Showing posts with label IKK. Show all posts
Showing posts with label IKK. Show all posts

Thursday, June 25, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Ta'aruf dengan Diri Sendiri

Mari kita cerita kilas balik, setelah sekian lama tidak melakukannya di sini. Belakangan di masa pandemi, agaknya tidak sedikit orang yang melakukan kilas balik atas perjalanan hidupnya. Yah, setidaknya saya menjumpai beberapa teman dan public figure yang tahu-tahu membagikan entah itu dokumentasi atau tulisan yang berbau memori. Barangkali memang, waktu yang biasa kita habiskan di jalan, di tengah macet, di keramaian, entah seberapa persen ada yang teralih pada kegiatan ini: kilas balik.

Tiga tahun terakhir, saya mendapat deret pelajaran yang pada hari ini saya temukan benang merahnya. Inti dari semuanya adalah tentang pentingnya mengenal diri sendiri. Klise sih ya, kayaknya anak-anak belasan tahun yang baru naik kelas kemarin pun sudah biasa mendengar kalimat ini; "kenalilah dirimu sendiri". Tapi di sini saya ingin cerita sedikit, tentang proses ta'aruf dengan diri sendiri yang ternyata sungguh tidak semudah kedengarannya.


Kata orang, semakin kita banyak tahu, semakin tahu bahwa diri kita tidak tahu banyak (nah pusing nggak? hha). Yah begitulah, dan saya pikir itu benar adanya. Ada banyak hal yang saya alami di tiga tahun terakhir. Kesemua pengalaman itu mengantarkan saya setidaknya pada tiga hal ini (dengan mengenal diri sendiri sebagai puncak utamanya):

1. Memaafkan
2. Memberi respons dan menentukan prioritas
3. Mengenali diri sendiri

Setelah saya pikir-pikir sekarang, bangku kuliah seperti sebuah ilmu pengantar. Dengannya saya jadi punya bekal tentang teori dasar, melihat fenomena secara makro, dan tahu akan risiko serta tantangan apa saja yang mungkin dialami. Oh iya, saya kuliah di IPB, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), kemudian lanjut ke Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak (IKA) silakan cek di sini kalau mau tahu lebih dalam.

Bersyukur sekali bahwa di bangku kuliah, saya belajar tentang keluarga. Karena biar bagaimana pun, setiap kita dilahirkan dan jadi bagian dari sebuah keluarga. Siapapun, sebenarnya membutuhkan ilmu ini (minimal ilmu-ilmu yang sifatnya aplikatif). Bangku kuliah memberikan landasan keilmuan bagi saya, sehingga apa yang saya dapat di kemudian hari lebih mudah diproses, sebab ada prior knowledge dari guru-guru kami sebelumnya. Bangku kuliah secara gamblang menjadi perantara bagi saya menapaki kelas-kelas berikutnya dengan ruang lingkup yang lebih personal dan lebih privat dalam diri manusia.

Alhamdulillah Allah beri kesempatan saya mengikuti beberapa kelas lain sembari menyelesaikan studi. Sebagian gratis, sebagian lagi berbayar, dan sebagian yang lain dibayari oleh orang-orang baik (terima kasih tulus, semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat). Menarik sekali, sebab ternyata apa yang saya pelajari benar-benar saya rasakan sangat bermanfaat. Pertama dan utama, khususnya untuk diri sendiri. Iya, lebih banyak disimpan sendiri atau kalau ada yang bertanya saja. Bagi saya, pelajaran ini terlalu sensitif, apalagi saya juga belum bisa mengaplikasikannya secara utuh dan sifatnya yang sangat personal. Rasanya berbeda sekali ketika harus menyampaikan ilmu eksakta dibandingkan dengan menyampaikan ilmu seperti ini. Iya, lebih banyak takutnya, hhe.

Namun beberapa waktu lalu, kuliah bersama Ust. Budi Ashari dalam reuni keluarga Akademi Qur'an Al Fatih jelas menampar saya. Beliau katakan bahwa tingkatan orang berkaitan dengan ilmu dan amalnya ada tiga. Pertama adalah naqiyyah. Ibarat tanah yang bisa menahan air, ia lantas menumbuhkan tanaman dalam jumlah banyak hingga siapa saja bisa memperoleh manfaat darinya, keilmuannya berkah hingga mengalirkan kebaikan bagi makhluk hidup yang lain. Kedua adalah ajadid. Ibarat tanah yang bisa menahan air, bermanfaat pula untuk orang lain, tapi hanya sekadarnya saja. Sebatas orang lain mengambil ilmu darinya namun tak benar-benar berkarya. Yang ketiga, yang semoga kita tak termasuk perumpaan ini, adalah qi'an. Ibarat tanah yang jangankan menumbuhkan tumbuhan, menampung air pun ia tak mampu. Ia tak punya ilmu, pun tak punya karya.

Karena saya juga takut jadi bagian dari orang-orang di nomor tiga itulah, tulisan ini dibuat. Yah, mau bagaimana lagi. Toh latar keilmuan saya memang ini, jadi tak ada pilihan lain. Daripada menyampaikan ilmu yang lebih jauh lagi dari kapasitas, kan? Jadi mari kita cerita-cerita santai tentang tiga hal utama tadi; memaafkan, memberi respons dan menentukan prioritas, serta mengenali diri sendiri (dengan sesekali disangkutpautkan dengan keilmuan keluarga, ya). InsyaaAllah akan ditulis di postingan berikutnya.

Ayo belajar sama-sama. Tentu bukan tanpa alasan Allah menggerakkan segenap inderamu hingga kamu dengan sukarela membaca tulisan ini sampai di sini. :)



Ditulis di Tangerang,
Pada 23 Juni 2020

Saturday, June 3, 2017

EVALUASI SOSIAL PADA BAYI DAN BALITA

Kali ini kami akan membahas artikel berjudul How Infants and Toddlers React to Antisocial Others yang dipublikasikan pada 2011 dan ditulis oleh Hamlin dkk. Dari judulnya, sedikit banyak dapat diperkirakan bahwa artikel ini bicara tentang bagaimana bayi dan anak balita memberi respon akan perilaku antisosial pada orang lain.

Hal yang bagi saya menarik dari penelitian ini adalah, bahwa Hamlin dkk. tidak hanya sekadar melakukan penelitian tentang bayi dan balita, melainkan melibatkan bayi dan balita. Dengan kata lain, penelitian ini menjadi kaya akan informasi dan menjelma jadi enlightenment. Ia tidak hanya berbicara tentang teori dan bagaimana pandangan para ahli ataupun orang tua yang menjadi narasumber, melainkan langsung menyentuh tokoh utama sebagai subjek penelitian. Berikut tabel yang berisikan informasi mendasar mengenai artikel yang sedang dibahas.

Judul
How infants and toddlers react to antisocial others
Dipublikasikan pada
PNAS (Proceeding of The National Academy of Sciences of the United State of America). 108(50): 19931-19936
Tahun
2011
Penulis
J. Killey Hamlin (a); Karen Wynn (a); Paul Bloom (b); Neha Mahajan (b)
Lembaga/instansi
a= Department of Psychology, University of British Columbia
b= Department of Psychology, Yale University, New Haven
Abstrak
Although adults generally prefer helpful behaviors and those who perform them, there are situations (in particular, when the target of an action is disliked) in which overt antisocial acts are seen as appropriate, and those who perform them are viewed positively. The current studies explore the developmental origins of this capacity for selective social evaluation. We find that although 5-mo-old infants uniformly prefer individuals who act positively toward others regardless of the status of the target, 8-mo-old infants selectively prefer characters who act positively toward prosocial individuals and characters who act negatively toward antisocial individuals. Additionally, young toddlers direct positive behaviors toward prosocial others and negative behaviors toward antisocial others. These findings constitute evidence that the nuanced social judgments and actions readily observable in human adults have their foundations in early developing cognitive mechanisms.
Keywords: cooperation, infancy




Penelitian ini terdiri atas 5 eksperimen yang melibatkan bayi dan balita dengan berbagai usia. Pada masing-masing eksperimen, subjek diberikan perlakuan untuk kemudian dilihat reaksinya. Untuk lebih rinci, saya merangkum tujuan, subjek, metode, dan hasil dari masing-masing eksperimen pada tabel berikut.

Tujuan Penelitian
Untuk memastikan perkembangan alami dari kemampuan untuk mengevaluasi keadaan sosial pada bayi praverbal dan pada balita yang baru saja memasuki tahap verbal.
Subjek Penelitian
Eksperimen 1: Bayi usia 5 bulan dan 8 bulan
Eksperimen 2: Bayi usia 8 bulan
Eksperimen 3: Bayi usia 9 bulan
Eksperimen 4: Balita usia 19 bulan -23 bulan
Eksperimen 5: Balita usia 19.20 bulan – 22.29 bulan
Metode Penelitian
·         Eksperimen 1
Bayi dipertontonkan tayangan akan adanya tokoh (boneka tangan) yang mendapat pertolongan untuk membuka box dari “boneka prososial” dan “boneka antisosial”. Kemudian setelah mengobservasi interaksi tersebut, bayi diminta untuk mengevaluasi tokoh baru yang berlaku sebagai penolong (kemudian disebut Giver) dan berbahaya (kemudian disebut Taker) bagi tokoh yang sebelumnya berperan sebagai boneka prososial dan boneka antisosial.
·         Eksperimen 2
Serupa pada Eksperimen 1, namun target diganti bukan menjadi pelaku melainkan menjadi korban (berbeda pada Eksperiman 1 dimana target adalah boneka prososial dan boneka antisosial. Pada eksperimen 2, target adalah korban dari perilaku kekerasan/antisosial). Kemudian, target ditampilkan bermain bola yang diambil oleh Taker kemudian dikembalikan oleh Giver (Taker dan Giver merupakan tokoh yang sama dengan yang ditampilkan pada Eksperimen 1)
·         Eksperimen 3
Subjek diganti dengan balita berusia 19 bulan, dan diperlakukan sama seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2.
·         Eksperimen 4
Balita usia 9-23 bulan bermain permainan pemanasan dengan diminta untuk memberikan “treats” kepada beberapa boneka hewan dengan meletakkan balok kepada wadah masing-masing boneka hewan. Kemudian ditampilkan bahwa boneka hewan sangat senang mendapat “treats” tersebut.
Setelah itu balita dipertontonkan tayangan seperti pada Eksperimen 1 dan Eksperimen 2, kemudian diminta untuk memilih apakah akan memberi “treats” pada Giver atau Taker. Balita dihadapkan pada dua kondisi (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
·         Eksperimen 5
Sekelompok balita yang baru diajarkan untuk memberi treat pada hewan dan memilih dari dua karakter untuk memberi atau mengambil treat dari karakter tersebut. Balita dipertontonkan tayangan yang sama seperti pada Eksperimen 2 melibatkan tokoh yang ditolong dan diganggu. Kemudian diminta untuk memilih apakah memberi atau mengambil kepada/dari Helpee (ditolong) dan Hinderee (diganggu)
Hasil Penelitian
     §  Eksperimen 1
-          12 dari 16 bayi 5 bulan dan 12 dari 16 bayi 8 bulan memilih Giver ketika target merupakan boneka prososial. ketika target merupakan boneka antisosial, 14 dari 16 bayi 5 bulan memilih Giver sedangkan 13 dari 16 bayi 8 bulan memilih Taker.
-          Pada usia 8 bulan, bayi memilih tokoh yang berlaku positif pada pihak prososial dan memilih tokoh yang berlaku negatif pada pihak antisosial.
§  Eksperimen 2
-          13 dari 16 bayi memilih Giver dari Taker. Berbeda signifikan dengan pilihan bayi 8 bulan terkait tokoh antisosial pada Eksperimen 1.
§  Eksperimen 3
-          Pada target prososial= 12 dari 16 memilih Giver
-          Pada target antisosial= 14 dari 16 memilih Taker
-          Pada target sebagai korban= 13 dari 16 memilih Giver
§  Eksperimen 4
-        13 dari 16 balita memilih untuk memberi “treats”pada boneka prososial.
-  14 dari 16 balita memilih untuk mengambil “treats” dari boneka antisosial.
-   Pilihan balita sangat berbeda signifikan pada dua pilihan keadaan yang dihadapkan (Giving-a-treat dan Taking-a-treat)
§  Eksperimen 5
-          11 dari 16 balita memilih untuk memberi pada Hinderee
-          13 dari 16 balita memilih untuk mengambil dari Helpee
-          Balita pada kondisi Taking menghindari mengambil treat dari tokoh yang telah mengalami gangguan sosial dari pihak ketiga. Respon ini bertolak belakang dengan yang diprediksikan pada Eksperimen ketika target sebagai korban.
-  Menunjukkan bahwa balita yang lebih tua memiliki kemampuan memberi empati. Balita menghindari mengambil dari karakter yang telah diganggu karena mereka dapat merasakan simpatik padanya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi dapat melakukan evaluasi sosial secara sederhana dengan statement “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”. Selain itu, penelitian ini juga membuktikan bahwa balita dapat merasakan simpatik kepada pihak lain di luar dirinya. Menurut saya pribadi, agaknya Hamlin dkk. cukup berhasil menunjukkan bahwa setiap individu dewasa hari ini memiliki fondasi kognitif moral sejak dini. Dalam bahasa lain, kita dapat mengatakannya sebagai hati nurani, atau juga akrab dengan istilah fitrah; nilai-nilai yang tertanam sejak lahir secara manusiawi.

Saya jadi ingat akan teori perkembangan moral dari Bandura yang menyebutkan bahwa perkembangan moral anak merupakan hasil observasi dan imitasi— hingga dipertanyakan dimanakah peran aspek internal? juga teori Piaget dan Kohlberg yang memperoleh tanggapan kritis dari beberapa kalangan karena menyebutkan bahwa bayi tidak memiliki moral reasoning. Teori keduanya belum dapat menjelaskan tentang bagaimana pendidikan karakter pada usia dini dapat dilakukan, mengingat baik Piaget maupun Kohlberg mengatakan bahwa anak di bawah usia 4 tahun belum dapat memahami moral. Barulah Thomas Lickona muncul dengan teori yang lebih komprehensif nan kiranya dapat lebih menjelaskan dan menjawab teori-teori sebelumnya. Lickona menggabungkan berbagai teori sekaligus (termasuk padangan Piaget dan Kohlberg) sehingga melahirkan 6 tahap perkembangan moral pada manusia, sebagai berikut.
.
1. Fase bayi (0- 3 tahun) = fondasi moral
2. Fase 1 (+- 4 tahun) = berfikir egosentris
3. Fase 2 (4,5-8 tahun) = patuh tanpa syarat
4. Fase 3 (8,5-14 tahun) = memenuhi harapan lingkungan
5. Fase 4 (16-19 tahun) = ingin menjaga kelompok
6. Fase 5 (>20 tahun) = moralitas tidak berpihak

Fase bayi (0-3 tahun) merupakan fondasi awal bagi perkembangan moral. Pada fase ini, bayi membutuhkan bonding dan attachment dengan orang tua terutama ibunya. Orang tua perlu memberikan ekspresi cinta, rasa aman, stimulasi fisik dan mental, serta keseimbangan antara kasih sayang dan otoritas. Berkaitan dengan hasil penelitian Hamlin et al. (2011), anak-anak yang menunjukkan evaluasi sosial yang baik boleh jadi tumbuh dari keluarga yang telah memenuhi berbagai kebutuhan perkembangan moral pada masa bayi tersebut. Perkembangan anak akan selalu melibatkan dua faktor secara garis besar; nature dan nurture (bawaan dan oleh faktor lingkungan).

Adalah hal yang menarik dalam penelitian Hamlin dkk, bahwa ternyata bayi yang mungkin sebagain besar masyarakat menilainya “belum mengerti apa-apa,” ternyata mampu mengevaluasi dan memilih sesuai dengan nilai-nilai nurani. Saya jadi ingat pertanyaan salah seorang ibu muda pada satu-dua tahun lalu, ketika saya asyik menggendong anaknya dan mengajak si anak berbincang-bincang tentang benda-benda di sekelilingnya. Ibu muda yang tidak lain adalah kawan saya itu lantas bertanya, “Emang dia udah ngerti ya, Ris, diajak ngobrol begitu?” saya dengan keilmuan yang sangat terbatas kemudian menjawab, “Yaa mungkin saja belum ngerti sekarang. Tapi insyaAllah terinternalisasi. Kalau pun nggak ngerti, minimal diajak ngobrol dan itu berdampak baik buat dia. Semoga ya, hhe..” belakangan saya baru tahu, bahwa ternyata bayi jauh lebih cerdas dari apa yang saya duga sebelumnya.

Anak balita pun ternyata memiliki kecenderungan untuk memiliki rasa simpati. Hal ini ditunjukkan dengan hasil dari Eksperimen 5 yang menyebutkan bahwa anak balita lebih memilih untuk memberi pada tokoh yang telah mengalami keburukan, dan lebih memilih untuk mengambil dari tokoh yang sebelumnya mendapat pertolongan. Apa artinya? kita dapat lebih mudah memahami dengan ilustrasi seperti ini: berikan bantuan pada seseorang yang lebih membutuhkan. Jangan mengambil/meminta sesuatu pada seseorang yang sedang membutuhkan sesuatu tersebut. Menurut saya, ini adalah konsep sederhana dari saling memahami. Terlebih lagi, ia merupakan landasan dasar dari kepekaan sosial antar manusia.

Kesimpulan penelitian
- Bayi dapat melakukan evaluasi sosial, yaitu bahwa “prososial=baik” dan “antisosial=buruk”.
-     Balita dapat merasakan simpatik.
- Orang dewasa telah memiliki fondasi sejak dini terkait mekanisme kognitif.






Apa yang dilakukan oleh Hamlin dkk. bukan merupakan penelitian pertama yang fokus pada perilaku sosial dari anak-anak. Penelitian-penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa balita terlibat dalam perilaku sosial terhadap orang dewasa dan remaja, berlaku prososial terhadap koban tindak antisosial, dapat melakukan protes selama atau setelahnya, dan secara selektif memberikan penghargaan pada pihak prososial dibandingkan antisosial. Uraian lebih lengkap mengenai teks lengkap artikel hasil penelitian ini dapat dilihat pada tautan berikut: KLIK DISINI. Selain itu, penelitian di Yale Univeristy ini juga diliput oleh CNN TV yang dapat disaksikan melalui situs YouTube melalui tautan berikut: KLIK DISINI.

Membaca artikel ini mengingatkan saya pada perbedaan pendapat antar tokoh mengenai satu pertanyaan sederhana: apakah bayi dilahirkan dalam keadaan “tabula rasa”? ataukah setiap bayi lahir degan keadaan memiliki “blue print”? bahasa lainnya ialah perdebatan antara konsep nature vs nurture. Juga perbedaan pandangan akan satu pihak yang memandang bayi terlahir “baik” sehingga harus dijaga, dan bayi terlahir “jahat” sehingga harus dididik dan memperoleh pembelajaran. Ialah pemikiran-pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai mcam hipotesa. Sebagain berujung teori, sebagian lain boleh jadi cukup berakhir pada tanda tanya dan asumsi.

Ilmu pengetahuan senantiasa berkembang. Seiring dengan waktu, fakta-fakta ilmiah bermunculan yang boleh jadi menjawab berbagai pertanyaan pada masa sebelumnya. Contohnya adalah teori perkembangan moral yang hari ini semakin jelas beserta contoh praktis untuk orang tua tentang bagaimana cara mendidik moral anak. Hari ini kita dapat dengan mudah membaca buku parenting, mulai dari yang bentuknya “serius” menjadi referensi ilmiah, sampai yang menggunakan bahasa populer untuk dibaca oleh kalangan umum. Namun sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW, sekian tahun silam, melalui sabdanya telah memberikan petunjuk pada kita mengenai perkembangan anak.

قال النبي صلى الله عليه و سلم ( كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Setiap manusia memiliki hati nurani. Kemudian bekal yang telah dimiliki itu lantas berinteraksi dengan lingkungan, yang dalam hal ini disebutkan ialah orang tua. Pengasuhan yang dilakukan orang tua turut berkontribusi pada seperti apakah kepribadian anak akan terbentuk, nan menjadi apa dan beragama apa si anak kelak. Jika dikaitkan dengan teori perkembangan yang menyebut adanya faktor bawaan dan faktor lingkungan (herediter dan lingkungan), maka fitrah, menurut hemat saya, adalah faktor bawaan yang mutlak ada dan seragam pada setiap manusia; di luar faktor bawaan lain yang sifatnya ciri fisik atau kecerdasan nan tempramen— yang boleh jadi berbeda pada masing-masing individu.


***

Jadi kalau ada yang bertanya (lagi): ”Apakah agama adalah warisan?”
kira-kira, Anda akan menjawab apa? J

Mungkin tergantung dari pemaknaan kita tentang “agama” dan “warisan” itu sendiri. Yang pasti, setiap manusia terlahir dengan fitrah. Dan saya haqqul yaqin, itu adalah fakta absolut yang mutlak.



Ditulis di Batavia,
Pada 8 Ramadhan 1438 H

Friday, June 24, 2016

RETHINKING EDUCATION


Jadi sebenarnya tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang bolos tidak masuk praktikum mata kuliah Pendidikan Holistik karena saat itu harus pergi secara mendadak untuk mengikuti sebuah wawancara yang hampir saja dilupakan jadwalnya.

**
Muqaddimah

Saya diminta untuk membaca buku (kemudian membuat tulisan terkait buku tersebut). Buku Rethinking Education adalah karya seorang Philip Snow Gang, Ph.D. yang berlatar belakang teknik namun jatuh cinta pada dunia pendidikan setelah perjalanan panjang kehidupannya. Jujur saja, sampai menuliskan ini pun, saya belum membaca secara utuh buku tersebut, melainkan baru sampai halaman ke-48 dari 180, dan selebihnya hanya melakukan screening seadanya. Karena sayang, tugas jelas memiliki deadline dan saya harus segera menyelesaikannya.

Sebelum mulai membaca, melihat judul buku ini serta merta mengingatkan saya pada salah satu materi yang disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi dengan judul sama: Rethinking Education. Bagi yang tertarik, (dan memang sangat menarik), silakan diunduh disini

Kembali lagi pada buku karangan Gang. Mungkin tugas tambahan sebagai pengganti praktikum ini tidak mengharuskan agar saya membaca keseluruhan isi buku. Tapi saya akui buku ini melakukan pembukaannya dengan menarik yang mengundang saya untuk membacanya (meski belum selesai sekarang, 24 Juni 2016). Gang menceritakan perjalanan fikirannya sejak duduk di bangku sekolah, kuliah, hingga bagaiamana ia terinspirasi oleh konsep Montessori pada tahun 1968 ketika menyekolahkan Warren, anaknya yang saat itu berusia 3 tahun.

Yang membuat Gang menaruh perhatian pada Montessori adalah karena ia menawarkan konsep pemikiran akan kombinasi “siapa saya” dengan pandangan dunia kosmik; bagaimana sisi kemanusiaan berhubungan dengan alam semesta. Latar belakang teknik dan kecintaan pada ilmu pengetahuan membuat Gang berfikir bahwa hal tersebut sangat menarik serta mengantarkannya pada sebuah pemikiran baru yang berbeda dari apa yang selama ini ia pikirkan tentang pendidikan.

Pendidikan dan Fisika

Buku ini diawali dengan bab berjudul “Education and Physic” yang membuat saya kembali bernostalgia dengan beberapa istilah dan teori dalam ilmu fisika seperti kausalitas, entropi, sintropi, hukum termodinamika, hingga fisika kuantum. Sampai disini, saya sangat setuju bahwa fenomena fisika memang menarik untuk dikaji. Kita telah mengetahui bahwa fisika memuat hukum-hukum universal pada aktivitas setiap benda termasuk manusia.

Misalkan saja, yang paling sederhana, melakukan perubahan posisi benda agar tidak diam membutuhkan usaha lebih untuk melampaui ambang batasnya. Setelah itu, pergeseran benda akan jadi lebih mudah dilakukan. Sama seperti manusia yang untuk berubah, ia membutuhkan energilebih besar di awal. Ketika langkah pertama telah dibuat, langkah selanjutnya akan menjadi lebih ringan. Memulai seringkali memakan tenaga lebih, bukan?

Contoh lain adalah penemuan yang mengatakan bahwa bagian terkecil dalam sebuah benda hakikatnya memberi untuk membuat ikatan dan menguatkan dirinya. Ada hubungan saling memberi yang membentuk materi tersebut menjadi satu kesatuan. Sama seperti keadaan manusia, dimana pada hakikatnya, memberi adalah menerima. Semakin banyak memberi, semakin banyak pula kita menerima. Dari sini pula kemudian kita mengenal konsep “Semesta Mendukung,” “Law of Attraction,” dan lain sebagainya.

Dunia fisika mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya illmu pengetahuan dan teknologi hasil cipta rasa karsa manusia. Sama halnya dengan teknologi, dunia industri, ekonomi, bahkan politik yang juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Gang berpendapat, jika semua aspek itu mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan? Adakah ia juga perlu mengalami perubahan atau bahkan harus? Perkembangan macam apa yang selayaknya terjadi pada dunia pendidikan?

Maka jadi menarik ketika fisika kemudian dihubungkan langsung dengan pendidikan. Model pendidikan macam apa yang baik dilakukan jika kita kaitkan degan keilmuan fisika yang memuat hukum universal kehidupan manusia? Perubahan seperti apa yang dapat membawa pendidikan manusia menjadi lebih baik seiring waktu?

Masih berhubungan dengan fisika, Gang kemudian mengelompokkan fase kehidupan manusia berkaitan alam menjadi empat periode unik:

  The Age of Humanity in Nature
The Age of Humanity with Nature
The Age of Humanity over Nature, and
The Age of Humanity through Nature.

Ada beberapa pendapat ahli yang Gang kutip dalam bukunya dan saya pikir pendapat Capra di bawah ini menarik untuk dikutip juga disini.

In contrast to the mechanistic Cartesian view of the world,
the world view emerging from modern physics can be characterized by words like organic, holistic, and ecological....
The universe is no longer seen as a machine,
made up of a multitude of objects, but has to be pictured
as one indivisible, dynamic whole whose parts are essentially
interrelated and can be understood only as patterns
of a cosmic process (Capra, 1982)

Saya tidak akan menjabarkan satu persatu pejelasan Gang ada masing-masing dari empat periode tersebut. Melainkan saya akan mencoba mengambil satu benang merah, bahwa hubungan manusia dengan alam menurut Gang berkembang dari jarak pemisah yang jelas hingga akhirnya hari ini sampai pada penemuan akan kenyataan bahwa manusia sejatinya menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Lagi, ungkapan Capra boleh jadi mempermudah kita untuk mengerti jalan pikir Gang:

Cartesian division between mind and matter, between
the observer and the observed, can no longer be
maintained. We can never speak about nature without, at
the same time, speaking about ourselves (Capra, 1982)

*Bagi yang mungkin belum tahu, sederhananya, “Cartesian” adalah pandangan yang menganggap bahwa jiwa dan badan merupakan dua aspek yang berbeda dan tidak dalam satu kesatuan. Biasa dikenal dengan istilah Cartesian dualism.

Rethinking Education Versi Saya

Sampai disini, saya mulai mengerti kemana arah buku ini berbicara tentang pendidikan; adalah itu Pendidikan Holistik yang memandang pendidikan secara keseluruhan, tidak terkotak-kotak, tidak terfragmentasi, melainkan memandang manusia sebagau fully human yang dengan pendidikan diharapkan menjadi seorang longlife learner,  memiliki kesadaran akan eksistensi dirinya sebagai bagian dari sistem besar dan memaknai akan kehidupan yang pada akhirnya kembali menuju Tuhan.

Namun sayangnya, saya belum selesai membaca sehingga tidak pantas rasanya menuliskan lebih jauh tentang Rethinking Education versi Gang. Jadi izinkan saya menulis tentang rethinking education versi amatiran saya saja.

Ketika mendapat mata kuliah Pendidikan Holistik, saya berfikir bahwa mata kuliah inilah yang selama ini saya cari-cari dan Alhamdulillah saya menemukan dan dipertemukan dengannya. Saya memang bukan seseorang yang berorientasi akademik, tapi saya akui saya tertarik dengan pengetahuan yang disuguhkan disini. Terlebih ketika menemukan konsep-konsep yang dibangun tentang pendidikan dengan memandangnya secara holistik: secara menyeluruh. Membaca buku karangan Gang membuka mata saya bahwa ternyata, teori yang berasal dari Barat ini pun berasal dari para tokoh “spiritual” sehingga tidak heran, aspek “kembali kepada Tuhan” menjadi bagian dari penjabaran lebih lanjut tentang pendikan holistik.

Namun sayang, materi yang saya peroleh memang kebanyakan masih berkiblat pada dunia Barat meski lagi-lagi saya bersyukur, kekayaan khazanah para pendidik saya menjadikan ia terbuka dan bahkan referensi lokal yang saya dapat sama sekali tidak bertentangan dengan Islam rahmatan lil ‘alamin. Ia justru semakin memperkuat keyakinan saya, bahwa apa yang diajarkan dalam Islam adalah sebaik-baik metode pendidikan. Malah saya haqqul yakin, “pendidikan holistik” Barat ini masih belum sempurna (maaf saya menyebut “Barat” karena tidak menemukan keterangan yang lebih mudah untuk dimengerti). Belum-- karena ia masih pincang terutama dalam hal sumber ilmu pengetahuan dan pedoman hidup (baca: Al-Qur’an).

Jika kita menengok pada sejarah peradaban manusia dengan sumber Barat, kita akan mengenal istilah “Dark Age,” yang terjadi pada abad pertengahan, dimana bangsa Eropa dikuasai oleh negara dan berada di bawah kendali gereja. Dinamakan demikian, karena masa tersebut dianggap sebagai masa kegelapan, dimana peradaban tidak mengalami kemajuan. Kemudian beberapa abad setelahnya, kita mengenal revolusi industri yang sadar atau tidak membentuk pola pendidikan menjadi begitu mekanistik, headstart, dan cenderung berorientasi kognitif. Barulah pada masa-masa sekarang ini, perhatian akan pendidikan holistik tampil setelah dampak akibat pendidikan yang sebelumnya tidak seimbang itu dirasa tidak sesuai. Seolah-olah “Pendidikan Holistik” adalah sebuah metode dan sudut pandang baru, padahal boleh jadi ia telah ada sedari dulu.

Pendidikan Holistik

Apa yang disebut “Dark Age” oleh Eropa selama ini sejatinya merupakan “Golden Age” dalam sejarah peradaban manusia. Pada masa itulah berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan yang menjadi dasar dari berkembangnya dunia modern dan IPTEK saat ini. Jika kita mengenal Wright bersaudara sebagai pelopor pesawat terbang, maka ratusan tahun sebelumnya telah ada Abbas Ibnu Firnas. Pada masa itu pula ada Ibnu Al Haytam menemukan konsep dasar optik dan kamera yang saat ini banyak digunakan, serta ilmuwan-ilmuwan hebat lainnya yang sayang, seolah hilang dari sejarah.

Ah ya, ada film pendek berjudul 1001 Invention yang sangat layak untuk ditonton. Ia bercerita tentang tiga orang pelajar yang mencari informasi di perpustakaan tentang “Dark Age.” Silahkan klik disini untuk menonton.

Saya curiga. Jika penemuan-penemuan hebat tersebut telah ditemukan jauh sebelum dunia mensosialisasikannya, boleh jadi demikian pula dengan metode pendidikan –dengan konsep pendidikan holistik. Bahkan apa yang dinilai “modern” saat ini, rasa-rasanya masih kurang modern. Ada yang lebih keren dari teori multiple intelligent-nya Howard Gardner, atau metode Montessori-nya Montessori. Dan bisa jadi, yang lebih keren itu sebenarnya telah ada sejak lama dasarnya, hanya saja belum muncul ke permukaan lagi. Atau sudah muncul, tapi saya yang belum benar-benar menemukan. Mungkin ada yang sudah menemukan? Kabar-kabar, ya. Ayo kita sharing! Serius.

Lalu ternyata, tau-tau tulisannya jadi sepanjang ini padahal niatnya cukup buat 2 halaman saja. Terima kasih sudah membaca. Di awal, saya menyampaikan sedikit tentang fisika, tentang alam semesta. Bahwa manusia dan alam sejatinya merupakan satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan, memiliki harmoni-kausalitas, dan kita sebagai manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Saya setuju. Terlebih hal tersebut telah nyata disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hadid ayat 1).

تُسَبِّحُ لَه‘ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاَلْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ 4 وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَاكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّه‘ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al Isra ayat 77).

Longlife Learner

Buku Rethinking Education karya Gang belum selesai saya baca, dan masih menyisakan sekitar 3 dari 4 bagian lagi untuk saya tuntaskan. Jika dari pembaca ada yang berminat untuk ikut menyimak, boleh kirimi saya email untuk saya kirmi bentuk e-book nya, atau silakan berselancar di dunia maya.

Apa yang saya tuliskan hanya buah dari pemikiran beberapa waktu belakangan, dan masih sangat berkaitan dengan mimpi saya di awal Ramadhan lalu. (Silakan baca pada postingan sebelumnya berjudul Al-Qur’an dan Pendidikan). Dan saya fikir, Allah tengah memfasilitasi saya untuk membaca buku Rethinking Education-nya Gang untuk memperluas wawasan --meski berkedok sebagai tugas pengganti praktikum. Karena memang, kalau tidak dipaksa ya seringnya nggak baca Alhamdulillah. J

Saya optimis bahwa kesadaran manusia akan Al-Qur’an sebagai ‘buku’ ilmu pengetahuan semakin meluas. Hari ini kita memiliki dr. Zakir Naik yang mempermudah orang awam seperti saya menelaah IPTEK dari Al-Qur’an dengan cara stand by memegang mushaf sambil menonton video beliau menyebut daftar referensi pengetahuan dari surat Al-Qur’an lengkap dengan ayatnya. Kita juga punya Ustadz Abdullah Gymnastiar, yang diam-diam membuka mata saya betapa urusan tauhid sampai pada hal-hal terkecil dalam kehidupan seperti kuku atau kulit rambutan. Betapa setiap sel yang hidup berada di bawah kekuasaan Allah. Lalu ada Syaikh Fahad Al-Kandari, yang lagi-lagi membantu melihat betapa kita tidak sendirian; bahwa Al-Qur’an sungguh sebenar-benar mukjizat dan dipelajari banyak orang. In syaAllah.

Dalam bukunya halaman 7, Gang menuliskan ini:

“Shalom” comes from the root word “shalem” which means wholeness or completeness. It is used to greet and to say farewell to a friend. It means peace. Shalom is the beginning and the end for the peace that lies within. You cannot have peace without “wholeness.”

Yak, sedikit lagi!

Assalamu’alaikum. Salam. Ialah ajaran Rasulullah Muhammad SAW yang sangat mulia: mendoakan kedamaian dan keselamatan antar saudara seiman. Sedikit lagi, semua konsep ini memang mengarah kesana. Mengarah pada Islam yang kaffah. Dan saya yakin, ia tengah menuju kesana. Jadi ayo belajar, longlife learner!

 18 Ramadhan 1437 H



Kelas Tahfidz di Masjid Ulil Albab MAN Insan Cendekia Serpong

Tuesday, May 10, 2016

Ditanya, Bagaimana Kabarnya?

Hari ini saya bersama teman-teman baru saja turun lapang untuk mata kuliah Konseling Keluarga. Kami mengunjungi salah satu sekolah boarding school ber-beasiswa full di Kota Bogor. Masing-masing dari kami mewawancarai satu orang responden yang telah ditentukan. Responden saya adalah seorang anak kelas 2 SMP. Alih-alih memberikan konsultasi, saya justru belajar banyak melalui percakapan dengan anak 13 tahun itu. Ketika ditanya tentang bagaimana ia berusaha menyelesaikan masalah, ia menjawab dengan tenang, “Ke Allah, Kak. Saya nggak pernah curhat ke teman. Kalau masalahnya sudah berat banget, ke Allah aja. Curhat sama manusa itu nggak nyelesain masalah soalnya, Kak.” Sampai disini saja saya sudah dibuat takjub. Hei Dik, seusiamu dulu, sepertinya Aku bahkan belum berfikir sejauh itu.

Dalam tugas mata kuliah kami, idealnya saya dapat menggali permasalahan yang tengah ia hadapi dan membantu memberikan alternatif solusi. Namun meski responden saya mengaku dalam keadaan sangat bingung atas masalah yang diaku berat selama dua tahun belakangan, ia bersikuat tidak menceritakan ke siapapun. Saya mengiyakan. Diam-diam mengerti, karena toh meski saya banyak cerita seperti ini, tetap saja ada hal-hal mendasar yang tidak bisa diceritakan pada siapapun kecuali kepada-Nya. Lalu tidak cukup sampai disitu, saya kembali dibuat introspeksi diri mendengar kalimat-kalimatnya kemudian.

“Ya paling mendoakan, Kak. Biasanya kalau tahajjud. Saya paling bisanya mendoakan,” ujarnya ketika saya tanya, apakah ia menggunakan ‘strategi’ silaturrahim ketika tengah menghadapi masalah. Lagi, jawabannya kembali kepada Allah. Ia mengaku terbiasa menyendiri di masjid dan membaca Al-Qur’an jika sedang sedih. Lalu hal yang membuat saya seperti ditampar udara dalam seketika, ketika ia berkata seperti ini:

“Saya suka mikir sih, Kak. Daripada baca novel yang tebal-tebal, halamannya bahkan sampai ratusan dan berjilid-jilid jumlahnya….” Ujarnya sambil mengilustrasikan tebal novel yang biasa dibaca teman-temannya, “mendingan baca Al-Qur’an. Ngapain juga baca novel kalau baca Al-Qur’an aja belum khatam.”

Ini… daripada disebut turun lapang dan berperan sebagai konsultan amatiran, saya justru lebih merasa tengah di-training oleh Allah. Adik itu boleh jadi hanya washilah Allah dalam menyampaikan rentet hikmah semesta pada saya. Semoga tidak berlebihan, tapi saya merasa sungguh-sungguh tengah diperhatikan oleh-Nya. Tengah dipeluk. Tengah dibisiki mesra oleh langit; Riris yang mengaku cinta Allah dan Rasul-Nya, interaksimu dengan Al-Qur’an apa kabar? Doa-doa untuk keluarga dan saudaramu apa kabar? Prasangka baik  pada Rabb-mu- masihkah ia pada tempatnya?

Ternyata Allah memang selalu penuh kejutan. Menanyakan kabar hamba-Nya saja semanis ini; jalannya tidak disangka-sangka-

Kota Hujan, Sya'ban 1437 H