Monday, June 28, 2021

Berceritalah

Hai, apa kabar kamu yang di sana? Bersyukur ya, di tengah keramaian media sosial yang riuh dan begitu gaduh, kita masih bisa bertukar sapa di ruang sepi yang satu ini. Ya, kadang diskusi kita dalam hening terasa lebih menghangatkan, bukan?

Aku harap, semoga kamu baik-baik saja. Belakangan hidup memang terasa tak mudah bagi banyak orang, dan mungkin saja kita salah satunya. Namun, bukankah tak ada janji yang lebih indah dari kesulitan yang akan hadir beriringan dengan kemudahan-kemudahan?

Hmm.. Jadi, ada cerita apa dalam kehidupanmu? Adakah kabar yang perlu aku tahu? Atau setidaknya, yang bisa kau bagi denganku. Tak peduli sereceh apapun itu. Sepertinya akan menyenangkan jika aku bisa mendapat sedikit kabar darimu. Oh iya, ku pikir, kamu harus tahu bahwa di dunia ini akan ada seseorang yang sama sekali tak keberatan mendengar kisahmu, rapuhmu, bahagiamu, sedih dan senangmu. Tentu saja tak selalu aku. Tapi kalau kau mau cerita padaku kali ini, insyaAllah akan ku dengarkan baik-baik dengan senang hati.

Beberapa waktu lalu, aku pernah bertemu dengan seorang ibu. Ia menangis, merengek dalam panjang sujud di salah satu salat fardhu. Sebelumnya kami sempat berpapasan di tempat wudhu. Kamu boleh percaya atau tidak, tapi ibu itu membuatku tak bisa keluar dari dalam toilet. Iya, dia mengunci pintunya dari luar. Setelah beberapa kali aku ketuk, tak lama pintu itu kembali terbuka. Wajah kami berhadapan sejenak. Coba tebak, bagaimana ekspresinya?

Sepertinya kamu salah. Ibu itu menatapku tajam seperti orang yang tengah marah dan kesal. Ada badai di kedua bola matanya. Aku enggan menatap lama-lama. Kusungging senyum, lantas ia melengos masuk ke dalam toilet menggantikan aku. Aneh dan jujur saja, agak meyebalkan. Tapi ya sudah, bahkan saat itu kukira ia memiliki gangguan atau semacamnya. Ku pikir demikian. Ternyata, aku salah besar.

Ya, nyatanya aku melihat ibu itu menangis, merajuk di atas sajadah. Ia membuka Al-Qur'an lembar demi lembar, beberapa kali ku dengar isak tangisnya beriringan dengan suara parau memanggil Rabb-nya. "Yaa Allah..." begitu ujarnya. Segera saja aku menyesali praduga tak berdasarku beberapa waktu sebelumnya, yang mengira si ibu memiliki akal yang barangkali kurang sehat.  

Rasa jengkel yang  sempat hadir sebab aku dikunci dari luar toilet, ditambah menerima sikap yang jauh sekali dari kata ramah, segera ku buang jauh-jauh. Baiklah, beliau sepertinya tengah punya masalah yang jauh dari kata mudah. Dan sebaiknya aku segera membereskan masalah dengan hatiku yang sudah seenaknya berprasangka tanpa dasar jelas.

Aku masih ingat kejadian itu dengan baik. Ada pembelajaran penting yang aku dapat: setiap orang menghadapi perjuangannya masing-masing. Kadang kita terlalu serampangan dalam memberikan penilaian pada orang lain, hanya berdasarkan suatu kejadian atau bahkan hanya dalam satu kali papas. Jika ia terlihat begitu menyebalkan, boleh jadi saat itu ia tengah mengalami hari yang jauh dari menyenangkan, dan berkali-kali menguji perasaannya. Sebaliknya, jika ia terlihat begitu sempurna dan tanpa cela, bukan berarti ia tak pernah merasakan sedih atau kecewa seperti manusia lainnya. Pada akhirnya, kita sama-sama manusia.

Hei, jadi bagaimana kabarmu? Aku harap, kamu baik-baik saja. Titip salam syahdu untuk langit di kotamu yang boleh jadi sama, atau mungkin berbeda dengan kotaku. Berceritalah. Semoga kita masih diberi waktu.

Sumber Gambar

Ditulis di Bumi Pasundan,

28 Juni 2021.

Sunday, June 27, 2021

Ambulans dan Suara Hujan

Belakangan ini, bumi pasundan terasa dingin sekali. Suara mesin kulkas, rintik hujan, juga kendaraan saling sahut menyahut terdengar dari ruang kerja kami. Sayang, alih-alih syahdu, justru terdengar kelabu tiap sirine ambulans mampir ke gendang telinga. Ya, kantor kami duduk berdampingan dengan rumah sakit dan laboratorium kesehatan. Belakangan ini, Bandung memang dingin tersebab cuaca yang seringkali hujan. Namun ia juga panas oleh jumlah lonjakan kasus Covid-19. Bukan, bukan hanya di sini, melainkan juga di seluruh Indonesia barangkali.

Aku masih ingat ketika pertama kali televisi ramai membicarakan bahwa ada dua orang terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia kali pertama. Pasien 1 dan Pasien 2. Kala itu kita masih bisa dengan "gagah" memberi label nomor. Sekarang? entah, mendengar ada berapa jumlahnya saja mungkin membuat beberapa orang enggan menyimak lebih lanjut. Bukan karena tidak peduli, tapi karena terlalu membuat pilu hati. Saat itu aku di dalam perjalanan naik bis dari Bogor ke Jakarta. Aku duduk di kursi paling depan, sehingga terlihat dengan jelas lalu lalang orang dan kendaraan di jalanan. Kamu tahu? saat itu semua orang berbondong-bondong mengenakan masker. Semuanya, nyaris tanpa terkecuali. Bapak sopir, pedagang kaki lima, pengendara motor, juga orang-orang yang riuh tengah pulang usai dari tempat kerja. Ada satu yang paling kuingat saat itu: raut wajah mereka.

Meskipun mengenakan masker, aku dapat menangkap garis-garis kekhawatiran. Garis-garis takut dan cemas. Barangkali karena akan menghadapi sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hal itu juga tampak pada ekspresi seorang bapak yang masuk ke dalam bis, dan duduk di sebelah kananku. Saat itu bis sedang penuh. Beliau duduk sembari tangannya merogoh kantong, lalu mengeluarkan selembar masker dan mengenakannya. Kami terlibat obrolan yang sangat singkat.

"Sudah ada dua, ya."

"Iya, Pak." Lalu hening.

Bahkan, tanpa menyebutkan topik pembicaraannya, kami sama-sama tahu apa yang kami bicarakan. Pikiran kami seolah sama. Tidak, bukan hanya aku dan si bapak tadi. Tapi juga barangkali seluruh isi penumpang bis.

Hari ini, setelah lebih dari satu tahun peristiwa itu terjadi, nyatanya kita telah banyak kehilangan. Kehilangan pekerjaan, kesempatan, hingga salah satu yang paling menyakitkan: kehilangan orang yang dicinta. Bangsa kita bahkan kehilangan ulama, guru, juga putra-putri terbaiknya. Rangkaian peristiwa yang harusnya lebih dari cukup untuk membuat kita merenung. Tidakkah semua kehilangan itu memberikan kita banyak pelajaran?

Semoga kita termasuk dari orang-orang yang mengambil pelajaran. Jika kita menghadapinya bersama-sama, agaknya ini akan jauh lebih mudah. Sama-sama berdo'a, dan tentu saja sama-sama menjaga protokol kesehatan demi kebaikan kita semua. Hari ini, barangkali raut khawatir dan cemas sebagian dari kita tak sekuat dulu. Semoga itu terjadi bukan karena kita abai dan tak peduli, tapi karena kita telah banyak belajar hingga bisa menghadapinya dengan baik. Bagi sebagian yang lain, boleh jadi hari-hari inilah justru hari yang paling mendebarkan. Ketika kita kembali mengingat deret pertanyaan tentang pandemi seperti waktu kemarin-kemarin: kapan ini selesai?

Baik kita yang saat ini tengah diuji dengan kesehatan, maupun diuji dengan kondisi sakit, semoga ketenangan selalu hadir dalam hati kita. Semoga keimanan tak pernah pergi dari relung jiwa. Aamiin allahumma aamiin.

Sumber Gambar

Ditulis di Bandung,
23 Juni 2021

Sunday, February 21, 2021

Tiga Tahun Terakhir: Berkenalan dengan Diri Sendiri

Harusnya ini saya tulis tahun 2020 lalu. Tapi tidak apa-apa lah ditulis di tahun 2021. Lebih baik tetap melaju daripada berhenti melangkah karena terlalu mendamba sempurna lah, ya~

Ini adalah bagian ketiga sekaligus bagian terakhir tentang cerita ta'aruf dengan diri sendiri. Ya, tahun-tahun belakangan saya belajar tentang diri saya sendiri. Mungkin bagi sebagian orang ini terdengar aneh, tapi saya yakin bagi sebagian besar yang lain, hal ini bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan urgensinya.

Setiap kita perlu mengenali diri sendiri.


Sumber Gambar


Beberapa tahun lalu, seseorang pernah bertanya pada saya tentang apa hal yang tidak saya sukai dan apa yang bisa membuat saya marah. Pertanyaan sederhana yang membuat saya saat itu berpikir keras. Ya, saya tidak tahu. Saya bahkan harus meminta pendapat orang lain untuk menjawab pertanyaan sulit itu. Sebagian menjawab asal, mengatakan saya tidak bisa marah. Sebagian yang lain menjawab sedikit serius, menyebutkan hal-hal kecil yang menurutnya membuat saya terganggu. Tapi saya merasa belum menemukan jawaban yang jelas saat itu.

Apa yang membuat saya marah? Kapan saya merasa sedih dan kecewa?

Bukan, bukannya saya tidak pernah merasakan emosi seperti marah, sedih, atau kecewa. Setiap manusia tentu pernah, bukan? Tapi saat itu, saya terlampau cuek dan abai pada emosi saya sendiri. Saya tidak benar-benar menandai kapan saya merasa senang, hal apa yang membuat saya kecewa, kala menghadapi apa saya merasa kesulitan atau marah. Saya bukan malaikat. Tentu saja saya merasakan emosi seperti manusia lainnya.

Pada akhirnya, pertanyaan orang itu tidak benar-benar terjawab secara verbal. Tapi agaknya sudah terjawab seiring waktu saya belajar. Ya, saya belajar mengenali diri saya sendiri.

Dan saya tidak pernah menyangka, bahwa perjalanan mengenal diri sendiri akan seajaib ini. Ternyata sebelumnya saya terlampau sibuk berusaha mengenali orang lain sampai lupa mengenali diri sendiri. Sering merasa takjub betapa karakteristik manusia ada begitu banyak ragamnya, tapi saya terlalu asyik hingga lupa mengamati dan memahami diri sendiri.

Dalam perjalanan panjang itu, saya menemukan diri saya mengalami berbagai macam emosi. Ternyata ada beberapa hal yang sangat mudah membuat saya kecewa. Saya mungkin bukan seseorang dengan ambisi tinggi terhadap dunia karier dan akademik, sehingga kegagalan pada hal itu tak terlalu memukul diri. Tapi saya lemah pada kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan orang yang saya sayangi. Kesalahpahaman benar-benar mampu membuat saya tergugu, campur aduk antara perasaan sedih, kecewa, dan patah hati. Juga ketika saya tidak mampu menyampaikan maksud saya secara benar dan sesuai, terlebih jika tak ada kesempatan untuk bicara. Situasi yang sangat tidak menyenangkan. Fakta ini saya dapati ketika beberapa kali menghadapi kondisi dan situasi demikian di tiga tahun terakhir. Semakin diperkuat ketika saya mencoba mengingat-ingat kembali kejadian di masa lalu kala saya baru mulai menginjak belasan tahun.

Saya juga mendapati bahwa ternyata ada hal-hal kecil yang dapat dengan mudah memengaruhi diri. Salah satunya, yaitu betapa sensitifnya saya terhadap suara keras serta bentakan. Mendengarnya membuat jantung saya bedegup lebih cepat dari kondisi normal. Kejadian ini saya sadari ketika saya tinggal di sebuah perumahan, lalu suatu ketika ada tetangga baru menempati rumah kosong persis di seberang rumah yang saya tempati. Qodarullah, setiap hari terdengar orang berteriak, menangis, sampai meraung-raung. Sesekali terdengar sahut-menyahut entah dua atau tiga orang. Awalnya saya khawatir, takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada tetangga baru. Hingga akhirnya saya tahu bahwa itu bukan KDRT atau permasalahan rumah tangga seperti yang mungkin banyak kami duga. Anak remaja perempuan mereka rupanya memiliki permasalah kondisi mental, yang menyebabkan ia kerap tantrum bahkan seringkali hendak kabur menggedor-gedor pintu. Dari kejadian itu, saya jadi tahu bahwa suara bantingan pintu, lemparan benda, suara raungan, sungguh bisa sedemikian mengganggu.

Pada akhirnya, ada begitu banyak hal yang saya pelajari bahkan hingga hari ini. Kapan saya merasa senang dan berbunga-bunga, hal apa yang membuat saya bersemangat, termasuk kapan saya menjelma jadi manusia yang begitu menyebalkan. Kita tidak bisa menampik bahwa diri kita memiliki sisi positif dan negatif, serta memiliki masa ketika self-worth sedang tinggi dan juga rendah. Yup, saya juga belajar tentang hal apa yang bisa lingkungan saya lakukan untuk membuat saya merasa lebih baik, ketika self-worth saya sedang rendah.

Dalam sebuah workshop terapi psikologi, saya belajar tentang betapa pentingnya mengetahui hal-hal yang membuat kita merasa lebih baik ketika kondisi diri sedang buruk. Catat baik-baik, sehingga itu bisa menjadi database terkhusus bagi orang-orang terdekat dan inner circle kita. Sebab setiap orang memiliki keunikan tersendiri, meski secara garis besar sebenarnya sama saja (nah lho, bingung nggak? hhe). Yah, intinya setiap kita boleh jadi memiliki kenyamanan dan bahasa cinta yang berbeda. Seperti selera makan bubur yang juga berbeda, serta perdebatan tak berujung tentang manakah yang lebih nikmat antara mie goreng atau mie kuah.

Sumber Gambar

Mengapa mengenal diri sendiri penting? Sebab kata pepatah lama, tak kenal maka tak sayang. Bagaimana kita bisa menyayangi diri sendiri, manakala kita tak mengenalinya dengan baik? Mengenal diri sendiri juga membantu kita untuk meregulasi diri dan mengondisikan hati. Akan ada begitu banyak hal yang dapat lebih mudah kita kontrol ketika kita mengenal diri sendiri. Bukan hanya hubungan kita dengan orang terdekat, tapi juga dengan teman satu lembaga, kolega kerja, hingga orang tak dikenal yang kita berpapasan dengannya di tengah jalan. Lebih jauh lagi, mengenal diri sendiri menjadi sangat penting sebab ia dapat membantu kita dalam menjalankan tugas sebagai hamba selagi hidup di dunia, beribadah demi menjaga hubungan baik kita dengan Pemilik Semesta. Bukankah salah satu ibadah tersulit adalah ibadah yang berkaitan dengan hati?

Menurut versi hemat dan amatiran saya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk lebih mengenal diri sendiri. Beberapa di antaranya, yaitu dengan menanyakan sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini pada diri sendiri:

1. Kapan kita merasakan emosi negatif seperti sedih, kecewa, atau marah?

2. Hal apa yang paling mengganggu ketenteraman dan kedamaian hati kita?

3. Orang seperti apa yang membuat kita merasa tidak nyaman? 

4. Bagaimana pengalaman masa kecil kita, dan perjalanan hidup macam apa yang kita lalui hingga hari ini?

5. Apa yang kita harapkan ketika berinteraksi dengan orang lain?

Agaknya lima pertanyaan itu sudah cukup memberi informasi awal untuk mengenal diri sendiri. Hei, mengapa lebih banyak pertanyaan tentang hal-hal negatif? Sebab biasanya, alih-alih hal positif, segala sesuatu yang membuat hati sulit lebih mudah diidentifikasi. Sebagaimana manusia yang suka lupa bersyukur ketika sedang berbunga, tapi rentan memaki ketika merasa terhimpit keadaan. Semoga kita dijauhkan dari tindakan demikian.

Terakhir, mengenal diri sendiri akan memudahkan kita untuk mengenal dan memahami orang lain. Takkan ada rugi dari upaya untuk mengenal diri sendiri, sebab setiap kita adalah tokoh utama dalam drama kehidupan yang kita lalui ini.


Sumber Gambar

Ditulis di Bandung,
pada 9 Rajab 1442 H
21 Februari 2021

Wednesday, November 18, 2020

Langkah

 Pembacaku yang baik,
kamu pernah menasihatiku pada suatu hari.

Masih ingat?


Kamu bilang, kadang kita butuh jeda.
Sebab seperti susunan kata, ia akan sulit bermakna jika tak ada jarak.

Ya, serupa jarak pada kata, jeda pun demikian.


Jeda, artinya kita berhenti sejenak.
Kita melihat ke belakang sebentar,
kemudian kembali melihat ke depan.

Bukan apa-apa, hanya saja untuk memastikan,

Apakah langkah kaki kita masih mengarah pada satu tujuan?
Apakah napas kita masih berembus pada ruangan yang tepat?


Begitulah.
Kadang kita terlalu keras,
juga kadang terlalu lunak.

Padahal seperti yang kamu bilang,
kita semua barangkali butuh jeda.

Sebab kita manusia.


Pembacaku yang baik.
terima kasih.

Mari melaju lagi!
Semangat.

Semoga langitmu semakin menyenangkan. :)



Ditulis ketika hujan,
Riz.

Saturday, October 17, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Memberi Respons dan Menentukan Prioritas

Baiklah, ini adalah cerita santai kedua yang tertunda lama sekali. Sebenarnya saya sudah mulai menulis ini di jurnal pribadi sejak tanggal 25 Juli 2020 lalu, hanya saja memang baru dipublikasikan di sini. Jadi yuk kita cerita-cerita lagi! :)

Saya nyaris selalu ingat penggalan tausiyah dari salah seorang guru di mimbar masjid sekolah. Tausiyah singkat itu bercerita tentang manusia dan problematikanya. Ya, setiap manusia boleh jadi punya masalah. Tapi masalah itu berbeda-beda sesuai dengan kapasitas dari si manusia. Guru saya saat itu menyebutkan nama Pak Habibie. Sekelas Pak Habibie pun pasti punya masalah, tapi masalah beliau agaknya bukan lagi seputar tersinggung oleh omongan orang, bukan lagi urusan salah paham dengan teman sekelas. Kalaupun iya itu masalah, tapi bukan masalah yang menjadi prioritasnya. Ada masalah yang jauh lebih "penting" untuk dipikirkan dan dicari solusi. Yup, katakanlah lebih urgent.

Sampai di sini terbaca kah arah cerita santai kita?

Tanpa sadar, boleh jadi selama ini kita telah banyak buang-buang waktu untuk sesuatu yang kita anggap masalah padahal nyatanya tidak. Kebiasaan kita yang mengutuk kondisi macet, kebiasaan kita yang mengeluh atas hari yang tiba-tiba hujan hingga jalanan menjadi becek, juga kebiasaan kita menanggapi komentar negatif dari orang lain yang sifatnya nyinyir. Itu adalah beberapa contoh dari betapa buang-buang waktunya diri kita.

Apa yang saya pelajari di tiga tahun terakhir, salah satunya adalah tentang ini. Tentang memberi respons dan menentukan prioritas. Bagaimana merespons perilaku orang lain yang tidak sesuai harapan kita? Bagaimana merespons perkataan orang lain yang terdengar menyakitkan? Bagaimana merespons ketidaksukaan orang lain pada diri kita?

Hmm... pertanyaannya, apakah kita memang harus merespons? sepenting apa omongan orang lain untuk kehidupan kita? Mengapa kita kadang dibuat terlalu sibuk pada hal-hal yang mengusik diri, hingga lupa pada hal-hal yang sebenarnya telah memberi kenyamanan di hati?  

Guru saya yang lain, berkali-kali menasihati. Jika kita dihina atau direndahkan, itu bukan berarti kita hina atau benar-benar rendah. Perkataan orang lain sama sekali tidak mendefinisikan diri kita yang sebenarnya. Kitalah yang lebih tahu kualitas diri kita. Tapi, pada kesempatan yang lain, beliau juga berkali-kali menyentil diri. Jika kita dicibir buruk, tidak perlu marah sebab keburukan kita yang asli boleh jadi lebih banyak, hanya saja ia tidak mengetahuinya. Bukankah Allah Mahabaik sebab Dia menutupi aib-aib kita?

Hal yang ingin saya sampaikan di sini, adalah tentang memberi respons dan menentukan prioritas. Waktu kita sedemikian terbatas. Harusnya, kita bisa dengan apik memilih mana hal yang perlu kita respons, persoalan apa yang harus kita seriusi, hal-hal apa saja yang menjadi prioritas kita. Alih-alih mengurusi perasaan, pikiran, atau tindakan orang lain yang berada di luar kontrol kita, akan lebih baik jika kita mengurusi diri sendiri. Ialah itu tentang cara kita menanggapi segala sesuatu yang terjadi.

Mungkin kita tidak asing mendengar atau membaca petuah bahwa ujian seseorang sesuai dengan level dan kapasitas dirinya. Barangkali sudah saatnya kita naik level, bukan? Tidak lagi meletakkan pikiran dan perasaan orang lain sebagai masalah, tapi lebih memprioritaskan pikiran dan perasaan kita sendiri.

Lalu apakah kita harus menutup telinga kita? tentu saja tidak. Bukankah salah satu tanda kebaikan hati manusia terletak pada kelapangannya menerima nasihat? Bukankah salah satu tanda kearifan hidup adalah mengambil hikmah dari apa-apa yang terjadi di sekitar kita? Artinya, kita perlu mendengarkan. Kita juga perlu introspeksi serta memperbaiki diri. Namun tentu, sekali lagi, tentukan prioritas. Bergeraklah secara proporsional.


Daripada mengutuk kemacetan, kita bisa memilih untuk mengisi waktu dengan membaca. Daripada menghabiskan waktu untuk mencari tahu mengapa seseorang membenci, kita bisa memilih untuk memperbaiki diri. Daripada mengungkit-ungkit sumber masalah, kita bisa mulai mencari dan menentukan solusi.

Tapi itu semua tidak menjadikan kita buta, bisu, atau tuli. Kita tetap bisa memberi kritik yang membangun terkait kemacetan. Kita tetap bisa belajar tentang berbagai macam watak manusia. Kita juga tetap bisa melakukan evaluasi supaya kesalahan hari kemarin tidak terulang di kemudian hari.

Tetaplah berprasangka baik, tetaplah merasa yang baik-baik, tetaplah menjadi orang baik. Mohon pertolongan pada yang Mahabaik. InsyaAllah, tidak ada itikad baik yang sia-sia di sisi-Nya.


Diselesaikan di Tangerang,

pada 17 Oktober 2020

Thursday, September 17, 2020

Jika Kita adalah Langit dan Laut Menjadi Cerminnya

Jika kita adalah langit dan laut menjadi cerminnya

Kadang kita merona jingga

Kadang kita pilu membiru

Kadang kita merah membara

Kadang kita sendu kelabu

Dan laut menjadi cerminnya. :)



Ditulis di Tangerang,
pada 16 Juni 2020

Wednesday, September 16, 2020

Memaafkan Lebih dari Titik Nol

Jika kita disakiti atau dikecewakan oleh seseorang, apakah kita bisa sungguh-sungguh bersikap netral kepadanya? Secara manusiawi, tentu tak mudah. Kita terlalu sulit untuk tidak peduli atas segala sesuatu yang mengusik diri. Bersikap netral berarti ada di tengah-tengah, dan kita tahu bahwa menjaga keseimbangan tidak lebih mudah daripada condong ke salah satunya.

Sadar atau tidak, kita punya kecenderungan untuk lebih condong pada perasaan negatif terhadap orang yang telah menyakiti. Sebagian diri kita boleh jadi sebenarnya sadar, hanya mungkin terlalu enggan untuk mengakui. Lalu dengan manisnya, kita berkata pada diri sendiri dan orang lain, “Aku sudah maafin dia, kok. Sudah gak apa-apa, biasa aja.”

Hei, yakinkah kita, bahwa ketika mengatakan kalimat semacam itu, kita benar-benar telah memaafkannya?

Yah, sebenarnya (berusaha) mengambil posisi di tengah-tengah seperti itu tidak ada salahnya, sih. Tapi bersikap netral sama sekali tidak mudah bagi manusia yang secara fitrah memiliki rasa. Lalu apa akibatnya jika dipaksa? Bisa dipastikan, pada akhirnya kita akan merasa lelah. Apalagi kalau kita berusaha mati-matian untuk membohongi diri sendiri, mencekoki nurani dengan dusta yang halus sekali.

Pernah main jungkat-jungkit? Saya pernah, dulu ketika masih kecil. Saya biasa bermain jungkat-jungkit berdua dengan sepupu. Kami main di halaman belakang masjid, atau di TK tempat Mama mengajar. Saya ingat betapa sulitnya jika kami berdua sama-sama ingin berada di atas udara. Tentu tidak mudah, kalau tak mau dikatakan sama sekali tidak bisa. Pernah sesekali saya coba berdiri sendirian di tengah-tengah titik tumpu, mengandalkan kedua kaki kanan dan kiri sebagai kontrol. Rasanya penasaran ingin coba untuk menyeimbangkan mainan legendaris itu. Memang ternyata bisa, sih. Tapi lama-lama capek juga.

“Tapi lama-lama capek juga.” Nah, inilah analoginya ketika kita memaksakan diri berada di tengah-tengah pada titik nol. Mungkin kita bisa melakukannya beberapa saat, namun pada akhirnya kita akan merasa lelah. Sebab secara nurani, boleh jadi sebenarnya kita memang tidak bisa netral. Akan ada kecenderungan ke salah satu sisi, entah positif atau negatif. Meski entah seberapa besar persentasenya. Hei, lalu apa kaitannya dengan memaafkan?

Yah, ternyata memaafkan melampaui kondisi hati yang netral. Ia tidak berada di titik nol. Mari sedikit mengingat-ingat cerita tentang sosok yang merupakan kecintaan kita semua, Rasulullah . Beliau adalah kekasih Allah, dan hidupnya di dunia telah dijamin berujung syurga. Tapi apakah itu berarti Nabi Muhammad tidak pernah dizalimi? Apakah itu berarti beliau tidak pernah merasa sedih dan dibuat kecewa? Ternyata jawabannya tidak.

Kesedihan beliau tergambar jelas saat terjadinya peristiwa di Thaif.

Saat itu tahun ke-10 kenabian. Rasulullah ﷺ pergi dari Makkah menuju Thaif dengan berjalan kaki, ditemani oleh anak angkatnya, Zaid bin Haritsah. beliau hendak menyampaikan keindahan ajaran Islam di daerah yang terkenal subur tersebut. Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Penduduk Thaif tidak memercayai sama sekali. Bahkan selama tinggal di sana sepuluh hari, Rasulullah tak memperoleh penerimaan yang baik. Beliau diusir dan ditumpahi caci-maki.

Hei, siapa yang sampai hati berbuat seperti itu pada manusia paling mulia? Orang macam apa yang tega melakukannya? Ingatkah kita, ternyata mereka melakukannya beramai-ramai. Benar, bukan hanya satu atau dua orang. Penduduk Thaif beserta budak-budak mereka berkumpul, dan mengusir Nabi bersama-sama, sambil melempari beliau dengan batu. Bahkan kedua sandal laki-laki mulia itu pun sampai tampak bersimbah darah.

Coba sejenak bayangkan. Betapa menyakitkannya ketika kita menyayangi seseorang, menginginkan kebaikan untuknya, namun upaya yang kita lakukan justru ditolak dengan cara yang sangat kasar? Bahkan bukannya menerima, ia justru menuduh kita berbohong dan hendak melakukan hal buruk padanya. Tidakkah itu cukup menjadi alasan bagi kita untuk mengubah cinta dan harap yang semula ada, menjadi pupus dan menghadirkan rasa benci saja?

Nah, sekarang coba kembali ingat kisah Nabi Muhammad . Kita semua tahu betapa Rasulullah sangat mencintai umatnya. Beliau begitu ingin supaya keindahan ajaran Islam meluas ke penjuru bumi, termasuk sampai pada penduduk Thaif. Tapi apa yang beliau terima? Tak lebih dari umpatan dan cacian. Lantas apakah itu menjadikan Rasulullah menaruh dendam dan benci? Apakah Rasulullah mengamini tawaran malaikat penjaga gunung yang dikirim Allah untuk menyanggupi jika beliau ingin supaya penduduk Thaif dihukum? Apakah Rasulullah menghendaki azab diturunkan kepada mereka? Ternyata tidak.

Beliau tidak melakukannya. Duh, sampai di sini saja saya dibuat haru akan indahnya akhlak beliau. Padahal beliau adalah kekasih Allah. Toh mengaminkan tawaran malaikat penjaga gunung untuk meratakan penduduk Thaif dengan gunung al-Akhasyabain juga bukan merupakan dosa bagi beliau. Tapi Nabi Muhammad sama sekali tidak melakukannya. Jangankan dendam atau benci, mengacuhkannya saja beliau tidak. Laki-laki mulia itu memaafkan penduduk Thaif, memaafkan dengan melampaui titik nol. Mari kita simak jawaban beliau pada malaikat penjaga gunung.

“Bahkan aku berharap kelak Allah memunculkan dari tulang punggung mereka suatu kaum yang menyembah Allah semata, dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun.”

See? Jawaban macam apakah yang keluar dari Nabiyullah kita tercinta? Sesuatu yang boleh jadi terdengar asing di telinga kita hari ini. Beliau justru mendoakan penduduk Thaif, supaya anak keturunan mereka menjadi penyembah Allah yang taat. Bayangkan ketika kita dikecewakan, dikhianati, dizalimi, tapi kita memilih untuk tidak membenci, tidak pula mengacuhkannya seolah-olah tak pernah hadir. Sebaliknya, kita memilih untuk mendoakannya dengan penuh kasih, “Ya Allah, mudahkanlah segala urusannya, jadikan keturunannya kelak menjadi hamba yang taat seutuhnya kepada Engkau.” Ya, itulah memaafkan yang dicontohkan oleh Rasul . Tidak hanya sampai “let it go,” tapi sampai pada level “wish them all the best”.

Maka, jika hari ini masih ada dari kita yang terbesit dalam kepala, “Gak apa-apa, aku sudah maafin dia. Nanti juga dia akan dapat balasannya, kok.” atau “Tuh kan dia jadi begitu, habisnya dulu ngezalimin orang sih.” Dear, semoga kita lekas sadar dan terselamatkan. Sadar bahwa kita adalah bagian dari umat Nabi Muhammad , yang sudah selayaknya meneladani beliau. Kita bisa memilih untuk mendoakan kebaikan-kebaikan sebagaimana Rasul telah mencontohkan. Kemudian, semoga kita selamat dari ujian memaafkan. Tidakkah cinta selalu membutuhkan pembuktian? Ketika kita mengaku cinta pada Dia, bukankah sudah selayaknya kita memberi bukti dengan meniru perangai kekasih-Nya supaya kita juga ikut dicinta?

Yuk, memaafkan lebih dari titik nol. Bukan apa-apa, sebab ia jauh lebih menenteramkan hati dan menghadirkan bahagia. Sebab itulah yang dicontohkan oleh suri tauladan kita tercinta.



Catatan

Memaafkan bukan berarti melupakan. Memaafkan adalah ketika kita ingat, dan kita baik-baik saja ketika mengingatnya, bahkan kita bisa mengambil hikmah darinya. Rasulullah pernah ditanya oleh Ibunda Aisyah, “Apakah engkau pernah menghadapi suatu hari yang lebih berat daripada perang Uhud?” kemudian beliau pun menjawab, bahwa peristiwa di Thaif dan perlakuan penduduknya adalah yang paling berat yang pernah beliau alami. Begitulah, Nabi Muhammad tidak lupa, tapi beliau tulus memaafkan.

“Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan memberi kemudahan dan jalan keluar…” begitu ucap beliau kepada Zaid, ketika keduanya hendak pulang dari Thaif menuju Makkah.

Keimanan yang paling indah, adalah yang dimiliki oleh dirinya, laki-laki paling keren yang pernah ada—Nabi Muhammad ﷺ.

 

Ditulis di Tangerang,

Pada 16 September 2020

2.12 am