Wednesday, May 13, 2015

Mbah Mukhtar: Mimpimu itu terlalu loyo, Le!

Aku bergidik mendengar Mbah Mukhtar tertawa

“Kenapa alismu mengangkat begitu, heh?” matanya menyipit.

“Mbah ketawanya begitu, sih. Serem.” Aku memalingkan pandangan dari wajah Mbah Mukhtar

“Haha, kamu ini, Le. Jadi pemuda kok ya loyo begitu,” lelaki tua itu mengacak-acak rambutku.

“Apanya sih Mbah, yang lucu dari cita-citaku?” Aku merasa direndahkan. Baru saja kuutarakan perihal impianku pada beliau; meminta doa restu agar Gusti Allah mempermudah setiap urusanku. Tapi Mbah Mukhtar malah tertawa terbahak-bahak.

“Mimpimu itu terlalu loyo, Le.” Kali ini Mbah Mukhtar menatapku teduh sambil tersenyum. Matanya seakan hendak berbicara banyak.

“Loyo kenapa?” aku masih tidak terima. Mbah Mukhtar meghela nafas.

“Padi itu memberi, lantas ia dicari. Bukan karena ingin dicari lantas ia memberi. Pikirkan itu baik-baik, Le. Niat dalam hati berarti sudah setengah perjalanan. Jangan sampai kau buat setengah jalan itu menyimpang.” Mbah Mukhtar menyelesaikan kalimatnya kemudian pergi meninggalkanku di warung singkong favorit kami.

**

Aku mematung di depan cermin. Bagian mananya sih, yang loyo?

“Apa yang loyo dari cita-cita ingin dapat gelar pendidikan tinggi-jadi orang kaya-menang dalam berbagai perlombaan, supaya bisa memberi manfaat bagi orang lain? Bukannya itu sudah mulia sekali?” ujarku pada diri sendiri. Aku geleng-geleng kepala. Tidak mengerti maksud Mbah Mukhtar.

**

Siang itu Mbah Muktar terkekeh seraya menyeruput kopi hitamnya. Aku duduk diam sambil memerhatikan gerak-gerik pemilik suara serak itu. Menunggu jawaban macam apa yang akan dilontarkannya.

“Lee, Kau tanya apa maksudku tempo hari?”

“Nggak ngerti aku Mbah”

“Sini, duduk dulu disitu. Tunggu sebentar” Mbah Mukhtar masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian beliau keluar membawa sebuah buku kecil bersampul cokelat tua.

“Mbah punya diari juga?” tanyaku iseng

“Diari apa tho Le, ini buku catatan mendiang Mbah Putri” ujar Mbah Mukhtar pelan. Kali ini suaranya agak bergetar.

“Oh…” aku tidak tahu harus berkata apa. Mbah Putri memang sudah lama meninggal dunia karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

“Sini, baca baik-baik” Mbah Mukhtar menyodoriku salah satu halaman buku. Tinta bolpointnya sudah menguning, selaras dengan kertasnya.

Hari ini aku berdjumpa denganja. Sederhana dan banjak tawa. Murah senjum. Bukan menyungging senjum padaku, tentu sadja. Tapi pada anak didiknja di surau tua itu. Kali pertama aku mendjumpai pemuda jang belakangan dibicarakan warga kampong. Dia pendatang dari kampong sebelah. Murid dari guru besar di ibu kota. Tapi bukan itu yang membuatku djadi begitu penasaran akan sosoknja. Melainkan tjerita dari paman Soedarsono, katanja ia punya budi jang baik. Berbudi dan bertjita-tjita luhur. Ia mengabdikan dirinja untuk pendidikan anak-anak. Beberapa kali pula mengirimkan tulisan ke surat kabar agar didengar oleh para petinggi negeri, oleh khalajak luas betapa ada begitu banjak anak negeri jang membutuhkan pendidikan lajak serta guru jang berkualitas. Awalnja aku tidak terlalu pertjaya. Tapi melihat sosoknja tadi sore di surau, aku jadi tahu. Ketulusan itu memancar dari setiap sudut geraknja. Aku ingat nasihat paman Soedarsono. Ketika memiliki kemauan untuk djadi bermanfaat bagi sesama, maka segaa djalan djadi djembatannja selagi halal dan baik tjaranya. Bukan mentjari djembatan dahulu lalu mentjari-tjari manfaat apa jang bisa dipersembahkan. Padi itu memberi, lantas ia ditjari. Bukan karena ingin ditjari lantas ia memberi.

Aku mengernyitkan dahi. Tidak benar-benar mengerti maksud Mbah Mukhtar menunjukkn tulisan ini padaku.

“Ini Mbah Putri ngomongin tentang Mbah?”

“Haha, sepertinya begitu, Le. Kau tahu lah, orangtua macam Mbah ini ndak banyak yang bisa diomongin selain cerita-cerita masa lalu macam ni.” Mendengar perkataan Mbah Mukhtar, aku memutar otak. Berfikir keras maksud kode-kode yang sedari kemarin Mbah Mukhtar lontarkan padaku. Padi itu memberi, lantas ia dicari. Bukan karena ingin dicari lantas ia memberi.

“Mbah…” aku menolehkan muka ke hadapan Mbah Mukhtar

“Ya?” kakek nyentrik itu mengangkat kedua alisnya.

“Aku ngerti maksud Mbah sekarang.” Senyum simpulku mengembang diiringi dengan anggukan kepala. Mba Mukhtar menyambutnya dengan tawa. Membahana seperti biasa. Refleks kucium takzim tangan beliau.

***

Kalau pendahulu kita diuji dengan medan juangnya yang berliku, maka generasi kita diuji dengan hal mendasar yang seringkali terlupa: niat. Banyak pemuda yang sibuk menulis proposal, sibuk turun ke desa, sibuk rapat, sibuk mendirikan komunitas sosial, sibuk berdiri di podium-podium kehormatan, sibuk menulis, sibuk membaca, sibuk mengikuti berbagai perlombaan, sibuk ikut konferensi-konferensi, sibuk berbagi –atas nama pengabdian. Sayangnya, banyak pula yang melupakan esensi mendasar dari semua kegiatan sibuk tersebut.

Pengabdian menjema jadi sebatas gengsi. Ajang perlombaan perlahan bermetamorfosis menjadi sarana unjuk gigi. Bukan lagi ingin bermanfaat lantas disalurkan dengan pencapaian dan prestasi. Justru pola fikirnya jadi terbalik: mau berprestasi, maka harus cari cara bagaimana jadi ‘bermanfaat’ agar prestasinya tercapai. Agar dipandang tinggi sosialnya; agar ada kepuasan atas semacam gelar dan penghargaan.

Ikut perlombaan supaya masuk tingkat nasional -hingga internasional- dan harus punya ide yang cemerlang. Padahal idealnya, memiliki ide yang cemerlang, kemudian cari cara bagaimana merealisasikannya, dan harus ikut perlombaan sebagai salah satu upayanya. Kemudian niat ikut berbagai organisasi serta komunitas sosial supaya turut mengabdi di masyarakat. Sekilas tidak ada yang salah dari niatan macam itu. Tapi idealnya, ialah niat ingin mengabdi di masyarakat, dan salah satu cara terbaiknya adalah dengan ikut berkontribusi dalam organisasi serta bergabung dalam komunitas sosial.

Sederhana. Sekilas hanya terlihat seperti pemutar-balikan struktur kata dalam kalimat. Tapi tanpa disadari, ketidak-idealan yang sederhana macam itulah yang dengan mudah membuat gerak menjadi lemah. Jadi sebelum jauh-jauh, cek lagi niatan dalam benak kita. Buat apa? Mengapa? Dan, apa tujuan kita sebenarnya?

#cekniatsebelumjauh

Tuesday, May 12, 2015

Disaat Terdesak, Kita Semakin Kuat

Disaat terdesak, kita semakin kuat. Kalimat sederhana tersebut pertama kali saya dapat dari buku  bacaan beberapa tahun lalu. Cerita tentang persahabatan anak-anak, enam sekawan yang saling mendukung dengan perbedaan karakter. Salah satu tokoh utamanya, orang yang selalu terlihat bersemangat, diam-diam menaruh khawatir pada dirinya sendiri. Ketika mendapati bahwa ternyata teman-temannya satu persatu memiliki mimpi dan tujuan jelas. Lebih jauh lagi, -memiliki usaha yang terarah. Sementara dirinya  merasa belum menemukan dengan jelas, ingin menjadi orang seperti apa, ingin punya profesi apa, bercita-cita macam apa. Yang ia tahu, ia ingin menggapai mimpi bersama teman-temannya. Hingga ia menyadari bahwa ternyata teman-temannya pun memiliki mimpi masing-masing. Dan seharusnya, ia pun demikian.

Tidak perlu saya sebutkan apa judul buku ceritanya (nanti jadi pada pingin baca). Tapi ada bagian yang begitu saya ingat, ketika si tokoh utama pada akhirnya mencoba mengenali dirinya lebih dalam. Dia yang awalnya tidak begitu memperdulikan ujian sebab lebih tertarik menghabiskan waktu dengan latihan untuk penampilan kebudayaan bersama teman-teman di acara kota mereka, mulai berfikir lagi. Sementara teman-temannya seakan terlalu sibuk mempersiapkan mimpi mereka masing-masing. Belajar berbagai macam keahlian khusus. Mempersiapkan ujian.

Si tokoh utama, dengan semangat dan kebulatan tekad, berhasil menarik teman-temannya untuk turut latihan mempersiapkan penampilan. Meski keadaannya sendiri sulit digambarkan. Kacau tidak karuan. Lebih dari itu, ia juga berhasil membuktikan bahwa dirinya pun memiliki cita-cita dan memiliki usaha yang juga terarah. Disanalah saya menemukan kalimat mujarab itu. Disaat terdesak, kita semakin kuat.

Baiklah, supaya gampang, sebut saja nama tokoh utama ini Mawar. Mawar mencintai proses perjuangan. Ia mendambakan sebuah peraihan mimpi bersama teman-teman terbaiknya. Ia bahagia ketika membahagiakan. Meski pada akhirnya hasil ujian Mawar tidak terlalu bombastis, tapi baginya itu sungguh lebih dari cukup. Dan sejatinya, apa yang ia dapatkan melampaui dari sekadar nilai ujian: sebuah pelajaran nilai-nilai kehidupan. Bahwa disaat terdesak, kita semakin kuat. Bahwa kerja keras tidak akan pernah mengkhianati tuannya. Bahwa mimpi yang diperjuangkan bersama-sama, akan jadi lebih seru dan bermakna. Enam sekawan itu sukses menjadi penampil terbaik dalam acara di kota mereka. Dan Mawar ialah motor awal penggerak mesinnya.

Disaat terdesak, kita semakin kuat.

Oke, jadi mari kita lupakan Mawar. Dia hanya seorang tokoh fiktif dalam buku cerita berjilid (apalagi nama tokoh aslinya juga bukan Mawar). Mari kita ingat kisah kemerdekaan Indonesia. Bagaimana dalam keterdesakan, proklamasi pun akhirnya dibacakan juga. Atau kisah pelari yang mampu menembus waktu karena ia menciptakan keterdesakan dalam dirinya. Lantas mari kita ingat kekuatan para ibunda kita. Bagaimana keterdesakan menjadikannya kuat, hingga kita lahir ke dunia berkat perjuangannya. Kemudian, mari kita ingat tentang diri kita sendiri.

Siapa kita?

Sejak kapan kita hidup di dunia?

Untuk apa kita ada?

Apa saja yang telah kita lakukan?

Sejauh apa kita melangkah?

Mau dibawa kemana skenario perjalanan kita selanjutnya?

Sudah se-terdesak apa kita?

Sudah sekuat apakah kita?

Mungkin ada sebagian orang yang akan mengatakan bahwa kalimat itu seolah mendukung paham ‘deadliner’, atau semacam kalimat ‘the power of kepepet’ yang seringkali disalah-gunakan. Tapi kalau kita menghayatinya lebih dalam, rasanya kalimat tersebut pas sekali untuk kaum muslimin, bukan? Disaat terdesak, kita semakin kuat. Hidup di dunia ini udah terdesak banget, masa iya kita nggak kuat-kuat?

Friday, May 1, 2015

Inspirasi

Cara termudah mendapatkan inspirasi adalah dengan memerhatikan sekeliling kita. Memerhatikan orang-orang terdekat kita. Mengambil hikmah atas kehadiran mereka. Ustadz Salim A. Fillah pernah memberikan nasihat pada kita untuk berfokus pada kebaikan-kebaikan. Ketika kita fokus pada kebaikan seseorang, maka kebaikannya pula lah yang akan menyeruak. Begitu pun sebaliknya, ketika kita fokus pada keburukan, maka tentu keburukan pula lah yang sering kita jumpai.

Sampai pada bagian ini, saya bersyukur bertemu dengan orang-orang hebat yang menginspirasi. Orang-orang yang mengajarkan pada saya tentang keyakinan, kekuatan tekad, dan bagaimana menerjemahkan diskusi menjadi aksi. Bagaimana menerjemahkan rencana menjadi nyata.

Salah lima-nya adalah mereka ini, teman-teman saya sejak duduk di bangku madrasah tsanawiyah (bahkan dua diantaranya teman sejak madrasah ibtidaiyah). Yang pada karantinanya MTsN 32 Jakarta tahun ini, saya dengan beruntung dapat menyampaikan kisah mereka di hadapan adik-adik kami. Kelimanya merupakan perwakilan dari jenjang pendidikan SLTA yang berbeda. Mulai dari SMA, SMK, MAN, hingga Pesantren.












Dan mereka 'hanya' lima dari keseluruhan inspirator yang saya kenal. Kemudian yang tertulis diatas hanyalah penggalan-penggalan yang kalau digali lagi, saya yakin akan ada begitu banyak hikmah di dalamnya. Sesungguhnya yang menginspirasi bukan semata prestasi, melainkan proses yang dijalani. Sampai detik ini pun saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan begitu banyak orang yang memberikan banyak pelajaran bagi kehidupan saya. Mulai dari keluarga, guru, teman, hingga orang yang mungkin saya tidak pernah berinteraksi langsung dengannya. 

Sampai setelah acara tersebut selesai, sore harinya saya berjumpa dengan salah satu teman saya yang lain -yang juga penuh inspirasi. orang yang satu ini selalu tersenyum dalam setiap kesempatan-. Kemudian ia melihat slide presentasi yang baru saja saya dan dua teman lainnya gunakan untuk menyampaikan pesan ke adik-adik. Lantas ia bertanya, "Lah Riris kok nggak adaa?" saya jawab sambil memamerkan gigi; "Riris kan yang presentasi, hhe" :D

Jika setiap orang itu menginspirasi, maka mereka menginspirasi dengan caranya sendiri.
Dan bercerita tentang kalian adalah cara yang aku sukai. :)

Alih-alih mau motivasiin adik-adiknya, sendirinya jadi ikut termotivasi. Bener ya, prinsip membagi ilmu hakikatnya adalah menambah ilmu (plus investasi). Mungkin nggak banyak yang tahu juga, tapi berbagi di depan adik-adik MTs adalah salah satu dari sekian daftar mimpi yang ada dalam catatan di jurnal saya. Terimakasih MTsN 32 Jakarta, sudah memberikan kesempatan bagi kami untuk turut memberi sumbangsih. Terimakasih sudah dibuatkan surat izin juga (padahal beberapa tahun sebelumnya surat izin untuk ikut karantina juga ditolak sama Madrasah Aliyah saya). Alhamdulillah, semoga dua mata kuliah yang tidak saya ikuti itu akan jadi baik-baik saja. (Sekalian mohon doanya yaa :D).Semoga tahun depan bisa ikutan lagi, membawa lebih banyak inspirasi. InsyaAllah.

Terakhir, terimakasih untuk teman-teman formatur. Kemewahan itu bernama inisiatf. Mungkin saja nama kita tidak tercatat oleh manusia, tapi ingat bahwa malaikat tidak akan pernah salah catat. Sebaik-baik catatan adalah catatan kebaikan yang ditulis malaikat, bukan? :) semoga dijaga niat-niat kita dalam setiap kesempatan. Semoga niat karena Allah selalu berada pada tempatnya. Allahumma aamiin.

Jazakumullahu khairan katsiiran.

***

Memperjuangkan mimpi itu, seperti main layang-layang.
Mengudara di langit, menjejak di atas bumi.
Ditantang udara, diterjang angin.
Nggak ada kan, main layang-layang di tempat yang udaranya nggak gerak? :D
Anggap aja lagi main layang-layang.
:)
Semangat menginspirasi
Semangat menebar kebermanfaatan seluas-luasnya
di jalan-Nya, untuk-Nya.
Hingga nanti kita sampai pada-Nya.


***

Belajar itu ibadah,
Prestasi itu dakwah.

***

We are cool in our own way
Riz

Masa Lalu (Kita)

Setelah sekian lama mencari-cari video ini di youtube, justru menemukannya ketika tidak sedang mencarinya. Pertama kali saya menyaksikan video ini adalah ketika duduk di bangku kelas XI di MAN Insan Cendekia Serpong, mata pelajaran Biologi. Saat itu kami berada di ruang laboratorium. Banyak dari kami yang menangis. Terlebih mengingat euforia kami yang notabene anak rantauan. Sayang, saat itu saya tida membawa flash drive dan semacamnya untuk mengkopi data.


Kembali saya menyaksikan video ini, ketika berada di kelas mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak, departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen. Lagi, tidak sedikit dari kami yang meneteskan airmata mengingat ibunda masing-masing. Saya kembali mencari-cari di internet dengan berbagai kata kunci, namun tidak juga menemukannya.


Hingga beberapa hari lalu, tanpa ada unsur kesengajaan, saya menemukan video ini ketika sedang mencari video motivasi untuk mengisi karantina di MTsN 32 Jakarta. Namun sayang, tidak sempat ditayangkan karena keterbatasan waktu yang ada. Jadi izinkan saya berbagi disini. :)

Sebuah gambaran sederhana tentang masa lalu kita semua.



Lima April 2015

Dua bulan terakhir, lapak ini sepertinya benar-benar terbengkalai. Penghuninya kabur-kaburan, Jadi mari kita ramaikan kembali, ya. :)

Di bulan April 2015, saya mendapat kejutan dari salah satu sahabat saya.. Bagaimana tidak kejutan, ketika tahu-tahu ia memberikan kabar akan segera menikah bulan itu juga. Beberapa waktu sebelumnya, memang, kawan yang biasa saya sapa 'Nyem' ini mengatakan ingin bertemu langsung untuk menyampaikan cerita yang kabarnya sangat penting dan tidak akan membuat saya menyesal untuk mengetahuinya. Namun sayang, kami tidak juga bertemu. Sekalinya bertemu pun, kami dalam kondisi rapat yang notabene banyak orang, dan waktunya terlalu singkat untuk memberi kabar seajaib itu. (Saya katakan ajaib, karena berita semacam itu tentu akan menjadi sejarah dalam hubungan -persahabatan- kami selama belasan tahun ini).

Hingga saya tahu dari grup alumni salah satu almamater kami. (Ya, dia tidak mengabari saya secara khusus. Temen macem apa kamu, Nyem) Hha, tapi saya tidak masalah. Bahkan saat itu saya tidak terlalu kaget. Entah bagaimana, ketika ia mengabari akan bercerita tentang suatu hal yang penting dan harus bertemu, yang terlintas dalam kepala saya adalah hal tersebut. Jangan-jangan anak ini mau nikah. Karena selama pertemanan kami belasan tahun ini, ia bukan sosok orang yang 'mengharuskan ketemu' untuk sekadar bercerita. Saya fikir butuh alasan yang kuat sampai ia bersikap demikian. Dan menikah adalah salah satu daftar yang bisa dimaklumi menjadi alasan penting. Meskipun tidak terlalu kaget, tapi saya tidak bisa berbohong bahwa toh airmata saya ternyata menetes juga. Padahal saat itu saya tengah duduk di ruang perpusatakaan kampus. Berhadapan dengan kawan kuliah saya yang lantas bertanya, "kenapa Riris?"

Keesokan hari setelah mendapat kabar dari sahabat saya perihal pernikahannya yang akan segera berlangsung, dari Bogor saya langsung menuju Jakarta usai sembahyang shubuh. Ia mengajak saya untuk ikut serta dalam pertemuan yang katanya 'konferensi pers'. Seperti yang bisa ditebak, akhirnya ia bercerita. Tentang bagaimana awalnya, hingga keputusan besar tersebut ia ambil. Kami -yang hari itu berkumpul- tidak tahu-menahu siapa, orang macam apa, yang akan mendampingi salah satu sahabat terbaik kami itu. Hanya sebatas nama, asal, dan usia. 


Hingga undangan digital tersebut kami sebarkan bersama-sama.

Fokus alumni MTsN 32 angkatan 1 yang tadinya berorientasi pada kegiatan persiapan untuk karantina adik-adik kelas 9 pun secara total teralihkan. Orientasi kami bergeser ke pernikahan teman baik kami ini.


Selama masa setelah kelulusan, saya fikir momen tersebut adalah momen paling hebat. Dalam waktu yang singkat, kami dapat terhubung dengan cepat. Bahkan beberapa orang yang sebelumnya saya tidak pernah hubungi, (bahkan waktu sekolah bareng dulu nggak pernah ngobrol) jadi ngobrol. Menyambunng tali silaturrahim sekali.

Dua hari sebelum sahabat saya melangsungkan akad pernikahannya, saya mengirimkan kalimat tidak sopan (karena kapital semua) macam ini: I LOVE YOU MORE THAN YOU KNOW! Sebelum ada orang lain yang nyatain cinta ke kamu. :')

Hingga hari-H tiba, kami berkumpul di rumah bahagia. Acara yang sederhana dan menurut saya sangat terasa -barakah. :) Hari itu saya turut menyaksikan akad nikah. Melihat sahabat saya sendiri yang duduk bersebrangan dengan saya, sambil sesekali tampangnya kelihatan salah tingkah. Belakangan dia bilang, "abis kan banyak yang merhatiin aku gitu, jadi nggak enak, hhe" 

Sahabat saya ini hanya beberapa kali tatap muka dengan calon suaminya hingga mereka resmi menjadi suami-isri. Bahkan ketika saya turut membantu bikin undangan digital untuk alumni, saya tanya siapa nama panggilan (calon) suaminya, ia menjawab "Nggak tau ya, aku nggak pernah manggil dia. Belum." Lalu kami tanya bagaimana bisa begitu yakin, ia menjawab dengan tenang "ya hasil istikharahnya yakin aja. Kan menikah itu ibadah. Nanti Allah sendiri yang akan menganugerahkan sakinah, mawaddah, warahmah." Diam-diam saya bersyukur punya teman baik sepertinya.

Semoga bahtera kalian berlayar dengan indah di samudra-Nya, dalam naungan cinta-Nya. :) 





Lalu ada hikmah besar yang saya ambil dari momen bersejarah ini:

"Bahwa pada akhirnya, yang membersamai kita bukanlah dia yang datang lebih cepat atau lebih lambat. Melainkan dia yang datang dengan cara dan dalam waktu yang tepat." 

Tuesday, March 24, 2015

SYAHDAN

Tiap jiwa jana yang merekah saling bersinggungan
Serupa putaran jantera yang jadi saksi akan perjalanan
Jikalau memang pilinan debu mampu menyuarakan
Syahdan,
Biar saja partikel semesta yang menyampaikan

Pilinannya menyeruak pada relung-relung
Membentuk metamorfosa terselubung
Dibalik udara, ditelan samudra
Dijunjung para perengguk yang mengaku berwibawa

Semerbak
Semarak

Mereka ramai suarakan kebersamaan
Tentang ikatan cakrawala dunia para pejalan
Tentang solidaritas yang serupa mozaik cinta
Intisari kerja yang bukan sekadar euforia

Lantas debuku bersembunyi di dasar palung
Melantunkan harap pada balik tempurung
Tanpa secercah pun pergi melupakan cita
Tanpa selangkah pun diam mengabaikan rasa

Karena persaudaraan bukan perniagaan
Bukan pula muara yang layak dipertandingkan
Solidaritas meretas makna
Melampaui kumpulan deskripsi dan untai kata

Abadi
Hingga nanti

Bahwa tiap jiwa jana yang merekah saling bersinggungan
Serupa putaran jantera yang jadi saksi akan perjalanan
Jikalau memang satuan langit berjanji demikian
Syahdan,

Perjumpaan kita bukan sekadar kiasan, kan?

Ditulis dalam partisipasi Lomba Cipta Puisi Espent 2015

Sunday, March 15, 2015

Menangis

“Kita menangis bukan karena kita lemah. Melainkan karena kita punya hati.”

Secara biologis, air mata berfungsi untuk menjaga agar mata kita tetap bersih dan jernih.  Kita bisa saja mengeluarkan air mata ketika dalam keadaan sangat mengantuk, atau ketika ada benda asing yang masuk ke mata kita. Namun air mata fisik tentu berbeda dengan air mata psikis. Bukan hanya dari penyebab, melainkan juga mekanisme yang terjadi dalam tubuh kita. Ialah menangis, proses yang biasa kita sebut-sebut ketika air mata hadir karena faktor psikologi.

Dari berbagai ekspresi rasa yang ditunjukkan manusia, menurut saya menangis adalah ekspresi yang paling unik. Ada yang mengatakan bahwa kita bisa saja tersenyum pada semua orang, tapi kita hanya bisa menangis di hadapan orang-orang tertentu. Dalam hal ini, menangis memiliki tingkat privasi yang lebih tinggi. Saya fikir, ungkapan tersebut ada benarnya. Saya menjumpai beberapa orang yang memberi pengakuan akan kesulitannya menangis meski mereka akui betapa mereka ingin melakukannya.

Menangis bukan sekadar pertanda sedih atau terharu. Menangis adalah ekspresi kejujuran. Itulah sebab mengapa menangis menjadi ekspresi yang paling sulit untuk direkayasa. Kita dapat dengan mudah memanipulasi senyum, bukan? Atau berpura-pura marah atas sesuatu hal. Tapi menangis? Tentu membutuhkan energi lebih untuk memalsukannya.

Menangis adalah ekspresi kejujuran; sebuah wujud keterbukaan. Maka kita tidak perlu bertanya-tanya mengapa anak kecil mudah sekali menangis. Mereka jujur dalam mengekspresikan setiap rasa kepada dunianya. Berbeda dengan remaja atau orang dewasa. Rumus menangis jadi tidak sesederhana itu. Ada banyak filter yang mulai bekerja. Kapan, dimana, kepada siapa, dan sederet syarat tak tertulis lain tentang menangis. Maka kita tidak perlu heran kalau sewaktu-waktu menjumpai seseorang yang terkenal begitu periang dalam keseharian, atau bahkan terkenal galak dan angkuh misalnya, tahu-tahu menangis sembari bersujud. Mungkin baginya, Tuhan adalah tempat yang tepat untuk diajak terbuka.

Karena menangis adalah ekspresi kejujuran; sebuah wujud keterbukaan
Kita bisa saja jujur pada seluruh dunia, namun tidak pada semua orang kita mampu terbuka.