. Biasanya Mbah Mukhtar yang melakukannya di sela-sela perbincangan kami. Lelaki peradaban itu lantas menyeruput kopi di hadapannya.

"Kamu ndak LGBT kan, Le?" Mbah Mukhtar menatapku dengan mata tajamnya. Aku tertawa lagi.

"Maaf ya Mbah, cucumu ini LGBT. Laki-laki Gagah Banyak Tilawah. Hha"

"Hahahaha ada-ada saja kamu ini to, Lee! kalau yang itu ndak bisa ditolak," lalu Mbah Mukhtar ikut tertawa. Menyapu udara. Aku mengangkat alis sambil memamerkan gigi.

Untuk urusan apapun termasuk ini,
jangan sampai lisan kita lebih banyak mencaci daripada mendoakan untuk kebaikan.
Jangan sampai, jangan sampai, berupaya menumpas kemungkaran sambil mengundang murka untuk diri kita sendiri.

Mari angkat senjata (baca: doa). #LGBT

Friday, January 22, 2016

Kecewa

"Kamu pernah kecewa?"
"Tidak,"
"Benarkah?"
"Aku tidak pernah kecewa atas prasangka baik kepada Rabb-ku."
"Pada manusia?"
"Manusia? apa istimewanya manusia, ketika hakikatnya ia hanyalah cara Allah mendidik hamba-Nya?"
"Termasuk dirimu sendiri?"
"Ya, tentu. Hei, kamu tahu sesuatu?"
"Apa?"
"Sahabat nabi Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa ia telah mengalami berbagai jenis kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia. Kamu tahu kenapa?"
"Hmm.. kenapa?"
"Harapan pada selain Allah hanya akan berujung kecewa. Sudah terbukti, dan sayangnya terus-terusan terulang dalam sejarah peradaban manusia. Kadang-kadang, aku termasuk di dalamnya."
"Jadi, kamu pernah kecewa?"
"Pernah, ketika aku lupa ada Dia Yang Maha Mengatur."
"Maksudmu?"
"Kecewa hanya memiliki eksistensi ketika fikir kita tidak fokus pada Allah. Hidup ini bermuara pada-Nya. Dan kepada-Nya, bagaimana bisa aku kecewa, jika ketika kuminta satu nikmat, Ia justru menghujaniku jutaan --bahkan tak hingga?"


Wednesday, January 13, 2016

Istikharah


"Lo kenapa lagi Bro?"

"Hehe lagi bingung nih gw, menurut lo minggu depan baiknya gw ikut bokap ke Bandung, atau bantuin ade gw berangkat ke Semarang?"

"Ya elah kirain kenapa. Istikharah aja ntar malem,"

"Et lo pikir gw lagi bingung nentuin jodoh apa, pake istikharah segala."

"Emang lo kira istikharah soal jodoh doang?"

"Ya maksud gw, ini mah ga terlalu penting kaya urusan jodoh atau milih jurusan kuliah misalnya."

"Tapi kan lo mau memilih. Sombong amat kita manusia, masa minta petunjuk ogah2an."

"Kenapa serius amat sih lo? makin bijak aja."

"Serius. Lo tau ga, belom lama si Budi cerita kalau ibunya itu, mikir besok masak apa, beliau pake shalat istikharah. Gw sampe geleng-geleng kepala dengernya."

"Laah tiap hari istikharah dong?"

"Iya, si Budi pas nanya ibunya, beliau jawab kalau hidup itu pilihan. Jadi setiap malam usahakan istikharah, minta petunjuk sama Allah. Edan kan, bayangin kita ini apaan. Jangankan shalat istikharah, sekedar nanya dalam hati aja jarang... Eh itu gw sih, gatau lo gimana."

"...."

"Gw jadi introspeksi denger cerita si Budi. Selama ini gw seenaknya aja mutusin apa-apa, pantesan suka nyesel sama pilihan sendiri."

"Duh, gw jadi merasa disindir. Yaudah gw istikharah lah in syaAllah."

"Hehe, siiip, semoga setiap pilihan kita dapet ridho dari Allah."

"Aamiin. Mungkin gw juga harus nanya ke Allah, baiknya temenan sama lo apa enggak, haha."

#window #light #istikharah #hijrah
Photo by @naunaufi

Wednesday, December 23, 2015

Sederhana


Aku ingin membahagiakanmu dengan sederhana.
Sesederhana canda di sela-sela padatnya hari kita,
Sesederhana pengaminan atas panjat doa yang kita saling pinta

Aku ingin menjadi kawanmu dengan sederhana. Sederhana saja.
Sesederhana mendukungmu untuk terus maju, melangkah, dan tidak berhenti sampai disana
Sesederhana mendengarkanmu berbagi cerita, atau menanyakan kabarmu secara tiba-tiba

Aku ingin menjadi bagian dari episodemu dengan sederhana.
Sesederhana jumpa atau sapa kita yang tidak direncana
Sesederhana senyum, tangis, dan tawa yang entah maknanya apa

Entah siapa yang akan meninggalkan siapa,

Kalau nanti tidak kau temui aku di syurga,
kumohon kesediaanmu untuk memanggil namaku -kelak dihadapan-Nya..

Aku ingin membahagiakanmu dengan sederhana.
Tapi faktanya, sampai kapanpun aku takkan kuasa.

Bahagiamu jelas-jelas karenaNya.
Pun bahagiaku, ia juga milikNya.

Kita ini cuma hamba.



ditulis di Kota Hujan pada hari petang,
ketika rintik menyapa kantin organik

Sunday, December 20, 2015

Pergi

"Mau sampai kapan?" kamu memandangku sinis.

"Kan sudah kubilang, aku menunggu waktu yang tepat," hening sejenak.

"Kamu ini. Kita takkan bisa selamanya bersiap-siap untuk siap," kamu angkat bicara. Aku menghela nafas panjang.

"Jadi bagaimana baiknya?" tanyaku.

"Berhenti menunda-nunda lagi. Tidak perlu takut. Lakukan saja, ciptakan ketepatan waktumu sendiri,"

"..."

"Memangnya kamu mau, terus-terusan menunggu?"

"Maksudmu, aku harus pergi?"

"Kurasa iya," kamu tersenyum, kemudian melanjutkan, "tidak perlu khawatir, Tuhan kita tidak pernah menyia-nyiakan usaha setiap hamba-Nya."

Aku diam. Memandangmu, kemudian kembali menghela nafas --kali ini panjang sekali.

"Doakan aku," ujarku setelahnya.


Wednesday, November 4, 2015

Logika

“Logikamu itu perlu di-upgrade

“Kenapa?” aku memicingkan mata.

“Kamu ini pinter, tapi kenapa logikanya sedangkal itu, sih?” mendengar Kakak sangsi, aku melengos pergi.

“Daripada kamu, Kak. Pinter tapi nggak mau bagi-bagi.” Aku menjulurkan lidah. Kakak yang satu ini memang agak menyebalkan.

“Heh, enak saja. Gini ya Kakak bilangin,” tangannya menarik pundakku mundur, “kalau kamu beranggapan hal kayak gitu nggak masuk akal, berarti akalmu yang perlu di-upgrade

“Secara logika ya Kak, mana mungkin dia bisa seperti itu? Dia dapat keajaiban darimana? Nggak mungkin lah ujug-ujug jadi. Pasti ada sesuatunya.”

“Nah, itu!” Kakak menjitak kepalaku pelan, “nah itu kamu sudah dapat konsepnya. Benar sekali, pasti ada sesuatunya.”

“Apaan sih aku nggak ngerti,” aku menampis tangan Kakak yang masih nyangkut di kepalaku.

“Gini ya Dek, jangan pakai pikiran dangkal. Kamu ini jangan seperti orang yang nggak percaya Tuhan.” Ujarnya menasihati.

“Gini-gini aku anak madrasah, Kak.” Aku menekukkan alis; tidak terima atas pernyataanya barusan.

“Nah, kan. Benar, pasti ada keajaiban dan pasti ada sesuatunya. Jangan sok tahu. Pengetahuanmu tentang logika sudah sejauh mana memangnya?” mendengar pertanyaan Kakak, aku terdiam. “Kalau kamu ini beriman sama Allah, pertanyaanmu itu harusnya nggak akan muncul. Allah kan Mahakuasa atas segala sesuatu. Masukkan konsep itu dalam logikamu, Anak Pintar. Allah Mahakuasa. Berarti hal semacam itu sangat masuk akal. Apa sih yang Allah nggak bisa? Bulan aja bisa terbelah atas izin-Nya. Apalagi persoalan remeh-temeh kayak gini.” Beberapa detik suasana hening.

“Hm.. terus?” aku bergumam pelan.

“Terus ya, memangnya kamu tahu, disana dia berbuat apa saja? Siapa tahu dia sungguh-sungguh meminta sama Allah. Kamu jangan sok tahu. Logikamu nggak sama dengan logikanya Tuhan.”

“Hm.. oke, makasih lah.” Aku menepuk pelan bahunya yang tinggi.

“Haha, dasar bocah!” kepalaku kembali dijitak. Kakakku ini memang keterlaluan kadang-kadang. Tapi aku bersyukur. Diam-diam aku membenarkan perkataannya. Mungkin memang benar, logikaku harus segera di-upgrade.

“Ya, ya. Makasih Kak.” Aku mengangguk-angguk. Tidak mau secara eksplisit mengakui kedangkalan pemikiranku. Agak gengsi -jujur saja.

“Sama-sama,” jawabnya seraya tersenyum.

“Omong-omong, jangan sebut aku Anak Pintar. Kalau Kakak yang bilang, lebih terdengar sebagai sindiran daripada pujian.” Aku tertawa kecil.

“Haha baik. Kakak ganti saja jadi doa ya, Anak Salihah.” Kali ini Kakak membelai kepalaku.



Thursday, October 15, 2015

Gerimis




"Lebih baik hujan besar sekalian, daripada gerimis begini!" kamu menggerutu. Memandangi langit.

"Bukannya kamu sendiri yang bilang, ingin menikmati gerimis dengan sepoi pelan angin di tepi pantai?"

"Itu dulu. Lagipula ini bukan pantai," kamu memandangku galak.

"Dasar sensitif" aku menghela nafas panjang, "berhentilah menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan masa lalu." mendengarnya, kamu memandangku. Sejurus kemudian memalingkan muka.

"Aku tahu aku akan berhenti. Entah kapan."

"Kamu terlalu kaku. Biasa saja. Ikhlaskan, lapangkan, lepaskan. Toh tidak ada lagi yang bisa kita perbuat, kan? Lantas kenapa gerimis yang jadi korbannya?" nada bicaraku meninggi.

"Jangan sok tahu. Aku bukan kaku. Hanya saja aku tidak sekuat kamu. Heh, kamu belajar psikologi, kan?"

"Ya, lalu?"

"Harusnya kamu tahu. Banyak orang yang tertawa pada hal2 bodoh, sejatinya adalah orang yang memendam kesedihan mendalam. Banyak juga orang seperti aku, yang terkesan kaku dan sok kuat, padahal dalamnya rapuh tak karuan." mendengar perkataanmu, aku mengangguk-angguk.

"Kemari, sini aku peluk."

"Heh? Kita kan bukan anak kecil lagi." kamu lantas tertawa.

"Kita ini saudara," kataku seraya memelukmu, "Aku ini belajar psikologi. Aku tahu, kamu butuh dipeluk pada saat begini."

"Edan." kamu kembali memaki. Lalu mulai terisak.

"Berhenti menghubung-hubungkan segala sesuatu dengan masa lalu. Kita hidup hari ini, bukan kemarin." Aku menepuk-nepuk punggungmu pelan.


***

Kamu tidak sekuat itu. Pun tidak serapuh itu. Aku tahu. Bukan karena aku belajar psikologi, tapi karena aku telah mengenalmu dalam hitungan tahun.

Sunday, September 20, 2015

Temu

"Dari sekian banyak manusia yang hidup di bumi, kita lantas bertemu. Tidakkah itu ajaib?" katamu.

"Bukankah itu justru biasa-biasa saja? adalah hal yang sangat masuk akal, jika bumi yang disesaki manusia ini membuat dua diantaranya bertemu," kataku.

Mendengarnya, kamu tertawa.

"Kamu," ujarmu padaku, "kapan berhenti menggunakan logika secara berlebihan?"

"Aku serius. Ajaib itu milik kisah Adam dan Hawa. Bumi tanpa manusia -lalu mereka bertemu. Adapun kita, kalau aku tidak menjumpaimu ataupun sebaliknya, masing-masing kita akan tetap berpapasan dengan manusia lain." mendengarku, kamu geleng-geleng kepala.

"Bukan. Mereka bukan bertemu."

"Tapi?"

"Tapi dipertemukan. Dan kita juga begitu," kali ini senyum simpul menghiasi wajahmu.


Ah, sebenarnya aku tahu isi kepalamu -kadang-kadang. Dari sekian banyak manusia yang ada di bumi, kenapa Tuhan menjadikan kisah kita saling bersinggungan? kenapa kamu dipertemukan denganku, dan juga sebaliknya? Kenapa kamu atau aku tidak bertemu -dalam artian yang lebih sakral- dengan orang lain saja? kenapa akhirnya adalah kita? bukankah Tuhan memiliki skenario? Tidakkah itu ajaib?

Begitu, kan? kamu sejak dulu selalu mampu membuatku kagum. Kalau nanti putri kecil kita lahir, ajarkanlah padanya tentang itu. Bagaimana menjadi perempuan yang pandai mengatur kata-katanya, pandai menjaga lisannya, pandai menggunakan perasaannya, pandai membaca pembelajaran dari Tuhannya. Tenang saja, aku takkan membiarkanmu sendiri. Tentu aku turut serta dalam mendidik ia yang kita cinta. Hanya saja aku tahu, belai tanganmu tentu tak sebanding dengan sentuh kasar milikku.

Ah, sebenarnya aku tahu isi kepalamu -kadang-kadang. Tapi entah bagaimana lisanku memang tidak selihai lisanmu dalam mengungkapkan.

**

Foto diambil dari puncak Sikunir, Dieng, pada Agustus 2015. Tulisan ini terinspirasi dari kisah Bapak di Banjarnegara. Kisah yang kaya akan hikmah dan pelajaran hidup yang menghidupkan. Kami berjumpa dengan beliau tanpa ada unsur kesengajaan pribadi (namun boleh kau katakan ialah kesengajaan Tuhan -skenario Allah Azza wa Jalla- mempertemukan kami dengannya). Mungkin sewaktu-waktu, kisah pelajaran yang dibagikan oleh Bapak akan kami tulis di ruang berbeda. :)

Wednesday, August 26, 2015

Siang Kita

Siang kita tidak pernah terik. Selalu begini. Hangat ditemani embusan udara menerpa wajah. Kamu ingat?

"Ini tempat kita biasa bermain, bukan?"

"Ya, lapangan roket!"

"Kamu pernah diseruduk kerbau disini. Aku ingat betul, haha."

"Setelah itu giliran kamu."

"Ya, habis menertawaimu aku jatuh tersandung batu."

"Lalu kita menangis bersama."

"Disusul tawa bodoh setelahnya." jawabku sambil terkekeh.

"Terimakasih, ya."

"Untuk?"

"Untuk menjadi sahabat, saudara, bahkan keluarga bagiku" jawabmu sambil tersenyum tipis.

"Tidak perlu terimakasih. Manusia memang diciptakan untuk itu." Aku merangkul pundakmu. Membiarkan memori masa kecil kita terbawa lagi.

"Ya, kamu benar." kau tertawa kecil. Tidak berubah sejak bertahun-tahun aku mengenalmu.

Siang kita tidak pernah terik. Selalu begini. Hangat ditemani embusan udara menerpa wajah.

Kamu ingat? :)


Foto diambil di lapangan desa #glempang #banjarnegara #indonesia#igtf #2015 #tree

Kepastian



"Katanya, perempuan itu makhluk kepastian." ujarku seraya menyeruput teh panas pagi ini.

"Kata siapa?" sosok disampingku menoleh.

"Ya, paling tidak itu yang suka aku dengar. Memangnya salah?"

"Tidak juga. Tapi kau lupa, mereka juga makhluk yang sulit untuk percaya."

"Maksud Ayah?"

"Bukankah kamu tahu sendiri, adik perempuanmu selalu sibuk bertanya berkali-kali, kan? Bukan mengoreksi kebenaran, tapi ia butuh diyakinkan."

"Ayah bicara soal pakaian? dia memang begitu kalau membeli baju."

"Hha, bukan itu maksudku. Tapi kalaupun demikian, hal remeh semacam itu saja perempuan butuh diyakinkan. Apalagi persoalan semacam ini."

"Termasuk orang itu?"

"Ya, bisa jadi."

"Apa aku kurang membuatnya yakin?"

"Menurutmu?"

"Entahlah. Kurasa perempuan juga makhluk yang membutuhkan waktu lebih untuk percaya." Mendengar ucapanku, Ayah mengangguk-angguk sambil tersenyum.

"Kau benar. Seperti ibumu itu, yang meski anaknya sudah sebesar kau, dia masih juga menganggapmu anak kecil." Lelaki setengah abad itu terkekeh.

"Mungkin itu juga yang membuat ibu melihatmu sebagai pemuda hingga hari ini, Yah." ujarku sambil memandangi beliau takzim.

#dieng #java #indonesia

Wednesday, July 15, 2015

Tentang Hati

"Kedekatan hati itu tidak rumit, Nak. Kalau dua hati sama-sama terkoneksi dengan Allah, mereka akan senantiasa menemukan cara untuk saling menyapa meski tanpa kata. Mereka akan selalu menemukan cara untuk bertukar kabar meski tanpa jumpa. Kalau dua hati sama-sama terkoneksi dengan Allah, maka tidak perlu lah saling kenal sejak lama, janjian ketemuan, atau hal remeh-temeh semacam itu jadi syarat atas kedekatannya. Mereka akan jadi dekat oleh sebab iman dalam hatinya."

"Ummi sama Tante Zahra dulu begitu? dekat karena Allah?"

"Iya. Ummi sama Tante Zahra bahkan nggak pernah satu almamater. Dulu Ummi pertama kali ketemu Tante di halte bis. Tahu-tahu orangnya ramah sekali."

"Ummi sama Ustadzah Firda juga begitu?"

"Iya, Sayang. Ummi dekat dengan beliau sejak pertama kali sampai ke kota ini. Beliau tetangga pertama yang mengetuk pintu rumah sambil bawain kue buatannya."

"Terus mana bagian imannya, Mi?"

"Orang-orang yang dalam hatinya punya iman, akan dekat dengan sendirinya. Ada ikatan persaudaraan sebagai sesama muslim. Ukhuwah namanya." jawab perempuan yang sedari tadi disapa Ummi itu sambil mengaitkan kedua kelingking tangannya.

"Ummi?"

"Ya?"

"Ummi sama Abi juga begitu?" pertanyaan anaknya kali ini mengundang tawa kecil. 

"Iya Amira sayang. Nanti Amira akan mengerti. Sekarang yang penting kuatkan iman Amira. Iman itu dikuatkan dengan selalu ingat sama Allah. Mulai dari Amira bangun tidur, ingat bahwa Allah yang membangunkan. Amira mandi melihat air, bersyukur Allah beri kesempatan bertemu air. Begitu terus sampai Amira tidur lagi, ingat bahwa hari ini Allah sudah baik sekali mengizinkan Amira bermain, pergi sekolah, mengaji, bertemu teman-teman. In syaAllah dengan iman yang ada, kita akan bertemu orang-orang baik yang juga beriman sama Allah." jawab perempuan itu sambil tersenyum. Anaknya mengangguk-angguk (seakan) mengerti.

"Ummi sama Amira pasti juga begitu," gadis kecil itu mengaitkan kedua kelingking tangannya, kemudian melanjutkan, "Amira dekat dengan Ummi karena kita berdua beriman sama Allah." lantas memperlihatkan gigi-giginya yang berbaris rapi. Perempuan yang sedari tadi disapa Ummi kemudian menyeka kedua sudut matanya.