Sunday, June 28, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Tentang Memaafkan

Cerita santai yang pertama adalah tentang memaafkan. Yup, memaafkan. Sesuatu yang terdengar mudah dan tak asing di telinga, sebab setidaknya setahun sekali masyarakat kita terbiasa saling mengirim pesan permohonan maaf; mohon maaf lahir dan batin. Saya percaya memaafkan itu sangat penting, lagipula toh Allah yang kita sembah Maha Pemaaf. Apalah diri yang jauh dari sempurna, tempatnya salah dan dosa pula, tentu tak punya tempat untuk sombong nan angkuh. Apalagi kalau kita telah memegang prinsip bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik, al-khair khairutullah, tentu persoalan memaafkan akan jauh lebih mudah.

Ya, saling memaafkan telah jadi nasihat lama dari orang tua kita. Tapi kadang kita luput dari memaafkan dua hal. Pertama, memaafkan keadaan. Kedua, memaafkan diri sendiri. Memaafkan keadaan sebenarnya dekat sekali dengan konsep ridho atas apa yang telah Allah takdirkan. Kita tidak akan pernah tenang jika terus-menerus mengutuk keadaan yang berada di luar kendali kita. Di sisi lain, beberapa manusia terjebak pada masa lalu atas kesalahan yang ia perbuat. Taubat tentu membutuhkan penyesalan, sebab saat itu kita tengah memohon maaf pada Rabb yang paling tahu segala sesuatu. Tapi di sisi lain, jiwa kita juga butuh untuk dimaafkan oleh sosok yang paling dekat selain Rabb-Nya; diri kita sendiri.

Memaafkan akan memberi kita kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, dan tidak berhenti di satu titik. Dengan memaafkan, kita bukan hanya meringankan orang lain, tapi juga menyelamatkan diri sendiri. Pelajaran di tiga tahun terakhir memberi saya pandangan baru yang lebih komprehensif tentang memaafkan.

Istilah Forgiveness Therapy saya dapatkan dari Pak Asep yang seorang psikolog. Saya pertama kali berjumpa dengan beliau di sebuah workshop bertajuk Family Therapy. Hal yang paling saya ingat dari Pak Asep adalah tentang konsep memaafkan ini. Beliau pernah mengatakan, bahwa tubuh kita tidak akan pernah bisa berbohong. Reaksi yang muncul tidak lain menggambarkan kondisi kita yang sebenarnya. Jika saja dada kita masih terasa sesak, pundak kita masih terasa berat ketika mengingat sesuatu/seseorang, boleh jadi sebenarnya kita belum memaafkan sesuatu/seseorang tersebut.

Saya jadi mengilhami bahwa ternyata memaafkan butuh perjuangan. Sebab tak cukup hanya dari lisan saja, tapi membutuhkan usaha ekstra hingga hati benar-benar lapang. Ada banyak tipuan yang kita lakukan pada diri sendiri, mendoktrin diri bahwa "aku sudah memaafkan, kok". Tapi pada kenyataannya ternyata belum. Sebab kita masih menggebu, sebab intonasi suara kita masih sedemikian keras, sebab hati kita masih panas, dada kita masih terasa sesak, sebab air mata kita masih mendesak keluar. Memaafkan butuh perjuangan, dan sungguh itu tak apa-apa.

"Sepertinya aku belum berhasil memaafkan, tapi aku sedang berusaha melakukannya," ini terdengar jauh lebih baik.


Mengapa memaafkan menjadi penting? tidak lain adalah untuk diri sendiri. Jiwa yang tidak memafkan, baik sadar atau tidak, hanya akan menjadi motor dengan kekecewaan dan amarah sebagai bahan bakarnya. Kita mungkin akan mendapat apa yang kita targetkan, segala macam rencana yang kita canangkan, tapi ketenangan dan kebahagiaan hati takkan pernah bisa dimanipulasi. Setidaknya di hadapan diri kita sendiri.

Saya pernah mendapat cerita tentang seorang perempuan yang terjebak dalam hal ini. Ia marah pada ayahnya, belum bisa memaafkan apa yang sang ayah lakukan di masa lalu. Ayahnya suka memukul dan membentak, bahkan menyakiti si ibu di hadapannya. Ia kecewa dan marah. Hingga pada saatnya ia menikah dengan seseorang yang ia cintai. Aneh, tapi dia seringkali menangis tiap menghadapi sang suami, padahal ia aku bahwa suaminya baik luar biasa. Hingga si perempuan ini merasa heran, sebab entah bagaimana ia kerap takut dan marah pada suaminya sendiri. Ternyata, ada bayang-bayang sang ayah pada diri suaminya. Ada semacam gerak tangan suaminya yang mirip sekali dengan si ayah, yang membuat ia menangis tanpa terkendali. Ia sungguh masih menyimpan marah pada ayahnya, dan tanpa sadar hal itu menjadi bahaya bagi kehidupan rumah tangganya sendiri. Jadi bagaimana akhir ceritanya? bisa ditebak, ia belajar memaafkan masa lalu, belajar memaafkan ayahnya. Mudah? tentu saja tidak. Tapi perlahan bayang-bayang itu berkurang seiring waktu.

Allah Mahabaik. Dalam tiga tahun terakhir, selain ilmu dan teori yang saya dapat dari kelas, Allah berikan pula sarana untuk mengaplikasikan ini di beberapa kesempatan. Setelah trial and error serta proses jatuh-bangun hhe, ternyata ada rumus mudah untuk memaafkan orang lain. Apa itu? mendoakannya.

Ya, mendoakannya. Ini berlaku untuk siapapun, bahkan untuk seseorang yang telah tiada di dunia (sebab tidak sedikit orang yang belum memaafkan orang yang telah berpulang). Saya percaya bahwa doa adalah ekspresi paling tulus, sebab hanya diri dan Tuhan saja yang tahu. Ketika kita mendoakan seseorang yang kita rasa menyakiti atau mungkin menzalimi kita, saat itu pula kita mengangkat urusan kita pada Allah, menyerahkannya pada yang Mahakuasa. Bukankah baik diri kita maupun dirinya adalah makhluk ciptaan Allah yang masing-masing hatinya dibolak-balik oleh Allah?

Kalau kamu adalah pejuang memaafkan, cobalah mendoakannya. Doakan apa saja, doakan kebaikan-kebaikan untuknya. Doakan hatinya, doakan semoga dirimu dan dirinya mendapat hidayah. Doakan segala sesuatu, anggap saja di hadapan Allah kamu sedang merayu. "Yaa Allah, padanya yang kurasa menyakitiku, aku mendoakannya. Sungguh aku tidak mengharapkan apa-apa selain kasih sayang-Mu saja."

Sama halnya ketika kita berjuang memaafkan diri sendiri. Kadang ini justru sulit sekali dilakukan, sebab mata kita memang tercipta untuk melihat segala sesuatu di luar, bukan melihat diri sendiri. Di sisi lain, mata hati kita yang harusnya bisa memaknai lebih baik, jutsru seringnya lupa kita berdayakan untuk melihat diri sendiri.

Maka lihatlah, sampai hari ini, ada berapa banyak kebohongan kita pada diri sendiri? ada berapa banyak kesia-siaan yang kita lakukan hingga merugikan diri sendiri? apa kabar pula ragam penyakit hati yang kita cekoki hingga tanpa sadar menggerogoti diri kita sebagai pribadi? seberapa sering kata-kata cemooh tanpa sadar kita layangkan pada diri kita sendiri?

Sayang, cobalah sekali-sekali bercengkrama dengan diri sendiri. Izinkan ia punya sahabat baik, yaitu dirimu sendiri. Berterima kasihlah, maafkanlah, ajaklah ia berjuang sama-sama.


***

Pelajaran tentang memaafkan ini sungguh skill luar biasa. Sebenarnya, kalau saja kita mau belajar dari sejarah, sosok Nabi Muhammad Saw. telah menjadi sebaik-baik teladan dalam hal apapun termasuk dalam hal memaafkan. Jiwa beliau begitu besar, prioritas hidupnya jelas, sampai-sampai tak ada ruang dalam hatinya untuk menyimpan marah apalagi dendam. Serius. Coba tengok kisah beliau dengan penduduk Thaif yang melemparinya dengan batu tapi dibalas dengan doa. Tengok pula kisah beliau menghadapi petinggi kaum kafir Quraisy yang menyiksanya, bahkan hendak membunuhnya, tapi Rasul tetap berbuat baik. Apa yang menggerakkan dirinya sungguh bukan amarah, melainkan bentuk tanggung jawab atas tugas kenabian yang diembankan pada beliau. Lihat betapa Nabi Muhammad Saw. memuliakan orang-orang itu, provokator penyikasanya itu, ketika mereka pada akhirnya masuk Islam. Tak tanggung-tanggung, beberapa di antaranya bahkan diberi posisi terbaik. Harusnya jika kita mau, kita bisa meneladani beliau dengan memaknai bahwa tugas kita di dunia tidak lain adalah sebagai seorang hamba. Kita terlalu sibuk belajar menjadi hamba yang senantiasa bersabar dan bersyukur, sampai-sampai tak ada ruang bagi kita untuk tak memaafkan. Semoga kita bisa, ya. Semangat!

Begitulah memaafkan. Sekilas seperti upaya berbuat baik pada orang lain sebab kita telah memaafkannya. Padahal faktanya, memaafkan adalah perbuatan baik pada diri sendiri. Izinkan saya meminjam tagline buku Forgiveness Therapy karya Pak Asep, "Maafkanlah, niscaya dadamu lapang."


Buku Forgiveness Therapy

Daftar Isi Buku FT

Baik, cerita santainya sampai di sini dulu. Panjang sekali jika kita mau menjabarkan semua hal tentang memaafkan. Kalau kamu mau versi lengkap, bisa baca buku Forgiveness Therapy yang membahas tentang seluk-beluk memaafkan. 
Bagi kamu yang sedang berjuang memaafkan, percayalah, tidak ada sesuatu pun yang sia-sia. Semoga setiap inci usaha nan ikhtiarmu itu berbuah pahala di sisi Allah. Semoga Allah menghadiahkan kebaikan-kebaikan atas kesabaran dan jerih payahmu.

Salam hangat dari jauh, siapapun kamu. :)


Ditulis di Tangerang,
28 Juni 2020

Thursday, June 25, 2020

Tiga Tahun Terakhir: Ta'aruf dengan Diri Sendiri

Mari kita cerita kilas balik, setelah sekian lama tidak melakukannya di sini. Belakangan di masa pandemi, agaknya tidak sedikit orang yang melakukan kilas balik atas perjalanan hidupnya. Yah, setidaknya saya menjumpai beberapa teman dan public figure yang tahu-tahu membagikan entah itu dokumentasi atau tulisan yang berbau memori. Barangkali memang, waktu yang biasa kita habiskan di jalan, di tengah macet, di keramaian, entah seberapa persen ada yang teralih pada kegiatan ini: kilas balik.

Tiga tahun terakhir, saya mendapat deret pelajaran yang pada hari ini saya temukan benang merahnya. Inti dari semuanya adalah tentang pentingnya mengenal diri sendiri. Klise sih ya, kayaknya anak-anak belasan tahun yang baru naik kelas kemarin pun sudah biasa mendengar kalimat ini; "kenalilah dirimu sendiri". Tapi di sini saya ingin cerita sedikit, tentang proses ta'aruf dengan diri sendiri yang ternyata sungguh tidak semudah kedengarannya.


Kata orang, semakin kita banyak tahu, semakin tahu bahwa diri kita tidak tahu banyak (nah pusing nggak? hha). Yah begitulah, dan saya pikir itu benar adanya. Ada banyak hal yang saya alami di tiga tahun terakhir. Kesemua pengalaman itu mengantarkan saya setidaknya pada tiga hal ini (dengan mengenal diri sendiri sebagai puncak utamanya):

1. Memaafkan
2. Memberi respons dan menentukan prioritas
3. Mengenali diri sendiri

Setelah saya pikir-pikir sekarang, bangku kuliah seperti sebuah ilmu pengantar. Dengannya saya jadi punya bekal tentang teori dasar, melihat fenomena secara makro, dan tahu akan risiko serta tantangan apa saja yang mungkin dialami. Oh iya, saya kuliah di IPB, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), kemudian lanjut ke Ilmu Keluarga dan Perkembangan Anak (IKA) silakan cek di sini kalau mau tahu lebih dalam.

Bersyukur sekali bahwa di bangku kuliah, saya belajar tentang keluarga. Karena biar bagaimana pun, setiap kita dilahirkan dan jadi bagian dari sebuah keluarga. Siapapun, sebenarnya membutuhkan ilmu ini (minimal ilmu-ilmu yang sifatnya aplikatif). Bangku kuliah memberikan landasan keilmuan bagi saya, sehingga apa yang saya dapat di kemudian hari lebih mudah diproses, sebab ada prior knowledge dari guru-guru kami sebelumnya. Bangku kuliah secara gamblang menjadi perantara bagi saya menapaki kelas-kelas berikutnya dengan ruang lingkup yang lebih personal dan lebih privat dalam diri manusia.

Alhamdulillah Allah beri kesempatan saya mengikuti beberapa kelas lain sembari menyelesaikan studi. Sebagian gratis, sebagian lagi berbayar, dan sebagian yang lain dibayari oleh orang-orang baik (terima kasih tulus, semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat). Menarik sekali, sebab ternyata apa yang saya pelajari benar-benar saya rasakan sangat bermanfaat. Pertama dan utama, khususnya untuk diri sendiri. Iya, lebih banyak disimpan sendiri atau kalau ada yang bertanya saja. Bagi saya, pelajaran ini terlalu sensitif, apalagi saya juga belum bisa mengaplikasikannya secara utuh dan sifatnya yang sangat personal. Rasanya berbeda sekali ketika harus menyampaikan ilmu eksakta dibandingkan dengan menyampaikan ilmu seperti ini. Iya, lebih banyak takutnya, hhe.

Namun beberapa waktu lalu, kuliah bersama Ust. Budi Ashari dalam reuni keluarga Akademi Qur'an Al Fatih jelas menampar saya. Beliau katakan bahwa tingkatan orang berkaitan dengan ilmu dan amalnya ada tiga. Pertama adalah naqiyyah. Ibarat tanah yang bisa menahan air, ia lantas menumbuhkan tanaman dalam jumlah banyak hingga siapa saja bisa memperoleh manfaat darinya, keilmuannya berkah hingga mengalirkan kebaikan bagi makhluk hidup yang lain. Kedua adalah ajadid. Ibarat tanah yang bisa menahan air, bermanfaat pula untuk orang lain, tapi hanya sekadarnya saja. Sebatas orang lain mengambil ilmu darinya namun tak benar-benar berkarya. Yang ketiga, yang semoga kita tak termasuk perumpaan ini, adalah qi'an. Ibarat tanah yang jangankan menumbuhkan tumbuhan, menampung air pun ia tak mampu. Ia tak punya ilmu, pun tak punya karya.

Karena saya juga takut jadi bagian dari orang-orang di nomor tiga itulah, tulisan ini dibuat. Yah, mau bagaimana lagi. Toh latar keilmuan saya memang ini, jadi tak ada pilihan lain. Daripada menyampaikan ilmu yang lebih jauh lagi dari kapasitas, kan? Jadi mari kita cerita-cerita santai tentang tiga hal utama tadi; memaafkan, memberi respons dan menentukan prioritas, serta mengenali diri sendiri (dengan sesekali disangkutpautkan dengan keilmuan keluarga, ya). InsyaaAllah akan ditulis di postingan berikutnya.

Ayo belajar sama-sama. Tentu bukan tanpa alasan Allah menggerakkan segenap inderamu hingga kamu dengan sukarela membaca tulisan ini sampai di sini. :)



Ditulis di Tangerang,
Pada 23 Juni 2020

Saturday, June 13, 2020

Hati yang Dirindukan

Pernah ada cerita tentang seorang anak perempuan, ia baru saja mendapat sederet nasihat mengandung hikmah dari orang tua yang mengasuhnya. Dengan percaya diri, anak perempuan itu berjalan tegap seolah takkan lagi menemui kesulitan atas segala problematika hidup. Pada sebait nasihat yang disampaikan di petang sehari sebelumnya, ia sungguh merasa cukup.

"Lakukan yang terbaik, bersyukur, dan sabar," begitu bunyi nasihatnya. Hari-hari berlalu dengan sangat mudah. Ia tak gentar dihantam berbagai ujian, seolah tiada hal berarti yang bisa membuatnya goyah. Keyakinannya pada nasihat itu, ibarat bahan bakar yang terus menjadikan mesin dalam dirinya menyala. Ia tak tumbang meski keadaan begitu sulit lagi menghimpit. "Lakukan yang terbaik, bersyukur dan sabar," pesan itu terus bergema dalam kepalanya.

Hingga pada suatu hari, perempuan kecil itu mendapati bahwa ternyata keyakinan pun kadang berubah-ubah. Persoalan hidup seiring waktu semakin bertambah, dan ada begitu banyak hal baru yang tidak ia ketahui sebelumnya. Kalimat saktinya goyah. Bukan karena tak lagi relevan, namun ia hanya mendapati bahwa dirinya tak lagi cukup dikuatkan.

"Aku kira aku sudah punya semua rumusnya, tapi ternyata ada terlalu banyak hal yang belum kutahu," gumamnya dalam hati. Relungnya sempat berantakan, namun setelah melalui proses panjang, ia kembali mengingat resep terbaik itu. Lakukan yang terbaik, bersyukur, dan sabar.

Anak perempuan itu mengilhami, bahwa pengetahuan saja sungguh tak cukup. Ternyata ia memang harus terus melangitkan doa. Sebab pada segala hal yang ia telah lalui dengan baik, sungguh bukan karena ia mampu. Semua itu, semata karena ia dimampukan nan dikuatkan. Semata hanya karena kebaikan Tuhannya lah, ia disanggupkan.

Barangkali memang begitulah proses bertumbuh mengajarkan kita. Ya, bukan hanya si anak perempuan itu, tapi kita semua. Ujian-ujian yang kita hadapi, meski membuat kita terseok dan barangkali sempat berantakan, pada akhirnya akan mampu menjadikan kita sosok yang berbeda. Menjadi lebih tangguh, lebih kuat, lebih baik dari diri kita sebelumnya. Namun semua itu hanya jika kita benar-benar menjalankan nasihat lama tersebut, yakni melakukan yang terbaik dan diiringi dengan syukur serta sabar.

Hingga nanti, pada saat terbaiknya, yang kita lihat ketika menoleh ke belakang bukan lagi hal lain melainkan sebuah perjalanan berharga. Ialah itu perjalanan yang membuat syukur kita bertambah-tambah sebab pernah melalui dan mengambil ibrah darinya.

"Lakukan yang terbaik, bersyukur, dan sabar," nasihat itu masih menjadi pegangan si anak perempuan tadi, setelah perjalanan panjang yang ia lalui. Kali ini dengan pemahaman yang berbeda, yakni pemahaman yang lebih menyeluruh, mendalam, dan barangkali akan terus berubah lagi seiring waktu. Sebab dalam perjalanan hidupnya, ia tak tahu kejutan macam apalagi yang telah menunggu.


Sumber Gambar

Ditulis pertama kali di Tangerang,
pada 16 Mei 2020.

Tuesday, May 5, 2020

Pada Ketenangannya, Siapa Tak Jatuh Cinta?

Kemarin, 11 Ramadhan, kabarnya adalah hari wafat dari ibunda kita tercinta, Khadijah binti Khuwailid  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا. Aku tidak tau sih, kalau kamu bagaimana. Tapi aku sendiri sungguh membutuhkan waktu untuk memaknai kisah manis tentang beliau. Namanya memang tak asing di telinga sejak bertahun-tahun lalu, tentu saja. Yah, barangkali kamu juga sama. Siapa yang tak tahu bahwa Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad , perempuan yang sangat Nabi cintai, dan padanya terhimpun frase indah "wanita salihah"?

Tapi untuk memaknai itu, aku sungguh butuh waktu. Dahulu, pengetahuan tentangnya mungkin hanya sekadar rentet peristiwa sejarah saja. Bahwa beliau begini dan begitu. Tapi semakin kesini, kisahnya semakin terdengar nyata. Jika padaku ada yang bertanya tentang definisi cantik itu apa, maka ketenangan dan kesahajaan seperti ibunda Khadijah adalah salah satu jawaban terbaiknya.

Hari ini, banyak perempuan mengeluhkan betapa sulitnya menyimpul senyum setiap hari ketika suami mereka pulang. Kondisi hati yang sering berubah-ubah menjadikan aktivitas senyum yang terdengar sederhana jadi pekerjaan tak mudah. Belum lagi jika ada begitu banyak tantangan keluarga dan rumah tangga, jangankan tersenyum atau menyiapkan minum, boleh jadi lisan justru sering lupa dan buru-buru bertanya, "Hari ini bagaimana?" atau "Ada apa? Kenapa kok mukanya begitu?" ketika mendapati pasangannya pulang dengan wajah lesu. Di kesempatan lain, hari-hari melelahkan atas urusan rumah pun membuat perempuan begitu cepat curhat dan berkeluh kesah, hingga tak jarang lupa menyerikan wajah padahal laki-lakinya baru saja tiba. Namun pada kisah Khadijah رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا tidaklah demikian. Beliau sungguh memberi contoh luar biasa bagi kita.

Coba bayangkan. Suatu hari Rasulullah ﷺ pulang menunjukkan ekspresi takut dan tubuhnya menggigil. Beliau Saw. tak meminta apa-apa, hanya memohon pada istrinya Khadijah untuk diselimuti. Secara fitrah, perempuan umumnya akan bertanya-tanya. Sungguh bukan pekerjaan mudah mengatur lisan untuk tak melontarkan macam-macam pertanyaan hingga komentar, apalagi jika seharian sudah tak ada teman bicara. Tapi Khadijah mengatasinya dengan sangat baik. Padahal saat itu, sudah cukup lama Rasulullah bolak-balik ke Gua Hira untuk bertafakur. Sudah sering agaknya Khadijah ditinggal di rumah tanpa kehadiran suaminya. Bayangkan betapa tangguh dan kuatnya Khadijah.

Sungguh, ibunda kita itu tak hanya menyelimuti nabi secara fisik, namun juga dengan kekuatan batin yang luar biasa. Beliau memberikan ketenangan dengan sikap dan tindak-tanduk, dengan cintanya yang hangat dan menghangatkan.

"Muhammad," ujarnya kepada Nabi, "Janganlah engkau bersusah hati. Sebab tidak ada orang yang sebaik engkau yang akan memperoleh celaka. Tidak ada, suamiku."

"Tidak ada orang melarat yang datang kepadamu yang tidak engkau beri sumbangan. Si miskin tidak pernah pulang dari rumah ini dengan tangah hampa. Tidak ada orang lemah yang butuh pertolongan yang tidak engkau tolong," lanjut Khadijah.

Tak berhenti sampai disitu, bahkan ketika kondisinya sudah tenang, Khadijah juga menjadi teman diskusi nabi ﷺ dan menawarkan solusi. Ia tak hanya bijaksana, tapi juga merupakan seorang perempuan yang cerdas. Ia yang mengajak Nabi untuk pergi ke rumah Waraqah bin Naufal, seorang senior yang terkenal bijak yang pada akhirnya memberi pencerahan atas apa yang dialami Nabi malam itu.

Entahlah, kalau dibicarakan betapa menawannya akhlak beliau, mungkin tak akan usai. Ini hanya satu kisah, yakni ketika Rasul baru saja bertemu malaikat Jibril dan memperoleh wahyu pertama kali. Belum lagi kisah dakwah beliau, bagaimana Khadijah tanpa perhitungan mendukung dakwah suaminya itu secara totalitas, bahkan hingga pernah menyambut Nabi pulang dalam kondisi perut yang lapar namun tetap dengan penerimaan utuh tanpa syarat. Padahal kita semua tahu, Khadijah sebelumnya adalah perempuan Makkah yang terkenal kaya raya. Mungkin tersebab iman yang ada pada dirinyalah, cinta milik Khadijah jadi bisa sekuat dan semenenangkan itu. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk Nabi  ﷺ dan orang-orang di sekeliiling, bahkan untuk kita yang belum pernah berjumpa dengan sosoknya.

Sumber Gambar

Atas kecintaan Rasulullah ﷺ pada Ibunda Khadijah, diriwayatkan dari Aisyah  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, ia berkata, "Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi ﷺ selain kepada Khadijah, padahal aku tidak pernah menjumpainya..."
(Muttafaq 'alaih, HR Muslim 2435)

Riwayat Bukhari menyebutkan; beliau kadang menyembelih seekor kambing, kemudian beliau memotongnya menjadi beberapa bagian, setelah itu beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah. Aku kadang berkata pada beliau, "Seakan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah!" Beliau berkata, "Dia begini dan begitu, aku memiliki anak darinya." (Shahih, HR Bukhari 3818 Kitab Fil Manaqib)

"Khadijah," ujar Rasulullah, "Ia beriman kepadaku kala orang-orang ingkar padaku. Ia membenarkanku kala orang-orang mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya kala orang-orang tidak memberiku. Dan, Allah memberiku anak-anaknya kala Dia tidak memberiku anak-anak dari wanita-wanita lain." (Hasan, HR Ahmad)

Semoga kita bisa meneladani beliau, ya. Minimal memiliki cita dan menuju seperti apa yang beliau teladankan. Aamiin..

*


Oh iya, beberapa hari lalu aku menulis penggal kisah tentang Ibunda Khadijah bersama Ibu Eko Yuliarti Siroj, bisa klik di sini untuk membaca atau di sini untuk mendengar versi yang sudah disuarakan oleh Ibu Elly Farida. Kemudian, ini ada catatan kuliah salah seorang sahabat, Ayu Nur Maulidian, tentang menjadi wanita setenang malam yang Ibunda Khadijah adalah sebaik-baik contohnya.

Catatan Kuliah @ayunurmaulidian
Sedikit penjelasan dari catatan di atas, bahwa di dalam Al-Qur'an kata "sakinah" yang artinya tenang hanya dipakai untuk dua hal. Yang pertama adalah wanita (dalam QS Ar-Rum ayat 21) dan yang kedua adalah malam (dalam QS Yunus: 67, QS Al Qasas: 73, dan QS Ghofir: 61). Sebaik-baik contoh tentang wanita yang menenangkan adalah Ibunda Khadijah  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا, hingga beliau mendapat karunia dari Allah berupa rumah kayu di surga, sebab tak pernah membuat kegaduhan dalam rumah tangga Nabi.

Persamaan wanita dengan malam, disebutkan dalam Al-Qur'an adalah fungsinya yang sebagai pakaian.  Wanita sebagai pasangan untuk laki-laki, merupakan pakaian. Begitu pun malam disebutkan sebagai pakaian, “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS. An-Naba': 10-11).


Ditulis di Tangerang,
12 Ramadhan 1441 H

Sebagai pengingat,
untuk nanti dibaca lagi.

Thursday, March 5, 2020

Jas Hujan dan Daya Tahan

Bogor nyaris hujan setiap sore. Apalagi di musim hujan begini. Begitu juga kemarin sore, ketika aku dalam perjalanan ke rumah Kakak. Jarak yang perlu ku tempuh memakan waktu sekitar 45 menit.

Sepanjang perjalanan, aku mendapati banyak orang yang menggunakan macam-macam jas hujan. Mulai dari jas hujan yang terbuat dari plastik tipis transparan dan biasa kutemui di pinggir jalan atau minimarket seharga sepuluh ribuan, hingga jas hujan dengan bahan yang lebih tebal, dengan berbagai warna dan model yang kini semakin beragam.

Beberapa waktu sebelumnya, aku mendapati percakapan seperti ini.

"Bapak ada jas hujan?"

"Ada, Neng. Tapi jas hujan yang biasa."

Mengingatnya sore itu, membuatku berpikir. Seperti apa sih jas hujan yang biasa dan jas hujan yang tak biasa? Lalu perjalanan sore itu memberiku jawaban. Awalnya, aku berpikiran, "Yah, pada akhirnya fungsi jas hujan sama-sama melindungi pemakainya dari guyuran air hujan, kan? kalau sedang hujan begini, sepertinya sama saja mau pakai jas hujan yang manapun."

Tapi pemikiran itu seketika beralih, begitu mendapati beberapa pengendara sepeda motor menggunakan berbagai jas hujan. Ada seorang bapak dengan jas hujan ponco tipis berwarna hijau, ada pula pengendara lain dengan jas hujan berwarna oranye menyala yang terlihat lebih tebal.

Aku serta-merta merasa temukan jawabannya.

Daya tahan. Benar jika hanya dalam satu waktu aku melakukan penilaian, katakanlah aku menilai beragam jas hujan sore itu pada saat itu juga, mungkin aku akan memberi penilaian yang sama antara jas hujan tipis dan "biasa" dengan jas hujan berbahan plastik tebal yang bisa ditebak harganya pun akan lebih mahal. Toh keduanya sama-sama menjalankan fungsi dengan baik; melindungi penggunanya dari deras air hujan. Tapi semuanya akan jadi berbeda jika aku melakukan penilaian atas daya tahannya, dalam kurun waktu tertentu. Iya, kan?

Boleh jadi, keberfungsian dua jas hujan itu akan sangat berbeda. Misalkan saja jas hujan berbahan plastik tipis, penggunaannya mungkin tak akan lebih lama dari jas hujan dengan bahan parasut yang lebih tebal. Mungkin jas hujan tipis itu hanya kuat dipakai beberapa kali pemakaian, sebab ia mudah tergores dan sobek. Tak heran, biasanya jas hujan jenis ini diperuntukkan bagi keadaan darurat dan dijual dengan harga murah. Adapun jas hujan yang lebih baik kualitasnya (dan biasanya juga lebih mahal) mungkin dapat digunakan lebih lama dan berkali kali, juga tak mudah sobek. Daya tahan lah yang membedakan keduanya.

Setengah perjalanan menuju rumah Kakak, aku kembali berpikir demi memperhatikan rintik hujan yang membasahi jalanan, membasahi banyak kendaraan, juga menerpa wajah-wajah manusia yang tengah beranjak pada satu tujuan, termasuk aku.

Seperti jas hujan, mungkin di dunia ini memang ada orang-orang dengan daya tahan yang berbeda. Kita tentu akan menjumpai banyak orang baik. Banyaak sekali. Mungkin kita bisa memohon bantuan pada beberapa orang berbeda, dan mereka akan dengan sukarela membantu kita. Mungkin kita akan melakukan kesalahan pada beberapa orang lainnya, dan kesemuanya akan dengan tulus memaafkan kita. Tapi segalanya bisa jadi berbeda jika kita melakukan pengulangan terus-menerus pada orang yang sama. Seperti jas hujan yang memiliki daya tahan, manusia pun barangkali demikian.

Pada permohonan dan permintaan maaf atas kesalahan kita yang pertama, mungkin ia akan dengan tulus menerima dan memaafkan. Begitu juga pada permohonan dan kesalahan kita yang kedua dan yang ketiga. Namun pada yang keempat dan yang seterusnya? barangkali ia mulai tak peduli dan tak acuh. Mungkin benaknya seolah berkata pada kita, "Sudahlah, terserah kamu saja."

Jadi cobalah perhatikan, adakah seseorang yang padanya kita berkali-kali meminta bantuan, berkali-kali melakukan kesalahan dan meminta maaf, tapi ia begitu sabar, begitu luas penerimaannya?

Adakah seseorang yang padanya hujan air mata kita berkali-kali tumpah, tapi jas hujan miliknya sedemikian hangat mendekap, tak bosan dan tak goyah?

Jika ada, bersyukurlah.
Jika merasa tak ada, mungkin kita lupa bahwa selama ini kita punya Dia. :)

_______________________________________________

Kemudian aku menemukan postingan dan tulisan berbahasa Inggris ini di akun instagram @thepractisingmuslimah tadi pagi, dan sepertinya relevan sekali.
"No one wants to hear about your problems, grievances and heartbreaks after the first few times. They think you are being too repetitive, that you are stuck on the same page, they get bored of listening to you, they will probably even blame you because you cannot stop overthinking.

But guess who never gets tired of listening to your problems even after having heard them thousands of times or more while also knowing exactly what you are going to say word for word?

No one except your Lord.

Your salah is your personal time with your Creator, five times, every single day. It is the only place where you place your problems and find all kinds of solutions. Do not let it be a mindless routine or worse, don't miss it.

Talk about your problems to Him instead of people. Vent to Him. Get it all out in front of Him. There is no place else where you can be so vulnerable and still feel safe except with Him. Allah never gets tired of listening to you, the question is are you willing to talk to Him?

Start looking at your salah as a blessing instead of burden, it makes all the difference."


Ditulis pada 20 Februari 2020, 12.30 WIB

Tanpa Punya Daya

Petang itu saya kembali ke rumah, meski pagi harinya baru saja tiba di Kota Bogor. Namun kabar duka menggiring langkah saya untuk kembali pulang. Ada salah satu dari keluarga besar kami yang tutup usia.

Siangnya, pemberitaan tentang virus corona tengah menyeruak. Baru saja bapak presiden mengkonfirmasi bahwa ada dua warganya yang positif terkena virus asal China tersebut. Perjalanan pulang saya sore itu jadi agak berbeda dari biasanya.

Saya memang biasa mengenakan masker jika tengah dalam perjalanan. Tapi kala itu, pengguna masker jauh meningkat pesat. Di dalam bus, di jalanan, bahkan saya menemui pedagang kaki lima yang berjualan dilengkapi dengan masker. Tidak bisa bohong, mental saya sempat ciut. Seolah tengah memasuki jalan-jalan yang belum pernah saya lalui sebelumnya, padahal nyaris setiap pekan saya melewati jalan itu.

Ada suasana yang berbeda. Kala itu penumpang bus tidak saling bicara, sampai ketika saya nyaris tiba di tujuan, seorang bapak masuk sambil lantas mengambil posisi duduk di sebelah saya. Saat itu saya sedang dalam kondisi berduka, dan agaknya pikiran saya juga sedikit berantakan. Lebih-lebih menyaksikan keanomalian perilaku orang-orang di sepanjang jalan akibat ramainya pemberitaan tentang corona.

"Penuh banget, jadi saya mau ke Bogor naik dari sini aja," begitu ujar si Bapak. Saya hanya mengangguk sambil menjawab pelan.

"Oh, iya Pak," timpal saya dari balik masker.

"Iya ini saya udah satu jam mbak nungguin, penuh terus bisnya. Jadi saya mundur harus naik dari sini supaya dapat kursi. Kalau dari Bogor sih lancar, sepi ya?" bapak itu menyahuti saya, tampak ingin sekadar mencurahkan lelahnya atas penantian bis menuju Bogor.

"Ooh.. iya Pak, kosong kalau dari Bogor," jawab saya sekenanya. Bapak itu lantas merogoh kantong, lalu mengeluarkan sebuah masker.

"Udah ada dua ya di Depok," gumamnya lagi. Saya mengangguk. Tidak ada penjelasan lebih lanjut, tapi agaknya kami sama-sama tahu apa yang tengah kami perbincangkan.

"He eh, iya Pak," saya menanggapi singkat.

Malam itu, begitu sampai rumah dan membersihkan diri, saya menuju rumah duka yang letaknya persis di samping rumah kami. Menjumpai banyak wajah-wajah keluarga yang tanpa saya sadari sudah tak sama lagi seperti belasan tahun lalu, kala saya masih duduk di bangku ibtidaiyah. Sudah banyak berubah, tentu saja.

Saya ingat, malam-malam sebelumnya suara Baba dari rumah sebelah masih terdengar dari rumah kami. Tapi kini sudah tak ada, dan beliau berpulang. Beliau adalah pamannya Ayah; adik dari almarhum kakek saya.

Pada pagi keesokan harinya, pemakaman baru dilakukan. Saya ikut tiba di pemakaman keluarga, menyaksikan telah ada beberapa nisan yang telah lebih dulu menetap. Salah satu yang sungguh membuat saya ingin pulang dan menyaksikan pemakaman Baba adalah, karena saya telah beberapa kali kehilangan momen ini. Beberapa kali saya tidak ada di rumah ketika bagian dari keluarga besar kami berpulang. Bukan hanya satu-dua kali, hingga tak jarang saya dibuat bingung jika momen lebaran tiba. Saya lupa kalau beberapa dari beliau telah tiada, dan saya masih mencari-cari sosoknya.

Saya benar-benar lupa.

Pemakaman Baba hari itu menyisakan perenungan yang tidak sedikit. Saya ikut sedih melihat Nyak sedih. Tapi Nyak tabah sekali, bahkan masih sempat menyapa cucu kesayangannya di tengah persiapan pemakaman. Saya memperhatikan satu per satu wajah paman, bibi, bahkan kakak dan orang tua saya sendiri. Terbesit pertanyaan di sela-sela proses pemakaman itu.

“YaAllah, jika pada akhirnya kami sesedih ini sebab berpisah, untuk apa kami dipertemukan di dunia?”

Tapi pertanyaan itu tak bertahan lama, sebab dari dalam sana, meski terdengar sayup, terdengar ada suara yang menjawab.

“Itulah mengapa, bukankah sudah dikatakan bahwa dunia hanya tempat ujian? Harusnya manusia tak mencari apa-apa selain ridho-Nya saja.”

Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kematian bukan untuk dirisaukan, sebab datangnya memang pasti. Ketidaksiapan diri lah yang harusnya lebih layak untuk dirisaukan. Sebab harusnya, jika kita yakin dengan sebenar-benar yakin bahwa Allah Mahakuasa, bahwa ada kehidupan kekal nanti di akhirat, kita tak akan risau sedemikian rupa.

Apa-apa yang telah Allah takdirkan, akan terjadi. Apa-apa yang tidak Allah takdirkan, takkan pernah terjadi. Dan segala sesuatu yang berasal dari Allah untuk hamba-Nya, tak pernah ada yang membuat rugi.

Mahabesar Allah Yang Maha Mengetahui Segala Isi Hati.

Sumber

Kemudian pada rupa-rupa ujian yang kita rasa berat, ada nasihat manis dari seseorang. Bagi saya, ianya sebagai pelengkap pada edisi menampar diri sendiri untuk kali ini:

"Apapun, jalani dengan berusaha ikhlas dan ridho. Allah nggak mungkin ngasih sesuatu yang buruk kan buat hamba-Nya? kalau dirasa berat, itu supaya kita ingat kalau nggak ada manusia yang berdaya, dan kita lemah tanpa minta kekuatan ke Allah."


Ditulis di Bogor,
pada 4 Maret 2020, 16.33 WIB

Berawal dari Masjid

"Masjidnya bagus ini," ujar seorang bapak yang baru saja aku temui ketika hendak pulang usai mengajar hari itu.

"Oh iya ya Pak?" aku menoleh ke arah masjid yang dimaksud. Memperhatikan sekilas. Bagus memang. Temaram lampu menghiasi batang-batang pohon di sekitarnya.

"Masjid baru. Bagus, tapi sayang kalau malam masjidnya dikunci," ujar si bapak lagi. Aku mengangguk-angguk.

"Oh saya baru tau Pak, jarang lewat sini sih."

"Habis kuliah?"

"Bukan, Pak. Saya habis ngajar bimbel."

"Ooh.. iya Neng, masjid itu kalau malam dikunci. Sayang sekali kan. Alasannya sih takut ada maling atau apa lah, tapi harusnya masjid itu terbuka. Kan tempat ibadah."

"Punya pribadi mungkin ya, Pak?" aku belum bisa menebak arah perbincangan kami.

"Ya tetap aja harusnya nggak dikunci meski yang membangun pribadi. Kalau perlu dilengkapi sama security. Barangkali orang mau i'tikaf atau apa di masjid," terdengar ia begitu bersemangat. Suaranya menggebu melawan bising suara kendaraan di jalan raya.

Obrolan kami kemudian berlanjut, membahas fenomena masjid yang saat ini tak sedikit seolah hanya jadi tempat wisata untuk foto-foto. Padahal ia punya fungsi luar biasa, tempat ibadah, tempat belajar.

"Pokoknya dalam hidup ini mah Neng, yang penting itu tauhid. Beres udah. Saya ini dulunya mualaf. Baru bener-bener belajar Islam enam tahun belakangan. Baru bisa azan, baru berangkat solat ke masjid. Zaman sekarang orang udah aneh-aneh aja, mimpi dikit, dibilang dapat wahyu dari Allah. Aduh jangan percaya Neng sama yang begitu-begitu!" ujarnya. Mungkin mengigat fenomena raja-rajaan yang sempat marak awal tahun lalu.

Kemudian dengan semangatnya, bapak usia 46 tahun itu bercerita pengalaman beliau belajar Islam. Ia dibesarkan sebagai non-muslim, hingga memilih untuk masuk Islam ketika duduk di bangku SMA. Ia belajar tentang Islam dari salah seorang guru, sampai pada satu titik gurunya tersebut meninggal dunia dan hidupnya morat-marit, berantakan. Ia kehilangan sosok yang menuntunnya.

"Ya begitu Neng, udah jatuh banget hidup. Berantakan. Jalanin agama seadanya aja."

Sampai pada suatu ketika, beliau jatuh sakit. Kakinya bengkak dan bernanah, tak kuasa berjalan.

"Satu tahun Neng, Bapak nggak bisa jalan. Duh waktu itu susah banget, udah segala macam obat dicoba. Mulai dari dokter sampai yang katanya orang pinter, tapi nggak ada yang bikin sembuh," tuturnya.

"Kakinya kok bisa sakit begitu, Pak?" tanya saya.

"Iya digigit kalajengking. Rumah Bapak dekat pabrik, lembab. Pas tidur di bawah, terus digigit kalajengking."

Segala upaya sudah beliau coba, tapi hasilnya nihil. Sudah nyaris putus asa dan mengira selesai lah riwayat hidup kakinya, dan ia takkan bisa berjalan lagi. Sampai suatu ketika, salah seorang kawan berkunjung menjenguknya.

"Sampai temen Bapak ada yang jenguk. Terus dia ini nasihatin Bapak, 'Apa yang kamu alami bisa jadi cara Allah nunjukin kasih sayang-Nya'. Kalau nggak begitu, mungkin Bapak lupa sama Allah, makin jauh sama Allah," kenangnya.

"Ternyata bener, Neng. Mau kita usaha macem-macem, mau beli obat mahal pun, kalau Allah nggak kasih sembuh ya nggak bakal sembuh. Tapi sebaliknya kalau Allah udah kasih, mau kita cuma pake obat murah, mau kita berobat seadanya, ya tetep bisa sembuh. Tugas kita cuma ikhtiar. Bener Neng, akhirnya atas izin Allah Bapak sembuh. Padahal cuma pake obat murah."

Beliau juga menyampaikan bahwa selama satu tahun sakit itu, ia seperti menemukan cahaya yang sudah lama hilang; belajar Islam.

"Umur 40 tahun, kalau kata orang mah udah ketuaan. Tapi bener banget, Neng. Kalau Allah mah nggak begitu. Kalau Allah bilang jadi, maka jadilah. Kalau Allah mau ngajarin ilmu, ya diajarin ga peduli usianya berapa," sampai disini, beliau membacakan ayat Al-Qur'an.

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

"Sekarang Bapak emang udah nggak muda, tapi semangat Bapak nggak kalah sama yang muda-muda. Malah suka aduuh, geregetan Neng kalau liat anak muda zaman sekarang pada males kerja. Maunya dapat duit tapi kerjanya males."

"Wah saya dong Pak, anak muda zaman sekarang. Jadi kesindir Pak," aku tertawa kecil.

"Yaa ini mah Bapak ngomongin anak muda yang laki-laki Neng, terutama. Anak laki itu kan nanti jadi pemimpin, jadi kepala keluarga," timpalnya.

Beliau kemudian melanjutkan ceritanya.

"Suatu hari Bapak denger azan dari masjid. Seumur-umur, meski udah mengaku Islam, Bapak nggak pernah kepikiran sebenernya azan itu apa. Nggak ngerti azan. Nggak paham. Tapi habis itu Bapak ke masjid. Begitu aja tahu-tahu Bapak bisa azan," ia diam sejenak. Aku bisa menangkap sinyal haru dari beliau.

"Nggak ada yang mustahil bagi Allah, Neng. Sekarang Bapak bersyukur banget pernah sakit. Ternyata itu caranya Allah nolongin Bapak supaya kembali ngaji, kembali ke jalan yang bener."

Aku tidak banyak bicara. Memberi ruang seluas-luasnya untuk beliau bercerita dan memberikan nasihat. Aku bahkan tidak tahu siapa namanya, tapi kehadiran beliau sesaat sebelum aku pulang usai mengajar hari itu benar-benar sesuatu sekali. Seolah Allah tengah memberi pelajaran langsung, usai aku menyampaikan pada anak-anak didikku tentang ujian dan tentang mensyukuri apa yang Allah beri.

Ya, bahan ajarku hari itu adalah tentang menghadapi ujian. Baru saja aku mendiskusikan tentang ujian-ujian yang dihadapi para Rasul Ulul Azmi, baru saja menjawab pertanyaan anak-anak SMP itu seputar bagaimana cara bersyukur di tengah ujian yang menghadang. Persis setelahnya akulah yang mendapat jawab dari tanya-tanya milikku, melalui beliau.

"Bapak tuh dulu kalau ngeliat orang yang Bapak nggak suka, rasanya muak bener, pengen muntah aja bawaannya. Kesel. Tapi habis belajar Islam, habis belajar tauhid, ternyata nggak begitu. Harusnya kita doain. Bahkan kalau dia itu orang yang menzalimi kita."

"Iya ya, Pak..."

"Iya, Neng. Doain biar diri kita sama dia dapat hidayah. Itu pas Bapak praktekkin, rasanya enak banget. Daripada hati kita jadi nyimpen penyakit, mendingan jadi doa. Kalau udah minta sama Allah, Allah akan kasih yang terbaik buat kita. Sekarang jadi Bapak kalau ngeliat orang yang asalnya nyebelin, bukan jadi marah atau benci. Jadinya malah kasihan, Neng." lanjutnya diiringi tawa. Aku mencatat nasihat-nasihat beliau di kepala.

Tak lama kemudian, perbicangan kami usai. Kuucapkan terima kasih sebelum kemudian permisi.

Kan sudah ku bilang, Allah selalu saja punya cara. Aku tak pernah menyangka pesan-pesan berharga itu akan ku dapat dari orang yang tak aku kenal, tak ku tahu siapa, dan tak pernah aku bertukar sapa sebelumnya.

Terima kasih banyaak, Bapak!
Jazakallahu khaiir.
Alhamdulillah bini'matih tatimussaalihaat. ^_^

Sumber

Ditulis pada 19 Februari 2020, 14.00 WIB