Wednesday, August 26, 2015
Istighfar
"Beri aku satu kalimat."
"Kalimat macam apa?"
"Yang mampu melembutkan hati, mengindahkan lisan, menyejukkan jiwa-raga."
"Ah, aku pernah dengar tentang itu!"
"Sungguh?"
"Lafadzkan istighfar, dan rasakan semesta bergetar."
Istighfar.
اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ - اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ - اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ - اَسْتَغْفِرُ اَللّهَ الْعَظِیْمَ
Ada orang yang merasa dirinya terlalu hina untuk memohon kepada Allah. Merasa enggan untuk mengucap kalmat thayyibah karena merasa diri terlalu kotor, biasa-biasa saja, dan sebagainya. Padahal, semakin kita merasa demikian, harusnya semakin kita menyadari betapa diri sangat butuh untuk memohon padaNya. Semakin kita tahu bahwa diri kita bukan apa-apa, dan sangat membutuhkan pertolongan serta belas-kasih dariNya.
Bukan karena pemahaman agama kita telah baik, bukan karena kita merasa telah begitu dekat denganNya. Melainkan, karena kita tahu betapa hinanya diri kita, karena kita tahu bahwa kita membutuhkan Dia dalam setiap hela nafas yang ada. Juga karena dengan mengingatNya, akan menjadi jembatan penghubung agar kita dekat dengan Dia; Raja dari Segala Raja.
Tidak ada ingatan yang lebih baik dari mengingat Allah. Tidak ada permohonan yang lebih baik dari memohon ampunan pada Allah.
Jika ada kalimat yang menyembuhkan luka sekaligus menumbuhkan cinta, ialah itu -istighfar.. :')
Sunday, August 23, 2015
The Doctor
The Doctor; Catatan Hati Seorang Dokter
Triharnoto
Penerbit Pustaka Anggrek
2009
Saya membaca buku ini di kota Banjarnegara. Bersama
tim Akasia, saya mengunjungi bazaar buku murah di Gedung Arsip kota
Banjarnegara yang diselenggarakan dalam rangka merayakan hari ulang tahun
kemerdekaan Republik Indonesia. Menemukan buku ini dengan harga 20.000
tentu menarik perhatian. Pasalnya, sebelum itu saya juga menemukan buku
yang sama di perpustakaan kampus. Namun sayang keinginan untuk membaca buku
tersebut belum terlunasi. Jadilah hari itu saya mengantongi dua buku baru.; The
Doctor; Catatan Hati Seorang Dokter dan sebuah buku kecil berjudul Psikologi
Konseling.
Saya banyak menemui orang yang berkeinginan menjadi
seorang dokter. Tidak sedikit kawan dekat saya yang entah bagaimana berazzam
kuat untuk menjadi dokter. Saya sendiri, sejak kecil, tidak pernah berfikiran
untuk menjadikan dokter sebagai cita-cita. Sejak dulu hingga kini cita-cita
saya tetap; guru. Pernah sih, menulis ‘insinyur’ di kolom cita-cita. Tapi itu
tidak lebih hanya karena ikut-ikutan saja tanpa pernah mengerti apa dan
bagaimana kerja seorang insinyur. Hingga saya lebih memahami bahwa cita-cita bukan sebatas profesi, saya menemukan kata yang lebih baik dari guru; pendidik. Itu akan saya jabarkan nanti.
Ketika saya duduk di bangku MAN, agak terheran-heran betapa keinginan teman-teman untuk menjadi dokter membludak sekali. Hingga suatu ketika saya pernah bertanya pada ibu saya via telepon.
Ketika saya duduk di bangku MAN, agak terheran-heran betapa keinginan teman-teman untuk menjadi dokter membludak sekali. Hingga suatu ketika saya pernah bertanya pada ibu saya via telepon.
“Mama mau, anaknya ada yang jadi dokter?” Tanya saya
polos. Saat itu diskusi tentang jurusan kuliah memang jadi topik hangat pada
giliran telepon akhir pekan kami. Mendengar pertanyaan itu, ibu saya diam
sejenak. Kemudian beliau menjawab dengan pertanyaan,
“Emangnya ade mau jadi dokter?” mendengarnya saya
tertawa kecil.
“Enggak. Hhe” jawab saya singkat. Memang hanya iseng
saja tanpa ada maksud tertentu. Hanya karena beberapa banyak karib yang
berlomba-lomba untuk lolos fakultas kedokteran, sementara saya saat itu tengah
menimbang-nimbang hendak memilih jurusan apa.
Oke kembali ke buku The Doctor. Jadi, setelah membaca
buku setebal 321 halaman ini, sepertinya fikiran saya mulai terbuka dan lebih
memahami mengapa harapan menjadi dokter layak diperjuangkan. Bukan, tentu
bukan karena materi yang biasa disebut-sebut orang kebanyakan. Lebih dari itu,
karena filosofi dan esensinya yang luar biasa. Sebagai orang yang tertarik pada
pendidikan, saya baru benar-benar menyadari bahwa dokter memiliki peran yang
sangat strategis dalam dunia pendidikan. Bahkan bukan hanya dokter, melainkan
semua profesi, semua pekerjaan, masing-masing berkontribusi dalam pendidikan
jika saja kita mau melihat lebih seksama. Terlebih bagi seorang muslim yang
dakwah ialah sebuah kewajiban, maka setiap peranan tentu penting kita
manfaatkan sebagai sarana penyampai kebaikan ajaran Islam.
Selain itu, saya juga memperoleh wawasan baru terkait
sistem di dunia farmasi dan kedokteran terutama terkait obat-obatan dari sudut
pandang seorang dokter. Ternyata urusan ini tidak semudah yang saya kira.
Dimana-mana, idealisme memang selalu saja diuji. Dimana-mana, keimanan kita
memang selalu saja diuji. Silahkan baca bukunya untuk tahu lebih lengkap, ujian
macam apa yang saya maksud. :)
Punksi, obsygn, OMI (Old Myocard Infark), KAD
(Ketoasidosis Diabetikum), ialah empat dari sekian banyak istilah yang baru
saya ketahui maknanya dari buku karangan dr. Triharnoto ini. Memang ada
banyak istilah kedokteran yang digunakan. Namun paparan penulis dengan bahasa
yang mudah dimengerti serta keterangan setiap istilah di awal buku cukup
membantu orang awam seperti saya dalam memahaminya. Ya, memperluas wawasan
sekali. :D Setidaknya saya jadi bersemangat untuk membaca buku-buku lain. –Jadi
nanti kalau anak (murid) saya ada yang bercita-cita jadi dokter atau profesi
lainnya, atau bertanya berbagai macam hal, setidaknya saya mempunyai sedikit
bekal untuk berbagi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Dalam bukunya, dr. Triharnoto menulis dengan ringan, mengalir, dan sesekali renyah. Saya tidak sedang promosi, hanya cukup terkejut juga mendapati buku ini tidak seberat yang saya sangka. Isinya lebih banyak bercerita tentang pengalaman-pengalaman beliau selama menjalani profesinya tersebut. Sesekali jadi tegang pada bagian pemeriksaan pasien, perlakuan operasi, apalagi ketika beliau cerita bagaimana jantung diangkat dan dihentikan, kemudian didetakkan lagi. Jadi kaya akan hikmah pada bagian interaksi beliau dengan pasien-pasiennya, termasuk ketika beliau menjadi pasien bagi seorang dokter gigi. Saya sangat menikmati kisah interaksi beliau dengan para pasien; tentang sisi kemanusiaan. Bahasa kerennya: silaturrahim dengan pasien tidak berhenti ketika pasien keluar dari rumah sakit.
Apapun peranan kita, humaniora memang dibutuhkan. Sisi
kemanusiaan tidak akan pernah lepas dari manusia itu sendiri, bukan? Membaca buku
ini membuat saya semakin yakin bahwa Allah memberikan setiap hambaNya pelajaran
secara spesial, dengan jalan masing-masing. Pelajaran yang Allah sampaikan boleh
jadi seragam; tentang kesabaran, kesungguhan, dan bagaimana menghargai dan
menikmati setiap proses. Namun Allah yang Maha Kaya itu selalu memiliki kekayaan
cara dalam menyampaikan kepada setiap hambaNya. Itu juga kan, yang membuat
ada begitu banyak kisah inspiratif bermunculan? Bagaimana jika kisah
pembelajaran hidup hanya disampaikan Allah dengan satu cara? Mungkin acara-acara
semacam talkshow motivasi tidak akan jadi menarik lagi.
“Meski menegangkan karena menyangkut nyawa manusia,
tapi dengan niat baik menolong pasien, lakukan saja yang terbaik yang Anda
bisa.”
“Saya menyesal terlambat melihat pasien sehingga tidak
dapat kesempatan menolongnya. Walaupun bisa saja pasien tetap tidak tertolong,
meski saya menolongnya.”
Dua pernyataan di atas adalah salah dua dari beberapa
kalimat yang dicetak besar dalam buku The Doctor ini. Ya, ada pelajaran penting
yang kembali diulang-ulang disana. Ialah tentang mengusahakan yang terbaik.
Selagi niat kita baik, cara yang kita tempuh baik, tujuan kita baik, maka
lakukan saja, usahakan yang terbaik. Ikhtiarkan seoptimal dan
se-sungguh-sungguh mungkin. Tugas kita cukup sampai sana. Manusia tidak perlu
dibuat repot dengan memikirkan hasilnya. Itu hak prerogratif Allah. Allah Maha
Tahu yang terbaik, sedang pengetahuan kita terbatas sekali. Manusia punya
bagiannya, sementara Rabb kita lah yang Maha Kuasa.
Saya jadi ingat alasan kenapa
saya ingin menjadi seorang pendidik. Pernah guru saya bertanya alasan saya
menulis ‘educator’ pada kolom cita-cita. Saat itu saya menjawab, bahwa menjadi
seorang pendidik itu bukan pilihan, melainkan keharusan. Jadi apapun kita,
profesi apapun, jabatan apapun, pada bagian manapun kita bergerak, menjadi
pendidik adalah sebuah niscaya. Banyak orang yang menilai jawaban semacam ini
tidak spesifik dan tidak fokus. Sama seperti orang yang ketika ditanya mau jadi
apa, maka jawabannya ‘ingin menjadi orang baik’. Tapi bagi saya, menjadi
seorang pendidik adalah kalimat paling pas menjawab apa yang benar-benar saya citakan.
Persoalan profesi dan lain-lain, targetan karya atau semacamnya, tidak lain
hanya turunan dan hanya cara yang saya gunakan untuk menggapai cita-cita
sungguhan saya tersebut.
Seperti kita yang merupakan seorang muslim. Cita-cita
kita adalah meraih ridha Allah. Maka perangkat-perangkat yang kita gunakan
tidak lain adalah cara kita untuk menggapai cita-cita tersebut.
Semoga kita tidak dibatasi oleh teori-teori. Tidak
terjebak dalam mimpi sendiri. Tidak pula terlalu sibuk dengan realisasi. Karena
Allah, dengan kekuasaanNya, selalu memiliki kejutan-kejutan hebat bagi semesta;
bagi setiap hambaNya -termasuk kita.
Terakhir, semangat yang mau jadi dokter, juga calon ahli farmasi! :)
Untuk teman2, kakak2, juga adik2 saya, semoga kalian menjadi pendidik super di lembaga spesial berpayung kesehatan. Tetaplah jadi manusia yang memanusiakan manusia.
Ditulis di Banjarnegara,
20 Agustus 2015
Wednesday, July 15, 2015
Tentang Hati
"Kedekatan hati itu tidak rumit, Nak. Kalau dua hati sama-sama terkoneksi dengan Allah, mereka akan senantiasa menemukan cara untuk saling menyapa meski tanpa kata. Mereka akan selalu menemukan cara untuk bertukar kabar meski tanpa jumpa. Kalau dua hati sama-sama terkoneksi dengan Allah, maka tidak perlu lah saling kenal sejak lama, janjian ketemuan, atau hal remeh-temeh semacam itu jadi syarat atas kedekatannya. Mereka akan jadi dekat oleh sebab iman dalam hatinya."
"Ummi sama Tante Zahra dulu begitu? dekat karena Allah?"
"Iya. Ummi sama Tante Zahra bahkan nggak pernah satu almamater. Dulu Ummi pertama kali ketemu Tante di halte bis. Tahu-tahu orangnya ramah sekali."
"Ummi sama Ustadzah Firda juga begitu?"
"Iya, Sayang. Ummi dekat dengan beliau sejak pertama kali sampai ke kota ini. Beliau tetangga pertama yang mengetuk pintu rumah sambil bawain kue buatannya."
"Terus mana bagian imannya, Mi?"
"Orang-orang yang dalam hatinya punya iman, akan dekat dengan sendirinya. Ada ikatan persaudaraan sebagai sesama muslim. Ukhuwah namanya." jawab perempuan yang sedari tadi disapa Ummi itu sambil mengaitkan kedua kelingking tangannya.
"Ummi?"
"Ya?"
"Ummi sama Abi juga begitu?" pertanyaan anaknya kali ini mengundang tawa kecil.
"Iya Amira sayang. Nanti Amira akan mengerti. Sekarang yang penting kuatkan iman Amira. Iman itu dikuatkan dengan selalu ingat sama Allah. Mulai dari Amira bangun tidur, ingat bahwa Allah yang membangunkan. Amira mandi melihat air, bersyukur Allah beri kesempatan bertemu air. Begitu terus sampai Amira tidur lagi, ingat bahwa hari ini Allah sudah baik sekali mengizinkan Amira bermain, pergi sekolah, mengaji, bertemu teman-teman. In syaAllah dengan iman yang ada, kita akan bertemu orang-orang baik yang juga beriman sama Allah." jawab perempuan itu sambil tersenyum. Anaknya mengangguk-angguk (seakan) mengerti.
"Ummi sama Amira pasti juga begitu," gadis kecil itu mengaitkan kedua kelingking tangannya, kemudian melanjutkan, "Amira dekat dengan Ummi karena kita berdua beriman sama Allah." lantas memperlihatkan gigi-giginya yang berbaris rapi. Perempuan yang sedari tadi disapa Ummi kemudian menyeka kedua sudut matanya.
Monday, July 13, 2015
Perempuan
“Surga ada di
telapak kaki ibu.”
-Muhammad SAW-
Perempuan: Peran dan Kontribusinya
Bicara tentang
perempuan berarti berarti bicara tentang eksistensi, peran, serta dampak
keberadaannya dalam kehidupan. Perempuan dalam perkembangan zaman mengalami
tapak sejarah yang begitu dinamis. Mulai dari perempuan yang dikubur
hidup-hidup karena dianggap sebagai aib lagi hina; perempuan yang dianggap
memiliki jiwa namun tidak kekal dan hanya bertugas sebagai pelayan; perempuan
yang diperlakukan sebagai budak dan di-nomor-duakan; hingga pada ahirnya
sampailah risalah Islam yang memberikan pencerahan bahwa perempuan memiliki
bagiannya tersendiri dalam kehidupan. Eksistensi serta peranan perempuan nyata –bahkan
ia begitu dimuliakan. Perempuan memperoleh kedudukan istimewa dengan menjadi
madrasah pertama dan utama bagi setiap manusia; berperan sebagai seorang ibu
dalam kehidupan.
Kualitas perempuan
sebagai ibu sangat menentukan kualitas tumbuh-kembang anak-anaknya. Kalimat
“Mendidik perempuan Sama dengan Mendidik Bangsa” besandar pada alasan bahwa ibu
yang cerdas akan mencerdaskan anak-anaknya. Lebih dari itu, kualitas baik
perempuan yang berperan sebagai seorang ibu juga turut menentukan kualitas
keluarga. Sebagai unit terkecil dari masyarakat, keluarga berperan penting
dalam berbagai aspek, terutama sebagai sarana primer pembentukan karakter anak.
Adapun karakter baik anak adalah investasi yang dapat menjadi salah satu tolak
ukur kemajuan bangsa di masa depan.
Penting bagi
perempuan untuk menjadi sumberdaya manusia yang berkualitas. Berkualitas yang
dimaksud adalah memiliki kualitas secara luas dan menyeluruh mengingat peran
perempuan yang memiliki dampak jangka panjang yang besar bagi peradaban. Pada
pembukaan acara International Muslim Women Union (IMWU) 14 Februari 2015 lalu,
Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan bahwa
negara yang baik ditandai dengan kaum perempuan yang baik. Menurutnya,
perempuan pada hakikatnya merupakan tiang, bahkan fondasi negara. Sebab pada
setiap pemimpin yang berhasil memimpin negara, kata beliau, ada perempuan di
sampingnya. Hal tersebut tentu menjadikan perempuan sebagai pedang bermata dua.
Kualitas perempuan yang baik akan berdampak positif secara luas. Namun
sebaliknya, jika kualitas perempuan rendah, tentu akan berdampak negatif secara
luas pula.
Perempuan sebagai
individu memiliki tanggung jawab sosial terhadap lingkungannya. Kepekaan sosial
merupakan salah satu aspek kualitas yang penting diperhatikan perempuan sebagai
makhluk sosial. Sebagaimana ditulis oleh Kartini dalam catatan hariannya pada
Januari 1903; “Siapa yang akan menolak jika dikatakan bahwa perempuan mempunyai
tugas mulia untuk membentuk moral masyarakat?”. Lebih jauh lagi, dengan meneladani
ibunda Khadijah yang menunjukkan tanggung jawab sosialnya melalui
kedermawanannya, juga ibunda Aisyah yang mengambil peran besar pada lingkungan
sosial dengan kecerdasannya. Maka perempuan, dalam memenuhi tanggung jawab
sosialnya sebagai individu dan sebagai bagian dari masyarakat, hendaknya
menyesuaikan dengan apa yang ada pada dirinya. Hendaknya ia memaksimalkan
potensi yang dimiliki demi kebermanfaatan yang besar dan meluas.
Ada begitu banyak
perempuan yang berperan serta berkontribusi di dalam sejarah peradaban manusia.
Baik itu yang secara terang-terangan, maupun yang tidak tertulis dan tidak
tercatat dalam lembar catatan sejarah. Perkembangan
peran perempuan di masyarakat menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Hal
tersebut tentu menunjukkan suatu hal positif selagi perempuan menjalankan
perannya secara tepat dan komprehensif. Namun sayangnya, dewasa ini banyak
terjadi pergeseran paham yang dikhawatirkan justru akan menyebabkan bumerang
tersendiri bagi perempuan. Peran perempuan pada sektor publik yang berlebihan
rentan mengganggu perannya sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya baik sadar
maupun tidak. Maka dari itu, peran perempuan dalam sejarah peradaban manusia
memiliki artian yang luas sejauh perempuan memiliki pemahaman baik akan dirinya
dan hal apa yang selayaknya ia lakukan dalam peradaban itu sendiri.
Ada perempuan yang
sukses mengelaborasikan perannya, baik itu sebagai seorang ibu maupun pemenuhan
tanggung jawab sosialnya sebagai individu di tengah-tengah masyarakat. Di
Indonesia pada generasi awal, salah satunya yaitu Nyonya Abdoerachman yang
mendirikan berbagai sarana untuk masyarakat mulai dari mendirikan Sekolah
Kartini, sebagai pencetus organisasi Kemadjuan Istri yang memperkenalkan
beberapa pelatihan tentang cara mengasuh dan membesarkan anak, hingga
mendirikan konsultasi gizi untuk anak-anak hasil kerjasama dengan seorang
pejabat WHO, Dr. J. H. de Haas. Bukan hanya itu, tapi beliau juga memberikan
pendidikan membaca AlQuran, sejarah Jawa, dan pendidikan modern hingga tingkat
universitas kepada anak-anaknya sepeninggalan sang suami.
Kisah Nyonya
Abdoerachman secara tidak langsung mengamini pernyataan yang tertulis di atas,
bahwa ibu yang cerdas akan mencerdaskan bangsanya. Kualitas perempuan dalam
lingkugan sosial baik itu kualitas berinteraksi dengan masyarakat, memenuhi
tanggung jawab sosialnya dalam membangun moral, maupun kontribusi sesuai
potensi yang ia miliki, sejatinya merupakan bekal bagi perempuan dalam proses
pengasuhan tumbuh-kembang anak-anaknya kelak. Bahkan boleh jadi dari sanalah anak-anaknya
kelak terinspirasi dan memiliki semangat juang untuk turut berkiprah menebar
kebermanfaatan di masyarakat sesuai dengan bidangnya masing-masing.
Membicarakan kontribusi perempuan pada pembangunan
bangsa tentu tidak bertumpu pada persoalan pendidikan dan pengasuhan anak
semata. Melainkan juga dari segi perekonomian. Tidak dapat dipungkiri, ada
begitu banyak masyarakat kita yang perempuanya turut bekerja mencari nafkah
demi kelangsungan hidup keluarga. Bahkan semakin kesini hal tersebut semakin
lumrah dan dianggap biasa. Sejatinya, perempuan yang bekerja di rumah sebagai
ibu rumah tangga pun sebenarnya memiliki kontribusi terhadap perekonomian
bangsa. Bahkan dapat dikatakan memberi sumbangsih yang besar. Hanya saja dalam perhitungan ekonomi negara, hal tersebut tidak
diperhitungkan secara eksakta sebab tidak mudah mengkonversinya menjadi satuan
angka.
Namun demikian,
kontribusi terbesar perempuan terhadap pembangunan bangsa tetap terletak pada
perannya sebagai seorang ibu. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa
peran seorang ibu ialah sebagai madrasah, sebagai sekolah yang pertama dan
utama bagi anak-anaknya. Maka peran perempuan sejatinya sangat strategis. Tidak
hanya saat anak-anaknya berada pada usia kanak-kanak, melainkan perannya
berkelanjutan hingga mereka tumbuh dewasa dan membentuk keluarga sendiri.
Dampak yang diberikan barang tentu tidak secara instan dan mungkin tidak
terlihat secara langsung. Akan tetapi, secara tidak langsung akan ada begitu
banyak ranah pembangunan bangsa yang diwarnai oleh dukungan perempuan.
Maka ketika kita
bicara tentang perempuan, artinya kita bicara tentang sosok ibu –yang di bawah
telapak kakinya lah surga dikabarkan berada. Surga ada di telapak kaki ibu;
ialah sebuah kalimat sederhana yang mengandung begitu banyak makna. Jika
seorang perempuan memiliki kualitas baik, maka baik pula lah kualitas anaknya,
baik pula kelak bangsanya. Disanalah ‘surga’ itu ada. Sebaliknya, jika kualitas
perempuan pada suatu bangsa rendah, maka tidak heran jika masa depan bangsa
tersebut dikhawatirkan kemajuannnya. Akhirnya, semoga jumlah perempuan kita
yang jumlahnya lebih dari setengah dari total ini menjadi potensi positif bagi
masa depan dan pembangunan bangsa, bukan sebaliknya.
Referensi:
Kemenag. 2015. Menag: Perempuan adalah Tiang Negara. http://www.kemenag.go.id/index.php?a=berita&id=239391 (diakses 25 Juni 2015).
Puspitawati, Herien. 2012. Gender
dan Keluarga: Konsep dan Realita di Indonesia. Bogor: IPB Press.
Republika. 2009. Masa Kelam Nasib Perempuan Pra-Islam. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/isl,am-nusantara/09/07/09/61229-masa-kelam-nasib-perempuan-pra-islam (diakses 25 Juni 2015).
Steurs, Cora
Vreede-de Stuers. 2008. Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian.
Elvira Rosa, Paramita Ayuingtyas, Dwi Istiani, Penerjemah. Depok: Komunitas
Bambu. Terjemahan dari: The Indonesian Women: Struggles and Achievement.
Tulisan ini dibuat dalam partisipasi lomba menulis artikel oleh Jasmine tentang Manner in Move seorang perempuan.
Monday, June 15, 2015
Air Mail #7
Ada yang diam-diam memerhatikanmu; debu
Ada yang diam-diam mendoakanmu; angin lalu
Ada yang diam-diam mencintaimu; Al-Adlu
![]() |
| Photo by Nida Khansa Nazihah |
Ada yang diam-diam cemburu padamu; Aku.
**
AIR MAIL
Surat ketujuh.
Ini adalah surat ketujuh yang kubiarkan dunia tahu.
Assalamu'alaik Aster, apakah kau baik-baik saja?
Aku sekarang semakin baik. Semakin baik tanpa kehadiranmu lagi. Semakin mampu mengontrol diri. Semakin banyak mengerti. Semakin paham akan pesan-pesan tersembunyi milikmu di hari-hari lalu. Semakin yakin bahwa tidak pernah ada perjumpaan yang sia-sia. Selalu ada hal baik, apapun persoalannya, bagaimanapun perjalanannya.
Selamat pagi, Aster. Apakah kau baik-baik saja?
Aku sekarang semakin baik. Semakin sering menorehkan kata. Semakin gemar mengikat hikmah. Semakin tahu akan esensi kehidupan. Semakin menyadari betapa aku sama sekali tidak rugi berjumpa denganmu. Semakin percaya bahwa tidak ada rencana Tuhan yang tak bermakna. Selalu ada hal baik, apapun persoalannya, bagaimanapun perjalanannya.
Aku disini semakin baik. Meski kalau boleh jujur, Aster, ketika kau pergi saat itu, ada hal lebih buruk yang hadir dalam hidupku dari merasa kehilangan akan atmosfer semangat dan energi luar biasa milikmu. Ialah perasaan hampa; kepada siapa lagi aku hendak jatuh sayang sekaligus cemburu dalam satu waktu?
Lalu kata-katamu menggema di langit.
Berhentilah jadi manusia yang terlalu sentimentil, Razen. Kau punya hidupmu sendiri. Pergilah, lalu temukan sosok-sosok yang lebih patut untuk dicemburui. Jangan berhenti pada pintu gerbang panti atau bukit ilalang kita. Pergilah. Karena aku pun akan segera pergi. Kita bukan anak kecil lagi.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Selamat sore, Tuan. Apakah disini jual bunga aster?"
"Aster?"
"Ya, kalau bisa yang warnanya putih."
"Biar kau kelilingi kota ini pun, tidak akan ada toko bunga yang menjual bunga aster, anak muda." jawab lelaki berkumis itu sambil terkekeh. Razen tersenyum tipis.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aster. Bagaimana kabarmu? kabarku disini semakin baik. Semakin yakin dan percaya, bahwa tiada rencana Tuhan yang tanpa makna. Semakin memahami, bahwa selalu ada hal baik apapun persoalannya, bagaimanapun perjalanannya.
Ini aku. Kawan lamamu-saudaramu,
Razen.
27 Sya'ban 1436 H
Friday, June 5, 2015
Kuasar
"Ada banyak hal mengkhawatirkan akhir-akhir ini, Le." Mbah Mukhtar lagi-lagi memulai kalimat petuahnya.
"Apa lagi, Mbah?" aku menanggapi. Sedang tidak terlalu tertarik membicarakan hal-hal berat.
"Jaman sekarang ini ndak seperti jamanku dulu." Beliau menghela nafas panjang. "Orang-orang sibuk menjadi baik agar mendapat pandangan baik dari orang lain. Tidak tulus dari sini." Mbah Mukhtar menunjuk dadanya sendiri. Aku memicingkan mata. Mungkin aku mulai tertarik.
"Mbah tau darimana soal ketulusan seseorang?" ujarku seraya mengambil sepotong singkong goreng yag masih mengepul di hadapan kami.
"Haha, dasar. Makin pintar saja Kau ini, Le." Mbah Mukhtar tertawa. Kedua matanya menyipit. Aku melahap singkong goreng di tanganku. Tidak berkomentar.
"Aku ini cuma khawatir. Banyak kebaikan yang dikomersialkan, diperdagangkan. Orang jadi berlomba-lomba dalam kebaikan supaya dikenal baik."
"Mungkin itu untuk menandingi keburukan yang juga banyak dibicarakan, Mbah? bukannya lebih baik kita ngomongin kebaikan?"
"Itulah tantangannya, Le. Mbah khawatir lama-kelamaan akan jadi bumerang. Lha niatnya mau begitu tapi pas praktik malah ngelenceng, gitu loh." mendengarnya, aku manggut-manggut. Benar juga kata Mbah Mukhtar. Memang kemajuan teknologi sekarang sangat mempermudah orang-orang untuk berbagi apapun.
"Benar tho?" Lelaki yang sudah tidak bisa dikatakan muda itu menodongku dengan singkong goreng.
"Iya, benar Mbah. Terus lebih baik gimana, Mbah?"
"Yaa, Mbahmu ini juga ndak tahu, Le. Kamu ini lebih pintar. Pendidikanmu tinggi. Yo masak tidak bisa menyimpulkan? Haha" rambutku diacak-acak Mbah Mukhtar. Seperti biasa.
"Menjadi Kuasar." Jawabku singkat. Mbah Mukhtar membelalakkan matanya.
"Apa itu Kuasar?"
"Benda di antariksa, Mbah. Di jagad raya kita. Jaraknya jauh sekali, ukurannya sangat kecil, kalau dilihat dari bumi."
"Lantas apa bagusnya?"
"Kuasar memang kecil kalau dilihat dari sini. Bahkan masih terlihat kecil seperti bintang, walaupun dilihat pakai teleskop terbesar sekalipun. Tapi cahayanya cemerlang. Dan ukuran sebenarnya lebih besar dari bintang maupun planet. Ia melepaskan energi lebih besar ribuan kali lipat dibandingkan energi yang dilepas galaksi Bimasakti tempat kita tinggal sekarang." Lalu hening sejenak. Kami berdua asyik menikmati singkong goreng. Tak lama, Mbah Mukhtar kembali berujar.
"Benar, Le. Kadang-kadang kita memang harus beralih dari Sirius." Aku memandang Mbah Mukhtar takjub demi mendengar tanggapannya barusan.
"Mbah tahu Sirius?"
"Bintang malam yang paling terang, bukan?" jawabnya sambil terkekeh. Aku tertawa. Tidak pernah sebangga ini pada seseorang kecuali pada Mbah Mukhtar.
Pada akhirnya yang semu akan berakhir semu. Yang tampak tidak selamanya nyata. Tapi kebaikan hakiki dari lubuk hati, akan tercatat abadi. Tuhan tidak pernah mensyaratkan apa-apa bagi kita yang ingin berbagi. Tidak harus jadi pandai, terkenal, kaya, apalagi punya jabatan tinggi. Berbuat baik saja tanpa henti. Biar harumnya menyeruak sendiri. Tidak perlu kita ingat-ingat, terlebih diungkit-ungkit. Kalaupun oranglain tidak peduli, untuk apa pula kita harus peduli akan ketidak-pedulian oranglain?
Seperti Kuasar yang tidak semasyhur Sirius.
Seperti Kuasar yang kecil terlihat dari bumi, tapi diam-diam menebarkan energi berkali-kali lipat -melampaui Bimasakti.
"Apa lagi, Mbah?" aku menanggapi. Sedang tidak terlalu tertarik membicarakan hal-hal berat.
"Jaman sekarang ini ndak seperti jamanku dulu." Beliau menghela nafas panjang. "Orang-orang sibuk menjadi baik agar mendapat pandangan baik dari orang lain. Tidak tulus dari sini." Mbah Mukhtar menunjuk dadanya sendiri. Aku memicingkan mata. Mungkin aku mulai tertarik.
"Mbah tau darimana soal ketulusan seseorang?" ujarku seraya mengambil sepotong singkong goreng yag masih mengepul di hadapan kami.
"Haha, dasar. Makin pintar saja Kau ini, Le." Mbah Mukhtar tertawa. Kedua matanya menyipit. Aku melahap singkong goreng di tanganku. Tidak berkomentar.
"Aku ini cuma khawatir. Banyak kebaikan yang dikomersialkan, diperdagangkan. Orang jadi berlomba-lomba dalam kebaikan supaya dikenal baik."
"Mungkin itu untuk menandingi keburukan yang juga banyak dibicarakan, Mbah? bukannya lebih baik kita ngomongin kebaikan?"
"Itulah tantangannya, Le. Mbah khawatir lama-kelamaan akan jadi bumerang. Lha niatnya mau begitu tapi pas praktik malah ngelenceng, gitu loh." mendengarnya, aku manggut-manggut. Benar juga kata Mbah Mukhtar. Memang kemajuan teknologi sekarang sangat mempermudah orang-orang untuk berbagi apapun.
"Benar tho?" Lelaki yang sudah tidak bisa dikatakan muda itu menodongku dengan singkong goreng.
"Iya, benar Mbah. Terus lebih baik gimana, Mbah?"
"Yaa, Mbahmu ini juga ndak tahu, Le. Kamu ini lebih pintar. Pendidikanmu tinggi. Yo masak tidak bisa menyimpulkan? Haha" rambutku diacak-acak Mbah Mukhtar. Seperti biasa.
"Menjadi Kuasar." Jawabku singkat. Mbah Mukhtar membelalakkan matanya.
"Apa itu Kuasar?"
"Benda di antariksa, Mbah. Di jagad raya kita. Jaraknya jauh sekali, ukurannya sangat kecil, kalau dilihat dari bumi."
"Lantas apa bagusnya?"
"Kuasar memang kecil kalau dilihat dari sini. Bahkan masih terlihat kecil seperti bintang, walaupun dilihat pakai teleskop terbesar sekalipun. Tapi cahayanya cemerlang. Dan ukuran sebenarnya lebih besar dari bintang maupun planet. Ia melepaskan energi lebih besar ribuan kali lipat dibandingkan energi yang dilepas galaksi Bimasakti tempat kita tinggal sekarang." Lalu hening sejenak. Kami berdua asyik menikmati singkong goreng. Tak lama, Mbah Mukhtar kembali berujar.
"Benar, Le. Kadang-kadang kita memang harus beralih dari Sirius." Aku memandang Mbah Mukhtar takjub demi mendengar tanggapannya barusan.
"Mbah tahu Sirius?"
"Bintang malam yang paling terang, bukan?" jawabnya sambil terkekeh. Aku tertawa. Tidak pernah sebangga ini pada seseorang kecuali pada Mbah Mukhtar.
Pada akhirnya yang semu akan berakhir semu. Yang tampak tidak selamanya nyata. Tapi kebaikan hakiki dari lubuk hati, akan tercatat abadi. Tuhan tidak pernah mensyaratkan apa-apa bagi kita yang ingin berbagi. Tidak harus jadi pandai, terkenal, kaya, apalagi punya jabatan tinggi. Berbuat baik saja tanpa henti. Biar harumnya menyeruak sendiri. Tidak perlu kita ingat-ingat, terlebih diungkit-ungkit. Kalaupun oranglain tidak peduli, untuk apa pula kita harus peduli akan ketidak-pedulian oranglain?
Seperti Kuasar yang tidak semasyhur Sirius.
Seperti Kuasar yang kecil terlihat dari bumi, tapi diam-diam menebarkan energi berkali-kali lipat -melampaui Bimasakti.
Subscribe to:
Posts (Atom)



