Showing posts with label haltekehidupan. Show all posts
Showing posts with label haltekehidupan. Show all posts

Wednesday, October 9, 2019

Tulisan tentang Eyang


Hampir satu bulan Indonesia berduka atas berpulangnya sosok yang seolah tak pernah menua, yang pada dirinya laksana hidup semangat pemuda belas-dua puluh tahunan meski usia fisiknya terbilang sudah delapan puluhan.

Mengingat-ingat saat itu, barangkali adalah salah satu pekan tersendu sebab untuk pertama kalinya merasai kehilangan “public figure” masa kini yang bahkan belum pernah sekalipun bersua. Kemudian ketika membuka catatan, saya menemukan beberapa tulisan tentang beliau; Eyang Habibie.

***
September 13, 2019, 8:11 AM

"Kak," sebut saja Halya, salah satu murid yang kuajar petang itu, memohon izin memotong pembicaraanku di depan kelas.
"Ya?" aku mempersilakan. Suasana kelas masih agak ramai. Kami baru saja masuk lagi usai istirahat shalat.
"Pak Habibie meninggal," lanjutnya.

**

Kabar itu mau tidak mau cukup mendistraksi kelas kami. Masing-masing mulai membuka gawai, memeriksa informasi yang beredar. Terkecuali aku. Memang, kiranya baru saja kemarin kulihat banyak akun-akun di media sosial seolah berlomba mendoakan beliau (setidaknya itu yang tampak pada postingan-postingan mereka). Aku tahu bapak yang aku kagumi itu, yang pernah teramat ingin aku jumpai itu, tengah sakit dan dirawat beberapa waktu belakangan.

"Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun. Beneran?" aku masih belum percaya. Tak kusempatkan membuka gawai. Lebih memilih bertanya pada kelas.

"Beneran apa hoaks?" sahut yang lain.

"Beneran." Jawab Halya mantap.

**

Kenangan-kenangan tentang sesosok inspiratif itu tak bisa dicegah untuk tidak berputar di kepala. Petang itu, kami bersama-sama melangitkan doa untuk Pak Habibie. Kemudian di tengah pikiran yang mulai berlarian kesana-kemari, aku mencoba kembali mengondusifkan kelas—mengondusifkan pikiranku sendiri lebih tepatnya. Tapi yang keluar ternyata malah kalimat seperti ini.

"Kakak jadi sedih,” aku menarik napas sambil berusaha tersenyum tipis, “Bukan apa-apa sih, kakak merasa ada hubungan emosional dengan Pak Habibie," ujarku, tanpa menskenariokan untuk mengeluarkan deret kata semacam itu. Hubungan emosional? hei, siapa kamu? Mereka mendengarkan. Mungkin agak menerka, hubungan emosional seperti apa yang aku maksud.

**

Aku tahu. Jika diperhitungkan, tentu aku bukan apa-apa. Jika mengagumi seseorang adalah sebuah persaingan, barangkali aku ada di barisan nyaris paling belakang di arena tanding. Jangankan menang, barangkali aku tak masuk bahkan jadi cadangan. Maksudku, aku mungkin tak terbaca, tak dikenal, belum pula mampu mengikuti jejak-jejak beliau yang luar biasa. Tapi entah bagaimana aku merasa ada hubungan emosional dengan Pak Habibie. Dan oleh sebab kebermanfaatan beliau yang menjangkau penjuru bumi, aku yakin bukan hanya aku yang sekehilangan ini.

Yah, barangkali salah satu alasan terkuatnya adalah karena Insan Cendekia. Sebab sekolah yang teramat bersejarah dalam hidupku itu tidak lain digagas oleh beliau. Tak jarang pula kami mendengar perkataan yang kurang lebih seperti ini, "Berjuanglah! sebab kalian adalah anak ideologisnya Pak Habibie".

**

Aku tahu. Ada begitu banyak anak bangsa yang mengaku sebagai anak atau cucu ideologis beliau. Memang demikian lah laki-laki yang tak pernah menua jiwanya itu membahasakan kami, anak-anak bangsanya. Beliau mewariskan apa yang disebut-sebut sebagai amal tiada putus: ilmu. Ketulusannya dalam menyampai ilmu, barangkali menjadi alasan terkuat mengapa demikian banyak orang yang merasa punya hubungan emosional dengan beliau.

Aku pernah pada fase begitu ingin menjumpai beliau. Ingin kuucap terima kasih sampai-sampai tak tahu bagaimana cara mengucapkannya. Kucari-cari alamatnya, bermodalkan internet di ruang lab komputer sekolah. Kutanya-tanya kabarnya, pada beberapa guru yang saat itu kuterka barangkali tahu atau barangkali bisa membantu.

Hingga pada suatu hari, aku mendapati diriku menjumpai sosoknya di lantai dua MAN Insan Cendekia Serpong; sekolah yang dicetuskan olehnya 23 tahun lalu, sekaligus sekolah tempatku banyak mempelajari hidup. Ia mengenakan baju safari, tengah istirahat sejenak di ruang bimbingan konsultasi Bu Rini. Ramah sekali. Hanya itu yang aku ingat, sebab yah, sayangnya, aku menjumpai sosoknya hanya dalam mimpi.


 September 13, 2019, 8:18 AM

Rasanya seperti kehilangan satu cita-cita. Rasanya seperti dipaksa memangkas satu harap. Rasanya ingin memrotes diri sendiri, "Mengapa kamu tak berjuang lebih keras hari kemarin?" sebab belum pernah sampai kata itu keluar, bahkan meski hanya lewat tulisan. Belum tercapai cita sederhana mengucapkan terima kasih pada beliau. Belum juga berhasil mempersembahkan apapun bahkan dalam bentuk paling sederhana sekalipun. Sampai pada akhirnya kubaca deret kalimat yang kabarnya merupakan perkataan beliau pada sebuah kesempatan:

“Kalau saya ditanya, Habibie siapa, insinyur, muslim, ataukah Indonesia. Saya jawab bahwa Habibie adalah muslim. Mengapa? Karena kalau saya mati, saya tidak lagi berwarganegara. Kalau saya sampai ke akhirat, yang ditanya bukan kedudukan apalagi kewarganegaraan. Karena itu, saya jawab: saya muslim. Itu bukan emosional, melainkan rasional.”

“Saya percaya pada hari akhir. Saya tidak akan ditanya soal paspor. Jadi, kalau saya jawab demikian, jangan bilang Habibie tidak nasionalis. No..”

Perkataan beliau itulah yang kemudian membuatku sadar bahwa.. hei!, tentu saja masih bisa kulantun doa, masih bisa kuucap terima kasih, melalui-Nya.

**

Terima kasih, Eyang. Maafkan kami yang belum sampai berterima kasih padamu. Bahkan di tengah kesedihan kami, untai nasihatmu juga yang menjadi jalan pembuka harap.

Barangkali mendoakan adalah sebaik-baik cara berterima kasih. Terima kasih, Eyang. Allah, mudahkanlah hisab beliau. Ampuni dosa-dosanya. Berilah ia tempat terbaik di sisi-Mu. Sungguh aku bersaksi insyaaAllah beliau adalah orang baik, dengan kebermanfaatan yang meluas lagi semerbak. Yang tidak hanya mengajarkan tentang bagaimana berilmu, tapi juga, atas izin-Mu, menjadi jalan banyak orang—salah satunya aku—"menemukan" Engkau. Terima kasih Eyang Habibie. Terima kasih atas Insan Cendekia-mu; tanah berjuta kisah yang berikan banyak sekali pelajaran untuk kami.


15 September 2019

Hari ini ketika melewati salah satu jalan di Kota Bogor, ada yang sedikit berbeda. Jejeran tiang bendera pada kanan-kiri jalan yang biasanya kosong atau paling tidak berisikan bendera-bendera negara, hari itu terisi penuh dengan bendera tanah air Indonesia. Namun ada yang berbeda. Tak sampai pada ujung tiang bendera-bendera itu berkibar, melainkan hanya setengah tiang saja.
Oh ya, rupanya masih berkabung bangsa kita.


19 September 2019

Satu pekan sudah, Pak Habibie berpulang. Dalam masa-masa kemarin, aku begitu merasa kehilangan atas kepulangan beliau. Tidak berlebihan menurutku, jika dikata bahwa kepergian sosok yang menyebut dirinya sebagai Eyang itu menyisakan banyak kehilangan pada hati-hati sesiapa yang mengenalnya. Bukan hanya mereka yang pernah bertatap, tapi bahkan yang belum pernah bersua pun—aku salah satunya—juga merasakan kehilangan.


23 September 2019

Begitulah orang baik. Bahkan kepergiannya mampu mengantarkan banyak orang pada kebaikan-kebaikan. Aku percaya bahwa ketulusan berbicara lebih banyak dari kata-kata. Bahwa ketulusan bersuara lebih lantang dan lebih nyaring dibandingkan suara itu sendiri. InsyaAllah Eyang adalah orang yang tulus berbuat baik. Purna sudah kiprah Eyang di panggung sandiwara dunia ini.
Terima kasih, Eyang. Maafkan kami.

***

Sumber

Kabarnya, generasi terdahulu banyak menerima nasihat semacam ini, “Rajin-rajinlah belajar, supaya pintar seperti Pak Habibie!”. Agaknya kearifan dari beliau di masa tuanya juga bisa menjadi inspirasi dari nasihat hebat, “Jangan pernah berhenti belajar, supaya kalau tua nanti tidak mudah lupa dan tetap bisa berkarya, seperti Pak Habibie!”

Bogor, 9 Oktober 2019
Ketika hujan yang dirindu
tiba kembali sambil merayu.

Monday, November 6, 2017

The Secret Hero

The Secret Hero, begitu biasa kami menjuluki beliau. Bukan tanpa alasan, melainkan karena jika kamu meletakkan memo di atas meja piket pada Gedung G sekolah seperti ini  misalnya, “Assalamu’alaikum Pak.. Kamar 202 Z, pintu kamar mandi rusak. Terima kasih.” maka dapati pintu kamar mandi kamar 202 Z akan kembali normal sepulangnya dari sekolah. Beliau, salah satu guru terbaik kami, Pak Suhali. Ialah the secret hero itu.

Mungkin nyaris setiap anak memiliki kenangan khusus jika mengingat Pak Suhali. Bukan apa-apa, sebab beliau selalu menebar senyum. Pada sesiapa saja yang dijumpai, agaknya Pak Suhali selalu terlihat ceria dan kerap menghibur lawan bicaranya. Bagi saya pribadi, Pak Suhali adalah guru terbaik jika saja rutinitas sekolah tengah membuat bosan (kalau tidak mau dikatakan membuat kepala terasa berat. hhe). Pernah beberapa waktu saya mengecat pinggir jalan trotoar sekolah bersama Pak Suhali. Hiburan luar biasa. Meski bisa ditebak, hasil gores tangan saya jauh lebih berantakan daripada milik beliau.

“Nanti di rapot kamu nilainya nambah loh. Nilai ngecat!” begitu kerap Pak Suhali berujar. Bukan hanya sekali, tapi nyaris setiap bertemu saya, yang diungkit mesti persoalan cat dan rapot. Diam-diam saya sungguhan mengecek rapot. Hha. Kali saja benar ada nilai ngecat.

MAN Insan Cendekia merupakan sekolah berasrama yang menerapkan budaya salam antar civitasnya. Setiap berpapasan di jalan, di manapun, kami akan saling melempar salam. Termasuk kepada para guru, pak satpam, juga para karyawan, salah satunya Pak Suhali.

“Assalamu’alaikum, Pak,” ucap saya sambil membawa kotak eskrim kulit semangka hasil praktik untuk penulisan karya tulis ilmiah.

“Wa’alaikum salam!” jawab beliau bersemangat seperti biasa, “itu apa itu?” tanya Pak Suhali.

“Hehe.. ini es krim kulit semangka, Pak. Bapak mau coba?” saya menawari.

“Es krim kulit semangka?” beliau bertanya lagi. Kemudian, pada bagian ini, saya agak lupa. Namun seingat saya, Pak Suhali lantas mencicpi es krim kulit semangka. Ada beberapa yang tidak ditaruh di dalam kotak es krim, tapi dimasukkan ke dalam plastik. Sejauh yang saya ingat, beliau mencicipi dan mengatakan bahwa es krimnya enak. Sejak saat itu, setiap bertemu, sapaan beliau pada saya bukan lagi soal rapot dan cat. Yap, benar sekali. Melainkan soal es krim kulit semangka.

Saya lulus dari Aliyah pada tahun 2013. Alhamdulillah, pada bulan Januari tahun 2016, saya berkesempatan untuk kembali ke tanah berjuta kisah itu dengan judul agenda magang. Ya, jurusan kuliah saya mengharuskan mahasiswanya untuk menempuh magang, dan qadarullah saya magang di MAN Insan Cendekia.

Suatu ketika, ketika tengah magang, saya menjumpai Pak Suhali. Beliau sedang berjalan di dekat gazebo baru yang lokasinya tidak jauh dari tempat wudhu. Sungguh tidak banyak berubah. Beliau tetap bersemangat tersenyum, semangat menebar salam, dan semangat ketika berbicara.

“Assalamu’alaikum, Pak.”

“Eeeh kamu,” agaknya Pak Suhali mengingat wajah saya tapi tidak tahu siapa nama saya.

“Iya Pak, saya Riris angkatan 16. Yang bikin es krim kulit semangka Pak, hehe” mendengarnya beliau tertawa.

“Iya, iya! es krim kulit semangka ya,” sejenak bernostalgia.

Alhamdulillah. Selama belajar di Insan Cendekia, saya mendapat pemaknaan bahwa semua orang yang kita jumpai dalam hidup sejatinya merupakan guru. Begitu pula bagaimana saya memandang sosok Pak Suhali. Ada banyak hal yang saya pelajari dari beliau. Bukan hanya karena kenang-kenangan ngecat pinggir trotoar, menyapu jalanan samping gedung CSA, atau tentang es krim kulit semangka. Lebih dari itu, dari beliau saya belajar bagaimana menularkan energi positif pada siapa saja. Level saya masih jauh di bawah beliau, dan saya belajar untuk itu.

Kemarin, Ahad sore tanggal 16 Safar 1439 H (5 November 2017), saya mendapat kabar akan kepulangan bapak penebar senyum itu. Beliau meninggal dunia di RSUD Pasar minggu karena sakit akibat adanya kerusakan jaringan saraf di bagian kanan, yang berakibat luar biasa pada kondisi fisiknya. Mendapatkan kabar tersebut dari salah seorang guru, membuat saya nyaris tidak percaya. Sedih. Mengapa begitu tiba-tiba? saya bahkan tidak tahu-menahu bahwa beliau sakit. Padahal beberapa waktu lalu saya baru saja kembali berkunjung ke Insan Cendekia.

Qadarullah, segala sesuatunya berlangsung begitu cepat. Bahkan berdasarkan informasi, satu hari sebelumnya, beliau masih membantu berbagai kegiatan di area sekolah. Maha Besar Allah pemilik skenario yang menggenggam jiwa hamba-hamba-Nya.

Sayang, belum sempat saya berterima kasih atas segala inspirasi yang diberikan oleh Pak Suhali. Beliau adalah orang yang baik. InsyaaAllah. Semoga amal ibadah Pak Suhali diterima di sisi Allah. Aamiin allahumma aamiiin. Saya menyaksikan sendiri bertapa banyak dari kami yang berbelasungkawa atas kepulangan beliau. Bukan kepergian, melainkan kepulangan. Sebab bukankah pada hakikatnya, meninggal dunia merupakan momentum pulang bagi hamba kepada Rabb-nya? Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun...


Lantas, diri, apa kabar hari ini?

Kapan terakhir kali kamu mempersiapkan diri?

Kapan terakhir kali kamu mengingat akan mati?


Jalan yang pernah saya cat bersama Pak Suhali. Hitam-putih.


Ditulis di Kota Hujan
ketika hujan

pada Senin, 17 Safar 1439 H




Thursday, January 28, 2016

Ada yang Tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Dulu saya tidak pernah berimajinasi akan punya kamar sendiri di gedung G MAN Insan Cendekia Serpong. Lalu Januari 2016, kamar yang biasanya jadi tempat penyimpanan laundry ini pun disulap untuk saya tempati selama kegiatan magang berlangsung.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Saya belum merasa lulus dari MAN Insan Cendekia. Seperti belum ada yang saya lakukan dengan berarti untuk madrasah ini. "Kamu udah mau lulus lagi aja Ky," ujar salah seorang guru, yang saya jawab dengan perkataan jujur, "Iya nih Bu, nggak terasa." Nggak terasa. Sungguhan. Karena saya merasa belum lulus dari tempat ini. Masih ada daftar hutang yang belum saya lunasi untuk Insan Cendekia. Maka jawaban itu bukan basa-basi, melainkan kenyataan yang nyata sebenar-benarnya.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

"Cerita dong, Kak. Pengalaman yang paling berkesan selama di IC?" tanya salah seorang adik ketika kami bincang-bincang usai shalat magrib. Saya diam sambil berfikir keras. Bukan karena tidak menemukan jawaban, tapi karena bingung memilih yang mana dari sekian alternatif pilihan yang ada. Insan Cendekia dengan tega menjadikan setiap momennya terasa berkesan. Jadilah saya menjawab selintas fikir seiring mata yang memandang pohon jambu di depan masjid, "Dulu kakak sama teman-teman suka metik jambu disitu. Temanku manjat malah. Pernah juga makanin asem dari pohon lapangan belakang." Hha, nggak filosofis banget-

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Esensi mata kuliah magang adalah belajar. Benar-benar belajar. Lagi, saya dibuat takjub. Tidak menyangka belajar disini sungguh-sungguh belajar. Hei, dengan duduk di dalam kantor wakamad Asrama saja, saya belajar tentang teorinya Al-Ghazali, teori Maslow, perbandingan keduanya, psikologi terapan, intervensi sosial, fikir kritis tentang dunia psikologi, generasi XYZ, sampai perkembangan pendidikan di Indonesia. Oke, obrolan ustadz-ustadzah saya membuat anak didiknya ini diam-diam sambil rekap data pun ikut belajar. :')

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

"Waah, ada ya Kak, jurusan itu?" salah satu adik mengomentari IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) yang tidak lain adalah mayor kuliah saya. Iya, Dik. Ada. Maka lihatlah dunia dengan luas. Kalian boleh saja tinggal di kampus MAN Insan Cendekia dalam kehidupan sehari-hari. Menghabiskan lebih banyak waktu di lingkungan ini, berkutat dengan rutinitas harian yang boleh jadi kadang membuat kalian bosan. Tapi fikir kalian sungguh harus mendunia-mengakhirat. Eh, ngomong apa saya-- tapi itulah kenyataannya. Insan Cendekia yang boarding school ini justru menjadi sarana pengglobalan fikir yang luar biasa bagi saya. Saya yakin, bagi mereka pun demikian.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Usai shalat magrib berjamaah, lantas semuanya doa bersama. Mendoakan kesuksesan serta keberkahan acara-acara OSIS, mendoakan kemudahan menuntut ilmu, mendoakan teman-teman yang akan mengikuti lomba, mendoakan para mujahid dari berbagai penjuru, mendoakan sanak kerabat yang berpulang. Saya ingat beberapa tahun yang lalu, kami melakukan hal yang sama di masjid Ulil Albab. Ada yang istimewa disini. Ada pembelajaran luar biasa, tentang penyertaan Allah dalam segala aspek kehidupan. Saya semakin sadar bahwa tempat ini sedikit-banyak mengajarkan saya akan konsep tauhid tersebut. Kontinyu, terus-menerus, hingga membentuk pola kebiasaan; habits.

Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Ada yang tertinggal di MAN Insan Cendekia. Bukan sepotong hati seperti yang Tere Liye bilang bahwa ia hilang. Ialah kenang-raut-semburat-udara-pesan-makna-doa-langit. Ialah atmosfer jihad menuntut ilmu, niat yang lurus, penjagaan diri yang kokoh. Ialah ketulusan ayah-bunda; semerbak kemewahan yang sungguh amat sederhana.

Ada. Ada yang tertinggal di 'Pondok Pesantren' ini

Bawa kembali keyakinan utuhmu,
bawa kembali kebulatan tekad serta azzam milikmu yang tidak pernah mati.

QUM!

Foto oleh Naufi Ulumun Nafi'ah

Friday, May 1, 2015

Masa Lalu (Kita)

Setelah sekian lama mencari-cari video ini di youtube, justru menemukannya ketika tidak sedang mencarinya. Pertama kali saya menyaksikan video ini adalah ketika duduk di bangku kelas XI di MAN Insan Cendekia Serpong, mata pelajaran Biologi. Saat itu kami berada di ruang laboratorium. Banyak dari kami yang menangis. Terlebih mengingat euforia kami yang notabene anak rantauan. Sayang, saat itu saya tida membawa flash drive dan semacamnya untuk mengkopi data.


Kembali saya menyaksikan video ini, ketika berada di kelas mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Lagi, tidak sedikit dari kami yang meneteskan airmata mengingat ibunda masing-masing. Saya kembali mencari-cari di internet dengan berbagai kata kunci, namun tidak juga menemukannya.


Hingga beberapa hari lalu, tanpa ada unsur kesengajaan, saya menemukan video ini ketika sedang mencari video motivasi untuk mengisi karantina di MTsN 32 Jakarta. Namun sayang, tidak sempat ditayangkan karena keterbatasan waktu yang ada. Jadi izinkan saya berbagi disini. :)

Sebuah gambaran sederhana tentang masa lalu kita semua.



Tuesday, November 25, 2014

Ilmu Keluarga dan Konsumen

 I ever read a quote ‘sounds’ like this:

Semua do'a direkam,
dikabulkan kapan-kapan.
(Irfan Amalee)

Every du'a is recorded, and in the right moment, it will be granted.

You have a dream, you have to make du'a. You have a dream, you have to protect your du'a. You have a dream, you have to know -to realize, there's no one except Allah who answers your du'a.

No matter how big your dream is, Allah's more than enough to make it real. Don't you remember that He is the owner of every existing creature? the owner of every big thing included your big dream. Blessed is He in whose hand is dominion, and He is over all things competent (Al-Mulk: 1). No matter how simple your dream is, how deep your dream-whisper is, Allah knows. He knows exactly what is in every heart. And conceal your speech or publicize it; indeed, He is knowing of that within the breasts (Al-Mulk: 13).

Well, Allah knows. But you have to underline this: if you don't put your trust in Him and you don't neither support it by your prayer, then you get nothing. Remember this meaningful quote: Allah itu Maha Kaya, tapi jika kita tidak pernah meminta, takkan pernah sampai kekayaan-Nya kepada kita (Bu Ida, 2012).

By this chance, I want to share my personal story about how did I find –or maybe found by- my college major now: Family and Consumer Science a.k.a. IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) in Bogor Agricultural University  a.k.a. IPB (Institut Pertanian Bogor). It’s a big honor for me to be in this college which I never ever imagined before, this kind of major is does exist in Indonesia. (Hyperbola? Yes you may say so. Hhe :))

About two years ago, I was in a big deal of deciding, what kind of major and what college will I attend.  In another day I asked my dearest mother about her opinion. I told her about my confuseness. Then, she asked me about my dream and I said confidently that I want to be a teacher. But when she asked me what kind of teacher do I want to be, poorly I have no answer. Math? Chem? Biology? Physic? English? History? I have no idea. I just love to coach, to hear other’s story, to share about the lesson of life itself. I’m interested in how human build their interests. And this part is an amazing of a mother, she asked me to do istikharah prayer. Shalat istikharah dari sekarang, De. Minta sama Allah dikasih petunjuk dari sekarang, jangan nanti-nanti. (Mama, 2012).

I found IKK when I was in the 3rd year of Senior High School. I was sitting in CSA (Central Student Activity); the place where all student is allowed to use their own laptop (in my boarding school, laptop is forbidden to exist in dormitory) when someone added me on Facebook. A student college named Intan Islamia Mavirlian. Honestly i didn’t pay much attention to her at that time. Several weeks after, as I opened my Facebook account in regular time (regular time is a moment when student allowed to go out from my boarding school, once per two weeks), I tried to talk to her. She gave me such informations about college life and IPB condition (I started interest to be a Biology teacher so I asked Kak Intan about Biology department in IPB). Well, as you guessed, Kak Intan is an IKK student.

This part takes too much story to tell, so I will make it shorter. Well finally I am in this college, and i’m really amazed how Allah guided me beautifully. As the time passed, I just know that Kak Intan added me on Facebook because she found out my name written as the author on a children storybook at Labschool (Labschool is an education institute controlled by IKK department). Forget about my name, because i don’t even know what kind of book it is. You may freely assumed it was just an accident that Kak Intan found my name. It just simply, eyes illusion (?). How can I became the author when I didn’t even make any children story to be published? Well I don’t really care with the book and my name which was written as an author as Kak Intan told me. But my main point is, I think (and I feel it!) it was the way Allah guided me. He guided me with the unpredictable story, unpredictable scenario. But yeah, maybe someday I’ll check out which one the book is. Is it really ‘Rizky Sahla Tasqiya’ or another name on it.

And here I am now, studying at Ilmu Keluarga dan Konsumen. Exploring about family, education, character, children, interest, psychology, human, agriculture, ecology, nutrition, and many more. As this major is considered as new major in my campus, and also the only one in Indonesia (IKK is established on 2005), so many people still don’t know about IKK and how important the science of family and consumer is to be studied. When I was in senior high school, I highly believed that our nation’s main problem is strongly centered on human character. Because of that, I want to be a teacher. As my study, observation, and my wider perception nowadays, I just realized that the point of character education is not the teacher, but the family. Isn’t it? Karena dari keluarga-lah semuanya bermula. (Rizky Sahla Tasqiya, 2014)

It’s my second year in IKK and I’m really grateful of that. Thanks, Allah :) Ah ya, just for your information, Kak Intan is continuing her master study program in Taiwan. We don’t meet up yet as she went there in my first year of college. I hope I can meet her someday and say her bigthanks. About IKK, you may check this site for more information.

Every du'a is recorded, and in the right moment, it will be granted. I didn’t mention ‘IKK’ in my –every-  prayer. It was simply because I didn’t really know which college and specific major did I want to attend. I didn’t even know what is the name of my dreams and how should I define them using words. There was only this simple thing on my mind --> I want to be useful for the others in my own way. And poorly, I don’t know which one is the best one for me, which one will bring me to the right usefulness. So i have to ask Allah who knows everything and also the owner of everything. I have to ask Him, to show and guide my way to the best one. He knows best, and I do believe it.

You have a dream, you have to make du'a. You have a dream, you have to protect your du'a. You have a dream, you have to know -to realize, there's no one except Allah who answers your du'a. So when it is hard to explain your dream in words, when you feel blank which step you will choose, or when you feel so complicated and find no way to reach your dream, keep it on your du’a. The one who answers your du’a is knowing everything, so don’t worry. He knows you have a big-positive dream, then believe. When you ask Him, He will answer no matter who you are. When My servants ask thee concerning Me, I am indeed close (to them): I listen to the prayer of every suppliant when he calleth on Me: Let them also, with a will, listen to My call, and believe in Me: That they may walk in the right way (Al-Baqarah: 186).

Whatever your dreams are, Allah knows. And whatever do you want, Allah knows best. :)

Rain City, November 25th 2014 at 4.04 pm

Tuesday, November 18, 2014

Ayah-Bunda Insan Cendekia

Kali ini biarkan saya menulis edisi #haltekehidupan, terdedikasi untuk ayah-bunda luar biasa di tanah berjuta kisah, Insan Cendekia. Malam ini saya baru saja menyaksikan cuplikan-cuplikan performa adik-adik di salah satu stasiun televisi; mengikuti sebuah ajang olimpiade. Ini memang kali pertama saya berhasil streaming setelah minggu-minggu sebelumnya gagal. Alhamdulillah. Seperti alumni kebanyakan, saya pun jadi ikut-ikutan melambung pada beberapa bulan lalu. Pada dua-tiga tahun lalu, ketika kaki-kaki saya masih intens menapaki tanahnya. Ketika langkah saya masih secara rutin terekam pada setiap pagi-sore-petang ranahnya. Ketika tatap saya masih kerap menyapa langitnya. Nostalgia. Dan salah satu cara terbaik mengekspresikan nostalgia adalah melalui tulisan.

Beberapa waktu belakangan saya tengah dalam masa jenuh. Merindukan sense of jihad, merindukan ustadz-ustadzah pembakar semangat, merindukan keajaiban kawan-kawan seperjuangan, merindukan civitas luar biasa yang saling menbar senyum-salam sapa. Dan akhir-akhir ini pula, rekaman dalam memori saya me-rewind masa putih abu-abu saya. Masa tiga tahun yang jika mereka bilang masa paling indah adalah masa SMA, maka saya fikir statement itu tidak terlalu keliru.

Satu tahun lebih setelah berlabel alumni, dan tanpa saya sadari sebelumnya, diam-diam saya merindukan suasana pagi Insan Cendekia. Merindukan sapaan hangat pak Suhali tiap pagi tentang es krim kulit semangka atau janji beliau yang hendak memberi saya nilai tambah di rapor lantaran saya ikut-ikutan mengecat tepi jalanan. Merindukan senyum Emak di kantin tiap saya mengucap salam untuk disendoki makanan. Saya juga merindukan Teh Euis, Teh Ratna. Saya masih ingat betul bagaimana untuk pertama kalinya saya pergi reguler dibonceng Teh Ratna, lalu kami makan es krim bersama.

Hei, tiba-tiba informasi yang terpanggil begitu banyak dan saya jadi bingung menuliskan darimana. Tahu-tahu setiap sudut tanah itu tergambar jelas di kepala.

Salah satu yang sungguh membekas dalam kepala saya adalah tentang guru-guru, tentang ustadz-ustadzah, tentang para pendidik yang kaya dan mengkayakan. Kaya semangat, kaya motivasi, kaya akan inspirasi. Saya ingat Bu Dini. Masa-masa di Pekan Ta’aruf Siswa, beliau mengatakan pada kami di Audio Visual Room, “Allah itu dekat, Nak.” Lalu kami diminta menepuk-nepuk posisi jantung. Melafadzkan asma-Nya. Air mata kami tumpah. Dan jujur saja, sampai saat ini saya sering melakukan hal itu. Ketika saya di ambang lupa, bahwa Allah itu sungguh dekat.

Ada perkataan dari seorang guru Biologi, Bu Etty namanya, yang sampai kini saya ingat dan saya bawa kemana-mana: “Kalian ada disini, bukannya kebetulan. Tangan Allah yang langsung menempatkan kalian disini. Bukan karena kalian pintar atau apa,” mungkin ini adalah bagian dari awal saya memiliki keyakinan penuh bahwa kausalitas itu nyata. Bahwa Allah selalu memiliki cara spesial untuk masing-masing hamba-Nya.

Tiba-tiba saya jadi ingat percakapan saya dengan Asma (anak perempuan syaikh). Percakapan yang tidak jelas arahnya, karena bahasa ibu kami berbeda. Tapi namanya anak kecil, ia akan menganggap saya mengerti sepenuhnya apa yang ia katakan. Sore itu saya tengah duduk di depan asrama guru, lalu bocah kecil itu datang dan tahu-tahu duduk di samping saya. Dia mengatakan beberapa hal –dengan bahasa arab, tentu saja- yang kira-kira begini:

“Lihat langitnya!” matanya berbinar, lantas menunjuk langit

“Ya?”

“Aku suka langitnya, cantiik sekali. Ya kan?”

Lalu saya speechless. Rasanya ingin bilang banyak hal, tapi miris memang, anak ini tidak mengerti bahasa Indonesia. Dan saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan isi kepala saya dengan Bahasa Arab.

"Iya, aku juga. Kenapa Asma suka langitnya?" Jawab saya sambil nyengir mengingat Bahasa Arab saya yang acak-acakan. Namun Asma terlihat tidak terlalu peduli dengan saya yang tidak banyak bicara. Kemudian dia meneruskan kata-katanya, banyak. Berkalimat-kalimat, dan sesungguhnya saya tidak mengerti. Tapi saya rasa dia membicarakan hal yang menyenangkan. Matanya berbinar. :)

Memandang langit di ranah ini memang selalu saja mengasyikkan. Apalagi jika subuh pagi bulan masih bertengger di singgasananya. Jarak bangunan yang berjauhan, jalanan lebar, menjadi fasilitas pendukung bagi siapa-siapa yang mau menikmati jamuan langit di Insan Cendekia.

Langit sore itu juga, yang menjadi salah satu penghibur kami. Di koridor depan ruang guru. Masa-masa remedial yang mungkin saat itu rasanya agak menyedihkan, memang. Tapi masa-masa itulah yang mengajarkan saya tentang makna berjuang. Tentang esensi kejujuran. Yang juga saya rindukan adalah ujian di Insan Cendekia. Didikan ustadz-ustadzah, agar kami memahami esensi pengawasan. Bahwa yang Maha Mengawasi adalah Allah. Maka tidak heran, jika masa ujian cukuplah para insan itu duduk manis, mengerjakan dengan baik. Hening. Ketika mendapati ujian yang sulit, diam-diam saling menerka dalam hati, “Ini cuma saya doang yang merasa susah, apa emang susah beneran?” dan barulah ramai itu pecah ketika waktu ujian usai. Barulah saling tanya-menanya perihal jawaban. Tanpa ada pengawas ujian. Toh meski kadang kita lupa kehadiran mereka, pengawas kanan-kiri selalu siap sedia mencatat setiap amal kebaikan dan pelanggaran yang dilakukan. Bukan begitu?

Kalau ditanya apa cita-cita saya, saya akan menjawab ingin menjadi seorang guru, seorang pendidik. Tidak bisa dipungkiri, lingkungan menjadi salah satu motivasi saya. Sejak kecil saya biasa berhadapan dengan para guru; sebut saja kedua orangtua saya (yang membicarakan keduanya bukan perihal mudah sebab teramat istimewa..). Inspirator-inspirator ulung yang sedikit-banyak mempengaruhi pola fikir saya pun adalah guru. Meski secara luas, semua orang adalah guru, alam raya adalah sekolahnya (Semua orang itu guru, alam raya sekolahku –Pontoh- tertulis di koridor lantai dua gedung pendidikan Insan Cendekia).  Sayang, rasanya menyebutkan satu per satu ustadz-ustadzah, guru-guru terbaik saya, tidak mudah diungkapkan dalam satu waktu. Karena begitu menyebutkan satu nama, maka bukan hanya nama yang akan saya kabarkan, melainkan bagaimana kesan saya, kisah saya, persepsi saya terhadap beliau. Dan itu membutuhkan halaman yang (sangat) panjang.

Adalah salah seorang ustadzah saya, Bu Evi namanya. Sebagai guru asuh, Bu Evi suatu ketika memanggil saya pada tahun pertama. Kami berbincang-bincang. Dan bagian ini selalu saya ingat. Bahkan tidak dapat dipungkiri, mengambil peranan besar dalam perjalanan hidup saya hingga kini. Pemahaman akan esensi kesuksesan. Bahwa menjadi bagian dari kesuksesan sesseorang meski presentasenya hanya nol koma sekian persen, adalah sebuah kebahagiaan dan kesuksesan tersendiri. Beliau mengajarkan saya tentang makna keihkhlasan dan pentingnya berbuat baik sekecil apapun. Bahkan untuk sekadar mendengarkan cerita orang lain. Karena kita tidak pernah tahu perbuatan apa yang akan menjadi tiket kita menuju syurga. In syaAllah.

Lagi, saya ingat perkataan Bunda Iffat, ketika kami studi banding ke Bandung dan mengunjungi ITB pada tahun kedua. Saat itu kami berkeliaran dengan bebas. Maklum, anak asrama yang kesehariannya berada di penjara yang membebaskan. Saat itu beliau membawa beberapa barang bawaan, saya sempat menawari bantuan. Lantas beliau berkata, “Gak usah, seneng-senenglah kalian. Ibu mah senang lihat kalian senang begini.” Beliau melanjutkan, “Ya namanya guru senang kan kalau liat murid-muridnya senang.” Mungkin redaksinya berbeda, tapi kurang lebih maknanya demikian.

Ustadz Away Baidhowy pernah membicarakan tentang halte. Halte-halte kehidupan, dan Insan Cendekia adalah salah satunya. Hebatnya, bapak-ibu guru kami, ustadz-ustadzah kami, tetap disana. Tetap melakukan pengabdian. Jika kami pernah mengaku bosan menjalani rutinitas yang ‘begitu-begitu’ saja, apakah beliau-beliau merasakan demikian, menghadapi para peserta didiknya? Lantas adakah yang lebih mulia dari pengabdian di jalan kebaikan yang telah menjadi rutinitas?

Ah, ingin sekali mengungkapkan banyak terimakasih. Kepada ayah-bunda yang tidak bisa ananda sebutkan satu persatu. Terimakasih karena telah mengajarkan kami tentang nilai-nilai kehidupan. Mengajarkan pada kami tentang kreativitas, tentang makna seyuman, tentang kehangatan. Terimakasih telah mengajarkan kami bahwa ketegasan dan kejujuran adalah salah satu ekspresi cinta.

Mohon doa agar ilmu yang telah terbagikan ini mampu menjadi pemberat amal, mampu bermanfaaat bagi sesama dan semesta. Semoga ayah-bunda, ustadz-ustadzah, diberikan kemudahan, selalu dalam dekap hangat Allah Subhanahu Ta'ala. Aamiin. Salam sejuta sayang dan rindu dari kami, anak didikmu. 

Ditulis di Kota Hujan, pada 27 Muharram 1436H





Saturday, August 2, 2014

HalteKehidupan #32

Jadi, ini adalah edisi HalteKehidupan. Saya awali dengan 32, karena beberapa minggu lalu, seorang kawan dari Insan Cendekia berkunjung ke 32, kemudian kami berfoto di sekolah masa tsanawiyah saya ini. Sejujurnya, itu adalah momen pertama saya berfoto dengan logo 32 di tengah-tepi lapangan kami. :)

**

"Hidup adalah pilihan.
Jadilah manusia yang berkarakter dalam setiap pilihannya."

-Pak Nurul Huda-

**

MTsN 32 yang awalnya merupakan MTsN 13 gedung II, adalah tempat saya mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Sekolah ini adalah tempat pertama saya berorganisasi secara utuh, meski jujur, masih jauh dari organisasi yang terorganisirasi. :) Tapi jelas memberikan saya pemahaman bahwa hidup ternyata tidak semulus jalan tol :D. Ada begitu banyak karakter yang dijumpai, dan itu benar-benar belum seberapa. Setidaknya melalui organisasi formal, saya mulai terdidik untuk mengurusi diri sendiri sebelum mengurusi orang lain. Sebagai sosok yang sangat menikmati peran behind the scene, saya dituntut untuk sedikit  demi sedikit muncul ke permukaan, berhadapan dengan banyak orang. Masih ingat sekali, pertama kali saya berorasi (kalau itu layak disebut orasi, karena faktanya hanya omongan ringan di bawah atap mushola kami) hanya ada satu orang kakak kelas yang secara terang-terangan mengapresiasi. Beliau bertepuk tangan kecil di tengah-tengah hadirin. Kak, mungkin sewaktu-waktu kau akan mendapatiku mengetuk pintu rumahmu lantas mengucapkan terimakasih. :D

Tempat ini juga menjadi saksi 'kebandelan' saya. Mulai dari keluar kelas dengan alasan mengadakan rapat (poin cemerlangnya adalah, ketua OSIS kami adalah teman sebangku saya selama tiga tahun, dan saya adalah wakilnya, :D) saya dan Titin (nama si ketua OSIS) berhadap-hadapan, saling pandang di tengah kejenuhan belajar Matematika, kemudian "rapat yuk, gimana kalo kita rapat aja, ngurusin blablabla..." dan tidak lama, kami mengudara melalui pengeras suara sekolah; minta pengurus OSIS segera ke mushola buat rapat. Saya juga senang manjat pohon ceri di halaman belakang sekolah. Sampai pernah diteriakin sama mantan tukang cimol (sekarang jualan jus) supaya turun "cewek kok manjat pohon Riiis! turun!", Juga yang sangat favorit, hujan-hujanan dalam setiap kesempatan yang memungkinkan (bahkan saya tidak segan-segan membawa pakaian ganti dengan niat main hujan-hujanan di sekolah. Kalau dirumah kan nanti ketahuan. Begitu fikir saya. Hhe). Waktu kelas delapan, saya jadi pelopor main kartu UNO bareng kawan sekelas sampai kami dihukum bersihin WC satu sekolah sama pak kepsek (Bapak Nurul Huda, semoga selalu dalam lindungan Allah :) ), telat setiap hari Sabtu untuk ikut Pedalaman Materi yang diisi kakak alumni, sampai urusan tugas karya tulis Bahasa Indonesia yang bahkan sampai sekarang tidak diselesaikan meski katanya itu syarat kelulusan. (Ini jelas bukan contoh yang baik, Bukan untuk ditiru. Jangan coba-coba ditiru.)

Tapi di atas itu semua, disini saya belajar untuk memahami orang lain, belajar untuk meningkatkan kepekaan saya yang (mungkin) terbilang keterlaluan. Selain itu, saya juga belajar tentang bagaimana sosok seorang ibu yang selalu merindukan anaknya pulang. Bahwa ternyata, wujud kasih sayang manusia tidak sederhana, meski kebersamaan yang membangunnya begitu-teramat-sangat sederhana. Allah juga memberikan saya kemudahan untuk belajar mengatur pola fikir, bagaimana harus berfikir positif, dan fakta bahwa isi kepala sangat berpengaruh pada fisik secara nyata. Sick mind --> sick body sebaliknya, fikiran yang sehat akan menyehatkan fisik. Disini juga, saya belajar untuk menaruh cita dan mimpi -bersama teman-teman-. Menjadikan hal-hal kecil sebagai objek observasi. Meributkan persoalan sehari-hari untuk dijadikan bahan perbincangan yang dikemas jadi beraroma ilmiah. (Saya masih ingat perbincangan dengan kawan-kawan mulai dari solenoida dan gulungan kawat sampai urusan cicak mati karena selotip). Juga, hal yang sangat penting. Saya belajar tentang makna kejujuran, ketekunan, dan ketulusan. Mungkin sewaktu-waktu, akan saya ceritakan mengapa, bagaimana demikian. :D


Official Web Page MTsN 32 Jakarta bisa dilihat disini. :)

Sunday, September 1, 2013

Halte Berikutnya

Kurang lebih dua minggu sejak pertama kali saya menjadi penghuni tetap tanah ini. Tak berbeda dengan teman-teman kebanyakan, meski kembali tinggal di asrama, adaptasi jelas mutlak adanya. Tanah yang dipijak berbeda, jelas peraturan, sistem, pergaulan, lingkungan-pun juga berubah. Semua ini butuh adaptasi. Butuh format ulang, formula baru, jurus andalan yang baru. Dinamis. Sekarang, saya jadi benar-benar memahami makna dari kalimat yang dilontarkan salah seorang guru saya di madrasah Aliyah dahulu; “Insan Cendekia itu dunia imajinatif, fantasi. Semua orang baik. Di luar gak seperti ini.” Kurang lebih begitu. Yup, saya juga jadi lebih paham kalimat “hidup itu ga seindah di IC, De. Aman, nyaman, tentram, gak seindah itu”. Belum lagi mendengar cerita kawan-kawan seperjuangan yang sama-sama hinggap di tanah juangnya yang baru. Benar. Dunia ini logis. Dan kita harus pandai-pandai menyeleksi mana kelogisan yang hendak kita ambil. Harus meningkatkan daya kritis. Tapi soal hidup ini indah, saya yakin 100% benar adanya. Kan sudah diatur sama Dia. :D

Nyatanya, pernah menapaki kaki di Insan Cendekia sebagai seorang siswi adalah nikmatNya yang luar biasa. Saya dipaksa untuk tahu diri, dipaksa untuk tahu malu pada diri sendiri, pada negeri sendiri. Label anak beasiswa yang saya dan teman-teman rasakan menjadi ‘beban’ dalam artian luas. Kami benar-benar punya hutang pada negeri ini. Baru beberapa hari yang lalu masa perkenalan kampus saya telah selesai. Tak lama lagi akan dilaksanakan peresmian sebagai mahasiswa baru. Insya Allah. Tak akan saya bahas disini, soal masa perkenalan kampus yang tahu-tahu jadi agak hambar karena diri sendiri yang malah terngiang-ngiang bagaimana dulu digembleng selama satu minggu dalam Pekan Ta’aruf Siswa ketika hendak memasuki madrasah aliyah boarding school itu. Yang saya sadari, benar sekali pepatah yang berbunyi “yang kedua dan seterusnya akan terasa lebih mudah dibanding yang pertama”.

Tentang halte baru saya ini; Institut Pertanian Bogor. J Alhamdulillah, setelah proses panjang, melalui fase-fase bingung dan segala turunannya, pada akhirnya tiba juga saya disini. Kota Bogor yang terkenal menyandang gelar kota hujan lantaran curah hujannya yang terbilang cukup tinggi. Jurusan? IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen). Sebuah jurusan yang jangankan Anda, saya pun baru mendengarnya kurang lebih satu tahun lalu. Agak berliku. Psikologi, pendidikan, biologi, teknologi pangan, sampai akhirnya menemukan yang namanya IKK ini justru disaat saya sedang mencari tahu tentang jurusan biologi. Sempat hampir mantap mengambil jurusan teknologi pangan dengan beasiswa S1 di salah satu perguruan tinggi swasta daerah Kuningan, ternyata pada akhirnya yang saya ambil ya IKK ini. Apapun, saya yakin rencanaNya tidak pernah salah dan selalu indah. Insya Allah. :D tentu bukannya tanpa pertimbangan dan tanpa tujuan. Saya punya alasan kenapa memilih disini, institut ini, dengan jurusan yang telah saya sebutkan di atas.

Mengetahui bahwa kita tidak sendirian di tanah baru adalah hiburan tersendiri. Ada beberapa yang sudah saya kenal disini. Teman MAN, MTS, MIN, juga ada kenalan-kenalan baru yang terhubung secara ajaib; networking. Saya jadi ingat syair Imam Syafi’I yang dahulu sempat menjadi sajak penyemangat saya di masa-masa awal ketika harus melakukan perantauan kecil saat Aliyah.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih
Jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa
Jika di dalam hutan

-Imam Syafi’i-

Pertama kali mengetahui sajak ini dari acara bedah buku yang diadakan perpustakaan sekolah saya. Mengundang Ahmad Fuadi, membahas novel dari triloginya yang pertama; Negeri 5 Menara. Saat itu, sajak ini seperti punya daya tarik tersendiri bagi saya. Menyemangati sekali. Saya tulis dimana-mana. Saya baca berulang-ulang. Saya promosikan ke teman-teman. Lewat tulisan, lisan, telepon, apapun. Tahu-tahu jadi hapal. Hhe. Dan di halte baru saya ini, saya punya ‘jargon’ andalan. Ingat kata-kata seorang teman melalui pesan singkat di suatu siang. Hari kedua saya tinggal di tempat baru ini. Begini;

“Selamat kembali berjuang..
Ayo kita niatkan mencari ridhoNya J
Inget ini:
Man kharaja fii thalabil 'ilmi fahuwa fii sabiilillaahi hattaa yarji'a"

Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia ada di jalan Allah hingga pulang. Ini janji yang keren abis. 8) jadi alarm supaya harus selalu ingat, niat awal melangkahkan kaki ke halte baru ini. Memang, jarak rumah dengan tempat rantauan saya ini terbilang dekat. Katakanlah Jakarta-Bogor. Jauh dibandingkan teman-teman saya yang lain. Jawa Timur, Aceh, hingga Papua. Tapi ini dia janjiNya yang keren. Ga ada syarat jarak disana. Semua orang dapet kesempatan yang sama. Adil. Sama rata. J

Perbedaan lagi yang sangat perlu dikondisikan. Di asrama masa Aliyah, tidak ada yang namanya barang-barang elektronik seperti HP atau laptop berkeliaran di asrama. Peraturannya yang mengharuskan seperti itu. Berbeda, sekarang dibolehkan. Yang namanya mahasiswa tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan siswa, kan? Nah, dimana-mana, yang namanya kebijakan pasti punya dampak positif dan negatif. Asyiknya dulu adalah, antar kawan satu asrama jadi banyak sharingnya. Mau ngapain lagi, teman ngobrol ya yang ada di depan mata. Gak ada dunia maya-mayaan itu. Banyak sharing, lebih dekat. Susahnya, kalau mau ada acara kumpul atau rapat, komunikasinya jadi lebih kompleks. Hhe. Lagi, hidup terasa lebih sehat tanpa benda-benda elektronik. Serius. Sekarang, bias ditebak. Ketika benda-benda itu bebas berkeliaran, semuanya jadi terasa lebih individualis. Asyik sama dunia maya masing-masing. Asik nonton film, asik chatting. Nilai plusnya, tugas lebih mudah, bisa dipakai untuk sarana produktif kayak nulis ginian, (meski tahu-tahu saya sadari, frekuensi menulis saya di buku jurnal berkurang drastis. Kebanyakan nulis di media digital jadinya). Satu hal. Harus pandai-pandai self control. Dan ini justru bagian yang paling sulit. Kalau dulu rajin bolak-balik manggil orang untuk kumpul misal, sekarang tinggal ketik pesan, send, selesai. Rasa malas benar-benar diuji. Serius. Dari sini saya sadar, tantangan yang benerannya bukan saat saya berada di Aliyah dulu. Justru ketika sudah menjadi alumni, dan menapaki halte baru. Sejauh mana pengalaman yang sudah saya dapat mampu saya terapkan di kehidupan yang katanya keras ini. Lagi! Tentang shalat lima waktu. Benar kata kakak-kakak yang sudah mendahului jadi alumni. Yang namanya shalat lima waktu, tepat waktu, di masjid, itu akan sangat dirindukan. Dan saya mulai merasakannya. Iya, benar sekali. Kalau dahulu ke masjid merupakan rutinitas, ya sekarang tidak lagi. Memang, perempuan kan lebih utama shalat di rumah. Soal tepat waktu pun, dahulu kegiatan sudah diatur sedemikian rupa. Waktu sudah tersistem. Sekarang, memang sih belum mulai kuliah. Tapi rasanya, benar sekali. Harus pandai mengatur waktu sendiri. Harus mandiri.

Anak kecil. Sejak dulu saya senang ngeliatin anak kecil. :D mereka mampu terlihat sangat yakin, dan bisa sangat percaya akan suatu hal. Anak kecil punya kekuatan luar biasa yang bagi saya sungguh inspiratif. Ini yang menjadi landasan saya bisa berkata dengan PDnya suatu siang di gedung serba guna sekolah Aliyah saya, bahwa yang namanya cicak terbang itu ada. Ini juga yang jadi landasan saya, berkoar-koar kalau saya benar-benar punya indera ke6. Dan tidak masalah. Saya merasakan dampak luar biasa. Anak kecil benar-benar inspiratif. Dan saya bersyukur pernah menyandang gelar itu; menjadi seorang anak kecil. Kenapa tiba-tiba ngomongin anak kecil? Hha. Soalnya, ini yang sempat saya khawatirkan; kehilangan semangat anak kecil itu. Kata orang, seiring bertambah usia, pikiran manusia akan semakin realistis dalam artian tidak out of box seperti anak kecil. Terbatas. Tapi dilihat-lihat, itu bukan rumus mutlak. Makanya, biar saya ikat disini dengan menuliskannya. Biar ingat, biar tetap yakin. Biar tetap childlike. Biar bisa berbagi. :D

Haha, loncat-loncat. Saya tidak memiliki point jelas, daftar apa-apa yang hendak saya tuliskan. Memang bukan tipe orang yang terstruktur. Biarkan saja lah, anak kecil juga tidak terstruktur kan. :P #eh. Jadi begini saja. Apapun, semoga halte baru ini menjadi tanah perjuangan saya dan kawan-kawan berikutnya. Aamiin Allahumma Aamiin. Insya Allah. :D

Bogor, August 31st 2013 5.27 pm.

Bersama 6 orang kawan seperjuangan dari tanah Serpong yang hijrah ke Bogor.
"Kami pernah menapaki tanah ini. Pergi, kembali, kelak untuk negeri."
Galang - Itse - Arif - Riz - Rowi - Zahra - Qomar