Showing posts with label 32. Show all posts
Showing posts with label 32. Show all posts

Friday, May 1, 2015

Inspirasi

Cara termudah mendapatkan inspirasi adalah dengan memerhatikan sekeliling kita. Memerhatikan orang-orang terdekat kita. Mengambil hikmah atas kehadiran mereka. Ustadz Salim A. Fillah pernah memberikan nasihat pada kita untuk berfokus pada kebaikan-kebaikan. Ketika kita fokus pada kebaikan seseorang, maka kebaikannya pula lah yang akan menyeruak. Begitu pun sebaliknya, ketika kita fokus pada keburukan, maka tentu keburukan pula lah yang sering kita jumpai.

Sampai pada bagian ini, saya bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi. Orang-orang yang mengajarkan pada saya tentang keyakinan, kekuatan tekad, dan bagaimana menerjemahkan diskusi menjadi aksi. Bagaimana menerjemahkan rencana menjadi nyata.

Salah lima-nya adalah mereka ini, teman-teman saya sejak duduk di bangku madrasah tsanawiyah (bahkan dua diantaranya teman sejak madrasah ibtidaiyah). Yang pada karantinanya MTsN 32 Jakarta tahun ini, saya dengan beruntung dapat menyampaikan kisah mereka di hadapan adik-adik kami. Kelimanya merupakan perwakilan dari jenjang pendidikan SLTA yang berbeda. Mulai dari SMA, SMK, MAN, hingga Pesantren.












Dan mereka 'hanya' lima dari keseluruhan inspirator yang saya kenal. Kemudian yang tertulis diatas hanyalah penggalan-penggalan yang kalau digali lagi, saya yakin akan ada begitu banyak hikmah di dalamnya. Sesungguhnya yang menginspirasi bukan semata prestasi, melainkan proses yang dijalani. Sampai detik ini pun saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan begitu banyak orang yang memberikan banyak pelajaran bagi kehidupan saya. Mulai dari keluarga, guru, teman, hingga orang yang mungkin saya tidak pernah berinteraksi langsung dengannya. 

Sampai setelah acara tersebut selesai, sore harinya saya berjumpa dengan salah satu teman saya yang lain -yang juga penuh inspirasi. orang yang satu ini selalu tersenyum dalam setiap kesempatan-. Kemudian ia melihat slide presentasi yang baru saja saya dan dua teman lainnya gunakan untuk menyampaikan pesan ke adik-adik. Lantas ia bertanya, "Lah Riris kok nggak adaa?" saya jawab sambil memamerkan gigi; "Riris kan yang presentasi, hhe" :D

Jika setiap orang itu menginspirasi, maka mereka menginspirasi dengan caranya sendiri.
Dan bercerita tentang kalian adalah cara yang aku sukai. :)

Alih-alih mau motivasiin adik-adiknya, sendirinya jadi ikut termotivasi. Bener ya, prinsip membagi ilmu hakikatnya adalah menambah ilmu (plus investasi). Mungkin nggak banyak yang tahu juga, tapi berbagi di depan adik-adik MTs adalah salah satu dari sekian daftar mimpi yang ada dalam catatan di jurnal saya. Terimakasih MTsN 32 Jakarta, sudah memberikan kesempatan bagi kami untuk turut memberi sumbangsih. Terimakasih sudah dibuatkan surat izin juga (padahal beberapa tahun sebelumnya surat izin untuk ikut karantina juga ditolak sama Madrasah Aliyah saya). Alhamdulillah, semoga dua mata kuliah yang tidak saya ikuti itu akan jadi baik-baik saja. (Sekalian mohon doanya yaa :D).Semoga tahun depan bisa ikutan lagi, membawa lebih banyak inspirasi. InsyaAllah.

Terakhir, terimakasih untuk teman-teman formatur. Kemewahan itu bernama inisiatf. Mungkin saja nama kita tidak tercatat oleh manusia, tapi ingat bahwa malaikat tidak akan pernah salah catat. Sebaik-baik catatan adalah catatan kebaikan yang ditulis malaikat, bukan? :) semoga dijaga niat-niat kita dalam setiap kesempatan. Semoga niat karena Allah selalu berada pada tempatnya. Allahumma aamiin.

Jazakumullahu khairan katsiiran.

***

Memperjuangkan mimpi itu, seperti main layang-layang.
Mengudara di langit, menjejak di atas bumi.
Ditantang udara, diterjang angin.
Nggak ada kan, main layang-layang di tempat yang udaranya nggak gerak? :D
Anggap aja lagi main layang-layang.
:)
Semangat menginspirasi
Semangat menebar kebermanfaatan seluas-luasnya
di jalan-Nya, untuk-Nya.
Hingga nanti kita sampai pada-Nya.


***

Belajar itu ibadah,
Prestasi itu dakwah.

***

We are cool in our own way
Riz

Masa Lalu (Kita)

Setelah sekian lama mencari-cari video ini di youtube, justru menemukannya ketika tidak sedang mencarinya. Pertama kali saya menyaksikan video ini adalah ketika duduk di bangku kelas XI di MAN Insan Cendekia Serpong, mata pelajaran Biologi. Saat itu kami berada di ruang laboratorium. Banyak dari kami yang menangis. Terlebih mengingat euforia kami yang notabene anak rantauan. Sayang, saat itu saya tida membawa flash drive dan semacamnya untuk mengkopi data.


Kembali saya menyaksikan video ini, ketika berada di kelas mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Lagi, tidak sedikit dari kami yang meneteskan airmata mengingat ibunda masing-masing. Saya kembali mencari-cari di internet dengan berbagai kata kunci, namun tidak juga menemukannya.


Hingga beberapa hari lalu, tanpa ada unsur kesengajaan, saya menemukan video ini ketika sedang mencari video motivasi untuk mengisi karantina di MTsN 32 Jakarta. Namun sayang, tidak sempat ditayangkan karena keterbatasan waktu yang ada. Jadi izinkan saya berbagi disini. :)

Sebuah gambaran sederhana tentang masa lalu kita semua.



Lima April 2015

Dua bulan terakhir, lapak ini sepertinya benar-benar terbengkalai. Penghuninya kabur-kaburan, Jadi mari kita ramaikan kembali, ya. :)

Di bulan April 2015, saya mendapat kejutan dari salah satu sahabat saya.. Bagaimana tidak kejutan, ketika tahu-tahu ia memberikan kabar akan segera menikah bulan itu juga. Beberapa waktu sebelumnya, memang, kawan yang biasa saya sapa 'Nyem' ini mengatakan ingin bertemu langsung untuk menyampaikan cerita yang kabarnya sangat penting dan tidak akan membuat saya menyesal untuk mengetahuinya. Namun sayang, kami tidak juga bertemu. Sekalinya bertemu pun, kami dalam kondisi rapat yang notabene banyak orang, dan waktunya terlalu singkat untuk memberi kabar seajaib itu. (Saya katakan ajaib, karena berita semacam itu tentu akan menjadi sejarah dalam hubungan -persahabatan- kami selama belasan tahun ini).

Hingga saya tahu dari grup alumni salah satu almamater kami. (Ya, dia tidak mengabari saya secara khusus. Temen macem apa kamu, Nyem) Hha, tapi saya tidak masalah. Bahkan saat itu saya tidak terlalu kaget. Entah bagaimana, ketika ia mengabari akan bercerita tentang suatu hal yang penting dan harus bertemu, yang terlintas dalam kepala saya adalah hal tersebut. Jangan-jangan anak ini mau nikah. Karena selama pertemanan kami belasan tahun ini, ia bukan sosok orang yang 'mengharuskan ketemu' untuk sekadar bercerita. Saya fikir butuh alasan yang kuat sampai ia bersikap demikian. Dan menikah adalah salah satu daftar yang bisa dimaklumi menjadi alasan penting. Meskipun tidak terlalu kaget, tapi saya tidak bisa berbohong bahwa toh airmata saya ternyata menetes juga. Padahal saat itu saya tengah duduk di ruang perpusatakaan kampus. Berhadapan dengan kawan kuliah saya yang lantas bertanya, "kenapa Riris?"

Keesokan hari setelah mendapat kabar dari sahabat saya perihal pernikahannya yang akan segera berlangsung, dari Bogor saya langsung menuju Jakarta usai sembahyang shubuh. Ia mengajak saya untuk ikut serta dalam pertemuan yang katanya 'konferensi pers'. Seperti yang bisa ditebak, akhirnya ia bercerita. Tentang bagaimana awalnya, hingga keputusan besar tersebut ia ambil. Kami -yang hari itu berkumpul- tidak tahu-menahu siapa, orang macam apa, yang akan mendampingi salah satu sahabat terbaik kami itu. Hanya sebatas nama, asal, dan usia. 


Hingga undangan digital tersebut kami sebarkan bersama-sama.

Fokus alumni MTsN 32 angkatan 1 yang tadinya berorientasi pada kegiatan persiapan untuk karantina adik-adik kelas 9 pun secara total teralihkan. Orientasi kami bergeser ke pernikahan teman baik kami ini.


Selama masa setelah kelulusan, saya fikir momen tersebut adalah momen paling hebat. Dalam waktu yang singkat, kami dapat terhubung dengan cepat. Bahkan beberapa orang yang sebelumnya saya tidak pernah hubungi, (bahkan waktu sekolah bareng dulu nggak pernah ngobrol) jadi ngobrol. Menyambunng tali silaturrahim sekali.

Dua hari sebelum sahabat saya melangsungkan akad pernikahannya, saya mengirimkan kalimat tidak sopan (karena kapital semua) macam ini: I LOVE YOU MORE THAN YOU KNOW! Sebelum ada orang lain yang nyatain cinta ke kamu. :')

Hingga hari-H tiba, kami berkumpul di rumah bahagia. Acara yang sederhana dan menurut saya sangat terasa -barakah. :) Hari itu saya turut menyaksikan akad nikah. Melihat sahabat saya sendiri yang duduk bersebrangan dengan saya, sambil sesekali tampangnya kelihatan salah tingkah. Belakangan dia bilang, "abis kan banyak yang merhatiin aku gitu, jadi nggak enak, hhe" 

Sahabat saya ini hanya beberapa kali tatap muka dengan calon suaminya hingga mereka resmi menjadi suami-isri. Bahkan ketika saya turut membantu bikin undangan digital untuk alumni, saya tanya siapa nama panggilan (calon) suaminya, ia menjawab "Nggak tau ya, aku nggak pernah manggil dia. Belum." Lalu kami tanya bagaimana bisa begitu yakin, ia menjawab dengan tenang "ya hasil istikharahnya yakin aja. Kan menikah itu ibadah. Nanti Allah sendiri yang akan menganugerahkan sakinah, mawaddah, warahmah." Diam-diam saya bersyukur punya teman baik sepertinya.

Semoga bahtera kalian berlayar dengan indah di samudra-Nya, dalam naungan cinta-Nya. :) 





Lalu ada hikmah besar yang saya ambil dari momen bersejarah ini:

"Bahwa pada akhirnya, yang membersamai kita bukanlah dia yang datang lebih cepat atau lebih lambat. Melainkan dia yang datang dengan cara dan dalam waktu yang tepat." 

Saturday, August 2, 2014

HalteKehidupan #32

Jadi, ini adalah edisi HalteKehidupan. Saya awali dengan 32, karena beberapa minggu lalu, seorang kawan dari Insan Cendekia berkunjung ke 32, kemudian kami berfoto di sekolah masa tsanawiyah saya ini. Sejujurnya, itu adalah momen pertama saya berfoto dengan logo 32 di tengah-tepi lapangan kami. :)

**

"Hidup adalah pilihan.
Jadilah manusia yang berkarakter dalam setiap pilihannya."

-Pak Nurul Huda-

**

MTsN 32 yang awalnya merupakan MTsN 13 gedung II, adalah tempat saya mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Sekolah ini adalah tempat pertama saya berorganisasi secara utuh, meski jujur, masih jauh dari organisasi yang terorganisirasi. :) Tapi jelas memberikan saya pemahaman bahwa hidup ternyata tidak semulus jalan tol :D. Ada begitu banyak karakter yang dijumpai, dan itu benar-benar belum seberapa. Setidaknya melalui organisasi formal, saya mulai terdidik untuk mengurusi diri sendiri sebelum mengurusi orang lain. Sebagai sosok yang sangat menikmati peran behind the scene, saya dituntut untuk sedikit  demi sedikit muncul ke permukaan, berhadapan dengan banyak orang. Masih ingat sekali, pertama kali saya berorasi (kalau itu layak disebut orasi, karena faktanya hanya omongan ringan di bawah atap mushola kami) hanya ada satu orang kakak kelas yang secara terang-terangan mengapresiasi. Beliau bertepuk tangan kecil di tengah-tengah hadirin. Kak, mungkin sewaktu-waktu kau akan mendapatiku mengetuk pintu rumahmu lantas mengucapkan terimakasih. :D

Tempat ini juga menjadi saksi 'kebandelan' saya. Mulai dari keluar kelas dengan alasan mengadakan rapat (poin cemerlangnya adalah, ketua OSIS kami adalah teman sebangku saya selama tiga tahun, dan saya adalah wakilnya, :D) saya dan Titin (nama si ketua OSIS) berhadap-hadapan, saling pandang di tengah kejenuhan belajar Matematika, kemudian "rapat yuk, gimana kalo kita rapat aja, ngurusin blablabla..." dan tidak lama, kami mengudara melalui pengeras suara sekolah; minta pengurus OSIS segera ke mushola buat rapat. Saya juga senang manjat pohon ceri di halaman belakang sekolah. Sampai pernah diteriakin sama mantan tukang cimol (sekarang jualan jus) supaya turun "cewek kok manjat pohon Riiis! turun!", Juga yang sangat favorit, hujan-hujanan dalam setiap kesempatan yang memungkinkan (bahkan saya tidak segan-segan membawa pakaian ganti dengan niat main hujan-hujanan di sekolah. Kalau dirumah kan nanti ketahuan. Begitu fikir saya. Hhe). Waktu kelas delapan, saya jadi pelopor main kartu UNO bareng kawan sekelas sampai kami dihukum bersihin WC satu sekolah sama pak kepsek (Bapak Nurul Huda, semoga selalu dalam lindungan Allah :) ), telat setiap hari Sabtu untuk ikut Pedalaman Materi yang diisi kakak alumni, sampai urusan tugas karya tulis Bahasa Indonesia yang bahkan sampai sekarang tidak diselesaikan meski katanya itu syarat kelulusan. (Ini jelas bukan contoh yang baik, Bukan untuk ditiru. Jangan coba-coba ditiru.)

Tapi di atas itu semua, disini saya belajar untuk memahami orang lain, belajar untuk meningkatkan kepekaan saya yang (mungkin) terbilang keterlaluan. Selain itu, saya juga belajar tentang bagaimana sosok seorang ibu yang selalu merindukan anaknya pulang. Bahwa ternyata, wujud kasih sayang manusia tidak sederhana, meski kebersamaan yang membangunnya begitu-teramat-sangat sederhana. Allah juga memberikan saya kemudahan untuk belajar mengatur pola fikir, bagaimana harus berfikir positif, dan fakta bahwa isi kepala sangat berpengaruh pada fisik secara nyata. Sick mind --> sick body sebaliknya, fikiran yang sehat akan menyehatkan fisik. Disini juga, saya belajar untuk menaruh cita dan mimpi -bersama teman-teman-. Menjadikan hal-hal kecil sebagai objek observasi. Meributkan persoalan sehari-hari untuk dijadikan bahan perbincangan yang dikemas jadi beraroma ilmiah. (Saya masih ingat perbincangan dengan kawan-kawan mulai dari solenoida dan gulungan kawat sampai urusan cicak mati karena selotip). Juga, hal yang sangat penting. Saya belajar tentang makna kejujuran, ketekunan, dan ketulusan. Mungkin sewaktu-waktu, akan saya ceritakan mengapa, bagaimana demikian. :D


Official Web Page MTsN 32 Jakarta bisa dilihat disini. :)

Sunday, January 26, 2014

Surat Peringatan


Merapihkan kamar selalu saja menjadi ajang nostalgia bagi saya. Pasalnya, banyak benda-benda kenangan yang tersimpan di dalam kamar. Termasuk surat-surat 'berharga' semisal surat di atas. Kemarin, saya membaca surat tersebut untuk ke sekian kalinya, dan tersenyum, lantas tertawa. Haha. Saya jadi semakin mengerti bagaimana dahulu saya tersiksa rindu, begitu merindukan masa Tsanawiyah. Schoolsick syndrome, begitu saya menyebutnya. Bagaimana tidak, teman-teman saya so sweet sekali. :))

Surat di atas saya peroleh pada suatu sore. Tahu-tahu ada di dalam tas hitam ke abu-abuan milik saya. Tahun 2008, ketika saya tengah aktif menjadi Badan Pengurus Harian OSIS di Tsanawiyah. Sebenarnya saya lupa bagaimana cerita lengkapnya. Hanya saja, surat ini dilayangkan pada saya karena hari itu, ada dua orang kawan yang mengajak saya 'bermain' di kelas sementara saya harus turun ke lapangan; menjalankan salah satu tugas sebagai pengurus OSIS, mempersiapkan kesiapan petugas untuk pelaksanaan upacara. Harus turun, dan saya tidak punya pilihan lain. Meski sebenarnya peran saya saat itu tidak begitu berarti, tapi saya harus turun. 

Simsalabim, surat peringatan itu mendarat sore harinya. :D

Membacanya sekarang, sekitar lima tahun setelah surat itu ditulis, kertas itu masih terlihat bagus. Sobekan buku Sinar Dunia, tinta hitam, garis-garis coretan. Melihat gaya tulisannya, saya tertawa sendiri. Anak Tsanawiyah. Sederhana, polos, cerdas, menggugah, dan yang utama: jujur. Bahasanya jujur sekali. :) Kau benar, Kawan. Hari akan berlalu sangat cepat, dan tak terasa kita sudah sampai pada titik ini. Ketika surat-surat kita menjelma indah menjadi memori.

_______________
_________________________________
Kau mungkin takkan pernah menyadari, betapa seseorang begitu mengingatmu. Betapa seseorang mengingat setiap lontaran kata yang Kau lisankan, sesederhana apapun itu. Kau boleh jadi tak pernah tahu, boleh jadi tidak peduli. Namun sungguh, bagi seseorang, hal itu sama sekali bukan masalah. Ia tak peduli apakah Kau ingat atau tidak. 
Seseorang itu sudah cukup bahagia untuk mengingatmu;
bahagia untuk pernah mengenalmu. :)
______________________________________________


Ah ya, satu lagi yang membuat saya tergelitik. "Satu kata buat kamu..." sebagai pembuka surat itu, tapi nyatanya ada banyak kata disana. :P Haha, Kawan, bahkan Kau mampu menghiburku hingga detik ini. Terimakasih. :)