Wednesday, April 20, 2016

Jaminan


Jadi ajak aku berlari. Paksa aku mempercepat langkah. Jangan sampai kamu cukup tega membiarkan aku santai berlama-lama di satu titik, sementara kita adalah musafir sejati.

"Kita tidak pernah mendapat jaminan apa-apa," ujarmu pada suatu hari, "selain kepastian bahwa Dia Maha Menepati Janji."

#istiqlal #mosque #run #children

PASIR TERBANG


Aku fikir, pasir terbang itu hanya ada di film-film saja. Tapi ternyata, ia sungguhan ada. Aku mengabarkanmu, namun entah mengapa kamu tidak percaya. Jadi biar aku tuliskan saja disini. Setidaknya telah kusimpan ia dalam memori dunia -meski dalam benakmu ia tiada.

April 2016 : KABUR

Dedaunan saling melambai. Diterobos cahaya pada sela-sela rerumputan. Dibuat tersipu oleh udara. Aku melangkahkan kaki gontai, setengah sadar. Kubuka pelan pintu kaca yang entah mengapa terasa lebih berat. Kuperiksa loker paling ujung. Masih bagus, hanya sedikit berdebu. Agaknya cukup lama aku meninggalkan tempat ini. Gumamku dalam hati.

"Kemana saja?" seseorang di ujung lorong berjalan mendekat.

"Kemana? aku tidak kemana-mana," jawabku sambil tertawa ringan. Jelas-jelas membuat canda yang dipaksakan."

"Kamu sukses bikin satu sekolah geger, tahu nggak. Kenapa ngabur begitu saja?" ujarnya.

"Kamu fikir aku kabur?" kataku dari jarak lima meter.

"Apalagi namanya kalau bukan kabur? nggak nyangka aja sih, kamu selemah itu," kali ini nada bicaranya merendahkan.

"Aku bukan kabur, tapi diusir." aku kembali terkekeh. Menyiptakan gema oleh dinding-dinding ruangan.

"Iya, diusir oleh dirimu sendiri!" ujarnya galak.

"Keluarga besar kita dalam masalah, Ken. Aku bukan kamu yang begitu penurut tapi membiarkan diri terkungkung dengan sistem berantakan ini,” kali ini gantian aku yang mendekatinya.

"BUK" wajahku dilempari satu plastik air dingin.

“Jangan gegabah. Lihat siapa yang membiarkan dirinya masuk ke lubang serigala dengan sengaja, Dasar!” Lalu aku ditinggalkan.

April 2016: TULISANMU

Belakangan, aku punya hobi baru: memeriksa kolom pojok kanan buletin sekolah setiap minggu; menanti tulisanmu. Entah sejak kapan ini menjadi kebiasan rutin yang sejujurnya, diam-diam aku maki dalam hati. Meski tulisan itu bebas dibaca siapapun, namun melakukan pemantauan berkala seperti ini kadang membuatku merasa jadi tukang intip. Aku jadi merasa kehilangan diriku dalam satu waktu. Dan malangnya, itu terjadi rutin setiap minggu.

“Bapak ketua OSIS, sejak kapan senang baca buletin sekolah?” lagi, aku kedapatan mematung di samping tangga; membaca tulisanmu.

“Hei, bukannya dari dulu, Master?” aku tertawa renyah. Mengawasi setiap inci kegiatan siswa di sekolah ini memang bagian dari tugasku, kan? Aku menelan ludah.

“Haha, iya. Tapi belakangan jadi lebih rajin,” bahuku ditepuk pelan. Aku membetulkan posisi kacamata yang tidak berlensa.

“Tulisan pojok kanan ini selalu menarik,” kusodorkan tulisanmu pada Master.

“Ketua OSIS kita sedang jatuh cinta rupanya. Anak baru itu diam-diam menyolok sekali,” Master menggodaku. Aku tertawa.

“Bisa jadi,” jawabku sekenanya. Ia ikut tertawa.

Tapi aku tahu persis, ini bukan jatuh cinta. Bukan, tapi lebih dari itu. Aku seperti menemukan seseorang yang telah lama hilang. Semua petunjuk-petunjuk ini mengarah padamu. Jalan fikiranmu, gaya tulisanmu, pilihan kosakatamu. Aku hanya hendak memastikan semua itu. Jika memang itu dirimu, apa yang akan kamu lakukan di tempat ini, Anak Baru? Apapun itu, disini, akulah ketua OSIS-nya. Kamu harus tahu.

April 2016: PENYAPU JALAN

Kakek pernah bercerita padaku tentang gadis penyapu jalan. Setiap pagi, ia menyapu persimpangan jalan mulai dari ujung rumahku sampai pertigaan terdekat yang jaraknya sekitar sepuluh meter. Sekilas tidak ada yang istimewa. Tapi jika diperhatikan lebih seksama, ternyata gadis itu tidak dapat melihat. Ya, dia menyapu jalan sejak dini hari, selagi suasana masih lengang. Hanya ada satu-dua orang tua yang keluar untuk berbelanja di pasar, atau tukang sapu lain yang juga bekerja pagi-pagi sekali.

Suatu ketika aku memberanikan diri menghampirinya. Malang, ternyata selain buta, ia juga tidak dapat berbicara. Aku garuk-garuk kepala. Bagaimana mungkin Tuhan tega membiarkan hidupnya sebegitu sengsara? Alasan apa pula yang membuatnya melakukan hal itu setiap hari; menyapu jalanan? Apakah ia digaji? Kalaupun iya, seberapa besar? Apa kabar sekolahnya? Ia hanya meresponku dengan tersenyum tanpa bicara satu patah kata pun. Aku tidak punya pilihan selain tersenyum balik.

Beberapa pagi aku menjumpainya. Selalu saja seperti itu. Ia akan tersenyum, kemudian menyapu tanpa memperdulikan aku. Malang sekali nasibnya, fikirku. Setiap kali aku hendak menggantikan dirinya menyapu, ia tersenyum lebar, lalu menggeleng. Aku mengangguk. Aku tahu, ia pasti tidak mau merepotkan orang lain. “Kamu.” Kataku padanya, “aku akan menjadi orang besar. Supaya nanti, tidak ada lagi orang-orang yang harus mendapat nasib sama sepertimu!” aku bertolak pinggang. Kemudian pergi dengan semangat menggebu. Aku harus melakukan sesuatu untuknya; untuk negeri ini.

Pagi berikutnya, aku datang lebih awal. Pagi-pagi sekali. Langit masih gelap. Lalu dari kejauhan kudapati ia datang menggunakan sepeda dibonceng seorang perempuan –kurasa ibunya. Mendengar suaraku, ia menunjukkan wajah heran. Aku lantas memberitahu bahwa aku membawa sapu lidi yang sudah aku siapkan dari rumah. Aku hendak membantu, kataku. Tanpa kuduga, ia mengerutkan alisnya. Melarangku untuk menggunakan sapu yang telah siap aku fungsikan.

“Apa kamu fikir aku menderita?” ia merogoh sapu dari kantung besar di sepedanya. “Silakan kamu bermimpi besar akan bangsa ini. Itu bukan hal buruk. Tapi lebih baik kau pulang dan temui ibumu,” ia memakiku sambil memainkan telunjuknya.

“K..k.. kamu..” aku terbata demi mendengar ia bicara.

“Kemarin, aku mendengar ibumu kesulitan menyapu halaman belakang karena harus menyuci pakaian, menyuci piring, mengepel, sekaligus menidurkan adikmu. Jangan tinggi-tinggi bermimpi membenahi negeri ini jika wajahmu bahkan jauh dari punggung tangan ibumu!” suaranya menyapu udara, “Tidak perlu repot-repot mengambil alih pekerjaanku!” katanya lagi.

MeNdengar seruannya, aku terperanjat. Dia… dia bisa bicara. Tidak, dia bahkan menumpahiku dengan hujanan nasihat. Tenggorokanku kering seketika.

April 2016: CANTIK

“Tapi aku tidak cantik, Mi,” aku mengerutkan alis.

“Kata siapa?” wanita paruh baya itu mengusap kepalaku pelan sambil tersenyum teduh.

“Aku tahu, Ummi. Anakmu ini sudah besar, dan sudah melihat dunia dengan luas. Dia sudah bisa menilai mana cantik dan mana yang nggak cantik,” aku menghela nafas panjang. Mematut di depan cermin.

“Pandanganmu seluas dunia, Nak?” Ummi duduk di hadapanku. Membiarkan aku menikmati wajah teduhnya. Tenang.

“Ya, aku tahu idealisme itu, Mi. Cantik dilihat dari hatinya. Ummi selalu bilang begitu, kan? Tapi apa masih ada manusia di dunia ini, yang punya idealisme seperti itu?” aku melempar muka. Bukan angkuh, hanya tidak sanggup menatap wajah Ummi lebih lama.

“Jika dunia begitu membutakanmu, maka gunakanlah pandangan langit, Anak Ummi Sayang…” perempuan paruh baya itu mengecup keningku, “Maafkan jika Ummi tidak banyak berdoa pada Allah agar dikaruniai anak perempuan yang cantik fisiknya. Tapi Ummi selalu minta sejak dulu, supaya anak-anak Ummi menjadi ahli syurga yang cantik hatinya,” lanjutnya.

“Ummi, tapi dunia ini sudah sebegitu jahat dengan hanya menilai seseorang dari fisik,” aku kembali menjawab.

“Kalau begitu, paling tidak jangan biarkan kita menjadi bagian dari mereka. Siapa yang dicintai Allah, maka Allah akan menjadi pendengarannya lagi menjadi pengelihatannya. Naikkan standar cantik itu, Nak…”

Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu Ummi benar. Hati kecilku meyakininya. Miskin sekali standar cantik dalam benakku. Aku tahu. Namun di sisi lain aku juga tahu, bahwa ternyata, penjajahan fikir itu begitu dahsyat menyerang benak setiap manusia. Termasuk aku. Haruskah aku buang semua definisi dari kamus, iklan, dan internet itu?

“Tentu saja, Sayang…” Ummi memelukku seakan tahu, “orang-orang yang menggunakan mata hatinya untuk melihat, selalu saja beruntung menjalani kehidupan,” katanya lagi.

Aku tahu, Mi. Tapi…

April 2016: "JESSICA"

Namanya Jessica. Bukan, dia bukan bule kesasar atau semacamnya. Ia adalah orang pribumi tulen. Malangnya, baru saja Jessica pulang dari luar negeri tempat ia bekerja sebagai TKI dengan wajah tak berbentuk (jika tidak mau dikatakan hancur) akibat siksaan majikannya. Sekilas namanya memang terdengar asing, tapi itulah buah dari paradigma orang tuanya yang menilai bahwa nama kebarat-baratan adalah sesuatu yang keren.

Pagi ini, Jessica sudah hadir dengan rapi di tanah air. Bersyukur jenazahnya bisa diurus dengan cepat -meski heran, mengapa kasus semacam ini harus terjadi berulang kali? Bermodalkan iming-iming kekayaan dalam waktu singkat, dua tahun lalu Jessica bersama dua orang temannya nekat pergi ke negeri seberang dengan kemampuan pas-pasan. Jangankan bela diri sebagai bekal pertahanan, bahasa untuk bekerja saja ia hanya modal kamus satu milyar harga dua ribuan.

Tanah air gempar. Kabar Jessica yang wajahnya disiram air keras, punggungnya disetrika, dan tubuhnya yang digerayangi sang majikan menyebar dengan cepat. Menimbulkan kengerian yang lambat laun seakan merupakan hal lumrah: ah, itu mah sudah biasa. Dengan suasana haru biru di salah satu stasun televisi, kedua orang tua Jessica dimanfaatkan. Ya, dimanfaatkan untuk mendulang rating stasiun televisi. Menjual isak tangis dan rasa iba tak berkesudahan, dibeli seadanya. Sekelebat. Dan malang, masih juga terulang kejadian serupa.

Pagi itu, studio dengan sofa empuk, layar-layar bergambar, serta ratusan penonton; bahkan jutaan jumlahnya di seluruh negeri.

“Jadi apa harapan Ibu dan Bapak akan meninggalnya puteri tercinta di tanah seberang?” sang pembawa acara menatap simpati.

“Ndak ada, Bu. Ndak ada harapan apa-apa. Namanya juga jelata. Ya wajar saja begini nasib kami,” jawab ayahanda dengan mata berkaca-kaca. Lalu suara latar diputar, tatapan nanar dan sayu ditampilkan di layar kaca. Membiarkan penontonnya larut dalam kesedihan sementara. Ya, sementara saja. Kemudian tidak ada apa-apa. Kehidupan berjalan seperti biasa. Dua tahun kemudian, kembali terulang peristiwa yang sama.

April 2016: PASIR TERBANG

Aku punya indera keenam. Kamu juga. Setiap manusia punya. Salah satu yang jadi keunggulanku adalah membaca kepala orang lain. Membaca masa lalunya, membaca latar belakangnya, membaca jalan pikirannya. Sayang, kadang aku malas menggunakan kemampuan itu. Ia selalu sukses membuatku memaklumi setiap orang. Kadang-kadang aku hanya bosan, sesekali ingin dimengerti alih-alih selalu bekerja untuk menjadi pihak yang mengerti. Jangan dicontoh. Ini egois.

Akhir-akhir ini pikiranku rasanya ingin tumpah. Tapi sayang, seringnya tidak menemukan wadah. Bukan tidak ada, sih. Hanya saja aku seringkali lupa dan tidak sabaran. Memotret banyak kejadian dalam satu waktu, memahami banyak karakter dalam satu hela, dan menerjemahkan kode semesta yang melimpah ruah ternyata cukup menguras tenaga. Tapi ternyata aku salah. Itu bukannya melelahkan, namun aku yang terlalu malas menggunakan sumberdaya. Menyedihkan.

Aku fikir, pasir terbang itu hanya ada di film-film saja. Tapi ternyata, ia sungguhan ada. Aku mengabarkanmu, namun entah mengapa kamu tidak percaya. Jadi biar aku tuliskan saja disini, ya. Setidaknya telah kusimpan ia dalam memori dunia -meski dalam benakmu ia sungguh tiada.

Kamu tahu, dalam satu detik saja, ada begitu banyak fenomena menakjubkan dalam tiap kisah dan episode kehidupan manusia. Percaya?

(Ditulis di Kota Hujan, pada 19 April 2016 --setelah sekian lama tidak menulis panjang)

Sunday, April 3, 2016

Kelekatan Ibu-Anak (Kunci Membangun Bangsa)





Sejak membaca pendahuluan buku ini, saya seperti tengah diajak berbincang oleh Ibu Ratna Megawangi. Semoga tidak hiperbola, tapi saya merasakan bahwa Ibu Ratna menulis buku ini sungguh-sungguh dengan hati. Mengalir sekali. Ada ilmu yang hendak beliau bagikan kepada banyak orang terutama para orang tua (dan calon orang tua, tentunya) tentang kunci macam apa yang harusnya digunakan dalam hal membangun bangsa.

Pendiri Indonesia Heritage Foundation (IHF) ini mengungkapkan keyakinannya bahwa banyak orang tua sepakat dengan pernyataan “anak-anak dan remaja Indonesia banyak yang bermasalah,” namun tidak tahu mulai dari mana harus memperbaikinya. Katanya lagi, perdebatan panjang sangat mungkin terjadi, dan mungkin melibatkan berbagai pemikiran rumit dan kompleks mulai dari ideologi politik, sistem ekonomi, sosial budaya, dan sebagainya.

Ketika duduk di bangku 12 Aliyah dan dalam masa-masa pencarian jurusan, ada sebuah pemikiran dalam kepala saya, “Saya tahu negeri ini banyak masalah. Dan berdasarkan hasil pengamatan saya, akar dari semua permasalahan terletak pada akhlak manusianya. Lantas saya harus melanjutkan studi dimana, untuk mendukung kontribusi dalam hal pendidikan akhlak?” Dahulu saya berfikir untuk masuk ke fakultas keguruan. Hingga qadarullah, Allah mempertemukan saya dengan IKK (IlmuKeluarga dan Konsumen) yang saya sama sekali tidak menyangka jurusan semacam ini sungguhan eksis di Indonesia. (Cerita saya bertemu IKK bisa dibaca disini).

Satu persatu pertanyaan yang dulu banyak saya ajukan mulai menemukan jawaban. Meski tidak dipungkiri, melahirkan semakin banyak pertanyaan lainnya –saya semakin tahu betapa miskinnya saya akan ilmu. Salah satu pertanyaan itu dijawab oleh Ibu Ratna melalui buku berjudul Kelekatan Ibu-Anak ini. Beliau membuka mata saya dengan menawarkan konsep common sense (pengetahuan umum logis, ‘semua orang juga tahu’) paling mendasar dalam kehidupan seorang anak manusia. Adalah itu kebutuhan akan cinta dan kasih sayang --yang dimulai dari kelekatan cinta antara ibu dan anak (attachment). Hal yang dianggap klise memang, namun sebagaimana Ibu Ratna yakin bahwa pembacanya akan setuju bahwa masalah kelekatan cinta adalah fondasi penting bagi tumbuh kembang manusia, saya terhadap Anda pun demikian.

Dibuka dengan Bab Pendahuluan, buku ini terdiri dari sembilan bab disertai dengan beberapa lampiran. Hal yang saya sukai dari tulisan Ibu Ratna adalah bagaimana beliau memaparkan paradigmanya dengan jelas dan mudah dipahami. Penjelasan tentang kelekatan mulai dari mekanisme pembentuk, dampaknya terhadap perilaku ketika dewasa, aspek kimiawi dan hubungannya dengan perkembangan otak anak, tips membentuk kelekatan, hingga implikasi kebijakan dan program diulas menggunakan bahasa populer yang mengalir sekali.

Harlow melakukan penelitian untuk melihat dampak pemisahan ibu-bayi, namun dilakukan pada anak monyet. Bersama Zimmernan, Harlow memisahkan anak monyet tidak lama setelah dilahirkan, dan meletakkannya di sebuah kandang yang berisi 2 jenis surrogate mother (induk pengganti); yang pertama terbuat dari kawat yang dipasang sebuah tempat untuk menaruh botol susu sebagai makanan bayi monyet, dan yang kedua adalah induk yang terbuat dari kain berbulu tanpa diberikan botol susu.


Ternyata, bayi-bayi monyet tersebut berada sekitar 17 sampai 18 jam sehari bersama dengan induk dari kain berbulu, dan kurang dari 1 jam dengan induk kawat. Mereka hanya mendekati induk kawat ketika hendak minum susu saja, selebihnya kembali pada induk berbulu. Hasil penelitian ini mematahkan pendapat bahwa kelekatan bayi dengan ibunya karena alasan ingin mendapatkan makanan saja. Hal yan utama adalah kontak fisik dan kenyamanan.

Selanjutnya, dipaparkan bahwa kelekatan yang terbentuk sebagai hasil dari kontak fisik yang hangat dan transfer emosi yang penuh cinta akan sangat berperan pada pembentukan empati, nurani, dan perilaku pro-sosial. Saya beberapa kali menjumpai orang yang cenderung tidak mendukung prinsip ini, dengan alasan bahwa anak harus dididik dengan tegas dan disiplin untuk membentuknya jadi manusia yang berkarakter tangguh dan kuat. Padahal, keduanya sungguh bukan hal yang berlawanan, melainkan harus dijalankan secara seimbang, selaras, dan tepat sasaran serta caranya. Bukankah tegas dan disiplin adalah bagian dari ekspresi cinta? :)

Saya ingat perkataan salah satu khaulafaurrasyidin, Ali bin Abi Thalib. Beliau mengatakan bahwa dalam mendidik anak, dalam 7 tahun pertama perlakukan anak seperti Raja, 7 tahun kedua, perlakukan anak seperti tawanan perang, selanjutnya perlakukan anak sebagai sahabat.



Gambar di atas memperlihatkan perbedaan antara anak-anak yang diasuh secara normal dan penuh kasih sayang dengan anak-anak yang sejak bayi diasuh oleh panti asuhan di Rumania. Aktifitas otak yang paling aktif dan paling tidak aktif secara berurutan adalah warna merah-kuning-hijau-biru-hitam. Terlihat bahwa anak-anak yang sejak bayi diasuh orang tuanya memiliki warna merah dan kuning yang lebih dominan dibanding dengan anak-anak yang diasuh panti asuhan.

Meski tidak berlaku secara mutlak untuk semua kasus (mengingat ada juga anak yang lebih baik diasuh orang lain selain ibunya, jika sang ibu mengalami kelainan tertentu misalkan), setidaknya data tersebut sangat mendukung kita untuk mengatakan betapa pentingnya peran ibu dalam tumbuh-kembang anak, terutama sejak tahun-tahun pertama dimana anak sangat butuh diperlakukan sebagai 'raja'; ditumpahi kasih sayang seutuhnya. Termasuk juga peran seorang ayah, tentu saja. :)

Ada hubungan antara riwayat kelekatan orang tua ketika kecil dengan kualitas pengasuhannya. Mereka yang lekat dengan ibunya ketika kecil memiliki kecenderungan untuk melakukan pengasuhan dengan baik pula. Selain itu, kelekatan masa kecil bahkan memengaruhi kebahagiaan pernikahan, kesuksesan dalam karier, serta perkembangan spiritualitas. Dengan apik, buku ini menyediakan hasil dari studi literatur dan memaparkan penelitian terkait. Ibu Ratna juga memberikan beberapa tips praktis yang dapat dilakukan untuk membangun kelekatan, seperti rawat gabung, perawatan kanguru, sentuhan dan pijatan halus, tidur bersama, komunikasi verbal dan non-verbal, bercerita dan membaca buku, disiplin positif, dan bagaimana cara mengoreksi kegagalan kelekatan.

Salah satu kisah menarik yang beliau paparkan adalah cerita tentang orangtua (yakni ibu dari Ibu Ratna) yang pernah mengalami trauma masa kecil; mendekap adik satu-satunya yang tertembak lehernya dan meninggal dalam keadaan berlumuran darah. Sebuah trauma luar biasa, namun sungguh bisa diatasi dengan melepaskan, mengikhlaskan, berdamai, dan berbagi dengan orang lain. Akhirnya ibu dari Ibu Ratna pun berhasil membesarkan anak-anak dan meninggal usai shalat tahajud dalam keadaan tersenyum. MasyaaAllah! :')


Ah iya, buku ini saya pinjam dari Ibu Alfiasari, dosen pembimbing saya di IKK. Sebelumnya, buku ini pernah dibedah di mata kuliah Pengasuhan Anak. (Bisa dibeli di Departemen IKK IPB bagi yang berminat :)) Saya ingat betul bagaimana Ibu Ediana, dosen tamu dari IHF saat itu, memaparkan bahwa konsep pengasuhan anak modern yang didapat hari ini sungguh relevan dengan apa yang telah Rasulullah ajarkan. Hadits ini salah satunya:


Suatu hari Rasul didatangi oleh seorang Ibu (Sa’idah binti Jazi) yang membawa serta anaknya yang baru berumur satu setengah tahun. Kemudian anak tersebut diminta oleh Rasulullah. Anak tersebut mengompol/kencing. Karena mungkin segan anaknya telah mengotori Rasul maka ibu tersebut dengan agak kasar menarik anaknya dari pangkuan Rasul. Seketika itu Rasul menasihati Ibu tersebut, “Dengan satu gayung bajuku yang najis karena kencing anakmu bisa dibersihkan, tetapi luka hati anakmu karena renggutanmu dari pangkuanku tidak bisa kamu obati dengan bergayung-gayung air.”

Ya, luka di hati anak itu takkan bisa terobati meski dengan bergayung-gayung air. Ketika anak direnggut sedemikian rupa, ia akan mengalami stres. Emosi negatif menstimulasi produksi hormon stres yang akan menyebabkan sinaps-sinaps (pengubung sel-sel syaraf di otak) terhambat pertumbuhannya dan akan terpangkas (pruning). Termasuk juga terjadi pada bagian hippocampus yang menyimpan memori/ingatan, sehingga perkembangan kecerdasan anak dapat terhambat.

Secara keseluruhan, saya sangat berharap bahwa siapapun Anda, terutama bagi para orang tua, calon orang tua, pendidik, tenaga kesehatan, juga pemangku kebijakan, agar bisa membaca buku ini (semoga) -sebagaimana Ibu Ratna berharap agar konsep common sense yang ia tawarkan dapat diketahui, didukung, dan dilaksanakan untuk rencana pembangunan jangka panjang bangsa (rencana pembangunan peradaban!) :) karena sungguh, apa yang saya ulas disini hanya sepersekian bagian dari keseluruhan isi buku. Semoga dapat menjadi pengantar dan memberi manfaat.

Saturday, March 19, 2016

Tanya, Kenapa?


"Ummi, kenapa kita tidak boleh makan dan minum pakai tangan kiri?" Amira menyergap ibunya dari belakang.

"Karena yang Rasulullah contohkan, adalah dengan menggunakan tangan kanan, Sayang,"

"Loh kok Ummi jawabnya gitu. Kalau itu sih Amira juga tahu, Mi. Kenapa kita harus shalat, kenapa kita harus berzakat, ya karena Rasulullah mengajarkannya seperti itu," komentar Amira kecewa.

"Anak Ummi semakin cerdas ya shalihah. Lalu Amira maunya jawaban yang seperti apa?"

"Yang keren-keren, Ummii.. seperti.. kenapa kita nggak boleh makan daging babi? karena hewan itu banyak penyakitnya dan ga baik untuk kesehatan," Amira bertolak pinggang. Lalu tubuhnya diangkat oleh sang ibu.

"Dengarkan Ummi ya.. begini. Alasan kenapa kita melakukan atau tidak melakukan sesuatu, itu karena Allah saja. Karena sunnah Rasulullah," perempuan itu mencium pipi anaknya, "Kalau soal alasan yang Amira bilang keren, itu sih semata hikmah dari syariatnya Allah," mendengar uraian ibunya, Amira geleng kepala tanda tidak mengerti.

"Gimana sih Mi maksudnya?" dahinya mengkerut.

"Hihi, pokoknya, Ummi mau Amira menjalani hidup berlandaskan ibadah sama Allah. Bukan dengan logika semata,"

"Logika itu apa, Mi?" mendengar pertanyaan polos Amira, yang ditanyai tersenyum seraya memeluk buah hatinya.

"Kita tunggu Abi pulang ya. Nanti tanya Abi sama-sama Ummi," Perempuan itu tertawa kecil lantas mencium pipi Amira.

"Yaaah Ummiii...."

__________________

Betapa banyak dari kita yang hari ini lupa, lantas asyik mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu tanpa sadar menghadirkan penyimpangan-penyimpangan yang bertuhankan logika.

Padahal alasan paling jelas mengapa kita shalat, mengapa kita zakat, mengapa kita puasa, atau mengapa2 yang lain, bukan karena untuk menjaga kesehatan, bukan karena untuk menjaga kestabilan ekonomi. Bukan, melainkan karena Allah mensyariatkan demikian.

Kalau IPTEK yang jadi kiblatnya secara mutlak, tidak heran besok lusa bisa saja shalat diganti yoga atau meditasi. Naudzubillahi min dzaalik.

Bedakan antara alasan dengan hikmah ya Bung, Non.

Allahu a'lam.

Monday, March 14, 2016

Pemaksaan

Assalamu’alaikum, pembacaku yang baik ^^ bagaimana kabarmu? Sudah lama ya, kita tidak saling menyapa satu sama lain. Semoga kamu tidak kekurangan sesuatu apapun. Semoga kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu pasti, apa yang tengah kamu alami dalam hidupmu. Lagipula bagaimana aku bisa tahu, sementara kamu tidak pernah mengabarkannya padaku. Tapi kali ini, aku ingin mengajakmu kembali menghidupkan semangat kepercayaan. Semangat keyakinan, bahwa alam semesta ini mendukung setiap kebaikan yang hendak kita perjuangkan. Iya, benar sekali! Sudah lama bukan, kita tidak saling menyemangati?

Yang membuat diri kita lelah, sebenarnya adalah diri kita sendiri. Kita terlalu bergantung pada diri sendiri. Terlalu mudah mengatakan tidak mungkin atau tidak bisa, karena kita menyandarkannya pada –sekali lagi, diri kita sendiri. Hal itu membuat kita terlalu mudah mengeluh dan putus asa, terlalu mudah untuk mundur dan berhenti berjuang. Padahal sudah jelas bawa diri kita terlalu lemah. Maka wajar kalau sumbu semangatnya mudah hangus terbakar dan habis jika kita masih hobi sekali bergantung pada diri sendiri (baca: apalagi bergantung pada orang lain). 

Maka sebaik-baik pilihan bergantung dan menaruh harapan, sungguh bukan diri kita, melainkan Sang Pencipta. Tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Bukankah dunia ini adalah ciptaan-Nya? Dan Dia, dengan segenap ke-Mahakuasaan-Nya, dapat melakukan apapun. Dapat menjadikan segala sesuatu menjadi mungkin. Tugas kita sungguh-sungguh hanya taat dan mengupayakan yang terbaik. Aku fikir, tidak ada yang lebih keren dari usaha sungguh-sungguh yang disertai keyakinan dan keberpasrahan penuh pada Pemilik Alam Semesta. Setuju? :))

Omong-omong, aku sungguh menyayangimu.

Jadi aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus setuju. ;D

Iya, ini pemaksaan. Aku serius.

Saturday, March 12, 2016

Bahagia

"Ajari aku cara bahagia," Kaia mematung di sebelahku. Tatapannya kosong. Remaja itu telah lama kehilangan harapannya. Aku tahu, rasanya pasti pahit sekali.

"Cara bahagia adalah dengan mengizinkan dirimu bahagia," Aku mengusap pelan pundaknya. Kami tengah berdiri di lantai paling atas rumah sakit. Aku dengan jas dokterku, dia dengan pakaian pasiennya. Tapi kalau boleh jujur, saat seperti ini aku lebih merasa bahwa akulah pasien yang sesungguhnya.

"Bu Dokter, Anda kan pintar. Coba beri aku solusi yang lebih konkret. Itu terlalu abstrak," mendengar rajukannya, aku mencoba tersenyum. Lantas mengajaknya masuk ke dalam ruangan.

"Ayo masuk, udaranya semakin dingin. Hari ini cukup main di luarnya." mendengarku, ia mengangguk.

"Ajari aku cara bahagia," kembali Kaia mengulang permintaannya. 

"Baik baik. Jadi mau sekonkret apa? ah ya maaf sebelumnya, izinkan aku menguncir rambutmu. Berantakan sekali," ujarku sambil meraih sisir di laci meja. 

"Silakan, Bu Dokter. Aku mau cara bahagia yang paling sederhana. Jangan susah-susah. Aku sudah muak." intonasi bicaranya setengah meninggi. Ketus. Aku mulai menyisiri rambutnya. Anak keturunan China ini begitu keras kepala. Sukses membuatku ingat pada seseorang. 

"Aku pernah punya pasien. Mirip denganmu," 

"Lalu?" 

"Lalu dia mengajarkan padaku tentang cara bahagia yang paling konkret," Kaia tidak bergerak. Ia masih mematung. Aku menguncir rambutnya perlahan. 

"Bagaimana?" kali ini ia agak antusias. 

"Tarik nafasmu dalam-dalam sambil memejamkan mata. Rasakan bahwa kamu hidup," aku menghela nafas panjang, "lalu tersenyumlah dengan tulus, paling tidak selama sepuluh detik" ujarku lagi. 

"Hm.. terdengar mudah. Kapan aku bisa melakukannya?" 

"Kapanpun kamu mau. Lakukan setiap hari, terus-menerus," Aku duduk di kursi samping dipannya. 

"Bu Dokter, sejak kemarin aku ingin bilang sesuatu padamu," untuk pertama kalinya hari ini, gadis itu menoleh ke arahku. 

"Dengan senang hati," jawabku sambil menatap matanya lembut. 

"Anda mirip ibuku. Tapi Anda jauh lebih baik dan beradab daripadanya. Aku tahu Anda orang baik Ibu Dokter, tidak seperti ibuku. Ia membunuh anak perempuannya pelan-pelan. Ia bahkan tidak pantas lagi disebut ibu." Kaia menatapku lurus. Dapat kurasakan tatap matanya yang kosong. Dapat kurasakan hatiku yang turut perih. Kupeluk ia tanpa berkata-kata. Aku tahu, rasanya pasti pahit sekali. 

** 

"Dari mana, Bu Dokter?" Raihana, partner kerjaku di rumah sakit, menepuk pundakku. 

"Tadi menemani pasien di kamar paling ujung," kataku sambil tertawa kecil, "Apa ada yang mencariku?" 

"Tidak, aku yang mencarimu. Kaia lagi? sejak kapan senang sekali mengunjungi pasien?" mendengar pertanyaannya, aku menertawai diriku sendiri. 

"Kamu tahu? anak itu mirip sekali dengan almarhumah anakku. Kalau dulu aku gagal menjadi dokter untuk anakku, paling tidak semoga Tuhan menjadikan itu pelajaran agar aku tidak gagal menangani anak yang satu ini," ujarku seraya menyimpul senyum. 

"Kamu baik-baik saja?" Raihana menatapku prihatin. Mungkin agak menyesali pertanyaannya barusan. 

"Han, kadang-kadang, kita harus memaksakan diri. Harus berusaha bahagia dengan cara konkret yang paling sederhana -sepahit apapun keadaannya. Aku baik-baik saja," jawabku, kemudian kembali melempar senyum.

Ya, aku baik-baik saja. :)

Tulisan

Mereka yang menulis adalah orang-orang lemah. Tidak cukup kuat untuk menyimpan gagasannya sendirian. Tidak cukup kuat untuk tidak mengeluarkan apa yang terlintas dalam kepala. Aku sedang membicarakan mereka yang menulis secara sukarela. Bukan dipaksa.

Kata orang, kita dapat mengenali seseorang dengan apa yang dituliskannya. Tulisan sedikit-banyak akan memberi gambaran tentang karakter dan watak seseorang. Setidaknya dari sana, kita jadi tahu apa-apa saja yang mengisi benaknya. Kita tahu bagaimana kerangka fikirnya melalui tulisan. Tahu apa yang menjadi fokus utama sudut pandangnya, pun bagaimana ia menangkap dan menilai suatu fenomena.

Tapi sayang, sekarang ada begitu banyak penipuan merajalela di dunia. Begitu mudahnya manusia memakai topeng. Kadang-kadang jadi lucu mengingat bahwa hidup ini adalah permainan dan senda gurau belaka, tapi masih dengan lihainya manusia mempermainkan hidup. Mempermainkan permainan. Tidak perlu jauh-jauh membicarakan diri kita yang tertipu dengan tulisan orang lain. Ada yang lebih mengerikan dari itu semua: tertipu oleh tulisan kita sendiri. Tertipu oleh diri kita sendiri.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata bahwa ada suatu masa dimana manusia bijak lisannya, namun tidak memberikan teladan. Betapa banyak manusia yang pandai bicara namun miskin implementasi? Jangan, jangan bicarakan orang lain. Tatap saja cermin. Lihat diri sendiri. Sebesar apa gap antara pengetahuan dengan sikap dan perilaku kita? Kita tahu, tapi tak berdaya bahkan untuk sekadar mengatakan ‘mau’.

Kita perlu menyadari betapa lemahnya diri kita. Sama sekali tidak memiliki kendali dan kuasa, bahkan pada diri kita sendiri. Islam berarti penyerahan total pada Allah. Itu yang kudapat hari ini usai shalat gerhana matahari di Al Hurriyyah IPB. Ustadz Hasim khatibnya. Bukankah jadi lucu, bagaimana bisa kita mengaku seorang muslim tapi masih begitu overdosis atas kebergantungan diri pada makhluk? Termasuk kebergantungan pada diri kita sendiri.

Sungguh pemilik hati kita bukanlah diri kita. Ialah Allah yang memiliki. Betapa mudahnya ia membolak-balikkan. Betapa mudahnya menjungkir-balikkan keadaan hati seseorang. Tidakkah kita yang hari ini beriman padaNya merasa takut akan dicabutnya nikmat iman itu? Atau jangan-jangan sudah terlalu sombong bahwa diri kita tidak mungkin terjerembab dalam jurang? Mengerikan. Ibuku pernah bilang, bahwa kita sebagai manusia sama sekali tidak berhak sombong. Sama sekali. Ya, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Penyerahan total pada Allah sungguh adalah pilihan terbaik.

Kalau difikir-fikir, ada begitu banyak hal mengerikan dalam hidup ini. Banyak sekali ketidakjelasan yang merajalela. Entah sistem macam apa yang dibuat oleh manusia untuk memperalat dunia. Ironisnya, kadang diri kita menjadi korban ketamakan akal dengan diri kita sendiri juga sebagai pelakunya. Kita menyakiti diri sendiri. Bahasa kerennya, kita mendzalimi diri sendiri.

Mereka yang menulis adalah orang-orang lemah. Mereka tahu betapa mudahnya fikiran mereka menguap ditelan udara. Maka mengikatnya dengan tulisan boleh jadi adalah salah satu pilihan terbaik. Bukan, ini bukan tentang menulis secara harfiah saja. Tapi dalam artian yang lebih luas lagi. Maka kepada diri kita, jangan mudah tertipu. Karena apa yang ditulis tidak selamanya hadir dari kejujuran hati. Tidak percaya? Tanyakan saja pada diri kita sendiri.

Tapi bersyukurlah. Ada kabar baik. Katanya, apa yang ditulis dari hati akan sampai kepada hati. Hati yang jernih mampu membedakan mana yang nyata yang dan yang semu. Mana yang jujur, dan mana yang dusta.  Jadi kalaupun akhirnya diri kita menyadari bahwa apa yang kita tulis itu tidak tulus lagi nyata, paling tidak kita punya hati yang bersih meski hanya sepersekian bagian sekalipun. Bukan, ini bukan sebuah pemakluman. Hanya ajakan untuk bersyukur, dan menata diri agar lebih baik lagi.


Ditulis di bawah langit mendung,
Pada hari ketika gerhana mentari menyapa bumi pertiwi.


(Iya, ini postingan telat)