Sunday, February 10, 2019

Totto Chan's Children

Judul: Anak-anak Totto Chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa: Ribkah Sukito
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kedelapan: Januari 2016
Jumlah Halaman: 328 halaman
Buku ini sukses membuat saya menangis. Tetsuko Kuroyanagi—Totto Chan—apik sekali memilih penggal kejadian untuk dibagi-bagikan pengalamannya kepada orang banyak. Buku fenomenal karyanya yang berjudul "Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela" merupakan buku yang kemudian mengantarkan saya untuk menikmati buku ini; "Totto Chan’s Children". Berbeda dengan "Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela" yang merupakan sebuah novel terinspirasi kisah nyata Nyonya Kuroyanagi semasa kanak-kanak, "Totto Chan’s Children" merupakan catatan perjalanan Ny. Kuroyanagi selama berkunjung ke beberapa negara pada tugas kemanusiannya bersama UNICEF.

Peta Kunjungan Duta Kemanusiaan UNICEF
Banyak sekali cerita fakta mengenai anak-anak di dunia yang membuat hati meringis. Mulai dari kelaparan, ketidaktersediaan air bersih yang memaksa mereka minum air kotor hingga sebabkan diare bahkan kematian, kejutan ranjau darat di dalam mainan dan makanan, anak-anak yang terlibat pelacuran untuk bisa makan, sampai luka psikologis yang menyayat mental mereka. Bagi saya pribadi, buku ini begitu sukses membuat saya sadar betapa recehnya ujian kesusahan yang mungkin pernah terbesit dalam kepala untuk mengeluhkannya. Saya rasa Ny. Kuroyanagi, pemilik nama kecil Totto Chan itu, barangkali sangat menyayangi anak-anak.

Anak perempuan di Vietnam (1988)
Sekolah dasar di Vietnam (1988)
Rumah di Irak yang penuh kotoran (1991)
Melalui buku ini, Ny. Kuroyanagi menceritakan betapa kesehatan mahal sekali harganya. Di Baghdad, Irak, pada tahun 1991 tidak ada listrik, tidak ada air bersih, bahkan tidak ada saluran pembuangan hingga kotoran masuk ke rumah-rumah penduduk. Rumah sakit Qadissiya Central Hospital di kota itu, tidak memiliki apa-apa. Tidak ada susu, tidak ada obat, dan tidak ada obat bius untuk operasi. Perkataan salah seorang dokter disana terdengar begitu menyedihkan, "Tidak ada yang membuat dokter lebih frustasi daripada mendiagnosis penyakit dan tak bisa mengobatinya. Dokter mungkin ingin mengoperasi, tapi ia tak bisa melakukannya karena tak ada listrik. Bisakah Anda mengerti, betapa sulitnya bagi saya untuk tetap diam dan hanya memandang saat seorang anak meninggal?"

Bayi perempuan usia 2 bulan di Irak
Anak kurang gizi di Etiopia (1992)
Bayi yang tidak mendapat inkubator di Haiti (1995)
Salah satu cerita yang paling berkesan usai saya membaca ini adalah bagian ketika Ny. Kuroyanagi mengunjungi Rwanda pada tahun 1994—satu tahun sebelum saya lahir. Bagaimana perasaan kita ketika menjumpai dua ribu mayat tanpa kepala bertumpukan? Dibiarkan begitu saja sebab tak ada anggota keluarga yang tersisa untuk menguburkan. Saya sampai bergidik ketika membaca cerita tentang seorang anak laki-laki di Rwanda yang suatu saat ditanya oleh tim UNICEF, “Apakah benar orang tuamu dibunuh?” dan ia hanya menjawab, “Aku tidak tahu”.

Awalnya dikira bocah laki-laki itu masih terlalu kecil untuk mengingat kejadian. Namun tak lama, ia berlari menghampiri tim UNICEF yang sebelumnya bertanya. “Sebenarnya aku tahu,” ujarnya, “Well, begini. Penerjemah yang tadi bersamamu adalah orang yang membunuh orang tuaku.” Maksudnya, jika ia memberitahu bahwa orang tuanya dibunuh, ia akan menjadi korban selanjutnya. Di Rwanda pula, kebon kopi mengeluarkan aroma busuk. Bukan karena kopi yang membusuk, melainkan karena bau ratusan mayat yang dikuburkan disana. Bahkan hotel pun bau busuk. Orang-orang dipaksa masuk berdesakan ke kamar hotel seperti ikan sardine lalu dibantai. Pilu sekali. 

Ada terlalu banyak cerita menarik yang saya bahkan bingung untuk memilih penggalan mana yang hendak dituliskan disini. Ketika membaca tentang ranjau dan bom yang bertebaran dimana-mana di wilayah Bosnia-Herzegovina, pada kunjungan Ny. Kuroyanagi tahun 1996, saya tak habis pikir hal macam apa yang ada dalam pikiran para pelaku. Ranjau darat diletakkan di tanah dalam bentuk es cone, dan akan meledak ketika anak-anak mulai memakannya. Bom sengaja dibentuk seeperti cokelat, dan akan meledak ketika kertas perak pembungkusnya dibuka. Bom bahkan juga disembunyikan di dalam boneka. Dalam buku ini, Ny. Kuroyanagi menuliskan, “Betapa mengerikannya orang-orang yang sengaja mempelajari psikologi anak hanya untuk membunuh anak-anak!”

Anak laki-laki di Sarajevo (1996)
Ny. Kuroyanagi dan anak-anak Bosnia (1996)
Tidak banyak yang saya ceritakan disini. Sebagian gambar di atas barangkali cukup mengabarkan isi bukunya. Begitu semerbak pelajaran yang saya dapatkan dari ragam cerita yang dituturkan Ny. Kuroyanagi mengenai perjalanannya. Anak-anak seringkali memberikan pelajaran penting bagi orang-orang yang dikatakan sudah dewasa.

Terakhir, berbahagialah mereka yang berbagi cerita bermanfaat melalui tulisannya. Bagi siapapun, saya pikir buku ini sangat recommended. Serius! :)


Monday, February 4, 2019

Ranggas


Air mengalir dari hulu ke hilir
Hujan turun basahi tanah tempat kami lahir
Kemudian pergi—bak ditelan bumi

Tinggallah kami terpaku tak mengerti
Coba cari segala arti dari yang terjadi
Pada ambang hidup antara komedi dan tragedi

Tapi Tuan,

Kata siapa ranggas daun pada ranting kami?
Kiranya sudi Tuan telisik kabar berita lagi

Sebab kami masih berdiri disini.

Sumber




Thursday, January 31, 2019

Satu Jodoh Dua Istikharah


Kali ini saya coba kembali menceritakan bacaan yang belum lama saya santap. Sebenarnya sudah lama sekali saya tidak membaca novel, terlebih dengan genre seperti ini. Novel berbau percintaan yang membahas soal jodoh-jodohan. Belakangan saya lebih menaruh minat pada bacaan-bacaan non-fiksi seputar pendidikan dan anak-anak. Tapi novel ini punya sejarah tersendiri.


Judul: Satu Jodoh Dua Istikharah
Penulis: Ma’mun Affany
Penerbit: Affany
Cetakan Pertama: Oktober 2016
Jumlah Halaman: 339 halaman

Saat berkunjung ke Gresik pada Desember 2018 lalu, saya dan mama menetap di rumah salah satu kerabat yang sebenarnya tak lain adalah keluarga salah satu teman seangkatan saya selama di Insan Cendekia. Teman saya sendiri saat ini tengah menempuh pendidikan di Jepang. Alhamdulillah, Allah pertemukan saya dengan keluarga Om dan Tante di Gresik yang ramah sekali dan sangat bersahabat. (Hikmah sekolah di boarding school, kerabatnya ada dimana-mana :D).

Kedatangan saya dan mama ke Gresik tidak lain untuk menyelesaikan beberapa persoalan di Jawa Timur. Jadilah kami bolak-balik Gresik-Surabaya-Malang. Dan selama itu juga keluarga Om dan Tante banyak membantu kami.

Kembali lagi ke novel. Mahabesar Allah dengan sekanario-Nya. Om adalah seorang manajer di salah satu percetakan di Gresik. Om juga merupakan seorang penulis. Saya dibekali empat buah buku, tiga di antaranya adalah novel dan satu buku lagi merupakan buku karya tulisan Om sendiri. Novel pertama yang disodori pada saya adalah novel ini, karya Ma’mun Affany—salah seorang karib Om—berjudul “Satu Jodoh Dua Istikharah”. Saat itu saya belum terpikir untuk membacanya. Masih terngiang dalam kepala saya bagaimana menuntaskan bacaan buku statistik olah data untuk penyelesaian tesis yang dengan kerelaan hati saya tinggalkan sementara di Jakarta (walaupun sebenarnya laptop tetap dibawa—meski sama sekali tidak tersentuh pada akhirnya—). Tapi saya menerima pemberian Om dengan sangat senang hati. Terbayang koleksi buku di rumah bertambah empat buah. :D

Qodarullah, begitu urusan di Jawa Timur selesai dan saya tiba di Jakarta, saya mulai membuka-buka novel ini. Agaknya menarik juga. Font size-nya pun terbilang besar, mungkin membacanya tidak akan menyita waktu lama. Jadi sembari menulis tesis, sesekali saya buka si novel. Mengisi kejenuhan di sela waktu melihat layar laptop.

Sebenarnya, sinopsis di bagian belakang buku ini bisa dibilang cukup menggambarkan isinya. Isi cerita berputar pada 3 tokoh utama; Salman, Tania, Fatimah.


Salman adalah seorang direktur muda. Ia tampan, kaya, baik hati pula. Barangkali penggambaran Salman dipotret sedemikian semerbak, sampai pembaca dibawa pada kenyataan pahit bahwa ternyata Salman punya luka hingga sering main perempuan. Adapun Tania, perempuan yang terikat pada kontrak dengan mucikari, naas sebab ibunya sendiri yang menenggelamkan ia pada dunia gelap. Tania digambarkan unik, sebab pakaiannya dideskripsikan rapi tak sebagaimana perempuan malam pada umumnya. Ia juga dibekali dengan mukenah; perangkat sholat meski apa yang akan dilakukannya adalah perbuatan nista. Adapun Fatimah, gadis muda yang berprofesi sebagai dokter, digambarkan nyaris sempurna. Cantik, menawan, baik hati, namun jelas ia "keras kepala". Mati-matian membela Salman meski ia tahu akan sejuta cela pada laki-laki pujaannya itu.

Menurut hemat saya, inti dari cerita dalam novel ini adalah tentang penerimaan. Barangkali Fatimah menjadi satu-satunya tokoh utama yang paling “bersih”, setelah Salman yang di balik gemerlap prestasi dan kemewahan pencapaiannya ternyata menyimpan luka, atau Tania; perempuan berhati mutiara yang terjerembab dalam dunia gelap malam. Ma’mun Affany seolah hendak menyampaikan bahwa ada ruang dalam diri manusia yang hanya bisa ditaklukan dengan penerimaan atas titik lemahnya. Sebagaimana Salman yang akhirnya luluh atas segala penerimaan tanpa cela dari Fatimah, atau Tania yang rela menjadi abdi sepanjang hidup oleh sebab penerimaan utuh dari seorang Salman.

Saya tidak akan menceritakan ceritanya secara lengkap. Nanti jadi spoiler, hhe. 😊 Sebagai pembaca yang sebenarnya bukan sebenar-benar penikmat novel roman, saya bisa katakan bahwa novel ini worth to read. Terima kasih pada penulis, Ma’mun Affany, karena sudah menulis dengan apik :D bahasanya ringan, mengalir, mudah dipahami, dan tidak bertele-tele. Sukses menghadirkan penokohan yang terdeskripsi dengan jelas meski tanpa dijabarkan detail di dalam novel. Tapi dengannya, saya jadi mengenal dan bisa turut menjelaskan seperti apa sosok Salman, Tania, juga Fatimah, yang mungkin saja mereka ini ada versi riilnya di dunia nyata entah dengan nama siapa. Novel ini berhasil membuat saya memperluas jangkauan pandang atas dunia yang mungkin selama ini luput dari wawasan.

Terakhir, pembelajaran penting khususnya bagi perempuan barangkali hadir dari sosok Fatimah. Bukan atas sikap “buta” nya sebelum menikah, melainkan ketika ia berperan sebagai istri bagi suaminya. Melalui sosok Fatimah, penulis seolah hendak menyampaikan bahwa ada peran istimewa yang dimiliki perempuan sebagai istri, “Tugas utama perempuan adalah mengubah laki-laki menjadi lebih baik dalam agamanya, dan menjadikannya lebih semangat menjalani kehidupannya.”



Menarik. Sebab kaum perempuan kadang lupa bahwa mereka juga punya peranan jadi pendamping, bukan hanya sekadar untuk dibimbing. :)

Wednesday, July 11, 2018

Bagaimana Kabarmu?


Hei, Assalamu’alaikum. Bagaimana kabarmu?

**
Sudah lama kita tidak berbincang. Atau mungkin memang kita bukan dua orang yang sering berbincang. Yah, apapun itu, aku ingin bercerita saja. Sore ini aku duduk di sudut ruangan berdindingkan kaca. Aku berada di lantai paling atas; lantai ke-24. Dari sini, dapat kusaksikan langit ibu kota kita yang agak kelabu, entah mengapa. Mungkin karena kesibukan dan produktivitas manusianya yang di atas rata-rata, hingga pemandangan dari atas seperti tertutup kabut sedemikian rupa. Iya, kuharap itu kabut dan bukan polusi udara.

Kamu pernah berpikir, kenapa ya, dalam kehidupan kita yang berdampingan ini, dalam kehidupan setiap manusia yang kita tahu jumlahnya tak dapat dihitung jari ini, mengapa kita seringkali masih iri hati? mengapa kita menyimpan hasad-dengki? mengapa masih sulit bagi kita mensyukuri diri? padahal, kan, ada begitu banyak manusia di dunia ini, dan rasa-rasanya, kita akan selalu menemukan celah jika saja kita mau bersyukur atas kehidupan sendiri.

Ya, kan? apakah kamu berpikir hal yang sama?

Yah, bukan apa-apa sih. Aku hanya berkontemplasi; merenungi segala pahit-manis yang telah terjadi selama ini. Hei, iya, aku kan mau tanya, kamu apa kabar? ada kabar apa di kehidupanmu? bagaimana kabar tugas-tugas harianmu? adakah mereka terceklis utuh?

Belakangan, aku belajar banyak soal kehidupan. Bahwa ternyata dunia yang cuma main-main dan senda gurau belaka ini, ternyata menyimpan dinamika sedemikian rupa. Ternyata di usiaku yang memasuki dua puluhan ini, ada begitu banyak kearifan hidup yang aku masih buta terhadapnya. Ada banyak sekali kisah yang baru aku selami maknanya; sesuatu yang kukatakan pahit-manis kehidupan. Kapan-kapan aku juga mau mendengar (atau mungkin membaca) cerita pahit-manis milikmu. Kutunggu, ya.

Aku jadi ingat perkataan Ibu Neti, salah satu konselor yang pernah mengisi kelas kuliah kami. Beliau mengatakan bahwa hikmah terbesar menjadi seorang konselor adalah menjadi bijak. Iya, belajar dari kompleksitas hidup yang dialami oleh berbagai macam insan menjadikan dirinya melihat dengan sudut pandang yang lebih luas, menilai dengan lebih menyeluruh, menyaksikan segala sesuatu dengan lebih adil. Kegiatannya mendengarkan cerita dari orang lain tanpa disadari membantu pikir dan hatinya menjadi lebih bijak. Barangkali benar jika dikatakan bahwa pembeda antara kanak-kanak dan dewasa adalah soal kebijaksanaan. Bukankah memang begitu? sudah seharusnya orang dewasa berbeda dengan anak-anak yang bersifat egosentris. Bukan saatnya lagi bagi orang dewasa bersikap seperti anak-anak yang melihat segala sesuatu berputar dengan diri mereka sebagai porosnya.

Aku sudah lama tidak bercerita. Jadi maaf kalau agak banyak menulisnya. Kalau tidak mau baca, silakan berhenti saja. (Ya kalau tidak mau baca, sejak tadi kamu harusnya juga tidak memulai, kan, hhe).

Dalam perjalananku hingga hari ini, aku bersyukur sebab dipertemukan dengan orang-orang luar biasa. Entah, kadang aku tak habis pikir dengan diri sendiri, bagaimana mungkin aku tidak termotivasi menyaksikan orang-orang di sekelilingku yang sehebat itu? mungkin juga termasuk kamu. Artinya, jika aku tidak menghebatkan diriku juga, tidakkah bisa dikata bahwa aku kufur nikmat?

Hei, tunggu. Kamu juga mengerti kan, maksudku hebat disini adalah, bicara soal kesungguh-sungguhan. Aku selalu jatuh cinta melihat manusia dengan segala perjuangannya. Aku suka menyaksikan manusia yang bersungguh-sungguh dalam melakukan apa yang ia yakini kebaikan dan kebenarannya. Aku selalu kagum pada mereka yang bisa fokus pada satu hal, dengan tetap mengindahkan kehidupan kanan-kirinya. Dan betapa baiknya Dia, hingga menghadirkan orang-orang seperti itu dalam kehidupanku. Maka aku katakan, bukankah aku kufur nikmat, jika aku tak menyerap energi mereka? atau energimu, mungkin saja?

Aku mengenal seseorang yang telah melamar kerja hingga puluhan. Bukan untuk apa-apa, melainkan untuk kepentingan keluarga dan kehalalan rezeki yang ia terima. Aku mengenal seseorang yang berjuang naik-turun, mengarungi jalan-jalan, mengarungi himpitan waktu, demi kepentingan adik-adik sebab ia anak pertama. Aku juga bertukar cerita dengan seseorang yang meski begitu pahit apa yang ia alami di keluarga, namun senyumnya pada tetangga selalu saja merekah. Ada juga mereka yang berjuang dalam diam, dalam harap, dalam cemas, tapi tetap dengan prasangka baik pada Tuhannya. Ah, kalau mengingat itu, seketika aku merasa seperti remah-remah entah makanan apa.

Jauh dari itu semua, yang membuatku paling merasa hanya jadi butiran debu adalah jika mengingat kedua orang tua. Yah, membahas keduanya selalu sulit bagiku, jujur saja. Karena terlalu spesial, seringnya sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Tuh kan, begini saja aku sudah diam. (Iya, saat menulis bagian ini lama sekali jemariku berhenti. Padahal paragraf-paragraf sebelum bagian ini, rasanya kutulis tanpa jeda. Sekarang jadi hening.) Kapan-kapan saja ya, aku bercerita soal ini. Atau jika memungkinkan, barangkali lebih baik kita bertemu saja. Siapa tahu kamu berbaik hati penasaran kan, mau mendengar ceritanya.

Sudah lama kita tidak berbincang. Atau mungkin memang kita bukan dua orang yang sering berbincang. Kita bisa saja saling kenal atau tidak saling kenal. Mungkin saja kita saling tahu tapi tak pernah kita bertukar sapa. Mungkin saja kamu tanpa sengaja menemukan laman ini dan membaca barisan kata-kata. Tapi tak apa, itu bukan poin pentingnya. Paling tidak setelah membaca ini, aku ingin mengajakmu sama-sama berdiskusi. Minimal dengan kepala kita sendiri-sendiri.

Kamu apa kabar? ada kabar apa di kehidupanmu? apa yang sedang menyita pikirmu? apa pencapaian yang tengah ingin diraihmu? kesulitan-kesulitan apa yang tengah menghadang episodemu?

Apapun itu, semoga kamu baik-baik saja, tidak kekurangan sesuatu apapun. Semoga keberimanan selalu hadir pada hatimu. Semoga keridhoan tak sungkan-sungkan menetap pada kalbumu. Semoga niat baik selalu berada pada benakmu. Apapun yang tengah kamu hadapi, bersyukurlah. Sebab Tuhan kita dalam firman-Nya mengatakan,

Semoga kamu baik-baik saja :) wassalamu'alaikum.


Jakarta, 27 Syawal 1439 H
Dari lantai ke-24 pada sore hari ibu kota.

Yang menanyakan kabarmu,
aku.

Friday, July 6, 2018

Luka


Barangkali kamu benar.
Seringnya, bukan usia yang mendewasakan manusia,
melainkan luka.

**

Setiap insan punya caranya sendiri dalam merayakan luka. Ada yang menangis sambil bersembunyi di balik bantal, mengunci pintu kamar, menangis seharian, curhat di media sosial. Ada juga yang menghindar bertemu manusia, memilih sendiri, menjejaki perjalanan luka yang dialami. Pun, ada yang mencoba untuk tetap berkarya, mengukir kata, melakukan perjalanan, menutup luka dengan tawa dan cengkrama. Segala macam perayaan yang menutup kenyataan perih atas luka.

Mungkin pada masa awal luka itu tiba, pilihan tanpa logika lah yang jadi sasarannya. Seiring waktu ia mengilhami dan menenggelamkan rasa dalam introspeksi, ia kemudian menangis dalam sujud panjangnya. Ia mencoba berdamai melalui senyumnya. Ia bercerita pada Tuhannya—sekali-dua kali pada orang2 terdekatnya.

Ia berdiri, mencoba bangkit. Meski luka itu masih menganga. Bukannya tak sadar, hanya ia tengah berupaya berpacu dengan waktu. Ia tak ingin ditinggalkan waktu. Hingga ia berdiri. Iya, berdiri di atas luka-luka yang masih menganga; mencoba mengobati perih yang ia rasa. Sampai ia menyadari, bahwa ternyata kesembuhannya hanyalah pura-pura belaka.

Bahwa ternyata ia sakit, dan ia butuh bantuan pihak lain untuk melipur luka di diri. Berbagai macam cara yang tiap insan—tiap manusia—coba jajaki. Ada yang mencari-cari bacaan berisi, ada yang mengalamatkan diri pada nasihat para bijak tuk menyentuh hati. Sebagian lain berupaya minta bantuan orang lain untuk mengobati, atau juga mencoba cicipi lingkungan baru untuk ditinggali.

Sumber

Begitulah luka. Bahwa penyembuhannya bukan perkara mudah nan instan. Membutuhkan waktu. Membutuhkan proses. Bahkan ketika sudah ia temui segala macam rupa nasihat penyentuh hati, telah ia jajaki jalan-jalan penuh hikmah, telah ia tumpahi hampar sajadah dengan tangis air mata, pun telah ia temui seseorang yang ia harap dapat bantu melipur lara, nyatanya luka itu tetap ada. Nyatanya luka itu (entah seberapa besar) masih menganga. Segala pikir dan rasa yang ada pada raganya menyerah sembari marah. Ia kecewa. Ia melempar tanya. Ia sangsi. Ia nyaris marah dan putus asa. Ia berada di ujung pengharapan pada semesta. Air matanya kering jika tak mau dikatakan habis. Sensitivitasnya sebagai manusia hampir-hampir luntur dimakan luka.

Sampai pada suatu episode, ia lelah oleh rasa lelah. Luka yang sakit nan perih menyayat lambat laun tak lagi ia indahkan. Hingga pada akhirnya ia kembali menyerah. Kali ini dengan penyerahan yang lebih jujur, lebih tulus, lebih membumi. Kali ini dengan penyerahan tanpa kamuflase, tidak main-main, apalagi sambil membercandai. Sebuah penyerahan yang hanya dirinya dan Sang Esa yang mengetahui. Kemudian begitu sadar, pada momen itulah ia temukan kesembuhan atas luka yang sesungguhnya; sebuah kesembuhan atas lara yang selama ini ia nanti-nanti.


**

Bahwa ternyata, penyembuh luka yang ia cari-cari tidak lain harus diawali dari dirinya sendiri. Kebersyukuran, keikhlasan, keberserahan. Bahwa ternyata, pelipur lara yang ia nanti ternyata tak perlu jauh-jauh dicari. Ianya bukan sebuah pencapaian, melainkan perjalanan. Bahwa segala proses yang ia lalui untuk meraih obat penyembuh luka, tidak lain adalah obat itu sendiri. Lambat laun ia menyadari bahwa luka yang menganga perlahan menutup dengan sendirinya. Tak lagi menganga, sebab ia sembuh. Sembuh seiring perjalanan waktu gigih usahanya tuk menyembuhkan.  

Setengah takjub, ia dapati dirinya baik-baik saja berdiri dan berjalan di atas luka. Setidaknya ia bertahan hingga titik ini. Setengah luka itu tersembuhkan. Perlahan-lahan. Tak ada jawab atas tanya yang selama ini ia gadang-gadang, tak ada akhir yang selama ini tak sabar rasanya ingin ia undang. Tapi nyatanya ia baik-baik saja. Lagi, setidaknya ia bertahan hingga titik ini. Ia merasa jauh lebih baik. Kemudian berusaha menerima segala apa yang terjadi. Manisnya, pahitnya, perihnya, termasuk semerbak sakit yang dicipta luka pada dirinya.

Ia menerima bahwa ia terluka, lalu bahagia.


**

Setiap insan punya caranya sendiri dalam merayakan luka. Jika ia dapat melewati dengan harap pada Yang Kuasa dalam upaya penyembuhannya, sekecil apapun harapan itu ada, saksikanlah bahwa sang luka akan menjelma senjata ampuh yang mendewasakan dirinya. Saksikanlah seiring waktu dirinya berubah. Iya, berubah menjadi lebih kuat, lebih tangguh, nan jadi lebih bahagia. Saksikanlah tatap bola matanya yang menjelma lebih tajam, pandangannya yang lebih jeli, pancar tulusnya yang lebih mendamaikan.

Ia menerima, bahagia, lalu mendewasa. Dan pada saat itulah, Tuhan menghadiahi pencarian atas tualang yang selama ini ia lakukan. Ketika ia tak lagi membunuh waktu dengan sederet teka-teki, ketika ia tak lagi mencerca dengan segunung pencarian. Pada momentum itulah barangkali Tuhan menjawab tiap tanya yang mengangkasa; ketika ia telah selesai bercengkrama dan bertukar pikir sendiri dengan dirinya. Luka itu lantas sembuh seutuhnya; mengukir keindahan cerita atas lalu-lalang hikmah dan hampar makna yang telah dijumpa.

Begitulah. Barangkali kamu benar, Master. Seringnya, bukan usia yang mendewasakan manusia, melainkan luka.

***

Syawal 1439 H

Ditulis dalam perjalanan Bogor-Jakarta,
usai berdiskusi dengan salah seorang sahabat
tentang luka-luka yang menganga :)

Monday, June 25, 2018

Air Mail #11


Aster, kamu tahu apa yang lebih menyakitkan dari ditinggalkan? ya, meninggalkan. Dan akan semakin sakit ketika alasan di balik meninggalkan itu adalah memenuhi permintaan untuk tak muncul di hadapan lagi. Jadi sungguh maafkan aku, Aster. Aku pilih untuk melepas dibandingkan harus pergi.

**

“Lalu kalian tidak pernah bertemu lagi?” Nyonya Val mengangkat kedua alisnya. Aku mengangguk sambil berdehem pelan.

“He em,” kuseruput cokelat panas yang baru saja ia suguhi.

“Kenapa dia, hmm.. siapa namanya?” Nyonya Val berhenti sejenak mengingat namamu, “oh Aster! ya, Aster itu, kenapa dia menyuruhmu pergi?” kali ini aku angkat bahu.

“Saat itu aku tidak benar-benar mengerti apa alasannya, Nyonya,” jelasku.

“Sampai saat ini?” agaknya perempuan berkacamata itu benar-benar tertarik mendengar cerita tentang kita, Aster.

“Belakangan, kudengar ia sakit.”

“Hanya itu?” tanyanya lagi.

“Mungkin karena dia seorang perempuan,” mendengar jawaban itu, Nyonya Val mengernyitkan dahi sambil menatapku lekat dari balik kacamatanya.

“Apa salahnya menjadi seorang perempuan?” wanita itu geleng kepala sambil mengangkat bahu. Alisnya mengerut. Aku tertawa.

**

Saat itu aku tidak habis pikir apa yang ada di dalam kepalamu ketika memintaku untuk pergi—jangan muncul di hadapanmu lagi. Aku juga tidak punya ide mengapa ayah dan ibumu tidak melarang untuk melakukan hal itu. Aku hancur, Aster. Seperti ditelan ombak seketika. Aku hancur seperti ditenggelamkan oleh samudra.

**

Mendengar pertanyaan retoris Nyonya Val, aku tertawa.

“Hei anak muda, kenapa kamu tertawa?”

“Hm, tidak apa-apa. Perempuan mungkin memang dicipta untuk membela perempuan lainnya,” ujarku sambil tersenyum. Kembali menyeruput cokelat panas.

“Yah terserah kau lah. Tapi dirimu terlihat lebih muda hari ini!” Nyonya Val tersenyum lebar. Aku tahu, ia selalu saja mengapresiasi tiap aku tertawa. Sebab menurutnya, aku adalah anak muda yang menampilkan ekspresi terlalu serius hingga terlihat sedemikian tua.

“Nyonya,” kataku seraya meletakkan cangkir di atas meja, “aku baru saja belajar bahwa melepaskan  mungkin lebih lebih mudah daripada pergi,” mataku menatap pasangan sepatu yang melekat di kedua kakiku.

“Syukurlah, anak muda!” wanita itu menyilangkan kedua tangannya, “kamu benar. Meski, dalam banyak hal, mencintai atau membenci seseorang jauh lebih mudah daripada menjadikannya bukan apa-apa.”

“Maksudnya?” aku membetulkan posisi duduk.

“Butuh kekuatan besar ketika kamu hendak menjadikan seseorang yang hidupnya pernah bersinggungan erat denganmu supaya berada di tengah—pada titik seimbang, bukan?” aku masih mencerna kata-kata Nyonya Val hingga ia melanjutkan, “kamu akan lebih mudah untuk tetap mencintai, atau pilihan kedua adalah membenci. Hanya sedikit orang yang berhasil menjadikannya bukan apa-apa, menjadikannya bukan siapa-siapa, Nak.” mendengar itu, aku mengangguk.

“Benar, Nyonya. Lalu apakah keputusanku untuk melepaskan adalah tepat?”

“Tentu. Melepaskan adalah salah satu wujud kedewasaan laki-laki,” Nyonya Val melempar senyum. Aku tertawa lagi.

“Melepaskan berarti mencintai dengan kesadaran utuh. Yah, bagiku itu adalah salah satu cara membijaksanakan cinta, Nak,” ia membetulkan posisi kacamata yang kerap turun. Menunjukkan garis-garis keriput pada wajahnya, tanda usia yang tak lagi muda.

**

Melepaskan barangkali membutuhkan energi lebih sedikit daripada pergi. Aku memutuskan untuk melepaskan saja, Aster. Bagiku, setidaknya itu lebih menghadirkan kelapangan hati. Dan agaknya ia juga lebih membuat bahagia, kan?

**

“Nyonya, apakah melepaskan juga salah satu wujud kedewasaan perempuan?” tanyaku lagi.

“Menurutmu, anak muda?”

“Melihat reaksi Nyonya, sepertinya iya,” kami kemudian tertawa.

Sudah lama sekali aku tidak berbicara santai dengan orang lain, Aster.

Syawwal 1439 H

***

Sumber

Sunday, May 27, 2018

Tulisanmu, Harimaumu


Kemarin, salah seorang sahabat mengirimkan pesan kepada saya.

“Aku lagi baca blog Riris. Kangen Riris.”

Saya menyadari bahwa lama sekali agaknya laman ini tidak diisi. Padahal, kalau boleh jujur, bahan mentah yang siap dimasak jadi tulisan ada begitu banyak, terlebih dalam satu-dua tahun belakangan. Tapi mungkin memang tekad saya yang melemah, atau mungkin saja memang saya butuh waktu lebih untuk mengoreksi ulang segala sesuatu. Belakangan, ada banyak kejutan yang membuat saya memperkecil saringan dalam menulis. Takut kalau-kalau lebih banyak unfaedah-nya daripada yang berfaedah.

Semakin kesini, saya semakin percaya bahwa tulisan memiliki power yang kuat. Melalui tulisan, kita bisa belajar mengenali orang lain. Tulisan sedikit-banyak menggambarkan pola pikir, latar belakang, hingga keadaan emosional seseorang. Belum lagi jika tulisan itu dalam bentuk tulisan tangan. Bahkan ada ilmu tersendiri yang mempelajari analisis tulisan tangan seseorang; grafologi. Melalui tulisan juga, kita bisa terpengaruh. Sebagaimana apa-apa yang kita baca akan masuk ke dalam pikiran kita dan mempengaruhi cara berpikir kita. Jadi tidak salah-salah amat kalau orang bilang, kenali seseorang melalui buku-buku yang dibacanya. Tidak salah juga kalau ada yang bilang, kenali seseorang melalui tulisannya.

Uniknya, kadang tulisan seseorang yang kita jumpai seolah tidak menggambarkan keadaan dirinya di dunia nyata. Jangan buru-buru menjuri bahwa apa yang dilakukannya adalah pencitraan. Jangan pula tergesa menilai bahwa dirinya di kehidupan nyata yang kita temui sehari-hari ternyata merupakan kamuflase dari perwujudan aslinya yang tergambar melalui tulisannya. Kepribadian manusia sungguh tidak sedangkal itu. Boleh jadi kesemuanya itulah satu kesatuan dirinya. Ramuan antara idealisme, kenyataan, harapan, ketakutan, pengalaman, dan seperangkat turunan lain yang membentuk kepribadiannya. Jadi jika memang kita dituntut untuk menilai seseorang, nilailah secara utuh dari berbagai macam aspek, bukan hanya dari satu sisi saja. Agaknya itu akan jauh lebih adil.

Menulis punya power yang kuat. Apalagi di era sosial media seperti saat ini. Tidak perlu jauh-jauh bicarakan soal deret manusia yang terjerat kasus ‘hanya’ bermodalkan tulisannya di dunia maya. Bagi saya sendiri, menulis menjadi jalan untuk bertemu banyak orang. Padahal ya masih sakieu ayana tulisan saya mah. Tapi begitu saja, rasanya seperti menemukan teman-teman yang kenalnya bukan dari kesamaan lembaga sekolah, lingkaran pertemanan, melainkan dari kesamaan ide dan gagasan. Menyenangkan, bukan? ketika kita mengenal seseorang berawal dari ide-ide dan pemikirannya. Yah, salah satu contohnya saja pertemuan saya dengan Dede, partner saya dalam menulis buku TEMU (oh ya, saya belum pernah cerita tentang TEMU disini. Mungkin kapan-kapan. Atau yang mau tahu bisa langsung mampir ke akun instagram @selariktemu).

Buku TEMU
Saya jadi ingat, ketika masih duduk di bangku kelas 10 Aliyah, waktu itu kelas kami mengadakan perjalanan ke Monumen Nasional bersama Wali Kelas. Di atas menara Monas, kami membuat lingkaran, lalu masing-masing menjiplak tangan di atas kertas untuk kemudian di gambar. Pak Away, wali kelas kami, lantas meminta untuk kami menuliskan cita-cita kami di atas kertas itu. Saya masih ingat jelas salah satu kalimat yang saya tuliskan; “i wanna change the world; with my own way!” Bukan tanpa alasan saya menuliskannya, dan kalimat itu jelas bukan hal yang utopis.

I wanna change the world with my own way. Saya yakin, setiap orang memiliki potensi untuk berkiprah dan memberikan kebermanfaatan bagi orang lain dalam kehidupannya. Sebab telah dikatakan juga, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bagi saya, mengubah dunia adalah dari diri sendiri, kemudian orang-orang sekitar. Tidak perlu menunggu nanti untuk “change the world”. Sebab saya telah merasakannya sendiri. Bahwa hidup saya berubah oleh kasih sayang, oleh kebaikan, oleh motivasi, oleh senyum, yang saya dapatkan dari orang lain. Sebab saya tahu rasanya hidup saya berubah yang tadinya tengah terpuruk, berubah karena ada seseorang yang mau mendengarkan, memberi nasihat, membimbing, dan mendoakan kebaikan-kebaikan untuk saya. Saya juga merasakannya sendiri, bagaimana tulisan dapat menjadi agen perubahan dalam hidup saya. Manakala saya membaca tulisan orang lain tanpa mengenal sosok penulisnya, namun pesan-pesan kearifan hidup dapat saya maknai dan memberikan hikmah. Sebab saya juga mendapati sendiri, bagaimana ulama-ulama terdahulu mengubah dunia melalui pena nya. Mereka hidup dalam karya-karya. Hei, betapa indah jika karya itu menjadi jembatan menuju syurga, kan? tidak hanya mengubah dunia, tapi juga “mengubah” akhirat!

Mengingat kiprah para ulama yang menulis, semakin kesini saya semakin sadar, kefakiran ilmu dan kurangnya adab lah yang menjadikan tulisan tak ubahnya seperti pepesan kosong. Iya kosong, nggak ada isinya L atau yang lebih mengerikan lagi, jikalau tulisan-tulisan itu justru menjadi bumerang dan ternyata membuat pembacanya ibarat menenggak racun; buang-buang waktu, memahami hidup dari sudut pandang keliru, atau yang paling mengerikan, membuat si pembaca jauh dengan Rabb yang Mahatau.

Agaknya kalimat “i wanna change the world with my own way” harus sedikit direvisi, barangkali menjadi “i wanna change the world (to be better) with my own way” atau “i wanna create the better world with my own way”  atau “i wanna make the world better with my own way” atau terserah lah apa yang bagus. :’D da intinya begitu.

Ada banyak kebaikan-kebaikan kecil yang bisa kita lakukan. Saya ingat pesan salah satu guru terbaik saya, Ibunda Evi, beliau berpesan pada saya; “jangan pernah lelah berbuat kebaikan sekecil apapun, Rizky. Sebab kita tidak pernah tahu amal kebaikan yang mana yang akan mengantarkan kita ke syurga!” jazaakillahu khaiir Bu Evi :’)

Intinya tulisan ini ingin mengatakan bahwa bukan hanya mulutmu yang harimaumu, tapi juga tulisanmu harimaumu. Perhatikan apa-apa yang kita ungkap, baik melalui lisan maupun tulisan, sekecil apapun itu. Sebab, terlebih di era seperti saat ini, kita tidak pernah tahu ada berapa banyak orang yang mendengar ucapan kita, yang membaca tulisan kita. Kita tidak pernah tahu, dampak sebesar apa yang kita perbuat dengan harimau kita itu. Watch (y)our words. Tulisan memiliki power yang kuat (power yang kuat teh maksudnya gimana sih? ya begitu lah. Kekuatan yang kuat. Kuat kuadrat (?)). Mungkin bisa melengkapi nasihat Ibunda Evi; hati-hati melakukan keburukan sekecil apapun, karena kita tidak tahu amal keburukan yang mana yang akan mengantarkan kita ke neraka! :''(

Saya juga mau minta maaf jikalau ada tulisan-tulisan saya yang tidak berkenan. Saya sangat menerima masukan. Jika memang ada yang keliru, tolong sampaikan saja dan nasihati saya. Semoga Allah memberikan kemudahan bagi saya untuk menerima nasihat, aamiin... Terakhir, terimakasih ya, sahabat yang laporan habis baca blog. Saya nyaris lupa masih punya blog. Barangkali harus ada postingan-postingan yang diterka ulang dan difilter, khawatir unfaedah. Hatur nuhun J

Selepas hujan di Jakarta,
11 Ramadhan 1439 H