Sunday, September 7, 2014

Kalau ada yang baik, kenapa harus yang buruk?

Masih hangat dalam benak saya, tentang pemilihan presiden 9 Juli 2014 lalu yang menggoreskan warna tersendiri dalam sejarah per-politikan Indonesia. Saya tidak habis fikir, bagaimana kelak buku pelajaran sejarah akan jadi begitu menakjubkannya di masa depan. Seiring berjalannya waktu, tentu manusia akan semakin banyak mengukir sejarah. Bukan begitu? tapi kali ini saya tidak hendak membahas tentang pemilu atau persoalan pemerintahan yang bahkan Ummi saya sudah komentar melulu tentang ini. "Capek deh nonton berita. Negara kok jadi main-mainan," begitu ujar Ummi sambil mengganti channel TV siang tadi.

Ummi bilang, pemberitaan sudah tidak tertata rapi. Kriminalias diberitakan lengkap  dengan tutorial pembunuhan, atau tata cara penyelundupan barang terlarang. Kekerasan pada anak digembar-gemborkan media. Diusut terus-terusan. Padahal kalau kita berfikir jernih, ada banyak hal yang harus masyarakat ketahui. Bukankah lebih baik meletakkan proporsi yang berimbang, sesuai, dan mengedukasi? 

Di penghujung tahun 2014, atmosfer AFTA (Asean Free Trade Area) semakin terasa. Apalagi di kalangan mahasiswa atau pekerja, yang diprediksi akan lebih terkena dampaknya. Saya jadi menerka, bagaimana jika transaksi antar negara kelak dapat dilakukan dengan begitu mudahnya di kawasan Asean? Bagaimana jika wilayah-wilayah perbatasan Indonesia semakin bebas pergi ke negara sebelah? atau bahkan tenaga kerja asing kelak menguasai wilayah mereka. Lalu bagaimana dengan perilaku konsumtif remaja sekarang? yang bukannya mencari manfaat, tapi justru membeli produk berdasarkan brand semata. Bagaimana jika produk dalam negeri kalah bersaing bahkan di tanahnya sendiri?

Sejak duduk di bangku kuliah, saya semakin menyadari betapa Indonesia sebenarnya sangat potensial. Tidak hanya itu, semakin kesini, perhatian akan negeri di kalangan kaum muda semakin terlihat. (Atau mungkin karena memang usia saya yang sekarang termasuk 'kaum muda' jadi lebih dekat dengan isu-isu seperti ini?) Dalam hal produksi barang maupun jasa, tidak sedikit inovasi pemuda indonesia yang mampu berkecimpung hingga ranah internasional. Sebut saja AgrisocioIndonesia Medika, hingga PT Kelola Mina Laut yang diakui negara asing, namun sayang masih banyak yang belum mengetahuinya di negara sendiri. Kebanyakan hanya dikenal oleh kalangan menengah ke atas atau akademisi.

Menurut saya, disinilah peran media seharusnya. Jika media-media khususnya televisi kerap memberitakan hal-hal yang negatif, tidak heran jika yang hadir dalam benak masyarakat bukanlah kecintaan pada negeri, melainkan kejenuhan hati. Maka tidak aneh jika produk dalam negeri masih kalah bersaing meski di tanah sendiri. Padahal menurut saya, banyak dari produk dalam negeri yang mengungguli produk asing, Hanya saja keterbatasan pengetahuan masyarakat akan produk tersebut yang menjadi kendala. Jangan katakan antara berita kriminal -misalnya- tidak berkaitan dengan penjualan produk. loh, ya :) sadar atau tidak, setiap informasi yang masuk akan tercerna dalam kepala kita.

Jadi ada baiknya jika media-media kita juga memberitakan tentang hal-hal positif. Tentang PIMNas yang diadakan dalam jangka tahunan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), tentang pelajar-pelajar Indonesia yang meraih prestasi baik dalam maupun luar negeri seperti medali perunggu IGeo tahun ini yang diraih seorang siswi tanah air, tentang upaya kaum muda yang bertujuan mulia demi kemaslahatan ibu pertiwi; Sahabat Pulau misalnya. Banyak pula produk inovasi-kreatif karya anak bangsa yang tidak sedikit lahir dari program PIMNas tersebut.

Kepercayaan bukanlah produk yang instant. Tidak serta-merta bisa hadir dalam waktu tiga puluh menit penyuluhan, apalagi sekian detik nasihat numpang lewat. Jika hubungan antara dua insan saja membutuhkan kepercayaan, terlebih dalam suatu negara yang mengikat berjuta-juta manusia. Jika kabar-kabar positif lebih tinggi lagi frekuensinya, saya yakin kepercayaan masyarakat akan lebih terpupuk. Tapi bukan berarti pencitraan loh, ya. :)

Seribu sayang, kata orang, seiring bertambahnya nominal usia, semakin menua kita, idealisme akan semakin langka. Mungkin itu sebab, media kini hanya jadi sarana komersial demi meraup untung sebanyak-banyaknya tanpa mengindahkan esensi-filosofi kehadiran media itu sendiri. Tapi tidak apa, itu kan hanya katanya. Jika memang media televisi sana belum mampu kita jamah, biar jari-jari ini yang bicara, Biar tekun kita yang menjadi responnya. Biar kita tularkan semangat positif seluas-luasnya. Semoga.

Selamat menyambut AFTA. Selamat menjadi produsen-konsumen yang cerdas! :)

Penugasan Mata Kuliah Perilaku Konsumen, 1436 H
Rizky Sahla Tasqiya

Saturday, August 16, 2014

Manakah Perengguk Hidup yang Beruntung?

Beruntung adalah para perengguk yang  tidak perlu hidup. Tidak perlu sibuk menyibukkan diri. Tidak perlu mengenal hari. Itu kata para tetua, yang bukan tanda menyesal mecengkoki penerusnya dengan hal demikian, melainkan mengumbar fakta apa adanya. Yang paling sial adalah mati tua. Itu kata mereka, yang telah dipaksa sudi merasakan pahitnya dunia. Yang dipaksa menanti, bermimpi cakrawala syurga tiada tara.

Mereka bilang pertanyaan retoris itu eksis di peradabannya. Kubilang definisi semacam ini lebih retoris lagi di benak manusia. Berkali lipat, mereka yang mengaku pemikir setia sibuk memberi artian makna pada soal perihal hidup dan segala turunannya. Pada definisi kata-kata abstrak yang siapa pula sudi mengartikan? Karena jawabnya tidak pernah jadi jelas sejelas kacang kedelai hitam dalam gelas kaca.

Bagi kaum miskin penafsiran, hidup adalah menghabiskan satuan waktu pemberian Raja di Maha Raja. Mungkin ada pilihan-pilihan monumental yang hadir sejenak sedekat pelemparan batu. Sehasta. Sesampainya pada titik tepat. Tapi ibarat bunglon yang memiliki beribu cadang topeng pemalsu identitas, pilihan seringkali hanya jadi pencitraan tanpa karakter yang dipaksa meninggikan gerak embun pagi pada sang tangkai bunga. Prihatin, hidup yang diagungkan penuh bias temaram hanya tinggal debu yang menunggu tertiup.

Bagi kaum yang terlalu miskin untuk melepaskan terompah, hidup jadi semarak diraba. Tapi eksistensinya dipertanyakan. Memasuki dunia maya lagi melintang. Tidak terlacak. Semerbak dirayakan hanya dalam sekejap saja, kemudian terlupakan dan berbalik arah. Semesta jadi ilusi fana lagi nyata. Seorang diri dalam kancah tempur, seperti buih lautan yang melaju tanpa kawan. Seorang, kemudian terhempas dan hilang. Tidak pernah terdokumentasi bahkan dalam benak satuan pencari harga. Mendongak sukarela, menunduk tergelincir kuasa.

Bagi pemiskin sejati yang tiada sedetakpun nuraninya berontak akan kemiskinan, yang rumpun kepalanya memahami penafsiran kehidupan, hidup adalah karena adikuasa. Segalanya menapak pada sebaris catatan sederhana dalam ukiran sejarah sakral. Jemarinya berlabuh pada imaji danau riak gegap gempita.  Maka kebersamaan hanya jadi jembatan untuk mempertajam gambar dalam benak cerita cita keagungan langit yang mendunia. Awal-akhirnya menjadi jelas bagi mereka. Asanya digenggam energi Maha Dahsyat yang mengendalikan raga, dibalut rahasia. Mutiara mata menjadi candu pada gelap-jingga membahana.

Maka ketika nestapa-derita disandingkan dengan bahagia-merdeka, tidaklah menjadi persoalan genting lagi mendesak bagi penafsir yang paham akan keindahan. Lantas ketika serdadu tiada mampu melawan gertakan, atau pasukan terperosok ke dalam jurang, siapa jamin itu nestapa-derita atau bahagia-merdeka? Bagi penafsir yang paham akan hakikat kesempurnaan, pahit-manis adalah kolaborasi indah-sempurna yang menawan jiwa. Karena bagi para pecinta tiada dua, bukan getir bibir yang merusak, melainkan getar riak frekuensi senada yang melembutkan sukma.


Maka beruntunglah para perengguk yang  tidak perlu hidup. Tidak perlu sibuk menyibukkan diri. Tidak perlu mengenal hari. Itu kata para tetua. Namun apakah benar ada nyatanya? Demikian pertanyaan yang memang sejati diterka. Namun beruntung di atas beruntung, adalah catatan ini bagi mereka, Janji suci, kabar gembira dari Sang Adidaya bagi para perengguk yang mengidamkan cakrawala syurga tiada tara.



“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan
perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar.”. 

(QS. At-Taubah : 72)


Bogor, Syawwal 1435 H

Tuesday, August 5, 2014

Kriteria

Mendengar pertanyaanku, Mbah Mukhtar terbahak.

“Kenapa malah ketawa, Mbah?” Aku menekuk alis.

“Haha, lah whong kamu ngapain nanya kriteria milih jodoh, Lee. Umurmu masih seumur jagung, mbahmu ini dulu naklukin seribu gunung dulu baru nanya kakungmu soal jodoh. Lah kamu ini udah ngapain? Lulus kuliah aja belom, piye tho.” Tawanya semakin membahana. Aku garuk-garuk kepala. Padahal butuh berhari-hari untuk mengumpulkan keberanian menanyakan hal ekstrim semacam ini. “Memangnya kamu udah punya pujaan hati, Le?” Aku tersedak mendengar pertanyaan Mbah Mukhtar. Wedang jaheku dibuat kaget tepat di tengah kerongkongan.

“Bukan Mbah, dulu sih, cuma cinta monyet.”

“Monyet kok jadi tersangka cinta, Le,” lelaki yang sudah tak bisa lagi dibilang muda itu geleng-geleng kepala sambil mengacak-acak rambutku. Gerak jemarinya masih berenergi.

“Ya mumpung masih cinta monyet. Cintanya bocah, Mbah. Makanya ini kan nanya, kalo dulu mbah kriterianya apa?”

“Kamu ini alasan saja. Kalau Mbah pilih yang cantik, Le”

“Cantik?” aku mengernyitkan dahi. Memangnya, nyai cantik?

“Hhaha, jangan lah dilihat nyaimu sekarang ini. Dulu itu dia kembang desa.” Seakan mengerti isi fikiranku, Mbah Mukhtar melanjutkan kalimatnya sambil terkekeh. Suaranya serak, bukan karena sakit. 

“Hehe, iya Mbah…” Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

“Carilah yang cantik, dan mengerti bahwa dirinya cantik.”

“Maksud Mbah?”

“Ya, hakikatnya semua wanita itu cantik. Gak ada tho yang ganteng? Haha”

“Ya iya lah, Mbaah…” Mbahku ini memang senang sekali bercanda, meski pada akhirnya lebih sering menghasilkan candaan garing yang dipaksa untuk jadi lucu.

“Cantik maksud mbahmu ini bukan dalam artian yang parasnya ayu, seperti yang biasa dimaknai banyak orang, Le.”

“Jadi?”

“Ya, cantik. Dan dia harus paham betul bahwa dirinya itu cantik yang harus dijaga.”

“Nggak ngerti, Mbah”

“Lee, Lee.” Mbah Mukhtar geleng-geleng kepala. Kembali mengacak-acak rambutku yang pagi itu memang masih berantakan. Belum tersentuh sisir.

“Kalau cantik yang dimaksud bukan ukuran fisik, lantas apa?”

“Cantik pribadinya. Cantik hatinya. Cantik jiwanya. Dan dia tahu, kesemua cantik itu harus dijaga agar tetap cantik dan semakin meningkat kecantikannya seiring waktu.” Aku manggut-manggut. Mbah Mukhtar melanjutkan. “Cantik itu subjektif, tidak bisa dihitung, Le. Paras ayu itu ndak kekal, sedangkan cantik itu terjaga. Seizin gusti Allah.” Mendengar perkataan Mbah Mukhtar, reflek kupandagi beliau dengan penuh takzim.

“Mbah,” kusapa pelan lelaki yang sudah tak bisa dikatakan muda itu sambil mengetuk-ngetuk cangkir wedang yang masih panas.

“Opo?” Mbah Mukhtar tidak melihatku. Asyik meneruskan santapan dodol gorengnya.

“Nyai itu cantik ya, Mbah?” Kali ini beliau menoleh demi mendengar pertanyaanku.

“Ngomong apa kamu, Le? Tentu saja. Haha” kembali kugaruk kepalaku yang tidak gatal. Tawa Mbah Mukhtar seperti sihir tersendiri. Dodol tepung goreng dan secangkir wedang jahe pagi itu terasa semakin nikmat usai mendengarkan kicauan beliau.  

“Hehe…” Aku nyengir.

Yang cantik, dan ia tahu bahwa dirinya cantik. Tercatat, Mbah!

“Le, kalau kriteria itu berani kamu tetapkan, catat juga hal ini; jadilah tampan yang tahu bahwa dirinya tampan! hahaha” Tawa Mbah Mukhtar kembali membahana. Kali ini mengusik para pengunjung warung yang sedang asyik menikmati wedang pagi. Aku menelan ludah.

Menjadi tampan, dan harus tahu bahwa diriku tampan.

Eh?  

Ya Gusti, ini bahkan lebih sulit dari tebak-tebakan berapa usia Mbah Mukhtar!


Inspired by my big bro,
Syawal, 8th 1435 H
Riz :)

Saturday, August 2, 2014

HalteKehidupan #32

Jadi, ini adalah edisi HalteKehidupan. Saya awali dengan 32, karena beberapa minggu lalu, seorang kawan dari Insan Cendekia berkunjung ke 32, kemudian kami berfoto di sekolah masa tsanawiyah saya ini. Sejujurnya, itu adalah momen pertama saya berfoto dengan logo 32 di tengah-tepi lapangan kami. :)

**

"Hidup adalah pilihan.
Jadilah manusia yang berkarakter dalam setiap pilihannya."

-Pak Nurul Huda-

**

MTsN 32 yang awalnya merupakan MTsN 13 gedung II, adalah tempat saya mengenyam bangku sekolah menengah pertama. Sekolah ini adalah tempat pertama saya berorganisasi secara utuh, meski jujur, masih jauh dari organisasi yang terorganisirasi. :) Tapi jelas memberikan saya pemahaman bahwa hidup ternyata tidak semulus jalan tol :D. Ada begitu banyak karakter yang dijumpai, dan itu benar-benar belum seberapa. Setidaknya melalui organisasi formal, saya mulai terdidik untuk mengurusi diri sendiri sebelum mengurusi orang lain. Sebagai sosok yang sangat menikmati peran behind the scene, saya dituntut untuk sedikit  demi sedikit muncul ke permukaan, berhadapan dengan banyak orang. Masih ingat sekali, pertama kali saya berorasi (kalau itu layak disebut orasi, karena faktanya hanya omongan ringan di bawah atap mushola kami) hanya ada satu orang kakak kelas yang secara terang-terangan mengapresiasi. Beliau bertepuk tangan kecil di tengah-tengah hadirin. Kak, mungkin sewaktu-waktu kau akan mendapatiku mengetuk pintu rumahmu lantas mengucapkan terimakasih. :D

Tempat ini juga menjadi saksi 'kebandelan' saya. Mulai dari keluar kelas dengan alasan mengadakan rapat (poin cemerlangnya adalah, ketua OSIS kami adalah teman sebangku saya selama tiga tahun, dan saya adalah wakilnya, :D) saya dan Titin (nama si ketua OSIS) berhadap-hadapan, saling pandang di tengah kejenuhan belajar Matematika, kemudian "rapat yuk, gimana kalo kita rapat aja, ngurusin blablabla..." dan tidak lama, kami mengudara melalui pengeras suara sekolah; minta pengurus OSIS segera ke mushola buat rapat. Saya juga senang manjat pohon ceri di halaman belakang sekolah. Sampai pernah diteriakin sama mantan tukang cimol (sekarang jualan jus) supaya turun "cewek kok manjat pohon Riiis! turun!", Juga yang sangat favorit, hujan-hujanan dalam setiap kesempatan yang memungkinkan (bahkan saya tidak segan-segan membawa pakaian ganti dengan niat main hujan-hujanan di sekolah. Kalau dirumah kan nanti ketahuan. Begitu fikir saya. Hhe). Waktu kelas delapan, saya jadi pelopor main kartu UNO bareng kawan sekelas sampai kami dihukum bersihin WC satu sekolah sama pak kepsek (Bapak Nurul Huda, semoga selalu dalam lindungan Allah :) ), telat setiap hari Sabtu untuk ikut Pedalaman Materi yang diisi kakak alumni, sampai urusan tugas karya tulis Bahasa Indonesia yang bahkan sampai sekarang tidak diselesaikan meski katanya itu syarat kelulusan. (Ini jelas bukan contoh yang baik, Bukan untuk ditiru. Jangan coba-coba ditiru.)

Tapi di atas itu semua, disini saya belajar untuk memahami orang lain, belajar untuk meningkatkan kepekaan saya yang (mungkin) terbilang keterlaluan. Selain itu, saya juga belajar tentang bagaimana sosok seorang ibu yang selalu merindukan anaknya pulang. Bahwa ternyata, wujud kasih sayang manusia tidak sederhana, meski kebersamaan yang membangunnya begitu-teramat-sangat sederhana. Allah juga memberikan saya kemudahan untuk belajar mengatur pola fikir, bagaimana harus berfikir positif, dan fakta bahwa isi kepala sangat berpengaruh pada fisik secara nyata. Sick mind --> sick body sebaliknya, fikiran yang sehat akan menyehatkan fisik. Disini juga, saya belajar untuk menaruh cita dan mimpi -bersama teman-teman-. Menjadikan hal-hal kecil sebagai objek observasi. Meributkan persoalan sehari-hari untuk dijadikan bahan perbincangan yang dikemas jadi beraroma ilmiah. (Saya masih ingat perbincangan dengan kawan-kawan mulai dari solenoida dan gulungan kawat sampai urusan cicak mati karena selotip). Juga, hal yang sangat penting. Saya belajar tentang makna kejujuran, ketekunan, dan ketulusan. Mungkin sewaktu-waktu, akan saya ceritakan mengapa, bagaimana demikian. :D


Official Web Page MTsN 32 Jakarta bisa dilihat disini. :)

Monday, July 21, 2014

Berharap itu Bukan Pilihan, Melainkan Keharusan

TAUBAT

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka,
maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya!

Jika engkau hanya mampu merangkak,
maka merangkaklah kepadaNya!

Jika engkau belum mampu berdo'a dengan khusyuk,
maka tetaplah persembahkan do'amu
Yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan;
Karena Tuhan, dengan rahmatNya
akan tetap menerima mata uang palsumu

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan
maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya,
Wahai pejalan!

Biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji,
Ayolah datang, dan datanglah lagi!

Karena Tuhan telah berfirman :

"Ketika engkau melambung ke angkasa ataupun terpuruk kedalam jurang,
ingatlah terus kepadaKu, karena akulah jalan itu."

-Jalaluddin Rumi-

Pertama kali membaca syair di atas, tertera di buku salah satu mata pelajaran agama ketika saya bersekolah di Madrasah Aliyah. Seketika, saya amazed sekali. Mengingatkan, bahwa ada perbedaan mendasar antara Pencipta dengan yang dicipta. Ketika kita berbuat salah pada manusia, boleh jadi luka yang kita toreh akan tetap ada meski lisan bilang telah memaafkan. Maafnya terbatas. Tidak sempurna. Sementara Allah, Yang Maha Memaafkan. Yang Maha Memberi Jalan. Yang Maha Bijaksana. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik mutlak kesempurnaan. Jika tangan kita menengadah, memohon ampun dengan segenap ketulusan, Allah akan mengampuni. Dan tidak seperti luka hati manusia yang beberkas, maafnya Allah tiada bersyarat.

“Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datangkan utukmu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata: hadits ini hasan)

Benar lah, pepatah yang mengatakan, "Berharap pada selain Allah hanya akan berujung kecewa". Mana ada manusia yang memaafkan tanpa syarat. Tanpa ingat sekecilpun salah yang kita perbuat. Tanpa peduli apa yang telah kita lakukan sebelumnya. Cuma Allah yang se-sosweet itu, kan? :)

Selain itu, kita juga diingatkan, bahwa dalam kamus seorang muslim, nggak ada yang namanya berputus asa dalam meraih rahmat Allah. 

Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhan-nya, kecuali orang-orang yang sesat” 
[Al Hijr:56]

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az Zumar:53]

"... Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.
(QS. Yusuf: 87)

Lihat? betapa putus asa sangat dibenci oleh Allah. Jadi, sejelek apapun track record kita, seburuk apapun pola-tingkah yang telah kita perbuat, itu nggak bisa jadi alasan untuk berhenti berharap. See?


Ingat satu hal lagi,
Janji Allah itu Pasti

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (QS 40:55)


Dan tentu, semua itu juga nggak bisa kita jadikan alasan untuk main-main. Allah Maha Tahu segala isi hati hamba-Nya. Dia tahu setiap niat, tahu setiap jalan fiikiran yang terlintas di kepala kita. Dia tahu mana taubat yang tulus, mana taubat yang hanya jadi penghias lisan. Semoga kita selalu dalam dekap hangatNya. Allahumma aamiin... :)

Sunday, July 13, 2014

Wahai Debu di Sisi Jendela

Wahai debu di sisi jendela.
Petang ini telapakku menatap angkasa.
Menanti belaian, -butiran syurga.
Menikmati semilir sejuk yang lembut menyapa. Menerpa.

Wahai debu, di sisi jendela.
Sejak kapankah kau lupa untuk mengiba?
Atau terlalu malu untuk sekadar meminta?
Sejak kapan, kau enggan tuk hadirkan udara?

Wahai debu di sisi jendela..
Anak itu sejak dulu menanti asa.
Menggantung tinggi segala cita. Segala cinta.
Bukan. Bukan harap tuk dikenal dunia,
Melainkan pinta yang sederhana.

Wahai debu di sisi jendela,
Mereka bilang kau tiada harga.
Tak pernah sekalipun menjadi istimewa.
Ataukah ada?
Sementara kau hanya debu di sisi jendela.

Wahai,
Sampaikan salamku pada jendela miliknya.
Yang telah lama menjadi saksi nestapa.
Yang telah menahun bisu menatap derita.
Menatap keteguhan para jiwa.
Yang pemiliknya sejak dulu berharap, mendoa.

Bawalah titik surat pesanku kesana..
Ke bumi dimana kalam Tuhan menjadi senjata.

Wahai debu, di sisi jendela.

Kota Hujan, 18 Ramadhan 1435 H