Sunday, September 1, 2013

Halte Berikutnya

Kurang lebih dua minggu sejak pertama kali saya menjadi penghuni tetap tanah ini. Tak berbeda dengan teman-teman kebanyakan, meski kembali tinggal di asrama, adaptasi jelas mutlak adanya. Tanah yang dipijak berbeda, jelas peraturan, sistem, pergaulan, lingkungan-pun juga berubah. Semua ini butuh adaptasi. Butuh format ulang, formula baru, jurus andalan yang baru. Dinamis. Sekarang, saya jadi benar-benar memahami makna dari kalimat yang dilontarkan salah seorang guru saya di madrasah Aliyah dahulu; “Insan Cendekia itu dunia imajinatif, fantasi. Semua orang baik. Di luar gak seperti ini.” Kurang lebih begitu. Yup, saya juga jadi lebih paham kalimat “hidup itu ga seindah di IC, De. Aman, nyaman, tentram, gak seindah itu”. Belum lagi mendengar cerita kawan-kawan seperjuangan yang sama-sama hinggap di tanah juangnya yang baru. Benar. Dunia ini logis. Dan kita harus pandai-pandai menyeleksi mana kelogisan yang hendak kita ambil. Harus meningkatkan daya kritis. Tapi soal hidup ini indah, saya yakin 100% benar adanya. Kan sudah diatur sama Dia. :D

Nyatanya, pernah menapaki kaki di Insan Cendekia sebagai seorang siswi adalah nikmatNya yang luar biasa. Saya dipaksa untuk tahu diri, dipaksa untuk tahu malu pada diri sendiri, pada negeri sendiri. Label anak beasiswa yang saya dan teman-teman rasakan menjadi ‘beban’ dalam artian luas. Kami benar-benar punya hutang pada negeri ini. Baru beberapa hari yang lalu masa perkenalan kampus saya telah selesai. Tak lama lagi akan dilaksanakan peresmian sebagai mahasiswa baru. Insya Allah. Tak akan saya bahas disini, soal masa perkenalan kampus yang tahu-tahu jadi agak hambar karena diri sendiri yang malah terngiang-ngiang bagaimana dulu digembleng selama satu minggu dalam Pekan Ta’aruf Siswa ketika hendak memasuki madrasah aliyah boarding school itu. Yang saya sadari, benar sekali pepatah yang berbunyi “yang kedua dan seterusnya akan terasa lebih mudah dibanding yang pertama”.

Tentang halte baru saya ini; Institut Pertanian Bogor. J Alhamdulillah, setelah proses panjang, melalui fase-fase bingung dan segala turunannya, pada akhirnya tiba juga saya disini. Kota Bogor yang terkenal menyandang gelar kota hujan lantaran curah hujannya yang terbilang cukup tinggi. Jurusan? IKK (Ilmu Keluarga dan Konsumen). Sebuah jurusan yang jangankan Anda, saya pun baru mendengarnya kurang lebih satu tahun lalu. Agak berliku. Psikologi, pendidikan, biologi, teknologi pangan, sampai akhirnya menemukan yang namanya IKK ini justru disaat saya sedang mencari tahu tentang jurusan biologi. Sempat hampir mantap mengambil jurusan teknologi pangan dengan beasiswa S1 di salah satu perguruan tinggi swasta daerah Kuningan, ternyata pada akhirnya yang saya ambil ya IKK ini. Apapun, saya yakin rencanaNya tidak pernah salah dan selalu indah. Insya Allah. :D tentu bukannya tanpa pertimbangan dan tanpa tujuan. Saya punya alasan kenapa memilih disini, institut ini, dengan jurusan yang telah saya sebutkan di atas.

Mengetahui bahwa kita tidak sendirian di tanah baru adalah hiburan tersendiri. Ada beberapa yang sudah saya kenal disini. Teman MAN, MTS, MIN, juga ada kenalan-kenalan baru yang terhubung secara ajaib; networking. Saya jadi ingat syair Imam Syafi’I yang dahulu sempat menjadi sajak penyemangat saya di masa-masa awal ketika harus melakukan perantauan kecil saat Aliyah.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih
Jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa
Jika di dalam hutan

-Imam Syafi’i-

Pertama kali mengetahui sajak ini dari acara bedah buku yang diadakan perpustakaan sekolah saya. Mengundang Ahmad Fuadi, membahas novel dari triloginya yang pertama; Negeri 5 Menara. Saat itu, sajak ini seperti punya daya tarik tersendiri bagi saya. Menyemangati sekali. Saya tulis dimana-mana. Saya baca berulang-ulang. Saya promosikan ke teman-teman. Lewat tulisan, lisan, telepon, apapun. Tahu-tahu jadi hapal. Hhe. Dan di halte baru saya ini, saya punya ‘jargon’ andalan. Ingat kata-kata seorang teman melalui pesan singkat di suatu siang. Hari kedua saya tinggal di tempat baru ini. Begini;

“Selamat kembali berjuang..
Ayo kita niatkan mencari ridhoNya J
Inget ini:
Man kharaja fii thalabil 'ilmi fahuwa fii sabiilillaahi hattaa yarji'a"

Barangsiapa keluar untuk menuntut ilmu, maka ia ada di jalan Allah hingga pulang. Ini janji yang keren abis. 8) jadi alarm supaya harus selalu ingat, niat awal melangkahkan kaki ke halte baru ini. Memang, jarak rumah dengan tempat rantauan saya ini terbilang dekat. Katakanlah Jakarta-Bogor. Jauh dibandingkan teman-teman saya yang lain. Jawa Timur, Aceh, hingga Papua. Tapi ini dia janjiNya yang keren. Ga ada syarat jarak disana. Semua orang dapet kesempatan yang sama. Adil. Sama rata. J

Perbedaan lagi yang sangat perlu dikondisikan. Di asrama masa Aliyah, tidak ada yang namanya barang-barang elektronik seperti HP atau laptop berkeliaran di asrama. Peraturannya yang mengharuskan seperti itu. Berbeda, sekarang dibolehkan. Yang namanya mahasiswa tentu memiliki kebutuhan yang berbeda dengan siswa, kan? Nah, dimana-mana, yang namanya kebijakan pasti punya dampak positif dan negatif. Asyiknya dulu adalah, antar kawan satu asrama jadi banyak sharingnya. Mau ngapain lagi, teman ngobrol ya yang ada di depan mata. Gak ada dunia maya-mayaan itu. Banyak sharing, lebih dekat. Susahnya, kalau mau ada acara kumpul atau rapat, komunikasinya jadi lebih kompleks. Hhe. Lagi, hidup terasa lebih sehat tanpa benda-benda elektronik. Serius. Sekarang, bias ditebak. Ketika benda-benda itu bebas berkeliaran, semuanya jadi terasa lebih individualis. Asyik sama dunia maya masing-masing. Asik nonton film, asik chatting. Nilai plusnya, tugas lebih mudah, bisa dipakai untuk sarana produktif kayak nulis ginian, (meski tahu-tahu saya sadari, frekuensi menulis saya di buku jurnal berkurang drastis. Kebanyakan nulis di media digital jadinya). Satu hal. Harus pandai-pandai self control. Dan ini justru bagian yang paling sulit. Kalau dulu rajin bolak-balik manggil orang untuk kumpul misal, sekarang tinggal ketik pesan, send, selesai. Rasa malas benar-benar diuji. Serius. Dari sini saya sadar, tantangan yang benerannya bukan saat saya berada di Aliyah dulu. Justru ketika sudah menjadi alumni, dan menapaki halte baru. Sejauh mana pengalaman yang sudah saya dapat mampu saya terapkan di kehidupan yang katanya keras ini. Lagi! Tentang shalat lima waktu. Benar kata kakak-kakak yang sudah mendahului jadi alumni. Yang namanya shalat lima waktu, tepat waktu, di masjid, itu akan sangat dirindukan. Dan saya mulai merasakannya. Iya, benar sekali. Kalau dahulu ke masjid merupakan rutinitas, ya sekarang tidak lagi. Memang, perempuan kan lebih utama shalat di rumah. Soal tepat waktu pun, dahulu kegiatan sudah diatur sedemikian rupa. Waktu sudah tersistem. Sekarang, memang sih belum mulai kuliah. Tapi rasanya, benar sekali. Harus pandai mengatur waktu sendiri. Harus mandiri.

Anak kecil. Sejak dulu saya senang ngeliatin anak kecil. :D mereka mampu terlihat sangat yakin, dan bisa sangat percaya akan suatu hal. Anak kecil punya kekuatan luar biasa yang bagi saya sungguh inspiratif. Ini yang menjadi landasan saya bisa berkata dengan PDnya suatu siang di gedung serba guna sekolah Aliyah saya, bahwa yang namanya cicak terbang itu ada. Ini juga yang jadi landasan saya, berkoar-koar kalau saya benar-benar punya indera ke6. Dan tidak masalah. Saya merasakan dampak luar biasa. Anak kecil benar-benar inspiratif. Dan saya bersyukur pernah menyandang gelar itu; menjadi seorang anak kecil. Kenapa tiba-tiba ngomongin anak kecil? Hha. Soalnya, ini yang sempat saya khawatirkan; kehilangan semangat anak kecil itu. Kata orang, seiring bertambah usia, pikiran manusia akan semakin realistis dalam artian tidak out of box seperti anak kecil. Terbatas. Tapi dilihat-lihat, itu bukan rumus mutlak. Makanya, biar saya ikat disini dengan menuliskannya. Biar ingat, biar tetap yakin. Biar tetap childlike. Biar bisa berbagi. :D

Haha, loncat-loncat. Saya tidak memiliki point jelas, daftar apa-apa yang hendak saya tuliskan. Memang bukan tipe orang yang terstruktur. Biarkan saja lah, anak kecil juga tidak terstruktur kan. :P #eh. Jadi begini saja. Apapun, semoga halte baru ini menjadi tanah perjuangan saya dan kawan-kawan berikutnya. Aamiin Allahumma Aamiin. Insya Allah. :D

Bogor, August 31st 2013 5.27 pm.

Bersama 6 orang kawan seperjuangan dari tanah Serpong yang hijrah ke Bogor.
"Kami pernah menapaki tanah ini. Pergi, kembali, kelak untuk negeri."
Galang - Itse - Arif - Riz - Rowi - Zahra - Qomar





  

Thursday, August 29, 2013

Kalau Langit Nyalakan Api

‘Kalau langit nyalakan api,
Jangan biarkan ia terbakar’

Gelap,
Merah,
Membara,
Pelabuhan malam yang mencekam
Menyelimuti wajah-wajah suram
Menekan paras dua ratus penggeram

Bila kau mampu, nyalakan saja obor itu!
Biar tumpah, bakar semua sepatu
Dasar kepala batu!
                Aku tahu jemari itu jenuh,
Aku tahu kepala itu keruh.

Tapi kalau langitmu mulai menantang,
Badaimu siap datang,
Asa-mu hendak terbang,
Jangan biarkan jiwamu hilang.

Memang,
Kau cuma sang ilalang
Seperti yang kau dan mereka bilang.

Tapi tegakah kau menjadi seorang pecundang,
Di hadapan Rabb-mu Yang Maha Penyayang?

Hidup itu selalu punya ruang.
Tinggal bagaimana kau mau, dan hendak berjuang.


Querist.

Ditulis pada tanggal 6 Agustus 2012, sekitar satu tahun lalu, di asrama MAN Insan Cendekia Serpong. Terinspirasi dari kisah salah seorang teman seperjuangan yang tengah terombang-ambing. Setiap kita pasti mengalaminya; kisah yang mampu menginspirasi orang lain, mungkin, tanpa kita sadari. Maka tak ada salahnya untuk berbagi. :)

Monday, August 5, 2013

Yuk, Berhijab!, Saya, Kakak, dan Josh

Jadi, dua hari yang lalu (3 Agustus 2013), saya hang out bareng kakak. Bermodalkan izin jalan-jalan ke Gramedia, niat nyari buku. Meski pada akhirnya, gak jadi juga ke Gramedia (di Senayan adanya Kinokuniya sama Gunung Agung). :D

 Buku yang saya incar hari itu adalah terbitan mizania karya Ustad Felix Siauw dan Emeralda Noor Achni yang berjudul Yuk, Berhijab! (sebuah buku terobosan sekali menurut saya, karena berani hadir di tengah-tengah gempuran buku fashion hijab yang merajalela beberapa waktu terakhir).

Yang ingin saya bagikan disini adalah percakapan-percakapan singkat saya dengan seorang bule Amerika nonislam yang berperan sebagai temannya kakak saya. Sebut saja dia ini Josh. Lebih sopannya, Mr. Josh (well, usianya sudah terbilang tiga puluh tahun ke atas. Meski awalnya saya kira dia tidak setua itu karena tingkah lakunya yang bisa dibilang 'muda'. Hha).

Pertama kali bertemu si Josh ini, ketika selesai naik eskalator. Lantas kami bertiga menuju satu toko buku kecil yang menyediakan buku-buku impor dari luar negeri. Disana percakapan saya dengan si Mr. Josh ini bermula.

Ri..?
Ri-ris
Ya, Riris. Cari buku apa? (Mr. Josh bisa bahasa Indonesia sedikit-sedikit.)
Ng.. cari-cari aja dulu kali ada yang cocok nanti
Ooh..
Udah dari tadi di sini?
Tidak, tadi aku ke...
*cut. itu awal perbincangan saya dengan dia. Selebihnya saya lupa dia ngomong apa. Haha*

Bagian serunya jelas bukan disitu (apa pula pentingnya percakapan di atas, haha). Jadi, di sini saya hendak berbagi tentang percakapan-percakapan yang menurut saya menarik saja. Begini.

Percakapan I
Waktunya shalat Zuhur, dan segera mencari tempat shalat. Di tengah perjalanan, Mr. Josh bergumam
Kalau solatnya telat, memang kenapa?
Rugii *jawab saya seadanya
Rugi?
Iya, disadvantage, Josh
Ooh...

Yup. Kalau shalat kita ditunda-tunda; telat, sejatinya kita merugi. Ingin saya bicara panjang lebar memberi kabar ke Josh tentang hal ini. Tapi saat itu kosakata saya masih sedikit sekali. (kebiasaan kalau pertama kali ketemu orang baru. Apalagi orang asing. -.-) Logikanya begini. Kita janjian dengan seorang teman untuk bertemu. Untuk menghadiri sebuah acara yang akan diadakan dari jam 9 sampai jam 12 misal. Jika kita berdua hadir jam 9, tentu banyak isi acara yang bisa kita nikmati. Lah kalau jam 12 baru datang? apa coba yang kita dapat, paling tinggal menyaksikan acara penutupan. :D
Soal shalat ini seringkali jadi sederhana sekali, bisa juga kita analogikan dengan menonton film di bioskop. Kita sudah beli tiket mahal-mahal, lantas dengan sengajanya kita hadir di detik-detik terakhir; hanya melihat ending filmnya saja. Rugi, bukan? that's it. :)

Percakapan II
Riris, selalu pakai rok? *nunjuk rok saya
Eh? nggak kok, cuma sering
Ooh sering. Sulit kalau naik motor?
Nggak kok, kan pakai celana panjang juga meski pakai rok :D
Ooh, tidak panas?
Enggaaaa. *beneran Mr, ini tidak panas sama sekali, hha
----------usai dari Kinokuniya kalau gak salah----------

Banyak orang yang beranggapan pakai rok itu merepotkan, apalagi rangkap celana panjang. What? terus roknya buat apaa mending pakai celana panjangnya aja kan -.- tidak sedikit yang berfikir seperti itu. Saya sendiri mulai sering menggunakan rok setelah sekolah di Madrasah Aliyah yang kece abis. Sebelumnya, rok itu insidental sekali. Berangkat ke sekolah, atau acara buka bersama saat Ramadhan. Yup, insidental. Dan saya mulai membiasakan diri setelah duduk di bangku Aliyah, sampai saat ini. Panas? tidak sama sekali! percaya deh :D bahkan menggunakan rok itu lebih enak dan nyaman. Lebih asik buat asik-asikan (apa ini maksudnya? haha). Makanya, untuk para perempuan cobain aja, biar tahu sensasinya. Hhe.

Percakapan III
Karena di Kinokuniya Yuk, Berhijab! belum ada stoknya, maka kami menuju Gunung Agung yang berarti harus nyebrang, menuju plaza sebelah. Di tengah jalan raya, di mana zebra crossnya tidak (terlalu) berfungsi kalau gak ditemenin pak polisi, Mr Josh ini mengomentari lagi.

Itu topi buat apa? *nunjuk ciput topi yang saya kenakan
Yaa, pakai aja (saya menjawab sekenanya, bingung mesti bilang apa)

 dan kakak saya pun angkat bicara

Jadi, kalau cewek pakai jilbab itu caranya beda-beda. Tergantung orangnya nyamannya gimana. Kalau kayak gue ini kan gak pakai yang topi itu, kalau Riris pake, soalnya dia nyamannya begitu.
Pasti buat gaya. Kalau perempuan pakai pakaian itu pasti untuk bergaya
Enggak kok, kalau gue pake pakaian karena gue merasa nyaman aja. Bukan buat gaya.

Saya diam disana. Nyengir doang. Hha
Bagaimana menurut Anda? soal bergaya ini. Saya tidak setuju sekali dibilang perempuan kalau pakai pakaian pasti buat bergaya. Hha. Kalau seperti yang kakak saya bilang; merasa nyaman, it's okay lah. Saya setuju. Merasa nyaman. Dan yang paling penting, kita sebagai muslimah, harusnya merasa nyaman dengan pakaian yang sesuai dengan tuntunan syariatNya. :) Semoga kita demikian, saudari-saudari. Aamiin.

Percakapan IV
Sampai di Gunung Agung, dan saya bahagia sekali karena menemukan Yuk, Berhijab! tersedia di sana -dan stoknya yang terlihat tinggal satu buah; meski ternyata masih bayak tersimpan di rak buku belakang- kami bertiga berpencar. Lantas tahu-tahu saya berpapasan dengan Mr. Josh ini di bagian buku-buku enterpreneurship.

Riris, itu buku gambar atau bacaan? *menunjuk Yuk, Berhijab! yang warnanya ungu-pink ngejreng
Oh ini buku bacaan kok *antusias, menyodorkan buku tersebut ke arah Josh

Dan saat itu saya tidak tahu mesti bilang apa. Makanya, saya keliling-keliling dulu, meninggalkan si Josh dengan buku Yuk, Berhijab! di tangannya. Selang beberapa lama, saya kembali, lantas mencoba membuka percakapan.

Kenapa? mau ikutan berhijab juga? hhe *pertanyaan iseng melihat Josh yang kayanya serius sekali membaca cover belakang Yuk, Berhijab!
 Ini buku seram, ada pocongnya *nunjuk gambar pocong di bagian belakang. Dan sukses bikin saya ketawa. Asli. Haha


Jujur, saya bingung mau jawab apa. Mengingat perbedaan kepercayaan, ditambah rasa takjub bagaimana bule Amerika ini mengerti yang namanya pocong. Hhe.

Kakak saya tahu-tahu datang. Josh kembali bergumam melanjutkan komentarnya tadi.
Memangnya, kalau tidak berhijab hidup jadi sengsara?
-dan tidak ada yang menjawab. Saya dan kakak sama-sama ketawa saja. Entah menertawakan hal yang sama, atau lain-

Kalau tidak berhijab, hidup jadi sengsara? cek lagi pertanyaan si Josh ini, Menurut saya, jawabannya: Iya. Sengsara, lebih tepatnya merugi sekali. Rasanya kalau gak berhijab itu, apa ya... Nng, nggak keren! Hhe 8) Bagaimana, Anda punya pendapat?

Percakapan V
Dan siang itu saya membeli dua buah buku pada akhirnya. Yuk, Berhijab! dan sebuah buku, juga terbitan mizania, karya Irfan Amalee (saya baru dengar nama ini, jujur saja) yang berkisah tentang perjalanan para insan pemburu beasiswa. Semoga bisa memacu semangat saya yang bulan depan Insya Allah akan mulai menjadi mahasiswi. Aamiin. :)
Usai dari Gunung Agung, kami bertiga mampir duduk di pinggiran keramik air mancur di dalam plaza. Yang menarik, sementara kakak saya membuka buku karya Irfan Amalee, si Mr. Josh ini semangat sekali membuka segel buku Yuk, Berhijab! -dan mulai membacanya, dari halaman pertama-. Nice. Anda bisa lihat ekspresinya;


Terlihat sangat tertarik -setidaknya di foto ini- -.- membuat saya dan kakak saya takjub. Rasanya ajaib sekali melihat seorang bule nonislam antusias membaca buku bernadakan Islam, ditambah judulnya Yuk, Berhijab! Haha. Mr Josh tidak sembarangan membacanya. Dia menanyakan beberapa kosakata bahasa indonesia yang agaknya sulit dimengerti, terutama bahasa serapan. Fitrah? gamblang? mahram? taqwa? Beberapa kali kami berdua -saya dan kakak- mencoba memberi definisi yang kiranya mudah dicerna. Diam-diam saya berharap sekali dia mau membaca buku itu sampai habis. :D beberapa halaman, dan dia mulai melongkap-longkap bacaannya.

Sampai di situ, selanjutnya kami pulang. Ber-sayonara di jalan depan mall, dan berpisah. Mr Josh hendak menuju Tanah Abang, berjumpa dengan beberapa kawannya. Sementara saya dan kakak menuju hunian; rumah. Sebenarnya masih ada percakapan-percakapan yang saya rasa unik dan menarik; memunculkan pemikiran-pemikiran baru dalam kepala saya. Seperti tentang bagaimana bule di Indonesia begitu dilayani-dihargai tak seperti orang pribumi. Yah, pantas saja bangsa kita terkenal ramah di mata dunia. Atau tentang bagaimana penjualan buku di Amerika yang tiada bersegel plastik (dan hal ini membuat saya heran bagaimana buku-buku yang dijual masih tetap baik kondisinya meski tidak dibungkus plastik. -.-). Beberapa kali juga, Mr. Josh menanyakan tentang sekolah saya. Tentang cita-cita, jurusan, dan kenapa memilih tempat menuntut ilmu yang jauh dari rumah. Tapi yang saya angkat di sini adalah sisi yang telah saya ceritakan di atas. Tidak merasa anti untuk mengetahui tentang ajaran agama lain yang tidak dia anut. Sekiranya sebagai muslim, kita bisa bertindak demikian. Tahu itu perlu. Karena tidak lucu sekali jika kita fanatik akan suatu agama, tapi tanpa disertai alasan-alasan yang mendukung. Kita perlu tahu. Maka bentengi dengan ilmu yang disempurnakan iman. Maka berbuat dengan disertai keyakinan. Islam itu rahmatan lil alamin. Maka sekarang tentang bagaimana kita sebagai yang menjalaninya, sebagai seorang muslim, menyiarkan Islam itu. Memaksimalkan rahmatan lil alamin itu. :D

Semoga bermanfaat. Jazakumullah Khairan Katsiir. :)

Friday, July 26, 2013

Boleh Jadi tentang Kau

Assalamu'alaikum, Kawan.

Hei, apa kabarnya dirimu? Rasanya lama sekali kita tak bersua. Lama sekali tak kita bunuh malam-malam kita bersama; membentangkan sajadah, atau sekadar berbagi kisah -yang seringkali berakhir dengan salam selamat malam, semoga tidur nyenyak, jangan lupakan Dia-. Ah ya, Kau benar. Aku selalu rindu diskusi malam kita yang menggila. Membunuh waktu. Kita selalu berharap malam-malam itu akan jadi bermanfaat. Tapi apa daya, hal-hal tak penting toh nyatanya terlontar juga. Maafkan aku untuk yang satu itu. :)

Ada momen-momen yang sangat aku ingat (setidaknya sampai saat ini). Sederhana, namun sungguh, berkesan. Aku senang sekali, tiap kau mengatai aku 'nyebelin'. Sungguh. ada kebahagiaan tersendiri bagiku, dikatai seperti itu. Haha. Karena tidak semua orang mampu berkata demikian. Dan Kau salah satu dari makhluk langka itu. Atau, ketika Kau memasang tampang males, tiap mendengar pengakuanku soal indera ke-6. Aku tahu Kau BT sekali. (apa artinya BT? entahlah aku tidak tahu pasti. :D). Jahatnya, aku gembira sekali melihat tampang malesmu itu. Tampang 'apabanget' tiap kuungkit-ungkit soal indera ke-6. :) 

Banyak hal-hal sederhana, yang jadi tidak sederhana dimataku. Kau cuek, tapi tidak cuek. Kau merasa tidak tahu, tanpa kau sadari aku merasa kau tahu banyak. Satu hal yang favorit sekali darimu adalah; kau kerap bertanya. Berhasil menang dariku untuk bertanya soal kabar. Ketika biasanya aku yang menanyakan soal itu pada lawan bicara. Dan aku merasa perlu berterima kasih atas hal itu. Terimakasih. Haha. Bahkan boleh jadi kau tidak sadar yang dimaksud disini adalah dirimu. Tidak masalah. Terimakasih banyak. Berjalan bahagia adalah salah satu petunjuknya. :)

Kau itu benar-benar mengagumkan. Ingin aku bertanya, bagaimana bisa kau berbuat sedemikian 'sempurna'nya? hal-hal menyenangkan bersamamu rasanya lucu sekali. (Sudahlah, akhir-akhir ini aku memang gemar menggunakan kosakata 'rasa'). Membuatku kadang geregetan dan ingin menggetok kepala sendiri. Kau ingat, bagaimana awal mula perbincangan kita? dibuka dengan cerita pendek yang ditutup dengan saling ber-Oh ria. Oh, ternyata aku tidak sendiri. Oh, ternyata yang begitu bukan aku saja. Oh, ternyata kita memang bersama-sama. Ya, kadang, imbuhan 'oh' itu menjelma hiperbola jadi 'ya ampuun' dan menjelma jadi yang lebih indah; 'Subhanallah'. :D

Maaf karena aku banyak sekali bicara. Entah kenapa, demikian adanya. Tapi kau tidak pernah protes. Tidak pernah. Sejauh yang aku ingat, kalau kau mulai jenuh, kau akan diam. Atau paling tidak mengalihkan fokus. Terimakasih (lagi) untuk hal ini. Kau mengingatkan aku dengan cara yang paling baik. Emas. Membuatku tak mampu melawan, dan kemudian jadi berfikir sendiri. Ternyata itu maksudmu. Lambat laun aku mengerti. Kau demikian adanya. Tapi jadi atraktif sekali dalam banyak hal. Membuatku acapkali tertawa, melihat tingkahmu itu. Paduan unik antara hebring dengan wibawa tak kalah tanding.

Kau juga merupakan pencerita ulung. Selalu sukses membuatku takjub akan kisah-kisahmu. Bagaimana kau yang cerewet itu bisa menjelma manjadi begitu puitis, dalam waktu-waktu tertentu. Betapa aku tak heran ketika suatu saat kau memintaku untuk memandang langit, lantas berucap tentang jangan lupakan. Kau ajaib, Kawan. Seribu kata-katamu yang menghujan sekali. Sering sekali tahu-tahu memenuhi jendela mata. Kau rajin merangkai kata meski sulit kugali apa yang ada di benakmu itu. Indera ke-6 ku seringkali tidak berfungsi dengan baik, menghadapi kau yang lugu tapi menyebalkan. Dan sialnya kau terlanjur aku sayangi. Ya, kau benar-benar pencerita ulung yang membuatku banyak introspeksi. Terimakasih (kembali). :)
Hah. Bicara tentangmu takkan ada habisnya, Kawan. Kapalmu mungkin esok berangkat. Mungkin lusa. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan. Keretamu bahkan mungkin meluncur satu jam lagi. Atau bahkan semenit, sedetik lagi. Aku tak pernah meminta waktu kembali. Kangen? hei, jangan GR. Haha. Hanya sekadar ingin kau tahu. Momen-momen sederhana bersamamu itu istimewa sekali. (Lupakan dulu soal ada berapa hal istimewa di dalam benakku. Banyak sekali). Kadang aku sebal kenapa kau begitu tinggi. Bahumu terlalu sulit kuraih bahkan hanya untuk 'numpang' cengeng. Tapi terlepas dari itu, kau selalu mampu membuat aku merasa ada, dengan sapaanmu melalui peluk hangat seorang teman. Seperti kau yang tetap melihatku apa adanya, meski pernah kubunuh waktu tidurmu; bicara soal instansi kita yang sungguh istimewa. Iya, kau yang mengatai aku gila dengan  segala kehormatannya. Haha. Aku akan selalu merindukan saat itu. Waktu kau hujani aku dengan bantal-bantal empuk. Membungkam paksa mulutku yang kau cibir menyebalkan. Menyebalkan, tapi seringkali menarik bagimu untuk dimintai pendapat, kan? Haha. Meski yang keluar hanya pendapat murahan, tapi kau mau mendengarnya. Sungguh terimakasih atas semua penghargaan itu.

Ini boleh jadi tentang kau. Boleh jadi tentang yang lain.
Terimakasih sekali, Kawan. :)
Semoga kau baik-baik di tanahNya.

Wassalamu'alaikum.