Monday, April 24, 2017

Bangkit

Manusia adalah makhluk paling sempurna, katanya. Sebagai khalifah, kita dipercaya. Namun kenyataan itu tentu tiada dapat dijadikan dalih agar berhak bersikap jumawa. Bagaimanapun, titah Tuhan mengabarkan sebuah niscaya akan manusia yang tempatnya salah nan lupa. Berbekalkan akal, manusia dapat jadi lebih baik dari malaikat, dan dapat lebih buruk dari hewan manapun di dunia.

Namun kita tidak diajarkan untuk menunggu, melainkan menerjang. Kita tidak diajarkan untuk pasif, melainkan bergerak aktif. Kita tidak dididik untuk menjadi seorang penyerah, melainkan seorang pejuang. Sebab manusia— sejak awalnya, kita adalah pemenang. Maka kita, yang dititah sebagai khalifah, sekaligus dikata bersifat salah nan lupa, berada di ranah tengah. Pada ranah itulah tugas kita untuk merayakan kesungguhan.

Karena setiap cinta membutuhkan ketegasan; apalagi dalam mencintai Ar-Rahman.


Jayakarta, April 2017
H-30 Ramadhan 1438 H


Sunday, April 23, 2017

Dear, you

Dear, you.

Mengeja kembali syair-syair yang pernah kita lalui. Seberapa jauh kita telah melangkah hingga hari ini? adakah dibanding satu tahun lalu, lima— sepuluh tahun lalu, keimanan kita bertambah? Atau justru ia terjun payung— menurun?  Apa kabar idealisme kita? Apa kabar mimpi-mimpi yang pernah kita canangkan bersama? Apa kabar semangat dan keberpasrahan kita?

Aku tidak lupa. Kita pernah menggores tinta bersama di atas catatan yang dahulu, kita duga akan menyejarah. Setidaknya untuk diri kita sendiri. Hari ini, beberapa tercoret. Sebagian besar yang lain masih menunggu giliran. Tapi agaknya, ada nafas yang berbeda. Ada ritme yang tidak lagi sama. Ada keharusan akan intorspeksi keistiqomahan dan kesadaran diri. Sense of jihad itu, dia ada dimana sekarang?

Aku tahu betul, kamu bukan tipe orang yang mudah mengizinkan dirimu untuk mengeluh. Karena kamu percaya, kehidupan, dilihat dari sudut pandang manapun, memang bukan tempatnya untuk dikeluhkan; kecuali pada Dia saja. Sebab, katamu, “toh hidup ini kan memang sudah dibilang dari awal, ia ujian. Permainan pula. Jadi mengeluh, apalagi sama manusia, buat apa?” Mungkin kamu tidak tahu, tapi diam-diam aku meniru. Dan memang, kamu selalu mengajakku untuk seperti itu.

Tapi, belakangan, aku mendapati diriku merindukanmu yang demikian. Entah kamu menyadari atau tidak, tapi kurasa masing-masing kita ada yang berbeda. Kebaikan-kebaikan kita agaknya mengendor. Semoga aku salah. Tapi kurasa, ada baiknya kita saling mengingatkan. Mungkin, kita memang tengah lupa. Bukankah salah satu manfaat bersahabat adalah dengan saling mengulang kembali syair kebaikan yang nyaris hilang di kepala?

Semoga bukan karena kita bosan untuk berfikir baik; merasakan hal-hal baik; melakukan perbuatan baik. Tidak ada yang terlambat, bukan? Mari kita mulai lagi dengan satu langkah sederhana: istighfar. Ikhtiar untuk meninggalkan segala laku maksiat yang melahirkan dosa.

It's never too late to be what you might have been, Dear.


Jayakarta, April 2017

Thursday, April 20, 2017

Ramadhan

"UMMIIII... sudah ada iklan sirup Mi, di TV!" Amira berlari kencang menghampiri ibunya yang tengah asyik menyiram tanaman di halaman belakang. Perempuan yang biasa disapa 'ummi' itu tertawa kecil, seperti biasa.

"Terusnya kenapa memang kalau ada iklan sirup?" yang bertanya pura-pura tidak mengerti maksud anaknya.

"Ummi gimana sih, itu artinya... dikit lagi bulan puasa, Mii.." Amira tersenyum sumringah. Kedua tangannya diayunkan lebar ke udara membentuk lingkaran.

"Hihi, emangnya siapa yang bilang kalau ada iklan sirup tandanya dikit lagi bulan puasa, Sayang?" Ummi berjalan ke teras mendekati Amira.

"Eh ng.... katanya Nasya tadi di sekolah! hehe..." gadis kecil bermata bulat itu nyengir. Ummi geleng-geleng kepala sambil tertawa.

**

"Ummi, kenapa sih bulan Ramadhan cuma 30 hari?"

"Karena Allah menetapkannya begitu, Sayang"

"Terus hikmahnya apa?"

"Hikmahnya banyaak sekali. Salah satunya supaya jadi spesial, ada sesuatu yang ditunggu-tunggu. Seperti Amira yang suka menunggu-nunggu cerita Abi tentang sirah Nabi setiap hari Jum'at," jawab Ummi sambil tersenyum.

"Oooh iya ya, Mi. Supaya nggak bosan ya?" tanya Amira polos.

"Hmm... bisa jadi. Karena Allah tahu, manusia itu, senang diberi hal-hal spesial. Kadang-kadang kalau setiap hari ada, akhirnya lupa disyukuri."

"Maksudnya gimana, Mi?"

"Coba sini... dengerin Ummi," wanita itu lantas menyejajarkan tingginya dengan Amira, kemudian melanjutkan, "Amira sudah bersyukur hari ini?"

"Sudaah, Mii," jawab Amira bangga. Matanya berbinar.

"Apa saja Sayang, yang sudah disyukuri? Ummi boleh tahu?"

"Bersyukur karena.... tadi Amira dipuji Ibu guru. Katanya tulisan Amira bagus. Terus tadi Nasya bagi cokelat untuk Amira. Terus tadi pagi Abi juga kasih Amira... ups!" Amira refleks menutup mulutnya.

"Ayoo Abi kasih apa?"

"Yah ketahuan Ummi deh," Amira menepuk dahinya,

"Hihi, nggak apa kalau nggak mau kasih tau Ummi. Terus apa lagi yang Amira syukuri?"

"Nanti ya Ummi, Amira tanya Abi dulu boleh nggak kasih tau Ummi," mendengar pernyataan polos anaknya, perempuan itu tertawa, "Hmm... yang Amira syukuri... apa lagi ya, Mi..."

"Amira bernafas hari ini?"

"Loh iya dong, Ummi..."

"Amira melihat?"

"Iya."

"Amira bisa makan hari ini, Sayang? bisa bertemu air?"

"Iya, Ummiii.... Amira tahu!"  perempuan kecil itu mengajungkan jari telunjuknya ke udara.

"Tahu apa?"

"Amira lupa bersyukur karena sudah bernafas, melihat, bisa makan dan bertemu air. Kita suka lupa bersyukur sama yang ditemui setiap hari. Ummi mau bilang itu, kan?"

"Hihi, anak Ummi sekarang sudah makin pintar ya, Alhamdulillah," perempuan itu mengecup pipi anaknya, seraya melanjutkan, "jadi, salah satu hikmah kenapa Ramadhannya 30 hari saja, adalah supaya manusia sadar dan memanfaatkan waktu-waktu indah itu dengan sebaik-baiknya." mendengar penjelasan ibunya, Amira mengangguk-anggukkan kepala. 

"Satu lagi loh, Mi. Amira juga bersyukur punya Ummi. Ummi juga jangan lupa bersyukur punya Amira, Walaupun setiap hari ketemu, jangan sampai lupa ya, Mi. Hehe..."

***


Tulisan ini sudah menjadi draft selama berbulan-bulan.
Alhamdulillah, ternyata sekarang sudah sungguhan dekat Ramadhannya. :)
#welcomingramadhan

Cerita Romantis (1)

كهيعص

"Kaaf Haa Yaa 'Ain Shaad." – (QS.19:1)

Mari bicara tentang cinta. Tentang kisah romantis. Tentang cerita manis. Tentang apa yang dapat membuat hati terketuk pintunya. Tentang syahdu dan merdunya skenario semesta.

Cukuplah histori penuh hikmah tentang Zakaria ‘alaihi salam, akan pinta tulusnya agar memiliki keturunan. Ianya terpotret abadi dalam Al-Quran surat Maryam, nan disebut-sebut sebagai rahmat Tuhan. 

ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا

"(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabb-kamu kepada hamba-Nya Zakaria," – (QS.19:2)

Ia, Zakaria, memperoleh rahmat oleh keyakinan utuh yang tercermin dalam lembut doa pada Yang Maha. Ia mengiba. Memohon dengan tulus. Harapnya tumpah hanya kepada Allah. Maka Zakaria— nabi Allah itu, telah nyata mengajarkan pada kita tentang adab berdoa.

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

"yaitu, tatkala ia berdo'a kepada Rabb-nya, dengan suara yang lembut." – (QS.19:3)

Dengan suara yang lembut. Dengan rayuan mesra, dengan semerbak kekhusyuan; paduan indah antara khauf dan raja. Maka ayat selanjutnya; ayat keempat dari surat Maryam ini, ialah romantisme luar biasa; adalah sedalam-dalamnya gambar keagungan cinta.

Ia adalah kisah manis ekslusif antara seorang hamba dengan Rabb-nya...

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

"Ia berkata: 'Ya Rabb-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Rabb-ku." – (QS.19:4)

Pada titik terlemah. Pada daya yang dirasa habis. Pada pengakuan diri akan ketidakmampuan. Namun pada titik harap paling tinggi. Tidakkah itu luar biasa? Tidakkah ia membutuhkan kelapangan hati nan kejernihan fikir? Pencinta macam apakah seorang Zakaria? Yang bahkan, ia menyatakan seterang-terang, bahwa dirinya tidak pernah kecewa. Sekali lagi, tidak pernah kecewa.

Ya, ia tidak pernah kecewa atas harap  pada Rabb-nya.

Maka, jika ada pinta atas nikmat yang selayaknya paling kita damba, ialah itu nikmat berharap; nikmat untuk tidak pernah kecewa pada-Nya. Sebab, bukankah telah jadi rahasia dunia bahwa tanpa harap, akan mati manusia?



Jayakarta, April 2017


Kontemplasi

Aku bisa menyaksikan berbagai macam tabiat manusia dari sini. Ada banyak fenomena yang menarik untuk dibahas, kamu tahu? Akhir-akhir ini aku sering berkontemplasi sendirian, merenungi hakikat berbagai macam hal. Kehidupan manusia, seringnya terlihat seperti komedi. Meski aku tahu, jika diperjelas, akan nampak ia serupa tragedi. Ada banyak haru-biru yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Kehidupan penuh drama. Karena, bukankah apa yang sedang mereka jalani semata-mata memang hanya berlakon di atas panggung sandiwara?

Tapi ada hal yang cukup membuatku iba sekaligus berdecak kagum pada manusia. Betapa kekuatan manusia seringnya ditentukan juga oleh tragedi-tragedi yang mereka jumpai dalam kehidupan. Mereka akan mendapat ujian, kemudian lelah, terpuruk, menangis, berserah. Lantas saksikanlah bahwa mereka tidak akan pernah menjadi manusia yang sama lagi. Mereka menjelma menjadi lebih kuat. Kekuatannya mengganda, berkembang hingga sekian. Entah berapa kali lipat.

Sebagian dari mereka melihat orang lain hidup dalam kenyamanan, tanpa ujian yang berarti. Sebagian yang lain memandang hidupnya menyedihkan dan penuh kesia-siaan. Kadang aku terkekeh mendapati kenyataan semacam itu. Manusia memang unik. Bagaimana bisa mereka begitu percaya diri? Bagaimana bisa, mereka yang berakal itu, sedemikian sok tahu menyikapi kehidupan? Ah, coba saja mereka bisa melihat serangkaian jejaring kausalitas antar makhluk Tuhan. Mungkin saja sebenarnya homeostasis alam raya semesta ini nyata. Mungkin saja ungkapan tentang roda kehidupan yang berputar memang bukan kiasan belaka. Mungkin saja, tugas manusia memang sungguh-sungguh berada pada dimensi syukur dan sabar seutuhnya. Siapa tahu?

Mungkin bukan komedi, bukan pula tragedi. Yang jelas, dunia ini nyata fana dan tidak abadi.


Ditulis di Kota Hujan,
beberapa hari lalu pada April 2017.

Seperti Dia, Misalnya

Seiring berjalannya waktu, kita akan jadi saling tahu, bahwa pada akhirnya, kata-kata takkan pernah seutuhnya membantu kita untuk mengungkapkan perasaan. Aku jadi semakin mengilhami, bahwa yang namanya speechless itu memang nyata adanya. Semakin spesial sesuatu, semakin sulit untuk dijelaskan. Semakin emosional, semakin teraduk-aduk isi hati kita, semakin sulit untuk diutarakan. Mungkin itu sebab, menangis adalah bahasa yang istimewa. Bahasa yang didamba penghamba yang mengaku cinta manakala berhadapan dengan Rabb-nya. Bahasa yang paling sulit untuk direkayasa, yang paling jujur, yang paling mendalam, yang paling apa adanya. Hanya orang-orang tertentu yang mampu membuat menangis jadi kabur makna dan “ada apanya”. Aku fikir, menangis memerlukan energi lebih jika pun ia ingin dibuat-buat nan direkayasa. Bukankah dibandingkan menangis, kita bisa lebih mudah tersenyum kepada orang asing? Bukankah ketika mata ingin menitikkan air mata, yang kita cari adalah yang terdekat— yang terhangat? seperti Dia, misalnya.


Ditulis di Kota Hujan,
beberapa hari lalu pada April 2017.

Tuesday, February 14, 2017

Anak-anak Cibunian

Kamu tahu? sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Hingga salah satu dari mereka memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” mendengarnya, kemudian aku salah tingkah.

ANAK-ANAK CIBUNIAN
Oleh: Rizky Sahla Tasqiya
           
Jika Indonesia adalah syurganya dunia, aku berani bilang bahwa Desa Cibunian adalah syurganya Pamijahan. Dengan luas yang mencapai 1.258 hektar, Cibunian sukses menjadi desa terluas di Kecamatan Pamijahan. Letaknya yang berada di kaki gunung salak menjadikan desa yang kental dengan budaya Sunda ini berudara sejuk, asri, dan tentu saja; captureable! Indah. Percayalah, bagi orang asal Jakarta sepertiku, menyaksikan gunung ketika membuka jendela kamar setiap harinya ibarat mendapat siraman air dingin di tengah terik panasnya matahari. Menyenangkan sekali.
Aku bersama lima orang teman lainnya tinggal di Desa Cibunian selama dua bulan untuk menjalankan program KKN-T (Kuliah Kerja Nyata - Tematik) yang diwajibkan oleh Institut Pertanian Bogor, perguruan tinggi tempat kami menimba ilmu. Bersyukur, kami ditempatkan di tempat yang begitu memanjakan mata. Tapi hal yang paling aku syukuri dari tempat ini adalah keceriaan desa yang ramah dan ramai oleh anak-anak. Mereka memanggil, menarik ujung baju, mengajak bermain, mengaji, minta diajarkan mengerjakan PR, bahkan mereka juga menciptakan berbagai macam kejutan. Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Sederhana memang, tapi siapa juga yang berani melarang seseorang untuk bercita-cita?
Namanya Putri. Salah satu dari sekian anak yang membuat hari-hariku di Pamijahan jadi begitu menyenangkan. Putri agak berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Ia sering kudapati tidak berkelompok. Seperti ketika kami latihan drama untuk pementasan di kantor desa misalnya, ia tidak tertarik untuk diajak bergabung. Hanya menonton sambil tersenyum malu-malu tiap kuajak ia untuk ikut memainkan peran. Atau ketika kami bermain di sungai, saling melepas canda. Putri justru asyik sendiri. Sama sekali berbeda dengan beberapa anak lain yang ricuh saling berebut memegang tanganku, lantas menarikku menuju tengah derasnya arus.
Satu ketika, kudapati pelipis Putri berdarah. Kutanya mengapa, ia hanya menggelengkan kepala. Tanpa ekspresi. Aku dibuat heran, bagaimana ia begitu tenang sementara darah nyata megalir di pelipisnya? Rasa-rasanya aku yang lebih heboh mencari obat merah dan plester luka. Hei, ternyata bukan hanya itu yang membuatku jadi bertanya-tanya. Setiap Putri ikut serta dalam permainan kami, tak jarang, yang lain justru berkomentar negatif. Komentar polos khas anak-anak seperti “Ih Kak… itu ada si Putri” atau “Yah Kaak, itu Putrinya,” membuat aku mulai berfikir: memangnya kenapa kalau ada Putri?
Main di sungai adalah aktivitas yang paling ditunggu oleh anak-anak Cibunian. Aku sih senang-senang saja. Bahkan cenderung kegirangan. Orang yang hobi hujan-hujanan sepertiku diajak main ke sungai— oleh anak-anak pula. Nikmat mana lagi yang pantas didustakan? Cita sederhanaku terkabul secara kontan. Tapi yang aku khawatirkan adalah perihal izin dari orang tua mereka. Aku tahu, kadang mereka belum meminta izin utuk main ke sungai. Hingga pada suatu sore, kekhawatiranku menjadi kenyataan.
Sore itu, kami baru saja pulang setelah bermain dari sungai. Kami berjalan beriringan sambil memandangi ujung pakaian yang basah. Menyapu pasir yang terhampar di sepanjang perjalanan pulang. Sesekali melepas canda; menertawai hal-hal lucu yang baru saja terjadi. Aku asyik menanggapi ocehan mereka satu per satu, hingga ada yang memanggilku lembut.
“Kak Riris…” anak perempuan itu memeluk lenganku dari belakang.
“Ya? Kenapa, Sayang?” aku menoleh. Putri. Ia lantas menatapku sambil tersenyum. Manis sekali.
“Putri sayang Kak Riris…” katanya setengah berbisik.
“Eh?” demi mendengarnya, aku jadi salah tingkah. Lantas menjawab sambil tertawa kecil menutupi kegugupanku, “Hha iyaa, Kak Riris juga sayaang sama Putri,” lanjutku. Ia menyimpul senyum lagi. Aku balas tersenyum. Kami melanjutkan perjalanan pulang.
Rumah tempatku tinggal bersebelahan dengan rumah Putri. Dengan pakaian yang basah dan kotor sehabis bermain di sungai, aku mencoba membuka kran di halaman samping rumah yang posisinya tepat berada di samping rumah anak delapan tahun itu. Lantas aku mulai membersihkan sandal dan ujung-ujung pakaian yang dihiasi pasir. Hingga sayup-sayup kudengar makian seorang perempuan muda kepada seseorang di rumah sebelah.
Kalau Kamu ada di posisiku, mungkin Kamu akan mengerti betapa menyedihkannya keadaan itu. Pertama, Kamu mendengar makian dari seseorang kepada anak kecil tepat di sebelahmu namun kalian berbataskan dinding dan Kamu tidak punya kuasa apa-apa. Kedua, Kamu bahkan tidak dapat mengerti arti kata per kata yang Kamu dengar, mengingat kemampuan berbahasa Sunda-mu yang payah sekali. Ketiga, Kamu adalah pihak yang ikut terlibat menjadi sebab dari diomelinya anak yang baru saja menyatakan rasa sayangnya padamu. Semoga tidak hiperbola, tapi Kamu tahu? saat itu aku sedih sekali. Perasaan bahagia usai main ke sungai bersama anak-anak seperti habis tidak bersisa. Habis hingga ampas-ampasnya.
Putri dimarahi sang ibu karena ia main ke sungai sampai sore hari tanpa izin terlebih dahulu. Meski aku tidak mengerti bahasa Sunda seutuhnya, tapi aku tahu persis deret kalimat itu adalah sumpah serapah. Kudapati beberapa kata kasar terlontar dibarengi dengan suara guyuran air. Aku sama sekali tidak menyangsikan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Sama sekali tidak. Hanya, ekspresi sayang semacam itu terlalu menyedihkan. Lebih menyedihkan ketika menyadari bahwa aku tidak tahu apa yang dapat kuperbuat.
Kejadian itu sampai pada telinga Ibu, pemilik rumah tempat aku tinggal. Kuceritakan juga pada Ibu perihal kesedihanku. Beliau lantas menghiburku dan mengatakan bahwa aku tidak perlu sedih berlebihan karena kejadian itu. Pasalnya, hal tersebut bukan kali pertama terjadi.
“Nggak usah sedih, Teh Riris…” ujar Ibu yang masih tergolong saudara dekat dengan keluarga Putri, “itu mah sudah sering Ibu bilangin dari dulu supaya jangan terlalu keras mendidik anak. Tapi ya masih begitu juga,” lanjutnya. Menurut Ibu, beberapa kali sudah orang tua Putri diingatkan, namun tidak ada perubahan berarti. Putri dan adiknya yang masih kecil tidak jarang dimarahi karena hal yang sebenarnya sangat lumrah dilakukan oleh anak-anak seusia mereka.
Meski menyedihkan, kejadian itu memberi jawaban atas beberapa pertanyaanku perihal keadaan Putri. Jika mengetahui keadaan keluarganya sedemikian rupa, aku tidak heran mengapa ia tumbuh menjadi anak yang tak mudah bergabung dengan anak-anak lainnya, tidak menangis ketika pelipisnya berdarah akibat goresan bambu, atau kerap melakukan hal-hal aneh demi menarik perhatian seperti berdiri di tengah-tengah khalayak ketika acara berlangsung, misalnya. Iya, anak itu –Putri- haus akan perhatian. Dan ia tidak terbiasa ‘dimanja’ atas hal sesederhana luka dan sedikit darah pada pelipisnya.
Bagian paling berat dari kegiatan KKN-T adalah –apalagi jika bukan- perpisahan. Acara perpisahan kami lakukan dengan sederhana di kantor desa, pada malam terakhir sebelum kami harus kembali kepada rutinitas harian kampus. Penampilan drama anak-anak yang telah lama dipersiapkan jauh melampaui ekspektasi kami. Iya, jauh lebih bagus! mereka bahkan tetap bersemangat meski malam itu mati lampu disertai hujan deras yang menjadikan kantor desa tidak seramai rencana awal. Meski hanya ada beberapa orang tua yang hadir memenuhi undangan, acara perpisahan tetap jadi sangat berkesan. Mati lampu justru menjadikan kami semaki dekat. Kami makan bersama ditemani cahaya lilin; ditemani suara rintik-rintik hujan dari luar.
Bukan anak-anak Cibunian jika tidak pandai memberikan kakak-kakaknya kejutan. Kami mendapat persembahan yang manis sekali; penampilan pembacaan puisi serta menyanyikan lagu perpisahan yang dilakukan mereka bersama-sama secara acapella. Diam-diam aku mencari sosok Putri. Dia tidak ada di barisan anak-anak yang tampil di depan. Ah ya, anak itu selalu punya caranya sendiri. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia menghampiriku tepat sebelum aku dan teman-teman pamit pulang mengakhiri kegiatan KKN-T.
Aku memberikan secari kertas origami berbentuk hati yang sudah kupersiapkan untuk masing-masing anak termasuk Putri. Menerima pemberianku, ia terperangah.
“Buat Putri?” tanyanya.
“Iya, Buat Putri. Makasih ya sudah jadi teman Kak Riris,” balasku tersenyum sambil setengah jongkok. Menyejajarkan tinggi kami.
“Kak Riris…” Putri kemudian memanggilku, lantas mendekatkan mulutnya pada telinga kananku seraya mengatakan sesuatu, “terima kasih ya,” katanya lagi. Aku tertawa sambil megusap-usap kepalanya.
“Iyaa, sama-sama. Semangat ya Putri belajarnya!” ia mengangguk pelan sambil tersenyum simpul.

Hei, mungkin Kamu belum tahu, tapi aku punya banyak cita-cita. Salah satunya adalah bermain bersama anak-anak sambil berlarian lepas dan tertawa. Dan bersama anak-anak Cibunian, kurasa mereka lebih dari sekadar anak-anak; mereka adalah sahabat. Pada akhirnya aku tidak sekadar mewujudkan cita-cita, melainkan memperoleh banyak sekali pelajaran dari mereka. Tentang apa itu keberanian dan kejujuran, juga tentang apa itu ketulusan— seperti pelajaran yang kudapat dari seorang anak perempuan usia delapan tahun bernama Putri...

Sungai yang tidak jauh dari rumah tempat kami tinggal

Tulisan ini dibuat beberapa bulan lalu pada penghujung 2016, 
sebagai kenang-kenangan KKN-T Fema IPB.
(nama 'Putri' hanya samaran)