Tuesday, July 30, 2019

Dari Lembah Cita-Cita



Judul: Dari Lembah Cita-Cita
Penulis: Prof. Dr. Hamka
Penerbit: Gema Insani
Jumlah Halaman: 102 halaman

***

Beberapa bulan lalu, saya baru saja kembali mengecek ulang isi rak buku. Kemudian saya menemukan sebuah novel lama pemberian ayah berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Buya Hamka. Membuka kembali novel itu setelah sekian tahun berlalu meninggalkan kesan baru bagi saya. Ada banyak hal yang membuat saya bertanya-tanya mengenai sosok Buya Hamka. Agaknya menulis sebuah roman boleh dikata nyaris tabu bagi seseorang yang masyhur dikenal sebagai ulama kondang.

Dari sanalah saya mulai membaca lebih jauh tentang seorang Buya Hamka. Hingga pada suatu kesempatan, saya menemukan buku ini pada salah satu etalase toko buku. Ukurannya tidak begitu besar, halamannya pun tidak tebal. Tapi soal gizi, saya berani katakan bahwa buku ini benar-benar bergizi. Ada beberapa hal yang saya catat baik-baik usai menuntaskan buku ini.

Sampul Depan

Sampul Belakang


Buya membuka "Dari Lembah Cita-Cita" dengan bab yang menurut saya menyenangkan dan menarik untuk ditelusuri. Tak bisa dipungkiri, bab pertama ini sukses membuat saya jatuh hati tanpa perlu waktu yang lebih lama. “Dua Orang Pemuda Bertanya”. Buya mengisahkan bahwa ada dua orang pemuda yang mendatanginya,  meminta Buya untuk nengupas soal sumbangsih seperti apa yang dapat dilakukan oleh pemuda seperti mereka dalam rangka membangun bangsa dan tanah air.

Dalam tulisannya, Buya menuturkan betapa dua orang pemuda itu membuat ia mengingat berbagai kisah pemuda-pemuda yang telah tercatat dalam sejarah. Mulai dari para pemuda sekolah militer di Turki yang berjuang menumpas kepemimpinan Mustafa Kemal (seorang sultan yang menerapkan kehidupan sekuler pada rakyatnya), pemuda Ghandi yang meninggalkan segala kenyamanan hidup demi membela bangsa India-nya yang kerap dianggap hina oleh bangsa lain, pemuda Sun Yat Sen, anak petani yang tergerak hatinya memperjuangkan kemerdekaan bangsa, sampai pemuda Indonesia; Hatta yang pada usia 25 tahun telah mendirikan Perhimpunan Indonesia dan pada 26 tahun telah memimpin Kongres Liga melawan imperialisme, juga Soekarno yang pada usia 28 tahun telah membaca pleidoinya demi membela Indonesia ketika perkara di Landraad, Bandung.

Buya tak berhenti sampai di sana. Tersebut pula para pemuda di masa Rasulullah (salallahu 'alaihi wasallam). Adalah itu Ali bin Abi Thalib yang masih berusia 12 tahun, Bilal bin Rabbah, Ammar bin Yasir, juga Abu Dzar Al Ghifari.

“Ia adalah Ali. Mulai beriman pada usia 12 tahun. Saat di dalam suatu majelis, Nabi ﷺ bertanya kepada orang-orang tua Quraisy, siapa yang menolongnya menyerukan seruan Allah. Tidak seorang pun menjawab, hanya Ali yang masih anak-anak itu yang menyatakan bersedia untuk hidup bersama-sama dan mati bersama-sama.”

“Ia adalah Bilal, hamba sahaya yang masih muda, dibujur di panas matahari yang amat terik di padang pasir karena mengikuti ajaran Nabi ﷺ, tetapi ia masih tetap mengucapkan “Allah سبحانه وتعالى satu”"

“Ia adalah Ammar bin Yasir, yang dipukul dan didera; ia adalah Abu Dzar Al Ghifari, yang dikeroyok oleh pemuda-pemuda Quraisy, semuanya karena telah mengikuti pendirian Nabi ﷺ.”

Tapi jurus pamungkas yang membuat saya jatuh hati bukan terletak pada uraian sejarah pemuda-pemuda tersebut di atas. Sebab mungkin ini bukan kali pertama saya mendapat gagasan bahwa pemuda memiliki semacam energi besar yang dapat memberi sumbangsih hebat dalam sebuah peradaban. Kalimat pamungkas itu justru hadir setelah penuturan Buya tentang sirah pemuda-pemuda.

“Saya lebih senang benar kepada mereka berdua yang datang, saya lebih senang berhadapan dengan mereka, sebagaimana senangnya Socrates dengan murid-muridnya, daripada jika saya berhadapan, bertabligh di surau yang bening sepi membicarakan surge dan neraka. Kepada orang tua, saya ajarkan bahwa kita pasti mati.

“Namun, pemuda berkata, ‘Sebelum mati bukankah hidup? Mengapa kita mesti mengingati mati saja, padahal kita yakin bahwa sekarang kita hidup? Bukankah sebelum melalui pintu mati, kita mesti menjalani hidup?”

Daftar Isi "Dari Lembah Cita-Cita"
         
Demikian lah Buya membuka buku ini, dengan kearifan yang membangkitkan rasa ingin tahu untuk menuntaskannya sampai habis. “…Pertanyaanmu, dua-duanya akan saya jawab sekadar tenagaku, hai Pemuda! Moga-moga Allah akan memberikan kemuliaan dan kejayaan kepada tanah air kita berkat paduan semangatmu semua. Dengarkanlah!”

***

Sesuai judulnya, “Dari Lembah Cita-Cita” mengantarkan saya pada pemahaman tentang bercita-cita.

“Supaya pemuda beroleh kemenangan di dalam mencapai segala cita-citanya, hendaklah ia mempunyai dada yang lebar, pahaman yang luas, dan memandang dunia jangan dari segi buruknya saja (pesimis-tasyaum), hendaklah dipandangnya juga dari segi baiknya (optimis-tafaul),” begitu tulis Buya pada salah satu pembukaan bab dalam buku ini.

Ada banyaak sekali hikmah, pelajaran yang dapat dipetik. Saya merekomendasikan buku ini terkhusus untuk pemuda-pemudi muslim yang barangkali tengah menghadapi kerancuan dalam bercita-cita, dalam menentukan porsi keduniaan nan akhirat, yang tengah dihadapkan pada kebingungan arah, boleh juga dikatakan untuk mereka yang sedang mengalami quarter life crisis. Ahlan!

Terima kasih kepada Buya, semoga apa yang Buya tulis menjadi amal jariyah. Aamiin...


Ditulis pada 20 Dzulqo'dah 1440 H
di pinggiran Kota Jakarta,

Rizky Sahla Tasqiya

Tuesday, May 14, 2019

Karena Pak Guru Baru


Saya masih ingat. Malam itu, ketika Ayah sudah mulai terlelap, Mama keluar dari kamarnya dan menghampiri saya yang masih asyik terjaga. Belakangan ada banyak hal yang memang sering kami perbincangkan bersama. Malam itu pula, tanpa diminta, beliau mulai bercerita.

“Ade, di sekolah mama ada guru baru…” begitu Mama membuka kisahnya.

**

Mama adalah seorang guru. Berjodoh dengan ayah yang juga seorang guru. Keduanya telah menjalani profesi sebagai guru lebih dari separuh hidup. Ayah baru saja purna tugas satu setengah bulan yang lalu. Adapun Mama, baru dua tahun ditempatkan di sekolah yang baru, tak jauh dari rumah tempat kami tinggal.

Malam itu, berceritalah Mama kepada saya mengenai seorang guru baru. Ia datang ke sekolah dengan pakaian rapi, dengan tutur kata yang santun. Masih terbilang muda, usianya barangkali menginjak 30-an. Awalnya, laki-laki itu dikira sales oleh Mama dan para rekan kerja. Bukan tanpa alasan, sebab memang tak jarang ada sales mampir untuk jualan ke sekolah.

“Kepala sekolahnya lagi gak ada tapi Pak,” ujar salah seorang rekan kerja Mama sesama guru. Tak ada yang berani menerima sales, sebab biasanya berkaitan dengan jualan buku atau hal-hal seputar alat bantu untuk kegiatan belajar-mengajar. Wewenang semacam itu, di sekolah tempat Mama mengajar, ada pada kepala sekolah.

“Oh begitu, Bu… ini, sebetulnya saya ingin lapor diri,” yang dikira sales lantas menyampaikan niatnya. Ternyata dirinya bukan seorang sales, melainkan seorang guru yang baru saja mendapat tugas untuk mengajar di sekolah tersebut. Alhasil, identitas dan laporannya diterima, dengan catatan ia akan kembali keesokan hari untuk menemui kepala sekolah.

Cerita berawal disini. Diam-diam Mama memerhatikan guru baru itu dengan seksama.  Agaknya, sosok itu teramat tidak asing. Mama merasa begitu mengenali wajah si guru baru. Jangan-jangan…

“Maaf, Pak. Kalau boleh tau asalnya darimana?” tanya Mama demi memastikan praduganya. Sampai pada pertanyaan-pertanyaa lain seperti kelahiran tahun berapa dan punya anak berapa. Mama kemudian berinisiatif meminjam data diri si guru baru demi bisa melihat nama lengkap laki-laki berumur 30-an itu. Betapa tidak terkesima, nama yang tertera betul-betul tidak asing di telinga Mama.

“Bapak kayaknya murid saya deh. Dulu TK-nya dimana?” tanya Mama.

“Eh?” yang disapa dengan panggilan “bapak” sedikit kaget.

**

Benar sekali. Guru baru itu ternyata adalah murid Mama di TK, puluhan tahun yang lalu. Sampai pada bagian ini, saya dapat menyaksikan mata Mama yang mulai berkaca-kaca ketika menceritakan kisah itu pada saya.

“De, Mama terharu banget. Ternyata Mama sudah tua, ya. Anak murid Mama sudah sebesar itu, udah jadi teman kerja Mama,” begitu ujar beliau. Aku mengangguk-angguk. Benar juga. Bahkan semua anak-anak Mama mulai dari Abang, Kakak, aku, hingga si bungsu, semuanya bersekolah di TK dengan mama sebagai guru dan kepala sekolahnya. Perjalanan Mama menekuni profesi yang memang adalah cita-citanya sejak kecil itu ternyata sudah terbilang puluhan tahun. Sudah melintasi berbagai generasi.

**

 “Gimana Ma, anak muridnya Mama udah mulai ngajar di sekolah?” tanyaku pada seminggu berselang usai Mama bercerita soal anak muridnya yang kini jadi guru baru di sekolah.

“Iya udah, sehari setelah lapor, dia langsung ngajar. Jum’at lalu dia telepon ibunya, ngasih tahu suara Mama. Ibunya masih ingat De, sama Mama,” jawab Mama. Aku tersenyum saja.

“Waktu minggu lalu ade ke IC, Ma, seneng banget ketika guru-guru masih ingat nama ade. Itu belum puluhan tahun. Segitu aja ade udah terharu. Mesti rasanya haru banget kalau udah puluhan tahun terus namanya masih diingat sama gurunya.”

“Iya, di sekolah, guru-guru yang senior bilang begini, ‘yah gabisa dibully dah ini guru baru. Ada emaknya sih!’” kata Mama sambil tertawa, kemudian melanjutkan, “Dia juga haru banget, De. Katanya ‘Yaa Allah ibu… Malah ibu duluan yang ingat sama saya’.”

**

Begitulah.

Saya jadi ingat momen dimana saya menangis sambil berbaring di atas kasur pasien, beberapa bulan lalu, ketika dibesuk oleh salah seorang guru kesayangan saya ketika masih duduk di bangku madrasah. Beliau ada wali kelas saya di bangku kelas 4B. Saya mungkin lebih banyak melupakan berbagai materi pelajaran di kelas yang beliau ajarkan. Tapi pelajaran hidup, semangat, dan motivasi darinya masih teringat jelas di kepala. Bahkan saya masih ingat kisah perjalanan beliau menentukan sekolah, kisah istikharah dan bertemu dengan pasangan hidup, hingga sesi pengambilan rapot yang beliau katakan di hadapan Ayah bahwa saya punya potensi. Mungkin beliau tak pernah tahu betapa cerita-cerita itu bercokol di kepala saya selama bertahun-tahun. Juga, betapa motivasi darinya menjadi salah satu catatan penting yang saya pegang hingga hari ini.

Maka ketika melihat kehadirannya ketika saya tengah sakit dan dirawat di rumah sakit, saya sungguh-sungguh menangis. Haru.

Saya juga ingat beberapa waktu lalu, ketika takziyah, menemui salah seorang guru semasa di aliyah yang baru saja kehilangan anak tercintanya. Alhamdulillah, Allah berikan saya kesempatan menjadi salah satu yang tiba paling awal menemui beliau, masih di kamar pasien. Sedikit terkejut beliau melihat kehadiran saya. Kemudian tanpa dikomando, beliau memeluk saya dan tumpahlah tangisnya. Saya dapat merasakan betul keikhlasan dan keridhoan seorang ibu. Tangisnya bukan tangis menyesal, apalagi marah tak ridho atas takdir. Tangisnya adalah tangis yang pecah karena cinta dan kasih sayang. Bahkan senyum merekah dengan indahnya, yang saya yakin hadir dari kesadaran utuh bahwa anaknya telah pulang pada pemilik sesungguhnya.

Beliau mungkin tidak ingat, betapa banyak pembelajaran hidup yang saya catat baik-baik dari sosoknya. Bahkan di bangku kuliah, beberapa kali saya masih mengirimi beliau pesan demi meminta doa untuk ujian yang akan saya hadapi. Saya masih ingat betul nasihat-nasihat beliau, juga keramah-tamahan beliau yang tak pernah menolak bahkan jika malam-malam saya mengetuk pintu rumahnya.

Bagi saya, setiap guru punya tempat spesial yang membuat saya sebagai seorang murid acapkali berkaca jika mengingat mereka, atau jadi salah tingkah jika kembali bersua. Semoga kebaikan senantiasa melingkupi ayah-bunda ibu guru sekalian dimanapun berada..


**

Dari cerita Mama, saya belajar tentang waktu kehidupan. Betapa cepatnya waktu di dunia. Mungkin karena memang sifat sementara dan kefanaannya. Juga, betapa mudahnya waktu tertinggal di belakang. Hingga satu detik saja yang terlewat takkan pernah bisa sampai kapanpun diulang perjalanannya.

Saya juga belajar tentang menjadi orang baik. Bahwa ternyata, kebaikan itu indah sekali. Mengutip nasihat guru asuh saya semasa di Aliyah, beliau berpesan bahwa berbuat baiklah sekecil apapun perbuatan baik itu. Sebab kita tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan menjadi tiket kita menuju syurga. Setelah mendengar cerita Mama dan berkontemplasi, saya jadi berpikir betapa indahnya kebaikan-kebaikan. Sebagaimana guru-guru saya yang berbuat baik, meski terkesan “sederhana”, dan mungkin saja beliau-beliau tidak ingat lagi perbuatan baik itu. Tapi dalam benak saya, kesederhanaan itu sungguh-sungguh membekas dan jadi kenangan manis tersendiri. Kebaikan-kebaikan yang terbungkus dalam nasihat, motivasi, dan sapa ringan ‘apa kabar’ di sela-sela hari. Bahkan kebaikan-kebaikan di balik teguran ketika saya berbuat keliru, percikan air wudhu, juga pukulan kecil disertai canda yang menghibur. Saya membungkus semuanya, menyimpannya baik-baik, dan menjadikannya bahan bakar pada jalan-jalan hidup yang saya tempuh kemudian hari. Hebatnya, boleh jadi beliau-beliau tidak menyadari sama sekali. Dan saya hanya salah satu dari sekian banyak murid yang mereka “punya”. Bayangkan betapa indahnya jika semua murid merasakan apa yang saya rasa. Betapa kebermanfaatan guru-guru kami mengalir sedemikian derasnya.

**

Tulisan ini saya mulai dua hari yang lalu, dan sempat mengendap begitu saja. Saya kembali teringat untuk menyelesaikan karena hari ini melihat foto Mama bersama dengan murid TK-nya itu. Iya, murid TK Mama yang kini jadi partner kerja di sekolah. Baarakallah, Mama. Semoga apa yang Mama jalani hingga hari ini bernilai ibadah. Mungkin karena paduan antara jiwa keibuan dan keguruan, Mama punya semacam energi jadikan teman-teman saya pun seolah jadi “muridnya” juga. Mama bisa lancar mengabsen nama teman-teman saya, dari madrasah, tsanawiyah, aliyah, hingga kuliah. Menanyakan bagaimana kabar satu per satu dari mereka. Baarakallah, Ma.

Juga kepada Ayah, Baarakallah. Terima kasih sudah menafkahi kami dengan rezeki yang selalu Ayah usahakan semaksimal mungkin kehalalannya. Terima kasih karena sampai hari ini, Ayah sudah menjadi guru. Bukan hanya di sekolah, tapi juga di rumah tentunya. Sudah memberikan teladan akan apa itu kesabaran dan ketulusan. Kami tahu purna tugas Ayah hanya secara formal, tapi tugas sesungguhnya barangkali takkan pernah usai di dunia. Semoga kami senantiasa menjadi murid yang siap dididik. Baarakallah, Ayah.

Kemudian kepada Pak Guru Baru, karena melalui washilah Bapak yang ternyata adalah murid TK dari ibunda saya, saya jadi banyak belajar. Hatur nuhun.. Mama saya berkata pada saya, beliau banyak berharap bahwa kehadiran Bapak akan membawa kebaikan-kebaikan. Aamiin.

**
Rasulullah ﷺ adalah sebaik-baik guru.
(sumber gambar klik disini)
Terima kasih telah membaca. Sudah lama saya tidak menulis seperti ini. Dan setelah sekian lama, kali ini, rasanya menyenangkan sekali. Alhamdulillah. 😊


Selasa, 9 Ramadhan 1440 H

Sunday, February 10, 2019

Totto Chan's Children

Judul: Anak-anak Totto Chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk Anak-anak Dunia
Penulis: Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa: Ribkah Sukito
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Kedelapan: Januari 2016
Jumlah Halaman: 328 halaman
Buku ini sukses membuat saya menangis. Tetsuko Kuroyanagi—Totto Chan—apik sekali memilih penggal kejadian untuk dibagi-bagikan pengalamannya kepada orang banyak. Buku fenomenal karyanya yang berjudul "Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela" merupakan buku yang kemudian mengantarkan saya untuk menikmati buku ini; "Totto Chan’s Children". Berbeda dengan "Totto Chan: Gadis Cilik di Jendela" yang merupakan sebuah novel terinspirasi kisah nyata Nyonya Kuroyanagi semasa kanak-kanak, "Totto Chan’s Children" merupakan catatan perjalanan Ny. Kuroyanagi selama berkunjung ke beberapa negara pada tugas kemanusiannya bersama UNICEF.

Peta Kunjungan Duta Kemanusiaan UNICEF
Banyak sekali cerita fakta mengenai anak-anak di dunia yang membuat hati meringis. Mulai dari kelaparan, ketidaktersediaan air bersih yang memaksa mereka minum air kotor hingga sebabkan diare bahkan kematian, kejutan ranjau darat di dalam mainan dan makanan, anak-anak yang terlibat pelacuran untuk bisa makan, sampai luka psikologis yang menyayat mental mereka. Bagi saya pribadi, buku ini begitu sukses membuat saya sadar betapa recehnya ujian kesusahan yang mungkin pernah terbesit dalam kepala untuk mengeluhkannya. Saya rasa Ny. Kuroyanagi, pemilik nama kecil Totto Chan itu, barangkali sangat menyayangi anak-anak.

Anak perempuan di Vietnam (1988)
Sekolah dasar di Vietnam (1988)
Rumah di Irak yang penuh kotoran (1991)
Melalui buku ini, Ny. Kuroyanagi menceritakan betapa kesehatan mahal sekali harganya. Di Baghdad, Irak, pada tahun 1991 tidak ada listrik, tidak ada air bersih, bahkan tidak ada saluran pembuangan hingga kotoran masuk ke rumah-rumah penduduk. Rumah sakit Qadissiya Central Hospital di kota itu, tidak memiliki apa-apa. Tidak ada susu, tidak ada obat, dan tidak ada obat bius untuk operasi. Perkataan salah seorang dokter disana terdengar begitu menyedihkan, "Tidak ada yang membuat dokter lebih frustasi daripada mendiagnosis penyakit dan tak bisa mengobatinya. Dokter mungkin ingin mengoperasi, tapi ia tak bisa melakukannya karena tak ada listrik. Bisakah Anda mengerti, betapa sulitnya bagi saya untuk tetap diam dan hanya memandang saat seorang anak meninggal?"

Bayi perempuan usia 2 bulan di Irak
Anak kurang gizi di Etiopia (1992)
Bayi yang tidak mendapat inkubator di Haiti (1995)
Salah satu cerita yang paling berkesan usai saya membaca ini adalah bagian ketika Ny. Kuroyanagi mengunjungi Rwanda pada tahun 1994—satu tahun sebelum saya lahir. Bagaimana perasaan kita ketika menjumpai dua ribu mayat tanpa kepala bertumpukan? Dibiarkan begitu saja sebab tak ada anggota keluarga yang tersisa untuk menguburkan. Saya sampai bergidik ketika membaca cerita tentang seorang anak laki-laki di Rwanda yang suatu saat ditanya oleh tim UNICEF, “Apakah benar orang tuamu dibunuh?” dan ia hanya menjawab, “Aku tidak tahu”.

Awalnya dikira bocah laki-laki itu masih terlalu kecil untuk mengingat kejadian. Namun tak lama, ia berlari menghampiri tim UNICEF yang sebelumnya bertanya. “Sebenarnya aku tahu,” ujarnya, “Well, begini. Penerjemah yang tadi bersamamu adalah orang yang membunuh orang tuaku.” Maksudnya, jika ia memberitahu bahwa orang tuanya dibunuh, ia akan menjadi korban selanjutnya. Di Rwanda pula, kebon kopi mengeluarkan aroma busuk. Bukan karena kopi yang membusuk, melainkan karena bau ratusan mayat yang dikuburkan disana. Bahkan hotel pun bau busuk. Orang-orang dipaksa masuk berdesakan ke kamar hotel seperti ikan sardine lalu dibantai. Pilu sekali. 

Ada terlalu banyak cerita menarik yang saya bahkan bingung untuk memilih penggalan mana yang hendak dituliskan disini. Ketika membaca tentang ranjau dan bom yang bertebaran dimana-mana di wilayah Bosnia-Herzegovina, pada kunjungan Ny. Kuroyanagi tahun 1996, saya tak habis pikir hal macam apa yang ada dalam pikiran para pelaku. Ranjau darat diletakkan di tanah dalam bentuk es cone, dan akan meledak ketika anak-anak mulai memakannya. Bom sengaja dibentuk seeperti cokelat, dan akan meledak ketika kertas perak pembungkusnya dibuka. Bom bahkan juga disembunyikan di dalam boneka. Dalam buku ini, Ny. Kuroyanagi menuliskan, “Betapa mengerikannya orang-orang yang sengaja mempelajari psikologi anak hanya untuk membunuh anak-anak!”

Anak laki-laki di Sarajevo (1996)
Ny. Kuroyanagi dan anak-anak Bosnia (1996)
Tidak banyak yang saya ceritakan disini. Sebagian gambar di atas barangkali cukup mengabarkan isi bukunya. Begitu semerbak pelajaran yang saya dapatkan dari ragam cerita yang dituturkan Ny. Kuroyanagi mengenai perjalanannya. Anak-anak seringkali memberikan pelajaran penting bagi orang-orang yang dikatakan sudah dewasa.

Terakhir, berbahagialah mereka yang berbagi cerita bermanfaat melalui tulisannya. Bagi siapapun, saya pikir buku ini sangat recommended. Serius! :)


Monday, February 4, 2019

Ranggas


Air mengalir dari hulu ke hilir
Hujan turun basahi tanah tempat kami lahir
Kemudian pergi—bak ditelan bumi

Tinggallah kami terpaku tak mengerti
Coba cari segala arti dari yang terjadi
Pada ambang hidup antara komedi dan tragedi

Tapi Tuan,

Kata siapa ranggas daun pada ranting kami?
Kiranya sudi Tuan telisik kabar berita lagi

Sebab kami masih berdiri disini.

Sumber




Thursday, January 31, 2019

Satu Jodoh Dua Istikharah


Kali ini saya coba kembali menceritakan bacaan yang belum lama saya santap. Sebenarnya sudah lama sekali saya tidak membaca novel, terlebih dengan genre seperti ini. Novel berbau percintaan yang membahas soal jodoh-jodohan. Belakangan saya lebih menaruh minat pada bacaan-bacaan non-fiksi seputar pendidikan dan anak-anak. Tapi novel ini punya sejarah tersendiri.


Judul: Satu Jodoh Dua Istikharah
Penulis: Ma’mun Affany
Penerbit: Affany
Cetakan Pertama: Oktober 2016
Jumlah Halaman: 339 halaman

Saat berkunjung ke Gresik pada Desember 2018 lalu, saya dan mama menetap di rumah salah satu kerabat yang sebenarnya tak lain adalah keluarga salah satu teman seangkatan saya selama di Insan Cendekia. Teman saya sendiri saat ini tengah menempuh pendidikan di Jepang. Alhamdulillah, Allah pertemukan saya dengan keluarga Om dan Tante di Gresik yang ramah sekali dan sangat bersahabat. (Hikmah sekolah di boarding school, kerabatnya ada dimana-mana :D).

Kedatangan saya dan mama ke Gresik tidak lain untuk menyelesaikan beberapa persoalan di Jawa Timur. Jadilah kami bolak-balik Gresik-Surabaya-Malang. Dan selama itu juga keluarga Om dan Tante banyak membantu kami.

Kembali lagi ke novel. Mahabesar Allah dengan sekanario-Nya. Om adalah seorang manajer di salah satu percetakan di Gresik. Om juga merupakan seorang penulis. Saya dibekali empat buah buku, tiga di antaranya adalah novel dan satu buku lagi merupakan buku karya tulisan Om sendiri. Novel pertama yang disodori pada saya adalah novel ini, karya Ma’mun Affany—salah seorang karib Om—berjudul “Satu Jodoh Dua Istikharah”. Saat itu saya belum terpikir untuk membacanya. Masih terngiang dalam kepala saya bagaimana menuntaskan bacaan buku statistik olah data untuk penyelesaian tesis yang dengan kerelaan hati saya tinggalkan sementara di Jakarta (walaupun sebenarnya laptop tetap dibawa—meski sama sekali tidak tersentuh pada akhirnya—). Tapi saya menerima pemberian Om dengan sangat senang hati. Terbayang koleksi buku di rumah bertambah empat buah. :D

Qodarullah, begitu urusan di Jawa Timur selesai dan saya tiba di Jakarta, saya mulai membuka-buka novel ini. Agaknya menarik juga. Font size-nya pun terbilang besar, mungkin membacanya tidak akan menyita waktu lama. Jadi sembari menulis tesis, sesekali saya buka si novel. Mengisi kejenuhan di sela waktu melihat layar laptop.

Sebenarnya, sinopsis di bagian belakang buku ini bisa dibilang cukup menggambarkan isinya. Isi cerita berputar pada 3 tokoh utama; Salman, Tania, Fatimah.


Salman adalah seorang direktur muda. Ia tampan, kaya, baik hati pula. Barangkali penggambaran Salman dipotret sedemikian semerbak, sampai pembaca dibawa pada kenyataan pahit bahwa ternyata Salman punya luka hingga sering main perempuan. Adapun Tania, perempuan yang terikat pada kontrak dengan mucikari, naas sebab ibunya sendiri yang menenggelamkan ia pada dunia gelap. Tania digambarkan unik, sebab pakaiannya dideskripsikan rapi tak sebagaimana perempuan malam pada umumnya. Ia juga dibekali dengan mukenah; perangkat sholat meski apa yang akan dilakukannya adalah perbuatan nista. Adapun Fatimah, gadis muda yang berprofesi sebagai dokter, digambarkan nyaris sempurna. Cantik, menawan, baik hati, namun jelas ia "keras kepala". Mati-matian membela Salman meski ia tahu akan sejuta cela pada laki-laki pujaannya itu.

Menurut hemat saya, inti dari cerita dalam novel ini adalah tentang penerimaan. Barangkali Fatimah menjadi satu-satunya tokoh utama yang paling “bersih”, setelah Salman yang di balik gemerlap prestasi dan kemewahan pencapaiannya ternyata menyimpan luka, atau Tania; perempuan berhati mutiara yang terjerembab dalam dunia gelap malam. Ma’mun Affany seolah hendak menyampaikan bahwa ada ruang dalam diri manusia yang hanya bisa ditaklukan dengan penerimaan atas titik lemahnya. Sebagaimana Salman yang akhirnya luluh atas segala penerimaan tanpa cela dari Fatimah, atau Tania yang rela menjadi abdi sepanjang hidup oleh sebab penerimaan utuh dari seorang Salman.

Saya tidak akan menceritakan ceritanya secara lengkap. Nanti jadi spoiler, hhe. 😊 Sebagai pembaca yang sebenarnya bukan sebenar-benar penikmat novel roman, saya bisa katakan bahwa novel ini worth to read. Terima kasih pada penulis, Ma’mun Affany, karena sudah menulis dengan apik :D bahasanya ringan, mengalir, mudah dipahami, dan tidak bertele-tele. Sukses menghadirkan penokohan yang terdeskripsi dengan jelas meski tanpa dijabarkan detail di dalam novel. Tapi dengannya, saya jadi mengenal dan bisa turut menjelaskan seperti apa sosok Salman, Tania, juga Fatimah, yang mungkin saja mereka ini ada versi riilnya di dunia nyata entah dengan nama siapa. Novel ini berhasil membuat saya memperluas jangkauan pandang atas dunia yang mungkin selama ini luput dari wawasan.

Terakhir, pembelajaran penting khususnya bagi perempuan barangkali hadir dari sosok Fatimah. Bukan atas sikap “buta” nya sebelum menikah, melainkan ketika ia berperan sebagai istri bagi suaminya. Melalui sosok Fatimah, penulis seolah hendak menyampaikan bahwa ada peran istimewa yang dimiliki perempuan sebagai istri, “Tugas utama perempuan adalah mengubah laki-laki menjadi lebih baik dalam agamanya, dan menjadikannya lebih semangat menjalani kehidupannya.”



Menarik. Sebab kaum perempuan kadang lupa bahwa mereka juga punya peranan jadi pendamping, bukan hanya sekadar untuk dibimbing. :)

Wednesday, July 11, 2018

Bagaimana Kabarmu?


Hei, Assalamu’alaikum. Bagaimana kabarmu?

**
Sudah lama kita tidak berbincang. Atau mungkin memang kita bukan dua orang yang sering berbincang. Yah, apapun itu, aku ingin bercerita saja. Sore ini aku duduk di sudut ruangan berdindingkan kaca. Aku berada di lantai paling atas; lantai ke-24. Dari sini, dapat kusaksikan langit ibu kota kita yang agak kelabu, entah mengapa. Mungkin karena kesibukan dan produktivitas manusianya yang di atas rata-rata, hingga pemandangan dari atas seperti tertutup kabut sedemikian rupa. Iya, kuharap itu kabut dan bukan polusi udara.

Kamu pernah berpikir, kenapa ya, dalam kehidupan kita yang berdampingan ini, dalam kehidupan setiap manusia yang kita tahu jumlahnya tak dapat dihitung jari ini, mengapa kita seringkali masih iri hati? mengapa kita menyimpan hasad-dengki? mengapa masih sulit bagi kita mensyukuri diri? padahal, kan, ada begitu banyak manusia di dunia ini, dan rasa-rasanya, kita akan selalu menemukan celah jika saja kita mau bersyukur atas kehidupan sendiri.

Ya, kan? apakah kamu berpikir hal yang sama?

Yah, bukan apa-apa sih. Aku hanya berkontemplasi; merenungi segala pahit-manis yang telah terjadi selama ini. Hei, iya, aku kan mau tanya, kamu apa kabar? ada kabar apa di kehidupanmu? bagaimana kabar tugas-tugas harianmu? adakah mereka terceklis utuh?

Belakangan, aku belajar banyak soal kehidupan. Bahwa ternyata dunia yang cuma main-main dan senda gurau belaka ini, ternyata menyimpan dinamika sedemikian rupa. Ternyata di usiaku yang memasuki dua puluhan ini, ada begitu banyak kearifan hidup yang aku masih buta terhadapnya. Ada banyak sekali kisah yang baru aku selami maknanya; sesuatu yang kukatakan pahit-manis kehidupan. Kapan-kapan aku juga mau mendengar (atau mungkin membaca) cerita pahit-manis milikmu. Kutunggu, ya.

Aku jadi ingat perkataan Ibu Neti, salah satu konselor yang pernah mengisi kelas kuliah kami. Beliau mengatakan bahwa hikmah terbesar menjadi seorang konselor adalah menjadi bijak. Iya, belajar dari kompleksitas hidup yang dialami oleh berbagai macam insan menjadikan dirinya melihat dengan sudut pandang yang lebih luas, menilai dengan lebih menyeluruh, menyaksikan segala sesuatu dengan lebih adil. Kegiatannya mendengarkan cerita dari orang lain tanpa disadari membantu pikir dan hatinya menjadi lebih bijak. Barangkali benar jika dikatakan bahwa pembeda antara kanak-kanak dan dewasa adalah soal kebijaksanaan. Bukankah memang begitu? sudah seharusnya orang dewasa berbeda dengan anak-anak yang bersifat egosentris. Bukan saatnya lagi bagi orang dewasa bersikap seperti anak-anak yang melihat segala sesuatu berputar dengan diri mereka sebagai porosnya.

Aku sudah lama tidak bercerita. Jadi maaf kalau agak banyak menulisnya. Kalau tidak mau baca, silakan berhenti saja. (Ya kalau tidak mau baca, sejak tadi kamu harusnya juga tidak memulai, kan, hhe).

Dalam perjalananku hingga hari ini, aku bersyukur sebab dipertemukan dengan orang-orang luar biasa. Entah, kadang aku tak habis pikir dengan diri sendiri, bagaimana mungkin aku tidak termotivasi menyaksikan orang-orang di sekelilingku yang sehebat itu? mungkin juga termasuk kamu. Artinya, jika aku tidak menghebatkan diriku juga, tidakkah bisa dikata bahwa aku kufur nikmat?

Hei, tunggu. Kamu juga mengerti kan, maksudku hebat disini adalah, bicara soal kesungguh-sungguhan. Aku selalu jatuh cinta melihat manusia dengan segala perjuangannya. Aku suka menyaksikan manusia yang bersungguh-sungguh dalam melakukan apa yang ia yakini kebaikan dan kebenarannya. Aku selalu kagum pada mereka yang bisa fokus pada satu hal, dengan tetap mengindahkan kehidupan kanan-kirinya. Dan betapa baiknya Dia, hingga menghadirkan orang-orang seperti itu dalam kehidupanku. Maka aku katakan, bukankah aku kufur nikmat, jika aku tak menyerap energi mereka? atau energimu, mungkin saja?

Aku mengenal seseorang yang telah melamar kerja hingga puluhan. Bukan untuk apa-apa, melainkan untuk kepentingan keluarga dan kehalalan rezeki yang ia terima. Aku mengenal seseorang yang berjuang naik-turun, mengarungi jalan-jalan, mengarungi himpitan waktu, demi kepentingan adik-adik sebab ia anak pertama. Aku juga bertukar cerita dengan seseorang yang meski begitu pahit apa yang ia alami di keluarga, namun senyumnya pada tetangga selalu saja merekah. Ada juga mereka yang berjuang dalam diam, dalam harap, dalam cemas, tapi tetap dengan prasangka baik pada Tuhannya. Ah, kalau mengingat itu, seketika aku merasa seperti remah-remah entah makanan apa.

Jauh dari itu semua, yang membuatku paling merasa hanya jadi butiran debu adalah jika mengingat kedua orang tua. Yah, membahas keduanya selalu sulit bagiku, jujur saja. Karena terlalu spesial, seringnya sulit mengungkapkan dengan kata-kata. Tuh kan, begini saja aku sudah diam. (Iya, saat menulis bagian ini lama sekali jemariku berhenti. Padahal paragraf-paragraf sebelum bagian ini, rasanya kutulis tanpa jeda. Sekarang jadi hening.) Kapan-kapan saja ya, aku bercerita soal ini. Atau jika memungkinkan, barangkali lebih baik kita bertemu saja. Siapa tahu kamu berbaik hati penasaran kan, mau mendengar ceritanya.

Sudah lama kita tidak berbincang. Atau mungkin memang kita bukan dua orang yang sering berbincang. Kita bisa saja saling kenal atau tidak saling kenal. Mungkin saja kita saling tahu tapi tak pernah kita bertukar sapa. Mungkin saja kamu tanpa sengaja menemukan laman ini dan membaca barisan kata-kata. Tapi tak apa, itu bukan poin pentingnya. Paling tidak setelah membaca ini, aku ingin mengajakmu sama-sama berdiskusi. Minimal dengan kepala kita sendiri-sendiri.

Kamu apa kabar? ada kabar apa di kehidupanmu? apa yang sedang menyita pikirmu? apa pencapaian yang tengah ingin diraihmu? kesulitan-kesulitan apa yang tengah menghadang episodemu?

Apapun itu, semoga kamu baik-baik saja, tidak kekurangan sesuatu apapun. Semoga keberimanan selalu hadir pada hatimu. Semoga keridhoan tak sungkan-sungkan menetap pada kalbumu. Semoga niat baik selalu berada pada benakmu. Apapun yang tengah kamu hadapi, bersyukurlah. Sebab Tuhan kita dalam firman-Nya mengatakan,

Semoga kamu baik-baik saja :) wassalamu'alaikum.


Jakarta, 27 Syawal 1439 H
Dari lantai ke-24 pada sore hari ibu kota.

Yang menanyakan kabarmu,
aku.

Friday, July 6, 2018

Luka


Barangkali kamu benar.
Seringnya, bukan usia yang mendewasakan manusia,
melainkan luka.

**

Setiap insan punya caranya sendiri dalam merayakan luka. Ada yang menangis sambil bersembunyi di balik bantal, mengunci pintu kamar, menangis seharian, curhat di media sosial. Ada juga yang menghindar bertemu manusia, memilih sendiri, menjejaki perjalanan luka yang dialami. Pun, ada yang mencoba untuk tetap berkarya, mengukir kata, melakukan perjalanan, menutup luka dengan tawa dan cengkrama. Segala macam perayaan yang menutup kenyataan perih atas luka.

Mungkin pada masa awal luka itu tiba, pilihan tanpa logika lah yang jadi sasarannya. Seiring waktu ia mengilhami dan menenggelamkan rasa dalam introspeksi, ia kemudian menangis dalam sujud panjangnya. Ia mencoba berdamai melalui senyumnya. Ia bercerita pada Tuhannya—sekali-dua kali pada orang2 terdekatnya.

Ia berdiri, mencoba bangkit. Meski luka itu masih menganga. Bukannya tak sadar, hanya ia tengah berupaya berpacu dengan waktu. Ia tak ingin ditinggalkan waktu. Hingga ia berdiri. Iya, berdiri di atas luka-luka yang masih menganga; mencoba mengobati perih yang ia rasa. Sampai ia menyadari, bahwa ternyata kesembuhannya hanyalah pura-pura belaka.

Bahwa ternyata ia sakit, dan ia butuh bantuan pihak lain untuk melipur luka di diri. Berbagai macam cara yang tiap insan—tiap manusia—coba jajaki. Ada yang mencari-cari bacaan berisi, ada yang mengalamatkan diri pada nasihat para bijak tuk menyentuh hati. Sebagian lain berupaya minta bantuan orang lain untuk mengobati, atau juga mencoba cicipi lingkungan baru untuk ditinggali.

Sumber

Begitulah luka. Bahwa penyembuhannya bukan perkara mudah nan instan. Membutuhkan waktu. Membutuhkan proses. Bahkan ketika sudah ia temui segala macam rupa nasihat penyentuh hati, telah ia jajaki jalan-jalan penuh hikmah, telah ia tumpahi hampar sajadah dengan tangis air mata, pun telah ia temui seseorang yang ia harap dapat bantu melipur lara, nyatanya luka itu tetap ada. Nyatanya luka itu (entah seberapa besar) masih menganga. Segala pikir dan rasa yang ada pada raganya menyerah sembari marah. Ia kecewa. Ia melempar tanya. Ia sangsi. Ia nyaris marah dan putus asa. Ia berada di ujung pengharapan pada semesta. Air matanya kering jika tak mau dikatakan habis. Sensitivitasnya sebagai manusia hampir-hampir luntur dimakan luka.

Sampai pada suatu episode, ia lelah oleh rasa lelah. Luka yang sakit nan perih menyayat lambat laun tak lagi ia indahkan. Hingga pada akhirnya ia kembali menyerah. Kali ini dengan penyerahan yang lebih jujur, lebih tulus, lebih membumi. Kali ini dengan penyerahan tanpa kamuflase, tidak main-main, apalagi sambil membercandai. Sebuah penyerahan yang hanya dirinya dan Sang Esa yang mengetahui. Kemudian begitu sadar, pada momen itulah ia temukan kesembuhan atas luka yang sesungguhnya; sebuah kesembuhan atas lara yang selama ini ia nanti-nanti.


**

Bahwa ternyata, penyembuh luka yang ia cari-cari tidak lain harus diawali dari dirinya sendiri. Kebersyukuran, keikhlasan, keberserahan. Bahwa ternyata, pelipur lara yang ia nanti ternyata tak perlu jauh-jauh dicari. Ianya bukan sebuah pencapaian, melainkan perjalanan. Bahwa segala proses yang ia lalui untuk meraih obat penyembuh luka, tidak lain adalah obat itu sendiri. Lambat laun ia menyadari bahwa luka yang menganga perlahan menutup dengan sendirinya. Tak lagi menganga, sebab ia sembuh. Sembuh seiring perjalanan waktu gigih usahanya tuk menyembuhkan.  

Setengah takjub, ia dapati dirinya baik-baik saja berdiri dan berjalan di atas luka. Setidaknya ia bertahan hingga titik ini. Setengah luka itu tersembuhkan. Perlahan-lahan. Tak ada jawab atas tanya yang selama ini ia gadang-gadang, tak ada akhir yang selama ini tak sabar rasanya ingin ia undang. Tapi nyatanya ia baik-baik saja. Lagi, setidaknya ia bertahan hingga titik ini. Ia merasa jauh lebih baik. Kemudian berusaha menerima segala apa yang terjadi. Manisnya, pahitnya, perihnya, termasuk semerbak sakit yang dicipta luka pada dirinya.

Ia menerima bahwa ia terluka, lalu bahagia.


**

Setiap insan punya caranya sendiri dalam merayakan luka. Jika ia dapat melewati dengan harap pada Yang Kuasa dalam upaya penyembuhannya, sekecil apapun harapan itu ada, saksikanlah bahwa sang luka akan menjelma senjata ampuh yang mendewasakan dirinya. Saksikanlah seiring waktu dirinya berubah. Iya, berubah menjadi lebih kuat, lebih tangguh, nan jadi lebih bahagia. Saksikanlah tatap bola matanya yang menjelma lebih tajam, pandangannya yang lebih jeli, pancar tulusnya yang lebih mendamaikan.

Ia menerima, bahagia, lalu mendewasa. Dan pada saat itulah, Tuhan menghadiahi pencarian atas tualang yang selama ini ia lakukan. Ketika ia tak lagi membunuh waktu dengan sederet teka-teki, ketika ia tak lagi mencerca dengan segunung pencarian. Pada momentum itulah barangkali Tuhan menjawab tiap tanya yang mengangkasa; ketika ia telah selesai bercengkrama dan bertukar pikir sendiri dengan dirinya. Luka itu lantas sembuh seutuhnya; mengukir keindahan cerita atas lalu-lalang hikmah dan hampar makna yang telah dijumpa.

Begitulah. Barangkali kamu benar, Master. Seringnya, bukan usia yang mendewasakan manusia, melainkan luka.

***

Syawal 1439 H

Ditulis dalam perjalanan Bogor-Jakarta,
usai berdiskusi dengan salah seorang sahabat
tentang luka-luka yang menganga :)