Showing posts with label theysaid. Show all posts
Showing posts with label theysaid. Show all posts

Tuesday, January 19, 2016

Kawan,

Postingan kali ini adalah titipan seseorang yang pada suatu hari berkata, "Riz, boleh ikut nulis dan jadi kontributor di blogmu nggak?" Saya juga nggak tahu dia nulis surat ini buat siapa. Hhe :) semoga pesannya sampai.

**

Apa kabar, kawan? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Mungkin beberapa diantara kita masing sering bertemu secara tidak langsung sehari-hari, atau bahkan mungkin sengaja ingin bertemu. Semoga engkau masih mencintai Allah, yang membuat lancar jalanmu menjalani semester ini.

Kawan, saat ini kita telah sampai dipenghujung semester. Kita sama-sama tidak tahu, apa yang akan terjadi pada nilai kita, atau bahkan diri kita sendiri. Selama satu semester ini, engkau telah menghabiskan banyak waktu denganku, kuucapkan terimakasih karenanya. Selama satu semester ini, engkau telah banyak membantuku, atas izinnya, kuucapkan terimakasih karenanya. Selama satu semester ini, engkau telah banyak berperan dalam hidupku, mengubahku menjadi lebih dewasa, lebih baik. Kuucapkan terimakasih karenanya. Namun aku rasa semua itu tidak akan cukup dengan kata terimakasih. Maka izinkan aku untuk memberimu sesuatu yang tidak akan diberikan oleh orang yang tidak menyayangimu.

Kawan, tidak lama lagi kita akan pulang ke rumah masing-masing. Walau mungkin ada diantara engkau yang tidak dapat bertemu keluarga tercinta, entah atas dasar alasan apapun, kuucapkan selamat, karena mungkin semua itu tidak akan berlangsung lama. Manfaatkan waktumu dirumah, kawan. Jika perlu, matikan semua jaringan komunikasi, sehingga hanya keluargamu yang kau perhatikan saat itu. Kau tau apa yang mungkin akan dikatakan ibu atau ayahmu ketika kau tidak bisa pulang kemarin? Mungkin mereka akan bertanya, sibuk kah engkau nak? Dan jawabanmu adalah iya, aku sibuk bunda, aku sibuk ayah. Sabarlah menantiku pulang. Kawan, sejujurnya engkau baru saja membuat suatu penekanan pada diri orang tuamu bahwa anaknya adalah orang sibuk, yang mereka perlu sangat bangga padamu, karena kau mungkin tengah membela hak saudaramu di kampus. Aku bangga mendengarnya, namun orang tuamu mungkin tidak. Berpikirlah tentang hal ini.

Kawan, tidak lama lagi, kita akan mendapatkan hasil evaluasi kerja keras kita semester ini. Mungkin ada diantara kita yang sangat bangga karenanya, atau bahkan menjunjung tinggi Kartu Hasil Studi dihadapan keluarga. Tapi mungkin ada diantara kita yang berharap tidak ada satupun keluarga yang bertanya tentang hasilmu. Mungkin itu aku. Maka jika engkau mendapatkan hasil yang memuaskan, aku akan turut senang mendengarnya; walau mungkin dibalik handphoneku, ada tetesan air tak terduga. Kawan, jika itu engkau yang mendapatkan hasil terbaik, kuharap engkau tidak akan melupakanNya, yang telah menjadi superhero kita sejauh ini. Kita sudah cukup jauh dibawanya terbang tinggi, maka janganlah engkau melupakanNya, yang akan membuatnya melepaskanmu dari pelukan terhangatNya. Allah, iya itu Dia. Superhero kita.

Namun, bagi engkau yang tak diduga memiliki perasaan yang sama denganku, jangan pernah mengalihkan wajahmu dariNya; dari Dia yang selalu mencintai kita. Kau tau apa bukti cintaNya padamu? Salah satu adalah ujian yang tengah kita hadapi, yakni nilai yang kurang memuaskan bagi kita. Tapi jangan salah, ujian ini jauh lebih ringan daripada mendapat hasil sempurna. Mengapa? Karena teman-teman kita yang mendapatkannya, akan lebih mudah melupakanNya, akan lebih mudah menganggap Allah bukan superhero kita. Maka seperti apapun hasilmu nanti, jangan berikan pujian terbaik atas hasil sempurna yang diraihnya, cukup kau doakan agar ia tak melupakan superhero kita, sehingga kita bisa melangkah maju bersama, menggapai peringkat tertinggiNya.

Maafkan aku kawan, atas sekian banyak kesalahanku sejauh ini. Maafkan aku kawan, mungkin curahan hati ini terlalu tercurahkan. Maafkan aku kawan, mungkin aku bukan kawan yang baik untukmu. Karena hanya superhero kita yang akan menjadi teman terbaikmu. Terbaik.

Demikian kawan, kini saatnya aku melepas untuk terbang jauh mengarungi lautan cintaNya. Terimakasih telah menjadi pengingatku untuk selalu mengingatkanku akan superhero kita. Terimakasih.

Ku nanti engkau di lapangan rektorat, awal tahun 2019 nanti. Ku nanti senyum terlebarmu saat itu, beserta toga dan ijazah hasil perjalananmu bersama superhero kita. Ku nanti hari berbahagiamu. Ku nanti, meeting terbaik kita di surga milik superhero kita.

Ditulis oleh TBMS,
Januari 2016

Saturday, January 2, 2016

Tuhan, Harap Maklumi Kami

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatr jadwal untuk menghadap-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk, jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajid, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa Nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat wajib saja seringkali terlupa.

Tuhan, maafkan kami, kekayaan kami belumlah seberapa, kami masih perlu banyak menabung, sehingga kami tidak bisa menyisihkan sebagian rezeki-Mu untuk memperjuangkan agama-Mu.

Tuhan, maafkan kami, kami tak sempat bersyukur. Jiwa kami begitu rakus. Kami tak kunjung puas dengan nikmat-Mu, sehingga kami kesulitan mencari-cari mana karunia-Mu yang layak kami syukuri.

Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Bahkan kami kesulitan waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami hampir tak ada waktu untuk menari bekal menuju surga-Mu.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail mengambil nyawa kami, karena kaim masih terlalu sibuk.

Tuhan maaf, kami terlalu sibuk. Padahal Engkau memerintahkan kami berwudhu untuk membasuh wajah kami yang telah penat memikirkan dunia. Padahal Engkau meminta kami bertakbir ketika jiwa kami terasa letih menggapai cita. Padahal Engkau perintahkan kami bersujud untuk meregangkan pundak kami yang telah letih memikul amanah.

Tuhan, maaf, selama ini kami terlalu sibuk. Kami terlalu sombong kepada-Mu, seolah kami tak membutuhkan-Mu. Mohon cahayai hati kami, guyur jiwa kami dengan hidayah-Mu. Agar jiwa ini tawadhu' di hadapan-Mu. Agar jiwa kami ikhlas menuruti tuntunan-Mu. Agar diri ini tegar disaat yang lain terlempar. Agar jiwa ini teguh disaat yang lain runtuh.

Tuhan, maaf, selama ini kami merasa sok sibuk. Padahal Engkau lah yang Mahasibuk. Kami seringkali telat menghadap-Mu, padahal Engkau tak pernah sekali pun telat memberi kami makan dan minum setiap hari. Kami seringkali lupa menunaika kewajiban kami pada-Mu, padahal Engkau tak pernah lupa menerbitkan mentari di pagi hari. Kami seringkali lalai mengingat-Mu, padahal Engkau tak pernah sekalipun lalai mempergilirkan siang dan malam. Setiap saat keburukan kami naik disampaikan para malaikat pada-Mu, sementara kebaikan-Mu setiap detik tercurah kepada kami.

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (Makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur..." (QS Al-Baqarah: 255)

ditulis oleh Ahmad Rifa'i Rif'an,
dalam buku "Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk"

Membacanya,
kemudian campur aduk.

Sunday, December 20, 2015

Balada Assalamu'alaikum

Setiap tulisan akan menemukan pembacanya.
(Hilyatul Fadliyah, 2015)

Beberapa bulan belakangan, entah bagaimana saya mendapati sapaan salam melalui orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal. Dari kesemuanya, saya menarik sebuah kesimpulan sederhana: Allah sungguh-sungguh tidak pernah kehabisan cara berbincang dengan hamba-Nya.

Lucu dan menarik sekali –setidaknya bagi saya- ketika kita tengah menghadapi suatu hal entah apakah itu pemahaman, permasalahan, pilihan, atau mungkin ujian, dan kita bertanya serta bercerita pada Allah, lantas tahu-tahu ada mereka (yang tidak tahu darimana asalnya) menyapa dan secara tidak langsung menjawab persoalan. Dalam beberapa hal juga menjadi sarana Allah menguji kesungguhan, keyakinan, dan keimanan.

Salah satunya adalah ketika suatu pagi beberapa hari lalu, saya menerima rentet pesan dari seorang adik yang sekitar empat bulan lalu menyapa saya dengan salam ramahnya. :)

“Kak, tolong nasihati aku,” begitu bunyi penggalan pesan pagi yang ia kirimkan. Membaca kalimat-kalimat setelahnya, membuat saya tersenyum dan takjub pada Allah. Terkait dengan akademik, ia bertanya tentang bagaimana agar bisa memanfaatkan waktu dengan baik, bagaimana bisa mengatasi rasa rendah diri, bagaimana mengatasi perasaan bersalah atas waktu-waktu terlewat yang menurutnya kurang optimal.

Saya jadi ingat dengan salah satu percakapan di masa Aliyah. Suatu ketika ada seorang kawan yang menghampiri saya sambal menangis. Ia bercerita tentang salah satu nilai mata pelajaran yang hasilnya di bawah standar, dan harus diremedial. Waktu itu, saya tengah turun dari tangga asrama. 

“Ririiis.. aku remed kimianya…” pipinya basah. Saya menepuk-nepuk pundaknya dan berusaha mendengarkan dengan baik. 

“Iya, gak apa-apa,” jawab saya sekenanya sambal tersenyum simpul, "semangat yaa," ujar saya lagi. Lantas menarik nafas dalam-dalam. Hhe :D

“Riris gimana? Ga remed ya mesti” ia berkata, masih dengan air mata yang bercucuran. Mendengarnya, saya tertawa.

“Alhamdulillah, remed juga kok” jawab saya.

**

Saya bercita-cita untuk menjadi seorang pendidik, dan tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa cita-cita itu mampu memberikan saya kekuatan semacam ini. Berusaha menjadi ‘orang-orang Alhamdulillah’. Jangan dikira saya tidak sedih, tentu saja saya memiliki perasaan itu. Jangan dikira saya tidak kecewa, tentu saja sebagai manusia, kecewa itu ada. Saya hanya berusaha untuk selalu memiliki prasangka baik kepada Allah. Hei, hidup ini bukan melulu tentang nilai kuantitatif yang mampu dilihat manusia. Saya memiliki keyakinan bahwa apapun yang Allah takdirkan terjadi kepada saya, tidak pernah merugikan saya sedikit pun. Kita hanya perlu lebih jeli melihat segala sesuatu.

Waktu itu saya selalu berfikir bahwa Allah memfasilitasi saya yang ingin menjadi seorang pendidik agar pernah mengalami berbagai macam kondisi. Karena kelak, akan ada lebih banyak kondisi yang dialami oleh mereka yang akan saya didik nantinya. Saya harus mampu memahami dengan baik mereka satu per satu, bukan? Mungkin ini salah satu sarana dari-Nya. Jadi, kenapa tidak kita nikmati saja? Toh mau jungkir-balik pun, apa yang terjadi takkan pernah bisa ditarik lagi. Dan juga, sebenarnya ini sungguh nikmat yang patut disyukuri. Kapan lagi mendapat training gratis? Hhe :)

Lalu untuk kamu yang minta dinasihati, ketahuilah bahwa pesanmu justru menasihati Kakak, Dik. Terimakasih sudah bertanya. Semoga apa yang Kakak tuliskan ini bisa bermanfaat.

1. Makna. Pertama, penting bagi kita untuk memahami makna dari kata ‘belajar’ itu sendiri. Kalau kita memaknai kata 'belajar' hanya seputar kelas, tugas, angka, dan nilai, maka percayalah bahwa kita tidak akan pernah merasa cukup; tidak pernah merasa bersyukur.

2. Hargai Proses. Belajarlah menghargai proses. Berbahagialah atas hasil, seberapa pun itu,  ketika kita tahu bahwa kita telah mengusahakan yang terbaik. Silahkan merasa sedih dan meningkatkan diri, ketika kita menyadari bahwa proses yang kita lalui jauh dari baik. Bawa konsep ini pada doa-doa kita. Mulai meminta dikaruniakan proses yang semerbak alih-alih memohon agar diberi hasil yang menawan. Silahkan minta kedua-duanya. Dia Mahakaya. Tapi jangan lupa maknai setiap pinta kita. Iktiarkan, usahkan. :)

3. Ikhlas. Mengikhlaskan. Apapun yang telah terjadi, takkan pernah mampu kita menarik kembali. Ihlaskan jika ada waktu yang terbuang percuma. Ikhlaskan jika ikhtiar kita dirasa kurang optimal. Ikhlaskan, namun bukan berarti membiarkan. Yang lalu silahkan ambil pelajarannya, sekarang bagian kita adalah melakukan yang terbaik pada titik dimana kita berdiri. Bangkit!

4. Ingat Allah. Benar bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang. Ingat bahwa Allah tidak pernah mewajibkan kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Sama sekali tidak. Tapi Allah, dalam firman-Nya, jelas-jelas melarang setiap hamba untuk berputus asa. Jadi sebenarnya, kita sebagai orang-orang yang mengaku beriman, tidak punya pilihan lain selain berjuang dan terus melaju. Secompang-camping apapun keadaan kita, semiskin apapun daya yang kita punya. Kita tidak punya pilihan. Dan tidak perlu pusing memikirkan hasil, itu murni hak Allah. Tugas kita sesederhana ‘tidak berputus asa’. :)

5. Lihat. See beyond the eyes can see. Banyak manusia yang dapat menggunakan matanya dengan baik, tapi tidak dengan mata hati. Sesungguhnya yang buta bukanlah mata, melainkan hati. Lihat segala apa yang Allah berikan kepada kita menggunakan mata hati. Saksikan kausalitas hidup yang ada, nikmati keindahan dari Dia. Mungkin kita bertemu dengan orang-orang tertentu atas apa yang kita nilai sebagai ujian, mungkin kita mendapatkan kesempatan berbagi atas waktu-waktu yang sempat kita nilai terbuang percuma. Pandai-pandailah menggunakan mata hati.



Terimakasih untuk bertanya,
tidak perlu sungkan-sungkan mengucapkan salam lagi.
Semoga bisa berjumpa kapan-kapan. :) jazakumullahu khairan katsiiran.

Oh iya, terimakasih sudah menjadi salah satu sarana Allah menunjukkan kebesaranNya.
SEMANGAT! yang disinipun mohon doa agar dikuatkan. Karena selalu ada ujian dan tanggung jawab dalam setiap kata yang dilisankan.

Sunday, November 1, 2015

Membersihkan Hati

Hati begitu sensitif. Penjagaannya membutuhkan usaha ekstra. Pekerjaan hati, ia adalah pekerjaan universal. Ingat hadits Rasulullah tentang niat? bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya. Bukankah itu pekerjaan hati?

Dan hati, ia mudah sekali berbolak-balik. Maka kita diajarkan untuk memohon pada Allah, agar hati kita ditetapkan pada agama-Nya. Bahkan ulama terdahulu pun mengatakan, tiada yang lebih membuatnya sibuk kecuali menjaga niat; menjaga hati.


Ustadz Abdullah Gymnasiar dalam salah satu ceramahnya menyampaikan perihal bagaimana membersihkan hati. Adalah sebagai beriikut:

1. Menghujam kesadaran dan tekad, bahwa prioritas hidup adalah ketegakan tauhid di hati. Jangan lakukan apapun yang membuat hati busuk, lakukan apapun yang membuat hati bersih. Semua ada prioritasnya. Penggunaan waktu hanya akan efektif dengan adanya prioritas. Tanpa itu, lewat.

2. Mati-matian luangkan waktu lebih banyak untuk tafakkur membongkar dosa-dosa. Tanya pada orang-orang terdekat yang tahu persis kelakuan kita. Datang kepada guru, para ulama yang bersih hatinya yang tahu kelakukan kita. Persis seperti kita datang ke laboratorium untuk general check up. Luangkan waktu, tenaga, fikiran, biaya. Periksa! Kalau sudah ketemu berbagai penyakit, luangkan waktu, taubat! Harus tahu, mau, dan habis-habisan. Seperti orang yang terkena penyakit kanker, mau di kemoterapi, opname, infus, operasi, apapun. Sesakit apapun, karena mau sembuh. Itulah taubat. Jadi taubat bukan hanya astaghfirullahaladziim, tapi ialah proses kegigihan mencari tahu kekurangan dan benar-benar mohon ampunan.

3. Jauhi maksiat. Kalau sudah mulai mau bersih hati, kita harus mau disiplin. Mata, tidak halal, palingkan. Berteman dengan seseorang yang mengganggu iman, jaga jarak. Makanan tidak halal, shaum. Harus punya kedisiplinan kuat untuk tidak menodai diri kita. Lihat tv, acara tidak baik, matikan. Liat internet, ngerusak, tutup. Harus ada kedisiplinan. Menghisap rokok, membuang waktu, menghabiskan uang, harta, padamkan. Hijrah! semakin baik kekuatan kita menjauhi kemaksiatan dan kesia-siaan, makin cemerlang hati ini.

4. Tingkatkan taat. Shalat tepat waktu, usahakan jamaah di masjid. Shalat shubuh berjamaah itu dinilai shalat sepanjang malam. Malam, tahajud! Dan tidak perlu diumumkan ke siapapun perubahan itu. Baca qur’an, dzikir diperbanyak, sedekahkan apa saja amal saleh. Lihat nanti rasanya. Tiba-tiba makin terbuka hati. Rezeki, makin mudah akan kita rasakan. Kalaupun bukan yang kita harapkan berupa materi, tapi ketenangan, kenyamanan, kelapangan.

5. Yang terakhir adalah, tebarkan manfaat. Dimanapun kita ada, lakukan sesuatu. Apapun. Walaupun hanya menyingirkan duri dari jalan. Lakukan amal saleh dan tanpa pamrih. Setiap kebaikan yang kita lakukan, pasti akan ada balasan dari Allah tanpa harus kita tunggu, tanpa harus kita ingatkan. Lakukan saja. Kalau murni kita lakukan untuk dekat dengan Allah, ingat janji Allah. Dan barang siapa sungguh-sungguh, Allah akan lebih sungguh-sungguh menunjukkan jalannya.

"Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati".

-Rasulullah Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam)-

Asy-Syifa

Friday, October 9, 2015

Syukur dan Sabar pun Butuh Ilmu

Syukur dan Sabar pun Butuh Ilmu

“Mengosongkan gelas adalah salah satu adab penting bagi seorang penuntut ilmu.”

Ustadz Abdullah Gymnasiar pernah mengatakan yang kurang lebih seperti ini: indahnya menjadi hamba yang ahli taubat dan ahli syukur. Keduanya menyeimbangkan. Menentramkan qalbu.

Taubat dan syukur. Ibarat respon yang lahir dari nurani seorang penghamba. Antara raja dan khauf. Antara rasa harap dan merasa takut.

Lain lagi, Amirul Mukminin Umar bin Khattab pernah berkata bahwa jika sabar dan syukur adalah kendaraan, maka ia tak peduli lagi harus mengendarai yang mana.

Sabar dan syukur. Ibarat dua sahabat yang saling memerdekakan. Yang satu menjadi kunci bagi yang lain. Yang satu menjadi nikmat bagi yang lain.

Sungguh benar apa yang diucapkan Rasulullah, bahwa menjadi muslim adalah sebuah keindahan. Ketika diuji ia bersabar, ketika diberi nikmat ia bersyukur.

Maka yang paling menyenangkan adalah ketika definisi karunia serta nikmat dalam hati kita adalah kedekatan dengan Allah. Adalah berkahnya kehidupan kita di bawah ridha Allah. Jika demikian, akan tiada lagi ujian kesusahan yang mencipta derita. Akan tiada lagi uji pujian yang berbuah ujub, sum’ah, pun riya. Yang ada adalah ujian berbuah istighfar. Ujian berbuah taubat. Ujian berbuah penghambaan.
Sayang, manusia tempatnya lupa.

Inilah titik terlemah kita. Lupa untuk apa hidup di dunia. Bahkan ekstremnya, lupa siapa yang mencipta diri kita. Lupa, bahwa apa-apa yang ada saat ini adalah semu dan senda gurau belaka. Kita dibuat derita oleh ujian dunia, dibuat sibuk tuk dipuja dunia fana. Dibuat terlena -lupa untuk membuat diri dikenal oleh segenap penduduk langit disana.  

Kita tempat lupa. Titik terlemah kita –sekaligus karunia.

Fluktuasi yang ada, gejolak yang tercipta, menjadikan sebuah perjuangan terasa indah dan nyata. Jangan buru-buru protes betapa Tuhan kejam menciptakan manusia meski tahu bahwa akan ada banyak yang berlaku dosa. Jangan buru-buru mengatakan betapa Tuhan teramat tega membiarkan kita hidup dalam gunungan pertanyaan yang tak jua kita temui jawaban pastinya.

Toh sebelum ini, bukankah kita sudah pernah ditanyai? Lantas kita menjawab lantang ‘qaalu bala syahidna!’

Sungguh, itulah karunia.

Indahnya proses kita berpulang, berharap jumpa dengan diri-Nya.

Sungguh, itulah kaunia.

Indahnya perjalanan kita harap-harap cemas sebab prasangka baik yang kadang diekori takut oleh dosa yang membukit-menggunung.

Sungguh, itulah karunia.

Maha Besar Allah yang menjadikan kita, manusia, sebagai makhluk yang sempura dengan akal. Tanpa akal, rasa kan jadi hambar. Tanpa akal, tiada lagi taubat, syukur, serta sabar.

Bersyukurlah untuk memiliki syukur. Bertaubatlah atas syukur yang dirasa belum tulus. Bersabarlah, karena kesabaran untuk bertaubat serta bersyukur tidak akan mengantarkan kita kemana-mana kecuali pada kebaikan.


Syukur dan sabar pun ternyata butuh ilmu.

Ditulis di Kota Hujan,
Pada 20 September 2015

Untuk seorang sahabat yang malam ini bertanya. :) Syukur dan sabar pun ternyata butuh ilmu, Sis.

Tuesday, September 8, 2015

Karakter Seperti Apa



Buku kecil berjudul ‘Agar Bidadari Cemburu Padamu’ karya Ustadz Salim A. Fillah ini saya selesaikan di perjalanan pulang menuju Jakarta akhir pekan lalu. Sengaja saya menandai beberapa bagian yang menurut saya –entah mengapa- memang perlu ditandai. :D

Salah satunya adalah bagian ini.

**

Mari kita ingat dua wajah yang kita rindukan, Ash Shiddiq dan Al Faruq. Abu Bakar dan ‘Umar adalah dua sosok yang begitu kontras dalam singsingan fajar ummat Muhammad ini. Kontras dalam fisik dan kontras dalam karakter. Abu Bakar begitu kurus sampai sarungnya selalu mengulur ke bawah dalam shalat meski sudah dibetulkan. Sedang ‘Umar, ia pernah membuat empat makmum jatuh terjengkang karena bersinnya saat memeriksa shaff shalat… Masyaallah!

Imam Muslim meriwayatkan salah satu episode indah tentang perbedaan karakter mereka berdua. Perbedaan yang membuahkan penyikapan lain terhadap para tawanan perang Badar. Tetapi, Subhanallah, dengarlah komentar Rasulullah tentang perbedaan mereka ini:

Sesungguhnya Allah melunakkan hati orang-orang tertentu sampai ada yang lebih lunak dari susu dan Allah mengeraskan hati orang-orang tertentu sampai ada yang lebih keras dari batu. Sesungguhnya engkau wahai Abu Bakar, bak Ibrahim yang berkata:

“Barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya ia termasuk golonganku, dan barangsiapa mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim 36)

Dan juga laksana ‘Isa yang berkata:

“Jika Engkau menyiksa mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka maka sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Maidah 118)

Dan engkau wahai ‘Umar tak ubahnya seperti Musa yang berkata”

“… Wahai Rabb kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka, karena mereka tidak beriman hingga mereka menyaksikan siksa yang pedih.” (Yunus 88)

Dan sebagaimana Nuh yang berkata:     

“Rabbi, jangan biarkan seorang pun di antara orang kafir itu tinggal hidup di bumi!” (Nuh 26)

**

Saya jadi mengingat-ingat dialog yang pernah terjadi antara saya dengan seorang sahabat.

“Enak ya, kalau bisa ketemu Rasulullah. Pingin tanya banyak hal secara langsung.”

“Iyaa, pingin tanya. Dengan aku yang begini, harusnya seperti apa?”

“Hamba macam apa yang jadi sebaik-baik hamba dengan keadaan sekarang…”

Saat itu terbesit dalam benak saya kisah tentang para Ibunda kita, terfokus antara Siti Khadijah dan Bunda Aisyah. Keduanya sama-sama mulia. Sama-sama dicintai oleh Rasulullah ï·º. Sama-sama ahli syurga. Tapi sungguh, keduanya memiliki ciri khas tersendiri dengan karakter masing-masing. Satu yang membuatnya seragam; sama-sama mencintai Allah dan RasulNya.

Maka karakter apapun yang kita miliki, selagi koridor kita sama, biarlah ia menjadi penyemarak. Saling mengisi, saling mengindahkan. Mencintai Allah dan RasulNya bukanlah sebuah titik, melainkan proses. Berkelanjutan. Berkesinambungan. Ia membutuhkan ketegasan, membutuhkan pengorbanan. Ia membutuhkan reminder ketika kita lupa, membutuhkan penguat ketika kita melemah. Maka siapa yang menjamin diri kita lebih mencintai Allah dan RasulNya dibandingkan orang lain, atau sebaliknya? Siapa juga yang menjamin bahwa karakter yang kita –atau saudara kita- miliki adalah sebaik-baik watak seorang hamba? Tidak ada. Karena titik kita bukan disini, melainkan di akhirat nanti.

Jadi yang terpenting adalah,


Adanya kesadaran dalam diri kita untuk terus berusaha memperbaiki diri menjadi lebih baik sesuai dengan pemahaman yang kita yakini kebenarannya. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah ï·º sebagai suri tauladan. Terus meminta petunjuk, mohon dibimbing pada jalan yang lurus. Dan tentu saja; berusaha mencintai Allah dan RasulNya dengan ketegasan. Dengan kemantapan. Dengan kesungguhan. Dengan segala pengharapan. J

Monday, July 21, 2014

Berharap itu Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan

TAUBAT

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdo'a dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan do'amu
Yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan;
Karena Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata uang palsumu

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya,
Wahai pejalan!

Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
Ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman :

"Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk kedalam jurang,
ingatlah terus kepadaKu, karena akulah jalan itu."

-Jalaluddin Rumi-

Pertama kali membaca syair di atas, tertera di buku salah satu mata pelajaran agama ketika saya bersekolah di Madrasah Aliyah. Seketika, saya amazed sekali. Mengingatkan, bahwa ada perbedaan mendasar antara Pencipta dengan yang dicipta. Ketika kita berbuat salah pada manusia, boleh jadi luka yang kita toreh akan tetap ada meski lisan bilang telah memaafkan. Maafnya terbatas. Tidak sempurna. Sementara Allah, Yang Maha Memaafkan. Yang Maha Memberi Jalan. Yang Maha Bijaksana. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik mutlak kesempurnaan. Jika tangan kita menengadah, memohon ampun dengan segenap ketulusan, Allah akan mengampuni. Dan tidak seperti luka hati manusia yang beberkas, maafnya Allah tiada bersyarat.

“Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datangkan utukmu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits ini hasan)

Benar lah, pepatah yang mengatakan, "Berharap pada selain Allah hanya akan berujung kecewa". Mana ada manusia yang memaafkan tanpa syarat. Tanpa ingat sekecilpun salah yang kita perbuat. Tanpa peduli apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Cuma Allah yang se-sosweet itu, kan? :)

Selain itu, kita juga diingatkan, bahwa dalam kamus seorang muslim, nggak ada yang namanya berputus asa dalam meraih rahmat Allah. 

Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat” 
[Al Hijr:56]

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]

"... Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.
(QS. Yusuf: 87)

Lihat? betapa putus asa sangat dibenci oleh Allah. Jadi, sejelek apapun track record kita, seburuk apapun pola-tingkah yang telah kita perbuat, itu nggak bisa jadi alasan untuk berhenti berharap. See?


Ingat satu hal lagi,
Janji Allah itu Pasti

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (QS 40:55)


Dan tentu, semua itu juga nggak bisa kita jadikan alasan untuk main-main. Allah Maha Tahu segala isi hati hamba-Nya. Dia tahu setiap niat, tahu setiap jalan fiikiran yang terlintas di kepala kita. Dia tahu mana taubat yang tulus, mana taubat yang hanya jadi penghias lisan. Semoga kita selalu dalam dekap hangatNya. Allahumma aamiin... :)

Saturday, June 7, 2014

Bergerak!

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
jika di dalam hutan.

Imam Syafii'


Bergerak, atau mati! :D SEMANGAT!
Leave (y)our comfort zone, welcome world!

Sunday, January 26, 2014

Surat Peringatan


Merapihkan kamar selalu saja menjadi ajang nostalgia bagi saya. Pasalnya, banyak benda-benda kenangan yang tersimpan di dalam kamar. Termasuk surat-surat 'berharga' semisal surat di atas. Kemarin, saya membaca surat tersebut untuk ke sekian kalinya, dan tersenyum, lantas tertawa. Haha. Saya jadi semakin mengerti bagaimana dahulu saya tersiksa rindu, begitu merindukan masa Tsanawiyah. Schoolsick syndrome, begitu saya menyebutnya. Bagaimana tidak, teman-teman saya so sweet sekali. :))

Surat di atas saya peroleh pada suatu sore. Tahu-tahu ada di dalam tas hitam ke abu-abuan milik saya. Tahun 2008, ketika saya tengah aktif menjadi Badan Pengurus Harian OSIS di Tsanawiyah. Sebenarnya saya lupa bagaimana cerita lengkapnya. Hanya saja, surat ini dilayangkan pada saya karena hari itu, ada dua orang kawan yang mengajak saya 'bermain' di kelas sementara saya harus turun ke lapangan; menjalankan salah satu tugas sebagai pengurus OSIS, mempersiapkan kesiapan petugas untuk pelaksanaan upacara. Harus turun, dan saya tidak punya pilihan lain. Meski sebenarnya peran saya saat itu tidak begitu berarti, tapi saya harus turun. 

Simsalabim, surat peringatan itu mendarat sore harinya. :D

Membacanya sekarang, sekitar lima tahun setelah surat itu ditulis, kertas itu masih terlihat bagus. Sobekan buku Sinar Dunia, tinta hitam, garis-garis coretan. Melihat gaya tulisannya, saya tertawa sendiri. Anak Tsanawiyah. Sederhana, polos, cerdas, menggugah, dan yang utama: jujur. Bahasanya jujur sekali. :) Kau benar, Kawan. Hari akan berlalu sangat cepat, dan tak terasa kita sudah sampai pada titik ini. Ketika surat-surat kita menjelma indah menjadi memori.

_______________
_________________________________
Kau mungkin takkan pernah menyadari, betapa seseorang begitu mengingatmu. Betapa seseorang mengingat setiap lontaran kata yang Kau lisankan, sesederhana apapun itu. Kau boleh jadi tak pernah tahu, boleh jadi tidak peduli. Namun sungguh, bagi seseorang, hal itu sama sekali bukan masalah. Ia tak peduli apakah Kau ingat atau tidak. 
Seseorang itu sudah cukup bahagia untuk mengingatmu;
bahagia untuk pernah mengenalmu. :)
______________________________________________


Ah ya, satu lagi yang membuat saya tergelitik. "Satu kata buat kamu..." sebagai pembuka surat itu, tapi nyatanya ada banyak kata disana. :P Haha, Kawan, bahkan Kau mampu menghiburku hingga detik ini. Terimakasih. :)

Wednesday, January 22, 2014

A Lil Things About Nature

Someday, my sister happily called me and showed me her writing. Written by silver spidol on a black page, it was a kind of poem with no title. I read it and  smiled automatically -especially after i finished the last sentence-. Here is the poem. :)


Thursday, November 7, 2013

Dia (selalu) Tahu

Dia selalu tahu.
Untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi bukankah artinya kita harus menaiki anak tangga satu demi satu lagi
Bukankah untuk menjadi yang lebih baik lagi selalu ada hal yang perlu dikorbankan?
Dan terkadang yang perlu dikorbankan adalah yang berasal dari dalam diri kita sendiri
Sama halnya dengan kesulitan kita untuk menjalankan taubatan nasuha
Karena taubat pun ternyata perlu latihan
Sekali-dua kali  
Berjanjilah agar tidak bosan meminta
Bertekadlah untuk tidak mudah menyerah
Kuatkan azzam dan tegarkanlah
Saat kembali kita memasuki fase jenuh
Putar kembali
Ingatlah lagi
Untuk apa sebenarnya kita berjuang
Untuk siapa sebenarnya kita berkorban
Dan jika masih merasa lemah dan ghirah yang padam
Maka mintalah Ia untuk menghidupkan ghirah itu
Untuk menyalakan lentera kecil yang akan kita bawa
Untuk menerangi sudut-sudut bumi yang tak tersentuh sinar matahari

"Wasta'inuu bis shabri wa shalaah"
"'ud'uunii astajib lakum"
"wa man yatawakkal 'alallah yaj'al lahuu makhraja, wayarzuquhuu min haitsu laa yahtasib"
"wa man yatawakkal 'alallah fahua hasbuh
innallaha baalighu amrih, qad ja'alallahu bikulli syaiin qadraa"

dan meminta tolonglah dengan sabar dan shalat
berdoalah kepadaku niscahya aku kabulkan
dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan menjadikan untuknya jalan keluar dan memberikannya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka
dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka Allah akan mencukupkan baginya keperluannya

sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya
dan Allah telah menentukan ketentuan bagi segala sesuatu
(At Thalaq 2-3)
Allah tidak pernah mengkhianati janji.

kita tidak perlu menuliskan doa kita di kertas kecil
dan melemparkannya jauh ke lautan
agar doa itu terkabul
kita tidak perlu menerbangkan layang layang ke langit yang tinggiiii
sampai tak terlihat lagi
agar impian kita dalam layangan itu sampai ke langit ke tujuh
tapi cukup dengan berbisik dalam hati
bahkan yang terlintas dalam diri
itu sudah cukup bagi-Nya untuk mengerti.

karena Ia dekat
lebih dekat dari urat nadi kita sendiri
"Wa idzaa sa alaka 'ibaadii 'annii faiinni qariib"
"Dan apabila hambaku bertanya padamu tentang Aku katakanlah bahwa sesungguhnya Aku dekat"
Al Baqarah ^ ^
Dari seorang teman, pada 3 Muharram1435 H
23.38WIB