Wednesday, June 8, 2016

Tinggal

"Oleh manusia, aku tidak peduli apakah mereka menilaiku baik atau buruk. Yang terpenting adalah aku menyampaikan kebenaran, dan bagaimana pandangan Rabb-ku atas apa yang aku lakukan."

**

"Maaf," pemuda itu berkata pelan. Agak menunduk.

"Tapi kenapa harus mengundurkan diri? posisimu disini ketua Kak, bukan main-main." Karang angkat bicara. Aku hanya diam. Tidak tahu harus mengatakan apa.

"Tidak pernah ada posisi manapun dalam tim yang main-main," kali ini ia mengangkat wajah. Ada badai yang tersamarkan oleh sunggingan senyum miliknya.

"Ya, aku tahu," Karang mengangguk, "tapi ini tidak bijaksana sekali. Apa alasanmu, Kak?"

"Urusan keluarga jadi faktor terbesarnya. Semoga Kau mengerti. Aku minta maaf." ia berbalik badan, mulai membereskan peralatannya.

"Kak!," Karang kembali berusara. Intonasinya meninggi, "Kakak fikir kami tidak punya keluarga?! kami juga sama sepertimu, Kak. Kami punya orang tua, punya kakak dan adik yang butuh diperhatikan! mana idealisme dan semangat yang dulu Kakak suarakan itu, hah?!"

"Karang!!" kali ini aku bersuara. Memberi instruksi pada Karang agar tidak banyak bicara.

"Apa alasanmu tetap berada disini, Karang?" pemuda yang sejak tadi dipanggil "Kakak" menoleh, Menatap Karang lekat-lekat.

"Kebaikan. Kebermanfaatan. Mimpi. Setidaknya aku tidak ingin masa mudaku sia-sia," ujar Karang dengan tatapan tajam, "itu yang Kakak katakan dulu, bukan? Kau tidak jadi keren lagi di mataku, Kak!" lanjutnya. Masih memandang lurus.

"Benar. Terima kasih untuk mengingatnya dengan baik. Aku pun memutuskan pergi dengan alasan yang sama. Tentang aku yang tidak jadi keren lagi, aku tidak peduli. Maafkan aku," ia pergi meninggalkan kami. Punggunya semakin jauh tak teraih. Karang jatuh terduduk. Aku tahu, ia pasti sangat kecewa.

**

"Master, kamu tahu apa yang lebih pahit daripada ditinggalkan?" aku tertawa mendengar pertanyaannya. Anak ini selalu saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan sulit.

"Kapan kamu berhenti jadi terlalu serius, Kakak?" kataku sambil mengangkat alis.

"Haha," ia tertawa, "jangan panggil aku Kakak. Kamu lebih tua daripada aku, Master," ujarnya sambil membetulkan posisi kacamata.

"Tapi kamu terlihat lebih tua karena banyak fikiran," aku terkekeh.

"Ya, ya, mungkin ada benarnya. Jadi, kamu tahu apa yang lebih pahit daripada ditinggalkan?"

"Tidak. Apa? kehidupanmu?" jawabku asal. Ia tertawa.

"Meninggalkan. Meninggalkan rasanya jauh lebih pahit daripada ditinggalkan," aku menoleh demi mendengar ucapannya barusan.

Kau, mungkin sekali-kali Kau butuh untuk lebih egois sedikit. Dunia ini tidak berputar dengan dirimu sebagai sebab dari segala masalah, Ketua.

**


Karang, maaf aku meninggalkanmu dan yang lainnya. Tapi ini adalah pilihan sulit. Kalau suatu saat kamu mengalami hal yang sama denganku, ketika kamu berada di dua pilihan rumit untuk meninggalkan, maka tetapkanlah dengan hati nurani. Putuskanlah dengan fikiran yang jernih. Tetaplah berharap kepada Rabb-mu, semoga Ia ridha.

Karang, maaf karena aku mengajakmu -kemudian pergi begitu saja. Karena dalam tim, aku bisa digantikan oleh siapapun yang boleh jadi jauh leih baik. Tapi di rumah, ibuku hanya memiliki aku. Beliau tidak memiliki yang lain. Aku satu-satunya. Semoga kau mengerti.

Dari berjuta sarana kebermanfaatan, kita bisa memilih untuk jadi bermanfaat dimana saja. Untuk detik ini, aku memilih disini. Karena jika ranah lain kutinggalkan, aku yakin seizin Allah ia akan miliki ganti. Sementara ranah ini, bagaimana ia dapat terdelegasi?

Sekali lagi, kuharap kau mengerti.

dari seseorang yang tidak keren,
Kakak.



Batavia, 3 Ramadhan 1437 H

Tuesday, June 7, 2016

Teori Kecerdasan

“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh,
dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai”

(Pramoedya Ananta Toer)



Pandai dan bodoh adalah relatif. Terlebih setelah dunia menemukan bahwa ternyata kepandaian pun begitu beragam; multiple intelligence, begitu kata Howard Gardner. Tapi jika kita ingat-ingat pesan Rasulullah -manusia paling keren seantero jagad raya,- ada satu parameter yang paling konkret dari apa yang disebut pandai/cerdas.

"Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya).”

Saya pertama kali mendengar hadits tersebut disampaikan dalam salah satu kajian ketika duduk di bangku perkuliahan. Jika ia merupakan teori, jelas ini adalah teori yang paling sempurna. Inilah pandangan tentang manusia holistik (fully human) yang sesungguhnya: baik akhlak, banyak mengingat mati serta bagus persiapan dalam menghadapi kematian.

Yang utama, yang baik akhlaknya

Akhlak. Meski dalam beberapa kesempatan kata ini disejajarkan maknanya dengan karakter dan kepribadian, namun saya percaya ada makna yang jauh lebih dalam padanya dibandingkan dua kata yang lain. Boleh jadi karena seolah saya melihat ada kata "Aqidah" di depannya; Aqidah Akhlak. Akhlak yang baik ialah akhlak yang bersanding dengan aqidah yang benar. Jomplang aqidah tanpa akhlak, pincang akhlak tanpa aqidah.

Keutamaan itu rupanya terletak pada akhlak. Saya tidak hendak membahas detil makna hadits ini, karena memang belum sampai keilmuan saya pada tahap tersebut. Namun izinkan orang awam ini terkagum atas sabda nabinya. Bukankah bicara akhlak selalu mengingatkan kita pada the coolest man, ever; Rasulullah Muhammad SAW? Sama sekali tidak ada bantah atas pernyataan bahwa beliau merupakan sebaik-baik suri tauladan.


Yang cerdas, yang paling banyak mengingat kematian

Jika tujuan dari pendidikan holistik adalah membentuk manusia-manusia holistik yang menjadi long life learner, maka orang-orang yang banyak mengingat mati selayakya medapat gelar itu; Long life learner. Mereka akan selalu berada dalam keadaan dimana diri jadi terus belajar. Mereka memetik hikmah dari dirinya dan lingkungannya. Bukan untuk apa-apa, melainkan hati mereka tahu bahwa kematian bisa datang kapan saja. Artinya, kapanpun itu, diri harus selalu berupaya dalam kondisi terbaiknya; kondisi belajar.

"Maka apabila telah tiba ajal mereka (waktu yang telah ditentukan), tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mereka dapat mendahulukannya." (An Nahl: 61)

Yang cerdas, yang paling baik persiapannya dalam menghadapi kematian

Persiapan macam apa yang harus dilakukan untuk menghadapi mati? mari kita ingat, bahwa ternyata, kehidupan manusia adalah tentang syukur, sabar, dan istighfar. Rumus tersebut agaknya terdengar klise bagi sebagian orang, namun ialah sebaik-baik nasihat seseorang kepada saudaranya. "Inti kehidupan itu kan bukan sekarang ini, tapi nanti di syurga," ujar Ustadz Abdullah Gymnastiar pada salah satu kesempatan.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Dan semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”

Lalu apa korelasinya dengan kecerdasan? saya haqqul yakin bahwa aspek ini memang menjadi sebaik-baik indikator atas kecerdasan seseorang. Kalaupun logika manusia belum membuktikannya, bukan berarti teori yang diucapkan oleh Rasulullah tersebut tidak terbukti, melainkan logika kita lah yang tidak/belum sampai untuk membuktikan.

Terakhir, bagi yang sedang mencari-cari ide untuk bahan penelitian, mungkin sudah saatnya kita menyadari bahwa Al-Qur'an dan sunnah yang keduanya merupakan petunjuk itu menyimpan segudang inspirasi kehidupan.

Batavia, 2 Ramadhan 1437 H

Monday, June 6, 2016

Inisiatif

Tadi malam, saya pergi tidur meninggalkan laptop di kamar sebelah dengan posisi masih menyala serta tersambung ke jaringan internet. Lalu surprise! paginya ketika bangun untuk sahur, tampilan Sudzu (baca: nama laptop) saya berubah.



Hi!

We've updated your PC.

All your files are exactly where you left them.

Baiklah, sistem operasi si laptop ter-update sendiri. Sempat kecewa karena "Hei, berani-beraninya main update begitu saja!" yah, tapi kemudian saya hanya tertawa kecil. Tahu-tahu merasa diledek oleh entah siapa.

Memang beberapa waktu belakangan, notifikasi untuk memperbaharui sistem operasi selalu saja muncul tiap saya menggunakan laptop. Berkali-kali juga saya menutup pemberitahuan itu dan tidak peduli. Selain karena alasan sudah nyaman dengan yang saya gunakan, saya juga khawatir jika diperbaharui akan memperlambat kinerja Sudzu yang memang usianya tidak lagi terbilang muda.

Kalau mau dibuat percakapan, mungkin jadinya seperti ini.

Saya: Sudzu, kenapa mau-maunya di-update begitu saja, hei?!
Sudzu: Loh kenapa emangnya Ris? mereka bilang ini keren dan ini yang paling baru.
Saya: Terus seenak-enaknya bikin keputusan tanpa Riris, gitu?
Sudzu: Sudzu nggak mutusin apa-apa, tapi ini kejadian gitu aja. Suer!
Saya: Lain kali, jangan pasrah, Zu. Nggak semua yang mereka anggap keren itu beneran keren untuk kita. Nggak semua yang mereka anggap kita butuh, benar-benar kita butuhkan.
Sudzu: Iya Ris.. maafin...
Saya: Yaudah nggak apa-apa. Maafin juga tadi malem gak dimatiin kamunya. Nanti kita balikin lagi aja ya,

Sumber: (tidak ditemukan) - dari facebook.com

Saya jadi ingat dengan materi kuliah KKN-T beberapa waktu lalu tentang pemberdayaan. "Kita ini kan kadang-kadang sok tahu, lantas mengadakan program tanpa benar-benar melakukan survei di lapangan. Sebenarnya, apa yang masyarakat butuhkan?" --juga ingat dengan perkataan salah seorang pemateri di acara puncak Hardiknas 29 Mei 2016 lalu, "Penting untuk tahu kebutuhan di masyarakat. Jangan bikin komunitas yang tidak benar-benar dibutuhkan dan diada-adakan" (mungkin redaksinya berbeda, tapi kurang lebih demikian). Dosen pembimbing skripsi saya juga pernah bilang begini di salah satu mata kuliah: "Kadang-kadang kan begitu, kita merasa sudah tahu dan pernah merasakan apa yang dia curhatkan pada kita. Jadi rasanya pingin buru-buru merespon. Padahal boleh jadi kasusnya berbeda, Makanya harus mendengarkan."

Inisiatif. Entah, tapi pembaharuan sistem operasi di Sudzu yang serta-merta terjadi begitu saja membuat saya introspeksi tentang inisiatif. Saya tidak membutuhkan pembaharuan tersebut, dan sejujurnya malah tidak ingin sama sekali. Jadi sebagaimana hal baik lainnya, inisiatif pun butuh arahan dan kejelasan. Ada inisiatif untuk melakukan hal baik, sebaliknya ada inisiatif untuk melakukan hal buruk. Dan ternyata, inisiatif dalam hal kebaikan pun tidak cukup hanya sampai pada niat, melainkan harus kita maknai pula cara dan metodenya yang baik. Ketika kita hendak memberi misalnya, tidak ada salahnya mencari tahu bahkan mungkin bertanya kepada pihak yang akan diberi: apa yang ia butuhkan?

Intinya, jangan sampai kita jadi seorang inisiator yang sok tahu. Jangan sampai niat untuk memberikan bantuan dan kebermanfaatan justru memberikan dampak sebaliknya; mengusik dan mengganggu. Daripada mengirim kebaikan, jangan-jangan malah hal sia atau negatif yang kemudian kita transfer.


Batavia, 1 Ramadhan 1437 H

Sunday, May 22, 2016

Luigi, Valerie, dan Tulisan yang Belum Selesai

Tokoh:

Valerie (kuat) latin
Luigi (pejuang) Italia
Bibi Kaia (bumi) yunani



Jauh setelah sang Vesuvius memuntahkan isi perutnya.

Jauh dari peristiwa tahun 79 Masehi ketika Pompeii lenyap tak bersisa…




LUIGI

“Dasar! Apa maksud semua ini hah?! Aku tak pernah habis fikir bagaimana bisa mereka percaya atas surat yang tak jelas asal muasalnya?” Luigi menggerutu. Ia tak terima dirinya diperlakukan seperti boneka. Bagaimana kah hatinya bisa menerima manakala orang tak dikenal hadir dalam hidupnya, mengaku sebagai pamannya, dan memerintahkan ia untuk pergi merantau jauh ke pelosok desa? Seorang Luigi tak akan mudah menerima semuanya begitu saja. Karena Luigi bukan sembarang pemuda. Sejarah hidup yang kejam cukup membuatnya memiliki watak sedemikian rupa. Keras dan dingin.


VALERIE



Valerie tertunduk. Bukannya ia tak sudi memandang jasad ayahnya yang dikremasi. Gadis itu hanya berusaha menyembunyikan tangisnya. Cukup lama ia memendam air mata. Namun sungguh, kini ia tak kuasa. 

“Bersabarlah sayang...“ Bibi Kaia membelai kepalanya lembut. Gadis itu segera menghapus tangisnya dan menegakkan pandangan. Tersenyum kepada Bibi Kaia.

“Terimakasih, Bibi.. Val bahagia masih memiliki Bibi,” Valerie memeluk bibi satu-satunya itu sambil tetap tersenyum. Menyembunyikan tumpahan air mata yang terbendung di pelupuknya.

__________________________________________________________


Penggal tulisan di atas saya tulis ketika duduk di bangku kelas X beberapa tahun silam. Waktu itu saya benar-benar jatuh cinta pada sejarah. Jika pergi keperpustakaan, saya akan memilih berjalan lurus hingga sampai di pojok ruangan tempat dimana buku-buku lama tersimpan, dan kumpulan ensiklopedi berjejer rapi.

Saya tidak ingat persis, hendak ke arah mana penggal cerita yang saya tulis itu. Yang saya ingat, saat itu membuatnya butuh untuk mencuri-curi waktu. Mulai dari mencari referensi nama, studi pustaka tentang Kota Pompeii yang lenyap, dan ngantri giliran pakai komputer yang jumlahnya hanya ada satu buah di asrama. Dan tada! Hasilnya adalah dua paragraf saja. :) kemudian berhenti ketika saya tahu fakta baru bahwa lenyapnya Kota Pompeii terindikasi karena adanya azab dari Allah pada wilayah tersebut. Kabarnya, penduduk Pompeii mengikuti jejak kaum Nabi Luth; berperilaku ala lesbian dan gay. Waktu itu saya berfikir, rasanya tidak rela kalau keluarga Luigi, Valerie, dan Bibi Kaia jadi bagian dari LGBT~ jadilah terhenti.

Di bangku Aliyah, saya tengah dalam kesenangan menulis cerita yang memuat sejarah meski sedikit. Mulai dari "Pemuda itu Bernama Ram" yang bercerita tentang anak sekolahan Jakarta dengan segenap kebenciannya pada masa lalu, namun belum selesai; "Lensa Abu-abu" tentang fotografer amatiran bernama Angga, Thomas yang mualaf, Niken si Venus fotografi, sampai Pak Suja beserta Ratri, anaknya yang santun. Cerita itu berlatar tempat Pelabuhan Sunda Kelapa, namun sayang, juga belum selesai sejak 2012; Dulu saya menulis di buku tulis dan buku itu raib. Sementara yang disalin ke laptop baru setengahnya saja.

Setidaknya ada dua cerita yang selesai; "Kata-kata Laut" yang saya selipkan sedikit (sekali) sejarah tentang Malioboro; juga "GARUDA" tentang bagaimana Indonesia punya lambang negara.

Sore ini saya baru saja memeriksa dokumen-di dalam laptop dan Alhamdulillah, menemukan ada begitu banyak cerita (yang sayangnya belum memiliki ujung). Sebagian rampung, sebagian besar yang lain menggantung. Ada yang berhenti karena tengah dalam pencarian: manfaat dan nilai kebaikan apa yang hendak disampaikan. Sementara yang lain berhenti karena penulisnya moody-an.


Tulisan yang baik adalah yang diselesaikan.


Sebagaimana sebaik-baik niat baik adalah yang diamalkan, tulisan yang baik pun ialah yang diselesaikan. Diselesaikan melalui berbagai pintu mulai dari niat; apa yang mau disampaikan. Selain itu juga memikirkan efek sampingnya; jikalau ia dibaca oleh orang lain, manfaat kah, atau mudharat kah? meski akhirnya itu bergantung pada yang membaca, namun setidaknya stir dan rem masih dalam genggaman kita yang menulis. Setelah itu, baru benar-benar diselesaikan secara konkret. Bukan hanya wacana-- seperti yang kemarin-kemarin mungkin kerap saya lakukan.

Semoga hari ini dan besok tidak lagi.
Dan semoga memberi manfaat baik untuk diri dan orang yang membaca,

Omong-omong, inti dari postingan ini sebenarnya adalah mohon doa.
Semoga kita tidak jadi generasi wacana, terlebih untuk menebar kebermanfaatan pada semesta.

Allahumma aamiin...

Saturday, May 21, 2016

Air Mail #9

Siapa itu yang tengah bosan dan jenuh dengan keadaan dirinya?
Kemarilah. Ada kabar gembira untukmu. :)

Nyonya Val pernah menuliskan catatan itu untukku. Ah ya, maaf Aster. Mungkin Kau belum tahu siapa itu Nyonya Val. Biar aku ceritakan padamu terlebih dahulu. Ia adalah seorang pembuat roti di kota tempat aku melanjutkan studi. Entah, mungkin perkataanmu beberapa tahun silam ada benarnya, “Razen, kamu punya magnet pada orang-orang yang akrab dengan makanan. Curang!” waktu itu aku tidak terlalu memikirkannya. Tapi belakangan aku setuju dengan teori asalmu itu.

Kalau boleh aku umpamakan, Nyonya Val seperti Tuan Erdas yang menjelma perempuan. Mereka berdua mirip sekali. Cara mereka menyapa, cara mereka tertawa, cara mereka menasihati. Aku seperti menemukan sosok Tuan Erdas yang lain. Bahkan kebiasaan minum teh hijau Tuan Erdas juga dimiliki oleh perempuan berkacamata itu.

Hari itu hujan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak terlalu menyambutnya dengan baik. Ada banyak sekali persoalan yang tahu-tahu menghadang secara tidak jelas. Entah sejak kapan, kadang aku merasa jadi mirip perempuan: sensitif. Belum lagi hujan yang seringkali membawa ingatanku kepadamu -dan aku tidak suka itu. Aster, aku tahu, bahwa kebiasaanku mengingat-ingat tetangmu adalah penyakit. Setidaknya sebelum aku belajar tentang apa itu makna ikhlas dan melepaskan.

Nyonya Val mendapati dahiku berkerut memandangi hujan di balik jendela. Tidak seperti biasanya, kali itu ia sendiri yang mengantarkan pesanan roti ke mejaku.

"Kamu terlihat jauh lebih tua hari ini, Nak," ia tersenyum. Membiarkan deret giginya yang sudah tidak lengkap itu terlihat. Aku tidak menjawab, hanya tersenyum tipis,"Ada apa?" ujarnya lagi.

"Aku sedang bosan. Terima kasih Nyonya, untuk rotinya. Selalu saja terlihat enak," kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Dasar bocah laki-laki. Kapan-kapan berceritalah. Setiap orang boleh merasa bosan atau jenuh, Nak,"

"Laki-laki hanya membutuhkan waktu sebentar untuk masuk ke dalam guanya, Nyonya."

"Haha, baiklah. Perkataanmu persis seperti ucapan suamiku waktu kami baru-baru menikah dulu. Kalau begitu, " ujar Nyonya Val sambil beranjak pergi ke dapur, "jangan lama-lama berada di dalam gua. Kurasa matahari akan sangat merindukanmu,"

Aster, roti petang itu jadi tidak seenak biasanya. Aku benar-benar bosan tingkat tinggi. Matahari mana pula yang akan merindukanku? satu bulan belakangan kota ini selalu diguyur hujan.


**

AIR MAIL

Razen, Kau punya magnet pada orang-orang yang akrab dengan makanan. Curang! Hei, bukan hanya itu. Kau juga bisa menarik anak-anak kecil untuk bermain denganmu hanya bermodalkan butir kerikil, pasir, atau bahkan tinggi badanmu yang entah sejak kapan jauh melampauiku. Mereka terlihat begitu bahagia menaiki punggungmu. 

Kau curang, Razen. Kau bahkan memiliki ketenangan samudera. Kau yang tidak punya orang tua bisa begitu berdamai, sementara aku begitu hancur ketika ditinggal oleh ayah. Kau tahu? aku cemburu tingkat tinggi.

Sebelum ayahku pergi, beliau bahkan kerap bicara tentangmu di rumah bersama ibu. Razen yang baik hati dan dapat diandalkan, Razen yang tumbuh menjadi pemuda dan diharapkan oleh banyak tetua untuk membawa perubahan ke arah lebih baik, Razen yang senang berbagi, Razen yang... dan seterusnya.

Lalu Kau bilang, aku yang menjadi inspirasimu. Kau bahkan mampu membuat orang tuaku jatuh cinta. Tidak, bukan hanya mereka- mungkin juga aku. Tidakkah itu curang?

Razen, Kau itu terbuat dari apa?

**
Kita sama-sama tercipta dari tanah. 

Aster, ada banyak hal yang tersimpan dalam benakku. Orang-orang melihatku dengan citra yang tertangkap oleh kedua mata mereka. Begitu juga seperti aku yang melihatmu dengan mata hati milikku; bukan mata hati milikmu atau milik orang lain. Ada banyak hal yang ada dalam kepalaku. Ada banyak hal yang tidak terlihat oleh manusia. Sebaik-baik pihak yang mengenal tiap manusia, adalah Tuhan kita yang esa. Satu-satunya yang paling mengerti secara utuh, menyeluruh, dan sempurna.

Setenang apapun aku dalam pandanganmu, Tuhan tahu aku bosan dan jenuh. Dia tahu betapa aku rapuh. Betapa obrolan para tetua di kampung halaman kita sama sekali bukan hal yang mutlak kebenarannya. Aku tahu, Kau tidak sekanak-kanak itu untuk tidak mengerti apa maksudku kan, Aster?

Kita adalah manusia-manusia tanah yang rapuh dan tidak berdaya. Jangankan mengatur pandangan orang lain terhadap kita. Bahkan menentukan pandangan kita terhadap diri sendiri pun seringkali menyulitkan dan kerap bias yang ada.


Siapa itu yang tengah bosan dan jenuh dengan keadaan dirinya?
Kemarilah. Ada kabar gembira untukmu. :)

Ketika aku menerima catatan itu di sela tisu pada pesanan roti milikku, kudapati Nyonya Val melambaikan tangan dari dapur toko. Ia tersenyum, lalu bersenandung ringan, "Adakah roti yang dapat menghadirkan bahagia, Bu? ada.. ada.. roti yang diracik cinta dan dinikmati dengan syukur, Anakku..." mendengarnya, aku geleng kepala. Tertawa.

Entahlah, Aster. Mungkin kadang-kadang kita harus merasa bosan dan jenuh untuk memahami betapa indah dan nikmatnya rasa syukur. Dan tidak perlu semua orang tahu akan itu. Cukuplah kita pedulikan diri kita yang sesungguhnya di hadapan Tuhan daripada khawatir akan citra diri kita di hadapan manusia. Biarkan saja. Itu hak mereka menggunakan fikirannya. Dinilai baik atau buruk, kitalah yang tahu keadaan sebenarnya, bukan? silakan anggap aku buruk, aku tidak peduli. Silakan angap aku baik, aku juga tidak peduli.

Razen, Kau itu terbuat dari apa?

Tanah. Aku tercipta dari tanah, Aster.
Sama sepertimu.


Sya'ban 1437 H
Kawan lamamu,
Razen.

Thursday, May 12, 2016

Anak-anak Surga

...
...
yang berlarian,
yang tidak takut,
yang miliki keyakinan utuh,
Anak-anak Surga

Bias cahaya diterpa udara,
semerbak canda dan suka duka,
juga segenggam tekad hiasi jiwa-
selimuti raga.

Curang.

Bolehkah pinjami aku kekuatanmu?
Atau sudikah engkau berbagi denganku?

Anak-anak Surga-

padamu,
aku cemburu.

Tuesday, May 10, 2016

Ditanya, Bagaimana Kabarnya?

Hari ini saya bersama teman-teman baru saja turun lapang untuk mata kuliah Konseling Keluarga. Kami mengunjungi salah satu sekolah boarding school ber-beasiswa full di Kota Bogor. Masing-masing dari kami mewawancarai satu orang responden yang telah ditentukan. Responden saya adalah seorang anak kelas 2 SMP. Alih-alih memberikan konsultasi, saya justru belajar banyak melalui percakapan dengan anak 13 tahun itu. Ketika ditanya tentang bagaimana ia berusaha menyelesaikan masalah, ia menjawab dengan tenang, “Ke Allah, Kak. Saya nggak pernah curhat ke teman. Kalau masalahnya sudah berat banget, ke Allah aja. Curhat sama manusa itu nggak nyelesain masalah soalnya, Kak.” Sampai disini saja saya sudah dibuat takjub. Hei Dik, seusiamu dulu, sepertinya Aku bahkan belum berfikir sejauh itu.

Dalam tugas mata kuliah kami, idealnya saya dapat menggali permasalahan yang tengah ia hadapi dan membantu memberikan alternatif solusi. Namun meski responden saya mengaku dalam keadaan sangat bingung atas masalah yang diaku berat selama dua tahun belakangan, ia bersikuat tidak menceritakan ke siapapun. Saya mengiyakan. Diam-diam mengerti, karena toh meski saya banyak cerita seperti ini, tetap saja ada hal-hal mendasar yang tidak bisa diceritakan pada siapapun kecuali kepada-Nya. Lalu tidak cukup sampai disitu, saya kembali dibuat introspeksi diri mendengar kalimat-kalimatnya kemudian.

“Ya paling mendoakan, Kak. Biasanya kalau tahajjud. Saya paling bisanya mendoakan,” ujarnya ketika saya tanya, apakah ia menggunakan ‘strategi’ silaturrahim ketika tengah menghadapi masalah. Lagi, jawabannya kembali kepada Allah. Ia mengaku terbiasa menyendiri di masjid dan membaca Al-Qur’an jika sedang sedih. Lalu hal yang membuat saya seperti ditampar udara dalam seketika, ketika ia berkata seperti ini:

“Saya suka mikir sih, Kak. Daripada baca novel yang tebal-tebal, halamannya bahkan sampai ratusan dan berjilid-jilid jumlahnya….” Ujarnya sambil mengilustrasikan tebal novel yang biasa dibaca teman-temannya, “mendingan baca Al-Qur’an. Ngapain juga baca novel kalau baca Al-Qur’an aja belum khatam.”

Ini… daripada disebut turun lapang dan berperan sebagai konsultan amatiran, saya justru lebih merasa tengah di-training oleh Allah. Adik itu boleh jadi hanya washilah Allah dalam menyampaikan rentet hikmah semesta pada saya. Semoga tidak berlebihan, tapi saya merasa sungguh-sungguh tengah diperhatikan oleh-Nya. Tengah dipeluk. Tengah dibisiki mesra oleh langit; Riris yang mengaku cinta Allah dan Rasul-Nya, interaksimu dengan Al-Qur’an apa kabar? Doa-doa untuk keluarga dan saudaramu apa kabar? Prasangka baik  pada Rabb-mu- masihkah ia pada tempatnya?

Ternyata Allah memang selalu penuh kejutan. Menanyakan kabar hamba-Nya saja semanis ini; jalannya tidak disangka-sangka-

Kota Hujan, Sya'ban 1437 H