Friday, October 24, 2014

#thinkagain

Adalah seorang pemuda yang suatu ketika bertanya pada Tuhan. 

Tuhan,  dimanakah kau tempatkan aku pada ranah perjuangan? Sementara kawan-kawanku perlahan telah menemukan jalan juangnya masing-masing. Lantas bagaimana dengan urusan aku? Apa sungguh aku Engkau ciptakan untuk ‘sekadar’ menjadi penggembira pada kisah-kisah hidup orang lain?

Bahkan urusan sederhana seperti ini saja aku tidak becus, Tuhan. Bagaimana aku mendapat kesempatan meraih cita, jikalau kesempatan untuk aku berjuang saja Engkau ‘tiadakan’?

Hening sejenak.

Kemudian pemuda itu tersentak.

Ini adalah keadaan terhimpit. Keadaan dimana peluang dirasa sangat sedikit bahkan hanpir tidak mungkin. Bukankah justru keadaan seperti inilah saat yang tepat untuk berjuang? Inilah kesempatan emas itu. Memperjuangkan peluang sekecil apapun. Bukankah Tuhan sedang mengajaknya berbincang? Memberinya kesempatan untuk berjuang; untuk berlelah-lelah.

Dan benar saja, peluang kecil itu lunas terbayarkan menjadi satu. Bertubi-tubi, dalam durasi tidak lebih dari sekali putaran rotasi bumi.

Sungguh, terdapat petunjuk bagi orang-orang yang berfikir.

#thinkagain

Pada penghujung tahun 1435 H,




Friday, October 10, 2014

Air Mail #5



Aku.
Mencarimu di antara rindang pepohonan,
Mengamati tanda kedatanganmu dalam sayup-sayup bisikan pasir pantai,
Mengharapkan kehadiranmu di sela-sela barisan semut pagi hari

                Aster, kau masih ingat Tuan Erdas? paman yang kerap membekali kita sekeranjang stroberi setiap hari Rabu  itu kini telah tiada.



 AIR MAIL

                      
“Razen, kau itu terlalu sentimentil.Bisa tidak, lebih melogika sedikit? Bukankah kamu laki-laki?” Itu adalah deretan kalimat pembunuh nomor satu bagi seorang anak laki-laki.  Kau harus tahu akan hal itu, Aster.

“Sentimentil?”

“Iya,” ujarmu pelan.Matamu masih sembab. Kau baru saja menangis terisak sambil mengetuk-ngetuk pintu panti. Mencari kawan-kawanmu. Mencari aku, mungkin saja. Dan entah apakah itu keberuntungan atau sebuah kesialan, hanya ada aku dan para petugas di panti.

“Jangan bilang aku sentimentil. Kau yang baru saja menangis, Aster cengeng.”Aku beranjak meninggalkanmu dari lapangan bola. Bergegas hendak masuk ke dalam panti. Bukan jahat, hanya berharap agar kau meneriakiku seperti biasa, menyumpahiku sesukamu, lalu kau kembali normal. Tapi jujur saja, deret kalimatmu soal sentimentil sungguh membunuhku. Aku sedang demam tinggi, Aster. Bagaimana bisa kau tidak menyadari? Bagaimana bisa logikaku dinyalakan seratus persen, sementara pandangan mataku begitu buram, bahkan  untuk sekadar melihat sosokmu.

“Kenapa ditinggal?” tanyamu pelan. Masih terisak. Berusaha melempariku dengan rumput lapangan bola. Tindakan bodohmu yang baru saja aku jumpai. Hei, kau ini kenapa, Aster?

“Peduli apa? Aku sudah minta maaf, kenapa justru kau bilang aku sentimentil?” aku membelakangimu, berjalan terus masuk ke dalam panti. Kepalaku berat sekali. Diam-diam masih mengharap balasan ocehanmu. Tapi ternyata kau tidak berkata apa-apa lagi. Kau diam. Membiarkan aku pergi meninggalkanmu sendiri di lapangan bola.

**

“Assalamu’alaik. Permisi, Nyonya. Apa Tuan Erdas masih tinggal disini?”

“Erdas El-Ghuraba?”

“Ya, benar.Beliau masih disini?”

“Sayang sekali anak muda, satu bulan lalu anaknya menjemput beliau untuk pulang. Tubuhnya sakit-sakitan.”

“Pulang kemana, boleh saya tahu?”

“Ke pusat kota utama.Maafkan kami, tapi baru saja dua hari lalu ada kabar bahwa beliau telah tiada.”

“Tiada? Maksudnya beliau wafat?”

“Ya, sekarang kebun stroberinya dikelola oleh anak beliau.”

“Astaghfirullah. Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun”


Aster, apa mungkin ini sungguh rencana Tuhan untuk memudahkanku dalam melupakanmu?
Atau, Tuhan hendak mengajariku untuk berdamai dengan masa lalu?

**

“Jangan minta maaf. Kau bahkan tidak tahu kenapa aku menangis, kan? Harusnya tidak perlu minta maaf. Itu yang membuatmu terlalu sentimentil. Berhentilah menjadi pahlawan, Razen.”

Kalau kau tanya apa deret kalimat pembunuh nomor dua, maka tuisanmu dalam memo itu, adalah jawabnya.

Aster, aku tahu kau yang teramat keras kepala. Tapi tidakkah kau menyadari satu hal mendasar? Rasanya sederet kalimat itu lebih cocok jika disematkan padamu, bukan padaku. Atau jangan-jangan kita memiliki kemiripan dalam hal ini? Pahlawan.

“Ayahku meninggal, Razen.”

“Apa katamu?”

“Kemarin aku menangis, ayahku meninggal.” Kau tertunduk pilu. Aku sungguh tertegun. Tidak tahu harus berkata apa.

“Maaf.  Aku sama sekali tidak tahu...”

“Tidak apa. Aku juga tidak tahu kau sedang demam tinggi. Maaf.” Kemudian kau memamerkan gigi. Nyengir. Sama sekali tidak indah, Aster. Kau menangis sambil tertawa. Pilu sekali. Diam-diam aku memaki diriku sendiri yang kemarin mengataimu cengeng. Sungguh, maafkan aku. Aku sama sekali tidak tahu.

Aku sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang yang amat kita sayangi. Mungkin kalimatku lebih membunuh daripada milikmu, Aster cengeng…

**

Aster, kita hidup dalam kausalitas hidup yang idak berkesudahan. Sambung-menyambung. Suatu saat kita menjadi sebab, dan pada kesempatan yang lain kita akan menjadi akibat. Mungkin mengenalmu membuatku jadi begitu sentimentil. Maka saat itu kau menjadi sebab. Mungkin, perpisahan denganmu adalah jawab Tuhan atas doa sederhanaku yang meminta agar Dia menjadikanku seorang yang bergerak dinamis menjadi lebih baik setiap harinya. Dan saat itu, kau jadi bagian dari akibat. Namun memang, semuanya tidak sesederhana ini. Ada jejaring kausalitas yang saling menghubungkan kisah antar manusia. Ada rumusan rahasia yang membuat garis-garis kehidupan kita saling bersinggungan.

Tuan Erdas telah tiada. Padahal aku tengah dalam antusiasme tinggi untuk menyapanya. Padahal aku tengah begitu bersemangat untuk mengatakan, bahwa aku pun telah memiliki perkebunan juga seperti beliau. Padahal aku sungguh ingin mencium takzim tangan beliau, dan berterimakasih betapa ia telah mengajariku banyak hal, menjadi bagian dari sepotong masa kecilku yang indah. Mungkin kau benar, Aster, bahwa aku terlalu sentimentil.

Kau masih ingat, tumpukan surat yang kau simpan dalam kotak kayu berbunga? Aku terhenyak dengan kata-katamu pada salah satu surat yang kau tujukan untukku. 

Razen, setap kita adalah tokoh utama pada kehidupan kita sendiri. Bukan begitu? Apakah kau merasakan hal yang sama sepertiku, bahwa hidup ini seperti kumpulan perbincangan-perbincangan antara kita sebagai individu dengan Tuhan? Aku bersyukur untuk mengenalmu, Razen. Aku sungguh berterimakasih. Bukan kepadamu, melainkan berterimakasih kepada Tuhan.

Bahwa hidup ini seperti kumpulan perbincangan-perbincangan antara kita sebagai individu, dengan Tuhan. Kau benar, Aster. Ada skenario besar di balik semua ini. Lahir sebagai yatim-piatu, bertemu dengan kawan-kawan di panti, mengenalmu, menyapa ibundamu, kehilangan ayahmu, kehilangan kau, kehilangan Tuan Erdas, merasa sendiri, bertindak tidak rasional dengan mencari bunga aster di tanah yang kerap kita sebut-sebut sebagai tanah cinta. 

Aku baru memahami hakikat sederhana itu. Bahwa kita hidup di dunia adalah sementara. Mungkin inilah maksud dari pesan tentang dunia yang sungguh hanyalah fatamorgana belaka. Karena isinya semata-mata hanya sandiwara. Hanya ada percakapan antara kita sebagai individu, dengan Tuhan. Hanya ada ujian-ujian keimanan demi memasuki pintu abadi yang kabanya kekal. Mungkin kau hanyalah ilusi belaka, Aster. Begitupun surat udara ini. Kurasa ini adalah salah satu episode perbincanganku dengan Tuhan, yang sungguh menakjubkan.

Melepaskan dan dilepaskan. Meninggalkan dan ditinggalkan. Mengikhlaskan dan diikhlaskan.

Aku tidak pernah tahu rasanya kehilangan orang yang teramat kita sayangi, hingga pada satu titik ketika kehilanganmu mengajarkanku akan hal itu. Hingga mendapati Tuan Erdas  pergi, memberikan aku ruang untuk mengevaluasi diri. Mengikhlaskan dan diikhlaskan. Kalau aku seorang penuntut, mungkin aku akan menuntut Tuhan atas pilihannya membawa pulang Tuan Erdas tepat dua hari sebelum aku tiba di kampung halaman kita. Mungkin beberapa tahun lalu aku akan menuntut mengapa Tuhan mengajakmu pulang tanpa ada kalimat selamat tinggal yang lebih indah di antara kita. Terimakasih, karena aku telah diajari akan pemahaman baik itu. Pemahaman bahwa hidup ini semata-mata adalah tentang aku dengan-Nya. Tentang kita -sebagai indvidu- dengan Tuhan.

Aster, aku tidak hendak berterimakasih kepadamu,  atau kepada Tuan Erdas. Melainkan aku berterima kasih kepada Tuhan. Lantas jika dunia hanyalah fatamorgana, kepada siapa kita hendak melangkahkan kaki?

Aku.
Mencarimu di antara rindang pepohonan,
Mengamati tanda kedatanganmu dalam sayup-sayup bisikan pasir pantai,
Mengharapkan kehadiranmu di sela-sela barisan semut pagi hari

Kau.
Yang sejatinya tiada perlu kucari-cari
Selalu disini, begitu Kau berjanji.


Bukankah begitu, Tuhan?



 **

Ah, Aster. Mungkin kau benar.Mungkin aku yang terlalu sentimentil.
Jika berharap padamu pernah membuat aku terbunuh,
maka aku memilih berharap pada Tuhan.
Kalaupun aku terbunuh, bukankah kepada-Nya pula aku akan kembali?


Dzulhijjah 1435H, 
ketika gerhana baru saja menyapa sang bumi cinta.

Sunday, September 7, 2014

Kalau ada yang baik, kenapa harus yang buruk?

Masih hangat dalam benak saya, tentang pemilihan presiden 9 Juli 2014 lalu yang menggoreskan warna tersendiri dalam sejarah per-politikan Indonesia. Saya tidak habis fikir, bagaimana kelak buku pelajaran sejarah akan jadi begitu menakjubkannya di masa depan. Seiring berjalannya waktu, tentu manusia akan semakin banyak mengukir sejarah. Bukan begitu? tapi kali ini saya tidak hendak membahas tentang pemilu atau persoalan pemerintahan yang bahkan Ummi saya sudah komentar melulu tentang ini. "Capek deh nonton berita. Negara kok jadi main-mainan," begitu ujar Ummi sambil mengganti channel TV siang tadi.

Ummi bilang, pemberitaan sudah tidak tertata rapi. Kriminalias diberitakan lengkap  dengan tutorial pembunuhan, atau tata cara penyelundupan barang terlarang. Kekerasan pada anak digembar-gemborkan media. Diusut terus-terusan. Padahal kalau kita berfikir jernih, ada banyak hal yang harus masyarakat ketahui. Bukankah lebih baik meletakkan proporsi yang berimbang, sesuai, dan mengedukasi? 

Di penghujung tahun 2014, atmosfer AFTA (Asean Free Trade Area) semakin terasa. Apalagi di kalangan mahasiswa atau pekerja, yang diprediksi akan lebih terkena dampaknya. Saya jadi menerka, bagaimana jika transaksi antar negara kelak dapat dilakukan dengan begitu mudahnya di kawasan Asean? Bagaimana jika wilayah-wilayah perbatasan Indonesia semakin bebas pergi ke negara sebelah? atau bahkan tenaga kerja asing kelak menguasai wilayah mereka. Lalu bagaimana dengan perilaku konsumtif remaja sekarang? yang bukannya mencari manfaat, tapi justru membeli produk berdasarkan brand semata. Bagaimana jika produk dalam negeri kalah bersaing bahkan di tanahnya sendiri?

Sejak duduk di bangku kuliah, saya semakin menyadari betapa Indonesia sebenarnya sangat potensial. Tidak hanya itu, semakin kesini, perhatian akan negeri di kalangan kaum muda semakin terlihat. (Atau mungkin karena memang usia saya yang sekarang termasuk 'kaum muda' jadi lebih dekat dengan isu-isu seperti ini?) Dalam hal produksi barang maupun jasa, tidak sedikit inovasi pemuda indonesia yang mampu berkecimpung hingga ranah internasional. Sebut saja AgrisocioIndonesia Medika, hingga PT Kelola Mina Laut yang diakui negara asing, namun sayang masih banyak yang belum mengetahuinya di negara sendiri. Kebanyakan hanya dikenal oleh kalangan menengah ke atas atau akademisi.

Menurut saya, disinilah peran media seharusnya. Jika media-media khususnya televisi kerap memberitakan hal-hal yang negatif, tidak heran jika yang hadir dalam benak masyarakat bukanlah kecintaan pada negeri, melainkan kejenuhan hati. Maka tidak aneh jika produk dalam negeri masih kalah bersaing meski di tanah sendiri. Padahal menurut saya, banyak dari produk dalam negeri yang mengungguli produk asing, Hanya saja keterbatasan pengetahuan masyarakat akan produk tersebut yang menjadi kendala. Jangan katakan antara berita kriminal -misalnya- tidak berkaitan dengan penjualan produk. loh, ya :) sadar atau tidak, setiap informasi yang masuk akan tercerna dalam kepala kita.

Jadi ada baiknya jika media-media kita juga memberitakan tentang hal-hal positif. Tentang PIMNas yang diadakan dalam jangka tahunan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), tentang pelajar-pelajar Indonesia yang meraih prestasi baik dalam maupun luar negeri seperti medali perunggu IGeo tahun ini yang diraih seorang siswi tanah air, tentang upaya kaum muda yang bertujuan mulia demi kemaslahatan ibu pertiwi; Sahabat Pulau misalnya. Banyak pula produk inovasi-kreatif karya anak bangsa yang tidak sedikit lahir dari program PIMNas tersebut.

Kepercayaan bukanlah produk yang instant. Tidak serta-merta bisa hadir dalam waktu tiga puluh menit penyuluhan, apalagi sekian detik nasihat numpang lewat. Jika hubungan antara dua insan saja membutuhkan kepercayaan, terlebih dalam suatu negara yang mengikat berjuta-juta manusia. Jika kabar-kabar positif lebih tinggi lagi frekuensinya, saya yakin kepercayaan masyarakat akan lebih terpupuk. Tapi bukan berarti pencitraan loh, ya. :)

Seribu sayang, kata orang, seiring bertambahnya nominal usia, semakin menua kita, idealisme akan semakin langka. Mungkin itu sebab, media kini hanya jadi sarana komersial demi meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan esensi-filosofi kehadiran media itu sendiri. Tapi tidak apa, itu kan hanya katanya. Jika memang media televisi sana belum mampu kita jamah, biar jari-jari ini yang bicara, Biar tekun kita yang menjadi responnya. Biar kita tularkan semangat positif seluas-luasnya. Semoga.

Selamat menyambut AFTA. Selamat menjadi produsen-konsumen yang cerdas! :)

Penugasan Mata Kuliah Perilaku Konsumen, 1436 H
Rizky Sahla Tasqiya

Saturday, August 16, 2014

Manakah Perengguk Hidup yang Beruntung?

Beruntung adalah para perengguk yang  tidak perlu hidup. Tidak perlu sibuk menyibukkan diri. Tidak perlu mengenal hari. Itu kata para tetua, yang bukan tanda menyesal mecengkoki penerusnya dengan hal demikian, melainkan mengumbar fakta apa adanya. Yang paling sial adalah mati tua. Itu kata mereka, yang telah dipaksa sudi merasakan pahitnya dunia. Yang dipaksa menanti, bermimpi cakrawala syurga tiada tara.

Mereka bilang pertanyaan retoris itu eksis di peradabannya. Kubilang definisi semacam ini lebih retoris lagi di benak manusia. Berkali lipat, mereka yang mengaku pemikir setia sibuk memberi artian makna pada soal perihal hidup dan segala turunannya. Pada definisi kata-kata abstrak yang siapa pula sudi mengartikan? Karena jawabnya tidak pernah jadi jelas sejelas kacang kedelai hitam dalam gelas kaca.

Bagi kaum miskin penafsiran, hidup adalah menghabiskan satuan waktu pemberian Raja di Maha Raja. Mungkin ada pilihan-pilihan monumental yang hadir sejenak sedekat pelemparan batu. Sehasta. Sesampainya pada titik tepat. Tapi ibarat bunglon yang memiliki beribu cadang topeng pemalsu identitas, pilihan seringkali hanya jadi pencitraan tanpa karakter yang dipaksa meninggikan gerak embun pagi pada sang tangkai bunga. Prihatin, hidup yang diagungkan penuh bias temaram hanya tinggal debu yang menunggu tertiup.

Bagi kaum yang terlalu miskin untuk melepaskan terompah, hidup jadi semarak diraba. Tapi eksistensinya dipertanyakan. Memasuki dunia maya lagi melintang. Tidak terlacak. Semerbak dirayakan hanya dalam sekejap saja, kemudian terlupakan dan berbalik arah. Semesta jadi ilusi fana lagi nyata. Seorang diri dalam kancah tempur, seperti buih lautan yang melaju tanpa kawan. Seorang, kemudian terhempas dan hilang. Tidak pernah terdokumentasi bahkan dalam benak satuan pencari harga. Mendongak sukarela, menunduk tergelincir kuasa.

Bagi pemiskin sejati yang tiada sedetakpun nuraninya berontak akan kemiskinan, yang rumpun kepalanya memahami penafsiran kehidupan, hidup adalah karena adikuasa. Segalanya menapak pada sebaris catatan sederhana dalam ukiran sejarah sakral. Jemarinya berlabuh pada imaji danau riak gegap gempita.  Maka kebersamaan hanya jadi jembatan untuk mempertajam gambar dalam benak cerita cita keagungan langit yang mendunia. Awal-akhirnya menjadi jelas bagi mereka. Asanya digenggam energi Maha Dahsyat yang mengendalikan raga, dibalut rahasia. Mutiara mata menjadi candu pada gelap-jingga membahana.

Maka ketika nestapa-derita disandingkan dengan bahagia-merdeka, tidaklah menjadi persoalan genting lagi mendesak bagi penafsir yang paham akan keindahan. Lantas ketika serdadu tiada mampu melawan gertakan, atau pasukan terperosok ke dalam jurang, siapa jamin itu nestapa-derita atau bahagia-merdeka? Bagi penafsir yang paham akan hakikat kesempurnaan, pahit-manis adalah kolaborasi indah-sempurna yang menawan jiwa. Karena bagi para pecinta tiada dua, bukan getir bibir yang merusak, melainkan getar riak frekuensi senada yang melembutkan sukma.


Maka beruntunglah para perengguk yang  tidak perlu hidup. Tidak perlu sibuk menyibukkan diri. Tidak perlu mengenal hari. Itu kata para tetua. Namun apakah benar ada nyatanya? Demikian pertanyaan yang memang sejati diterka. Namun beruntung di atas beruntung, adalah catatan ini bagi mereka, Janji suci, kabar gembira dari Sang Adidaya bagi para perengguk yang mengidamkan cakrawala syurga tiada tara.



“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan
perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar.”. 

(QS. At-Taubah : 72)


Bogor, Syawwal 1435 H

Tuesday, August 5, 2014

Kriteria

Mendengar pertanyaanku, Mbah Mukhtar terbahak.

“Kenapa malah ketawa, Mbah?” Aku menekuk alis.

“Haha, lah whong kamu ngapain nanya kriteria milih jodoh, Lee. Umurmu masih seumur jagung, mbahmu ini dulu naklukin seribu gunung dulu baru nanya kakungmu soal jodoh. Lah kamu ini udah ngapain? Lulus kuliah aja belom, piye tho.” Tawanya semakin membahana. Aku garuk-garuk kepala. Padahal butuh berhari-hari untuk mengumpulkan keberanian menanyakan hal ekstrim semacam ini. “Memangnya kamu udah punya pujaan hati, Le?” Aku tersedak mendengar pertanyaan Mbah Mukhtar. Wedang jaheku dibuat kaget tepat di tengah kerongkongan.

“Bukan Mbah, dulu sih, cuma cinta monyet.”

“Monyet kok jadi tersangka cinta, Le,” lelaki yang sudah tak bisa lagi dibilang muda itu geleng-geleng kepala sambil mengacak-acak rambutku. Gerak jemarinya masih berenergi.

“Ya mumpung masih cinta monyet. Cintanya bocah, Mbah. Makanya ini kan nanya, kalo dulu mbah kriterianya apa?”

“Kamu ini alasan saja. Kalau Mbah pilih yang cantik, Le”

“Cantik?” aku mengernyitkan dahi. Memangnya, nyai cantik?

“Hhaha, jangan lah dilihat nyaimu sekarang ini. Dulu itu dia kembang desa.” Seakan mengerti isi fikiranku, Mbah Mukhtar melanjutkan kalimatnya sambil terkekeh. Suaranya serak, bukan karena sakit. 

“Hehe, iya Mbah…” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Carilah yang cantik, dan mengerti bahwa dirinya cantik.”

“Maksud Mbah?”

“Ya, hakikatnya semua wanita itu cantik. Gak ada tho yang ganteng? Haha”

“Ya iya lah, Mbaah…” Mbahku ini memang senang sekali bercanda, meski pada akhirnya lebih sering menghasilkan candaan garing yang dipaksa untuk jadi lucu.

“Cantik maksud mbahmu ini bukan dalam artian yang parasnya ayu, seperti yang biasa dimaknai banyak orang, Le.”

“Jadi?”

“Ya, cantik. Dan dia harus paham betul bahwa dirinya itu cantik yang harus dijaga.”

“Nggak ngerti, Mbah”

“Lee, Lee.” Mbah Mukhtar geleng-geleng kepala. Kembali mengacak-acak rambutku yang pagi itu memang masih berantakan. Belum tersentuh sisir.

“Kalau cantik yang dimaksud bukan ukuran fisik, lantas apa?”

“Cantik pribadinya. Cantik hatinya. Cantik jiwanya. Dan dia tahu, kesemua cantik itu harus dijaga agar tetap cantik dan semakin meningkat kecantikannya seiring waktu.” Aku manggut-manggut. Mbah Mukhtar melanjutkan. “Cantik itu subjektif, tidak bisa dihitung, Le. Paras ayu itu ndak kekal, sedangkan cantik itu terjaga. Seizin gusti Allah.” Mendengar perkataan Mbah Mukhtar, reflek kupandagi beliau dengan penuh takzim.

“Mbah,” kusapa pelan lelaki yang sudah tak bisa dikatakan muda itu sambil mengetuk-ngetuk cangkir wedang yang masih panas.

“Opo?” Mbah Mukhtar tidak melihatku. Asyik meneruskan santapan dodol gorengnya.

“Nyai itu cantik ya, Mbah?” Kali ini beliau menoleh demi mendengar pertanyaanku.

“Ngomong apa kamu, Le? Tentu saja. Haha” kembali kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Tawa Mbah Mukhtar seperti sihir tersendiri. Dodol tepung goreng dan secangkir wedang jahe pagi itu terasa semakin nikmat usai mendengarkan kicauan beliau.  

“Hehe…” Aku nyengir.

Yang cantik, dan ia tahu bahwa dirinya cantik. Tercatat, Mbah!

“Le, kalau kriteria itu berani kamu tetapkan, catat juga hal ini; jadilah tampan yang tahu bahwa dirinya tampan! hahaha” Tawa Mbah Mukhtar kembali membahana. Kali ini mengusik para pengunjung warung yang sedang asyik menikmati wedang pagi. Aku menelan ludah.

Menjadi tampan, dan harus tahu bahwa diriku tampan.

Eh?  

Ya Gusti, ini bahkan lebih sulit dari tebak-tebakan berapa usia Mbah Mukhtar!


Inspired by my big bro,
Syawal, 8th 1435 H
Riz :)

Saturday, August 2, 2014

HalteKehidupan #32

Jadi, ini adalah edisi HalteKehidupan. Saya awali dengan 32, karena beberapa minggu lalu, seorang kawan dari Insan Cendekia berkunjung ke 32, kemudian kami berfoto di sekolah masa tsanawiyah saya ini. Sejujurnya, itu adalah momen pertama saya berfoto dengan logo 32 di tengah-tepi lapangan kami. :)

**

"Hidup adalah pilihan.
Jadilah manusia yang berkarakter dalam setiap pilihannya."

-Pak Nurul Huda-

**

MTsN 32 yang awalnya merupakan MTsN 13 gedung II, adalah tempat saya mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Sekolah ini adalah tempat pertama saya berorganisasi secara utuh, meski jujur, masih jauh dari organisasi yang terorganisirasi. :) Tapi jelas memberikan saya pemahaman bahwa hidup ternyata tidak semulus jalan tol :D. Ada begitu banyak karakter yang dijumpai, dan itu benar-benar belum seberapa. Setidaknya melalui organisasi formal, saya mulai terdidik untuk mengurusi diri sendiri sebelum mengurusi orang lain. Sebagai sosok yang sangat menikmati peran behind the scene, saya dituntut untuk sedikit  demi sedikit muncul ke permukaan, berhadapan dengan banyak orang. Masih ingat sekali, pertama kali saya berorasi (kalau itu layak disebut orasi, karena faktanya hanya omongan ringan di bawah atap mushola kami) hanya ada satu orang kakak kelas yang secara terang-terangan mengapresiasi. Beliau bertepuk tangan kecil di tengah-tengah hadirin. Kak, mungkin sewaktu-waktu kau akan mendapatiku mengetuk pintu rumahmu lantas mengucapkan terimakasih. :D

Tempat ini juga menjadi saksi 'kebandelan' saya. Mulai dari keluar kelas dengan alasan mengadakan rapat (poin cemerlangnya adalah, ketua OSIS kami adalah teman sebangku saya selama tiga tahun, dan saya adalah wakilnya, :D) saya dan Titin (nama si ketua OSIS) berhadap-hadapan, saling pandang di tengah kejenuhan belajar Matematika, kemudian "rapat yuk, gimana kalo kita rapat aja, ngurusin blablabla..." dan tidak lama, kami mengudara melalui pengeras suara sekolah; minta pengurus OSIS segera ke mushola buat rapat. Saya juga senang manjat pohon ceri di halaman belakang sekolah. Sampai pernah diteriakin sama mantan tukang cimol (sekarang jualan jus) supaya turun "cewek kok manjat pohon Riiis! turun!", Juga yang sangat favorit, hujan-hujanan dalam setiap kesempatan yang memungkinkan (bahkan saya tidak segan-segan membawa pakaian ganti dengan niat main hujan-hujanan di sekolah. Kalau dirumah kan nanti ketahuan. Begitu fikir saya. Hhe). Waktu kelas delapan, saya jadi pelopor main kartu UNO bareng kawan sekelas sampai kami dihukum bersihin WC satu sekolah sama pak kepsek (Bapak Nurul Huda, semoga selalu dalam lindungan Allah :) ), telat setiap hari Sabtu untuk ikut Pedalaman Materi yang diisi kakak alumni, sampai urusan tugas karya tulis Bahasa Indonesia yang bahkan sampai sekarang tidak diselesaikan meski katanya itu syarat kelulusan. (Ini jelas bukan contoh yang baik, Bukan untuk ditiru. Jangan coba-coba ditiru.)

Tapi di atas itu semua, disini saya belajar untuk memahami orang lain, belajar untuk meningkatkan kepekaan saya yang (mungkin) terbilang keterlaluan. Selain itu, saya juga belajar tentang bagaimana sosok seorang ibu yang selalu merindukan anaknya pulang. Bahwa ternyata, wujud kasih sayang manusia tidak sederhana, meski kebersamaan yang membangunnya begitu-teramat-sangat sederhana. Allah juga memberikan saya kemudahan untuk belajar mengatur pola fikir, bagaimana harus berfikir positif, dan fakta bahwa isi kepala sangat berpengaruh pada fisik secara nyata. Sick mind --> sick body sebaliknya, fikiran yang sehat akan menyehatkan fisik. Disini juga, saya belajar untuk menaruh cita dan mimpi -bersama teman-teman-. Menjadikan hal-hal kecil sebagai objek observasi. Meributkan persoalan sehari-hari untuk dijadikan bahan perbincangan yang dikemas jadi beraroma ilmiah. (Saya masih ingat perbincangan dengan kawan-kawan mulai dari solenoida dan gulungan kawat sampai urusan cicak mati karena selotip). Juga, hal yang sangat penting. Saya belajar tentang makna kejujuran, ketekunan, dan ketulusan. Mungkin sewaktu-waktu, akan saya ceritakan mengapa, bagaimana demikian. :D


Official Web Page MTsN 32 Jakarta bisa dilihat disini. :)