Saturday, January 2, 2016

Tuhan, Harap Maklumi Kami

Tuhan, harap maklumi kami, manusia-manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar-benar sibuk, sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, harap maklumi kami, hamba-hamba-Mu yang begitu padat rutinitas, sehingga kami sangat kesulitan mengatr jadwal untuk menghadap-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk, jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda-tunda. Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajid, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami. Jangankan puasa Senin-Kamis, jangankan ayyaamul baith, jangankan puasa Nabi Daud, bahkan puasa Ramadhan saja kami sering mengeluh.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, jangankan jariah, bahkan mengeluarkan zakat wajib saja seringkali terlupa.

Tuhan, maafkan kami, kekayaan kami belumlah seberapa, kami masih perlu banyak menabung, sehingga kami tidak bisa menyisihkan sebagian rezeki-Mu untuk memperjuangkan agama-Mu.

Tuhan, maafkan kami, kami tak sempat bersyukur. Jiwa kami begitu rakus. Kami tak kunjung puas dengan nikmat-Mu, sehingga kami kesulitan mencari-cari mana karunia-Mu yang layak kami syukuri.

Tuhan, maaf, kami orang-orang sibuk. Bahkan kami kesulitan waktu untuk mengerjakan amalan yang dapat menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami hampir tak ada waktu untuk menari bekal menuju surga-Mu.

Tuhan, urusan-urusan dunia kami masih amatlah banyak. Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, menyungkur sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. Tuhan, tolong, jangan dulu Engkau menyuruh Izrail mengambil nyawa kami, karena kaim masih terlalu sibuk.

Tuhan maaf, kami terlalu sibuk. Padahal Engkau memerintahkan kami berwudhu untuk membasuh wajah kami yang telah penat memikirkan dunia. Padahal Engkau meminta kami bertakbir ketika jiwa kami terasa letih menggapai cita. Padahal Engkau perintahkan kami bersujud untuk meregangkan pundak kami yang telah letih memikul amanah.

Tuhan, maaf, selama ini kami terlalu sibuk. Kami terlalu sombong kepada-Mu, seolah kami tak membutuhkan-Mu. Mohon cahayai hati kami, guyur jiwa kami dengan hidayah-Mu. Agar jiwa ini tawadhu' di hadapan-Mu. Agar jiwa kami ikhlas menuruti tuntunan-Mu. Agar diri ini tegar disaat yang lain terlempar. Agar jiwa ini teguh disaat yang lain runtuh.

Tuhan, maaf, selama ini kami merasa sok sibuk. Padahal Engkau lah yang Mahasibuk. Kami seringkali telat menghadap-Mu, padahal Engkau tak pernah sekali pun telat memberi kami makan dan minum setiap hari. Kami seringkali lupa menunaika kewajiban kami pada-Mu, padahal Engkau tak pernah lupa menerbitkan mentari di pagi hari. Kami seringkali lalai mengingat-Mu, padahal Engkau tak pernah sekalipun lalai mempergilirkan siang dan malam. Setiap saat keburukan kami naik disampaikan para malaikat pada-Mu, sementara kebaikan-Mu setiap detik tercurah kepada kami.

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (Makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur..." (QS Al-Baqarah: 255)

ditulis oleh Ahmad Rifa'i Rif'an,
dalam buku "Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk"

Membacanya,
kemudian campur aduk.

Friday, December 25, 2015

Halal Awareness for Children

Halal has become the lifestyle in the world. For Muslim consumers, halal product means that the products has met the requirements laid down by the Islamic shariah law. As the Muslim populations increasing throughout the world, the awareness on consuming Halal also goes in the same parallel trend. Halal is not only covering food consumption, but also for non-food products such as cosmetics, toiletries, pharmaceuticals, leather products, perfume and fragrances, brushes and so on. The services such as banking, entertainment, tourism, and logistic are also related to Halal requirements (Rahim, 2013).

It is important for muslim to know about halal and why it matters their life. Especially about food, Allah SWT said in Quran surah Al-Baqarah: 172 "O you who believed, eat from the good things which We have provided for you and be grateful to Allah if it is [indeed] Him that you worship." and Al-Baqarah: 173 "He has only forbidden to you dead animals, blood, the flesh of wine, and that which has been dedicated to other than Allah. But whoever is forced [by necessary] neither desiring [it] nor transgressing ]its limit]. there is no sin upon him. Indeed, Allah is forgiving and merciful."  Both show that Halal education is needed especially for muslim as consumers.

The best period to educate is in children era.  Children period of human is the most appropriate time for somebody to get education includes halal awareness. It should be given by parents for children as it is a crucial thing for us as muslim. This following five points will show you how to build halal awareness among children:

1. Show them. Show them that you’re aware before you tell them what awareness is. Children are good imitators. Many people failed because they used to tell their children without even show them how. Start with simple things such as read ingredients and make sure about halal logo in your food packaging, or make conversation about halal with your spouse -for the example. Let your children see.

2. Let and teach. Sometimes, it is important for children to make a decision by their self. Bring your children in shopping time, and ask them to help you choose a product. Whether they choose the ‘halal’ one, appreciate it. “Alhamdulillah, thank you for choosing me the halal one, Honey.” But when they choose the non halal one, or product with no halal logo, that’s a right time to tell them. Say something good and correct it, “Alhamdulillah, thank you for helping me, Dear. But this one has no halal logo. How if we choose another?” -and don't forget to smile.

3. Make dua. Dua is our weapon as muslim. Start every single thing with dua. We know that we can’t ensure the halalness for every product. For the example, we eat fried chicken in a restaurant, We don't know; is it halal? is it slaughtered properly based on syariah? Then, dua completes our effort. Dua is an indicator that we’ve tried our best and we act tawakkal as Allah commands us in the Quran. Involved your children in dua activity, build the sense of tauhid in all of their activity. Later, this simple thing will significantly affect their future. InshaaAllah.

4. Right and Obligation. Help your children to learn moral reasoning about halal. Children usually questioning everything. Why we can't eat those things? why we have to aware about halal? why. why, why. Specifically, they usually ask ‘why’ for every single thing. Do not ever feel too lazy to answer their question. Remember that you're helping them to build awareness. Use creative ways to tell about right and obligation as a muslim, and show the beauty of Islam :) One more thing, remember to use concrete explanation. Make it easy for them to understand.

5. Story. Story telling is a great choice to educate children and raising their halal awareness. It elaborates audio, visual, and also kinesthetic. You can make your own story, or search it on the internet. In addition, it is also important for you to tell them about sirah nabawiyah and another islamic story especially that linked into halal.

         

Well done, happy raising awareness! :)

Rahim NF, Shafii Z, Shahwan S. 2013. Awareness and perception of muslim consumers on non-food halal product. Journal of Social and Development Sciences 4:478-487.

  Rizky Sahla Tasqiya, student of Family and Consumer Sciences
Halal Product Management | Syariah Economy | Bogor Agricultural University

Wednesday, December 23, 2015

Sederhana


Aku ingin membahagiakanmu dengan sederhana.
Sesederhana canda di sela-sela padatnya hari kita,
Sesederhana pengaminan atas panjat doa yang kita saling pinta

Aku ingin menjadi kawanmu dengan sederhana. Sederhana saja.
Sesederhana mendukungmu untuk terus maju, melangkah, dan tidak berhenti sampai disana
Sesederhana mendengarkanmu berbagi cerita, atau menanyakan kabarmu secara tiba-tiba

Aku ingin menjadi bagian dari episodemu dengan sederhana.
Sesederhana jumpa atau sapa kita yang tidak direncana
Sesederhana senyum, tangis, dan tawa yang entah maknanya apa

Entah siapa yang akan meninggalkan siapa,

Kalau nanti tidak kau temui aku di syurga,
kumohon kesediaanmu untuk memanggil namaku -kelak dihadapan-Nya..

Aku ingin membahagiakanmu dengan sederhana.
Tapi faktanya, sampai kapanpun aku takkan kuasa.

Bahagiamu jelas-jelas karenaNya.
Pun bahagiaku, ia juga milikNya.

Kita ini cuma hamba.



ditulis di Kota Hujan pada hari petang,
ketika rintik menyapa kantin organik

Monday, December 21, 2015

Bunga Matahari di Serambi Rumahku

Pada suatu hari, di suatu tempat

Kautinggalkan setangkai bunga matahari, di serambi rumahku
Bunga itu telah kausiapkan sejak lama,
bukan untuk diriku saja, tapi juga untuk yang lainnya
Tapi kau, dengan elok mengemas ia yang sederhana jadi begitu istimewa
Membuat siapa saja yang berjumpa bunga mataharimu, lantas merasa bahagia
Kemudian menjatuhkan cinta yang paling tulus sedunia-

Begitu juga dengan aku, begitu juga dengan serambi rumahku
Ia telah lama hanya bersuara, namun geraknya tiada
Hingga kau dan bunga mataharimu datang mengetuk pintu, lantas menyapa
Membuatku tertarik untuk mencoba -tidak peduli ini kali keberapa
Maka terimakasih untuk bunga matahari yang kau titipkan pada serambi ini
Meski tanpa suara, meski mungkin kau tidak menyadari

Pada suatu hari yang telah lalu, kau sering sekali bercerita
Tentang apapun
Tentang apa yang ada di dunia dan apa yang nyata dalam kehidupan
Tentang apa-apa yang indah dan tak indah -dari dirinya
Juga tentang aneka macam pelajaran dan semerbak himah,
yang menjadikan mataku terbuka dan pikirku tercerah

Kau
Kau bererita di balik pintumu.
Dengan caramu, dengan gayamu, dengan bahasamu

Kau bercerita dengan keterbukaanmu
Kapan saja aku singgah
Kapan saja kami mengetuk dan menyapa
Entah sebentar atau untuk waktu yang lama
Kau sabar, mendengarkan, dan sesekali tertawa
Kau menyampaikan
Kau mengajarkan
Kau meramaikan

Kau, dan bunga mataharimu
adalah guru.

Kautinggalkan setangkai bunga matahari, di serambi rumahku
Bunga itu telah kausiapkan sejak lama,
bukan untuk diriku saja, tapi juga untuk yang lainnya
Pada suatu hari nanti, entah kapan
Izinkan aku kembali menjumpaimu
Izinkan kami kembali datang menghampirimu
Kala itu biar giliran kami meninggalkan sebatang bunga,
di serambi rumahmu

Pintumu mungkin berpindah
Tapi aku tahu, ia akan selalu terbuka
Masih dengan sederhananya- masih dengan sahajanya

Aku tahu :')


Untuk seorang pendidik,
dari seorang terdidik yang berterimakasih.

Terinspirasi dari sini

Sunday, December 20, 2015

Pergi

"Mau sampai kapan?" kamu memandangku sinis.

"Kan sudah kubilang, aku menunggu waktu yang tepat," hening sejenak.

"Kamu ini. Kita takkan bisa selamanya bersiap-siap untuk siap," kamu angkat bicara. Aku menghela nafas panjang.

"Jadi bagaimana baiknya?" tanyaku.

"Berhenti menunda-nunda lagi. Tidak perlu takut. Lakukan saja, ciptakan ketepatan waktumu sendiri,"

"..."

"Memangnya kamu mau, terus-terusan menunggu?"

"Maksudmu, aku harus pergi?"

"Kurasa iya," kamu tersenyum, kemudian melanjutkan, "tidak perlu khawatir, Tuhan kita tidak pernah menyia-nyiakan usaha setiap hamba-Nya."

Aku diam. Memandangmu, kemudian kembali menghela nafas --kali ini panjang sekali.

"Doakan aku," ujarku setelahnya.


Balada Assalamu'alaikum

Setiap tulisan akan menemukan pembacanya.
(Hilyatul Fadliyah, 2015)

Beberapa bulan belakangan, entah bagaimana saya mendapati sapaan salam melalui orang-orang yang sebelumnya tidak dikenal. Dari kesemuanya, saya menarik sebuah kesimpulan sederhana: Allah sungguh-sungguh tidak pernah kehabisan cara berbincang dengan hamba-Nya.

Lucu dan menarik sekali –setidaknya bagi saya- ketika kita tengah menghadapi suatu hal entah apakah itu pemahaman, permasalahan, pilihan, atau mungkin ujian, dan kita bertanya serta bercerita pada Allah, lantas tahu-tahu ada mereka (yang tidak tahu darimana asalnya) menyapa dan secara tidak langsung menjawab persoalan. Dalam beberapa hal juga menjadi sarana Allah menguji kesungguhan, keyakinan, dan keimanan.

Salah satunya adalah ketika suatu pagi beberapa hari lalu, saya menerima rentet pesan dari seorang adik yang sekitar empat bulan lalu menyapa saya dengan salam ramahnya. :)

“Kak, tolong nasihati aku,” begitu bunyi penggalan pesan pagi yang ia kirimkan. Membaca kalimat-kalimat setelahnya, membuat saya tersenyum dan takjub pada Allah. Terkait dengan akademik, ia bertanya tentang bagaimana agar bisa memanfaatkan waktu dengan baik, bagaimana bisa mengatasi rasa rendah diri, bagaimana mengatasi perasaan bersalah atas waktu-waktu terlewat yang menurutnya kurang optimal.

Saya jadi ingat dengan salah satu percakapan di masa Aliyah. Suatu ketika ada seorang kawan yang menghampiri saya sambal menangis. Ia bercerita tentang salah satu nilai mata pelajaran yang hasilnya di bawah standar, dan harus diremedial. Waktu itu, saya tengah turun dari tangga asrama. 

“Ririiis.. aku remed kimianya…” pipinya basah. Saya menepuk-nepuk pundaknya dan berusaha mendengarkan dengan baik. 

“Iya, gak apa-apa,” jawab saya sekenanya sambal tersenyum simpul, "semangat yaa," ujar saya lagi. Lantas menarik nafas dalam-dalam. Hhe :D

“Riris gimana? Ga remed ya mesti” ia berkata, masih dengan air mata yang bercucuran. Mendengarnya, saya tertawa.

“Alhamdulillah, remed juga kok” jawab saya.

**

Saya bercita-cita untuk menjadi seorang pendidik, dan tidak pernah menyangka sebelumnya, bahwa cita-cita itu mampu memberikan saya kekuatan semacam ini. Berusaha menjadi ‘orang-orang Alhamdulillah’. Jangan dikira saya tidak sedih, tentu saja saya memiliki perasaan itu. Jangan dikira saya tidak kecewa, tentu saja sebagai manusia, kecewa itu ada. Saya hanya berusaha untuk selalu memiliki prasangka baik kepada Allah. Hei, hidup ini bukan melulu tentang nilai kuantitatif yang mampu dilihat manusia. Saya memiliki keyakinan bahwa apapun yang Allah takdirkan terjadi kepada saya, tidak pernah merugikan saya sedikit pun. Kita hanya perlu lebih jeli melihat segala sesuatu.

Waktu itu saya selalu berfikir bahwa Allah memfasilitasi saya yang ingin menjadi seorang pendidik agar pernah mengalami berbagai macam kondisi. Karena kelak, akan ada lebih banyak kondisi yang dialami oleh mereka yang akan saya didik nantinya. Saya harus mampu memahami dengan baik mereka satu per satu, bukan? Mungkin ini salah satu sarana dari-Nya. Jadi, kenapa tidak kita nikmati saja? Toh mau jungkir-balik pun, apa yang terjadi takkan pernah bisa ditarik lagi. Dan juga, sebenarnya ini sungguh nikmat yang patut disyukuri. Kapan lagi mendapat training gratis? Hhe :)

Lalu untuk kamu yang minta dinasihati, ketahuilah bahwa pesanmu justru menasihati Kakak, Dik. Terimakasih sudah bertanya. Semoga apa yang Kakak tuliskan ini bisa bermanfaat.

1. Makna. Pertama, penting bagi kita untuk memahami makna dari kata ‘belajar’ itu sendiri. Kalau kita memaknai kata 'belajar' hanya seputar kelas, tugas, angka, dan nilai, maka percayalah bahwa kita tidak akan pernah merasa cukup; tidak pernah merasa bersyukur.

2. Hargai Proses. Belajarlah menghargai proses. Berbahagialah atas hasil, seberapa pun itu,  ketika kita tahu bahwa kita telah mengusahakan yang terbaik. Silahkan merasa sedih dan meningkatkan diri, ketika kita menyadari bahwa proses yang kita lalui jauh dari baik. Bawa konsep ini pada doa-doa kita. Mulai meminta dikaruniakan proses yang semerbak alih-alih memohon agar diberi hasil yang menawan. Silahkan minta kedua-duanya. Dia Mahakaya. Tapi jangan lupa maknai setiap pinta kita. Iktiarkan, usahkan. :)

3. Ikhlas. Mengikhlaskan. Apapun yang telah terjadi, takkan pernah mampu kita menarik kembali. Ihlaskan jika ada waktu yang terbuang percuma. Ikhlaskan jika ikhtiar kita dirasa kurang optimal. Ikhlaskan, namun bukan berarti membiarkan. Yang lalu silahkan ambil pelajarannya, sekarang bagian kita adalah melakukan yang terbaik pada titik dimana kita berdiri. Bangkit!

4. Ingat Allah. Benar bahwa hanya dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang. Ingat bahwa Allah tidak pernah mewajibkan kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Sama sekali tidak. Tapi Allah, dalam firman-Nya, jelas-jelas melarang setiap hamba untuk berputus asa. Jadi sebenarnya, kita sebagai orang-orang yang mengaku beriman, tidak punya pilihan lain selain berjuang dan terus melaju. Secompang-camping apapun keadaan kita, semiskin apapun daya yang kita punya. Kita tidak punya pilihan. Dan tidak perlu pusing memikirkan hasil, itu murni hak Allah. Tugas kita sesederhana ‘tidak berputus asa’. :)

5. Lihat. See beyond the eyes can see. Banyak manusia yang dapat menggunakan matanya dengan baik, tapi tidak dengan mata hati. Sesungguhnya yang buta bukanlah mata, melainkan hati. Lihat segala apa yang Allah berikan kepada kita menggunakan mata hati. Saksikan kausalitas hidup yang ada, nikmati keindahan dari Dia. Mungkin kita bertemu dengan orang-orang tertentu atas apa yang kita nilai sebagai ujian, mungkin kita mendapatkan kesempatan berbagi atas waktu-waktu yang sempat kita nilai terbuang percuma. Pandai-pandailah menggunakan mata hati.



Terimakasih untuk bertanya,
tidak perlu sungkan-sungkan mengucapkan salam lagi.
Semoga bisa berjumpa kapan-kapan. :) jazakumullahu khairan katsiiran.

Oh iya, terimakasih sudah menjadi salah satu sarana Allah menunjukkan kebesaranNya.
SEMANGAT! yang disinipun mohon doa agar dikuatkan. Karena selalu ada ujian dan tanggung jawab dalam setiap kata yang dilisankan.

Thursday, December 17, 2015

Kenapa Mendongeng?

Pada postingan sebelum ini, saya berbagi tentang kuliah umum berupa pelatihan konseling oleh Ibu Neti Lesmanawati yang diselenggarakan oleh Departemen IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen) Fakultas Ekologi Manusia IPB pada 21 November 2015 lalu.

Pada kuliah umum tersebut, selain ibu Neti ada pula Kak Ojan. Pemilik nama asli Ahmad Fauzan ini memberikan kami wawasan tentang dunia perdongengan. Beliau adalah seorang pendongeng nasional yang telah menyampaikan dongeng untuk anak-anak di berbagai daerah Indonesia. Mulai dari anak-anak Timika Papua, anak-anak Rohingnya yang mengungsi di Aceh, juga korban asap di Kepulauan Riau. Kak Ojan bersama para pendongeng lainnya menghibur dan mengedukasi anak-anak.

Sebelum memulai presentasinya, Kak Ojan mengajak kami menyamakan persepsi terlebih dahulu tentang definisi mendongeng. Ketika ditanya "Siapa disini yang pernah mendongeng?" untuk pertama kalinya, dari sekitar 100 mahasiswa, hanya dua orang yang mengacungkan tangan. Namun setelah kami menyamakan persepsi bahwa mendongeng adalah bercerita, semuanya mengaku pernah. Siapa pula yang dalam hidupnya tidak pernah bercerita?


Lantas kenapa mendongeng?

Ada begitu banyak manfaat yang dapat diperoleh dari kegiatan mendongeng. Meningkatkan kelekatan antara pengasuh dengan anak, memperluas literasi-kosakata anak, juga hal yang baru saya dapatkan adalah bahwa mendongeng mencakup tiga tipe belajar anak (visual, auditori, dan kinestetik). Ini merupakan sarana luar biasa untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak –dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada anak. :)

Kabar gembiranya adalah, mendongeng bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, dan dengan biaya yang murah. Kita hanya butuh mengalokasikan waktu untuk melakukan kegiatan mendongeng. Kak Ojan mengajarkan pada kami tentang hal-hal apa saja yang harus diperhatikan ketika mendongeng di depan anak-anak. Pastikan cerita dan gaya bahasa yang kita gunakan sesuai dengan mereka, Kemudian hal yang paling penting adalah tetapkan tujuan. Berdoalah sebelum memulai dongeng, dan niatkan, bahwa apa yang kita lakukan semata-mata adalah untuk mengedukasi anak-anak, menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Jadi kita tidak perlu dibuat was-was seperti "Ng.. nanti kira-kira mereka tertawa nggak ya??"

Oh iya, untuk berdoa, Kak Ojan menyebutkan doa nabi Musa yang mahsyur sekali, Begini bunyinya:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْ
Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku”

Jadi, alih-alih membiarkan anak-anak asyik di hadapan gadget, layar hp, komputer, atau televisi sendirian, lebih baik mengajaknya berdiskusi dan bercerita :D bantulah mereka menjadi generasi masa depan yang mencintai ilmu, kreatif, inovatif, mencintai sejarah, gemar membaca buku, kaya bahasa, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, cerdas emosional, berpengetahuan luas, dan -tentu saja- mencintai Rabb-nya. :) Kabarkanlah mengenai kisah-kisah hikmah yang mampu menjadi bahan bakar bagi gerak motor karakter mereka.