Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

Thursday, June 25, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Ta'aruf dengan Diri Sendiri

Mari kita cerita kilas balik, setelah sekian lama tidak melakukannya di sini. Belakangan di masa pandemi, agaknya tidak sedikit orang yang melakukan kilas balik atas perjalanan hidupnya. Yah, setidaknya saya menjumpai beberapa teman dan public figure yang tahu-tahu membagikan entah itu dokumentasi atau tulisan yang berbau memori. Barangkali memang, waktu yang biasa kita habiskan di jalan, di tengah macet, di keramaian, entah seberapa persen ada yang teralih pada kegiatan ini: kilas balik.

Tiga tahun terakhir, saya mendapat deret pelajaran yang pada hari ini saya temukan benang merahnya. Inti dari semuanya adalah tentang pentingnya mengenal diri sendiri. Klise sih ya, kayaknya anak-anak belasan tahun yang baru naik kelas kemarin pun sudah biasa mendengar kalimat ini; "kenalilah dirimu sendiri". Tapi di sini saya ingin cerita sedikit, tentang proses ta'aruf dengan diri sendiri yang ternyata sungguh tidak semudah kedengarannya.


Kata orang, semakin kita banyak tahu, semakin tahu bahwa diri kita tidak tahu banyak (nah pusing nggak? hha). Yah begitulah, dan saya pikir itu benar adanya. Ada banyak hal yang saya alami di tiga tahun terakhir. Kesemua pengalaman itu mengantarkan saya setidaknya pada tiga hal ini (dengan mengenal diri sendiri sebagai puncak utamanya):

1. Memaafkan
2. Memberi respons dan menentukan prioritas
3. Mengenali diri sendiri

Setelah saya pikir-pikir sekarang, bangku kuliah seperti sebuah ilmu pengantar. Dengannya saya jadi punya bekal tentang teori dasar, melihat fenomena secara makro, dan tahu akan risiko serta tantangan apa saja yang mungkin dialami. Oh iya, saya kuliah di IPB, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), kemudian lanjut ke Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak (IKA) silakan cek di sini kalau mau tahu lebih dalam.

Bersyukur sekali bahwa di bangku kuliah, saya belajar tentang keluarga. Karena biar bagaimana pun, setiap kita dilahirkan dan jadi bagian dari sebuah keluarga. Siapapun, sebenarnya membutuhkan ilmu ini (minimal ilmu-ilmu yang sifatnya aplikatif). Bangku kuliah memberikan landasan keilmuan bagi saya, sehingga apa yang saya dapat di kemudian hari lebih mudah diproses, sebab ada prior knowledge dari guru-guru kami sebelumnya. Bangku kuliah secara gamblang menjadi perantara bagi saya menapaki kelas-kelas berikutnya dengan ruang lingkup yang lebih personal dan lebih privat dalam diri manusia.

Alhamdulillah Allah beri kesempatan saya mengikuti beberapa kelas lain sembari menyelesaikan studi. Sebagian gratis, sebagian lagi berbayar, dan sebagian yang lain dibayari oleh orang-orang baik (terima kasih tulus, semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat). Menarik sekali, sebab ternyata apa yang saya pelajari benar-benar saya rasakan sangat bermanfaat. Pertama dan utama, khususnya untuk diri sendiri. Iya, lebih banyak disimpan sendiri atau kalau ada yang bertanya saja. Bagi saya, pelajaran ini terlalu sensitif, apalagi saya juga belum bisa mengaplikasikannya secara utuh dan sifatnya yang sangat personal. Rasanya berbeda sekali ketika harus menyampaikan ilmu eksakta dibandingkan dengan menyampaikan ilmu seperti ini. Iya, lebih banyak takutnya, hhe.

Namun beberapa waktu lalu, kuliah bersama Ust. Budi Ashari dalam reuni keluarga Akademi Qur'an Al Fatih jelas menampar saya. Beliau katakan bahwa tingkatan orang berkaitan dengan ilmu dan amalnya ada tiga. Pertama adalah naqiyyah. Ibarat tanah yang bisa menahan air, ia lantas menumbuhkan tanaman dalam jumlah banyak hingga siapa saja bisa memperoleh manfaat darinya, keilmuannya berkah hingga mengalirkan kebaikan bagi makhluk hidup yang lain. Kedua adalah ajadid. Ibarat tanah yang bisa menahan air, bermanfaat pula untuk orang lain, tapi hanya sekadarnya saja. Sebatas orang lain mengambil ilmu darinya namun tak benar-benar berkarya. Yang ketiga, yang semoga kita tak termasuk perumpaan ini, adalah qi'an. Ibarat tanah yang jangankan menumbuhkan tumbuhan, menampung air pun ia tak mampu. Ia tak punya ilmu, pun tak punya karya.

Karena saya juga takut jadi bagian dari orang-orang di nomor tiga itulah, tulisan ini dibuat. Yah, mau bagaimana lagi. Toh latar keilmuan saya memang ini, jadi tak ada pilihan lain. Daripada menyampaikan ilmu yang lebih jauh lagi dari kapasitas, kan? Jadi mari kita cerita-cerita santai tentang tiga hal utama tadi; memaafkan, memberi respons dan menentukan prioritas, serta mengenali diri sendiri (dengan sesekali disangkutpautkan dengan keilmuan keluarga, ya). InsyaaAllah akan ditulis di postingan berikutnya.

Ayo belajar sama-sama. Tentu bukan tanpa alasan Allah menggerakkan segenap inderamu hingga kamu dengan sukarela membaca tulisan ini sampai di sini. :)



Ditulis di Tangerang,
Pada 23 Juni 2020

Tuesday, February 14, 2017

Anak-anak Cibunian

Kamu tahu? sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Hingga salah satu dari mereka memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” mendengarnya, kemudian aku salah tingkah.

ANAK-ANAK CIBUNIAN
Oleh: Rizky Sahla Tasqiya
           
Jika Indonesia adalah syurganya dunia, aku berani bilang bahwa Desa Cibunian adalah syurganya Pamijahan. Dengan luas yang mencapai 1.258 hektar, Cibunian sukses menjadi desa terluas di Kecamatan Pamijahan. Letaknya yang berada di kaki gunung salak menjadikan desa yang kental dengan budaya Sunda ini berudara sejuk, asri, dan tentu saja; captureable! Indah. Percayalah, bagi orang asal Jakarta sepertiku, menyaksikan gunung ketika membuka jendela kamar setiap harinya ibarat mendapat siraman air dingin di tengah terik panasnya matahari. Menyenangkan sekali.
Aku bersama lima orang teman lainnya tinggal di Desa Cibunian selama dua bulan untuk menjalankan program KKN-T (Kuliah Kerja Nyata - Tematik) yang diwajibkan oleh Institut Pertanian Bogor, perguruan tinggi tempat kami menimba ilmu. Bersyukur, kami ditempatkan di tempat yang begitu memanjakan mata. Tapi hal yang paling aku syukuri dari tempat ini adalah keceriaan desa yang ramah dan ramai oleh anak-anak. Mereka memanggil, menarik ujung baju, mengajak bermain, mengaji, minta diajarkan mengerjakan PR, bahkan mereka juga menciptakan berbagai macam kejutan. Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Sederhana memang, tapi siapa juga yang berani melarang seseorang untuk bercita-cita?
Namanya Putri. Salah satu dari sekian anak yang membuat hari-hariku di Pamijahan jadi begitu menyenangkan. Putri agak berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Ia sering kudapati tidak berkelompok. Seperti ketika kami latihan drama untuk pementasan di kantor desa misalnya, ia tidak tertarik untuk diajak bergabung. Hanya menonton sambil tersenyum malu-malu tiap kuajak ia untuk ikut memainkan peran. Atau ketika kami bermain di sungai, saling melepas canda. Putri justru asyik sendiri. Sama sekali berbeda dengan beberapa anak lain yang ricuh saling berebut memegang tanganku, lantas menarikku menuju tengah derasnya arus.
Satu ketika, kudapati pelipis Putri berdarah. Kutanya mengapa, ia hanya menggelengkan kepala. Tanpa ekspresi. Aku dibuat heran, bagaimana ia begitu tenang sementara darah nyata megalir di pelipisnya? Rasa-rasanya aku yang lebih heboh mencari obat merah dan plester luka. Hei, ternyata bukan hanya itu yang membuatku jadi bertanya-tanya. Setiap Putri ikut serta dalam permainan kami, tak jarang, yang lain justru berkomentar negatif. Komentar polos khas anak-anak seperti “Ih Kak… itu ada si Putri” atau “Yah Kaak, itu Putrinya,” membuat aku mulai berfikir: memangnya kenapa kalau ada Putri?
Main di sungai adalah aktivitas yang paling ditunggu oleh anak-anak Cibunian. Aku sih senang-senang saja. Bahkan cenderung kegirangan. Orang yang hobi hujan-hujanan sepertiku diajak main ke sungai— oleh anak-anak pula. Nikmat mana lagi yang pantas didustakan? Cita sederhanaku terkabul secara kontan. Tapi yang aku khawatirkan adalah perihal izin dari orang tua mereka. Aku tahu, kadang mereka belum meminta izin utuk main ke sungai. Hingga pada suatu sore, kekhawatiranku menjadi kenyataan.
Sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Menyapu pasir yang terhampar di sepanjang perjalanan pulang. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Aku asyik menanggapi ocehan mereka satu per satu, hingga ada yang memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Putri. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” demi mendengarnya, aku jadi salah tingkah. Lantas menjawab sambil tertawa kecil menutupi kegugupanku, “Hha iyaa, Kak Riris juga sayaang sama Putri,” lanjutku. Ia menyimpul senyum lagi. Aku balas tersenyum. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
Rumah tempatku tinggal bersebelahan dengan rumah Putri. Dengan pakaian yang basah dan kotor sehabis bermain di sungai, aku mencoba membuka kran di halaman samping rumah yang posisinya tepat berada di samping rumah anak delapan tahun itu. Lantas aku mulai membersihkan sandal dan ujung-ujung pakaian yang dihiasi pasir. Hingga sayup-sayup kudengar makian seorang perempuan muda kepada seseorang di rumah sebelah.
Kalau Kamu ada di posisiku, mungkin Kamu akan mengerti betapa menyedihkannya keadaan itu. Pertama, Kamu mendengar makian dari seseorang kepada anak kecil tepat di sebelahmu namun kalian berbataskan dinding dan Kamu tidak punya kuasa apa-apa. Kedua, Kamu bahkan tidak dapat mengerti arti kata per kata yang Kamu dengar, mengingat kemampuan berbahasa Sunda-mu yang payah sekali. Ketiga, Kamu adalah pihak yang ikut terlibat menjadi sebab dari diomelinya anak yang baru saja menyatakan rasa sayangnya padamu. Semoga tidak hiperbola, tapi Kamu tahu? saat itu aku sedih sekali. Perasaan bahagia usai main ke sungai bersama anak-anak seperti habis tidak bersisa. Habis hingga ampas-ampasnya.
Putri dimarahi sang ibu karena ia main ke sungai sampai sore hari tanpa izin terlebih dahulu. Meski aku tidak mengerti bahasa Sunda seutuhnya, tapi aku tahu persis deret kalimat itu adalah sumpah serapah. Kudapati beberapa kata kasar terlontar dibarengi dengan suara guyuran air. Aku sama sekali tidak menyangsikan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Sama sekali tidak. Hanya, ekspresi sayang semacam itu terlalu menyedihkan. Lebih menyedihkan ketika menyadari bahwa aku tidak tahu apa yang dapat kuperbuat.
Kejadian itu sampai pada telinga Ibu, pemilik rumah tempat aku tinggal. Kuceritakan juga pada Ibu perihal kesedihanku. Beliau lantas menghiburku dan mengatakan bahwa aku tidak perlu sedih berlebihan karena kejadian itu. Pasalnya, hal tersebut bukan kali pertama terjadi.
“Nggak usah sedih, Teh Riris…” ujar Ibu yang masih tergolong saudara dekat dengan keluarga Putri, “itu mah sudah sering Ibu bilangin dari dulu supaya jangan terlalu keras mendidik anak. Tapi ya masih begitu juga,” lanjutnya. Menurut Ibu, beberapa kali sudah orang tua Putri diingatkan, namun tidak ada perubahan berarti. Putri dan adiknya yang masih kecil tidak jarang dimarahi karena hal yang sebenarnya sangat lumrah dilakukan oleh anak-anak seusia mereka.
Meski menyedihkan, kejadian itu memberi jawaban atas beberapa pertanyaanku perihal keadaan Putri. Jika mengetahui keadaan keluarganya sedemikian rupa, aku tidak heran mengapa ia tumbuh menjadi anak yang tak mudah bergabung dengan anak-anak lainnya, tidak menangis ketika pelipisnya berdarah akibat goresan bambu, atau kerap melakukan hal-hal aneh demi menarik perhatian seperti berdiri di tengah-tengah khalayak ketika acara berlangsung, misalnya. Iya, anak itu –Putri- haus akan perhatian. Dan ia tidak terbiasa ‘dimanja’ atas hal sesederhana luka dan sedikit darah pada pelipisnya.
Bagian paling berat dari kegiatan KKN-T adalah –apalagi jika bukan- perpisahan. Acara perpisahan kami lakukan dengan sederhana di kantor desa, pada malam terakhir sebelum kami harus kembali kepada rutinitas harian kampus. Penampilan drama anak-anak yang telah lama dipersiapkan jauh melampaui ekspektasi kami. Iya, jauh lebih bagus! mereka bahkan tetap bersemangat meski malam itu mati lampu disertai hujan deras yang menjadikan kantor desa tidak seramai rencana awal. Meski hanya ada beberapa orang tua yang hadir memenuhi undangan, acara perpisahan tetap jadi sangat berkesan. Mati lampu justru menjadikan kami semaki dekat. Kami makan bersama ditemani cahaya lilin; ditemani suara rintik-rintik hujan dari luar.
Bukan anak-anak Cibunian jika tidak pandai memberikan kakak-kakaknya kejutan. Kami mendapat persembahan yang manis sekali; penampilan pembacaan puisi serta menyanyikan lagu perpisahan yang dilakukan mereka bersama-sama secara acapella. Diam-diam aku mencari sosok Putri. Dia tidak ada di barisan anak-anak yang tampil di depan. Ah ya, anak itu selalu punya caranya sendiri. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia menghampiriku tepat sebelum aku dan teman-teman pamit pulang mengakhiri kegiatan KKN-T.
Aku memberikan secari kertas origami berbentuk hati yang sudah kupersiapkan untuk masing-masing anak termasuk Putri. Menerima pemberianku, ia terperangah.
“Buat Putri?” tanyanya.
“Iya, Buat Putri. Makasih ya sudah jadi teman Kak Riris,” balasku tersenyum sambil setengah jongkok. Menyejajarkan tinggi kami.
“Kak Riris…” Putri kemudian memanggilku, lantas mendekatkan mulutnya pada telinga kananku seraya mengatakan sesuatu, “terima kasih ya,” katanya lagi. Aku tertawa sambil megusap-usap kepalanya.
“Iyaa, sama-sama. Semangat ya Putri belajarnya!” ia mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.

Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Dan bersama anak-anak Cibunian, kurasa mereka lebih dari sekadar anak-anak; mereka adalah sahabat. Pada akhirnya aku tidak sekadar mewujudkan cita-cita, melainkan memperoleh banyak sekali pelajaran dari mereka. Tentang apa itu keberanian dan kejujuran, juga tentang apa itu ketulusan— seperti pelajaran yang kudapat dari seorang anak perempuan usia delapan tahun bernama Putri...

Sungai yang tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal

Tulisan ini dibuat beberapa bulan lalu pada penghujung 2016, 
sebagai kenang-kenangan KKN-T Fema IPB.
(nama 'Putri' hanya samaran)

Tuesday, May 10, 2016

KILAS BALIK #1

Hal yang paling menyenangkan dari long weekend bulan Mei 2016 adalah; menyadari bahwa Ramadhan 1437 H semakin dekat (yay! :)) Alhamdulillah. Semoga kita sampai berjumpa dengan si cinta yang hadirnya sekali dalam setahun ini. Allahumma aamiin.

Rasanya lama sekali saya tidak menulis di laman ini dengan sepenuh hati. Belakangan ada banyak hal yang tahu-tahu kepikiran. Sebenarnya banyak sekali yang ingin ditulis. Tapi sayang, manajemen waktu rupanya masih menjadi alasan klise yang tak bosan diungkit-ungkit. Saya sungguh mohon doa untuk yang satu ini, ya, agar tidak pernah bosan untuk jadi manusia yang berusaha. Boleh jadi yang diijabah adalah doa yang sedang membaca ini -siapapun itu disana.

Izinkan saya -sekali-sekali- menulis agak panjang tentang apa yang saya alami. Banyak pembelajaran beberapa bulan belakangan, yang menulisnya selama ini jadi wacana saja. Dari sekian banyak, kali ini cukup saya ambil beberapa saja dulu, dan bentuknya masih cuplikan-cuplikan --daripada berujung wacana lagi, kan :) semoga Allah perkenankan untuk saya tulis beserta hikmah-hikmahnya yang lebih mendalam di lain waktu.

Ramadhan 1436 H

"Barangsiapa yang beribadah karena Ramadhan,
sesungguhnya Ramadhan hanya datang setahun sekali.
Tapi barangsiapa yang beribadah karena Allah,
sesungguhnya Allah kekal lagi Maha Mengetahui."

Ramadhan 1436 H adalah Ramadhan pertama kami bersama keponakan pertama saya dari kakak tertua, namanya Qifa. Selang 10 tahun setelah kami terakhir kali merasakan riweuh-nya lebaran sama bayi (10 tahun lalu, adik bungsu saya yang jadi bayinya. :D). Mempersiapkan macam-macam mulai dari popok, botol susu, ASI (sekaligus alat pompanya), satu set keperluan pasca mandi (baby lotion, sabun, sampo, bedak, hair lotion, dll), kaus kaki, sapu tangan, dan lain-lainnya. Semarak sekali, Lalu ketika keluarga besar berkumpul, bahagia sekali lihat bayi-bayi berseliweran :')

Ramadhan 1436 H adalah bulan pembenahan spiritual. Tidak tanggung-tanggung, saya juga mendapat ujian yang tidak dapat dipungkiri memberi pengalaman luar biasa berupa introspeksi dan upaya pengkokohan iman. Maha Besar Allah yang paling tahu isi serta kapasitas hamba-Nya. Saya banyak belajar tentang konsep diri, ilmu tauhiid, juga manajemen qalbu, terutama dari mendengar pengalaman hidup Ustadz Abdullah Gymnastiar yang berawal dari kiriman link video melalui salah seorang sahabat.


Ekspresi cinta Allah adalah ekspresi cinta terbaik. Saya yang selama ini seringkali dihantui pertanyaan "Harus berbuat seperti apa, karakter yang mana yang Allah suka?" menemukan jawabannya. Bahwa manusia, sampai kapan pun takkan pernah bisa memahami keilmuan yang sempurna. Kesempurnaan ilmu itu hanya milik Allah. Jika logika kita bicara bahwa api itu menghanguskan dan massa jenis manusia lebih berat daripada massa jenis air, bagaimanakan ia menjelaskan apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan Nabi Musa?


Seorang muslim boleh jadi akan selalu berada pada ranah khauf dan raja; antara takut dan harap pada Rabb-nya. Bukankah di sanalah terletak indahnya iman?


IPB Goes to Field (IGTF) Banjarnegara 2015

"Setiap manusia memiliki sejarah.
Bukan untuk dikenang semata, melainkan untuk 
dimaknai hikmahnya secara nyata"

Berselang satu minggu, setelah Idul Fitri 1436 H, saya bersama puluhan mahasiswa IPB lainnya dikirim ke beberapa daerah di Indonesia untuk melaksanakan program IGTF. Lokasi yang menjadi pilihan saya saat itu adalah Banjarnegara, berbekal informasi selewat dari teman bahwa tempat ini sejuk dan dingin. Dan ternyata benar. Saya tidak salah pilih lokasi :)



Selama tiga minggu, kami menjalani kegiatan dengan program utama pengembangan desain untuk wisata pertanian buah durian. Hal yang meyenangkan dari kegiatan IGTF adalah, saya seperti masuk ke dalam kehidupan yang lain. Melupakan rutinitas harian yang menjenuhkan di kota besar, tidak ada macet, pemandangan hijau dimana-mana, sejuk, bertemu anak-anak SD, berjalan kemanapun saling sapa. Seru. Seperti punya dunia lain selama tiga minggu. 

Bapak homestay kami bernama Pak Karmo. Kami banyak belajar tentang pelajaran hidup dari beliau. Pengalaman pahitnya selama kecil mulai dari ditipu, jadi gelandagan, makan air bak di perkantoran Jakarta, diusir satpol PP, diangkat anak oleh seorang keturunan Arab, dan seterusnya, menjadikan sosok yang satu ini begitu memanusiakan manusia. Bahkan ada dari kami yang nyeletuk, "Bapak kalau kisah hidupnya jadiin film kayaknya seru, Pak!" dengan nada seius usai mendengar bahwa beliau bahkan punya satu koper berisi catatan perjalanan hidupnya.

Pak Karmo sangat memerhatikan masing-masing dari kami. Bahkan ketika suatu waktu saya berpuasa, tahu-tahu sudah tersedia teh manis hangat dan dua bungkus roti pia yang beliau siapkan. Anak perempuan beliau satu-satunya yang bernama 'Aina seru sekali diajak bermain. Anaknya berani. Bahkan Pak Karmo cerita pada kami, bahwa beliau pernah dipanggil ke sekolah karena 'Aina berkelahi dengan anak laki-laki. :')


Ada banyak hal yang terjadi di Banjarnegara. Saya bertemu teman-teman baru yang entah bagaimana kami begitu cepat menjadi dekat. Bahkan ada salah satu teman yang satu kelas pas tingkat pertama dan nggak pernah berbinang, tapi justru ngobrol banyak pas IGTF bareng. :D kalau ingat, jadi kangen sekali. IGTF juga sukses membantu saya mengatur hati dan fikiran. Bagaimana tidak, rasa energi tumpah untuk asyik bercegkrama dengan anak-anak SD yang sibuk berlarian sana-sini dan ikut lomba 17 Agustus-an. Belum lagi naik mobil bak tengah malam dengan suhu dingin luar biasa beserta taburan gemintang di angkasa menuju Dieng Plateau. Ada rencana baru dalam kepala saya. Suatu waktu entah kapan, saya harus kembali lagi.



Haji 1436 H

"Rindu adalah bahasa cinta yang paling jujur."

Alhamdulillah, Mama dan Ayah dijemput Allah untuk mengunjungi rumah-Nya di Kota suci Makkah pada 1436 H. Sebuah penggenapan rukun Islam yang terakhir; haji. Saya yang selama ini lebih sering pergi dari rumah meninggalkan keduanya oleh sebab menuntut ilmu, ganti ditinggalkan selama kurang lebih 60 hari lamanya ke tempat nun jauh disana. Ada rasa tersendiri. Campuran antara bahagia, haru, dan sesekali cemas.



Di tengah-tengah masa keduanya menunaikan ibadah haji, saya mendapat kejadian yang membuat saya bersyukur sekali. Adakah yang lebih menakjubkan dari doa pintu syurga saya di dunia- yang dipanjatkan dari tanah suci di hadapan Ka'bah? Allahu Akbar! saat itu saya tengah dalam kondisi hati yang sangat tidak nyaman. Serta merta saya mengirim pesan kepada Mama dan Ayah, mohon doa agar putrinya diberi sabar dan istiqomah, serta dijaga hatinya. Tidak perlu waktu berjam-jam. Hati saya lapang begitu saja. Saya membayangkan betapa cepatnya sinyal disana. Betapa dekatnya doa dengan ijabah.

Waktu keduanya pulang, rasanya deg-degan. Rindu sekali. Begitu Mama dan Ayah memasuki pintu rumah tengah malam, rasanya tenang. Haru. Rindu yang sebegitu dalam terbayar dengan sangat sederhana; mencium takzim tangan keduanya, dan mendapat pelukan hangat. Tanpa kata-kata. Lunas. Bahkan mendapat bonus berupa pengalaman dan cerita selama keduanya berada di tanah seberang.

Lalu ada harap yang semakin membuncah; semoga Engkau mengajakku juga mengunjungi rumah-Mu. Segera setelah semuanya Engkau anggap siap. Allahumma aamiin...


C-care Edwar Technology

"Kebanyakan dokter 'mengobati' badan seakan ia terpisah dari jiwa.
Sebaliknya, kebanyakan psikolog 'mengobati' jiwa seakan ia terpisah dari badan.
Padahal sejatinya, badan dan jiwa merupakan satu kesatuan utuh."


Jika orang-orang mengenal Dr. Warsito dari pemberitaan di media, saya justru mengenal beliau ketika secara 'tidak sengaja' turut bergabung menjadi ghostwriter untuk laman website C-care Edwar Tehnology. Meski hanya satu kali turun lapang langsung bertemu dengan para pasien kanker pengguna ECCT untuk saya wawancarai, pengalaman tersebut sungguh luar biasa bagi saya. Saya lebih merasa tengah dapat kesempatan seminar kesehatan gratis dibayar alih-alih kerja serabutan. :D

Materi yang disuguhkan sangat menarik. Saya jadi tahu bagaimana sisi psikologis seseorang sangat berpengaruh terhadap kesehatan tubuhnya. Bahkan saya tidak pernah sekadar menebak, bahwa satu penyakit kanker tertentu teridentifikasi dengan jenis trauma yang spesifik. Misalnya saja kanker testis dan ovarium, kabarnya kuat dipengaruhi oleh perasaan kehilangan yang mendalam. Juga kanker lainnya seperti kanker payudara yang bahkan kanan/kiri memiliki jenis masalah psikologis berbeda. Materi tersebut saya dapat dari Bapak Riza dari Terapi Hati. Mungkin akan saya tulis selengkapnya lain waktu. Atau silakan berselancar dan mencari tahu bagi yang tertarik.

Di acara ini pula, saya pertama kali mengenal ECCT dan ECTV, pertama kali berjumpa dengan Dr. Warsito (dan beliau ramah sekali!) juga bertemu dengan orang-orang inspiratif. Saya bahkan tidak menyangka sapaan manis di tengah-tengah antrean makan siang itu berasal dari seorang perempuan muda yang tengah mengidap kanker tiroid. Hingga saat ini saya kerap bertukar kabar dengan Ayuk -begitu saya memanggilnya (Ayuk = sapaan untuk 'kakak perempuan' di Sumatra). Selain Ayuk, ada juga Adik Rafi (fotonya ada di atas), Ibu Nita dan Ibu Indira (para tetinggi Komunitas Peduli Kanker Lavender), Ibu Ani, Ibu Ayi, Ibu Metty, dan lainnya. Semuanya memberikan saya banyak pelajaran. Belum lagi melihat adik-adik berseragam kuning yang saling berbaris rapi (dan ternyata mereka semua pengidap kanker). Berbincang dengan kesemuanya memaksa saya menyaksikan ketegaran seorang ibu, antusiasme seorang anak muda, ketulusan seorang anak, dan menyuguhkan saya pembelajaran tentang makna ikhtiar dan syukur yang sebenar-benarnya. :')


Namun sayang, tidak lama dari acara di Jungle Land ini, seperti yang mungkin pembaca tahu, C-care Edwar Technology ditutup dan saya tidak dapat melanjutkan kontribusi untuk menulis di website Pejuang Kanker.


Januari di Insan Cendekia Serpong

"Tempat ini seringkali tidak terdefinisi."



Dua minggu tidak cukup. Ya, waktu dua minggu adalah masa penjajakan magang saja bagi saya. Baru saja mulai dekat dengan adik-adik, tak ayal saya harus kembali ke Kota Hujan melanjutkan studi. Entah bagaimana saya selalu merasa berhutang pada tanah ini. Bukan hanya pada instansi, negeri, pendidik, orang tua, namun juga pada diri sendiri. 

Tapi saya tidak akan membahas tentang itu kali ini. Terlalu bersifat batin dan main perasaan :D intinya selama magang, saya mendapat banyak pengalaman. Banyak belajar lagi, banyak berbincag-bincang dengan para pendidik luar biasa. Diam-diam saya menyesal mengapa dulu tidak tahu yang namanya kitab ta'lim muta'alim, dan seabrek keilmuan yang sebenarnya ustadz-ustadzah saya sangat memungkinkan untuk dimintai pengajaran ilmu serta barakahnya. Hal mengesankan lain adalah pengalaman saya untuk pertama kalinya menangani siswi yang kemasukan jin. Bagi saya yang baru pertama kali berhadapan langsung, pengalaman ini tidak hanya bersejarah, namun juga membuka wawasan tentang pengobatan ruqyah dan segala turunannya.

Ada satu mimpi sederhana saya yang diijabah Allah dengan indahnya; kesempatan berbagi langsung dengan adik-adik di MAN Insan Cendekia. Meski saya tahu betapa sedikitnya hal yang dapat saya bagikan, namun mengetahui keberadaan saya memberi manfaat meski sedikit, itu sudah terlalu indah untuk tidak disyukuri. 


Seleksi Mahasiswa Berprestasi

"Semua orang punya hak yang sama untuk berusaha.

Jadilah manusia berprestasi, bukan sekadar mahasiswa 'berprestasi'!"

Saya tidak pernah mendaftarkan diri, tapi tahu-tahu jadi begini. Katanya, ajang kompetisi "Mahasiswa Berprestasi" terbilang bergengsi. Saya mengiyakan, dan mengapresiasi usaha pemerintah kita untuk menumbuhkan daya juang pada anak-anak mudanya, :) Saya tidak sampai mana-mana, ini hanya sampai tingkat fakultas (itu pun ada tiga orang dari departemen saya). Intinya, saya tidak lolos seleksi sejak tahap pertama, Hhe :D


Tapi saya menempatkan pengalaman ini menjadi salah satu yang terpenting dalam sejarah kemahasiswaan saya. Bukan apa-apa, saya jadi lebih memahami bahwa saya rupanya memang tidak begitu tertarik dengan juara, peringkat, nilai, dan hal-hal semacamnya. Kali ini saya megiyakan hasil tes Stifin yang hasilnya menyebutkan bahwa saya lebih bahagia mencetak para raja daripada menjadi raja itu sendiri.


Meski terdengar baik-baik saja, namun sebenarnya kadang saya juga drop dan takut. Bahkan dalam beberapa kesempatan jadi bertanya-tanya, "Apa Engkau sungguh menciptakan hamba cukup untuk menjadi penggembira saja?" --oke, itu kalau saya sedang jatuh sekali. Kadang-kadang takut terlalu asyik main di belakang. Sewaktu duduk di bangku Aliyah, saya bahkan lebih senang menemani kawan belajar untuk persiapannya olimpiade dibanding mengurusi pengembangan potensi saya sendiri. Saya tidak akan cemburu padanya jika akhirnya ia memenangkan olimpiade (bahkan boleh jadi akan sangat senang dan bersyukur). Tapi jujur, saya pastikan saya akan cemburu pada usahanya. Pada ikhtiarnya yang menghabiskan petang di sekolah untuk menuntut ilmu. (Dan saya asyik duduk (menganggur) di sebelahnya, seolah tekun menemaninya belajar).

Tapi saya menemukan jawaban. Bahwa justru keadaan-keadaan seperti itu adalah bukti bahwa Allah menyayangi saya dan ingin agar potensi saya pun berkembang. :) Allah tahu saya akan jadi mahasiswi dengan bidang keilmuan sosial. Allah tahu saya ingin menjadi pendidik. Maka dengannya, Allah mengajarkan beraneka ragam cara manusia mengusahakan citanya dan berperilaku dalam keseharian mereka.

Kaitannya dengan seleksi mahasiswa berprestasi ini adalah, setidaknya saya menemukan kenyataan bahwa ternyata jika agak dipaksa, saya bisa menyelesaikan tulisan berbau ilmiah dan agak serius (setelah selama ini paling anti nulis hal semacam itu) dalam waktu satu minggu meski berbenturan dengan target tilawah 5 juz/hari untuk masuk kelas tahfidz di RQ, dan laporan magang yang belum juga selesai. Meski terseok-seok, alhamdulillah atas bantuan teman-teman dan dosen pembimbing, KTI saya mencapai nilai tertinggi (sebenarnya itu tidak penting, tapi boleh dijadikan salah satu bahan evaluasi). Saya hanya menemukan fakta bahwa ternyata, Allah juga menghendaki saya untuk merayakan usaha dan berikhtiar optimal. Alhamdulillah! :))


Kids Corner "Sakinah Bersamamu"

"Amalkan. Bukankah Imam Syafi'i pernah berkata-
bahwa ilmu selalu menarik untuk diamalkan?"

Tidak, saya tidak hendak membicarakan tentang seminar pernikahan atau semacamnya. Kali ini adalah tentang anak-anak. :D



Alhamdulillah pada bulan Maret lalu, saya kembali mendapat kesempatan menimba ilmu melalui praktik langsung :D menjadi panitia sebuah seminar berjudul "Sakinah Bersamamu" yang diisi oleh Pak Cah beserta istri. Bagian saya dan 7 kakak lainnya adalah menjaga dan bermain besama adik-adik kecil selagi abi-umi mereka mengikuti seminar. Percayalah, berurusan dengan puluhan bocah selama delapan jam ternyata bukan hanya mengasyikkan, tapi juga mengkayakan! teori di bangku kuliah yang dipelajari selama berhari-hari itu ternyata masih kerdil sekali ketika harus dipraktikkan di lapangan secara nyata.

Meski cukup melelahkan, tapi sungguh terbayar dengan pengalaman berharga. Tingkah mereka unik-unik. Mulai dari mengajari boneka berjalan di atas aspal, mewarnai gambar berlembar-lembar dengan krayon merah semua, sibuk mencari Abi, sibuk mencari Umi, sibuk ngeliatin ikan dan tidak mau beranjak, main ayunan sampai tidur, tidak mau turun dari gendongan, membongkar rumah-rumahan dengan alasan copot sendiri pintunya :''D, main perosotan nggak berhenti-berhenti, juga ada yang tantrum bukan main.

Berbagai macam strategi digunakan agar mereka tetap tenang dan tidak ribut mengganggu kegiatan seminar. Batang otak saya bahkan seperti mendadak bekerja dengan tahu-tahu menyampaikan dongeng yang entah ceritanya dapat inspirasi darimana. Begitu juga dengan kakak-kakak yang lain. Mungkin kawan saya, Arlinda, juga tidak pernah menyangka bahwa dirinya dapat berperan baik menjadi singa yang sedang menangis. :D

Bagi yang belum pernah, sesekali cobalah menghabiskan waktu bersama anak-anak. Belajar bahagia tanpa syarat dari mereka.


***
:)

Penggalan-penggalan di atas agaknya terpisah satu sama lain. Tapi dari sana, saya mendapat satu kesatuan pembelajaran yang utuh. Semoga yang membaca dengan pengalamannya pun demikian.

Ini hanya saran. Jika suatu waktu kita mengalami kemandekan, cobalah bersyukur. Ekspresi syukur ada banyak sekali. Ingat-ingat lagi kenikmatan apa saja yang pernah kita alami. Kalau pun kita merasa itu sedikit (meskipun nurani sebenarnya yakin aslinya banyak sekali sampai tidak terhitung), tidak apa. Bersyukur saja, dan bagikan!

Sungguh tidak hanya kebahagiaan yang membawa kita pada syukur, melainkan rasa syukur itulah yang sejatinya membawa kita pada kebahagiaan. :)

Thursday, December 17, 2015

Kenapa Mendongeng?

Pada postingan sebelum ini, saya berbagi tentang kuliah umum berupa pelatihan konseling oleh Ibu Neti Lesmanawati yang diselenggarakan oleh Departemen IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) Fakultas Ekologi Manusia IPB pada 21 November 2015 lalu.

Pada kuliah umum tersebut, selain ibu Neti ada pula Kak Ojan. Pemilik nama asli Ahmad Fauzan ini memberikan kami wawasan tentang dunia perdongengan. Beliau adalah seorang pendongeng nasional yang telah menyampaikan dongeng untuk anak-anak di berbagai daerah Indonesia. Mulai dari anak-anak Timika Papua, anak-anak Rohingnya yang mengungsi di Aceh, juga korban asap di Kepulauan Riau. Kak Ojan bersama para pendongeng lainnya menghibur dan mengedukasi anak-anak.

Sebelum memulai presentasinya, Kak Ojan mengajak kami menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang definisi mendongeng. Ketika ditanya "Siapa disini yang pernah mendongeng?" untuk pertama kalinya, dari sekitar 100 mahasiswa, hanya dua orang yang mengacungkan tangan. Namun setelah kami menyamakan persepsi bahwa mendongeng adalah bercerita, semuanya mengaku pernah. Siapa pula yang dalam hidupnya tidak pernah bercerita?


Lantas kenapa mendongeng?

Ada begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan mendongeng. Meningkatkan kelekatan antara pengasuh dengan anak, memperluas literasi-kosakata anak, juga hal yang baru saya dapatkan adalah bahwa mendongeng mencakup tiga tipe belajar anak (visual, auditori, dan kinestetik). Ini merupakan sarana luar biasa untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak –dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada anak. :)

Kabar gembiranya adalah, mendongeng bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dengan biaya yang murah. Kita hanya butuh mengalokasikan waktu untuk melakukan kegiatan mendongeng. Kak Ojan mengajarkan pada kami tentang hal-hal apa saja yang harus diperhatikan ketika mendongeng di depan anak-anak. Pastikan cerita dan gaya bahasa yang kita gunakan sesuai dengan mereka, Kemudian hal yang paling penting adalah tetapkan tujuan. Berdoalah sebelum memulai dongeng, dan niatkan, bahwa apa yang kita lakukan semata-mata adalah untuk mengedukasi anak-anak, menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Jadi kita tidak perlu dibuat was-was seperti "Ng.. nanti kira-kira mereka tertawa nggak ya??"

Oh iya, untuk berdoa, Kak Ojan menyebutkan doa nabi Musa yang mahsyur sekali, Begini bunyinya:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْ
Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

Jadi, alih-alih membiarkan anak-anak asyik di hadapan gadget, layar hp, komputer, atau televisi sendirian, lebih baik mengajaknya berdiskusi dan bercerita :D bantulah mereka menjadi generasi masa depan yang mencintai ilmu, kreatif, inovatif, mencintai sejarah, gemar membaca buku, kaya bahasa, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, cerdas emosional, berpengetahuan luas, dan -tentu saja- mencintai Rabb-nya. :) Kabarkanlah mengenai kisah-kisah hikmah yang mampu menjadi bahan bakar bagi gerak motor karakter mereka.

Tuesday, December 8, 2015

Mengutip Hikmah dari Pelatihan Konseling

Pada 21 November 2015 lalu, Departemen IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) Fakultas Ekologi Manusia IPB menyelenggarakan sebuah kuliah umum untuk meningkatkan soft skill mahasiswa. Salah satunya adalah pelatihan konseling yang disampaikan oleh seorang konselor nasional dari lembaga Protista, Ibu Neti Lesmanawati. Bersama beliau, kami diajarkan tentang apa itu konseling dan seluk-beluk bagaimana menjadi seroang konselor. Bahkan lebih dari itu, Ibu Neti menyampaikan begitu banyak cerita yang mengandung hikmah. Kami diajarkan tentang bagaimana menjadi manusia yang bijak dan memiliki pandangan luas.

Ibu Neti juga menuturkan kepada kami berbagai kisah yang beliau dapati selama menjadi seorang konselor. Tanpa menyebutkan identitas klien, beliau menyampaikan berbagai cerita dari mereka. Ada dua cerita yang benar-benar memberikan saya banyak pelajaran. Pertama adalah kisah tentang seorang perempuan yang penampilannya begitu mewah. Diantar sopir dengan mobil mahal, deretan gelang di tangan, dan semerbak aksesori lainnya. Kalau melihatnya secara kasat mata, umumnya orang akan memandang perempuan tersebut sebagai orang kaya, istri pejabat, dan seterusnya. Ibu Neti menuturkan, “tapi dia datang ke klinik Protista untuk konsul. Berarti orang ini punya masalah.”

Benar. Perempuan itu lantas menangis di hadapan Ibu Neti. Rupanya, segala macam atribut yang ia kenakan tidak lain adalah alat sang suami untuk memperlihatkan kepada keluarga, kerabat, juga kolega kerja akan status sosialnya yang tinggi. Suatu hal yang menyedihkan ketika orang tua dari perempuan itu justru hidup miskin di kampung halaman dengan rumah kontrakkan, sementara dirinya bergelimang harta. Semu. “Saya iri sama adik saya, Bu. Meskipun suaminya hanya bekerja di penggilingan padi, tapi masih bisa berbakti. Sementara saya, jangankan membantu ekonomi orang tua. Ada satu saja gelang di tangan saya yang hilang, suami bertanya-tanya,” ujar Bu Neti menirukan perkataan kliennya. Singkat cerita, perempuan tersebut memutuskan untuk menyudahi pernikahannya yang terbilang puluh tahun. “Lebih baik tinggal di kampung, hidup miskin, tapi bisa berbakti,”

Dari kisah tersebut, Ibu Neti mengajarkan kami untuk melihat segala sesuatu dengan bijak. Jangan pernah menjuri seseorang melalui penampilannya semata. Kita tidak pernah tahu ada alasan apa, ada kisah apa, di balik kehidupannya. Belum tentu kita mampu jika diposisikan menjadi mereka, kan?

Satu lagi kisah, ialah tentang seorang ibu tukang jamu yang Ibu Neti sebut-sebut sebagai guru besar. “Guru besar saya itu bukan professor atau apa, tapi adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang sehari-hari berjualan jamu,” Cerita ini berawal dari dua orang sahabat yang masing-masing telah berkeluarga. Sebut saja A dan B. Sebelum meninggal dunia, B berpesan kepada A untuk menjaga istri serta anak-anaknya. Jadilah sepeninggalan B, keluarga A dengan istri dan anak-anak dari keluarga B dekat sekali. Sampai-sampai seperti saudara yang berhubungan darah dekat. Keadaan menjadi rumit ketika A bertindak asusila pada salah satu anak perempuan almarhum B hingga hamil.

“Yang membuat saya tidak habis fikir adalah ketika pengadilan berlangsung,” Ibu Neti memandang kami lurus. “Kalian tahu, tidak? Selama Bapak A ini di pengadilan, istrinya selalu datang menemani dan membuat masakan kesukaan suaminya,” sampai pada bagian ini, saya cukup dibuat tertegun. Keren sekali si istri itu, fikir saya. Suaminya berkhianat, membuat malu keluarga, tapi dia bisa dengan legowo masih menemani suaminya dengan tulus.

“Tapi itu belum apa-apa,” Ibu Neti melanjutkan. Beliau kemudian menceritakan sebuah adegan luar biasa di pengadilan. Antara sepasang suami istri. Begini kira-kira percakapannya.

Istri: “Sing sabar ya Pak… Bapak lagi diuji sama Gusti Allah. Sabar. Sabar,”

Bapak A (suami) : “Aku ni salah, Bu, maafin, Bu. Aku dosa”

Istri: “Ndak apa-apa. Bapak khilaf, sabar ya Pak…”

Sampai pada bagian ini, tidak sedikit dari kami yang menangis. “Saya tidak mengerti lagi, ini adegan macam apa?” Ibu Neti mengangkat tangannya. “Waktu itu saya ada disana. Pingin sekali peluk si istri, si ibu itu. Saya tanya bagaimana bisa setabah itu, padahal umumnya orang akan marah jika ada di posisi beliau, beliau lantas jawab begini: nggak apa-apa, Bu. Manusia itu tempatnya salah. Bapak lagi khilaf. Gusti Allah saja pemaaf, masa kita nggak…”

Oke, sampai disini, saya juga setuju dengan Ibu Neti. Ini adegan macam apa. :’) Dari cerita tersebut, saya merasa ditampar sekali. Poinnya bukan terletak pada kesalahan Bapak A, melainkan pada kebesaran hati istrinya. Memaafkan. Bagaimana bisa beliau begitu ikhlas memaafkan? Bagaimana ibu itu bisa mengatur emosinya sedemikian hebat? Bagaimana ia mampu bersabar atas rasa sabar itu sendiri? Padahal menurut cerita Ibu Neti, dalam keseharian pun si istri lah yang merupakan seorang pekerja keras dengan mencari nafkah dari berjualan jamu. Sementara Bapak A yang berjualan bakso cenderung lebih malas dan tidak berjuang lebih –setidaknya itu yang terlihat kasat mata.

Ketika ditanya tentang apa hikmah terbesar dari pengalaman panjangnya menjadi seorang konselor, Ibu Neti mengatakan bahwa titiik hikmah itu adalah ‘menjadi bijak’. Mendengarkan berbagai cerita manusia dengan segala kompleksitasnya membuat pandangan beliau lebih luas dan melihat segala sesuatu dengan kacamata yang lebih bijak. Bahwa ternyata, kita semua adalah orang-orang cacat; orang-orang difabel. Hanya saja berbeda bidangnya, berbeda tarafnya.

“Jadi tempat curhat itu anugerah loh, De,” ujar Ibu Neti di tengah-tengah presentasinya. Saya yang duduk di barisan kedua merasa disentil dengan kalimat ini. Ya, jadi tempat curhat itu anugerah. Benar sekali. :)



Sunday, August 23, 2015

The Doctor



The Doctor; Catatan Hati Seorang Dokter
Triharnoto
Penerbit Pustaka Anggrek
2009

Saya membaca buku ini di kota Banjarnegara. Bersama tim Akasia, saya mengunjungi bazaar buku murah di Gedung Arsip kota Banjarnegara yang diselenggarakan dalam rangka merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Menemukan buku ini dengan harga 20.000 tentu menarik perhatian. Pasalnya, sebelum itu saya juga menemukan buku yang sama di perpustakaan kampus. Namun sayang keinginan untuk membaca buku tersebut belum terlunasi. Jadilah hari itu saya mengantongi dua buku baru.; The Doctor; Catatan Hati Seorang Dokter dan sebuah buku kecil berjudul Psikologi Konseling.

Saya banyak menemui orang yang berkeinginan menjadi seorang dokter. Tidak sedikit kawan dekat saya yang entah bagaimana berazzam kuat untuk menjadi dokter. Saya sendiri, sejak kecil, tidak pernah berfikiran untuk menjadikan dokter sebagai cita-cita. Sejak dulu hingga kini cita-cita saya tetap; guru. Pernah sih, menulis ‘insinyur’ di kolom cita-cita. Tapi itu tidak lebih hanya karena ikut-ikutan saja tanpa pernah mengerti apa dan bagaimana kerja seorang insinyur. Hingga saya lebih memahami bahwa cita-cita bukan sebatas profesi, saya menemukan kata yang lebih baik dari guru; pendidik. Itu akan saya jabarkan nanti.

Ketika saya duduk di bangku MAN, agak terheran-heran betapa keinginan teman-teman untuk menjadi dokter membludak sekali. Hingga suatu ketika saya pernah bertanya pada ibu saya via telepon.

“Mama mau, anaknya ada yang jadi dokter?” Tanya saya polos. Saat itu diskusi tentang jurusan kuliah memang jadi topik hangat pada giliran telepon akhir pekan kami. Mendengar pertanyaan itu, ibu saya diam sejenak. Kemudian beliau menjawab dengan pertanyaan,

“Emangnya ade mau jadi dokter?” mendengarnya saya tertawa kecil.

“Enggak. Hhe” jawab saya singkat. Memang hanya iseng saja tanpa ada maksud tertentu. Hanya karena beberapa banyak karib yang berlomba-lomba untuk lolos fakultas kedokteran, sementara saya saat itu tengah menimbang-nimbang hendak memilih jurusan apa.

Oke kembali ke buku The Doctor. Jadi, setelah membaca buku setebal 321 halaman ini, sepertinya fikiran saya mulai terbuka dan lebih memahami mengapa harapan menjadi dokter layak diperjuangkan. Bukan, tentu bukan karena materi yang biasa disebut-sebut orang kebanyakan. Lebih dari itu, karena filosofi dan esensinya yang luar biasa. Sebagai orang yang tertarik pada pendidikan, saya baru benar-benar menyadari bahwa dokter memiliki peran yang sangat strategis dalam dunia pendidikan. Bahkan bukan hanya dokter, melainkan semua profesi, semua pekerjaan, masing-masing berkontribusi dalam pendidikan jika saja kita mau melihat lebih seksama. Terlebih bagi seorang muslim yang dakwah ialah sebuah kewajiban, maka setiap peranan tentu penting kita manfaatkan sebagai sarana penyampai kebaikan ajaran Islam.

Selain itu, saya juga memperoleh wawasan baru terkait sistem di dunia farmasi dan kedokteran terutama terkait obat-obatan dari sudut pandang seorang dokter. Ternyata urusan ini tidak semudah yang saya kira. Dimana-mana, idealisme memang selalu saja diuji. Dimana-mana, keimanan kita memang selalu saja diuji. Silahkan baca bukunya untuk tahu lebih lengkap, ujian macam apa yang saya maksud. :)

Punksi, obsygn, OMI (Old Myocard Infark), KAD (Ketoasidosis Diabetikum), ialah empat dari sekian banyak istilah yang baru saya ketahui maknanya dari buku karangan dr. Triharnoto ini. Memang ada banyak istilah kedokteran yang digunakan. Namun paparan penulis dengan bahasa yang mudah dimengerti serta keterangan setiap istilah di awal buku cukup membantu orang awam seperti saya dalam memahaminya. Ya, memperluas wawasan sekali. :D Setidaknya saya jadi bersemangat untuk membaca buku-buku lain. –Jadi nanti kalau anak (murid) saya ada yang bercita-cita jadi dokter atau profesi lainnya, atau bertanya berbagai macam hal, setidaknya saya mempunyai sedikit bekal untuk berbagi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

Dalam bukunya, dr. Triharnoto menulis dengan ringan, mengalir, dan sesekali renyah. Saya tidak sedang promosi, hanya cukup terkejut juga mendapati buku ini tidak seberat yang saya sangka. Isinya lebih banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman beliau selama menjalani profesinya tersebut. Sesekali jadi tegang pada bagian pemeriksaan pasien, perlakuan operasi, apalagi ketika beliau cerita bagaimana jantung diangkat dan dihentikan, kemudian didetakkan lagi. Jadi kaya akan hikmah pada bagian interaksi beliau dengan pasien-pasiennya, termasuk ketika beliau menjadi pasien bagi seorang dokter gigi. Saya sangat menikmati kisah interaksi beliau dengan para pasien; tentang sisi kemanusiaan. Bahasa kerennya: silaturrahim dengan pasien tidak berhenti ketika pasien keluar dari rumah sakit.

Apapun peranan kita, humaniora memang dibutuhkan. Sisi kemanusiaan tidak akan pernah lepas dari manusia itu sendiri, bukan? Membaca buku ini membuat saya semakin yakin bahwa Allah memberikan setiap hambaNya pelajaran secara spesial, dengan jalan masing-masing. Pelajaran yang Allah sampaikan boleh jadi seragam; tentang kesabaran, kesungguhan, dan bagaimana menghargai dan menikmati setiap proses. Namun Allah yang Maha Kaya itu selalu memiliki kekayaan cara dalam menyampaikan kepada setiap hambaNya. Itu juga kan, yang membuat ada begitu banyak kisah inspiratif bermunculan? Bagaimana jika kisah pembelajaran hidup hanya disampaikan Allah dengan satu cara? Mungkin acara-acara semacam talkshow motivasi tidak akan jadi menarik lagi.

“Meski menegangkan karena menyangkut nyawa manusia, tapi dengan niat baik menolong pasien, lakukan saja yang terbaik yang Anda bisa.”

“Saya menyesal terlambat melihat pasien sehingga tidak dapat kesempatan menolongnya. Walaupun bisa saja pasien tetap tidak tertolong, meski saya menolongnya.”

Dua pernyataan di atas adalah salah dua dari beberapa kalimat yang dicetak besar dalam buku The Doctor ini. Ya, ada pelajaran penting yang kembali diulang-ulang disana. Ialah tentang mengusahakan yang terbaik. Selagi niat kita baik, cara yang kita tempuh baik, tujuan kita baik, maka lakukan saja, usahakan yang terbaik. Ikhtiarkan seoptimal dan se-sungguh-sungguh mungkin. Tugas kita cukup sampai sana. Manusia tidak perlu dibuat repot dengan memikirkan hasilnya. Itu hak prerogratif Allah. Allah Maha Tahu yang terbaik, sedang pengetahuan kita terbatas sekali. Manusia punya bagiannya, sementara Rabb kita lah yang Maha Kuasa.

Saya jadi ingat alasan kenapa saya ingin menjadi seorang pendidik. Pernah guru saya bertanya alasan saya menulis ‘educator’ pada kolom cita-cita. Saat itu saya menjawab, bahwa menjadi seorang pendidik itu bukan pilihan, melainkan keharusan. Jadi apapun kita, profesi apapun, jabatan apapun, pada bagian manapun kita bergerak, menjadi pendidik adalah sebuah niscaya. Banyak orang yang menilai jawaban semacam ini tidak spesifik dan tidak fokus. Sama seperti orang yang ketika ditanya mau jadi apa, maka jawabannya ‘ingin menjadi orang baik’. Tapi bagi saya, menjadi seorang pendidik adalah kalimat paling pas menjawab apa yang benar-benar saya citakan. Persoalan profesi dan lain-lain, targetan karya atau semacamnya, tidak lain hanya turunan dan hanya cara yang saya gunakan untuk menggapai cita-cita sungguhan saya tersebut.

Seperti kita yang merupakan seorang muslim. Cita-cita kita adalah meraih ridha Allah. Maka perangkat-perangkat yang kita gunakan tidak lain adalah cara kita untuk menggapai cita-cita tersebut.

Semoga kita tidak dibatasi oleh teori-teori. Tidak terjebak dalam mimpi sendiri. Tidak pula terlalu sibuk dengan realisasi. Karena Allah, dengan kekuasaanNya, selalu memiliki kejutan-kejutan hebat bagi semesta; bagi setiap hambaNya -termasuk kita.

Terakhir, semangat yang mau jadi dokter, juga calon ahli farmasi! :)
Untuk teman2, kakak2, juga adik2 saya, semoga kalian menjadi pendidik super di lembaga spesial berpayung kesehatan. Tetaplah jadi manusia yang memanusiakan manusia.


Ditulis di Banjarnegara,
20 Agustus 2015

Tuesday, February 4, 2014

Fotografie Ausstellung


Yesterday, my friends and i went to this event;

Photography? yeah! honestly, our purpose was to meet up. Wherever the place is, as long as a good place, as long as we meet up, it'll be precious. And Alhamdulillah, we found that event. At least we have a destination to go. :D
 
retno-riz-suha-maryam


We visited Monas first before we went to Gedung Galeri Indonesia which located near Monas. Sunday morning in Monas was crowded; so many people there. Although yesterday was not our first time to see Monas (yup we're all stayed in Jakarta), it was enjoyable. :) Suddenly i remember one simple sentence.

 It's not really important how many times you go to a place.


And here is some pictures, taken at Gedung Galeri Indonesia :) 
Gedung Galeri Indonesia

Somewhere in Gaza, Palestine.
Well-ordered building in Dubai.

Dubai
This one is cool! :)
Three men walk
This one is my favourite. Gaza, Palestine.
An unperfect dot.
Me-Jakarta; our capital


My flat point finger. Hhe
Station in Russia
Peek
Doll
Retno tried to hold the barbie; Indonesia
Suha and Maryam; corridor.
A big 'aquarium'
Rain <3
Port
Observe
House building artificial in Las Vegas' mall.
Another Rain :D



That's a part of our journey yesterday. Yet i don't tell you the descriptions of those pictures, you can ask Mr.Google, or maybe come to Gedung Galeri Indonesia at Medan Merdeka Timur street (It's three days left from January 4th 2014 :p). 

Thanks Amr (Suha's brother) who helped us to take our pictures. :D