Showing posts with label diskusi satu arah. Show all posts
Showing posts with label diskusi satu arah. Show all posts

Sunday, July 4, 2021

Untukmu yang Nyaris Putus Asa

Katanya, seseorang yang mencintai akan sangat sulit berputus asa pada orang yang dicintainya. Duh, maksudnya bagaimana?

Begini. Ketika seseorang telah memberikan cintanya, maka satu-dua keburukan orang yang dicintainya takkan membuatnya sedemikian mudah berputus asa. Akan ada seribu satu alasan yang menjadikannya layak untuk dimaklumi. Pikiran seperti "Oh, mungkin aku harus bersabar sedikit lagi. Aku yakin dia bisa menjadi lebih baik setelah ini," barangkali tak asing mampir dalam benaknya.

Ya, dia punya begitu banyak alasan untuk tidak berputus asa pada orang yang dicintainya. Ia memberikan peluang nyaris tak hingga untuk memenangkan harapan yang ada dalam hatinya. Koreksi ya, kalau aku keliru. Sebab ini tebak-tebakanku saja. 

Tapi uraian setelah ini bukan tebak-tebakan. Sungguh.

Aku dengar, kabarnya akhir-akhir ini kamu tengah nyaris putus asa. Benarkah? Jika tidak, semoga Allah mudahkan hatimu untuk selalu menaruh harap yang utuh, penuh keyakinan kepada-Nya saja. Aamiin. Namun jika iya, semoga "nyaris" itu tak berubah jadi "sudah".

"Dosaku banyak banget. Aku malu minta lagi sama Allah."

"Kalau orang seburuk aku, apa iya akan dapat ampunannya Allah?"

"Aku capek. Minta dari dulu juga nggak pernah dikabulkan."

"Aku sudah banyak buat salah. Kayanya aku memang bukan prioritas Allah."

"Terlalu banyak orang soleh di dunia ini. Aku cuma remah-remah rengginang untuk minta ini-itu sama Allah."

Apa pikiran-pikiran seperti itu pernah terlintas dalam benakmu? Jika iya, apakah di saat yang bersamaan hati kecilmu masih meyakini bahwa Allah Maha Mendengar, Allah Maha Melihat, Allah Maha Pengampun, dan Allah Maha Mengabulkan Do'a?

Bersyukurlah. Tidak semua orang diberi nikmat menyadari akan keberadaan Allah. Tidak semua orang diberi nikmat menyadari bahwa dirinya tak punya daya apa-apa di hadapan Allah.

Jika memang kamu nyaris putus asa, agaknya ada satu hal yang perlu kamu ingat. Cintanya Allah bukan seperti cintanya manusia. Cinta Allah pada hamba-Nya sungguh tak sebanding dengan cinta manapun yang ada di dunia. Bahkan cinta seorang ibu pada anaknya pun, tak seberapa besar jika dibandingkan dengan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Jika manusia saja sebegitu teguh memperjuangkan dan tak putus asa atas orang yang dicintainya, bisakah kamu bayangkan betapa luar biasa cintanya Allah?

Dosa-dosamu mungkin menggunung. Tak terhitung. Tak terbendung.

Kesalahanmu, prasangka burukmu, ketidakyakinanmu, semuanya membuatmu sedemikian ragu. Tapi tidakkah kamu ingat, dengan siapa kamu tengah bicara cinta?

Ini bukan manusia. Inilah penciptanya manusia. Cinta-Nya tak sedangkal itu. Cinta-Nya tak bergantung pada apapun. Kamu mungkin pendosa, tapi rahmat Allah lebih besar bahkan dari semua dosamu itu. Kamu mungkin nyaris putus asa, tapi pertolongan-Nya nyata dan bukan isapan jempol belaka. Ingatlah kepada siapa kamu tengah bicara soal cinta. Bukankah seorang pendosa pun memiliki peluang besar untuk meraih cinta-Nya? Sungguh Allah mencintai tangisan seorang pendosa yang bertaubat.

"Bagaimana jika bahkan taubat ku pun berantakan?" benakmu bicara lagi.

Jikalau taubatmu bahkan berantakan, maka bertaubatlah lagi dan lagi. Bertaubatlah atas taubat yang berantakan itu. Datanglah pada Allah dengan semua kelemahan dan ketidakberdayaan diri. Meskipun berkali-kali kamu harus kembali, sungguh Allah Maha Mengetahui. Ia melihat setiap inci usaha hamba-Nya. Ia tahu betapa hati kecilmu ingin dicintai-Nya. Syaithan yang membangkang-Nya dengan terang-terangan pun dikabulkan pintanya oleh Allah. Mengapa kamu ragu, merasa do'amu tak didengar-Nya?

Ada yang bilang, cinta bukan kata benda melainkan kata kerja. Yah, aku sedang tidak ingin membahas itu. Yang ingin aku sampaikan adalah, bahwa cinta pun membutuhkan pembuktian. Barangkali keadaan dan ujian yang kamu hadapi semata-mata adalah ajang pembuktian. Bukan, bukan pembuktian untuk-Nya, melainkan untuk dirimu sendiri. Apakah segenap pengakuanmu di hari kemarin bahwa kamu mencintai Dia dan Rasul-Nya, sungguh-sungguh kamu perjuangkan?

Jadi, jika kamu tengah nyaris putus asa, ketahuilah bahwa kamu tidak sedang berurusan dengan manusia. Sungguh, cinta-Nya tidak sedangkal itu. Tuhanmu itu tidak pergi dan tidak pula meninggalkanmu. Pun, semoga cintamu tak sedemikian kering hingga kehilangan prasangka baik kepada-Nya, ya. Mari kita aamiin-kan sama-sama.



Ditulis di Bandung,

28 Juni 2021

Monday, June 28, 2021

Berceritalah

Hai, apa kabar kamu yang di sana? Bersyukur ya, di tengah keramaian media sosial yang riuh dan begitu gaduh, kita masih bisa bertukar sapa di ruang sepi yang satu ini. Ya, kadang diskusi kita dalam hening terasa lebih menghangatkan, bukan?

Aku harap, semoga kamu baik-baik saja. Belakangan hidup memang terasa tak mudah bagi banyak orang, dan mungkin saja kita salah satunya. Namun, bukankah tak ada janji yang lebih indah dari kesulitan yang akan hadir beriringan dengan kemudahan-kemudahan?

Hmm.. Jadi, ada cerita apa dalam kehidupanmu? Adakah kabar yang perlu aku tahu? Atau setidaknya, yang bisa kau bagi denganku. Tak peduli sereceh apapun itu. Sepertinya akan menyenangkan jika aku bisa mendapat sedikit kabar darimu. Oh iya, ku pikir, kamu harus tahu bahwa di dunia ini akan ada seseorang yang sama sekali tak keberatan mendengar kisahmu, rapuhmu, bahagiamu, sedih dan senangmu. Tentu saja tak selalu aku. Tapi kalau kau mau cerita padaku kali ini, insyaAllah akan ku dengarkan baik-baik dengan senang hati.

Beberapa waktu lalu, aku pernah bertemu dengan seorang ibu. Ia menangis, merengek dalam panjang sujud di salah satu salat fardhu. Sebelumnya kami sempat berpapasan di tempat wudhu. Kamu boleh percaya atau tidak, tapi ibu itu membuatku tak bisa keluar dari dalam toilet. Iya, dia mengunci pintunya dari luar. Setelah beberapa kali aku ketuk, tak lama pintu itu kembali terbuka. Wajah kami berhadapan sejenak. Coba tebak, bagaimana ekspresinya?

Sepertinya kamu salah. Ibu itu menatapku tajam seperti orang yang tengah marah dan kesal. Ada badai di kedua bola matanya. Aku enggan menatap lama-lama. Kusungging senyum, lantas ia melengos masuk ke dalam toilet menggantikan aku. Aneh dan jujur saja, agak meyebalkan. Tapi ya sudah, bahkan saat itu kukira ia memiliki gangguan atau semacamnya. Ku pikir demikian. Ternyata, aku salah besar.

Ya, nyatanya aku melihat ibu itu menangis, merajuk di atas sajadah. Ia membuka Al-Qur'an lembar demi lembar, beberapa kali ku dengar isak tangisnya beriringan dengan suara parau memanggil Rabb-nya. "Yaa Allah..." begitu ujarnya. Segera saja aku menyesali praduga tak berdasarku beberapa waktu sebelumnya, yang mengira si ibu memiliki akal yang barangkali kurang sehat.  

Rasa jengkel yang  sempat hadir sebab aku dikunci dari luar toilet, ditambah menerima sikap yang jauh sekali dari kata ramah, segera ku buang jauh-jauh. Baiklah, beliau sepertinya tengah punya masalah yang jauh dari kata mudah. Dan sebaiknya aku segera membereskan masalah dengan hatiku yang sudah seenaknya berprasangka tanpa dasar jelas.

Aku masih ingat kejadian itu dengan baik. Ada pembelajaran penting yang aku dapat: setiap orang menghadapi perjuangannya masing-masing. Kadang kita terlalu serampangan dalam memberikan penilaian pada orang lain, hanya berdasarkan suatu kejadian atau bahkan hanya dalam satu kali papas. Jika ia terlihat begitu menyebalkan, boleh jadi saat itu ia tengah mengalami hari yang jauh dari menyenangkan, dan berkali-kali menguji perasaannya. Sebaliknya, jika ia terlihat begitu sempurna dan tanpa cela, bukan berarti ia tak pernah merasakan sedih atau kecewa seperti manusia lainnya. Pada akhirnya, kita sama-sama manusia.

Hei, jadi bagaimana kabarmu? Aku harap, kamu baik-baik saja. Titip salam syahdu untuk langit di kotamu yang boleh jadi sama, atau mungkin berbeda dengan kotaku. Berceritalah. Semoga kita masih diberi waktu.

Sumber Gambar

Ditulis di Bumi Pasundan,

28 Juni 2021.

Wednesday, July 11, 2018

Bagaimana Kabarmu?


Hei, Assalamu’alaikum. Bagaimana kabarmu?

**
Sudah lama kita tidak berbincang. Atau mungkin memang kita bukan dua orang yang sering berbincang. Yah, apapun itu, aku ingin bercerita saja. Sore ini aku duduk di sudut ruangan berdindingkan kaca. Aku berada di lantai paling atas; lantai ke-24. Dari sini, dapat kusaksikan langit ibu kota kita yang agak kelabu, entah mengapa. Mungkin karena kesibukan dan produktivitas manusianya yang di atas rata-rata, hingga pemandangan dari atas seperti tertutup kabut sedemikian rupa. Iya, kuharap itu kabut dan bukan polusi udara.

Kamu pernah berpikir, kenapa ya, dalam kehidupan kita yang berdampingan ini, dalam kehidupan setiap manusia yang kita tahu jumlahnya tak dapat dihitung jari ini, mengapa kita seringkali masih iri hati? mengapa kita menyimpan hasad-dengki? mengapa masih sulit bagi kita mensyukuri diri? padahal, kan, ada begitu banyak manusia di dunia ini, dan rasa-rasanya, kita akan selalu menemukan celah jika saja kita mau bersyukur atas kehidupan sendiri.

Ya, kan? apakah kamu berpikir hal yang sama?

Yah, bukan apa-apa sih. Aku hanya berkontemplasi; merenungi segala pahit-manis yang telah terjadi selama ini. Hei, iya, aku kan mau tanya, kamu apa kabar? ada kabar apa di kehidupanmu? bagaimana kabar tugas-tugas harianmu? adakah mereka terceklis utuh?

Belakangan, aku belajar banyak soal kehidupan. Bahwa ternyata dunia yang cuma main-main dan senda gurau belaka ini, ternyata menyimpan dinamika sedemikian rupa. Ternyata di usiaku yang memasuki dua puluhan ini, ada begitu banyak kearifan hidup yang aku masih buta terhadapnya. Ada banyak sekali kisah yang baru aku selami maknanya; sesuatu yang kukatakan pahit-manis kehidupan. Kapan-kapan aku juga mau mendengar (atau mungkin membaca) cerita pahit-manis milikmu. Kutunggu, ya.

Aku jadi ingat perkataan Ibu Neti, salah satu konselor yang pernah mengisi kelas kuliah kami. Beliau mengatakan bahwa hikmah terbesar menjadi seorang konselor adalah menjadi bijak. Iya, belajar dari kompleksitas hidup yang dialami oleh berbagai macam insan menjadikan dirinya melihat dengan sudut pandang yang lebih luas, menilai dengan lebih menyeluruh, menyaksikan segala sesuatu dengan lebih adil. Kegiatannya mendengarkan cerita dari orang lain tanpa disadari membantu pikir dan hatinya menjadi lebih bijak. Barangkali benar jika dikatakan bahwa pembeda antara kanak-kanak dan dewasa adalah soal kebijaksanaan. Bukankah memang begitu? sudah seharusnya orang dewasa berbeda dengan anak-anak yang bersifat egosentris. Bukan saatnya lagi bagi orang dewasa bersikap seperti anak-anak yang melihat segala sesuatu berputar dengan diri mereka sebagai porosnya.

Aku sudah lama tidak bercerita. Jadi maaf kalau agak banyak menulisnya. Kalau tidak mau baca, silakan berhenti saja. (Ya kalau tidak mau baca, sejak tadi kamu harusnya juga tidak memulai, kan, hhe).

Dalam perjalananku hingga hari ini, aku bersyukur sebab dipertemukan dengan orang-orang luar biasa. Entah, kadang aku tak habis pikir dengan diri sendiri, bagaimana mungkin aku tidak termotivasi menyaksikan orang-orang di sekelilingku yang sehebat itu? mungkin juga termasuk kamu. Artinya, jika aku tidak menghebatkan diriku juga, tidakkah bisa dikata bahwa aku kufur nikmat?

Hei, tunggu. Kamu juga mengerti kan, maksudku hebat disini adalah, bicara soal kesungguh-sungguhan. Aku selalu jatuh cinta melihat manusia dengan segala perjuangannya. Aku suka menyaksikan manusia yang bersungguh-sungguh dalam melakukan apa yang ia yakini kebaikan dan kebenarannya. Aku selalu kagum pada mereka yang bisa fokus pada satu hal, dengan tetap mengindahkan kehidupan kanan-kirinya. Dan betapa baiknya Dia, hingga menghadirkan orang-orang seperti itu dalam kehidupanku. Maka aku katakan, bukankah aku kufur nikmat, jika aku tak menyerap energi mereka? atau energimu, mungkin saja?

Aku mengenal seseorang yang telah melamar kerja hingga puluhan. Bukan untuk apa-apa, melainkan untuk kepentingan keluarga dan kehalalan rezeki yang ia terima. Aku mengenal seseorang yang berjuang naik-turun, mengarungi jalan-jalan, mengarungi himpitan waktu, demi kepentingan adik-adik sebab ia anak pertama. Aku juga bertukar cerita dengan seseorang yang meski begitu pahit apa yang ia alami di keluarga, namun senyumnya pada tetangga selalu saja merekah. Ada juga mereka yang berjuang dalam diam, dalam harap, dalam cemas, tapi tetap dengan prasangka baik pada Tuhannya. Ah, kalau mengingat itu, seketika aku merasa seperti remah-remah entah makanan apa.

Jauh dari itu semua, yang membuatku paling merasa hanya jadi butiran debu adalah jika mengingat kedua orang tua. Yah, membahas keduanya selalu sulit bagiku, jujur saja. Karena terlalu spesial, seringnya sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Tuh kan, begini saja aku sudah diam. (Iya, saat menulis bagian ini lama sekali jemariku berhenti. Padahal paragraf-paragraf sebelum bagian ini, rasanya kutulis tanpa jeda. Sekarang jadi hening.) Kapan-kapan saja ya, aku bercerita soal ini. Atau jika memungkinkan, barangkali lebih baik kita bertemu saja. Siapa tahu kamu berbaik hati penasaran kan, mau mendengar ceritanya.

Sudah lama kita tidak berbincang. Atau mungkin memang kita bukan dua orang yang sering berbincang. Kita bisa saja saling kenal atau tidak saling kenal. Mungkin saja kita saling tahu tapi tak pernah kita bertukar sapa. Mungkin saja kamu tanpa sengaja menemukan laman ini dan membaca barisan kata-kata. Tapi tak apa, itu bukan poin pentingnya. Paling tidak setelah membaca ini, aku ingin mengajakmu sama-sama berdiskusi. Minimal dengan kepala kita sendiri-sendiri.

Kamu apa kabar? ada kabar apa di kehidupanmu? apa yang sedang menyita pikirmu? apa pencapaian yang tengah ingin diraihmu? kesulitan-kesulitan apa yang tengah menghadang episodemu?

Apapun itu, semoga kamu baik-baik saja, tidak kekurangan sesuatu apapun. Semoga keberimanan selalu hadir pada hatimu. Semoga keridhoan tak sungkan-sungkan menetap pada kalbumu. Semoga niat baik selalu berada pada benakmu. Apapun yang tengah kamu hadapi, bersyukurlah. Sebab Tuhan kita dalam firman-Nya mengatakan,

Semoga kamu baik-baik saja :) wassalamu'alaikum.


Jakarta, 27 Syawal 1439 H
Dari lantai ke-24 pada sore hari ibu kota.

Yang menanyakan kabarmu,
aku.

Sunday, April 23, 2017

Dear, you

Dear, you.

Mengeja kembali syair-syair yang pernah kita lalui. Seberapa jauh kita telah melangkah hingga hari ini? adakah dibanding satu tahun lalu, lima— sepuluh tahun lalu, keimanan kita bertambah? Atau justru ia terjun payung— menurun?  Apa kabar idealisme kita? Apa kabar mimpi-mimpi yang pernah kita canangkan bersama? Apa kabar semangat dan keberpasrahan kita?

Aku tidak lupa. Kita pernah menggores tinta bersama di atas catatan yang dahulu, kita duga akan menyejarah. Setidaknya untuk diri kita sendiri. Hari ini, beberapa tercoret. Sebagian besar yang lain masih menunggu giliran. Tapi agaknya, ada nafas yang berbeda. Ada ritme yang tidak lagi sama. Ada keharusan akan intorspeksi keistiqomahan dan kesadaran diri. Sense of jihad itu, dia ada dimana sekarang?

Aku tahu betul, kamu bukan tipe orang yang mudah mengizinkan dirimu untuk mengeluh. Karena kamu percaya, kehidupan, dilihat dari sudut pandang manapun, memang bukan tempatnya untuk dikeluhkan; kecuali pada Dia saja. Sebab, katamu, “toh hidup ini kan memang sudah dibilang dari awal, ia ujian. Permainan pula. Jadi mengeluh, apalagi sama manusia, buat apa?” Mungkin kamu tidak tahu, tapi diam-diam aku meniru. Dan memang, kamu selalu mengajakku untuk seperti itu.

Tapi, belakangan, aku mendapati diriku merindukanmu yang demikian. Entah kamu menyadari atau tidak, tapi kurasa masing-masing kita ada yang berbeda. Kebaikan-kebaikan kita agaknya mengendor. Semoga aku salah. Tapi kurasa, ada baiknya kita saling mengingatkan. Mungkin, kita memang tengah lupa. Bukankah salah satu manfaat bersahabat adalah dengan saling mengulang kembali syair kebaikan yang nyaris hilang di kepala?

Semoga bukan karena kita bosan untuk berfikir baik; merasakan hal-hal baik; melakukan perbuatan baik. Tidak ada yang terlambat, bukan? Mari kita mulai lagi dengan satu langkah sederhana: istighfar. Ikhtiar untuk meninggalkan segala laku maksiat yang melahirkan dosa.

It's never too late to be what you might have been, Dear.


Jayakarta, April 2017

Monday, March 14, 2016

Pemaksaan

Assalamu’alaikum, pembacaku yang baik ^^ bagaimana kabarmu? Sudah lama ya, kita tidak saling menyapa satu sama lain. Semoga kamu tidak kekurangan sesuatu apapun. Semoga kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu pasti, apa yang tengah kamu alami dalam hidupmu. Lagipula bagaimana aku bisa tahu, sementara kamu tidak pernah mengabarkannya padaku. Tapi kali ini, aku ingin mengajakmu kembali menghidupkan semangat kepercayaan. Semangat keyakinan, bahwa alam semesta ini mendukung setiap kebaikan yang hendak kita perjuangkan. Iya, benar sekali! Sudah lama bukan, kita tidak saling menyemangati?

Yang membuat diri kita lelah, sebenarnya adalah diri kita sendiri. Kita terlalu bergantung pada diri sendiri. Terlalu mudah mengatakan tidak mungkin atau tidak bisa, karena kita menyandarkannya pada –sekali lagi, diri kita sendiri. Hal itu membuat kita terlalu mudah mengeluh dan putus asa, terlalu mudah untuk mundur dan berhenti berjuang. Padahal sudah jelas bawa diri kita terlalu lemah. Maka wajar kalau sumbu semangatnya mudah hangus terbakar dan habis jika kita masih hobi sekali bergantung pada diri sendiri (baca: apalagi bergantung pada orang lain). 

Maka sebaik-baik pilihan bergantung dan menaruh harapan, sungguh bukan diri kita, melainkan Sang Pencipta. Tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Bukankah dunia ini adalah ciptaan-Nya? Dan Dia, dengan segenap ke-Mahakuasaan-Nya, dapat melakukan apapun. Dapat menjadikan segala sesuatu menjadi mungkin. Tugas kita sungguh-sungguh hanya taat dan mengupayakan yang terbaik. Aku fikir, tidak ada yang lebih keren dari usaha sungguh-sungguh yang disertai keyakinan dan keberpasrahan penuh pada Pemilik Alam Semesta. Setuju? :))

Omong-omong, aku sungguh menyayangimu.

Jadi aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus setuju. ;D

Iya, ini pemaksaan. Aku serius.

Tuesday, January 19, 2016

Kawan,

Postingan kali ini adalah titipan seseorang yang pada suatu hari berkata, "Riz, boleh ikut nulis dan jadi kontributor di blogmu nggak?" Saya juga nggak tahu dia nulis surat ini buat siapa. Hhe :) semoga pesannya sampai.

**

Apa kabar, kawan? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Mungkin beberapa diantara kita masing sering bertemu secara tidak langsung sehari-hari, atau bahkan mungkin sengaja ingin bertemu. Semoga engkau masih mencintai Allah, yang membuat lancar jalanmu menjalani semester ini.

Kawan, saat ini kita telah sampai dipenghujung semester. Kita sama-sama tidak tahu, apa yang akan terjadi pada nilai kita, atau bahkan diri kita sendiri. Selama satu semester ini, engkau telah menghabiskan banyak waktu denganku, kuucapkan terimakasih karenanya. Selama satu semester ini, engkau telah banyak membantuku, atas izinnya, kuucapkan terimakasih karenanya. Selama satu semester ini, engkau telah banyak berperan dalam hidupku, mengubahku menjadi lebih dewasa, lebih baik. Kuucapkan terimakasih karenanya. Namun aku rasa semua itu tidak akan cukup dengan kata terimakasih. Maka izinkan aku untuk memberimu sesuatu yang tidak akan diberikan oleh orang yang tidak menyayangimu.

Kawan, tidak lama lagi kita akan pulang ke rumah masing-masing. Walau mungkin ada diantara engkau yang tidak dapat bertemu keluarga tercinta, entah atas dasar alasan apapun, kuucapkan selamat, karena mungkin semua itu tidak akan berlangsung lama. Manfaatkan waktumu dirumah, kawan. Jika perlu, matikan semua jaringan komunikasi, sehingga hanya keluargamu yang kau perhatikan saat itu. Kau tau apa yang mungkin akan dikatakan ibu atau ayahmu ketika kau tidak bisa pulang kemarin? Mungkin mereka akan bertanya, sibuk kah engkau nak? Dan jawabanmu adalah iya, aku sibuk bunda, aku sibuk ayah. Sabarlah menantiku pulang. Kawan, sejujurnya engkau baru saja membuat suatu penekanan pada diri orang tuamu bahwa anaknya adalah orang sibuk, yang mereka perlu sangat bangga padamu, karena kau mungkin tengah membela hak saudaramu di kampus. Aku bangga mendengarnya, namun orang tuamu mungkin tidak. Berpikirlah tentang hal ini.

Kawan, tidak lama lagi, kita akan mendapatkan hasil evaluasi kerja keras kita semester ini. Mungkin ada diantara kita yang sangat bangga karenanya, atau bahkan menjunjung tinggi Kartu Hasil Studi dihadapan keluarga. Tapi mungkin ada diantara kita yang berharap tidak ada satupun keluarga yang bertanya tentang hasilmu. Mungkin itu aku. Maka jika engkau mendapatkan hasil yang memuaskan, aku akan turut senang mendengarnya; walau mungkin dibalik handphoneku, ada tetesan air tak terduga. Kawan, jika itu engkau yang mendapatkan hasil terbaik, kuharap engkau tidak akan melupakanNya, yang telah menjadi superhero kita sejauh ini. Kita sudah cukup jauh dibawanya terbang tinggi, maka janganlah engkau melupakanNya, yang akan membuatnya melepaskanmu dari pelukan terhangatNya. Allah, iya itu Dia. Superhero kita.

Namun, bagi engkau yang tak diduga memiliki perasaan yang sama denganku, jangan pernah mengalihkan wajahmu dariNya; dari Dia yang selalu mencintai kita. Kau tau apa bukti cintaNya padamu? Salah satu adalah ujian yang tengah kita hadapi, yakni nilai yang kurang memuaskan bagi kita. Tapi jangan salah, ujian ini jauh lebih ringan daripada mendapat hasil sempurna. Mengapa? Karena teman-teman kita yang mendapatkannya, akan lebih mudah melupakanNya, akan lebih mudah menganggap Allah bukan superhero kita. Maka seperti apapun hasilmu nanti, jangan berikan pujian terbaik atas hasil sempurna yang diraihnya, cukup kau doakan agar ia tak melupakan superhero kita, sehingga kita bisa melangkah maju bersama, menggapai peringkat tertinggiNya.

Maafkan aku kawan, atas sekian banyak kesalahanku sejauh ini. Maafkan aku kawan, mungkin curahan hati ini terlalu tercurahkan. Maafkan aku kawan, mungkin aku bukan kawan yang baik untukmu. Karena hanya superhero kita yang akan menjadi teman terbaikmu. Terbaik.

Demikian kawan, kini saatnya aku melepas untuk terbang jauh mengarungi lautan cintaNya. Terimakasih telah menjadi pengingatku untuk selalu mengingatkanku akan superhero kita. Terimakasih.

Ku nanti engkau di lapangan rektorat, awal tahun 2019 nanti. Ku nanti senyum terlebarmu saat itu, beserta toga dan ijazah hasil perjalananmu bersama superhero kita. Ku nanti hari berbahagiamu. Ku nanti, meeting terbaik kita di surga milik superhero kita.

Ditulis oleh TBMS,
Januari 2016

Friday, January 15, 2016

Surat (untukmu)

Tiga puluh tahun yang lalu, pertama kali aku mengenalmu. Dalam suasana biasa. Kelas biasa, seragam anak SD biasa, kenakalan-kenakalan masa kecil yang biasa. Tak ada yang benar-benar spesial. Hanya satu. Kutemui Kau di tempat ini. Tempat dimana kini aku berpijak di atas tanahnya—menantimu.

Sambil menunggumu pulang, izinkan aku menulis penggalan surat untukmu. Sudah lama kan, aku tidak melakukannya?

Dulu, aku selalu bertanya kepada Uma tentang sosokmu. Bagaimana bisa ada anak yang bandelnya tidak karuan, tapi masih saja disayang oleh Ustadz Mukhlis, guru ngaji di desa. Mendengar pertanyaan polosku saat itu, Uma hanya tertawa sambal mengelus kepalaku pelan. Aku tidak terlalu peduli sehingga tidak bertanya lagi. Belakangan, aku baru tahu bahwa ternyata Kau adalah anak angkat Ustadz Mukhlis. Orangtuamu meninggal dilahap api ketika usiamu masih tiga tahun. Ustadz Mukhlis lantas membawamu pulang.

Yang membuat aku takjub bahwa ternyata di balik kebandelanmu itu, Kau memiliki pemikiran yang cerdas lagi jenaka. Kau juga tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan berani mengambil risiko. Paling tidak, pandanganku terhadapmu berubah ketika kita mulai beranjak meninggalkan masa kanak-kanak. Bukan tanpa kontribusi Uma. Uma bilang, Kau itu bukan bandel. Hanya saja memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kabarnya, kedua almarhum orang tuamu adalah sosok berpengaruh di desa kita. Sepasang guru muda luar biasa yang malangnya terjebak api ketika hutan sebelah Barat desa terbakar.

Aku ingat betul kali pertama aku berbicang-bincang denganmu. Sebelumnya kita hanya saling tahu tanpa pernah bertukar sapa sekali pun. Saat itu, kita tengah bersama-sama ada di dapur umum belakang rumah Ustadz Mukhlis. Di tengah-tengah persiapan acara santunan anak yatim, Kau menyapaku yang sedang menyiapkan hidangan untuk konsumsi para undangan.

“Kenapa tatanan kuenya harus melingkar begitu?” kau mengomentari susunan kue apem tepung beras yang baru saja selesai aku tata.

“Memangnya kenapa?” jawabku agak kaku. Takut kalau-kalau ada yang salah dari apa yang aku kerjakan.

“Hha, tidak apa-apa. Aku hanya penasaran. Pada acara apapun, Kamu selalu menyusun dengan cara seperti itu. Melingkar,” katamu sambal melukis lingkaran di udara dengan jari telunjuk, “Susunan cangkir teh minggu lalu di rumah Abah Sapri, Kamu juga kan yang melakukannya?” mendengarmu saat itu, aku diam lantas mendongakkan kepala. Kau lalu memalingkan muka.

“Uma juga melakukannya di rumah. Aku belajar dari Uma,” ujarku sambil kembali melanjutkan pekerjaan.

“Hmm, aku suka,” kau bergumam seraya menunjuk susunan kue apem itu, “boleh kuambil satu?”

“Silahkan,” kataku pelan. Lalu kamu mengambil satu. Bukan satu buah, melainkan satu piring utuh. Kau pergi keluar dapur dengan mataku yang tidak lepas memandangi punggungmu. Diam-diam aku tertawa sambil geleng-geleng kepala.

Kau pernah menjulukiku sebagai manusia yang paling tidak peka. Dulu aku tak mengerti, mengapa Kau sebut aku demikian. Kau selalu saja menghidupkan pemikiran-pemikiranku. Memberiku tantangan agar aku mampu memecahkan persoalan lebih cerdas, berfikir lebih cermat, menyikapi lebih bijaksana. Sekarang aku jadi berfikir, mungkin Kau memang dewasa lebih cepat dibanding kebanyakan orang. Kau bahkan tahu ke mana urusan ikan lele Abah Sapri harus dibawa, ketika ketua RT kampung kita pun angkat bahu akan hilangnya lele muda itu.

Kini telah ada begitu banyak kenangan bersamamu yang telah terukir dalam dalam setiap detik anugerah yang Tuhan karuniakan. Setelah perbincangan-perbincangan kaku yang ada antara kita, Kau lantas mendatangi Uma. Meminta izin untuk meminangku. Tidak berselang lama, akad pun terucap. Paman menjabat tanganmu mantap. Kita hidup dalam kebersamaan yang indah. Tidak dengan harta yang melimpah, tapi dengan cita rasa kehidupan yang berkah.

Ketika Uma meninggal dunia, Kau lantas mengajakku bersama-sama merantau ke Jakarta. Kita ditempa oleh kerasnya kehidupan ibu kota. Kalau Tuhan tidak menjadikan Kau ada bersamaku, mungkin aku memilih untuk pasrah dan menyerah. Tapi aku bersyukur bahwa nyatanya Tuhan begitu baik karena menjadikan kita saling melengkapi. Kau mengajariku makna perjuangan, bahwa segala sesuatu tidak ada yang luput dari perhitungan Tuhan.

Usaha dan tekad keras yang Kau teladankan padaku itu berbuah hasil. Keadaan kita semakin membaik. Aku tidak bicara tentang ekonomi atau materi saja. Melainkan bicara tentang pemahaman dan pemaknaan hidup, serta seni untuk berbahagia dalam setiap keadaan. Aku semakin takjub akan kebaikan Tuhan mempertemukanku denganmu ketika aku dikabarkan mengidap kanker rahim. Kamu tahu, tidak ada kabar yang lebih buruk bagi seorang perempuan selain berita bahwa dirinya mengidap kanker rahim dan harus merelakan rahimnya diangkat. Aku takkan pernah bisa menjadi seorang ibu biologis. Aku hancur saat itu. Tapi Kau, disaat seperti itu, membelai kepalaku lembut dan berkata  sambil tersenyum bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Kita lantas membangun rumah singgah. Di dalamnya, banyak tinggal anak-anak seperti aku dan Kau di masa lalu. Anak-anak yang tiada lagi memiliki ayah, tidak memiliki ibu, atau keduanya. Seperti aku yang hanya hidup bersama Uma. Sepertimu yang diangkat anak oleh Ustadz Mukhlis dan tinggal di rumahnya. Tahun-tahun yang kita lalui bersama mereka di rumah singgah jadi begitu menyenangkan. Aku hampir-hampir lupa bahwa tidak ada satupun di antara mereka yang syurganya berada di bawah telapak kakiku. Hampir-hampir tidak ingat kesedihan yang menghujam batinku ketika operasi pengangkatan rahim beberapa tahun sebelumnya baru saja aku lalui.

Kehidupan yang aku lalui bersamamu begitu mendamaikan. Bukan tanpa aral dan tantangan. Ada tentu saja. Sebagaimana setiap manusia yang dicintai Tuhan akan menemui ujiannya masing-masing. Namun bersamamu, semuanya jadi indah terasa. Kau selalu mengatakan bahwa kita satu sama lain, sama sekali tidak bisa saling bergantung. Bahkan aku kepadamu sekalipun. Manusia tidak akan pernah bisa menggantungkan hidupnya pada manusia lain tanpa berujung kecewa. Kau bilang, kita hanya boleh bergantung pada Tuhan. Entah sejak kapan, aku mendapatimu lebih religius. Dan aku bersyukur akan itu. Beberapa kali kudapati dirimu mendirikan shalat sebelum tidur. Ketika kutanyai apa yang Kau lakukan, Kau bilang dirimu baru saja menyelesaikan shalat taubat. Takut kalau-kalau cintamu padaku melebihi cintamu pada-Nya.


Kau mengajarkan padaku untuk memaknai apa itu yang disebut manis, dan apa itu yang disebut pahit. Kau menguatkanku ketika aku pun sebenarnya tahu bahwa Kau butuh dikuatkan. Terimakasih untuk segala rela yang Kau tuangkan pada setiap curah waktu pemberian Tuhan. Terimakasih telah membersamaiku dengan begitu tulusnya pada tahun-tahun belakangan. Terimakasih untuk tidak pernah alpa memiliki waktu untuk sekadar berbagi cerita, bercanda, tertawa, dan membahas hari-hari kita. Terimakasih untuk tidak pernah kehabisan cara menjadikan keluarga kita bahagia dengan apa yang ada. Terimakasih telah menjadi salah satu cara Tuhan menunjukkan kebesaran-Nya padaku.

Hidupku tidak akan lama lagi. Paling tidak, itu yang dikatakan tim medis beberapa hari lalu. Untuk pertama kalinya, aku mendapatimu menjadi seorang yang begitu gusar. Kau beberapa kali kudapati berbicara dengan intonasi tinggi kepada anak-anak di rumah singgah. Kau kudapati salah memasukkan garam ke dalam toples gula, bahkan menggunakan sandal yang tidak sepasang. Aku, paling tidak sekali dalam hidupku, izinkan aku menjadi sosok yang menguatkanmu. Jika selama ini energi itu lebih banyak kau pancarkan daripada kau serap, izinkan ini menjadi bagianku. Ketahuilah, bahwa apa yang telah kita lalui selama ini menjadikan aku begitu bersyukur. Bahwa perjumpaanku dengamu sungguh-sungguh menguatkanku. Jika memang takdirnya aku yang pergi lebih dulu, bukankah Kau yang mengatakan padaku; bahwa manusia selamanya tidak akan pernah bisa bergantung pada manusia. Bahkan aku kepadamu. Bahkan Kau terhadapku. 

Pada detik-detik penghabisan ini, izinkan aku melewati hari-hari terbaik dalam kehidupanku. Ajak aku berbincang seperti biasa. Membicarakan perkembangan anak-anak, mendisusikan masa depan rumah singgah, mengomentari kebiasaan-kebiasaanmu yang kadang membuatku kesal namun menghadirkan rindu tak terkira. Ajak aku bercanda seperti biasa. Menikmati pagi di halaman belakang rumah singgah, melihatmu mendongeng di depan anak-anak, membuat kue apem tepung beras seperti biasa.

Waktu tidak akan pernah memiliki toleransi, Sayang.. Ia akan tetap melaju.

Maka pada detik-detik terakhir ini, izinkan aku bersamamu seperti biasa.
Izinkan aku meninggalkanmu dengan perasaan berharga, bahwa kita bahagia.
Izinkan aku bersyukur pada Tuhan, bahwa nyatanya kita pernah ditakdirkan bersama.



**

Saya menemukan dua penggal paragraf tersimpan sejak dua tahun lalu di salah satu dokumen laptop. Tidak ingat betul, dahulu apa yang hendak saya tuliskan dengan dua penggal paragraf tersebut. Namun mendapati pelajaran-pelajaran hidup yang saya terima dalam beberapa waktu belakangan, jadilah tulisan ini saya rampungkan. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang selalu bersyukur dan memaknai bahagia dari sisi yang membahagiakan.

Friday, December 4, 2015

Hati, Ulul Azmi, dan Prestasi

“Kalian mungkin belum jadi ibu, belum jadi ayah. Tapi pesan saya, setiap kalian bertemu dengan anak-anak, maka jadilah orang tua bagi mereka,” ujar dosen kami, Ibu Alfiasari.

**

Langit Bogor mulai kembali. Hujan menjatuhi tanahnya lagi. Dari asrama menuju kampus aku biasa melewati jalan pintas setapak yang sudah jadi jadwal rutinnya basah oleh sebab sapaan hujan. Musim hujan tiba lagi. Euforia sepatu rusak, kaos kaki basah, dan ujung rok yang bercorak tanah kembali tidak asing. Kebahagiaan melihat bayang langit dari genang air, merasakan tiap tetes menyapa ujung-ujung jemari, dan keindahan menyaksikan rutinitas serta raut manusia pada hari hujan pun kembali lagi.

Hari itu mendung. Dari sisi kanan dan kiri ruangan kami bisa melihat dengan jelas ekspresi langit yang tidak lagi terang. Ibu Alfiasari di kelas Pengembangan Karakter menyampaikan beberapa pesan di penghujung kuliah. Kalian mungkin belum jadi ibu, belum jadi ayah. Tapi pesan saya, setiap kalian bertemu dengan anak-anak, maka jadilah orang tua bagi mereka. Lebih lanjut, beliau kemudian menyampaikan tentang Healthy Standard.

Secara sederhana, Healthy Standard adalah pemahaman yang mengutamakan proses –dalam hal apapun. Bukan semata-mata hasil, seperti yang (mungkin) dilakukan kebanyakan manusia saat ini. Hubungannya dengan kita sebagai orang tua adalah bahwa dalam mendidik anak, hendaknya menanamkan pemahaman tersebut kepada mereka. Tunggu. Hei, orang tua disini bukan cuma orang tua biologis. Tapi orang tua adalah siapapun yang merasa dirinya memiliki hak  untuk dididik dan bertanggung jawab untuk mendidik. Itu tandanya, kamu dan aku juga. Kita ini ‘orang tua’.

Baik, kembali ke Healthy Standard. Ibu Alfiasari mengatakan agar kami tidak meletakkan standar pada hal ‘remeh-temeh’ seperti ranking, juara kelas, atau nilai dalam bentuk angka. Tetapkanlah standar menggunakan hati nurani. Standar tertinggi adalah standar yang menekankan pada proses. Ketika anak memiliki kejujuran, baik, bekerja keras, mau antre, kreatif, juga pantang menyerah. Nonsense jika dia juara kelas tapi hasil menyontek, atau datang tepat waktu ke kelas tapi menyelak antrean toilet.

Selesai kuliah, aku serta-merta teringat akan Ulul Azmi. Aku fikir kamu juga tahu, kan. Ulul Azmi adalah gelar kenabian istimewa yang diberikan kepada para rasul yang memiliki kedudukan khusus karena ketabahan dan kesabaran yang luar biasa dalam menyebarkan ajaran tauhid. Mereka memperoleh keistimewaan diatas keistimewaan. Ialah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad SAW, atau yang masa kecil kita biasa menyingkatnya jadi ‘NIMIM’. Hei, lantas apa hubungannya dengan Healthy Standard?

Ulul Azmi, mereka istimewa. Mereka berprestasi. Kisah-kisahnya memberikan pelajaran, motivasi, dan inspirasi. Dari kisah ulul azmi, aku fikir ada begitu banyak hikmah yang bisa diambil. Kesemuanya benar-benar memenangkan proses, memenangan perjalanan yang Allah beri. Sebut saja Nabi Nuh. Beliau berdakwah beratus-ratus tahun lamanya, dihiasi dengan kesabaran, keteguhan, keistiqomahan. Apakah beliau sukses? Kalau kita menggunakan kacamata sempit, mungkin jawabannya tidak. Bayangkan saja, sekian lamanya beliau berdakwah, tapi ‘hanya’ memiliki jamaah tidak lebih dari 100 orang. Beliau dikatakan gila oleh kaumnya sendiri, bahkan anak dan istri Nabi Nuh juga tidak memercayainya. Miris sekali. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim. Beliau adalah rasul pilihan, keyakinannya pada Allah luar biasa. Hei, tapi bahkan ayahnya sendiri yang memahat patung berhala untuk sesembahan kaum jahiliyah.

Lain Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim, lain pula Nabi Musa dan Nabi Isa. Nabi Musa suatu ketika pergi selama 40 hari untuk menerima wahyu dari Allah. Ditinggal sebentar saja, tahu-tahu kaumnya membangkang. Begitu pun Nabi Isa. Sudah beliau mengajarkan tentang tauhid, tentang keesaan Allah, lantas penyimpangan itu terlihat begitu besar. Justru dirinya lah yang dianggap Tuhan oleh kaumnya sendiri.

Namun di atas itu semua, mereka semua memenangkan proses. Berprestasi atas proses. Berbahagia atas kesabaran, atas keyakinan pada Tuhannya. Begitu pula dengan Rasulullah Muhammad SAW, penutup para nabi. Kisah hidup beliau yang begitu berliku memberikan kita pelajaran akan makna prestasi. Beliau pernah diusir dari kampung halamannya sendiri, pernah dilempari batu, pernah dilempari kotoran unta ketika sedang shalat. Bukan cuma sekali beliau hendak dibunuh. Sudah begitu, paman yang begitu disayanginya, yang melindungi dirinya untuk menyebarkan kebaikan Islam, hingga akhir hayat masih belum memeluk Islam. Apakah beliau gagal berdakwah? Tidak. Sama sekali tidak.  Kisah Nabi Muhammad ini memberikan kita pencerahan tersendiri; tidak ada pengorbanan yang Allah sia-siakan. Berbayar dengan penaklukan kota Makkah, Islam lantas mendunia.

Healthy Standard.

Jadi, sudah mulai menemukan benang merah?

**

Prestasi. Kadang-kadang kita harus benar-benar mempertanyakan definisi setiap kata dalam kamus di kepala kita. Apa standar keberhasilan dan prestasi kita? Adakah ia berupa kekayaan, penghormatan manusia, atau kedudukan? Kalau iya, maka tamparlah diri kita dengan kisah Firaun yang berakhir tenggelam di laut merah.

Maka biarlah kita memaknai prestasi lebih dalam dari sekadar urusan duniawi. Ingat saja kisah Nabi Yusuf. Dengan jalan hidup yang berliku, akhirnya beliau menjadi seorang raja. Sudah begitu, tampan pula. Tapi apa pernah, dua hal tersebut disebut-sebut menjadi prestasi? Tidak. Kisah beliau masyhur akan prestasi pengendalian hawa nafsu yang luar biasa hebat ketika menghadapi godaan Zulaikha. Beliau, Nabi Yusuf, memaknai prestasi sebagai sebuah proses. Bahwa kesuksesan yang sesungguhnya adalah ketika hati dekat dengan Allah. Maka tidak perlu mengutuk Tuhan ketika berada dalam penjara, atau pada masa kecilnya ketika ia dibuang ke dalam sumur. Kalau itu bisa menjadikan ia lebih berprestasi, kenapa tidak?

Maka sebagai orang tua, hendaklah mengajarkan standar-standar yang sehat dalam memaknai prestasi kepada anak-anak. Agar kelak, mereka tidak perlu dibuat risau dengan penilaian manusia, tidak perlu mati-matian mengejar dunia hingga lupa akhirat, tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Agar mereka menjadi manusia-manusia bijak yang mengerti bahwa apresiasi hadir ketika kita berusaha, bahwa prestasi nyata ketika kita semakin dekat dengan-Nya.

Pemahaman prestasi semacam ini akan menghadirkan kekuatan luar biasa. Takkan ada caci yang membuat dengki, pun tak ada puji yang menjadikan tinggi hati. Bayangkan betapa dahsyatnya anak-anak yang dididik dengan pemahaman ini. Korupsi, kriminalitas, narkoba, pergaulan bebas –itu semua takkan memiliki tombol komando dalam kepala mereka. Kebohongan, pencitraan, kebanggaan semu, tidak ada pentingya bagi mereka.

Namun sebelum mendidik anak-anak, kita perlu jadi terdidik. Maka kepada kita, selamat mendidik diri sendiri agar memahami makna prestasi dengan sebaik-baik pemahaman. Selamat memaknai prestasi dari kacamata Ulul Azmi. Semoga dipermudah oleh Yang Maha Memiliki Hati.

Dan selamat bersiap. Karena kita sama-sama tahu, bahwa setiap pemahaman akan selalu diuji.

Aku mendoakanmu. Semoga kamu juga begitu. :)

Ditulis di Bogor ketika hari hujan,
pada saat dimana langit menjumpai bumi.

Sunday, November 29, 2015

Titipan

Kamu tahu? kadang-kadang aku berfikir. Kenapa juga aku harus terlahir sebagai manusia? kenapa tidak dijadikan saja aku domba atau sapi, biar umurku habis untuk berqurban saja sekalian. Atau biar saja dijadikan aku seonggok kayu yang bersembunyi di dalam hutan. Menjadi bahan baku pinsil atau apapun, tak masalah. Bisa juga menjadi daun. Biar remuk jatuh berkeping tapi tidak akan banyak yang peduli, termasuk diriku sendiri.

Diam-diam hal semacam itu kadang menghampiri. Apalagi kalau tengah teringat bertapa repotnya jadi manusia. Disibukkan dengan mengurusi qalbu agar salim. Duh, bahkan ketika berfikir hal demikian pun, aku juga menyangsikan ke-salim-an qalbuku sendiri. Berputar-putar pada lini itu, rasanya aku ingin angkat tangan dan menyerah seutuhnya. 

Ya, menyerahkan seutuhnya.

Hei, benar sekali. Mengapa tidak menyerahkan seutuhnya saja?

Gampang, kan?


Karena setiap qalbu ada yang memiliki,
kita ini cuma dititipi.

Dan kepada titipan, bagian kita adalah mengikhtiarkan.
Lini kita adalah berupaya dengan doa, usaha, dan kesungguhan.
Lantas selebihnya- mari kita serahkan saja kepada Tuhan.

Sederhana, bukan?

Tuesday, November 3, 2015

Manusia Bodoh



Sebodoh-bodohnya manusia adalah ia yang tidak menyadari bahwa dirinya dicintai. Seperti kamu. Kok bisa sih, kamu tidak sadar-sadar juga? Aneh sekali. Padahal energi cinta yang dikirimkan kepadamu sudah begitu besar. Padahal, pengekspresian cinta itu sudah begitu konkret. Jelas lagi nyata. Lalu kamu masih juga asyik sendiri. Jangankan menoleh, sadar saja -sepertinya kamu masih jauh dari kata itu.

Maaf kalau aku bilang, bahwa kamu tengah mengalami kondisi terbodoh sebagai manusia. Ya, kamu bodoh. Dalam artian sesungguhnya. Bagaimana bisa kamu masih bertanya-tanya, menyangsikan, bahkan tidak yakin? Padahal, ketulusan itu telah lama mengirimimu kekuatan dahsyat. Padahal cinta itu sudah terang sekali terlihat. Orang-orang di sekitarmu saja tahu. Bagaimana bisa kamu justru tidak mengetahuinya?

Atau mungkin kamu pura-pura tidak tahu. Jangan-jangan malah tidak mau tahu? Miris sekali.

Ya tidak apa-apa, sih. Toh yang mencintaimu sama sekali tidak keberatan. Beruntung, kamu dicintai secara tulus. Jadi kebaikan itu tetap tercurah padamu meski kamu sungguh acuh tak acuh. Hanya saja, biar aku kabarkan ya, sebenarnya kamu yang sedang kerugian. Rugi sekali menyia-nyiakan curahan cinta yang tumpah kepadamu. Apalagi yang setulus dan seindah itu. Sebelum kamu menangis-nangis dan menyesal nantinya, lebih baik segera menoleh. Segeralah sadar.

Ada yang menunggumu. Yang tidak pernah pergi meski sering kamu acuhkan. Yang akan selalu menerimamu apa adanya dengan lapang, dan tidak mengharapkan balasan apa-apa. Yang tidak peduli latar belakangmu apa, statusmu, penampilanmu, jabatanmu, profesimu, namamu bahkan. Tidak peduli. Lalu kamu masih juga mengejar yang lain? Aduh, kamu sungguh-sungguh bodoh kuadrat. Sekali lagi aku ingatkan ya, lekaslah sadar. Jangan mau jadi manusia bodoh seutuhnya.

Karena kamu beruntung sekali, dicintai secara tulus dan seindah itu- oleh Rabb-mu.

Friday, May 29, 2015

Aku Dengar (Tentangmu)

Kamu  tahu?
Hari ini hari Jum’at.

Kita memang jarang benar-benar berbincang. Aku tahu itu. Entah karena kesibukan kita masing-masing, atau karena keadaan kita yang memang tidak terbiasa untuk saling berbincang satu sama lain. Entah karena kita memang belum lama kenal, atau karena kita adalah teman lama yang kadang-kadang jadi sepert tak saling kenal –dan mungkin saja hanya sebatas tahu nama. Atau bisa jadi karena kita memang tidak cocok untuk saling berbicara. Tapi tak apa. Aku tahu, menulis seperti ini selalu mampu menjangkaumu lebih dalam. Meski mungkin aku tidak tahu, dan kau pun begitu.

Jadi mari kita berbincang. Kau bisa dengan tenang mengambil sepotong biskuit atau mulai membuat secangkir teh untuk memulai perbincangan satu arah kita. Hari ini giliranku. Jadi kutunggu milikmu sewaktu-waktu.

Aku dengar, akhir-akhir ini ada begitu banyak hal yang hadir dalam hidupmu, ya? Katanya, kamu tengah berada dalam sebuah fase pertengahan. Terombang-ambing, tidak jelas. Katanya, kamu tengah berada di bawah suatu tekanan. Sedang jenuh dengan semua rutinitas yang menuntut. Katanya lagi, hati kecilmu berontak ingin sekali menikmati hidup seperti dulu. Seperti kanak-kanak. Seperti masa sekolah menengah dahulu. Waktu kamu merasa bebas punya mimpi yang melangit. Tidak banyak realita yang kau fikirkan. Tidak banyak pertimbangan yang membuat kepalamu seakan ingin kau hantamkan ke tembok berkali-kali. Benarkah?

Tapi kudengar, kau juga tahu bahwa semua itu sebenarnya tidak terlalu penting. Bahwa sebenarnya hal semacam itu hanyalah jebakan fikiran dalam kepala kita. Seperti dinding yang kita bangun sendiri. Hingga tahu-tahu tanpa sadar justru membatasi ruang gerak kita.

Ah, aku mengerti. Pada akhirnya membicarakan teori dan motivasi tidak semudah mempraktikannya. Ya kan? Padahal nurani kita tahu akan hal itu, tapi seringkali kolaborasi antara harapan, keinginan, serta realita-lah yang menjadikannya rumit dan berbelit-belit.

Hei, aku juga mendengar kabar tentang hatimu. Yang belakangan sering sekali kau sangsikan keikhlasan dan ketulusannya. Membuatmu tak habis fikir bagaimana bisa ia sedemikian angkuhnya. Entah apakah itu perasaan ingin didengar, ingin orang lain tahu, ingin dihormati, ingin terkenal, ingin dianggap keren, ingin terlihat perhatian, ingin dinilai menjaga lisan, ingin dikenal sebagai orang yang suka beramal, ingin menghabiskan target bacaan karena pandangan orang-orang, hingga ingin-ingin yang lain. Kesemua ingin itu menelisik dalam nuranimu dengan cara yang lembut sekali. Bahkan seringkali tidak terdeteksi. Menyebalkan. Karena kau jadi terpaksa membenci diri sendiri. Bagaimana bisa hatimu sedemikian angkuhnya? Benarkah?

Tapi kudengar, kamu juga tahu tentang manjajemen hati. Tentang kita sebagai manusia yang memang demikian adanya, tempat salah dan lupa. Bukan untuk dijadikan sebuah pemakluman, melainkan menjadi motivasi agar tidak putus asa meraih cinta-Nya. Aku tahu kamu tahu.

Apa? Tentang cinta? Oh iya, aku juga dengar, kabarnya kamu tengah berhadapan dengan hal ini pula. Perasaan yang banyak mereka bilang itu namanya cinta. Cinta dalam arti dan pemaknaan yang sempit sekali. Kamu tidak perlu heran, apalagi merasa jadi manusia yang begitu hina. Karena perasaan semacam itu adalah sebuah kewajaran bagi manusia. Tidak perlu jadi rumit, terima saja apa adanya. Jadikan dirimu menjadi orang yang pandai mengelola dan mengatur urusan perasaan, termasuk untuk yang satu ini. Untuk saat ini, hal semacam itu sebenarnya adalah urusan kita dengan Pencipta, bukan dengan manusia. Jadi tindaklanjuti saja dengan Dia, bukan dengan 'dia'.

Ya, Aku memang tidak berada di posisimu. Tapi setidaknya aku pernah tahu bagaimana mengurusi hal semacam itu dan mengimplementasikan pemahaman yang kuyakini pada kehidupan nyata. Siapa bilang ini urusan gampang? Memang susah -jika kita tidak menyertakan-Nya. Jadi, seperti yang kita sama-sama tahu, libatkan Dia dalam setiap kesempatan. Termasuk dalam urusan yang satu ini. Tidak ada yang lebih apik mengurusi hati kecuali Sang Pencipta Hati itu sendiri, kan?

Hei ternyata sudah ratusan kata aku tuliskan dalam diskusi kita secara sepihak. Semoga kamu tidak berhenti membaca sampai dsini.

Jadi bagaimana kabarmu? Adakah baik-baik saja?

Sebenarnya banyak hal tentangmu yang juga aku dengar. Tentang kabarmu yang katanya merasa tidak penting, merasa tidak ada yang benar-benar peduli dan menanyakan kabarmu dengan tulus. Juga fisikmu yang belakangan dirasa melemah, entah apakah itu efek perasaan, atau memang nyata adanya. Kamu juga tengah berhadapan dengan urusan menyenangkan yang biasa kita sebut dengan urusan akademik. Kewajiban menuntut ilmu yang tahu-tahu memberikan tekanan tersendiri. Mungkin ada baiknya kita mulai berfikir ulang tentang untuk apa kita duduk di bangku kelas dan mendengarkan penjelasan guru di depan. Adakah untuk ilmu yang bermanfaat? Atau hanya sekadar angka yang (katanya) bermanfaat?

Dan begitu banyak kabar lainnya.

Tapi aku hanya ingin kau tahu. Apakah ini nasihat atau bukan, terserah padamu. Ketika permasalahan yang kita hadapi berkutat melulu tentang perasaan- perasaan tak dianggap, perasaan kurang berguna, peraaan belum belajar, perasaan nggak enakan, perasaan kalau agenda yang hadir itu-itu saja, perasaan saya kerjanya ngomong doang, perasaan sendiri, perasaan nggak ada yang peduli, perasaan ditinggal, perasaan yang lain berkembang tapi saya stagnan, perasaan nggak produktif, dan seribujuta perasaan yang lain, ketahuilah ini hanya soal prasangka kita. Bagaiama fikiran dan keyakinan kitalah yang menjadikan perasaan-perasaan itu semakin kuat dan menjelma nyata.

Aku tahu kamu pun tahu, bahwa Pencipta kita beserta prasangka hambaNya. Keyakinan kita bekerja. Ketika kita berprasangka baik, akan baik jadinya. Begitu juga sebaliknya. Ini adalah konsep sederhana yang membutuhkan pemahaman tingkat tinggi dan usaha sungguh-sungguh dalam mengaplikasikannya pada dunia nyata. Tapi tidak sulit, jika saja kita mau belajar dan 'mengosongkan gelas'. Membuka fikiran kita, memandang segala sesuatu dari berbagai sudut.

Kamu boleh saja menggeledah semua tulisanku disini, pada blog ini. Kamu boleh juga menganggap aku orang macam apapun. Kamu boleh saja bilang aku aneh seperti kebiasaanmu sejak dulu, atau bilang aku pendiam, cerewet, banyak bicara, pelit kata, atau apapun. Tidak masalah. Tapi aku mau minta maaf. Seperti yang sudah pernah aku katakan, aku bukan mereka yang bisa dengan mudah mengirimu kalimat-kalimat mutiara yang penuh dengan rentetan kata ukhuwah dan persaudaraan atau semacamnya. Meski mungkin ada banyak kau temui disini; pada tulisan yang tidak kuungkap secara eksplisit. Terkadang aku begitu, jadi salting dan tidak tahu mau berkata apa ketika berhadapan dengan orang-orang tertentu -yang kuanggap berarti lebih.

Terakhir, kuharap kita tidak jadi saling egois dengan menganggap diri tidak penting dan menganggap urusan ini hanya urusan kita masing-masing. Siapapun kamu, yakin saja bahwa di atas bumi ini, pada tanah cinta ini, akan selalu ada orang yang diam-diam mendoakan kebaikan untukmu. Apakah itu orangtuamu, saudaramu, sahabatmu, atau mungkin saja orang yang kau bantu ketika berpapasan di jalan. Atau bisa jadi tetangga yang kemarin kau lemparkan senyum tulus padanya. Kuharap kita tidak begitu sok tahu dengan secara sepihak menganggap ini urusan kita masing-masing. Karena siapapun kita, akan selalu ada orang yang peduli meski tidak bicara apapun. Meski tidak mengungkapkan apapun.

Aku ingin menulis banyak, agar perbincangan kita berlangsung lebih lama. Tapi mungkin kini giliranmu angkat pena; angkat bicara. 

Silahkan. Berikutnya adalah bagianmu.


Oh iya, sekadar mengingatkan. Hari ini hari Jum’at.
Hari raya mingguan kita yang kabarnya istimewa sekali.
Titip namaku dalam doamu, ya. Kalau berkenan. :)

Saturday, January 3, 2015

Hujan

Salah satu bagian meyenangkan dari minggu UAS adalah, kita memiliki banyak waktu luang. Kamu setuju? Yah, menurutku begitu. Setidaknya waktu luang berada di luar kelas kuliah. Kita bisa lebih berlama-lama menikmati udara luar di kota yang katanya sudah mulai dipertanyakan eksistensi titel hujannya. Tapi beruntung, karena minggu UAS terjadwal antara akhir dan awal tahun. Saatnya musim penghujan ambil peran. Setidaknya, saat-saat seperti ini membuatku lupa bahwa kota hujan kita punya panas terik jika siang menjelang, (dan disusul rintik air sore menjelang petang) pada hari-hari biasa. Membuat tangan-tangan kreatif membuat poster semacam ini.


Setidaknya itu lebih baik daripada julukan kota sejuta angkot. Lagi, menuruku begitu.

Kenapa Bogor kita dibilang kota hujan? Seperti yang bisa kamu tebak, karena curah hujannya tinggi. Bahkan konon katanya, sekian tahun silam, ketika dosen-dosen kita sekarang masih duduk di bangku mahasiswa, suhu Bogor sebelas-duabelas suhunya dengan musim dingin di Eropa. Entah apakah statement itu hiperbola, setidaknya itu memberi gambaran betapa langit kita sudah berubah banyak sekali. Langit kita? iya. Langitku langitmu juga, kan?

Seperti yang kamu (mungkin) tahu, aku suka sekali dengan hujan. Tapi tentu bukan itu yang menjadi alasan kenapa aku memilih untuk melanjutkan studi di Bogor. Lagipula, jujur saja, aku baru ngeh kalau kota ini dikenal sebagai kota hujan justru ketika sudah jadi bagian darinya -sebagai penduduknya. Jadi bagiku, ini semacam bonus. Juga, membuatku sungguhan merasa tidak nyasar pergi ke tempat ini. 

Bukan apa-apa, aku jadi ingat ketika suatu waktu kamu menanyakan hal itu kepadaku: kenapa suka sekali dengan hujan? waktu itu aku hanya tersenyum memamerkan gigi. Itu termasuk dalam daftar pertanyaan yang sulit untuk dijelaskan jawabannya. Aku juga tidak mengerti, Kurasa bukan cuma aku yang kesulitan menemukan alasan jelas pada setiap rasa abstrak semacam itu. 

Yang kutahu, hujan itu menakjubkan. Jadi maafkan aku untuk tidak menemukan jawaban yang ekplisit dan bisa dijelaskan.


Eh kenapa kamu tanya tentang itu? atau jangan-jangan kamu juga suka hujan? Aku jadi curiga. 

Hujan adalah rahmat Allah. Rahmat yang dekat sekali keberadaannya dengan kita. Bahkan kita bisa dengan mudah merasakan partikel-partikelnya menyapa jemari. Menyapa telapak tangan. Menyapa pelipis kita. Kamu pernah mencoba? sesekali tengadahkan wajah ketika hujan. Lalu, rasakan ia menyapamu lembut lewat rintiknya. Entah, mungkin bagi sebagian orang, ini berlebihan. Tapi setiap hujan, aku merasa tengah diberi hadiah indah dari-Nya. Semacam hiburan, begitulah.


Dan aku tahu, Aku tidak sendiri. Banyak yang juga merasakan hal semacam itu. Mungkin juga kamu salah satunya. Bahkan baru saja kemarin, ada salah seorang kawan kita yang mengatakannya padaku, tentang hujan yang baginya hiburan itu. Yah, bagaimana tidak. Bahkan waktu turunnya pun dikabarkan sebagai waktu mustajab untuk memanjatkan harap. Do'a ketika hujan itu, istimewa sekali, bukan?


Hei, aku jadi ingat masa-masa ujian kita. Masa-masa UAS yang bertepatan dengan musim penghujan ini. Setidaknya di kota Bogor, demikian adanya. Lalu tentang resolusi-resolusi kita yang boleh jadi masih tertunda, dan telah bertambah pula daftarnya. Ayo kita panjatkan do'a. --Aku baru saja melakukannya. Barusan ada jeda beberapa menit untuk itu. Takut terlupa. Bagaimana kalau kamu juga? memanjatkan do'a sekarang. Ya, sekarang. Beri jeda paling tidak beberapa menit saja dulu, sebelum kembali melanjutkan membaca. Panjatkan tanganmu di udara. Tarik nafas dalam pelan. Kamu boleh sertakan namaku -jika kamu berkenan. Baiklah, silahkan memulai do'amu.

Kenapa buru-buru? kita tidak pernah rugi untuk memanjatkan do'a, bukan? ayo resapi lagi. Bersama-sama. Hentikan sejenak di bagian ini.

Sudah? 
Tadi aku merasakan atmosfer luar biasa. Kuharap kamu juga demikian. 

Baiklah, kembali tentang hujan. Sebagian orang mengaku suka hujan karena aromanya yang khas. Kamu tahu, kalau aroma menyenangkan itu biasa disebut sebagai petrichor



Mungkin saja kamu belum tahu. Aku pun baru tahu tentang ini sekitar satu atau dua tahun lalu. Waktu itu adikku menunjukkan buku pengetahuan umum bergambar tentang macam-macam fenomena hujan. Dan bahasan tentang petrichor ini jadi salah satu di antaranya. Petrichor, sebutan bagi aroma khas di kala hujan. Biasanya semakin kita sadari kehadirannya, manakala hujan turun di tanah yang kering. Khas sekali. Terutama di waktu-waktu awal turun hujan. Atau, kadang ia meninggalkan jejak usai hujan selesai membasahi tanah.

Hujan-hujanan. Kamu pernah? aku sering. Salah satu hal paling menyenangkan adalah ketika kita mendapatkan kesempatan untuk hujan-hujanan bersama dengan orang yang spesial dalam hidup kita. Pernah? beruntung, aku pernah mengalaminya. Bersama ibuku, pernah. Ketika kami hendak pergi membeli sayuran di warung yang sebenarnya tidak begitu jauh dari rumah. Lalu hujan turun deras. Kami tidak berteduh. Serta-merta melanjutkan perjalanan. Bersama ayahku, juga pernah. Sering malah. Setiap pagi ketika musim penghujan, saat beliau mengantarku berangkat sekolah. Atau ketika beliau menjemputku pulang dan kami (ke)hujan-hujanan bersama. Meski ditutup jas hujan, diam-diam aku tidak mengenakannya. Membiarkan kerudung sekolahku basah diguyur air hujan. Bersama abang, kakak, adik, dan teman-temanku pun, aku bersyukur pernah mengalami, dan (bahkan) melakukannya hingga saat ini, Kamu bagaimana?


Tapi, kadang, menikmati hujan 'sendirian' (kuberi tanda petik, karena sejatinya kita tidak pernah sendirian) juga tidak kalah asyik. Kita bisa menikmati hujan dari balik jendela kamar kita, bisa dengan bermain langsung di bawahnya (dan ini cara yang sungguh menyenangkan), atau bisa juga sambil makan es krim di tepi jalan. Atau wedang jahe. Atau cokelat panas. 

Dan cara yang paling indah, adalah menikmati hujan dalam munajat cinta kita sembari sujud. Percayalah, ini keren sekali. Aku pernah melakukannya bersama beberapa kawan, di tengah tinggi pepohonan. Di alam terbuka. Ketika hujan dengan lembut membasuh bumi kita.


Aku rasa kamu perlu mencobanya sewaktu-waktu. Atau mungkin kamu sudah pernah, bahkan sering melakukannya?

Kalau begitu, kapan-kapan kalau kamu berkenan, kabarkan padaku tentang kisahmu. Aku akan sangat senang mendengarnya. 

Oh iya, satu lagi. Kamu tahu, kalau Rasulullah, sosok yang kita teramat kagumi itu, juga menikmati akan rintik-rintik hujan? beliau membiarkan hujan menyapa bagian tubuhnya ketika awal-awal rintik itu turun ke bumi.

قَالَ أَنَسٌ: أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَطَرٌ، قَالَ: فَحَسَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ، حَتَّى أَصَابَهُ مِنَ الْمَطَرِ، فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا؟ قال


Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “hujan turun membasahi kami (para Sahabat) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, maka Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam membuka bajunya, sehingga hujan mengguyur beliau, maka kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah untuk apa engkau berbuat seperti ini?’ Beliau menjawab,

لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى

“Karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah ta’āla ciptakan.” (HR. Muslim no. 898).


Jadi kalau kamu menemui dia yang masih suka mengeluhkan perihal hujan, kabarkanlah berita membahagiakan ini, Bukankah bersyukur bersama-sama itu indah sekali? ah, aku tahu, kamu pasti setuju denganku, kan?

Yah, salah satu bagian menyenangkan dari minggu UAS adalah ini. Aku bisa berbincang dengan kamu, tentang hujan. Terimakasih sudah meluangkan waktu. Sukses ujianmu. Sukses kehidupanmu. Semoga penuh berkah. Titip salam untuk hujan milikmu -dari kota hujan kita. Semoga kita tidak lupa untuk saling mendoakan.