Showing posts with label harihikmah. Show all posts
Showing posts with label harihikmah. Show all posts

Sunday, June 27, 2021

Ambulans dan Suara Hujan

Belakangan ini, bumi pasundan terasa dingin sekali. Suara mesin kulkas, rintik hujan, juga kendaraan saling sahut menyahut terdengar dari ruang kerja kami. Sayang, alih-alih syahdu, justru terdengar kelabu tiap sirine ambulans mampir ke gendang telinga. Ya, kantor kami duduk berdampingan dengan rumah sakit dan laboratorium kesehatan. Belakangan ini, Bandung memang dingin tersebab cuaca yang seringkali hujan. Namun ia juga panas oleh jumlah lonjakan kasus Covid-19. Bukan, bukan hanya di sini, melainkan juga di seluruh Indonesia barangkali.

Aku masih ingat ketika pertama kali televisi ramai membicarakan bahwa ada dua orang terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia kali pertama. Pasien 1 dan Pasien 2. Kala itu kita masih bisa dengan "gagah" memberi label nomor. Sekarang? entah, mendengar ada berapa jumlahnya saja mungkin membuat beberapa orang enggan menyimak lebih lanjut. Bukan karena tidak peduli, tapi karena terlalu membuat pilu hati. Saat itu aku di dalam perjalanan naik bis dari Bogor ke Jakarta. Aku duduk di kursi paling depan, sehingga terlihat dengan jelas lalu lalang orang dan kendaraan di jalanan. Kamu tahu? saat itu semua orang berbondong-bondong mengenakan masker. Semuanya, nyaris tanpa terkecuali. Bapak sopir, pedagang kaki lima, pengendara motor, juga orang-orang yang riuh tengah pulang usai dari tempat kerja. Ada satu yang paling kuingat saat itu: raut wajah mereka.

Meskipun mengenakan masker, aku dapat menangkap garis-garis kekhawatiran. Garis-garis takut dan cemas. Barangkali karena akan menghadapi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal itu juga tampak pada ekspresi seorang bapak yang masuk ke dalam bis, dan duduk di sebelah kananku. Saat itu bis sedang penuh. Beliau duduk sembari tangannya merogoh kantong, lalu mengeluarkan selembar masker dan mengenakannya. Kami terlibat obrolan yang sangat singkat.

"Sudah ada dua, ya."

"Iya, Pak." Lalu hening.

Bahkan, tanpa menyebutkan topik pembicaraannya, kami sama-sama tahu apa yang kami bicarakan. Pikiran kami seolah sama. Tidak, bukan hanya aku dan si bapak tadi. Tapi juga barangkali seluruh isi penumpang bis.

Hari ini, setelah lebih dari satu tahun peristiwa itu terjadi, nyatanya kita telah banyak kehilangan. Kehilangan pekerjaan, kesempatan, hingga salah satu yang paling menyakitkan: kehilangan orang yang dicinta. Bangsa kita bahkan kehilangan ulama, guru, juga putra-putri terbaiknya. Rangkaian peristiwa yang harusnya lebih dari cukup untuk membuat kita merenung. Tidakkah semua kehilangan itu memberikan kita banyak pelajaran?

Semoga kita termasuk dari orang-orang yang mengambil pelajaran. Jika kita menghadapinya bersama-sama, agaknya ini akan jauh lebih mudah. Sama-sama berdo'a, dan tentu saja sama-sama menjaga protokol kesehatan demi kebaikan kita semua. Hari ini, barangkali raut khawatir dan cemas sebagian dari kita tak sekuat dulu. Semoga itu terjadi bukan karena kita abai dan tak peduli, tapi karena kita telah banyak belajar hingga bisa menghadapinya dengan baik. Bagi sebagian yang lain, boleh jadi hari-hari inilah justru hari yang paling mendebarkan. Ketika kita kembali mengingat deret pertanyaan tentang pandemi seperti waktu kemarin-kemarin: kapan ini selesai?

Baik kita yang saat ini tengah diuji dengan kesehatan, maupun diuji dengan kondisi sakit, semoga ketenangan selalu hadir dalam hati kita. Semoga keimanan tak pernah pergi dari relung jiwa. Aamiin allahumma aamiin.

Sumber Gambar

Ditulis di Bandung,
23 Juni 2021

Saturday, October 17, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Memberi Respons dan Menentukan Prioritas

Baiklah, ini adalah cerita santai kedua yang tertunda lama sekali. Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini di jurnal pribadi sejak tanggal 25 Juli 2020 lalu, hanya saja memang baru dipublikasikan di sini. Jadi yuk kita cerita-cerita lagi! :)

Saya nyaris selalu ingat penggalan tausiyah dari salah seorang guru di mimbar masjid sekolah. Tausiyah singkat itu bercerita tentang manusia dan problematikanya. Ya, setiap manusia boleh jadi punya masalah. Tapi masalah itu berbeda-beda sesuai dengan kapasitas dari si manusia. Guru saya saat itu menyebutkan nama Pak Habibie. Sekelas Pak Habibie pun pasti punya masalah, tapi masalah beliau agaknya bukan lagi seputar tersinggung oleh omongan orang, bukan lagi urusan salah paham dengan teman sekelas. Kalaupun iya itu masalah, tapi bukan masalah yang menjadi prioritasnya. Ada masalah yang jauh lebih "penting" untuk dipikirkan dan dicari solusi. Yup, katakanlah lebih urgent.

Sampai di sini terbaca kah arah cerita santai kita?

Tanpa sadar, boleh jadi selama ini kita telah banyak buang-buang waktu untuk sesuatu yang kita anggap masalah padahal nyatanya tidak. Kebiasaan kita yang mengutuk kondisi macet, kebiasaan kita yang mengeluh atas hari yang tiba-tiba hujan hingga jalanan menjadi becek, juga kebiasaan kita menanggapi komentar negatif dari orang lain yang sifatnya nyinyir. Itu adalah beberapa contoh dari betapa buang-buang waktunya diri kita.

Apa yang saya pelajari di tiga tahun terakhir, salah satunya adalah tentang ini. Tentang memberi respons dan menentukan prioritas. Bagaimana merespons perilaku orang lain yang tidak sesuai harapan kita? Bagaimana merespons perkataan orang lain yang terdengar menyakitkan? Bagaimana merespons ketidaksukaan orang lain pada diri kita?

Hmm... pertanyaannya, apakah kita memang harus merespons? sepenting apa omongan orang lain untuk kehidupan kita? Mengapa kita kadang dibuat terlalu sibuk pada hal-hal yang mengusik diri, hingga lupa pada hal-hal yang sebenarnya telah memberi kenyamanan di hati?  

Guru saya yang lain, berkali-kali menasihati. Jika kita dihina atau direndahkan, itu bukan berarti kita hina atau benar-benar rendah. Perkataan orang lain sama sekali tidak mendefinisikan diri kita yang sebenarnya. Kitalah yang lebih tahu kualitas diri kita. Tapi, pada kesempatan yang lain, beliau juga berkali-kali menyentil diri. Jika kita dicibir buruk, tidak perlu marah sebab keburukan kita yang asli boleh jadi lebih banyak, hanya saja ia tidak mengetahuinya. Bukankah Allah Mahabaik sebab Dia menutupi aib-aib kita?

Hal yang ingin saya sampaikan di sini, adalah tentang memberi respons dan menentukan prioritas. Waktu kita sedemikian terbatas. Harusnya, kita bisa dengan apik memilih mana hal yang perlu kita respons, persoalan apa yang harus kita seriusi, hal-hal apa saja yang menjadi prioritas kita. Alih-alih mengurusi perasaan, pikiran, atau tindakan orang lain yang berada di luar kontrol kita, akan lebih baik jika kita mengurusi diri sendiri. Ialah itu tentang cara kita menanggapi segala sesuatu yang terjadi.

Mungkin kita tidak asing mendengar atau membaca petuah bahwa ujian seseorang sesuai dengan level dan kapasitas dirinya. Barangkali sudah saatnya kita naik level, bukan? Tidak lagi meletakkan pikiran dan perasaan orang lain sebagai masalah, tapi lebih memprioritaskan pikiran dan perasaan kita sendiri.

Lalu apakah kita harus menutup telinga kita? tentu saja tidak. Bukankah salah satu tanda kebaikan hati manusia terletak pada kelapangannya menerima nasihat? Bukankah salah satu tanda kearifan hidup adalah mengambil hikmah dari apa-apa yang terjadi di sekitar kita? Artinya, kita perlu mendengarkan. Kita juga perlu introspeksi serta memperbaiki diri. Namun tentu, sekali lagi, tentukan prioritas. Bergeraklah secara proporsional.


Daripada mengutuk kemacetan, kita bisa memilih untuk mengisi waktu dengan membaca. Daripada menghabiskan waktu untuk mencari tahu mengapa seseorang membenci, kita bisa memilih untuk memperbaiki diri. Daripada mengungkit-ungkit sumber masalah, kita bisa mulai mencari dan menentukan solusi.

Tapi itu semua tidak menjadikan kita buta, bisu, atau tuli. Kita tetap bisa memberi kritik yang membangun terkait kemacetan. Kita tetap bisa belajar tentang berbagai macam watak manusia. Kita juga tetap bisa melakukan evaluasi supaya kesalahan hari kemarin tidak terulang di kemudian hari.

Tetaplah berprasangka baik, tetaplah merasa yang baik-baik, tetaplah menjadi orang baik. Mohon pertolongan pada yang Mahabaik. InsyaAllah, tidak ada itikad baik yang sia-sia di sisi-Nya.


Diselesaikan di Tangerang,

pada 17 Oktober 2020

Sunday, June 28, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Tentang Memaafkan

Cerita santai yang pertama adalah tentang memaafkan. Yup, memaafkan. Sesuatu yang terdengar mudah dan tak asing di telinga, sebab setidaknya setahun sekali masyarakat kita terbiasa saling mengirim pesan permohonan maaf; mohon maaf lahir dan batin. Saya percaya memaafkan itu sangat penting, lagipula toh Allah yang kita sembah Maha Pemaaf. Apalah diri yang jauh dari sempurna, tempatnya salah dan dosa pula, tentu tak punya tempat untuk sombong nan angkuh. Apalagi kalau kita telah memegang prinsip bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik, al-khair khairutullah, tentu persoalan memaafkan akan jauh lebih mudah.

Ya, saling memaafkan telah jadi nasihat lama dari orang tua kita. Tapi kadang kita luput dari memaafkan dua hal. Pertama, memaafkan keadaan. Kedua, memaafkan diri sendiri. Memaafkan keadaan sebenarnya dekat sekali dengan konsep ridho atas apa yang telah Allah takdirkan. Kita tidak akan pernah tenang jika terus-menerus mengutuk keadaan yang berada di luar kendali kita. Di sisi lain, beberapa manusia terjebak pada masa lalu atas kesalahan yang ia perbuat. Taubat tentu membutuhkan penyesalan, sebab saat itu kita tengah memohon maaf pada Rabb yang paling tahu segala sesuatu. Tapi di sisi lain, jiwa kita juga butuh untuk dimaafkan oleh sosok yang paling dekat selain Rabb-Nya; diri kita sendiri.

Memaafkan akan memberi kita kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, dan tidak berhenti di satu titik. Dengan memaafkan, kita bukan hanya meringankan orang lain, tapi juga menyelamatkan diri sendiri. Pelajaran di tiga tahun terakhir memberi saya pandangan baru yang lebih komprehensif tentang memaafkan.

Istilah Forgiveness Therapy saya dapatkan dari Pak Asep yang seorang psikolog. Saya pertama kali berjumpa dengan beliau di sebuah workshop bertajuk Family Therapy. Hal yang paling saya ingat dari Pak Asep adalah tentang konsep memaafkan ini. Beliau pernah mengatakan, bahwa tubuh kita tidak akan pernah bisa berbohong. Reaksi yang muncul tidak lain menggambarkan kondisi kita yang sebenarnya. Jika saja dada kita masih terasa sesak, pundak kita masih terasa berat ketika mengingat sesuatu/seseorang, boleh jadi sebenarnya kita belum memaafkan sesuatu/seseorang tersebut.

Saya jadi mengilhami bahwa ternyata memaafkan butuh perjuangan. Sebab tak cukup hanya dari lisan saja, tapi membutuhkan usaha ekstra hingga hati benar-benar lapang. Ada banyak tipuan yang kita lakukan pada diri sendiri, mendoktrin diri bahwa "aku sudah memaafkan, kok". Tapi pada kenyataannya ternyata belum. Sebab kita masih menggebu, sebab intonasi suara kita masih sedemikian keras, sebab hati kita masih panas, dada kita masih terasa sesak, sebab air mata kita masih mendesak keluar. Memaafkan butuh perjuangan, dan sungguh itu tak apa-apa.

"Sepertinya aku belum berhasil memaafkan, tapi aku sedang berusaha melakukannya," ini terdengar jauh lebih baik.


Mengapa memaafkan menjadi penting? tidak lain adalah untuk diri sendiri. Jiwa yang tidak memafkan, baik sadar atau tidak, hanya akan menjadi motor dengan kekecewaan dan amarah sebagai bahan bakarnya. Kita mungkin akan mendapat apa yang kita targetkan, segala macam rencana yang kita canangkan, tapi ketenangan dan kebahagiaan hati takkan pernah bisa dimanipulasi. Setidaknya di hadapan diri kita sendiri.

Saya pernah mendapat cerita tentang seorang perempuan yang terjebak dalam hal ini. Ia marah pada ayahnya, belum bisa memaafkan apa yang sang ayah lakukan di masa lalu. Ayahnya suka memukul dan membentak, bahkan menyakiti si ibu di hadapannya. Ia kecewa dan marah. Hingga pada saatnya ia menikah dengan seseorang yang ia cintai. Aneh, tapi dia seringkali menangis tiap menghadapi sang suami, padahal ia aku bahwa suaminya baik luar biasa. Hingga si perempuan ini merasa heran, sebab entah bagaimana ia kerap takut dan marah pada suaminya sendiri. Ternyata, ada bayang-bayang sang ayah pada diri suaminya. Ada semacam gerak tangan suaminya yang mirip sekali dengan si ayah, yang membuat ia menangis tanpa terkendali. Ia sungguh masih menyimpan marah pada ayahnya, dan tanpa sadar hal itu menjadi bahaya bagi kehidupan rumah tangganya sendiri. Jadi bagaimana akhir ceritanya? bisa ditebak, ia belajar memaafkan masa lalu, belajar memaafkan ayahnya. Mudah? tentu saja tidak. Tapi perlahan bayang-bayang itu berkurang seiring waktu.

Allah Mahabaik. Dalam tiga tahun terakhir, selain ilmu dan teori yang saya dapat dari kelas, Allah berikan pula sarana untuk mengaplikasikan ini di beberapa kesempatan. Setelah trial and error serta proses jatuh-bangun hhe, ternyata ada rumus mudah untuk memaafkan orang lain. Apa itu? mendoakannya.

Ya, mendoakannya. Ini berlaku untuk siapapun, bahkan untuk seseorang yang telah tiada di dunia (sebab tidak sedikit orang yang belum memaafkan orang yang telah berpulang). Saya percaya bahwa doa adalah ekspresi paling tulus, sebab hanya diri dan Tuhan saja yang tahu. Ketika kita mendoakan seseorang yang kita rasa menyakiti atau mungkin menzalimi kita, saat itu pula kita mengangkat urusan kita pada Allah, menyerahkannya pada yang Mahakuasa. Bukankah baik diri kita maupun dirinya adalah makhluk ciptaan Allah yang masing-masing hatinya dibolak-balik oleh Allah?

Kalau kamu adalah pejuang memaafkan, cobalah mendoakannya. Doakan apa saja, doakan kebaikan-kebaikan untuknya. Doakan hatinya, doakan semoga dirimu dan dirinya mendapat hidayah. Doakan segala sesuatu, anggap saja di hadapan Allah kamu sedang merayu. "Yaa Allah, padanya yang kurasa menyakitiku, aku mendoakannya. Sungguh aku tidak mengharapkan apa-apa selain kasih sayang-Mu saja."

Sama halnya ketika kita berjuang memaafkan diri sendiri. Kadang ini justru sulit sekali dilakukan, sebab mata kita memang tercipta untuk melihat segala sesuatu di luar, bukan melihat diri sendiri. Di sisi lain, mata hati kita yang harusnya bisa memaknai lebih baik, jutsru seringnya lupa kita berdayakan untuk melihat diri sendiri.

Maka lihatlah, sampai hari ini, ada berapa banyak kebohongan kita pada diri sendiri? ada berapa banyak kesia-siaan yang kita lakukan hingga merugikan diri sendiri? apa kabar pula ragam penyakit hati yang kita cekoki hingga tanpa sadar menggerogoti diri kita sebagai pribadi? seberapa sering kata-kata cemooh tanpa sadar kita layangkan pada diri kita sendiri?

Sayang, cobalah sekali-sekali bercengkrama dengan diri sendiri. Izinkan ia punya sahabat baik, yaitu dirimu sendiri. Berterima kasihlah, maafkanlah, ajaklah ia berjuang sama-sama.


***

Pelajaran tentang memaafkan ini sungguh skill luar biasa. Sebenarnya, kalau saja kita mau belajar dari sejarah, sosok Nabi Muhammad Saw. telah menjadi sebaik-baik teladan dalam hal apapun termasuk dalam hal memaafkan. Jiwa beliau begitu besar, prioritas hidupnya jelas, sampai-sampai tak ada ruang dalam hatinya untuk menyimpan marah apalagi dendam. Serius. Coba tengok kisah beliau dengan penduduk Thaif yang melemparinya dengan batu tapi dibalas dengan doa. Tengok pula kisah beliau menghadapi petinggi kaum kafir Quraisy yang menyiksanya, bahkan hendak membunuhnya, tapi Rasul tetap berbuat baik. Apa yang menggerakkan dirinya sungguh bukan amarah, melainkan bentuk tanggung jawab atas tugas kenabian yang diembankan pada beliau. Lihat betapa Nabi Muhammad Saw. memuliakan orang-orang itu, provokator penyikasanya itu, ketika mereka pada akhirnya masuk Islam. Tak tanggung-tanggung, beberapa di antaranya bahkan diberi posisi terbaik. Harusnya jika kita mau, kita bisa meneladani beliau dengan memaknai bahwa tugas kita di dunia tidak lain adalah sebagai seorang hamba. Kita terlalu sibuk belajar menjadi hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur, sampai-sampai tak ada ruang bagi kita untuk tak memaafkan. Semoga kita bisa, ya. Semangat!

Begitulah memaafkan. Sekilas seperti upaya berbuat baik pada orang lain sebab kita telah memaafkannya. Padahal faktanya, memaafkan adalah perbuatan baik pada diri sendiri. Izinkan saya meminjam tagline buku Forgiveness Therapy karya Pak Asep, "Maafkanlah, niscaya dadamu lapang."


Buku Forgiveness Therapy

Daftar Isi Buku FT

Baik, cerita santainya sampai di sini dulu. Panjang sekali jika kita mau menjabarkan semua hal tentang memaafkan. Kalau kamu mau versi lengkap, bisa baca buku Forgiveness Therapy yang membahas tentang seluk-beluk memaafkan. 
Bagi kamu yang sedang berjuang memaafkan, percayalah, tidak ada sesuatu pun yang sia-sia. Semoga setiap inci usaha nan ikhtiarmu itu berbuah pahala di sisi Allah. Semoga Allah menghadiahkan kebaikan-kebaikan atas kesabaran dan jerih payahmu.

Salam hangat dari jauh, siapapun kamu. :)


Ditulis di Tangerang,
28 Juni 2020

Thursday, June 25, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Ta'aruf dengan Diri Sendiri

Mari kita cerita kilas balik, setelah sekian lama tidak melakukannya di sini. Belakangan di masa pandemi, agaknya tidak sedikit orang yang melakukan kilas balik atas perjalanan hidupnya. Yah, setidaknya saya menjumpai beberapa teman dan public figure yang tahu-tahu membagikan entah itu dokumentasi atau tulisan yang berbau memori. Barangkali memang, waktu yang biasa kita habiskan di jalan, di tengah macet, di keramaian, entah seberapa persen ada yang teralih pada kegiatan ini: kilas balik.

Tiga tahun terakhir, saya mendapat deret pelajaran yang pada hari ini saya temukan benang merahnya. Inti dari semuanya adalah tentang pentingnya mengenal diri sendiri. Klise sih ya, kayaknya anak-anak belasan tahun yang baru naik kelas kemarin pun sudah biasa mendengar kalimat ini; "kenalilah dirimu sendiri". Tapi di sini saya ingin cerita sedikit, tentang proses ta'aruf dengan diri sendiri yang ternyata sungguh tidak semudah kedengarannya.


Kata orang, semakin kita banyak tahu, semakin tahu bahwa diri kita tidak tahu banyak (nah pusing nggak? hha). Yah begitulah, dan saya pikir itu benar adanya. Ada banyak hal yang saya alami di tiga tahun terakhir. Kesemua pengalaman itu mengantarkan saya setidaknya pada tiga hal ini (dengan mengenal diri sendiri sebagai puncak utamanya):

1. Memaafkan
2. Memberi respons dan menentukan prioritas
3. Mengenali diri sendiri

Setelah saya pikir-pikir sekarang, bangku kuliah seperti sebuah ilmu pengantar. Dengannya saya jadi punya bekal tentang teori dasar, melihat fenomena secara makro, dan tahu akan risiko serta tantangan apa saja yang mungkin dialami. Oh iya, saya kuliah di IPB, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), kemudian lanjut ke Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak (IKA) silakan cek di sini kalau mau tahu lebih dalam.

Bersyukur sekali bahwa di bangku kuliah, saya belajar tentang keluarga. Karena biar bagaimana pun, setiap kita dilahirkan dan jadi bagian dari sebuah keluarga. Siapapun, sebenarnya membutuhkan ilmu ini (minimal ilmu-ilmu yang sifatnya aplikatif). Bangku kuliah memberikan landasan keilmuan bagi saya, sehingga apa yang saya dapat di kemudian hari lebih mudah diproses, sebab ada prior knowledge dari guru-guru kami sebelumnya. Bangku kuliah secara gamblang menjadi perantara bagi saya menapaki kelas-kelas berikutnya dengan ruang lingkup yang lebih personal dan lebih privat dalam diri manusia.

Alhamdulillah Allah beri kesempatan saya mengikuti beberapa kelas lain sembari menyelesaikan studi. Sebagian gratis, sebagian lagi berbayar, dan sebagian yang lain dibayari oleh orang-orang baik (terima kasih tulus, semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat). Menarik sekali, sebab ternyata apa yang saya pelajari benar-benar saya rasakan sangat bermanfaat. Pertama dan utama, khususnya untuk diri sendiri. Iya, lebih banyak disimpan sendiri atau kalau ada yang bertanya saja. Bagi saya, pelajaran ini terlalu sensitif, apalagi saya juga belum bisa mengaplikasikannya secara utuh dan sifatnya yang sangat personal. Rasanya berbeda sekali ketika harus menyampaikan ilmu eksakta dibandingkan dengan menyampaikan ilmu seperti ini. Iya, lebih banyak takutnya, hhe.

Namun beberapa waktu lalu, kuliah bersama Ust. Budi Ashari dalam reuni keluarga Akademi Qur'an Al Fatih jelas menampar saya. Beliau katakan bahwa tingkatan orang berkaitan dengan ilmu dan amalnya ada tiga. Pertama adalah naqiyyah. Ibarat tanah yang bisa menahan air, ia lantas menumbuhkan tanaman dalam jumlah banyak hingga siapa saja bisa memperoleh manfaat darinya, keilmuannya berkah hingga mengalirkan kebaikan bagi makhluk hidup yang lain. Kedua adalah ajadid. Ibarat tanah yang bisa menahan air, bermanfaat pula untuk orang lain, tapi hanya sekadarnya saja. Sebatas orang lain mengambil ilmu darinya namun tak benar-benar berkarya. Yang ketiga, yang semoga kita tak termasuk perumpaan ini, adalah qi'an. Ibarat tanah yang jangankan menumbuhkan tumbuhan, menampung air pun ia tak mampu. Ia tak punya ilmu, pun tak punya karya.

Karena saya juga takut jadi bagian dari orang-orang di nomor tiga itulah, tulisan ini dibuat. Yah, mau bagaimana lagi. Toh latar keilmuan saya memang ini, jadi tak ada pilihan lain. Daripada menyampaikan ilmu yang lebih jauh lagi dari kapasitas, kan? Jadi mari kita cerita-cerita santai tentang tiga hal utama tadi; memaafkan, memberi respons dan menentukan prioritas, serta mengenali diri sendiri (dengan sesekali disangkutpautkan dengan keilmuan keluarga, ya). InsyaaAllah akan ditulis di postingan berikutnya.

Ayo belajar sama-sama. Tentu bukan tanpa alasan Allah menggerakkan segenap inderamu hingga kamu dengan sukarela membaca tulisan ini sampai di sini. :)



Ditulis di Tangerang,
Pada 23 Juni 2020

Thursday, March 5, 2020

Jas Hujan dan Daya Tahan

Bogor nyaris hujan setiap sore. Apalagi di musim hujan begini. Begitu juga kemarin sore, ketika aku dalam perjalanan ke rumah Kakak. Jarak yang perlu ku tempuh memakan waktu sekitar 45 menit.

Sepanjang perjalanan, aku mendapati banyak orang yang menggunakan macam-macam jas hujan. Mulai dari jas hujan yang terbuat dari plastik tipis transparan dan biasa kutemui di pinggir jalan atau minimarket seharga sepuluh ribuan, hingga jas hujan dengan bahan yang lebih tebal, dengan berbagai warna dan model yang kini semakin beragam.

Beberapa waktu sebelumnya, aku mendapati percakapan seperti ini.

"Bapak ada jas hujan?"

"Ada, Neng. Tapi jas hujan yang biasa."

Mengingatnya sore itu, membuatku berpikir. Seperti apa sih jas hujan yang biasa dan jas hujan yang tak biasa? Lalu perjalanan sore itu memberiku jawaban. Awalnya, aku berpikiran, "Yah, pada akhirnya fungsi jas hujan sama-sama melindungi pemakainya dari guyuran air hujan, kan? kalau sedang hujan begini, sepertinya sama saja mau pakai jas hujan yang manapun."

Tapi pemikiran itu seketika beralih, begitu mendapati beberapa pengendara sepeda motor menggunakan berbagai jas hujan. Ada seorang bapak dengan jas hujan ponco tipis berwarna hijau, ada pula pengendara lain dengan jas hujan berwarna oranye menyala yang terlihat lebih tebal.

Aku serta-merta merasa temukan jawabannya.

Daya tahan. Benar jika hanya dalam satu waktu aku melakukan penilaian, katakanlah aku menilai beragam jas hujan sore itu pada saat itu juga, mungkin aku akan memberi penilaian yang sama antara jas hujan tipis dan "biasa" dengan jas hujan berbahan plastik tebal yang bisa ditebak harganya pun akan lebih mahal. Toh keduanya sama-sama menjalankan fungsi dengan baik; melindungi penggunanya dari deras air hujan. Tapi semuanya akan jadi berbeda jika aku melakukan penilaian atas daya tahannya, dalam kurun waktu tertentu. Iya, kan?

Boleh jadi, keberfungsian dua jas hujan itu akan sangat berbeda. Misalkan saja jas hujan berbahan plastik tipis, penggunaannya mungkin tak akan lebih lama dari jas hujan dengan bahan parasut yang lebih tebal. Mungkin jas hujan tipis itu hanya kuat dipakai beberapa kali pemakaian, sebab ia mudah tergores dan sobek. Tak heran, biasanya jas hujan jenis ini diperuntukkan bagi keadaan darurat dan dijual dengan harga murah. Adapun jas hujan yang lebih baik kualitasnya (dan biasanya juga lebih mahal) mungkin dapat digunakan lebih lama dan berkali kali, juga tak mudah sobek. Daya tahan lah yang membedakan keduanya.

Setengah perjalanan menuju rumah Kakak, aku kembali berpikir demi memperhatikan rintik hujan yang membasahi jalanan, membasahi banyak kendaraan, juga menerpa wajah-wajah manusia yang tengah beranjak pada satu tujuan, termasuk aku.

Seperti jas hujan, mungkin di dunia ini memang ada orang-orang dengan daya tahan yang berbeda. Kita tentu akan menjumpai banyak orang baik. Banyaak sekali. Mungkin kita bisa memohon bantuan pada beberapa orang berbeda, dan mereka akan dengan sukarela membantu kita. Mungkin kita akan melakukan kesalahan pada beberapa orang lainnya, dan kesemuanya akan dengan tulus memaafkan kita. Tapi segalanya bisa jadi berbeda jika kita melakukan pengulangan terus-menerus pada orang yang sama. Seperti jas hujan yang memiliki daya tahan, manusia pun barangkali demikian.

Pada permohonan dan permintaan maaf atas kesalahan kita yang pertama, mungkin ia akan dengan tulus menerima dan memaafkan. Begitu juga pada permohonan dan kesalahan kita yang kedua dan yang ketiga. Namun pada yang keempat dan yang seterusnya? barangkali ia mulai tak peduli dan tak acuh. Mungkin benaknya seolah berkata pada kita, "Sudahlah, terserah kamu saja."

Jadi cobalah perhatikan, adakah seseorang yang padanya kita berkali-kali meminta bantuan, berkali-kali melakukan kesalahan dan meminta maaf, tapi ia begitu sabar, begitu luas penerimaannya?

Adakah seseorang yang padanya hujan air mata kita berkali-kali tumpah, tapi jas hujan miliknya sedemikian hangat mendekap, tak bosan dan tak goyah?

Jika ada, bersyukurlah.
Jika merasa tak ada, mungkin kita lupa bahwa selama ini kita punya Dia. :)

_______________________________________________

Kemudian aku menemukan postingan dan tulisan berbahasa Inggris ini di akun instagram @thepractisingmuslimah tadi pagi, dan sepertinya relevan sekali.
"No one wants to hear about your problems, grievances and heartbreaks after the first few times. They think you are being too repetitive, that you are stuck on the same page, they get bored of listening to you, they will probably even blame you because you cannot stop overthinking.

But guess who never gets tired of listening to your problems even after having heard them thousands of times or more while also knowing exactly what you are going to say word for word?

No one except your Lord.

Your salah is your personal time with your Creator, five times, every single day. It is the only place where you place your problems and find all kinds of solutions. Do not let it be a mindless routine or worse, don't miss it.

Talk about your problems to Him instead of people. Vent to Him. Get it all out in front of Him. There is no place else where you can be so vulnerable and still feel safe except with Him. Allah never gets tired of listening to you, the question is are you willing to talk to Him?

Start looking at your salah as a blessing instead of burden, it makes all the difference."


Ditulis pada 20 Februari 2020, 12.30 WIB

Tanpa Punya Daya

Petang itu saya kembali ke rumah, meski pagi harinya baru saja tiba di Kota Bogor. Namun kabar duka menggiring langkah saya untuk kembali pulang. Ada salah satu dari keluarga besar kami yang tutup usia.

Siangnya, pemberitaan tentang virus corona tengah menyeruak. Baru saja bapak presiden mengkonfirmasi bahwa ada dua warganya yang positif terkena virus asal China tersebut. Perjalanan pulang saya sore itu jadi agak berbeda dari biasanya.

Saya memang biasa mengenakan masker jika tengah dalam perjalanan. Tapi kala itu, pengguna masker jauh meningkat pesat. Di dalam bus, di jalanan, bahkan saya menemui pedagang kaki lima yang berjualan dilengkapi dengan masker. Tidak bisa bohong, mental saya sempat ciut. Seolah tengah memasuki jalan-jalan yang belum pernah saya lalui sebelumnya, padahal nyaris setiap pekan saya melewati jalan itu.

Ada suasana yang berbeda. Kala itu penumpang bus tidak saling bicara, sampai ketika saya nyaris tiba di tujuan, seorang bapak masuk sambil lantas mengambil posisi duduk di sebelah saya. Saat itu saya sedang dalam kondisi berduka, dan agaknya pikiran saya juga sedikit berantakan. Lebih-lebih menyaksikan keanomalian perilaku orang-orang di sepanjang jalan akibat ramainya pemberitaan tentang corona.

"Penuh banget, jadi saya mau ke Bogor naik dari sini aja," begitu ujar si Bapak. Saya hanya mengangguk sambil menjawab pelan.

"Oh, iya Pak," timpal saya dari balik masker.

"Iya ini saya udah satu jam mbak nungguin, penuh terus bisnya. Jadi saya mundur harus naik dari sini supaya dapat kursi. Kalau dari Bogor sih lancar, sepi ya?" bapak itu menyahuti saya, tampak ingin sekadar mencurahkan lelahnya atas penantian bis menuju Bogor.

"Ooh.. iya Pak, kosong kalau dari Bogor," jawab saya sekenanya. Bapak itu lantas merogoh kantong, lalu mengeluarkan sebuah masker.

"Udah ada dua ya di Depok," gumamnya lagi. Saya mengangguk. Tidak ada penjelasan lebih lanjut, tapi agaknya kami sama-sama tahu apa yang tengah kami perbincangkan.

"He eh, iya Pak," saya menanggapi singkat.

Malam itu, begitu sampai rumah dan membersihkan diri, saya menuju rumah duka yang letaknya persis di samping rumah kami. Menjumpai banyak wajah-wajah keluarga yang tanpa saya sadari sudah tak sama lagi seperti belasan tahun lalu, kala saya masih duduk di bangku ibtidaiyah. Sudah banyak berubah, tentu saja.

Saya ingat, malam-malam sebelumnya suara Baba dari rumah sebelah masih terdengar dari rumah kami. Tapi kini sudah tak ada, dan beliau berpulang. Beliau adalah pamannya Ayah; adik dari almarhum kakek saya.

Pada pagi keesokan harinya, pemakaman baru dilakukan. Saya ikut tiba di pemakaman keluarga, menyaksikan telah ada beberapa nisan yang telah lebih dulu menetap. Salah satu yang sungguh membuat saya ingin pulang dan menyaksikan pemakaman Baba adalah, karena saya telah beberapa kali kehilangan momen ini. Beberapa kali saya tidak ada di rumah ketika bagian dari keluarga besar kami berpulang. Bukan hanya satu-dua kali, hingga tak jarang saya dibuat bingung jika momen lebaran tiba. Saya lupa kalau beberapa dari beliau telah tiada, dan saya masih mencari-cari sosoknya.

Saya benar-benar lupa.

Pemakaman Baba hari itu menyisakan perenungan yang tidak sedikit. Saya ikut sedih melihat Nyak sedih. Tapi Nyak tabah sekali, bahkan masih sempat menyapa cucu kesayangannya di tengah persiapan pemakaman. Saya memperhatikan satu per satu wajah paman, bibi, bahkan kakak dan orang tua saya sendiri. Terbesit pertanyaan di sela-sela proses pemakaman itu.

“YaAllah, jika pada akhirnya kami sesedih ini sebab berpisah, untuk apa kami dipertemukan di dunia?”

Tapi pertanyaan itu tak bertahan lama, sebab dari dalam sana, meski terdengar sayup, terdengar ada suara yang menjawab.

“Itulah mengapa, bukankah sudah dikatakan bahwa dunia hanya tempat ujian? Harusnya manusia tak mencari apa-apa selain ridho-Nya saja.”

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kematian bukan untuk dirisaukan, sebab datangnya memang pasti. Ketidaksiapan diri lah yang harusnya lebih layak untuk dirisaukan. Sebab harusnya, jika kita yakin dengan sebenar-benar yakin bahwa Allah Mahakuasa, bahwa ada kehidupan kekal nanti di akhirat, kita tak akan risau sedemikian rupa.

Apa-apa yang telah Allah takdirkan, akan terjadi. Apa-apa yang tidak Allah takdirkan, takkan pernah terjadi. Dan segala sesuatu yang berasal dari Allah untuk hamba-Nya, tak pernah ada yang membuat rugi.

Mahabesar Allah Yang Maha Mengetahui Segala Isi Hati.

Sumber

Kemudian pada rupa-rupa ujian yang kita rasa berat, ada nasihat manis dari seseorang. Bagi saya, ianya sebagai pelengkap pada edisi menampar diri sendiri untuk kali ini:

"Apapun, jalani dengan berusaha ikhlas dan ridho. Allah nggak mungkin ngasih sesuatu yang buruk kan buat hamba-Nya? kalau dirasa berat, itu supaya kita ingat kalau nggak ada manusia yang berdaya, dan kita lemah tanpa minta kekuatan ke Allah."


Ditulis di Bogor,
pada 4 Maret 2020, 16.33 WIB

Berawal dari Masjid

"Masjidnya bagus ini," ujar seorang bapak yang baru saja aku temui ketika hendak pulang usai mengajar hari itu.

"Oh iya ya Pak?" aku menoleh ke arah masjid yang dimaksud. Memperhatikan sekilas. Bagus memang. Temaram lampu menghiasi batang-batang pohon di sekitarnya.

"Masjid baru. Bagus, tapi sayang kalau malam masjidnya dikunci," ujar si bapak lagi. Aku mengangguk-angguk.

"Oh saya baru tau Pak, jarang lewat sini sih."

"Habis kuliah?"

"Bukan, Pak. Saya habis ngajar bimbel."

"Ooh.. iya Neng, masjid itu kalau malam dikunci. Sayang sekali kan. Alasannya sih takut ada maling atau apa lah, tapi harusnya masjid itu terbuka. Kan tempat ibadah."

"Punya pribadi mungkin ya, Pak?" aku belum bisa menebak arah perbincangan kami.

"Ya tetap aja harusnya nggak dikunci meski yang membangun pribadi. Kalau perlu dilengkapi sama security. Barangkali orang mau i'tikaf atau apa di masjid," terdengar ia begitu bersemangat. Suaranya menggebu melawan bising suara kendaraan di jalan raya.

Obrolan kami kemudian berlanjut, membahas fenomena masjid yang saat ini tak sedikit seolah hanya jadi tempat wisata untuk foto-foto. Padahal ia punya fungsi luar biasa, tempat ibadah, tempat belajar.

"Pokoknya dalam hidup ini mah Neng, yang penting itu tauhid. Beres udah. Saya ini dulunya mualaf. Baru bener-bener belajar Islam enam tahun belakangan. Baru bisa azan, baru berangkat solat ke masjid. Zaman sekarang orang udah aneh-aneh aja, mimpi dikit, dibilang dapat wahyu dari Allah. Aduh jangan percaya Neng sama yang begitu-begitu!" ujarnya. Mungkin mengigat fenomena raja-rajaan yang sempat marak awal tahun lalu.

Kemudian dengan semangatnya, bapak usia 46 tahun itu bercerita pengalaman beliau belajar Islam. Ia dibesarkan sebagai non-muslim, hingga memilih untuk masuk Islam ketika duduk di bangku SMA. Ia belajar tentang Islam dari salah seorang guru, sampai pada satu titik gurunya tersebut meninggal dunia dan hidupnya morat-marit, berantakan. Ia kehilangan sosok yang menuntunnya.

"Ya begitu Neng, udah jatuh banget hidup. Berantakan. Jalanin agama seadanya aja."

Sampai pada suatu ketika, beliau jatuh sakit. Kakinya bengkak dan bernanah, tak kuasa berjalan.

"Satu tahun Neng, Bapak nggak bisa jalan. Duh waktu itu susah banget, udah segala macam obat dicoba. Mulai dari dokter sampai yang katanya orang pinter, tapi nggak ada yang bikin sembuh," tuturnya.

"Kakinya kok bisa sakit begitu, Pak?" tanya saya.

"Iya digigit kalajengking. Rumah Bapak dekat pabrik, lembab. Pas tidur di bawah, terus digigit kalajengking."

Segala upaya sudah beliau coba, tapi hasilnya nihil. Sudah nyaris putus asa dan mengira selesai lah riwayat hidup kakinya, dan ia takkan bisa berjalan lagi. Sampai suatu ketika, salah seorang kawan berkunjung menjenguknya.

"Sampai temen Bapak ada yang jenguk. Terus dia ini nasihatin Bapak, 'Apa yang kamu alami bisa jadi cara Allah nunjukin kasih sayang-Nya'. Kalau nggak begitu, mungkin Bapak lupa sama Allah, makin jauh sama Allah," kenangnya.

"Ternyata bener, Neng. Mau kita usaha macem-macem, mau beli obat mahal pun, kalau Allah nggak kasih sembuh ya nggak bakal sembuh. Tapi sebaliknya kalau Allah udah kasih, mau kita cuma pake obat murah, mau kita berobat seadanya, ya tetep bisa sembuh. Tugas kita cuma ikhtiar. Bener Neng, akhirnya atas izin Allah Bapak sembuh. Padahal cuma pake obat murah."

Beliau juga menyampaikan bahwa selama satu tahun sakit itu, ia seperti menemukan cahaya yang sudah lama hilang; belajar Islam.

"Umur 40 tahun, kalau kata orang mah udah ketuaan. Tapi bener banget, Neng. Kalau Allah mah nggak begitu. Kalau Allah bilang jadi, maka jadilah. Kalau Allah mau ngajarin ilmu, ya diajarin ga peduli usianya berapa," sampai disini, beliau membacakan ayat Al-Qur'an.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sekarang Bapak emang udah nggak muda, tapi semangat Bapak nggak kalah sama yang muda-muda. Malah suka aduuh, geregetan Neng kalau liat anak muda zaman sekarang pada males kerja. Maunya dapat duit tapi kerjanya males."

"Wah saya dong Pak, anak muda zaman sekarang. Jadi kesindir Pak," aku tertawa kecil.

"Yaa ini mah Bapak ngomongin anak muda yang laki-laki Neng, terutama. Anak laki itu kan nanti jadi pemimpin, jadi kepala keluarga," timpalnya.

Beliau kemudian melanjutkan ceritanya.

"Suatu hari Bapak denger azan dari masjid. Seumur-umur, meski udah mengaku Islam, Bapak nggak pernah kepikiran sebenernya azan itu apa. Nggak ngerti azan. Nggak paham. Tapi habis itu Bapak ke masjid. Begitu aja tahu-tahu Bapak bisa azan," ia diam sejenak. Aku bisa menangkap sinyal haru dari beliau.

"Nggak ada yang mustahil bagi Allah, Neng. Sekarang Bapak bersyukur banget pernah sakit. Ternyata itu caranya Allah nolongin Bapak supaya kembali ngaji, kembali ke jalan yang bener."

Aku tidak banyak bicara. Memberi ruang seluas-luasnya untuk beliau bercerita dan memberikan nasihat. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya, tapi kehadiran beliau sesaat sebelum aku pulang usai mengajar hari itu benar-benar sesuatu sekali. Seolah Allah tengah memberi pelajaran langsung, usai aku menyampaikan pada anak-anak didikku tentang ujian dan tentang mensyukuri apa yang Allah beri.

Ya, bahan ajarku hari itu adalah tentang menghadapi ujian. Baru saja aku mendiskusikan tentang ujian-ujian yang dihadapi para Rasul Ulul Azmi, baru saja menjawab pertanyaan anak-anak SMP itu seputar bagaimana cara bersyukur di tengah ujian yang menghadang. Persis setelahnya akulah yang mendapat jawab dari tanya-tanya milikku, melalui beliau.

"Bapak tuh dulu kalau ngeliat orang yang Bapak nggak suka, rasanya muak bener, pengen muntah aja bawaannya. Kesel. Tapi habis belajar Islam, habis belajar tauhid, ternyata nggak begitu. Harusnya kita doain. Bahkan kalau dia itu orang yang menzalimi kita."

"Iya ya, Pak..."

"Iya, Neng. Doain biar diri kita sama dia dapat hidayah. Itu pas Bapak praktekkin, rasanya enak banget. Daripada hati kita jadi nyimpen penyakit, mendingan jadi doa. Kalau udah minta sama Allah, Allah akan kasih yang terbaik buat kita. Sekarang jadi Bapak kalau ngeliat orang yang asalnya nyebelin, bukan jadi marah atau benci. Jadinya malah kasihan, Neng." lanjutnya diiringi tawa. Aku mencatat nasihat-nasihat beliau di kepala.

Tak lama kemudian, perbicangan kami usai. Kuucapkan terima kasih sebelum kemudian permisi.

Kan sudah ku bilang, Allah selalu saja punya cara. Aku tak pernah menyangka pesan-pesan berharga itu akan ku dapat dari orang yang tak aku kenal, tak ku tahu siapa, dan tak pernah aku bertukar sapa sebelumnya.

Terima kasih banyaak, Bapak!
Jazakallahu khaiir.
Alhamdulillah bini'matih tatimussaalihaat. ^_^

Sumber

Ditulis pada 19 Februari 2020, 14.00 WIB

Sunday, February 23, 2020

Di Sebuah Ruang yang Selama Ini Kita Sembunyikan

Manusia adalah makhluk dengan rupa-rupa emosi yang beragam sekali. Kita bisa menjabarkan perasaan senang menjadi rasa bangga, optimis, tertarik. Kita bisa merincikan perasaan sedih menjadi kesepian, rentan, depresi, menyesal. Kita juga dengan ajaibnya, memiliki macam-macam rasa marah mulai dari cemburu, terhina, hingga frustasi.

Saking beragamnya, sampai kadang-kadang kita dibuat bingung atas apa yang sebenarnya tengah kita rasakan, emosi seperti apa yang sebenarnya sedang meliputi diri kita. Maka istilah harap-harap cemas dan mau tapi malu barangkali tak heran jadi ada. Begitu juga dengan ekspresi menangis sambil tertawa, atau tertawa sambil menangis. Kerumitan yang hadir sebab emosi dalam diri manusia.

Tapi yang pasti, manusia secara fitrah memiliki banyak sekali keinginan. Ekspektasi yang tidak hanya ada terhadap orang lain, tapi juga terhadap dirinya sendiri. Bahkan kepada macam-macam hal yang terjadi padanya sehari-hari.

Di sebuah ruang yang selama ini kita sembunyikan, ternyata ada berbagai emosi yang terkumpul. Sayang ia ibarat singa tidur. Jika terusik, aumannya mampu meretakkan sudut-sudut ruang. Amukannya bahkan bisa meluluh lantakkan berlapis benteng yang sudah susah payah kita bangun. Ironis, sebab selama ini kita menyembunyikannya bukan untuk tak terlihat orang lain, melainkan supaya tak terlihat oleh diri sendiri. Singa tidur yang malang sekali. Oh bukan, mungkin kitalah yang sebenarnya patut dikasihani.

Tapi begitulah namanya manusia. Kadang terlalu betah berlama-lama menyembunyikan campur aduk emosi yang entah ia sadari atau tidak, lantas mengganggu kesehariannya. Ini tentu bukan tentang rahasia. Sebab, hei, siapa pun berhak punya rahasia, kan? Jadi tak masalah. Tapi ini tentang manusia yang untuk membohongi dirinya sendiri, ia sedemikian tega. Ia tertatih menciptakan fakta-fakta baru, memanipulasi emosi, menyembunyikan singa tidur yang entah jumlahnya ada berapa.

Lalu tanpa disadari, singa-singa tidur itu menjelma menjadi musuh bagi dirinya sendiri. Menyerang pertahanan dirinya dari dalam. Mengerikan sekali.

Sumber Gambar
Maka kepada kita, manusia, lepaskanlah. Apa-apa yang belum termaafkan, maafkanlah. Apa-apa yang membuat sesak, rasakanlah. Sungguh tak apa. Hingga perlahan kesesakan itu menjelma jadi bukan apa-apa, sebab kita telah menerima tanpa perlu bersandiwara. Penerimaan dari diri sendiri amat berharga, dan kita lebih dari layak untuk mendapatkannya.

Kita adalah manusia, makhluk dengan rupa-rupa emosi yang beragam sekali. Jadi tak perlu khawatir. Kita memang tak sempurna, tapi kita punya As-Shamad, Penguasa yang Mahasempurna dan Segala Sesuatu Bergantung Kepada-Nya. :)


Ditulis di Bogor,
Pada 7 Februari 2020, 12.08 WIB

Karena Ibu Perempuan

"Ibu masih suka marah. Ya begitulah ibu. Tapi gak apa-apa, ibu kan perempuan, dan aku tahu perempuan itu bengkok. Jadi berbakti aja sebagai anak, pelan-pelan.."

***

Mataku tertahan di lembar responden yang satu itu. Enggan berpaling. Kuulangi lagi membacanya perlahan dari pertanyaan tertutup, mendalami kembali jawaban-jawaban si responden usia belasan tahun itu tentang pengasuhan yang dilakukan ibunya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku. MasyaaAllah, keren!

Jawaban dari anak laki-laki itu adalah salah satu yang paling kuingat hingga hari ini. Atau mungkin nyaris satu-satunya yang kuingat. Sebagai tugas akhir kuliah, aku meneliti tentang pengasuhan spiritual, metode sosialisasi orang tua, kualitas lingkungan sekolah, serta hubungan dan pengaruhnya terhadap kecerdasan spiritual remaja di Jakarta. Sebenarnya aku melanjutkan penelitian S1 dengan topik serupa, hanya sedikit berbeda di pemilihan variabel dan perbandingan sekolah.

Di jenjang S1, aku coba mencari tahu perbandingan antara empat sekolah di Tangerang Selatan dengan karakteristik berbeda, ada yang berasrama dan tidak berasrama. Adapun ketika merampungkan tugas akhir pascasarjana kemarin, aku memilih dua sekolah, SMA dan MAN yang sama-sama berlokasi di ibu kota.

Sebenarnya, data yang aku kumpulkan berupa pertanyaan tertutup. Tapi aku sengaja memberikan pertanyaan terbuka di bagian akhir kuesioner. Tidak untuk diolah sebab penelitianku kuantitatif, melainkan sebagai informasi tambahan dan pemenuhan rasa ingin tahuku sebagai peneliti. Hanya dua pertanyaan, menanyakan secara umum bagaimana pendapat responden tentang pengasuhan dan metode sosialisasi yang ayah dan ibunya masing-masing lakukan.

Lalu aku menemukan jawaban ini dari sekian banyak jawaban. Jawaban dari seorang anak laki-laki kelas sebelas SMA ketika kuminta berpendapat tentang pengasuhan yang ibunya lakukan.

"Ibu masih suka marah. Ya begitulah ibu. Tapi gak apa-apa. Ibu kan perempuan, dan aku tahu perempuan itu bengkok. Jadi berbakti aja sebagai anak, pelan-pelan.."

Aku tidak pernah menyangka akan mendapat jawaban demikian. Saat itu, rasanya ingin sekali bertanya pada si adik responden, siapa yang mengajarinya, darimana ia mendapatkan konsep seperti itu. Tapi urung sebab keterbatasan waktu. Aku mencerna lagi jawaban-jawabannya pada kuesioner pengasuhan dan metode sosialisasi. Begitu diukur, persepsinya tentang pengasuhan dan metode sosialisasi yang sang ibu beri memang tidak bisa dikatakan baik, tapi juga tidak terlalu buruk.

Memang, dari dua ratusan responden tidak sedikit yang seolah mengeluhkan orang tuanya seperti ini atau seperti itu. Meski kabar baiknya, jauh lebih banyak lagi yang bersyukur atas perlakuan orang tua kepada mereka. Namun jawaban unik seperti yang tengah aku ceritakan disini sangat bisa dihitung jari. Terbatas sekali.

Aku tidak akan membahas tentang penjabaran salah satu hadits yang menyebutkan tentang "bengkok" nya perempuan. Itu tentu bukan kapasitasku. Silakan tanya atau cari tahu pada ahlinya. Tapi selama ini, pesan yang seringkali lalu-lalang kudapati lebih sering menyorot bengkoknya perempuan sebagai istri. Jarang sekali aku menemukan penjabaran tentang bengkoknya perempuan dengan sudut pandang perempuan itu sebagai ibu, sebagai kakak atau sebagai adik.

Jawaban respondenku sendiri lah yang berhasil menghadirkan pandangan baru ini. Oh iya, benar juga! bahkan untuk aku yang perempuan, ini memberi pemahaman lebih, bahwa diriku sendiri memang punya fitrah "bengkok" itu. Supaya sadar dan lebih mengenal diri.

Aku sama sekali tidak bertutur tentang bengkoknya perempuan yang seringkali disalahpahami membuat ia otomatis berada di bawah laki-laki secara kedudukan. Menurutku, kita tidak bisa mengatakan bahwa laki-laki lebih baik dari perempuan atau sebaliknya (kecuali kalau diperinci, misalnya dalam membaca peta laki-laki umumnya lebih baik, tapi dalam mencari benda perempuan umumnya jauh lebih unggul. Atau fakta lain yang memang menyebutkan bahwa laki-laki lebih mampu berpikir secara logis dan global, sedang perempuan umumnya lebih detail dan mengandalkan perasaan). Toh pada akhirnya, masing-masing memiliki fitrah, peran, juga ranahnya sendiri. Allahu a'lam.

Yang ingin aku tekankan, lebih pada respondenku yang menjawab demikian. Sebagai anak dan sebagai laki-laki, kukira ia memiliki pemikiran yang cukup matang dibandingkan teman-teman seusianya saat itu. Ia berhasil melewati pagar persepsi bahwa dirinya adalah anak, menuju posisi yang lebih jelas, yaitu bahwa dirinya adalah seorang anak yang tengah menghamba pada Rabb-nya.

Terima kasih yaa, Dik!

Sumber Gambar

Catatan 1: Aku tidak ingat persis satu per satu tulisannya, tapi redaksi jawaban si adik responden kurang lebih demikian.

Catatan 2: Informasi tentang fitrah dari masing-masing kita baik untuk dijadikan alat bantu dalam memahami diri sendiri dan orang lain. Tapi tentu sangat tidak apik jika dijadikan sebagai alat pembenaran pribadi.


Ditulis di Bogor, pada 6 Februari 2020, 11.42 WIB

Telepon Umum

Sebelumnya, aku ingin tanya beberapa hal. Kapan terakhir kali kamu menggunakan telepon umum? mungkin sudah lama sekali, ya? Lalu kapan terakhir kali kamu merasakan rindu? mungkin kemarin lusa, atau barangkali sekarang kamu tengah merasakannya.

Aku sedang rindu, dan tiba-tiba saja teringat akan telepon umum. Dulu, mungkin sembilan atau sepuluh tahun lalu, telepon umum adalah salah satu benda favoritku. Ia ada di sisi tembok pos satpam sekolah, dan kehadirannya membuatku sering-sering mengumpulkan recehan. Supaya begitu jam sekolah selesai, aku bisa bergegas menuju padanya dan menelepon siapa saja yang aku rindu. Jadi jangan heran, dulu aku menyimpan satu lembar kertas berisi nomor-nomor penting untuk kutelepon melalui telepon umum.

Seru, ya. Dahulu rindu membutuhkan usaha lebih, setidaknya perlu berjalan kaki menuju telepon umum. Harap-harap cemas menunggu waktu pulang sekolah hanya untuk sekadar bertukar sapa. Aku masih ingat beberapa percakapan di telepon umum, dengan orang tua, dengan saudara, juga dengan beberapa teman. Sebenarnya di sekolah berasrama kami saat itu, bisa sih mengakses telepon genggam. Tapi hanya pada akhir pekan, dan sangat terbatas sebab hanya tersedia tiga gawai untuk diakses puluhan orang. Aku terlalu tak sabar menunggu akhir pekan. Oh iya, satu lagi. Jangan kira gawai kami saat itu punya aplikasi seperti WA, Line, atau apalah yang bisa video call. Tidak. Kami masih modal SMS dan telepon.

Tapi sejak tingkat dua dan di akhir-akhir waktu sekolah saat itu, telepon umum mulai jarang digunakan. Aku juga sudah lupa kapan keduanya mulai tidak berfungsi. Perkembangan teknologi juga barangkali memengaruhi. Kalau ada keperluan mendesak, kami mulai meminta bantuan pada wali asrama untuk berkomunikasi, biasanya untuk menghubungi orang tua.

Jika pada saat itu saja rindu membutuhkan usaha lebih, apalagi dulu sekali ya, ketika orang tua kita masih di bangku sekolah. Jangankan telepon rumah apalagi gawai yang kini merajalela. Barangkali bertukar surat melalui pos adalah bentuk komunikasi termewah pada masanya.

Kadang kemudahan memang membuat kita nyaris kehilangan makna. Hari ini, di tengah mudahnya alat komunikasi, kapan terakhir kali kita melepas rindu? apakah cukup hanya dengan melihat-lihat laman sosial medianya? apakah cukup hanya dengan melihat status terbaru saudara atau keluarga kita? atau mungkin diam-diam menuliskan nama beberapa teman lama kita di mesin pencarian?

Jangan-jangan kita semua adalah orang yang tengah rindu, tapi lupa caranya bertukar sapa. Kita terlalu sok tahu untuk mengetahui kabar seseorang hanya dengan menerka-nerka. Kita terlalu takut memulai pertanyaan "apa kabar" karena terdengar basa-basi sekali sebab kita nyaris setiap hari melihat postingan media sosialnya. Kita menganggap terlalu kaku untuk menanyakan kondisi kesehatan seseorang, sebab dia baru saja ikut berkomentar di salah satu grup daring dan kita tebak bahwa dia pasti baik-baik saja.

Jangan sampai teknologi membuat hari-hari kita jadi hilang makna. Mengapa tak memulai lagi untuk saling bicara?

Iya, bahkan pada orang-orang terdekat kita. Seperti orang tua, misalnya. :)

Sumber Gambar
Ditulis di Bogor, pada 5 Februari 2020, 14.57 WIB

Saturday, February 22, 2020

Di Tangga Turun

Siang itu, aku hendak menaiki tangga untuk transit naik kereta. Mungkin ada sekitar dua puluh anak tangga yang harus kutempuh, dan setelahnya aku harus turun lagi sebab hanya hendak berpindah peron. Perjalanan masih panjang, karena nantinya aku masih perlu transit lagi. Tapi siang itu jauh dari kata melelahkan. Selain karena hendak menemui kawan yang sudah dua tahun tak bersua, aku mendapati akhir pekan Jakarta tengah gerimis manis nan romantis. Belum lagi bawaan tas yang tak seberat biasanya, seperti jika aku bolak-balik Jakarta-Bogor. Siang itu aku hanya mengenakan tas selempang kecil berisi beberapa bawaan wajib.

Ada dua sisi tangga. Tangga untuk turun dan tangga untuk naik. Aku mengantre bersama banyak orang lain yang hendak menaiki tangga. Sebagian dari mereka mungkin sama sepertiku, hendak transit. Sebagian yang lain mungkin telah sampai pada stasiun tujuannya. Tangga naik terlihat padat merayap. Sangat berkebalikan dengan tangga turun yang terlihat lengang.

Gerimis yang manis itu semakin terasa indah ketika aku mendapati kejadian di tangga turun. Kejadian sederhana yang mungkin setiap orang di jalur naik-turun siang itu turut menyaksikannya.

Seorang perempuan, mungkin usianya berkisar tiga puluhan, tengah berjalan dengan perempuan yang terlihat sudah berumur dan kuduga itu ibundanya. Keduanya hendak turun dari tangga, sambil si perempuan muda menenteng begitu banyak bawaan sampai-sampai ia terlihat agak kesulitan. Di tengah ramainya manusia siang itu, aku terlalu asyik menikmati suasana sampai-sampai lupa kalau seharusnya aku bisa turun tangan membantu, meski harus melewati barisan orang yang sedang mengantre. Ketika ide itu terbesit, langsung urung karena niatku didahului oleh seorang laki-laki yang datang, menerobos kumpulan manusia dari belakang.

Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat pada si perempuan muda untuk menunggu sampai ia datang membantu. Laki-laki itu dengan sigap menaiki tangga, dan tanpa waktu lama segera mengambil alih semua bawaan si perempuan muda. Hal yang aku tak yakin bisa melakukannya. Laki-laki itu lantas mendampingi mereka turun tangga hingga melewatiku yang masih antre, kemudian mengantar keduanya hingga masuk ke salah satu gerbong kereta.

Sederhana sekali memang. Tapi sejak dulu, aku suka sekali people watching seperti ini. Menarik memperhatikan tingkah laku manusia, merekam kebaikan-kebaikan (juga mungkin keanehan) mereka.

Laki-laki itu, mungkin memang seorang petugas di stasiun. Terlihat dari gaya dan pakaiannya. Kita boleh saja berkomentar bahwa wajar saja dia membantu seperti itu karena memang itu adalah bagian dari tugasnya. Tapi kita juga bisa memilih untuk memberi apresiasi, menaruh hormat atas inisiatif dan kesigapannya menghadapi sebuah situasi.

Yang jelas, siang kami terasa jadi lebih manis. Mungkin laki-laki yang kala itu bertugas tidak pernah tahu bahwa dari sekian banyak mata yang menyaksikan, ada yang terinspirasi dan merasa terhibur dengan aksi kebaikan yang ia lakukan. Bahkan meski kejadiannya tidak lebih dari tiga menit, tapi ia mampu menambah semangat dan secercah harap.

Kita sungguh masih punya orang-orang baik.
Terima kasih, Pak! semoga berkah.


Foto pribadi, bukan saat kejadian
Ditulis di Bogor, pada 4 Februari 2020, 14.32 WIB

Monday, November 18, 2019

Buku dan Ketepatan Waktu


Ahad lalu ketika melihat-lihat isi rak buku, mata saya tertuju pada sebuah buku karya Dr. Ibrahim Elfiky. Melihat buku itu, bukannya membuat saya teringat akan isinya, melainkan pada hal lain. Salah satu penyesalan saya atas waktu, sebab terlalu mengundur-undur mengirimkan buku tersebut pada salah seorang kawan yang kini telah berpulang.

Kami sekelas pada tingkat satu perkuliahan, tahun 2013. Dia jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, sementara saya jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen. Beberapa kali kami terlibat dalam satu kelompok mata kuliah. Pernah juga satu kelompok asistensi Pendidikan Agama Islam. Interaksi lainnya ya di kelas perkuliahan saja, kalau tidak salah dia rajin duduk di barisan depan. Yah, sebenarnya kami tidak dekat-dekat amat. Bahkan seingat saya kami pernah terlibat konflik, alhamdulillah hanya sedikit. Begitu masuk tingkat dua, kami tidak sekelas lagi. Tidak ada interaksi yang berarti. Agaknya hanya terkoneksi oleh media sosial saja, seadanya.

Pada akhir tahun 2016, ia tiba-tiba mengirimkan saya pesan singkat (SMS). Saya sudah lupa isinya, dan mungkin tidak saya balas. Sampai ia menghubungi saya via direct message Instagram. Sebut saja namanya Eka.

“Ada apa Ka? Waktu itu Eka SMS Riris juga bukan?”

“Gak ada apa-apa Riz, kepingin curhat aja, minta saran... iya SMS.”

Begitu pembuka obrolan kami di DM instagram.

Obrolan kami kemudan berlanjut di WA. Eka adalah mahasiswi yang tekun, rajin, dan—tentu saja—tepat waktu. Ia ikut dalam program akselerasi supaya bisa menuntaskan perkuliahan strata 1 hanya dalam waktu 3,5 tahun. Hari itu Eka menyampaikan kegelisahannya pada saya, sebab sudah satu tahun belakangan ia bolak-balik rumah sakit, dan dikatakan oleh dokter dirinya mengidap lupus. Padahal, ia sudah harus memulai penelitiannya supaya sesuai dengan target yang diberikan. Berita itu sedikit-banyak membuat mental Eka jatuh. Apalagi pencarian aktifnya di internet berujung pada ketakutan luar biasa. Ia cemas.

Payahnya, saya sungguh tidak bisa membantu banyak. Saya benar-benar tidak fokus membantu Eka, bahkan untuk sekadar jadi pendengar yang baik. Beberapa kali respons saya terbilang lama, dan tidak aktif menanyakan kabar beserta hal-hal lain yang boleh jadi sedang Eka butuhkan; support. Saya juga tidak mengerti mengapa Eka tidak menceritakan ini pada teman-teman satu jurusannya, pada teman-teman terdekat bahkan kawan sekosannya. Saat itu Eka meminta saya untuk tidak menceritakan pada siapa-siapa. Hal itu juga yang membuat saya tidak bisa mengabarkan pada beberapa kawan yang terbilang cukup dekat dengan kami berdua ketika dulu sekelas di tahun pertama. Yang bisa saya lakukan adalah memberi saran, supaya setidaknya ada teman sekelas yang tahu mengenai kondisinya. Saya katakana bahwa ia tidak boleh terlalu capek.

Tahun 2017 adalah salah satu masa terberat saya, jujur saja. Ada banyak persoalan yang harus saya hadapi sembari mengerjakan tugas akhir di perkuliahan S-1 yang sudah dikejar-kejar deadline sebab saya pun mengikuti program fasttrack. Ditambah ada hal lain yang juga menguras pikiran, dan kelelahan fisik keliling Tangerang Selatan serta bolak-balik Jakarta-Bogor. Kehidupan saya rasanya habis di jalan saat itu. Sungguh saya tidak aktif berkomunikasi dengan Eka. Dia yang justru lebih banyak menghubungi saya untuk bercerita, yang sayangnya, tidak saya tanggapi secara optimal.

Hebatnya, di tengah ujian yang luar biasa, ia berhasil lulus tepat waktu dan wisuda dua bulan lebih cepat dari saya, dan agaknya sudah terlihat baik-baik saja. Bahkan saya yang saat itu tengah asyik tenggelam dalam problematika pribadi sungguh tak ingat, apakah saya mengucapkan selamat padanya atau tidak. Betapa payahnya.

Suatu ketika kami kembali terlibat perbincangan.

“Riz, Eka butuh baca buku-buku motivasi deh supaya semangat. Riris ada nggak?” kurang lebih, begitu ucapnya (saya sudah lupa sebab chat history kami raib bersamaan dengan rusaknya HP saya Januari 2018 lalu).

“Adaa, Ka. Motivasi kayak apa?”

“Iya buku motivasi apa aja tentang kehidupan.”

Usai membaca permintaannya, saya serta-merta mengecek rak buku di kamar, barangkali ada buku yang cocok untuk dibaca Eka. Saya kemudian menemukan buku karya Dr. Ibrahim Elfiky berjudul “Excellent Life”. Saya foto buku tersebut, lantas mengirimkannya pada Eka.

“Ini bagus deh, Ka. Bacaannya ringan tapi memotivasi.”



Kemudian diam-diam saya bertekad hendak mengirimkan buku itu. Namun mengingat tampilannya yang sudah tak ciamik, ingin rasanya membelikan Eka satu buku yang masih baru.

Qadarullah menjelang akhir tahun 2017, Eka turut menjadi pembaca buku saya yang berjudul TEMU. Ia menghubungi saya, memesan satu buku, dan mengirimkan alamat tempat ia tinggal saat itu di Kawasan Tangerang. Bisa dibilang tidak begitu jauh dari tempat saya tinggal.

**

Saya mendapatkan alamat Eka tanpa memintanya. Tentu saja karena ia turut membeli buku TEMU melalui form online yang tersebar. Saya mendapatkan alamatnya secara cuma-cuma. Harusnya bukan hal yang sulit bagi saya untuk sekadar mengirimkan sebuah buku yang sudah saya punya. Bermodalkan membungkus buku tersebut, menuliskan alamat, dan cukup berjalan beberapa langkah ke ekspedisi terdekat dari rumah. Ya, harusnya sesederhana itu.

Tapi keinginan saya yang terlalu muluk—mencari buku baru yang lebih baik tampilannya—menjadikan hal yang tadinya sederhana jadi lebih rumit. Saya kerap menunda-nunda, hingga akhirnya lupa dan justru tidak terlaksana.



Pada tahun 2018, beberapa kali kami masih terlibat perbincangan. Karena saya merasa sangat minim dalam membantu Eka, saya mencoba mencari info pada beberapa kerabat yang mungkin saja dapat memberi saran terkait lupus dan bagaimana bisa meng-encourage mereka. Saya bahkan sampai melemparkan pertanyaan ke grup angkatan Aliyah, mengingat tidak sedikit kawan saya yang kuliah di jurusan kedokteran. Saya juga menanyakan pada sahabat saya yang salah satu keluarganya juga merupakan seorang odapus (pasien lupus).

Alhamdulillah saya memperoleh pencerahan. Lantas mengabarkan pada Eka beberapa kontak yang mungkin bisa membantunya, menghubungkan Eka dengan sahabat saya, serta mengenalkan Eka pada salah satu ketua komunitas peduli lupus. Kata seseorang, yang terpenting untuk odapus adalah bahwa mereka memiliki teman untuk saling berbagi, bahwa dirinya sungguh-sungguh tidak sendirian.

**

Beberapa bulan kemudian, tanpa ada kabar apa-apa, tanpa ada intro yang saya terima, tahu-tahu saya mendapat berita dari salah seorang kawan sejurusan, bahwa Eka telah tiada pada 22 Oktober 2018. Ketika mendapat informasi tersebut, segera saya memastikan kebenarannya melalui beberapa kawan. Betapa payahnya saya, sebab ternyata meninggalnya Eka tidak serta-merta. Ia telah dirawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama—dan saya tidak tahu apa-apa.

Saya sempat menyesali diri sendiri hingga enggan mencari tahu lebih lanjut. Merasa menyesal sebab tidak pernah saya bertukar kabar dengannya usai saya berikan beberapa kontak. Saya kembali asyik tenggelam dalam rutinitas diri yang kembali disibukkan menyelesaikan tugas akhir (lagi, kali ini S-2). Saya melewatkan banyak hal, pada masa-masa itu. Dan salah satu yang paling menyedihkan bagi saya adalah tentang Eka. Betapa tidak, bahkan dari awal hingga akhir, saya tidak pernah menyempatkan diri bertatap langsung dengannya. Sejak awal tahun 2016 ia menceritakan tentang dirinya pada saya, sampai tiba saatnya ia berpulang pada 2018 lalu, kami tidak pernah bertatap muka sekali pun. Padahal jarak kami sungguh tidak sejauh itu. Kami masih di kota yang sama, atau paling tidak saya hanya perlu nyebrang ke kota sebelah.

Maaf, Ka. Buku itu pada akhirnya benar-benar tidak terkirim.



**

Sudah lama sekali ingin menceritakan ini, entah pada siapa. Bagi saya, pengalaman ini sungguh memberi saya pelajaran bahwa kadang kita tak perlu menunggu segala sesuatunya untuk tepat nan sempurna. Dalam banyak hal, ketepatan waktu perlu dicipta meski dalam kondisi tidak optimal seutuhnya. Tidak apa-apa. Kalau kita hanya punya satu kaki, bukankah lebih baik terus melangkah meski pincang, daripada tidak melangkah sama sekali?

Saya yakin seutuhnya, bahwa Allah tidak pernah salah alamat dalam mengirimkan seseorang untuk hadir dalam kehidupan setiap manusia. Tak terkecuali hadirnya Eka dalam kehidupan saya. Allah-lah yang menggerakkan Eka untuk menghubungi saya, meski antara saya dengannya tidak ada hubungan yang benar-benar dekat, hanya sebatas teman sekelas biasa yang beberapa kali berada di satu kelompok belajar yang sama. Allah-lah yang mengarahkan Eka untuk menyampaikan keinginnanya membaca buku tentang motivasi kehidupan pada saya, Allah juga yang menggerakkan Eka membeli buku TEMU, meski pada akhirnya kami tak juga mencipta temu. Pasti ada pelajaran yang hendak Allah sampaikan pada saya untuk dipetik hikmahnya dan menjadi bekal untuk pelajaran selanjutnya.

Ketepatan waktu itu dicipta, bukan ditunggu. Beberapa kali saya mengatakan ini pada orang lain—terlebih pada diri sendiri.

Terima kasih, Eka. Maafin Riris.

**

Ditulis di Kota Hujan Bogor,
Diselesaikan pada Hari Jum’at, 15 November 2019