Showing posts with label AlQur'an. Show all posts
Showing posts with label AlQur'an. Show all posts

Thursday, April 20, 2017

Cerita Romantis (1)

كهيعص

"Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad." – (QS.19:1)

Mari bicara tentang cinta. Tentang kisah romantis. Tentang cerita manis. Tentang apa yang dapat membuat hati terketuk pintunya. Tentang syahdu dan merdunya skenario semesta.

Cukuplah histori penuh hikmah tentang Zakaria ‘alaihi salam, akan pinta tulusnya agar memiliki keturunan. Ianya terpotret abadi dalam Al-Quran surat Maryam, nan disebut-sebut sebagai rahmat Tuhan. 

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

"(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabb-kamu kepada hamba-Nya Zakaria," – (QS.19:2)

Ia, Zakaria, memperoleh rahmat oleh keyakinan utuh yang tercermin dalam lembut doa pada Yang Maha. Ia mengiba. Memohon dengan tulus. Harapnya tumpah hanya kepada Allah. Maka Zakaria— nabi Allah itu, telah nyata mengajarkan pada kita tentang adab berdoa.

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

"yaitu, tatkala ia berdo'a kepada Rabb-nya, dengan suara yang lembut." – (QS.19:3)

Dengan suara yang lembut. Dengan rayuan mesra, dengan semerbak kekhusyuan; paduan indah antara khauf dan raja. Maka ayat selanjutnya; ayat keempat dari surat Maryam ini, ialah romantisme luar biasa; adalah sedalam-dalamnya gambar keagungan cinta.

Ia adalah kisah manis ekslusif antara seorang hamba dengan Rabb-nya...

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

"Ia berkata: 'Ya Rabb-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Rabb-ku." – (QS.19:4)

Pada titik terlemah. Pada daya yang dirasa habis. Pada pengakuan diri akan ketidakmampuan. Namun pada titik harap paling tinggi. Tidakkah itu luar biasa? Tidakkah ia membutuhkan kelapangan hati nan kejernihan fikir? Pencinta macam apakah seorang Zakaria? Yang bahkan, ia menyatakan seterang-terang, bahwa dirinya tidak pernah kecewa. Sekali lagi, tidak pernah kecewa.

Ya, ia tidak pernah kecewa atas harap  pada Rabb-nya.

Maka, jika ada pinta atas nikmat yang selayaknya paling kita damba, ialah itu nikmat berharap; nikmat untuk tidak pernah kecewa pada-Nya. Sebab, bukankah telah jadi rahasia dunia bahwa tanpa harap, akan mati manusia?



Jayakarta, April 2017


Wednesday, June 29, 2016

Tasbih

Aku duduk di bangku gedung rektorat. Di hadapanku, berjarak sekitar 10 meter, berdiri tegak sebuah pohon rindang. Hijau. Sejuk. Tenang. Membayang-bayangi satu kesatuan rumput di bawahnya.

Pembacaku yang baik,

Kamu pernah, merasakan keinginan untuk kembali tidak tahu apa-apa? Kadang, melihat pohon menjadikan aku berfikir akan betapa bodohnya aku. Aku memilih untuk jadi manusia, dan menyanggupi titah Tuhan tuk' jadi khalifah. Rasa-rasanya, akan jadi lebih mudah jika aku hidup menjadi pohon saja, bukan? ia bertasbih sepanjang waktu.

Ah, aku cemburu.

Kota Hujan, 18 Mei 2016

***

Tulisan di atas dibuat pada pertengahan bulan Mei 2016. Lalu pada tengah menuju akhir Juni; satu setengah bulan kemudian, saya membaca dua ayat ini:

Allah SWT berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hadid ayat 1).

تُسَبِّحُ لَه‘ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاَلْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ 4 وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَاكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّه‘ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Surat Al Isra ayat 77).

Bukan, bukan cuma pohon. Melainkan manusia juga senantiasa bertasbih kepada-Nya; melainkan diri juga senantiasa bertasbih kepada-Nya. Sekian banyak sel dalam tubuh, semuanya bertasbih. Lalu apakah akal dan hati ini cukup tega untuk menyalahi fitrah tersebut?

Batavia, 23 Ramadhan 1437 H


Kebun Raya Bogor, 28 Desember 2010 (Foto oleh Gerak Parabolang)

Friday, June 24, 2016

RETHINKING EDUCATION


Jadi sebenarnya tulisan ini dibuat untuk melunasi hutang bolos tidak masuk praktikum mata kuliah Pendidikan Holistik karena saat itu harus pergi secara mendadak untuk mengikuti sebuah wawancara yang hampir saja dilupakan jadwalnya.

**
Muqaddimah

Saya diminta untuk membaca buku (kemudian membuat tulisan terkait buku tersebut). Buku Rethinking Education adalah karya seorang Philip Snow Gang, Ph.D. yang berlatar belakang teknik namun jatuh cinta pada dunia pendidikan setelah perjalanan panjang kehidupannya. Jujur saja, sampai menuliskan ini pun, saya belum membaca secara utuh buku tersebut, melainkan baru sampai halaman ke-48 dari 180, dan selebihnya hanya melakukan screening seadanya. Karena sayang, tugas jelas memiliki deadline dan saya harus segera menyelesaikannya.

Sebelum mulai membaca, melihat judul buku ini serta merta mengingatkan saya pada salah satu materi yang disampaikan oleh Dr. Yasir Qadhi dengan judul sama: Rethinking Education. Bagi yang tertarik, (dan memang sangat menarik), silakan diunduh disini

Kembali lagi pada buku karangan Gang. Mungkin tugas tambahan sebagai pengganti praktikum ini tidak mengharuskan agar saya membaca keseluruhan isi buku. Tapi saya akui buku ini melakukan pembukaannya dengan menarik yang mengundang saya untuk membacanya (meski belum selesai sekarang, 24 Juni 2016). Gang menceritakan perjalanan fikirannya sejak duduk di bangku sekolah, kuliah, hingga bagaiamana ia terinspirasi oleh konsep Montessori pada tahun 1968 ketika menyekolahkan Warren, anaknya yang saat itu berusia 3 tahun.

Yang membuat Gang menaruh perhatian pada Montessori adalah karena ia menawarkan konsep pemikiran akan kombinasi “siapa saya” dengan pandangan dunia kosmik; bagaimana sisi kemanusiaan berhubungan dengan alam semesta. Latar belakang teknik dan kecintaan pada ilmu pengetahuan membuat Gang berfikir bahwa hal tersebut sangat menarik serta mengantarkannya pada sebuah pemikiran baru yang berbeda dari apa yang selama ini ia pikirkan tentang pendidikan.

Pendidikan dan Fisika

Buku ini diawali dengan bab berjudul “Education and Physic” yang membuat saya kembali bernostalgia dengan beberapa istilah dan teori dalam ilmu fisika seperti kausalitas, entropi, sintropi, hukum termodinamika, hingga fisika kuantum. Sampai disini, saya sangat setuju bahwa fenomena fisika memang menarik untuk dikaji. Kita telah mengetahui bahwa fisika memuat hukum-hukum universal pada aktivitas setiap benda termasuk manusia.

Misalkan saja, yang paling sederhana, melakukan perubahan posisi benda agar tidak diam membutuhkan usaha lebih untuk melampaui ambang batasnya. Setelah itu, pergeseran benda akan jadi lebih mudah dilakukan. Sama seperti manusia yang untuk berubah, ia membutuhkan energilebih besar di awal. Ketika langkah pertama telah dibuat, langkah selanjutnya akan menjadi lebih ringan. Memulai seringkali memakan tenaga lebih, bukan?

Contoh lain adalah penemuan yang mengatakan bahwa bagian terkecil dalam sebuah benda hakikatnya memberi untuk membuat ikatan dan menguatkan dirinya. Ada hubungan saling memberi yang membentuk materi tersebut menjadi satu kesatuan. Sama seperti keadaan manusia, dimana pada hakikatnya, memberi adalah menerima. Semakin banyak memberi, semakin banyak pula kita menerima. Dari sini pula kemudian kita mengenal konsep “Semesta Mendukung,” “Law of Attraction,” dan lain sebagainya.

Dunia fisika mengalami perubahan dari waktu ke waktu seiring dengan berkembangnya illmu pengetahuan dan teknologi hasil cipta rasa karsa manusia. Sama halnya dengan teknologi, dunia industri, ekonomi, bahkan politik yang juga mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Gang berpendapat, jika semua aspek itu mengalami perubahan, bagaimana dengan pendidikan? Adakah ia juga perlu mengalami perubahan atau bahkan harus? Perkembangan macam apa yang selayaknya terjadi pada dunia pendidikan?

Maka jadi menarik ketika fisika kemudian dihubungkan langsung dengan pendidikan. Model pendidikan macam apa yang baik dilakukan jika kita kaitkan degan keilmuan fisika yang memuat hukum universal kehidupan manusia? Perubahan seperti apa yang dapat membawa pendidikan manusia menjadi lebih baik seiring waktu?

Masih berhubungan dengan fisika, Gang kemudian mengelompokkan fase kehidupan manusia berkaitan alam menjadi empat periode unik:

  The Age of Humanity in Nature
The Age of Humanity with Nature
The Age of Humanity over Nature, and
The Age of Humanity through Nature.

Ada beberapa pendapat ahli yang Gang kutip dalam bukunya dan saya pikir pendapat Capra di bawah ini menarik untuk dikutip juga disini.

In contrast to the mechanistic Cartesian view of the world,
the world view emerging from modern physics can be characterized by words like organic, holistic, and ecological....
The universe is no longer seen as a machine,
made up of a multitude of objects, but has to be pictured
as one indivisible, dynamic whole whose parts are essentially
interrelated and can be understood only as patterns
of a cosmic process (Capra, 1982)

Saya tidak akan menjabarkan satu persatu pejelasan Gang ada masing-masing dari empat periode tersebut. Melainkan saya akan mencoba mengambil satu benang merah, bahwa hubungan manusia dengan alam menurut Gang berkembang dari jarak pemisah yang jelas hingga akhirnya hari ini sampai pada penemuan akan kenyataan bahwa manusia sejatinya menjadi bagian dari alam itu sendiri.

Lagi, ungkapan Capra boleh jadi mempermudah kita untuk mengerti jalan pikir Gang:

Cartesian division between mind and matter, between
the observer and the observed, can no longer be
maintained. We can never speak about nature without, at
the same time, speaking about ourselves (Capra, 1982)

*Bagi yang mungkin belum tahu, sederhananya, “Cartesian” adalah pandangan yang menganggap bahwa jiwa dan badan merupakan dua aspek yang berbeda dan tidak dalam satu kesatuan. Biasa dikenal dengan istilah Cartesian dualism.

Rethinking Education Versi Saya

Sampai disini, saya mulai mengerti kemana arah buku ini berbicara tentang pendidikan; adalah itu Pendidikan Holistik yang memandang pendidikan secara keseluruhan, tidak terkotak-kotak, tidak terfragmentasi, melainkan memandang manusia sebagau fully human yang dengan pendidikan diharapkan menjadi seorang longlife learner,  memiliki kesadaran akan eksistensi dirinya sebagai bagian dari sistem besar dan memaknai akan kehidupan yang pada akhirnya kembali menuju Tuhan.

Namun sayangnya, saya belum selesai membaca sehingga tidak pantas rasanya menuliskan lebih jauh tentang Rethinking Education versi Gang. Jadi izinkan saya menulis tentang rethinking education versi amatiran saya saja.

Ketika mendapat mata kuliah Pendidikan Holistik, saya berfikir bahwa mata kuliah inilah yang selama ini saya cari-cari dan Alhamdulillah saya menemukan dan dipertemukan dengannya. Saya memang bukan seseorang yang berorientasi akademik, tapi saya akui saya tertarik dengan pengetahuan yang disuguhkan disini. Terlebih ketika menemukan konsep-konsep yang dibangun tentang pendidikan dengan memandangnya secara holistik: secara menyeluruh. Membaca buku karangan Gang membuka mata saya bahwa ternyata, teori yang berasal dari Barat ini pun berasal dari para tokoh “spiritual” sehingga tidak heran, aspek “kembali kepada Tuhan” menjadi bagian dari penjabaran lebih lanjut tentang pendikan holistik.

Namun sayang, materi yang saya peroleh memang kebanyakan masih berkiblat pada dunia Barat meski lagi-lagi saya bersyukur, kekayaan khazanah para pendidik saya menjadikan ia terbuka dan bahkan referensi lokal yang saya dapat sama sekali tidak bertentangan dengan Islam rahmatan lil ‘alamin. Ia justru semakin memperkuat keyakinan saya, bahwa apa yang diajarkan dalam Islam adalah sebaik-baik metode pendidikan. Malah saya haqqul yakin, “pendidikan holistik” Barat ini masih belum sempurna (maaf saya menyebut “Barat” karena tidak menemukan keterangan yang lebih mudah untuk dimengerti). Belum-- karena ia masih pincang terutama dalam hal sumber ilmu pengetahuan dan pedoman hidup (baca: Al-Qur’an).

Jika kita menengok pada sejarah peradaban manusia dengan sumber Barat, kita akan mengenal istilah “Dark Age,” yang terjadi pada abad pertengahan, dimana bangsa Eropa dikuasai oleh negara dan berada di bawah kendali gereja. Dinamakan demikian, karena masa tersebut dianggap sebagai masa kegelapan, dimana peradaban tidak mengalami kemajuan. Kemudian beberapa abad setelahnya, kita mengenal revolusi industri yang sadar atau tidak membentuk pola pendidikan menjadi begitu mekanistik, headstart, dan cenderung berorientasi kognitif. Barulah pada masa-masa sekarang ini, perhatian akan pendidikan holistik tampil setelah dampak akibat pendidikan yang sebelumnya tidak seimbang itu dirasa tidak sesuai. Seolah-olah “Pendidikan Holistik” adalah sebuah metode dan sudut pandang baru, padahal boleh jadi ia telah ada sedari dulu.

Pendidikan Holistik

Apa yang disebut “Dark Age” oleh Eropa selama ini sejatinya merupakan “Golden Age” dalam sejarah peradaban manusia. Pada masa itulah berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan yang menjadi dasar dari berkembangnya dunia modern dan IPTEK saat ini. Jika kita mengenal Wright bersaudara sebagai pelopor pesawat terbang, maka ratusan tahun sebelumnya telah ada Abbas Ibnu Firnas. Pada masa itu pula ada Ibnu Al Haytam menemukan konsep dasar optik dan kamera yang saat ini banyak digunakan, serta ilmuwan-ilmuwan hebat lainnya yang sayang, seolah hilang dari sejarah.

Ah ya, ada film pendek berjudul 1001 Invention yang sangat layak untuk ditonton. Ia bercerita tentang tiga orang pelajar yang mencari informasi di perpustakaan tentang “Dark Age.” Silahkan klik disini untuk menonton.

Saya curiga. Jika penemuan-penemuan hebat tersebut telah ditemukan jauh sebelum dunia mensosialisasikannya, boleh jadi demikian pula dengan metode pendidikan –dengan konsep pendidikan holistik. Bahkan apa yang dinilai “modern” saat ini, rasa-rasanya masih kurang modern. Ada yang lebih keren dari teori multiple intelligent-nya Howard Gardner, atau metode Montessori-nya Montessori. Dan bisa jadi, yang lebih keren itu sebenarnya telah ada sejak lama dasarnya, hanya saja belum muncul ke permukaan lagi. Atau sudah muncul, tapi saya yang belum benar-benar menemukan. Mungkin ada yang sudah menemukan? Kabar-kabar, ya. Ayo kita sharing! Serius.

Lalu ternyata, tau-tau tulisannya jadi sepanjang ini padahal niatnya cukup buat 2 halaman saja. Terima kasih sudah membaca. Di awal, saya menyampaikan sedikit tentang fisika, tentang alam semesta. Bahwa manusia dan alam sejatinya merupakan satu kesatuan. Tidak dapat dipisahkan, memiliki harmoni-kausalitas, dan kita sebagai manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Saya setuju. Terlebih hal tersebut telah nyata disebutkan dalam ayat Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman:

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hadid ayat 1).

تُسَبِّحُ لَه‘ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَاَلْأَرْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ 4 وَإِنَّ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَاكِنْ لاَ تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ إِنَّه‘ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (Al Isra ayat 77).

Longlife Learner

Buku Rethinking Education karya Gang belum selesai saya baca, dan masih menyisakan sekitar 3 dari 4 bagian lagi untuk saya tuntaskan. Jika dari pembaca ada yang berminat untuk ikut menyimak, boleh kirimi saya email untuk saya kirmi bentuk e-book nya, atau silakan berselancar di dunia maya.

Apa yang saya tuliskan hanya buah dari pemikiran beberapa waktu belakangan, dan masih sangat berkaitan dengan mimpi saya di awal Ramadhan lalu. (Silakan baca pada postingan sebelumnya berjudul Al-Qur’an dan Pendidikan). Dan saya fikir, Allah tengah memfasilitasi saya untuk membaca buku Rethinking Education-nya Gang untuk memperluas wawasan --meski berkedok sebagai tugas pengganti praktikum. Karena memang, kalau tidak dipaksa ya seringnya nggak baca Alhamdulillah. J

Saya optimis bahwa kesadaran manusia akan Al-Qur’an sebagai ‘buku’ ilmu pengetahuan semakin meluas. Hari ini kita memiliki dr. Zakir Naik yang mempermudah orang awam seperti saya menelaah IPTEK dari Al-Qur’an dengan cara stand by memegang mushaf sambil menonton video beliau menyebut daftar referensi pengetahuan dari surat Al-Qur’an lengkap dengan ayatnya. Kita juga punya Ustadz Abdullah Gymnastiar, yang diam-diam membuka mata saya betapa urusan tauhid sampai pada hal-hal terkecil dalam kehidupan seperti kuku atau kulit rambutan. Betapa setiap sel yang hidup berada di bawah kekuasaan Allah. Lalu ada Syaikh Fahad Al-Kandari, yang lagi-lagi membantu melihat betapa kita tidak sendirian; bahwa Al-Qur’an sungguh sebenar-benar mukjizat dan dipelajari banyak orang. In syaAllah.

Dalam bukunya halaman 7, Gang menuliskan ini:

“Shalom” comes from the root word “shalem” which means wholeness or completeness. It is used to greet and to say farewell to a friend. It means peace. Shalom is the beginning and the end for the peace that lies within. You cannot have peace without “wholeness.”

Yak, sedikit lagi!

Assalamu’alaikum. Salam. Ialah ajaran Rasulullah Muhammad SAW yang sangat mulia: mendoakan kedamaian dan keselamatan antar saudara seiman. Sedikit lagi, semua konsep ini memang mengarah kesana. Mengarah pada Islam yang kaffah. Dan saya yakin, ia tengah menuju kesana. Jadi ayo belajar, longlife learner!

 18 Ramadhan 1437 H



Kelas Tahfidz di Masjid Ulil Albab MAN Insan Cendekia Serpong

Thursday, June 9, 2016

Al-Qur'an dan Pendidikan

Beberapa waktu belakangan, pendidikan menjadi topik utama dalam rutinitas pikiran saya. Lalu qadarullah, tadi malam saya bermimpi yang saya curigai ia adalah konspirasi dari diskusi serta buku-buku dan materi yang saya baca.

“Jadi, pelajaran apa? IPA?” ujar perempuan berjilbab biru itu sambil memandang saya. Saya menggeleng tegas.

“Bukan, Kak,” jawab saya seraya melanjutkan, “pelajaran tentang tauhid. Keimanan,” mendengarnya, ia mengangguk. Menyetujui. Sementara kakak laki-laki saya duduk sambil menyimak diskusi yang bertepatan dengan giliran saya bicara.

“Gimana?” tanyanya lagi.

“Anak kecil itu masih bersih. Dia bisa menerima kebenaran dengan fitrah. Makanya penting disini untuk dibekali dengan tauhid; keimanan. Kenapa tauhid? Karena aspek itulah yang jadi motor utama dia kelak untuk jadi baik pada aspek-aspek lain seperti sosial, emosi, kognitif, dan lainnya,”

“Ya, ya” ia kembali mengangguk, “tunggu sebentar. Ini, biar kutulis konsepnya di kertas,” kemudian perempuan itu menyiapkan selembar kertas kosong dan alat tulis. Selagi saya bicara, ia terus lihai menggerakkan tangannya. Menerjemahkan perkataan saya menjadi mind mapping di atas kertas.

“Al Qur’an, Kak. Selama ini Al-Qur’an masih jadi buku kedua. Dalam waktu enam tahun usia SD, umur sekolah yang paling lama, disini lah dasar-dasar itu penting diajarkan. Kita terapkan Al-Qur’an sebagai satu-satunya buku paket utama. Biar lama, tapi sedikit-sedikit dan bertahap. Ini pedoman hidup. Bagaimana bisa anak-anak tidak dikenalkan pada pedoman hidupnya sejak dini?” yang saya ajak bicara tidak banyak berkata. Ia hanya bergumam kecil; tanda menyetujui.

Lalu entah dapat ilham darimana, saya terus saja berujar. Ada dorongan kuat dari dalam untuk menumpahkan fikiran yang lama terpendam. Ada semacam perasaan “saya boleh tidak mendapat kesempatan optimal dalam mengenal Al-Qur’an sejak dulu. Tapi generasi besok jelas harus punya kesempatan itu.”

Selesai saya bicara banyak, kertas itu telah apik merangkum konsep besar kami. Saya bahkan masih ingat beberapa garis dan tulisan yang tertera di sana –yang dibuat oleh seorang perempuan yang saya ingat wajahnya namun tiada saya tahu siapa ia.

**

Sebenarnya, penggal percakapan yang saya ingat dari mimpi tadi malam lebih detil dari apa yang saya tuliskan di atas. Namun sayang, saya tidak tahu bagaimana cara menuliskan redaksinya.

Beberapa waktu lalu, kepala saya berfikir tentang gagasan pendidikan. Selama ini, pelajaran agama kebanyakan masih menjadi subjek pelengkap dan seolah nomor dua. Padahal, semakin kesini saya semakin menyadari bahwa justru agama ini lah yang paling penting dan utama untuk kehidupan seseorang. Saya masih jauh sekali dari tahap ini, namun saya berfikir, ketika seseorang memahami agama, maka sejatinya ia akan menuntut ilmu yang lain dengan sungguh-sungguh. Karena, hei, bahkan kedudukan ilmu sangat dimuliakan dalam agama, bukan?

"Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha dengan apa yang dilakukannya." (Rasulullah SAW)

Namun waktu itu saya sama sekali belum berfikir akan buku paket. Saya justru secara amatiran membandingkan perihal kurikulum dan sistem pembelajaran di beberapa model sekolah mulai dari SD, MI, pesantren, hingga IT. Meski belum mendalam, tapi saya mulai menemukan titik perbedaan dan celah yang membuat saya berfikir akan gagasan di atas. Alih-alih melirik Al-Qur’an, saya justru mencari tahu kira-kira bagaimana caranya pengajaran itu terintegrasi dengan agama yang jadi pusat utama -dengan tetap membawa ilmu-ilmu teknis dalam kehidupan? Buku paket macam apa yang harus dibuat? Kurikulum seperti apa?

Hingga tadi malam saya bermimpi seperti yang telah saya ceritakan. Lagi, saya 'ditampar'. Bahkan ternyata ‘buku paket’ itu telah berada begitu dekat dengan kita. Namun sayang, ia tidak benar-benar difungsikan sebagaimana mestinya oleh kebanyakan orang. Ia tersimpan rapi di laci dan lemari, dibaca tanpa dimaknai, dihormati tanpa diresapi. Meskipun demikian, saya bersyukur negeri ini masih menyimpan ‘budaya’ mengaji. Alhamdulillah. Bahkan anak-anak di sekitar asrama tempat saya tinggal tidak sedikit yang minta diajari mengaji (membaca Al-Qur’an). Ia adalah suatu kebahagiaan yang patut disyukuri. Namun, saya lantas bertanya kepada diri sendiri: mengapa tidak kita bangun rasa ingin tahu mereka? Tidakkah mereka penasaran dengan isi dan makna bacaan yang mereka baca itu?

“Kak, emangnya gimana sih cerita pemuda yang hidup di gua? Ceritain, Kak,” tiba-tiba saya ingat degan pertanyaan adik saya yang masih duduk di bagku kelas 5 SD. Saat itu saya menjawab setahu saya, berdasarkan apa yang telah saya pahami selama ini. Lalu dengan bijak, ayah saya menimpali,

“Coba buka Al-Qur’an surat Al-Kahfi. Baca aja, disana ada ceritanya,” ujar ayah. Tanpa saya duga, adik saya begitu bersemangat. Kemudian ia tekun membaca terjemah Al-Qur’an surat Al-Kahfi, disusul komentar dan beberapa pertanyaan sebagai buah dari rasa takjub dan rasa ingin tahunya.

“Al-Qur’an is not a book of science, it’s a book of sign.” Begitu dr. Zakir Naik pernah berujar di salah satu ceramahnya ketika menjawab pertanyaan seorang atheis.

SIGN! Petunjuk. Tanda. Pedoman. Al-Qur’an, kalamullah itu, ia akan tetap membawa kebaikan meskipun kita membaca tanpa mengerti maksudnya. Dengan Al-Qur’an, kita melembutkan hati dan menentramkan jiwa atas izin-Nya. Ialah itu bagian dari mukjizat Al-Qur’an. Adapun kemudian, bersyukur jika kita mengerti Bahasa Arab, karena memaknainya akan jadi lebih mudah. Bersyukur bagi kita yang mendapat kesempatan dan kemauan untuk belajar Bahasa Arab, karena nikmat itu sungguh luar biasa. Pemahaman akan pedoman hidup-- tidakkah itu menggiurkan? Tidak berlebihan pernyataan bahwa memaknai Al-Qur’an berarti memaknai kehidupan.

Adapun bagi kita yang belum mengerti Bahasa Arab, bersyukurlah. Karena detik ini terjemah Al-Qur’an telah tersedia. Meski tidak seideal jika kita memahami Bahasa Arab, namun jelas ia bisa dibaca dan memudahkan kita sebagai gerbang untuk memaknai kalamullah. In syaAllah.

Jika Ustadz Away Baidhowy sebagai guru Akidah Akhlak menginspirasi peserta didiknya untuk menjadi penulis mushaf Al-Qur’an, rasa-rasanya saya ingin mengajak mereka bersama-sama untuk mengkhatamkan Al-Qur’an beserta terjemahnya.

PS: Sampai detik ini pun saya belum selesai. Mohon doanya.


Sumber: google.com (keyword Al-Qur'an)

Batavia, 4 Ramadhan 1437 H


Tuesday, June 7, 2016

Teori Kecerdasan

“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh,
dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai”

(Pramoedya Ananta Toer)



Pandai dan bodoh adalah relatif. Terlebih setelah dunia menemukan bahwa ternyata kepandaian pun begitu beragam; multiple intelligence, begitu kata Howard Gardner. Tapi jika kita ingat-ingat pesan Rasulullah -manusia paling keren seantero jagad raya,- ada satu parameter yang paling konkret dari apa yang disebut pandai/cerdas.

"Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya).”

Saya pertama kali mendengar hadits tersebut disampaikan dalam salah satu kajian ketika duduk di bangku perkuliahan. Jika ia merupakan teori, jelas ini adalah teori yang paling sempurna. Inilah pandangan tentang manusia holistik (fully human) yang sesungguhnya: baik akhlak, banyak mengingat mati serta bagus persiapan dalam menghadapi kematian.

Yang utama, yang baik akhlaknya

Akhlak. Meski dalam beberapa kesempatan kata ini disejajarkan maknanya dengan karakter dan kepribadian, namun saya percaya ada makna yang jauh lebih dalam padanya dibandingkan dua kata yang lain. Boleh jadi karena seolah saya melihat ada kata "Aqidah" di depannya; Aqidah Akhlak. Akhlak yang baik ialah akhlak yang bersanding dengan aqidah yang benar. Jomplang aqidah tanpa akhlak, pincang akhlak tanpa aqidah.

Keutamaan itu rupanya terletak pada akhlak. Saya tidak hendak membahas detil makna hadits ini, karena memang belum sampai keilmuan saya pada tahap tersebut. Namun izinkan orang awam ini terkagum atas sabda nabinya. Bukankah bicara akhlak selalu mengingatkan kita pada the coolest man, ever; Rasulullah Muhammad SAW? Sama sekali tidak ada bantah atas pernyataan bahwa beliau merupakan sebaik-baik suri tauladan.


Yang cerdas, yang paling banyak mengingat kematian

Jika tujuan dari pendidikan holistik adalah membentuk manusia-manusia holistik yang menjadi long life learner, maka orang-orang yang banyak mengingat mati selayakya medapat gelar itu; Long life learner. Mereka akan selalu berada dalam keadaan dimana diri jadi terus belajar. Mereka memetik hikmah dari dirinya dan lingkungannya. Bukan untuk apa-apa, melainkan hati mereka tahu bahwa kematian bisa datang kapan saja. Artinya, kapanpun itu, diri harus selalu berupaya dalam kondisi terbaiknya; kondisi belajar.

"Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya." (An Nahl: 61)

Yang cerdas, yang paling baik persiapannya dalam menghadapi kematian

Persiapan macam apa yang harus dilakukan untuk menghadapi mati? mari kita ingat, bahwa ternyata, kehidupan manusia adalah tentang syukur, sabar, dan istighfar. Rumus tersebut agaknya terdengar klise bagi sebagian orang, namun ialah sebaik-baik nasihat seseorang kepada saudaranya. "Inti kehidupan itu kan bukan sekarang ini, tapi nanti di syurga," ujar Ustadz Abdullah Gymnastiar pada salah satu kesempatan.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”

Lalu apa korelasinya dengan kecerdasan? saya haqqul yakin bahwa aspek ini memang menjadi sebaik-baik indikator atas kecerdasan seseorang. Kalaupun logika manusia belum membuktikannya, bukan berarti teori yang diucapkan oleh Rasulullah tersebut tidak terbukti, melainkan logika kita lah yang tidak/belum sampai untuk membuktikan.

Terakhir, bagi yang sedang mencari-cari ide untuk bahan penelitian, mungkin sudah saatnya kita menyadari bahwa Al-Qur'an dan sunnah yang keduanya merupakan petunjuk itu menyimpan segudang inspirasi kehidupan.

Batavia, 2 Ramadhan 1437 H

Tuesday, May 10, 2016

Ditanya, Bagaimana Kabarnya?

Hari ini saya bersama teman-teman baru saja turun lapang untuk mata kuliah Konseling Keluarga. Kami mengunjungi salah satu sekolah boarding school ber-beasiswa full di Kota Bogor. Masing-masing dari kami mewawancarai satu orang responden yang telah ditentukan. Responden saya adalah seorang anak kelas 2 SMP. Alih-alih memberikan konsultasi, saya justru belajar banyak melalui percakapan dengan anak 13 tahun itu. Ketika ditanya tentang bagaimana ia berusaha menyelesaikan masalah, ia menjawab dengan tenang, “Ke Allah, Kak. Saya nggak pernah curhat ke teman. Kalau masalahnya sudah berat banget, ke Allah aja. Curhat sama manusa itu nggak nyelesain masalah soalnya, Kak.” Sampai disini saja saya sudah dibuat takjub. Hei Dik, seusiamu dulu, sepertinya Aku bahkan belum berfikir sejauh itu.

Dalam tugas mata kuliah kami, idealnya saya dapat menggali permasalahan yang tengah ia hadapi dan membantu memberikan alternatif solusi. Namun meski responden saya mengaku dalam keadaan sangat bingung atas masalah yang diaku berat selama dua tahun belakangan, ia bersikuat tidak menceritakan ke siapapun. Saya mengiyakan. Diam-diam mengerti, karena toh meski saya banyak cerita seperti ini, tetap saja ada hal-hal mendasar yang tidak bisa diceritakan pada siapapun kecuali kepada-Nya. Lalu tidak cukup sampai disitu, saya kembali dibuat introspeksi diri mendengar kalimat-kalimatnya kemudian.

“Ya paling mendoakan, Kak. Biasanya kalau tahajjud. Saya paling bisanya mendoakan,” ujarnya ketika saya tanya, apakah ia menggunakan ‘strategi’ silaturrahim ketika tengah menghadapi masalah. Lagi, jawabannya kembali kepada Allah. Ia mengaku terbiasa menyendiri di masjid dan membaca Al-Qur’an jika sedang sedih. Lalu hal yang membuat saya seperti ditampar udara dalam seketika, ketika ia berkata seperti ini:

“Saya suka mikir sih, Kak. Daripada baca novel yang tebal-tebal, halamannya bahkan sampai ratusan dan berjilid-jilid jumlahnya….” Ujarnya sambil mengilustrasikan tebal novel yang biasa dibaca teman-temannya, “mendingan baca Al-Qur’an. Ngapain juga baca novel kalau baca Al-Qur’an aja belum khatam.”

Ini… daripada disebut turun lapang dan berperan sebagai konsultan amatiran, saya justru lebih merasa tengah di-training oleh Allah. Adik itu boleh jadi hanya washilah Allah dalam menyampaikan rentet hikmah semesta pada saya. Semoga tidak berlebihan, tapi saya merasa sungguh-sungguh tengah diperhatikan oleh-Nya. Tengah dipeluk. Tengah dibisiki mesra oleh langit; Riris yang mengaku cinta Allah dan Rasul-Nya, interaksimu dengan Al-Qur’an apa kabar? Doa-doa untuk keluarga dan saudaramu apa kabar? Prasangka baik  pada Rabb-mu- masihkah ia pada tempatnya?

Ternyata Allah memang selalu penuh kejutan. Menanyakan kabar hamba-Nya saja semanis ini; jalannya tidak disangka-sangka-

Kota Hujan, Sya'ban 1437 H

Sunday, November 1, 2015

Membersihkan Hati

Hati begitu sensitif. Penjagaannya membutuhkan usaha ekstra. Pekerjaan hati, ia adalah pekerjaan universal. Ingat hadits Rasulullah tentang niat? bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya. Bukankah itu pekerjaan hati?

Dan hati, ia mudah sekali berbolak-balik. Maka kita diajarkan untuk memohon pada Allah, agar hati kita ditetapkan pada agama-Nya. Bahkan ulama terdahulu pun mengatakan, tiada yang lebih membuatnya sibuk kecuali menjaga niat; menjaga hati.


Ustadz Abdullah Gymnasiar dalam salah satu ceramahnya menyampaikan perihal bagaimana membersihkan hati. Adalah sebagai beriikut:

1. Menghujam kesadaran dan tekad, bahwa prioritas hidup adalah ketegakan tauhid di hati. Jangan lakukan apapun yang membuat hati busuk, lakukan apapun yang membuat hati bersih. Semua ada prioritasnya. Penggunaan waktu hanya akan efektif dengan adanya prioritas. Tanpa itu, lewat.

2. Mati-matian luangkan waktu lebih banyak untuk tafakkur membongkar dosa-dosa. Tanya pada orang-orang terdekat yang tahu persis kelakuan kita. Datang kepada guru, para ulama yang bersih hatinya yang tahu kelakukan kita. Persis seperti kita datang ke laboratorium untuk general check up. Luangkan waktu, tenaga, fikiran, biaya. Periksa! Kalau sudah ketemu berbagai penyakit, luangkan waktu, taubat! Harus tahu, mau, dan habis-habisan. Seperti orang yang terkena penyakit kanker, mau di kemoterapi, opname, infus, operasi, apapun. Sesakit apapun, karena mau sembuh. Itulah taubat. Jadi taubat bukan hanya astaghfirullahaladziim, tapi ialah proses kegigihan mencari tahu kekurangan dan benar-benar mohon ampunan.

3. Jauhi maksiat. Kalau sudah mulai mau bersih hati, kita harus mau disiplin. Mata, tidak halal, palingkan. Berteman dengan seseorang yang mengganggu iman, jaga jarak. Makanan tidak halal, shaum. Harus punya kedisiplinan kuat untuk tidak menodai diri kita. Lihat tv, acara tidak baik, matikan. Liat internet, ngerusak, tutup. Harus ada kedisiplinan. Menghisap rokok, membuang waktu, menghabiskan uang, harta, padamkan. Hijrah! semakin baik kekuatan kita menjauhi kemaksiatan dan kesia-siaan, makin cemerlang hati ini.

4. Tingkatkan taat. Shalat tepat waktu, usahakan jamaah di masjid. Shalat shubuh berjamaah itu dinilai shalat sepanjang malam. Malam, tahajud! Dan tidak perlu diumumkan ke siapapun perubahan itu. Baca qur’an, dzikir diperbanyak, sedekahkan apa saja amal saleh. Lihat nanti rasanya. Tiba-tiba makin terbuka hati. Rezeki, makin mudah akan kita rasakan. Kalaupun bukan yang kita harapkan berupa materi, tapi ketenangan, kenyamanan, kelapangan.

5. Yang terakhir adalah, tebarkan manfaat. Dimanapun kita ada, lakukan sesuatu. Apapun. Walaupun hanya menyingirkan duri dari jalan. Lakukan amal saleh dan tanpa pamrih. Setiap kebaikan yang kita lakukan, pasti akan ada balasan dari Allah tanpa harus kita tunggu, tanpa harus kita ingatkan. Lakukan saja. Kalau murni kita lakukan untuk dekat dengan Allah, ingat janji Allah. Dan barang siapa sungguh-sungguh, Allah akan lebih sungguh-sungguh menunjukkan jalannya.

"Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, maka seluruh tubuh juga baik. Jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati".

-Rasulullah Muhammad (shallallahu 'alaihi wa sallam)-

Asy-Syifa

Tuesday, December 23, 2014

Tanpa Diajarkan, Ternyata Ruru Hafal Surat Asy-Syams

Dua hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah kakak perempuan saya yang tengah mengandung empat bulan. Bukan untuk bertemu si empunya rumah, melainkan menemani adik sepupu saya yang datang berkunjung ke Bogor. Kakak saya dan suaminya justru sedang tidak ada di rumah. Mereka pergi ke Sukabumi karena ada suatu urusan.

Berhubung kakak saya ini tengah mengandung, maka tidak heran kalau rumahnya diisi dengan segala atribut pengetahuan tentang kandungan dan masa kehamilan. Mulai dari tabel ideal berat badan ibu hamil, sampai buku pengetahuan seputar kandungan. Tapi yang membuat saya tertarik adalah sebuah majalah yang tergeletak di atas meja. Majalah Tarbawi dengan judul tertulis pada sampulnya "Lima Perempuan itu Perdengarkan Al Qur'an untuk Anak Mereka Sejak dalam Kandungan" keluaran Februari 2010. Hampir lima tahun yang lalu. Meski edisi lama, saya tahu kenapa majalah tersebut bisa ada di rumah kakak saya. Tentu saja karena berhuungan dengan kandungan.

Tanpa pikir panjang, saya mulai membuka lembar demi lembar dan membacanya dengan seksama. Ada kisah tentang ibu yang kekuatannya lebih kuat dari seribu laki-laki, kisah keluarga pecinta Al Qur'an,hingga cerita Farih Abdurrahman: anak ajaib yang kesulitan berbicara namun lancar menghapal ayat Al Qur'an. MasyaAllah. Hingga saya sampai pada sebuah artikel bertajuk begini: "Dewi Kusmayanti, Dokter, Ibu 4 Orang Anak. Tanpa Diajarkan, Ternyata Nurul Hafal Surat Asy-Syams"

Sebenarnya saya mulai tidak konsentrasi membaca karena artikel tersebut berada pada pertengahan majalah. Tapi sampai pada halaman kedua, mata saya dipaksa melihat lebih jeli memastikan informasi yang saya dapat. Pasalnya, disana tertulis nama yang benar-benar tidak asing bagi saya. Nama anak kamar saya semasa duduk di masa Aliyah: Nurul Iffat Wirusanti. Saya biasa memanggilnya Ruru. Sontak saya membalik halaman lagi dan memerhatikan foto dengan sesama. Benar. Itu wajah kawan saya, mungkin sekitar empat atau lima tahun yang lalu. Ditambah informasi profesi ibunya yang dokter, dan nama adik Ruru yang juga disbeutkan disini: Muhammad Luthfi Rusdinur. Juga yang paling saya ingat dari cerita Ruru, bahwa ibunya tidak membolehkan ada TV di rumahnya.

Begini cuplikan artikel tersebut.

Interaksi Dewi dengan Al Qur'an terus berlanjut hingga dirinya menikah dan memiliki anak. Upayanya mengenalkan Al Qur'an kepada anaknya pun muncul. Saat itu Dewi menemani anaknya bermain dengan membiarkannya asyik mengutak-atik mainannya. Memang, Dewi sendiri sengaja tidak membeli TV sebagai hiburan keluarga, karena menurutnya sangat sediikit manfaat yang bisa diambil dari acara-acara TV. Sehingga dia sangat mengusahakan agar anaknya selalu bermain dengan ibunya. Ketika anaknya asyik bermain, Dewi mengulang-ulang hapalan juz 30 nya. Terus menerus dia ulang-ulang di hadapan anaknya yang  asyik bermain. Bahkan setelah membacakan buku cerita menjelang tidur, Dewi pun juga mengulang hapalannya. Begitu terus setiap hari.

Sampai suatu hari, Dewi datang untuk mengikuti pengajian ibu-ibu. Karena tidak ada yang menjaga di rumah, Dewi membawa anak pertamanya yang bernama Nurul Iffat Wirusanti ini ke pengajian tersebut. Saat penceramah sedang mempersiapkan materi ceramah, tiba-tiba Nurul melantukan surat Asy-Syams. Seluruh jamaah begitu terkejut, sekaligus kagum, "Saya baru tahu, meskipun dia asyik dengan mainannya, ternyata dia juga mendengarkan," ujar perempuan berusia 42 tahun ini. Dalam usia dua tahun, anak pertamanya sudah bisa menghapal separuh juz 30. Hingga kini, paling tidak sudah 3 juz yang dihapal Nurul. Agar anak pertamanya ini bisa lebih rajin dan semangat menghapal, Dewi sekeluarga bergabung pada sebuah lembaga bimbingan Al Qur'an di Condet, Jakarta Timur. "Sejak tiga tahun terakhir, saya dan keluarga berangkat ke sana setiap hari Sabtu," tambahnya.

**
Tanpa Diajarkan, Ternyata Nurul Hafal Surat Asy-Syams

Tarbawi Edisi 222 Rabiul Awal 1431 H.

Sehari setelahnya, saya mendapat telepon dari Solo: kawan kamar saya yang lain, namanya Ucit. Sudah lama tidak berkomunikasi membuat kami saling bertukar kabar. Kemudian saya menceritakan temuan saya ini kepada Ucit. "Ya ampun Ririis, ternyata banyak yang kita gak tauu," begitu ucapnya. Saya jadi ingat kawab kamar kami yang lain; Ocha. Ocha juga pernah bercerita tentang Abi-Umminya yang masuk majalah dalam tajuk keluarga sakinah (atau apa ya, saya agak lupa, :D). MasyaAllah, ada saja caranya Allah untuk me-recall ingatan hamba-Nya. Semoga kita termasuk dalam generasi cinta Al Qur'an yaa. Aamiin Allahumma Aamiin. :')

Ruruuu titip salam buat ibunya. Bilang makasih sudah menginspirasi. :D