Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Saturday, June 3, 2017

EVALUASI SOSIAL PADA BAYI DAN BALITA

Kali ini kami akan membahas artikel berjudul How Infants and Toddlers React to Antisocial Others yang dipublikasikan pada 2011 dan ditulis oleh Hamlin dkk. Dari judulnya, sedikit banyak dapat diperkirakan bahwa artikel ini bicara tentang bagaimana bayi dan anak balita memberi respon akan perilaku antisosial pada orang lain.

Hal yang bagi saya menarik dari penelitian ini adalah, bahwa Hamlin dkk. tidak hanya sekadar melakukan penelitian tentang bayi dan balita, melainkan melibatkan bayi dan balita. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi kaya akan informasi dan menjelma jadi enlightenment. Ia tidak hanya berbicara tentang teori dan bagaimana pandangan para ahli ataupun orang tua yang menjadi narasumber, melainkan langsung menyentuh tokoh utama sebagai subjek penelitian. Berikut tabel yang berisikan informasi mendasar mengenai artikel yang sedang dibahas.

Judul
How infants and toddlers react to antisocial others
Dipublikasikan pada
PNAS (Proceeding of The National Academy of Sciences of the United State of America). 108(50): 19931-19936
Tahun
2011
Penulis
J. Killey Hamlin (a); Karen Wynn (a); Paul Bloom (b); Neha Mahajan (b)
Lembaga/instansi
a= Department of Psychology, University of British Columbia
b= Department of Psychology, Yale University, New Haven
Abstrak
Although adults generally prefer helpful behaviors and those who perform them, there are situations (in particular, when the target of an action is disliked) in which overt antisocial acts are seen as appropriate, and those who perform them are viewed positively. The current studies explore the developmental origins of this capacity for selective social evaluation. We find that although 5-mo-old infants uniformly prefer individuals who act positively toward others regardless of the status of the target, 8-mo-old infants selectively prefer characters who act positively toward prosocial individuals and characters who act negatively toward antisocial individuals. Additionally, young toddlers direct positive behaviors toward prosocial others and negative behaviors toward antisocial others. These findings constitute evidence that the nuanced social judgments and actions readily observable in human adults have their foundations in early developing cognitive mechanisms.
Keywords: cooperation, infancy




Penelitian ini terdiri atas 5 eksperimen yang melibatkan bayi dan balita dengan berbagai usia. Pada masing-masing eksperimen, subjek diberikan perlakuan untuk kemudian dilihat reaksinya. Untuk lebih rinci, saya merangkum tujuan, subjek, metode, dan hasil dari masing-masing eksperimen pada tabel berikut.

Tujuan Penelitian
Untuk memastikan perkembangan alami dari kemampuan untuk mengevaluasi keadaan sosial pada bayi praverbal dan pada balita yang baru saja memasuki tahap verbal.
Subjek Penelitian
Eksperimen 1: Bayi usia 5 bulan dan 8 bulan
Eksperimen 2: Bayi usia 8 bulan
Eksperimen 3: Bayi usia 9 bulan
Eksperimen 4: Balita usia 19 bulan -23 bulan
Eksperimen 5: Balita usia 19.20 bulan – 22.29 bulan
Metode Penelitian
·         Eksperimen 1
Bayi dipertontonkan tayangan akan adanya tokoh (boneka tangan) yang mendapat pertolongan untuk membuka box dari “boneka prososial” dan “boneka antisosial”. Kemudian setelah mengobservasi interaksi tersebut, bayi diminta untuk mengevaluasi tokoh baru yang berlaku sebagai penolong (kemudian disebut Giver) dan berbahaya (kemudian disebut Taker) bagi tokoh yang sebelumnya berperan sebagai boneka prososial dan boneka antisosial.
·         Eksperimen 2
Serupa pada Eksperimen 1, namun target diganti bukan menjadi pelaku melainkan menjadi korban (berbeda pada Eksperiman 1 dimana target adalah boneka prososial dan boneka antisosial. Pada eksperimen 2, target adalah korban dari perilaku kekerasan/antisosial). Kemudian, target ditampilkan bermain bola yang diambil oleh Taker kemudian dikembalikan oleh Giver (Taker dan Giver merupakan tokoh yang sama dengan yang ditampilkan pada Eksperimen 1)
·         Eksperimen 3
Subjek diganti dengan balita berusia 19 bulan, dan diperlakukan sama seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2.
·         Eksperimen 4
Balita usia 9-23 bulan bermain permainan pemanasan dengan diminta untuk memberikan “treats” kepada beberapa boneka hewan dengan meletakkan balok kepada wadah masing-masing boneka hewan. Kemudian ditampilkan bahwa boneka hewan sangat senang mendapat “treats” tersebut.
Setelah itu balita dipertontonkan tayangan seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, kemudian diminta untuk memilih apakah akan memberi “treats” pada Giver atau Taker. Balita dihadapkan pada dua kondisi (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
·         Eksperimen 5
Sekelompok balita yang baru diajarkan untuk memberi treat pada hewan dan memilih dari dua karakter untuk memberi atau mengambil treat dari karakter tersebut. Balita dipertontonkan tayangan yang sama seperti pada Eksperimen 2 melibatkan tokoh yang ditolong dan diganggu. Kemudian diminta untuk memilih apakah memberi atau mengambil kepada/dari Helpee (ditolong) dan Hinderee (diganggu)
Hasil Penelitian
     §  Eksperimen 1
-          12 dari 16 bayi 5 bulan dan 12 dari 16 bayi 8 bulan memilih Giver ketika target merupakan boneka prososial. ketika target merupakan boneka antisosial, 14 dari 16 bayi 5 bulan memilih Giver sedangkan 13 dari 16 bayi 8 bulan memilih Taker.
-          Pada usia 8 bulan, bayi memilih tokoh yang berlaku positif pada pihak prososial dan memilih tokoh yang berlaku negatif pada pihak antisosial.
§  Eksperimen 2
-          13 dari 16 bayi memilih Giver dari Taker. Berbeda signifikan dengan pilihan bayi 8 bulan terkait tokoh antisosial pada Eksperimen 1.
§  Eksperimen 3
-          Pada target prososial= 12 dari 16 memilih Giver
-          Pada target antisosial= 14 dari 16 memilih Taker
-          Pada target sebagai korban= 13 dari 16 memilih Giver
§  Eksperimen 4
-        13 dari 16 balita memilih untuk memberi “treats”pada boneka prososial.
-  14 dari 16 balita memilih untuk mengambil “treats” dari boneka antisosial.
-   Pilihan balita sangat berbeda signifikan pada dua pilihan keadaan yang dihadapkan (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
§  Eksperimen 5
-          11 dari 16 balita memilih untuk memberi pada Hinderee
-          13 dari 16 balita memilih untuk mengambil dari Helpee
-          Balita pada kondisi Taking menghindari mengambil treat dari tokoh yang telah mengalami gangguan sosial dari pihak ketiga. Respon ini bertolak belakang dengan yang diprediksikan pada Eksperimen ketika target sebagai korban.
-  Menunjukkan bahwa balita yang lebih tua memiliki kemampuan memberi empati. Balita menghindari mengambil dari karakter yang telah diganggu karena mereka dapat merasakan simpatik padanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dapat melakukan evaluasi sosial secara sederhana dengan statement “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa balita dapat merasakan simpatik kepada pihak lain di luar dirinya. Menurut saya pribadi, agaknya Hamlin dkk. cukup berhasil menunjukkan bahwa setiap individu dewasa hari ini memiliki fondasi kognitif moral sejak dini. Dalam bahasa lain, kita dapat mengatakannya sebagai hati nurani, atau juga akrab dengan istilah fitrah; nilai-nilai yang tertanam sejak lahir secara manusiawi.

Saya jadi ingat akan teori perkembangan moral dari Bandura yang menyebutkan bahwa perkembangan moral anak merupakan hasil observasi dan imitasi— hingga dipertanyakan dimanakah peran aspek internal? juga teori Piaget dan Kohlberg yang memperoleh tanggapan kritis dari beberapa kalangan karena menyebutkan bahwa bayi tidak memiliki moral reasoning. Teori keduanya belum dapat menjelaskan tentang bagaimana pendidikan karakter pada usia dini dapat dilakukan, mengingat baik Piaget maupun Kohlberg mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun belum dapat memahami moral. Barulah Thomas Lickona muncul dengan teori yang lebih komprehensif nan kiranya dapat lebih menjelaskan dan menjawab teori-teori sebelumnya. Lickona menggabungkan berbagai teori sekaligus (termasuk padangan Piaget dan Kohlberg) sehingga melahirkan 6 tahap perkembangan moral pada manusia, sebagai berikut.
.
1. Fase bayi (0- 3 tahun) = fondasi moral
2. Fase 1 (+- 4 tahun) = berfikir egosentris
3. Fase 2 (4,5-8 tahun) = patuh tanpa syarat
4. Fase 3 (8,5-14 tahun) = memenuhi harapan lingkungan
5. Fase 4 (16-19 tahun) = ingin menjaga kelompok
6. Fase 5 (>20 tahun) = moralitas tidak berpihak

Fase bayi (0-3 tahun) merupakan fondasi awal bagi perkembangan moral. Pada fase ini, bayi membutuhkan bonding dan attachment dengan orang tua terutama ibunya. Orang tua perlu memberikan ekspresi cinta, rasa aman, stimulasi fisik dan mental, serta keseimbangan antara kasih sayang dan otoritas. Berkaitan dengan hasil penelitian Hamlin et al. (2011), anak-anak yang menunjukkan evaluasi sosial yang baik boleh jadi tumbuh dari keluarga yang telah memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan moral pada masa bayi tersebut. Perkembangan anak akan selalu melibatkan dua faktor secara garis besar; nature dan nurture (bawaan dan oleh faktor lingkungan).

Adalah hal yang menarik dalam penelitian Hamlin dkk, bahwa ternyata bayi yang mungkin sebagain besar masyarakat menilainya “belum mengerti apa-apa,” ternyata mampu mengevaluasi dan memilih sesuai dengan nilai-nilai nurani. Saya jadi ingat pertanyaan salah seorang ibu muda pada satu-dua tahun lalu, ketika saya asyik menggendong anaknya dan mengajak si anak berbincang-bincang tentang benda-benda di sekelilingnya. Ibu muda yang tidak lain adalah kawan saya itu lantas bertanya, “Emang dia udah ngerti ya, Ris, diajak ngobrol begitu?” saya dengan keilmuan yang sangat terbatas kemudian menjawab, “Yaa mungkin saja belum ngerti sekarang. Tapi insyaAllah terinternalisasi. Kalau pun nggak ngerti, minimal diajak ngobrol dan itu berdampak baik buat dia. Semoga ya, hhe..” belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata bayi jauh lebih cerdas dari apa yang saya duga sebelumnya.

Anak balita pun ternyata memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa simpati. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari Eksperimen 5 yang menyebutkan bahwa anak balita lebih memilih untuk memberi pada tokoh yang telah mengalami keburukan, dan lebih memilih untuk mengambil dari tokoh yang sebelumnya mendapat pertolongan. Apa artinya? kita dapat lebih mudah memahami dengan ilustrasi seperti ini: berikan bantuan pada seseorang yang lebih membutuhkan. Jangan mengambil/meminta sesuatu pada seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu tersebut. Menurut saya, ini adalah konsep sederhana dari saling memahami. Terlebih lagi, ia merupakan landasan dasar dari kepekaan sosial antar manusia.

Kesimpulan penelitian
- Bayi dapat melakukan evaluasi sosial, yaitu bahwa “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”.
-     Balita dapat merasakan simpatik.
- Orang dewasa telah memiliki fondasi sejak dini terkait mekanisme kognitif.






Apa yang dilakukan oleh Hamlin dkk. bukan merupakan penelitian pertama yang fokus pada perilaku sosial dari anak-anak. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa balita terlibat dalam perilaku sosial terhadap orang dewasa dan remaja, berlaku prososial terhadap koban tindak antisosial, dapat melakukan protes selama atau setelahnya, dan secara selektif memberikan penghargaan pada pihak prososial dibandingkan antisosial. Uraian lebih lengkap mengenai teks lengkap artikel hasil penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut: KLIK DISINI. Selain itu, penelitian di Yale Univeristy ini juga diliput oleh CNN TV yang dapat disaksikan melalui situs YouTube melalui tautan berikut: KLIK DISINI.

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada perbedaan pendapat antar tokoh mengenai satu pertanyaan sederhana: apakah bayi dilahirkan dalam keadaan “tabula rasa”? ataukah setiap bayi lahir degan keadaan memiliki “blue print”? bahasa lainnya ialah perdebatan antara konsep nature vs nurture. Juga perbedaan pandangan akan satu pihak yang memandang bayi terlahir “baik” sehingga harus dijaga, dan bayi terlahir “jahat” sehingga harus dididik dan memperoleh pembelajaran. Ialah pemikiran-pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai mcam hipotesa. Sebagain berujung teori, sebagian lain boleh jadi cukup berakhir pada tanda tanya dan asumsi.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Seiring dengan waktu, fakta-fakta ilmiah bermunculan yang boleh jadi menjawab berbagai pertanyaan pada masa sebelumnya. Contohnya adalah teori perkembangan moral yang hari ini semakin jelas beserta contoh praktis untuk orang tua tentang bagaimana cara mendidik moral anak. Hari ini kita dapat dengan mudah membaca buku parenting, mulai dari yang bentuknya “serius” menjadi referensi ilmiah, sampai yang menggunakan bahasa populer untuk dibaca oleh kalangan umum. Namun sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW, sekian tahun silam, melalui sabdanya telah memberikan petunjuk pada kita mengenai perkembangan anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Setiap manusia memiliki hati nurani. Kemudian bekal yang telah dimiliki itu lantas berinteraksi dengan lingkungan, yang dalam hal ini disebutkan ialah orang tua. Pengasuhan yang dilakukan orang tua turut berkontribusi pada seperti apakah kepribadian anak akan terbentuk, nan menjadi apa dan beragama apa si anak kelak. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan yang menyebut adanya faktor bawaan dan faktor lingkungan (herediter dan lingkungan), maka fitrah, menurut hemat saya, adalah faktor bawaan yang mutlak ada dan seragam pada setiap manusia; di luar faktor bawaan lain yang sifatnya ciri fisik atau kecerdasan nan tempramen— yang boleh jadi berbeda pada masing-masing individu.


***

Jadi kalau ada yang bertanya (lagi): ”Apakah agama adalah warisan?”
kira-kira, Anda akan menjawab apa? J

Mungkin tergantung dari pemaknaan kita tentang “agama” dan “warisan” itu sendiri. Yang pasti, setiap manusia terlahir dengan fitrah. Dan saya haqqul yaqin, itu adalah fakta absolut yang mutlak.



Ditulis di Batavia,
Pada 8 Ramadhan 1438 H

Friday, December 25, 2015

Halal Awareness for Children

Halal has become the lifestyle in the world. For Muslim consumers, halal product means that the products has met the requirements laid down by the Islamic shariah law. As the Muslim populations increasing throughout the world, the awareness on consuming Halal also goes in the same parallel trend. Halal is not only covering food consumption, but also for non-food products such as cosmetics, toiletries, pharmaceuticals, leather products, perfume and fragrances, brushes and so on. The services such as banking, entertainment, tourism, and logistic are also related to Halal requirements (Rahim, 2013).

It is important for muslim to know about halal and why it matters their life. Especially about food, Allah SWT said in Quran surah Al-Baqarah: 172 "O you who believed, eat from the good things which We have provided for you and be grateful to Allah if it is [indeed] Him that you worship." and Al-Baqarah: 173 "He has only forbidden to you dead animals, blood, the flesh of wine, and that which has been dedicated to other than Allah. But whoever is forced [by necessary] neither desiring [it] nor transgressing ]its limit]. there is no sin upon him. Indeed, Allah is forgiving and merciful."  Both show that Halal education is needed especially for muslim as consumers.

The best period to educate is in children era.  Children period of human is the most appropriate time for somebody to get education includes halal awareness. It should be given by parents for children as it is a crucial thing for us as muslim. This following five points will show you how to build halal awareness among children:

1. Show them. Show them that you’re aware before you tell them what awareness is. Children are good imitators. Many people failed because they used to tell their children without even show them how. Start with simple things such as read ingredients and make sure about halal logo in your food packaging, or make conversation about halal with your spouse -for the example. Let your children see.

2. Let and teach. Sometimes, it is important for children to make a decision by their self. Bring your children in shopping time, and ask them to help you choose a product. Whether they choose the ‘halal’ one, appreciate it. “Alhamdulillah, thank you for choosing me the halal one, Honey.” But when they choose the non halal one, or product with no halal logo, that’s a right time to tell them. Say something good and correct it, “Alhamdulillah, thank you for helping me, Dear. But this one has no halal logo. How if we choose another?” -and don't forget to smile.

3. Make dua. Dua is our weapon as muslim. Start every single thing with dua. We know that we can’t ensure the halalness for every product. For the example, we eat fried chicken in a restaurant, We don't know; is it halal? is it slaughtered properly based on syariah? Then, dua completes our effort. Dua is an indicator that we’ve tried our best and we act tawakkal as Allah commands us in the Quran. Involved your children in dua activity, build the sense of tauhid in all of their activity. Later, this simple thing will significantly affect their future. InshaaAllah.

4. Right and Obligation. Help your children to learn moral reasoning about halal. Children usually questioning everything. Why we can't eat those things? why we have to aware about halal? why. why, why. Specifically, they usually ask ‘why’ for every single thing. Do not ever feel too lazy to answer their question. Remember that you're helping them to build awareness. Use creative ways to tell about right and obligation as a muslim, and show the beauty of Islam :) One more thing, remember to use concrete explanation. Make it easy for them to understand.

5. Story. Story telling is a great choice to educate children and raising their halal awareness. It elaborates audio, visual, and also kinesthetic. You can make your own story, or search it on the internet. In addition, it is also important for you to tell them about sirah nabawiyah and another islamic story especially that linked into halal.

         

Well done, happy raising awareness! :)

Rahim NF, Shafii Z, Shahwan S. 2013. Awareness and perception of muslim consumers on non-food halal product. Journal of Social and Development Sciences 4:478-487.

  Rizky Sahla Tasqiya, student of Family and Consumer Sciences
Halal Product Management | Syariah Economy | Bogor Agricultural University

Monday, July 13, 2015

Perempuan

“Surga ada di telapak kaki ibu.”
-Muhammad SAW-

Perempuan: Peran dan Kontribusinya

            Bicara tentang perempuan berarti berarti bicara tentang eksistensi, peran, serta dampak keberadaannya dalam kehidupan. Perempuan dalam perkembangan zaman mengalami tapak sejarah yang begitu dinamis. Mulai dari perempuan yang dikubur hidup-hidup karena dianggap sebagai aib lagi hina; perempuan yang dianggap memiliki jiwa namun tidak kekal dan hanya bertugas sebagai pelayan; perempuan yang diperlakukan sebagai budak dan di-nomor-duakan; hingga pada ahirnya sampailah risalah Islam yang memberikan pencerahan bahwa perempuan memiliki bagiannya tersendiri dalam kehidupan. Eksistensi serta peranan perempuan nyata –bahkan ia begitu dimuliakan. Perempuan memperoleh kedudukan istimewa dengan menjadi madrasah pertama dan utama bagi setiap manusia; berperan sebagai seorang ibu dalam kehidupan.

            Kualitas perempuan sebagai ibu sangat menentukan kualitas tumbuh-kembang anak-anaknya. Kalimat “Mendidik perempuan Sama dengan Mendidik Bangsa” besandar pada alasan bahwa ibu yang cerdas akan mencerdaskan anak-anaknya. Lebih dari itu, kualitas baik perempuan yang berperan sebagai seorang ibu juga turut menentukan kualitas keluarga. Sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga berperan penting dalam berbagai aspek, terutama sebagai sarana primer pembentukan karakter anak. Adapun karakter baik anak adalah investasi yang dapat menjadi salah satu tolak ukur kemajuan bangsa di masa depan.

            Penting bagi perempuan untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas. Berkualitas yang dimaksud adalah memiliki kualitas secara luas dan menyeluruh mengingat peran perempuan yang memiliki dampak jangka panjang yang besar bagi peradaban. Pada pembukaan acara International Muslim Women Union (IMWU) 14 Februari 2015 lalu, Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan bahwa negara yang baik ditandai dengan kaum perempuan yang baik. Menurutnya, perempuan pada hakikatnya merupakan tiang, bahkan fondasi negara. Sebab pada setiap pemimpin yang berhasil memimpin negara, kata beliau, ada perempuan di sampingnya. Hal tersebut tentu menjadikan perempuan sebagai pedang bermata dua. Kualitas perempuan yang baik akan berdampak positif secara luas. Namun sebaliknya, jika kualitas perempuan rendah, tentu akan berdampak negatif secara luas pula.

            Perempuan sebagai individu memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungannya. Kepekaan sosial merupakan salah satu aspek kualitas yang penting diperhatikan perempuan sebagai makhluk sosial. Sebagaimana ditulis oleh Kartini dalam catatan hariannya pada Januari 1903; “Siapa yang akan menolak jika dikatakan bahwa perempuan mempunyai tugas mulia untuk membentuk moral masyarakat?”. Lebih jauh lagi, dengan meneladani ibunda Khadijah yang menunjukkan tanggung jawab sosialnya melalui kedermawanannya, juga ibunda Aisyah yang mengambil peran besar pada lingkungan sosial dengan kecerdasannya. Maka perempuan, dalam memenuhi tanggung jawab sosialnya sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat, hendaknya menyesuaikan dengan apa yang ada pada dirinya. Hendaknya ia memaksimalkan potensi yang dimiliki demi kebermanfaatan yang besar dan meluas.

            Ada begitu banyak perempuan yang berperan serta berkontribusi di dalam sejarah peradaban manusia. Baik itu yang secara terang-terangan, maupun yang tidak tertulis dan tidak tercatat dalam lembar catatan sejarah.  Perkembangan peran perempuan di masyarakat menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Hal tersebut tentu menunjukkan suatu hal positif selagi perempuan menjalankan perannya secara tepat dan komprehensif. Namun sayangnya, dewasa ini banyak terjadi pergeseran paham yang dikhawatirkan justru akan menyebabkan bumerang tersendiri bagi perempuan. Peran perempuan pada sektor publik yang berlebihan rentan mengganggu perannya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya baik sadar maupun tidak. Maka dari itu, peran perempuan dalam sejarah peradaban manusia memiliki artian yang luas sejauh perempuan memiliki pemahaman baik akan dirinya dan hal apa yang selayaknya ia lakukan dalam peradaban itu sendiri.

            Ada perempuan yang sukses mengelaborasikan perannya, baik itu sebagai seorang ibu maupun pemenuhan tanggung jawab sosialnya sebagai individu di tengah-tengah masyarakat. Di Indonesia pada generasi awal, salah satunya yaitu Nyonya Abdoerachman yang mendirikan berbagai sarana untuk masyarakat mulai dari mendirikan Sekolah Kartini, sebagai pencetus organisasi Kemadjuan Istri yang memperkenalkan beberapa pelatihan tentang cara mengasuh dan membesarkan anak, hingga mendirikan konsultasi gizi untuk anak-anak hasil kerjasama dengan seorang pejabat WHO, Dr. J. H. de Haas. Bukan hanya itu, tapi beliau juga memberikan pendidikan membaca AlQuran, sejarah Jawa, dan pendidikan modern hingga tingkat universitas kepada anak-anaknya sepeninggalan sang suami.

            Kisah Nyonya Abdoerachman secara tidak langsung mengamini pernyataan yang tertulis di atas, bahwa ibu yang cerdas akan mencerdaskan bangsanya. Kualitas perempuan dalam lingkugan sosial baik itu kualitas berinteraksi dengan masyarakat, memenuhi tanggung jawab sosialnya dalam membangun moral, maupun kontribusi sesuai potensi yang ia miliki, sejatinya merupakan bekal bagi perempuan dalam proses pengasuhan tumbuh-kembang anak-anaknya kelak. Bahkan boleh jadi dari sanalah anak-anaknya kelak terinspirasi dan memiliki semangat juang untuk turut berkiprah menebar kebermanfaatan di masyarakat sesuai dengan bidangnya masing-masing.

             Membicarakan kontribusi perempuan pada pembangunan bangsa tentu tidak bertumpu pada persoalan pendidikan dan pengasuhan anak semata. Melainkan juga dari segi perekonomian. Tidak dapat dipungkiri, ada begitu banyak masyarakat kita yang perempuanya turut bekerja mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga. Bahkan semakin kesini hal tersebut semakin lumrah dan dianggap biasa. Sejatinya, perempuan yang bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga pun sebenarnya memiliki kontribusi terhadap perekonomian bangsa. Bahkan dapat dikatakan memberi sumbangsih yang besar. Hanya saja dalam perhitungan ekonomi negara, hal tersebut tidak diperhitungkan secara eksakta sebab tidak mudah mengkonversinya menjadi satuan angka.

            Namun demikian, kontribusi terbesar perempuan terhadap pembangunan bangsa tetap terletak pada perannya sebagai seorang ibu. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa peran seorang ibu ialah sebagai madrasah, sebagai sekolah yang pertama dan utama bagi anak-anaknya. Maka peran perempuan sejatinya sangat strategis. Tidak hanya saat anak-anaknya berada pada usia kanak-kanak, melainkan perannya berkelanjutan hingga mereka tumbuh dewasa dan membentuk keluarga sendiri. Dampak yang diberikan barang tentu tidak secara instan dan mungkin tidak terlihat secara langsung. Akan tetapi, secara tidak langsung akan ada begitu banyak ranah pembangunan bangsa yang diwarnai oleh dukungan perempuan.

            Maka ketika kita bicara tentang perempuan, artinya kita bicara tentang sosok ibu –yang di bawah telapak kakinya lah surga dikabarkan berada. Surga ada di telapak kaki ibu; ialah sebuah kalimat sederhana yang mengandung begitu banyak makna. Jika seorang perempuan memiliki kualitas baik, maka baik pula lah kualitas anaknya, baik pula kelak bangsanya. Disanalah ‘surga’ itu ada. Sebaliknya, jika kualitas perempuan pada suatu bangsa rendah, maka tidak heran jika masa depan bangsa tersebut dikhawatirkan kemajuannnya. Akhirnya, semoga jumlah perempuan kita yang jumlahnya lebih dari setengah dari total ini menjadi potensi positif bagi masa depan dan pembangunan bangsa, bukan sebaliknya.

Referensi:

Kemenag. 2015. Menag: Perempuan adalah Tiang Negara. http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=239391 (diakses 25 Juni 2015).
Puspitawati, Herien. 2012. Gender dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor: IPB Press.
Republika. 2009. Masa Kelam Nasib Perempuan Pra-Islam. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/isl,am-nusantara/09/07/09/61229-masa-kelam-nasib-perempuan-pra-islam (diakses 25 Juni 2015).
Steurs, Cora Vreede-de Stuers. 2008. Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian. Elvira Rosa, Paramita Ayuingtyas, Dwi Istiani, Penerjemah. Depok: Komunitas Bambu. Terjemahan dari: The Indonesian Women: Struggles and Achievement.

Tulisan ini dibuat dalam partisipasi lomba menulis artikel oleh Jasmine tentang Manner in Move seorang perempuan.

Sunday, March 15, 2015

Menangis

“Kita menangis bukan karena kita lemah. Melainkan karena kita punya hati.”

Secara biologis, air mata berfungsi untuk menjaga agar mata kita tetap bersih dan jernih.  Kita bisa saja mengeluarkan air mata ketika dalam keadaan sangat mengantuk, atau ketika ada benda asing yang masuk ke mata kita. Namun air mata fisik tentu berbeda dengan air mata psikis. Bukan hanya dari penyebab, melainkan juga mekanisme yang terjadi dalam tubuh kita. Ialah menangis, proses yang biasa kita sebut-sebut ketika air mata hadir karena faktor psikologi.

Dari berbagai ekspresi rasa yang ditunjukkan manusia, menurut saya menangis adalah ekspresi yang paling unik. Ada yang mengatakan bahwa kita bisa saja tersenyum pada semua orang, tapi kita hanya bisa menangis di hadapan orang-orang tertentu. Dalam hal ini, menangis memiliki tingkat privasi yang lebih tinggi. Saya fikir, ungkapan tersebut ada benarnya. Saya menjumpai beberapa orang yang memberi pengakuan akan kesulitannya menangis meski mereka akui betapa mereka ingin melakukannya.

Menangis bukan sekadar pertanda sedih atau terharu. Menangis adalah ekspresi kejujuran. Itulah sebab mengapa menangis menjadi ekspresi yang paling sulit untuk direkayasa. Kita dapat dengan mudah memanipulasi senyum, bukan? Atau berpura-pura marah atas sesuatu hal. Tapi menangis? Tentu membutuhkan energi lebih untuk memalsukannya.

Menangis adalah ekspresi kejujuran; sebuah wujud keterbukaan. Maka kita tidak perlu bertanya-tanya mengapa anak kecil mudah sekali menangis. Mereka jujur dalam mengekspresikan setiap rasa kepada dunianya. Berbeda dengan remaja atau orang dewasa. Rumus menangis jadi tidak sesederhana itu. Ada banyak filter yang mulai bekerja. Kapan, dimana, kepada siapa, dan sederet syarat tak tertulis lain tentang menangis. Maka kita tidak perlu heran kalau sewaktu-waktu menjumpai seseorang yang terkenal begitu periang dalam keseharian, atau bahkan terkenal galak dan angkuh misalnya, tahu-tahu menangis sembari bersujud. Mungkin baginya, Tuhan adalah tempat yang tepat untuk diajak terbuka.

Karena menangis adalah ekspresi kejujuran; sebuah wujud keterbukaan
Kita bisa saja jujur pada seluruh dunia, namun tidak pada semua orang kita mampu terbuka. 


Sunday, September 7, 2014

Kalau ada yang baik, kenapa harus yang buruk?

Masih hangat dalam benak saya, tentang pemilihan presiden 9 Juli 2014 lalu yang menggoreskan warna tersendiri dalam sejarah per-politikan Indonesia. Saya tidak habis fikir, bagaimana kelak buku pelajaran sejarah akan jadi begitu menakjubkannya di masa depan. Seiring berjalannya waktu, tentu manusia akan semakin banyak mengukir sejarah. Bukan begitu? tapi kali ini saya tidak hendak membahas tentang pemilu atau persoalan pemerintahan yang bahkan Ummi saya sudah komentar melulu tentang ini. "Capek deh nonton berita. Negara kok jadi main-mainan," begitu ujar Ummi sambil mengganti channel TV siang tadi.

Ummi bilang, pemberitaan sudah tidak tertata rapi. Kriminalias diberitakan lengkap  dengan tutorial pembunuhan, atau tata cara penyelundupan barang terlarang. Kekerasan pada anak digembar-gemborkan media. Diusut terus-terusan. Padahal kalau kita berfikir jernih, ada banyak hal yang harus masyarakat ketahui. Bukankah lebih baik meletakkan proporsi yang berimbang, sesuai, dan mengedukasi? 

Di penghujung tahun 2014, atmosfer AFTA (Asean Free Trade Area) semakin terasa. Apalagi di kalangan mahasiswa atau pekerja, yang diprediksi akan lebih terkena dampaknya. Saya jadi menerka, bagaimana jika transaksi antar negara kelak dapat dilakukan dengan begitu mudahnya di kawasan Asean? Bagaimana jika wilayah-wilayah perbatasan Indonesia semakin bebas pergi ke negara sebelah? atau bahkan tenaga kerja asing kelak menguasai wilayah mereka. Lalu bagaimana dengan perilaku konsumtif remaja sekarang? yang bukannya mencari manfaat, tapi justru membeli produk berdasarkan brand semata. Bagaimana jika produk dalam negeri kalah bersaing bahkan di tanahnya sendiri?

Sejak duduk di bangku kuliah, saya semakin menyadari betapa Indonesia sebenarnya sangat potensial. Tidak hanya itu, semakin kesini, perhatian akan negeri di kalangan kaum muda semakin terlihat. (Atau mungkin karena memang usia saya yang sekarang termasuk 'kaum muda' jadi lebih dekat dengan isu-isu seperti ini?) Dalam hal produksi barang maupun jasa, tidak sedikit inovasi pemuda indonesia yang mampu berkecimpung hingga ranah internasional. Sebut saja Agrisocio, Indonesia Medika, hingga PT Kelola Mina Laut yang diakui negara asing, namun sayang masih banyak yang belum mengetahuinya di negara sendiri. Kebanyakan hanya dikenal oleh kalangan menengah ke atas atau akademisi.

Menurut saya, disinilah peran media seharusnya. Jika media-media khususnya televisi kerap memberitakan hal-hal yang negatif, tidak heran jika yang hadir dalam benak masyarakat bukanlah kecintaan pada negeri, melainkan kejenuhan hati. Maka tidak aneh jika produk dalam negeri masih kalah bersaing meski di tanah sendiri. Padahal menurut saya, banyak dari produk dalam negeri yang mengungguli produk asing, Hanya saja keterbatasan pengetahuan masyarakat akan produk tersebut yang menjadi kendala. Jangan katakan antara berita kriminal -misalnya- tidak berkaitan dengan penjualan produk. loh, ya :) sadar atau tidak, setiap informasi yang masuk akan tercerna dalam kepala kita.

Jadi ada baiknya jika media-media kita juga memberitakan tentang hal-hal positif. Tentang PIMNas yang diadakan dalam jangka tahunan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), tentang pelajar-pelajar Indonesia yang meraih prestasi baik dalam maupun luar negeri seperti medali perunggu IGeo tahun ini yang diraih seorang siswi tanah air, tentang upaya kaum muda yang bertujuan mulia demi kemaslahatan ibu pertiwi; Sahabat Pulau misalnya. Banyak pula produk inovasi-kreatif karya anak bangsa yang tidak sedikit lahir dari program PIMNas tersebut.

Kepercayaan bukanlah produk yang instant. Tidak serta-merta bisa hadir dalam waktu tiga puluh menit penyuluhan, apalagi sekian detik nasihat numpang lewat. Jika hubungan antara dua insan saja membutuhkan kepercayaan, terlebih dalam suatu negara yang mengikat berjuta-juta manusia. Jika kabar-kabar positif lebih tinggi lagi frekuensinya, saya yakin kepercayaan masyarakat akan lebih terpupuk. Tapi bukan berarti pencitraan loh, ya. :)

Seribu sayang, kata orang, seiring bertambahnya nominal usia, semakin menua kita, idealisme akan semakin langka. Mungkin itu sebab, media kini hanya jadi sarana komersial demi meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan esensi-filosofi kehadiran media itu sendiri. Tapi tidak apa, itu kan hanya katanya. Jika memang media televisi sana belum mampu kita jamah, biar jari-jari ini yang bicara, Biar tekun kita yang menjadi responnya. Biar kita tularkan semangat positif seluas-luasnya. Semoga.

Selamat menyambut AFTA. Selamat menjadi produsen-konsumen yang cerdas! :)

Penugasan Mata Kuliah Perilaku Konsumen, 1436 H
Rizky Sahla Tasqiya

Tuesday, June 3, 2014

Karakter (Sebuah Kunci Peradaban)



Pendidikan di Indonesia masih menjadi kendala. Tidak hanya menyangkut persoalan klasik seputar biaya, namun merambah pada aspek-aspek lainnya. Bicara pendidikan tidak sesederhana membicarakan lembaga formal dimana kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Bicara pendidikan, berarti bicara tentang faktor mendasar sebuah peradaban dan karakter manusianya.
Dewasa ini, pendidikan dirasa mengalami penyempitan, bahkan pergeseran makna. Ironisnya, tidak jarang kontribusi pergseran makna tersebut justru hadir dari pihak yang disebut-sebut berpendidikan, bahkan dari instansi yang mengatas-namakan pendidikan. Pemberian kunci jawaban dari pihak sekolah secara legal kepada siswanya dalam UN (ujian nasional) merupakan salah satu contoh nyata kontribusi pergeseran makna tersebut. Dengan alasan demi kelulusan peserta didik, atau demi prestasi sekolah, hal semacam ini jadi terkesan lumrah dilakukan. Padahal, sekolah-lah yang seharusnya menjadi tempat dimana pendidikan tentang kejujuran berlangsung. Bukan sebaliknya.
Pendidikan yang sejatinya berorientasi pada proses serta menyelaraskan antara kuantitas dengan kualitas, kini cenderung menjadi fokus pada hasil semata. Di bangku sekolah, kecurangan dalam ujian seperti yang telah disebut di atas menjadi contohnya. Di bangku pemerintahan pun demikian. Tidak sedikit, -banyak malah- calon legislatif yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan kursi di pemerintahan. Maka tak heran jika output yang di hasilkan adalah para siswa yang stress menghadapi UN, atau para calon legislatif gagal yang tahu-tahu memenuhi rumah sakit jiwa usai pemilihan umum. Hal tersebut tidak lain karena orientasi yang diproriataskan adalah pada hasil, dan bukan pada proses. 
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pendidikan merupakan faktor penting yang memengaruhi peradaban manusia. Dengan kata lain, pendidikan berkontribusi besar dalam kesejahteraan suatu bangsa. Menurut studi Transparency International tahun 2013, Indonesia berada di peringkat ke 114 dari 117 negara dalam peringkat negara-negara tidak korup. Itu artinya, Indonesia masih berada dalam jejeran teratas kategori negara dengan tingkat korupsi yang tinggi. Korupsi itu sendiri telah menjadi tersangka utama peyebab kesejahteraan bangsa bumi pertiwi yang terhambat meski sumber daya terkenal kaya. Hal tersebut sedikit-banyak menunjukkan kapasitas pendidikan kita yang masih terbilang rendah.
Dalam proses pendidikan, peran guru sangat penting. Hakikatnya, guru bukan sekadar penyampai materi bahan ajar, melainkan juga menjadi model bagi para siswanya. Mengamati fenomena persoalan pendidikan di Indonesia, maka hal mendasar yang perlu diperhatikan adalah pendidikan karakter, dan guru berperan besar dalam mencetak karakter-karakter emas Indonesia. Ketika seorang guru memberikan teladan baik, maka akan terbentuk jejaring, mata rantai karakter yang positif. Dan sebaliknya, cerminan guru yang tidak berkarakter baik akan memberi contoh dan pada akhirnya memberikan dampak negatif bagi perkembangan karakter siswa.
Sayangnya, saat ini kondisi guru banyak yang memprihatinkan. Bahkan, sudah tidak asing lagi pemberitaan media yang mengabarkan kasus kekerasan terhadap anak dengan gurunya sendiri bertindak sebagai pelaku. Kasus terbaru muncul di Medan beberapa waktu lalu.  Pada April 2014, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Pol. Agus Rianto, Polresta Medan menangani kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang guru terhadap murid perempuannya yang masih berusia tujuh tahun. Bagi pelaku, mungkin sederhana saja melakukan tindak kejahatan tersebut dengan memanfaatkan posisinya sebagai guru. Padahal sorang guru sejatinya digugu dan ditiru.
Untuk mengatasi persoalan karakter ini, maka perlu adanya seleksi bagi para guru. Ada fenomena memprihatinkan yang hadir di tengah-tengah masyarakat kita, yakni pola fikir masyarakat yang menganggap profesi guru merupakan profesi kelas bawah dan tidak berkelas. Bukan hanya itu, banyak dari anggota masyarakat yang menggampangkan persoalan menjadi guru. Sehingga hasilnya, benyak dari guru yang tidak benar-benar berniat untuk menjadi pendidik, dan contoh di atas bisa jadi adalah salah satunya. Indonesia semakin rindu akan guru-guru sejati yang disebut-sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Guru yang professional dituntut untuk memahami kebutuhan peserta didiknya dari berbagai aspek mulai dari fisik, moral, sosial, juga kulturalnya. Selain itu, untuk pengembangan karakter peserta didik, tentu diperlukan sinergi antara pendidikan formal di sekolah dengan pendidikan informal di rumah. Dengan kata lain, kualitas model yang ditiru oleh peserta didik memegang peranan sangat penting dalam pengembangan karakter. Model tersebut yakni guru, dan lebih dalam lagi, adalah orang tua.    
Upaya pengembangan pendidikan karakter ini diharapkan akan memberikan kontribusi positif untuk kegiatan pembelajaran. Karakter yang merupakan pilar dasar proses pendidikan akan membawa dampak baik yang berkesinambungan. Hasil survei Program for International Student Assessment (PISA) dalam naungan Organization Economic Cooperation and Development (OECD) yang diumumkan pada Desember 2013 lalu mengatakan bahwa tingkat intelegensia siswa Indonesia menduduki peringkat ke 64 dari 65 negara. Dengan adanya pendidikan berbasis karakter, diharapkan hasil survei tersebut mengalami perkembangan positif –dengan orientasi utama pada proses, tentunya-. 
Pendidikan di Indonesia masih menjadi kendala. Tidak hanya menyangkut persoalan klasik seputar biaya, namun merambah pada aspek-aspek lainnya. Bicara pendidikan tidak sesederhana membicarakan lembaga formal dimana kegiatan belajar-mengajar berlangsung. Bicara pendidikan, berarti bicara tentang faktor mendasar sebuah peradaban dan karakter manusianya. Indonesia masih memiliki harapan dalam proses pendidikannya. Peringkat pertama siswa terbahagia hasil survei International Student Assessment (PISA) yang disandang oleh Indonesia cukup memberikan kabar baik pada dunia. Bukan tanda bodoh karena bahagia di atas derita, melainkan karena Indonesia masih memiliki harap dan cita. Semoga.

(Ditulis dalam rangka seleksi Mapresma TPB IPB 2014)